Anda di halaman 1dari 16

DISTOSIA AKIBAT POWER

Roy (2003) mengemukakan pendapatnya bahwa tingginya diagnosa distosia merupakan akibat dari perkembangan perubahan lingkungan yang berlangsung lebih cepat dari pada perkembangan evolusi manusia itu sendiri. Joseph dkk (2003) melakukan analisa karakteristik maternal berkaitan dengan kenaikan angka kejadian SC di Nova Scotia. Mereka melaporkan bahwa kenaikan angka kejadian SC tersebut berhubungan dengan perubahan pada usia maternal, paritas, berat badan sebelum hamil dan pertambahan berat badan selama kehamilan. Nuthalapaty dkk (2004) dan Wilkes dkk (2003) mengemukakan adanya hubungan antara berat badan maternal dengan distosia. PANDANGAN UMUM Distosia merupakan akibat dari 4 gangguan atau kombinasi antara :. 1. Kelainan Tenaga Persalinan. Kekuatan His yang tidak memadai atau tidak terkordinasi dengan baik agar dapat terjadi dilatasi dan pendataan servik (uterine dysfunction) serta gangguan kontraksi otot abdomen dan dasar panggul pada kala II. 2. Kelainan Presentasi-Posisi dan Perkembangan janin 3. Kelainan pada Tulang Panggul (kesempitan panggul) 4. Kelainan Jaringan Lunak dari saluran reproduksi yang menghalangi desensus janin Secara sederhana, kelainan diatas dapat secara mekanis dikelompokkan kedalam 3 golongan : 1. Kelainan POWER : kontraksi uterus dan kemampuan ibu meneran 2. Kelainan PASSANGER : keadaan janin 3. Kelainan PASSAGE : keadaan panggul

Over Diagnosa Distosia Kombinasi dari berbagai keadaan yang terlihat pada tabel 1 diatas sering mengakibatkan disfungsi persalinan. Saat ini, terminologi cephalopelvic disproportion atau failure to progress sering digunakan untuk menyatakan adanya proses persalinan yang tidak efektif. Cephalopelvic Disproportion CPD adalah diagnosa yang sangat tidak objektif oleh karena lebih dari 2/3 pasien dengan diagnosa CPD dan menjalani SC, pada persalinan selanjutnya ternyata dapat melahirkan janin spontan pervaginam yang tidak jarang lebih besar dan lebih berat dari persalinan sebelumnya. Failure to Progress ( partus tak maju ) Istilah ini menjadi terminologi populer untuk menyatakan adanya persalinan yang berlangsung tidak efektif pada persalinan spontan atau dengan induksi oksitosin. Terminologi ini biasa digunakan pada situasi dimana tidak terjadi kemajuan dilatasi servik dan atau desensus janin atau terjadi kemajuan yang tidak normal. Sudah menjadi pendapat umum sekarang ini bahwa diagnosa distosia pada persalinan dengan SC merupakan hal yang bersifat overdiagnosis. Tindakan SC dengan indikasi distosia sering menjadi hal yang bersifat kontroversial oleh karena beberapa hal : 1. Penegakkan diagnosa distosia yang tak tepat

2. Efek pengunaan analgesia epidural tak diperhitungkan 3. Kecemasan medikolegal yang berlebihan 4. Kenyamanan klinis bagi dokter atau pasien ( dokter terburu-buru atau pasien menghendaki hal yang terbaik bagi dirinya ) 5. Stimulasi oksitosin tidak diberikan dengan metode yang tepat dan benar. Rekomendasi dari American College of Obstetricians and Gynecologist (1995a) sebelum diagnosa distosia ditegakkan, dilatasi servik harus sudah lebih dari 4cm ( pasien sudah masuk persalinan aktif ) . MEKANISME DISTOSIA Pada akhir kehamilan, agar dapat melewati jalan lahir kepala harus dapat mengatasi tebalnya segmen bawah rahim dan servik yang masih belum mengalami dilatasi. Perkembangan otot uterus di daerah fundus uteri dan daya dorong terhadap bagian terendah janin adalah faktor yang mempengaruhi kemajuan persalinan kala I. Setelah dilatasi servik lengkap, hubungan mekanis antara ukuran dan posisi kepala janin serta kapasitas panggul (fetopelvic proportion) dikatakan baik bila sudah terjadi desensus janin. Gangguan fungsi otot uterus dapat disebabkan oleh regangan uterus berlebihan dan atau partus macet [obstructed labor]. Dengan demikian maka persalinan yang tidak berlangsung secara efektif adalah merupakan tanda akan adanya fetopelvic disproportion. Membedakan gangguan persalinan menjadi disfungsi uterus dan fetopelvic disproportion secara tegas adalah tindakan yang tidak tepat oleh karena kedua hal tersebut sebenarnya memiliki hubungan yang erat. Kondisi tulang panggul bukan satu-satunya penentu keberhasilan berlangsungnya proses persalinan pervaginam. Bila tidak ada data objektif untuk mendukung adanya disfungsi uterus dan FPD, harus dilakukan TRIAL of LABOR untuk menentukan apakah persalinan pervaginam dapat berhasil pada sebuah persalinan yang diperkirakan akan berlangsung tidak efektif. Banyak ahli yang berpendapat bahwa tindakan TRIAL of LABOR adalah merupakan prioritas utama untuk menurunkan kejadian sectio caesar. ABNORMALITAS TENAGA PERSALINAN Dilatasi servik dan propulsi serta ekspulsi janin dimungkinkan oleh adanya his dan usaha meneran ibu pada persalinan kala II. Gangguan intensitas satu atau kedua faktor diatas akan menyebabkan perjalanan partus yang terhambat atau terganggu.

Diagnosa disfungsi uterus pada kala I fase laten sulit ditegakkan dan umumnya dibuat secara retrospektif. Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah terapi disfungsi uterus pada pasien yang masih belum inpartu. 3 hal penting yang perlu mendapat perhatian dalam penatalaksanaan disfungsi uterus: 1. Membiarkan berlangsungnya partus lama tanpa tindakan akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal. 2. Oksitosin drip dapat digunakan untuk mengatasi beberapa jenis disfungsi uterus. 3. Pada kasus dengan kegagalan atau terdapat kontra-indikasi oksitosin drip, pilihan untuk melakukan SC lebih utama dibandingkan pilihan persalinan dengan ekstrasi cunam tengah yang teknis sulit dikerjakan dan sering menimbulkan komplikasi. JENIS DISFUNGSI UTERUS Reynold dkk (1948) Kontraksi uterus pada persalinan normal ditandai dengan aktivitas miometrium yang bersifat gradual, dengan kontraksi terkuat dan berlangsung lama dibagian fundus uteri dan kearah servik kekuatan kontraksi uterus secara bertahap menjadi semakin berkurang. Caldeyro-Barcia dkk (1950) dari Montevideo Uruguay menyatakan bahwa terdapat perbedaan waktu dari onset kontraksi uterus di daerah fundus uteri dan daerah pertengahan corpus uteri serta pada segmen bawah rahim. Larks (1960) menjelaskan bahwa rangsangan yang berawal di bagian cornu akan diikuti oleh rangsangan berikutnya beberapa milidetik setelahnya, gelombang rangsangan akan saling menyatu dan diteruskan secara serentak dari fundus uteri kebagian bawah uterus. Agar terjadi dilatasi servik, diperlukan kontraksi uterus dengan intensitas sekurangkurangnya 15 mmHg. Kontraksi uterus yang berlangsung secara normal dapat menimbulkan tekanan intrauterin sampai 60 mmHg. Dengan data diatas, maka disfungsi uterus dapat dibedakan menjadi : Disfungsi uterus hipotonik :
o o o

Tidak ada tonus basal Kontraksi uterus memiliki pola gradasi normal ( synchronous ) tetapi Tekanan yang ditimbulkan oleh kontraksi uterus tidak cukup kuat untuk menyebabkan terjadinya dilatasi servik.

Disfungsi hipertonik ( incoordinate uterine dysfunction)


o o

Basal tonus meningkat dan atau Kekacauan dalam gradasi tekanan yang ditimbulkan oleh his akibat tekanan yang ditimbulkan oleh his dibagian tengah uterus lebih besar

daripada yang dihasilkan oleh bagian fundus dan atau adanya peristiwa asinkronisme dari rangsang yang berasal dari cornu.

GANGGUAN PERSALINAN KALA I FASE AKTIF Gangguan persalinan secara klinis dibagi menjadi : 1. Lebih lambat dari kemajuan persalinan yang normal (protraction disorder) dan atau 2. Terhentinya kemajuan persalinan (arrest disorder) Persalinan kala I fase aktif bila dilatasi servik sudah mencapai sekurang-kurangnya 4 cm Active phase arrest Handa dan Laros (1993) : Active-phase arrest adalah bila dalam waktu 2 jam tidak terdapat kemajuan pada dilatasi servik Angka kejadian : 5% pada nulipara dengan kehamilan aterm (menurut Friedman pada tahun 1978, angka kejadian ini tidak berubah sejak tahun 1950 ) His tidak adekwat adalah bila kekuatannya 180 Montevideo Unit dan keadaan ini terdapat pada 80% kasus terhentinya fase aktif (active-phase arrest). Protraction disorder

Definisi keadaan ini lebih sulit ditentukan. WHO : dalam partograf dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan protraction adalah kecepatan dilatasi servik 1 cm per jam untuk waktu minimum 4 jam. Kriteria active phase arrest dan protraction disorder menurut American College of Obstetricians and Gynecologist dapat dilihat pada tabel 2 berikut :

Sebelum menegakkan diagnosa arrest selama persalinan kala I maka kedua kriteria berikut harus dipenuhi: 1. Dilatasi servik sudah lebih dari 4 cm. 2. His dengan kekuatan 200 Montevideo Unit selama 10 menit sudah berlangsung selama 2 jam tanpa diikuti dengan perubahan pada servik. GANGGUAN PERSALINAN KALA II Desensus kepala terutama terjadi setelah dilatasi servik lengkap. Sebagian besar dari seven cardinal movement of labor berlangsung pada kala II. Akibat dari adanya kelainan CPD umumnya terlihat pada kala II. Batas waktu kala II pada nulipara adalah 2 jam ( 3 jam pada kasus dengan anestesi regional) dan pada multipara adalah 1 jam ( 2 jam pada kasus dengan anestesi regional). DERAJAT PENURUNAN (station) PADA AWAL PERSALINAN Engagemen = desensus diameter biparietal janin sampai setinggi spina ischiadica maternal (station 0).

Terdapat kaitan erat antara bagian terendah janin yang masih tinggi saat memasuki persalinan dengan kejadian distosia yang akan terjadi. ETIOLOGI PENYEBAB DISFUNGSI UTERUS 1. 2. 3. 4. Analgesia epidural Chorioamnionitis Posisi ibu selama persalinan Posisi persalinan pada kala II

PARTUS PRESIPITATUS Hughes (1972) : partus presipitatus adalah kejadian dimana ekspulsi janin berlangsung kurang dari 3 jam setelah awal persalinan. Ventura dkk (2000) : angka kejadian partus presipitatus tahun 1998 di USA sebesar 2% dan terutama terjadi pada multipara dengan frekuensi kontraksi uterus kurang dari 2 menit. Mahon dkk (1979) : short labor adalah bila kecepatan dilatasi servik pada nulipara > 5 cm/jam dan pada multipara 10 cm/jam. Partus presipitatus sering berkaitan dengan : 1. 2. 3. 4. Solusio plasenta Aspirasi mekonium. Perdarahan post partum. Apgar score rendah.

Komplikasi maternal: 1. Jarang terjadi bila dilatasi servik dapat berlangsung secara normal. 2. Bila servik panjang dan jalan lahir kaku, akan terjadi robekan servik dan jalan lahir yang luas. 3. Emboli air ketuban (jarang). 4. Atonia uteri dengan akibat HPP. Komplikasi janin : 1. Morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat oleh karena : 1. Kontraksi uterus yang terlalu kuat akan menyebabkan asfiksia intrauterin. 2. Trauma intrakranial akibat tahanan jalan lahir. 2. Acker dkk (1988) melaporkan kejadian Erb atau Duchene paralysis pada 1/3 kasus partus presipitatus.

3. Persalinan tanpa pertolongan yang baik akan menyebabkan cedera pada janin akibat terjatuh dilantai atau tidak dapat segera memperoleh resusitasi bila diperlukan. Penatalaksanaan 1. Kejadian ini biasanya berulang, sehingga perlu informasi dan pengawasan yang baik pada kehamilan yang sedang berlangsung. 2. Hentikan pemberian oksitosin drip bila sedang diberikan. Rujukan 1. American College of Obstetricians and Gynecologist : Dystocia and augmentation of labor. Practice Bulletin No. 40 , November 2002 2. Cunningham FG et al : Dystocia Abnormal Labor in Williams Obstetrics , 22nd ed, McGraw-Hill, 2005 3. Gifford DS, Morton SC, Fiske M et al: Lack of progress in labor a reason for caesarean. Obstet Gynecol 95:589;2000 4. Joseph KS, Young DC, Dodds, L et al: Changes in maternal characteristik and obstetric practice and recent increases in primary caesarean delivery. Obstet Gynecol 102;791,2003 5. Nuthalapaty FS, Rouse DJ, Owen J : The association of maternal weight with caesarean risk, labor duration, and cervical dilatation rate during labor induction. Obstet Gynecol 103;452, 2004 6. Roy RP: A Darwinian view of obstructed labor, Obstet Gynecol 101;397,2003 7. Zhu, BP; Grigorescu V, Le T, Lin M, Copeland G; Barone M; Turabelidze G (2006). "Labor dystocia and its association with interpregnancy interval". American Journal of Obstetrics and Gynecology 85: 810814. DISTOSIA Definisi Distosia adalah kelambatan atau kesulitan dalam jalannya persalinan. Etiologi Distosia dapat disebabkan karena kelainan his ( his hipotonik dan his hipertonik ), karena kelainan besar anak, bentuk anak ( hidrocefalus, kembar siam, prolaps tali pusat ), letak anak (letak sungsang, letak melintang ), serta karena kelainan jalan lahir. 1. DISTOSIA KARENA KELAINAN HIS Kelainan his dapat berupa inersia uteri hipotonik atau inersia uteri hipertonik. a. Inersia uteri hipotonik Adalah kelainan his dengan kekuatan yang lemah / tidak adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong anak keluar. Di sini kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang. Sering dijumpai pada penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia, uterus yang terlalu teregang misalnya akibat hidramnion atau kehamilan

kembar atau makrosomia, grandemultipara atau primipara, serta pada penderita dengan keadaan emosi kurang baik. Dapat terjadi pada kala pembukaan serviks, fase laten atau fase aktif, maupun pada kala pengeluaran. Inertia uteri hipotonik terbagi dua, yaitu : 1. Inersia uteri primer Terjadi pada permulaan fase laten. Sejak awal telah terjadi his yang tidak adekuat ( kelemahan his yang timbul sejak dari permulaan persalinan ), sehingga sering sulit untuk memastikan apakah penderita telah memasuki keadaan inpartu atau belum. 2. Inersia uteri sekunder Terjadi pada fase aktif kala I atau kala II. Permulaan his baik, kemudian pada keadaan selanjutnya terdapat gangguan / kelainan. Penanganan : 1. Keadaan umum penderita harus diperbaiki. Gizi selama kehamilan harus diperhatikan. 2. Penderita dipersiapkan menghadapi persalinan, dan dijelaskan tentang kemungkinan-kemungkinan yang ada. 3. Teliti keadaan serviks, presentasi dan posisi, penurunan kepala / bokong bila sudah masuk PAP pasien disuruh jalan, bila his timbul adekuat dapat dilakukan persalinan spontan, tetapi bila tidak berhasil maka akan dilakukan sectio cesaria. b. Inersia uteri hipertonik Adalah kelainan his dengan kekuatan cukup besar (kadang sampai melebihi normal) namun tidak ada koordinasi kontraksi dari bagian atas, tengah dan bawah uterus, sehingga tidak efisien untuk membuka serviks dan mendorong bayi keluar. Disebut juga sebagai incoordinate uterine action. Contoh misalnya 'tetania uteri' karena obat uterotonika yang berlebihan. Pasien merasa kesakitan karena his yang kuat dan berlangsung hampir terus-menerus. Pada janin dapat terjadi hipoksia janin karena gangguan sirkulasi uteroplasenter. Faktor yang dapat menyebabkan kelainan ini antara lain adalah rangsangan pada uterus, misalnya pemberian oksitosin yang berlebihan, ketuban pecah lama dengan disertai infeksi, dan sebagainya. Penanganan Dilakukan pengobatan simtomatis untuk mengurangi tonus otot, nyeri, mengurangi ketakutan. Denyut jantung janin harus terus dievaluasi. Bila dengan cara tersebut tidak berhasil, persalinan harus diakhiri dengan sectio cesarea. Mochlar, Rustam. 1990. Synopsis Obstetric. Jakarta : EGC FKUI Universitas Padjajaran. 1983. Uji Diri Obstetric dan ginekologi. Bandung : Eleman FKUI Universitas Padjajaran. 1982. Obstetric Patologi. Bandung : Elstar offset Cunningham, F. Gary. 1995. Obstetric Williams. Jakarta : EGC Oxorn, Harry. 1990. Patologi dan Fisiologi Persalinan. Jakarta : Yayasan Essentia Medica

Wiknojosastro, Hanifa. 1992. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo http://bidan.cz.cc/in/component/content/article/6-patologi-ii/66-distosia-power-his.html Distosia power adalah tenaga persalinan/ his yang tidak normal, baik kekuatan maupun sifatnya, sehingga menghambat kelancaran persalinan. His yang terlalu sering, sehingga tidak efektif. Misalnya pada pembukaan awal seharusnya his hanya 2-3 kali saja, tetapi ternyata 6 kali. His sendiri memiliki kriteria normal yang sesuai dengan fase persalinan. Dalam fase persalinan ada yang disebut fase laten/awal dan fase aktif. Fase awal/ laten ini bila pembukaannya antara 0-3 cm. Sedangkan fase aktif bila pembukaannya 3 cm atau lebih hingga lengkap (10 cm). His pada fase awal ini biasanya masih lemah, tapi pada fase aktif hisnya sedang atau kuat. Hambatan pada his ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya Inersia; His yang tidak sesuai dengan fasenya. Biasanya disebabkan kelainan fisik karena ibu kurang gizi, anemia, penyakit berat (hepatitis berat, TBC) atau ada kelainan pada rahim, misalnya terdapat mioma.

Pengertian
Distosia adalah kesulitan dalam jalannya persalinan. Distosia karena kelainan tenaga (his) yang tidak normal, baik kekuatan maupun sifatnya, sehingga menghambat kelancran persalinan. His yang normal sebagai berikut:
1. Tonus otot rahim diluar his tidak seberapa tinggi, lalu meningkatkan pada waktu his. Pada kala pmbukaan servik ada 2 fase : fase laten dan fase aktif yang digambarkan pada srvikogram menurut friedman. 2. Kotraksi rahim dimulai pada salah satu tanduk rahim, sebelah kanan atau kiri, lalu menjalar keseluruh otot rahim. 3. Fundus uteri berkontraksi lebih dulu (fundal dominan) lebih lama dari bagian-bagian lain. Bagian tengah berkontraksi agak lebih lambat, lebih singkat dan tidak sekuat kontraksi fundus uteri bagian bawah (segmen bawah rahim)dan servik tetap pasif atau hanya berkontraksi sangat lemah. 4. Sifat-sifat his: lamanya, kuatnya, keteraturannya, seringnya dan relaksasinya, serta sakitnya.

Etiologi
Kelainan his sering dijumpai pada primigravida tua sedangkan inersia uterisering dijumpai pada multigravida dan grandemulti. Faktor herediter mungkin memegang pula peranan dalam kelainan his dan juga factor emosi (ketakutan) mempengaruhi kelainan his. Salah satu sebab yang penting dalam kelainan his inersia uteri, ialah apabila bahwa janin tidak berhubungan rampat dengan segmen bawah rahim ini dijumpai pada kesalahan-kesalahan letak janin dan disproporsi sefalopelvik. Salah pimpinan persalinan

atau salah pemberian obat-obatan seperti oksitosin dan obat penenang. Kelainan pada uterus misalnya uterus birkornis unikolis dapat pula mengakibatkan kelainan his.

Kelainan His

Pengertian
Kelainan his adalah suatu keadaan dimana his tidak normal, baik kekuatannya maupun sifatnya sehingga menghambat kelancaran persalinan. His yang normal atau adekuat adalah his persalinan yang menyebabkan kemajuan persalinan. His persalinan tersebut meliputi:
Secara klinis yaitu minimal 3 kali kontrraksi dalam 10 menit, biasanya selama 40-60 detik, sifatnya
kuat.

KTG yaitu 3 kali kontraksi dalam 10 meniit, biasanya selama 40-60 detik dengan tekanan
intrauterina 40-60 mmHg.

Klasifikasi
Kelainan his dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Insersia uteri hipotoni (disfungsi uteri hipotonik) : kontraksi uterus terkoordinasi tetapi tidak adekuat. 2. Insersia uteri hipertoni (disfungsi uteri hipertonik / disfungsi uteri inkoordinasi) : kontraksi uterus tidak terkoordinasi, kuat tetapi tidak adekuat.

Etiologi
Kelainan his dapat disebabkan oleh :
1. Inersia Uteri

Adalah his yang sifatnya lebih lemah, lebih singkat, dan lebih jarang dibandingkan dengan his yang normal. Inersia uteri dibagi atas 2 keadaan:

Inersia uteri primer. Kelemahan his timbul sejak dari permulaan persalinan. Hal ini harus dibedakan
dengan his pendahulu yang juga lemah dan kadang-kadang menjadi hilang (false labour). dan dalam waktu yang lama.

Inersia uteri sekunder. Kelemahan his yang timbul setelah adanya his yang kuat dan kuat teratur

Diagnosis inersia uteri memerlukan pengalaman dan pengawasan yang teliti terhadap persalinan. Pada fase laten diagnosis akan lebih sulit, tetapi bila sebelumnya telah ada kontraksi (his)yang kuat dan lama, maka diagnosis inersia uteri sekunder akan lebih mudah.

Inersia uteri menyebabkan persalinan akan berlangsung lama dengan akibat-akibatnya. Terhadap ibu dan janin.
Penanganan

Periksa keadaan servik, presentasi dan posisi janin, turunnya bagian terbawah janin dan keadaan panggul kemudian buat rencana untuk menentukan sikap dan tindakan yang akan dikerjakan, misalnya pada letak kepala :
berikan oksitosin drips 5-10 satuan dalam 500cc dektrosa 5% dimulai dengan 12 tetes permenit,
dinaikan setiap 10-15 menit sampai 40-50 tetes permenit. Maksud dari pemberian oksitosin adalah supaya servik dapat membuka . beberapa lama, hentikan dulu dan ibu dianjurkan beristirahat. Pada malam hari berikan obat penenang misalnya valium 10 mg dan esoknya dapat diulang lagi pemberian oksitosin drips.

Pemberian oksitosin tidak usah terus menerus, sebab bila tidak memperkuat his setelah pemberian Bila inersia disertai dengan disproporsi sefalopelvis, maka sebaiknya dilakukan seksio sesarea. Bila semua his kuat tetapi kemudianterjadi inersia uteri sekunder, ibu lemah, dan partus telah

berlangsung lebih dari 24 jam pada primi dan 18 jam pada multi, tidak ada ginanya memberikan oksitosin drips, sebaiknya partus segera diselesaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan dan indikasi obstetric lainnya (ekstraksi vakum atau forsep, atau seksio sesarea.

2. Tetania Uteri

Adalah his yang terlampau kuat dan terlalu sering sehingga tidak ada relaksasi rahim. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya partus presipitatus yang dapat mengakibatkan persalinan diatas kendaran, dikamar mandi, dan tidak sempat dilakukan pertolongan. Akibatnya terjadilah luka-luka jalan lahir yang luas pada servik, vagina pada perineum, dan pada bayi dapat terjadi perdarahan intracranial. Bila ada kesempitan panggul dapat terjadi rupture uteri mengancam, dan bila tidak segera ditangani akan berlanjut menjadi rupture uteri.
Penanganan Berikn obat seperti morfin, luminal dan sebagiannya, asal janin tidak akan lahir dlam waktu dekat
4-6 jam

Bila ada tanda-tanda obstruksi, persalinan harus segera diselesaikan dengan seksio sesarea. Pada partus presipitatus tidak banyak yang dapat dilakukan karena janin lahir tiba-tiba dan cepat.

3. Aksi Uterus Inkoordinasi (Incoordinate Uterine Action)

Sifat his yang berubah-ubah, tidak ada koordinasi dan sinkronasi antar kontraksi dan bagian-bagiannya. Jadi kontraksi tidak efisien dalam mengadakan pembukaan, apalagi dalam pengeluaran janin. Pada bagian atas dapat terjadi kontraksi tetapi bagian tengah tidak, sehingga menyebabkan terjadinya lingkaran kekejangan yang mengakibatkan persalinan tidak dapat maju.

Penanganan

Untuk mengurangi rasa takut, cemas dan tonus otot, berikan obat-obatan anti sakit dan penenang
(sedativa dan analgetika) seperti morfin, petidin dan valium.

Apabila persalinan sudan berlangsung lama dan berlarut-larut, selesaikanlah partus menggunakan
hasil pemeriksaan dan evaluasi, dengan ekstraksi vakum, forsep, atau seksio sesarea.

Penanganan Distosia His


Dalam menghadapi persalinan lama dilakukan evaluasi secara keseluruhan untuk mencari sebab-sebabnya. Tekanan darah diukur tiap emat jam. Pemeriksaan ini perlu dilakukan lebih sering apabia ada gejala pre-eklmpsia, denyut jantung janin dicatat tiap setengah jam dalam kala I dan lebih sering dalam kala II. Kemungkinan juga dehidrasi dan asidosis harus mendapat perhatian sepenuhnya. Pada persalinan lama selalu ada kemungkinan untuk melakukan tindkan pembedahan dengan narcosis, hendaknya jangan diberikan maknan biasa melainkan dalam bentuk cairan. Sebaiknya diberikan infus larutan glukosa 5% dan larutan NaCl isotonic secara intravena berganti-ganti. Bila his mengebabkan rasa sakit yang berlebihan diberikan injeksi pethidin 50 mg, pada pemulaan kala I dapat diberikan 10 mg morvin. Berikan antibiotic secukupnya,apalagi kalau ketuban sudah lama pecah. Inersia dibedakan dalam dua jenis, primer dan sekunder. Yang dimaksud inersia primer bila sama sekali tidak terjadi his. Jadi, kelemahan his terjadi sejak dari permulaan persalinan. Sedangkan disebut sekunder, bila pada awalnya bagus, yaitu kuat dan teratur, lantas hilang. Inersia sekunder inilah yang kerap terjadi pada ibu hamil.

Penyulit
Kelainan his (insersia uteri) dapat menimbulkan kesulitan, yaitu : 1. Kematian atau jejas kelahiran 2. Bertambahnya resiko infeksi 3. Kelelahan dan dehidrasi dengan tanda-tanda : nadi dan suhu meningkat, pernapasan cepat, turgor berkurang, meteorismus dan asetonuria.

Pemeriksaan Penunjang
Kelainan his dapat didukung oleh pemeriksaan : 1. KTG 2. USG

Penatalaksanaan
Kelainan his dapat diatasi dengan :

1. Pemberian infus pada persalinan lebih 18 jam untuk mencegah timbulnya gejalagejala atau penyulit diatas. 2. Insersia uteri hipotoni : jika ketuban masih ada maka dilakukan amniotomi dan memberikan tetesan oksitosin (kecuali pada panggul sempit, penanganannya dengan seksio sesar). 3. Insersia uteri hipertoni

Pertolongan Segera
Bila kemacetan tersebut terjadi saat janin sudah terlanjur keluar sebagian badannya, biasanya akan digunakan manual aid. Dengan bantuan tangan diubah posisinya dari luar. Pertolongan ini harus segera dilakukan, karena jika terlambat, maka bisa mengakibatkan gawat janin atau asfiksia. Terlebih lagi bila ketubannya sudah berubah warna menjadi hijau. Jalan lahir juga bisa mengalami kerusakan. Jika jalan lahir sudah terjepit lama hingga 4-5 jam, maka jalan lahir itu bisa kekurangan oksigen. Akibatnya akan rusak. Apalagi saluran kencing yang terdapat di atas jalan lahir pun bisa terganggu. Bisa membuat si ibu tidak kencing beberapa hari. Demikian juga, bila pembukaan sudah lengkap tapi jalan lahir tidak muat, maka rahim juga bisa pecah. Saat pembukaan sudah lengkap, tapi kepala tak turun-turun, dinding rahim akan semakin menipis, maka kepala bayi bisa keluar ke perut. Ini berbahaya untuk bayi dan ibu. Bayi bisa meninggal dan ibunya bisa perdarahan, yang bisa membawa pada kematian. Sedangkan jika diagnosis menunjukkan penyebab distosia tersebut karena gangguan his, maka akan dilakukan perbaikan pada hisnya. Caranya bisa dengan diinfus, diberi obat, atau dipecahkan ketubannya. Dan bila hisnya terlalu kuat/sering, maka diberi obat untuk mengurangi/mengatur hisnya kembali. Bila yang terjadi kasus his tetanik, maka harus dicari penyebabnya. Jika karena lepasnya plasenta, maka mau tak mau harus operasi. Tetapi, hal tersebut sangat tergantung pada kondisi pembukaannya saat itu, kalau sudah siap lahir maka dilahirkan dengan normal. Semua keadaan his ini akan dipantau lewat partigraf. Semacam grafik yang dijadikan tolok ukur untuk melahirkan. Jika masih sesuai dengan grafik, maka bisa dilahirkan secara normal. Tapi kalau masih macet harus dilakukan operasi. Berbeda bila yang terjadi kasus dengan dugaan CPD/cepalo palvik disproporsi (panggul sempit), maka akan dilakukan partus percobaan. Dengan mulas yang bagus akan dinilai dalam 2 jam. Jika ada pembukaan yang bertambah, ada putaran posisi kepala janin (baik berputar sendiri atau dengan bantuan), serta adanya penurunan kepala, maka dinilai partus maju. Tapi kalau tidak ada perubahan ketiga hal tersebut, maka partus percobaan itu dinilai gagal.

Lain halnya bila kemacetan terjadi pada saat persalinan kala 2, misalnya sudah pembukaan tapi tak kunjung lahir, entah itu karena bayinya sedikit miring atau mulasnya tak ada, atau ibunya tak mau ngedan, maka dokter akan segera memberi tindakan, dengan menggunakan ekstraksi vakum atau forcep. Vakum atau forcep bisa dilakukan bila pembukaannya sudah lengkap dan kepalanya sudah turun. Jika kepalanya tidak turun juga, langsung operasi. Demikian juga jika pembukaannya belum lengkap. operasi dilakukan setelah melihat berbagai pertimbangan. Salah satunya dengan melihat kondisi janin. Bila dari hasil rekaman CTG, denyut jantungnya kurang bagus, maka segera dilakukan operasi. Operasi tidak selalu ditempuh dalam mengatasi kemacetan persalinan ini. Hanya pada kasus pasien distosia yang tidak bisa dikoreksi, akan dilakukan operasi. Sambil menunggu operasi, biasanya hilangkan mulasnya. Agar bayinya tidak bertambah stres.

Upaya Pencegahan
Upaya pencegahan yang bisa dilakukan ibu hamil agar persalinan berjalan lancar yang paling utama harus diperhatikan status gizi ibu harus baik saat hamil. Dengan demikian tenaganya saat persalinan akan bagus.

Upaya lainnya adalah senam hamil. Senam hamil perlu untuk melemaskan otot-otot, belajar bernafas selama persalinan, dan memperkenalkan posisi. Yang tak kalah penting adalah persiapan mental menjelang persalinan. Karenatak jarang ibu-ibu hamil yang baru pembukaan 3-4 saja sudah teriak-teriak panik. Padahal kalau orang sedang mulas, ototnya akan kencang semua. Justru seharusnya ia jangan buang-buang tenaga dengan berteriakteriak. Tapi tarik nafas dan lemaskan otot-ototnya, supaya ia irit tenaga. Siap untuk mengejan nanti. Ibu hamil yang sudah terlatih dalam senam hamil, umumnya mentalnya relatif sudah siap, sehingga ia pun bisa tenang dalam melahirkan. Karena kesiapan mental ini pun sangat berperan dalam hal mengatur mulas. Mulas itu salah satunya dipengaruhi kesiapan mental karena berkaitan dengan hormon. Selain itu, dalam hal mengejan, sebaiknya tunggu perintah dari bidan atau dokternya. Jangan mengejan sebelum diperintahkan. Karena jika tidak teratur, tenaga makin berkurang, dan jalan lahir bisa membengkak. Hal ini diakibatkan karena saat mengejan, terdapat cairan yang keluar di jalan lahir. Akibat lebih jauh, akan menyulitkan penjahitan jika vagina ibu mengalami pembengkakan. Selalu mengontrol kehamilan agar bisa mendeteksi sedini mungkin bila ada kelainan. Misalnya, bila selama kontrol kehamilan, bayinya sudah terlalu besar untuk ukuran usia kehamilannya, tentu harus diet. Sebab jika janin sudah terlalu besar, misalnya sudah di atas 4 kg, maka akan terjadi distosia. Bayi tak akan muat untuk masuk ke jalan lahir. Bahkan pada kasus bayi dengan distosia bahu bisa saja terjadi cedera syaraf-syaraf di otot leher dan bahunya. Akibatnya, bisa cacat atau lumpuh lengan separuh. Karena itu, jika taksiran bayinya di atas 4 kg dan panggulnya kecil, sebaiknya jangan ambil risiko,

langsung operasi. Tapi kalau panggulnya dinilai mencukupi, bisa saja dicoba melahirkan normal. Terakhir Diupdate (Rabu, 09 Maret 2011 10:11)