Anda di halaman 1dari 6

Reaksi Cross Coupling Akira Suzuki Reaksi kopling yang melibatkan katalis logam transisi telah menjadi suatu

metode yang serbaguna untuk pembentukan ikatan kimia. Dari variasi mitra kopling, reaksi kopling dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu kopling tradisional, kopling reduktif dan kopling oksidatif. Kopling oksidatif, yang berbeda dari kopling tradisional, terjadi antara dua nukleofil. Tinjauan kritis ini berfokus pada reaksi kopling oksidatif yang menggunakan logam transisi dan melibatkan reagen organologam sebagai nukleofil. Ruang lingkup reaksi kopling oksidatif sangat beragam, sebagian besar memfokuskan bahasan tentang pembentukan ikatan C-C, termasuk kopling antara reagen organometal dan hidrokarbon serta penghubung antara dua reagen organometal. Ujung rantai alkuna biasanya dapat teraktivasi oleh garam logam dan in situ membentuk reagen logam alkunil dalam reaksi kopling sehingga langsung dianggap sebagai reagen organometal. Kopling oksidatif intramolekular dan siklisasi oksidatif tidak termasuk dalam tinjauan kritis. Selain itu, ada banyak contoh kopling oksidatif yang mengarah pada pembentukan bahan fungsional, seperti polimerisasi oksidatif tiofen. Reaksi kopling atau penggandengan dalam organologam merupakan reaksi dimana dua atom karbon (C-C) disambung dengan bantuan katalis yang mengandung logam. Banyak reaksi kopling yang melibatkan senyawa turunan fenol. Reaksi kopling dibagi menjadi 2, yaitu: 1. Reaksi kopling homo Reaksi penggandengan dua senyawa organik yang sama dengan bantuan katalis logam, misalnya reaksi antara dua senyawa bromobenzena sehingga akan dihasilkan diazo (dua benzene saling berikatan). 2. Reaksi kopling silang Reaksi penggandengan dua senyawa organik yang memiliki struktur dan rumus berbeda dengan bantuan katalis logam. Umumnya katalis logam yang sering digunakan adalah Pd (Paladium). Logam Pd
2 sering digunakan karena cenderung tidak beracun dan konfigurasi elektron Pd(0) adalah 1s

2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10 4p6 5s2 4d10 (2, 8, 18, 18). Konfigurasi elektron yang dimiliki palladium cenderung stabil sehingga kurang reaktif dengan senyawa lain. Selain itu, bilangan oksidasi Pd yang bermacam-macam, yaitu 0, +1, dan +2 memungkinkan untuk terlibat dalam reaksi adisi oksidatif, transmetalasi, eliminasi reduktif. Logam Pd dapat membentuk ikatan relative kuat, seperti Pd-H dan Pd-C serta Pd-X terpolarisasi. Reaksi katalisis dengan logam Pd dapat direaksikan tanpa perlu melindungi gugus fungsi, walapun begitu reaksi yang melibatkan Pd tetap harus dilakukan hati-hati. Reagen dan

katalis Pd tidak sensitive terhadap oksigen dan air, bahkan dengan asam, terutama Pd dengan ligan fosfin. Reaksi kopling silang lebih banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang, terutama bidang kesehatan dalam pembuatan obat-obatan. Terdapat banyak reaksi kopling silang, diantaranya reaksi cross coupling Heck, cross coupling Negishi, dan cross coupling Suzuki. Perbedaan diantara reaksi-reaksi tersebut terletak pada reagen-reagennya.

Penamaan reaksi kopling silang umumnya dilakukan berdasarkan nama orang yang menemukannya. Sedangkan, cross coupling Suzuki merupakan reaksi kopling yang berhasil mendapatkan Nobel Prize 2010. Reaksi cross coupling Suzuki secara formal dikembangkan oleh group Suzuki pada 1979 dan terinspirasi oleh publikasi reaksi Heck dan Negishi. Kemudian, reaksi Suzuki ini semakin banyak dipublikasi karena preparasinya yang menggunakan reagen organoboron, kestabilitasannya, dan produk sampingnya yang cenderung tidak beracun.

Reaksi Suzuki merupakan reaksi katalis Pd yang menggandengkan vinil atau aril halide (RX) dengan organoboran (RBY2) untuk membentuk produk (R-R) dengan ikatan CC baru. Umumnya digunakan katalis Pd(PPh3 )4 dan reagen bsa, seperti NaOH atau NaOCH2CH3. Halogen yang terlibat biasanya Br atau I.

Dalam mekanisme reaksi cross coupling Suzuki terdapat 2 proses yang mendominasi, yaitu adisi oksidatif dan eliminasi reduktif.

Reaksi eliminasi reduktif akan terjadi saat Pd yang berikatan dengan 4 ligan PPh 3 melepaskan 2 ligan PPh3 sehingga hanya mengikat 2 ligan PPh3 atau mengandung 14 elektron. Dikarenakan aturan 18 elektron tidak terpenuhi, maka logam Pd dengan 2 ligan PPh 3 dapat diserang oleh iodobenzena sehingga bilangan koordinasi logam Pd yang semula 2 naik menjadi 4 dan bilangan oksidasi yang semula 0 naik menjadi 2, sekaligus terjadi reaksi adisi oksidatif. Senyawa tersebut direaksikan dengan basa yang berikatan dengan gugus sangat nukleofil sehingga I akan tersubstitusi dengan OEt. Pd(II) kompleks kemudian direkasikan dengan reagen organoboron dan dihasilkan rantai karbon dari organoboron terikat dengan Pd(II) menggantikan OEt. Ikatan rantai baru (C-C) terbentuk setelah Pd(II) terikat pada awan elektron dari alkena (rantai karbon dari senyawa organoboron) sehingga perlahan-lahan akan lepas namun tetap berikatan dengan kedua ligan PPh3 karena adanya perbedaan elektronegativitas. Kembalinya Pd(II) menjadi Pd(0) juga merupakan reaksi eliminasi reduktif.

Reaksi transmetalasi terjadi pada saat Pd(II) yang mengikat 2 PPh , Oet, dan diazo 3 bereaksi dengan organoboron. Logam Pd yang elektrofil akan bereaksi dengan organoboron yang mengikat gugus nukleofil sehingga akan dihasilkan rantai karbon dari organoboron terikat dengan Pd. Dikarenakan kedua rantai karbon membentuk posisi cis atau saling berdekatan, maka akan terbentuk ikatan C-C baru dan melepaskan Pd yang menjadi perantaranya.

Manfaat Reaksi kopling silang Suzuki banyak diaplikaskan pada pembuatan obat-obatan, diantaranya : 1. Epothilone A (agen antikanker)

2. Dynemicin A (antitumor)

Formation and Reductive Elimination of a Hydridoalkyl platinum(IV) Intermediate upon Protonolysis of an Alkylplatinum(I1) Complex

Penambahan HCl berlebih dalam larutan (tmeda)Pt(CH2Ph)Cl pada suasana CD2Cl2 temperatur -78 oC merupakan salah satu reaksi oxidative addition dimana bilangan oksidasi Pt berubah dari +2 menjadi +4. Produk dari reaksi tersebut adalah (tmeda)Pt(CH2Ph)(H)Cl2. Produk (tmeda)Pt(CH2Ph)(H)Cl2 pada temperatur -30 oC dapat mengalami reaksi reductive elimination dimana ligan CH2Ph dan ligan H akan terlepas dari Pt(IV) dan membentuk PhCH3. Reaksi reductive elimination pada skema di atas melibatkan (tmeda)Pt(CH2Ph)(H)Cl2, meskipun temperatur yang mempengaruhi reaksi ini menunjukkan entropi negatif dari aktivasi yang tidak diharapkan, sehingga kemungkinan reaksi tersebut tidak terjadi melalui eliminasi langsung dari spesies 6-hidrida alkil kompleks. Untuk menguji kemungkinan intermediate koordinasi-5, tetrabutylammonium chloride ditambahkan dalam campuran. Klorida mendeprotonisasi (tmeda)Pt(CH2Ph)(H)Cl2 untuk menghasilkan starting material (tmeda)Pt(CH2Ph)Cl dan tetrabutylammonium bichloride.

+ [NBu4 ]Cl

+ [NBu4][Cl-H-Cl]

Penambahan triflic acid pada larutan yang mengandung (tmeda)Pt(CH2Ph)(H)Cl2 menurunkan stabilitas termal dari kompleks Pt(IV). Reduktive Elimination berjalan cepat pada kondisi ini, bahkan pada temperatur -60 oC.

DAFTAR PUSTAKA

Shanon S. Stahl, Jay A. Labinger, and John E. Bercaw, 1995, FORMATION AND REDUCTIVE ELIMINATION OF A HYDROALKYLPLATIUM (IV) INTERMEDIATE UPON PROTONOLYSIS OF AN ALKYLPLATINUM(II) COMPLEX, J. Am. Chem. SOC. 1995,117, vol 9371-9372