Anda di halaman 1dari 9

1

MENJAGA LISAN

Khutbah I
َ َْْ َ َ ْ َ َّ َ ُ َ َّ َ َ َ ً َ ‫ََا‬ ْ ُ َ َْ
،‫السَل ُم اْلت َّم ِان اْل ك َمَل ِن‬ ‫ والصَلة و‬،‫هلل ال َم ْو ُج ْو ِد أزًل َوأ َبدا ِبَل َمك ٍان‬ ِ ‫الح ْمد‬
َ َ َ َْ َ َ َ
،‫ َو َعَل ِآل ِه َو َص ْح ِب ِه َو َم ْن ت ِب َع ُه ْم ِب ِإ ْح َس ٍان‬،‫َعَل َس ِّي ِدنا ُم َح َّم ٍد َس ِّي ِد َول ِد َعدنان‬
ُ ً ََ َّ َ ُ ْ َ ُ َ َ ْ ََ َ ُ َ ْ َ ُ َّ َ َّ ْ َ ُ َ ْ َ
‫ َوأش َهد أن َس ِّيدنا ُم َح َّمدا َع ْبد ُه‬،‫شيك له‬ ِ ‫ًل‬ ‫ه‬‫د‬ ‫ح‬ ‫و‬ ‫هللا‬ ‫ًل‬ ‫أشهد أن ًل ِإله ِإ‬
ُ َ َ َ ُ ُ
‫ ـ‬.‫ب َب ْعده‬ َّ ‫ ًل ن‬،‫َو َر ُس ْوله‬
‫ِي‬
ُ َ
َ
:‫ف ُم ْحك ِم ِك َت ِاب ِه‬ ْ ِ ‫َل ْال َق ِد ْير ْال َق ِائل‬
ِّ ‫هللا ْال َع‬
ِ ‫ى‬‫و‬ َ ‫س ب َت ْق‬ْ ِ ‫ َفإ ِِّن أ ْو ِص ْي ُك ْم َو َن ْف‬،‫أ َّما َب ْع ُد‬
‫ِ ِي‬ ِ ‫ِي‬ ِ ‫ي‬ ‫ِ ي‬
ً‫اح َت َم ُلوا ُب ْه َت ًانا َوإ ْثما‬ ْ ‫ي َو ْال ُم ْؤم َنات ب َغ ْي َما ْاك َت َس ُبوا َف َقد‬ َِ ‫ون ْال ُم ْؤمن‬ َ ُ ْ ُ َ َّ َ
‫وال ِذين يؤذ‬
ِ ِ ِْ ِ ِ ِ ِْ ِ
ً ُ
)٥٨ :‫م ِبينا (اْلحزاب‬

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dari atas mimbar khatib berwasiat kepada kita semua,


terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa
berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan
kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara
melaksanakan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari
seluruh yang diharamkan.

Kaum Muslimin yang berbahagia,

Di antara maksiat lisan adalah mencaci seorang Muslim,


melaknatnya, melecehkannya, dan mengatakan setiap
perkataan yang menyakiti hatinya tanpa ada sabab syar’i
(alasan yang dibenarkan oleh syariat).
2

Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


َ ْ ٌ ُ ْ ُ َ
)‫اب ال ُم ْس ِل ِم ف ُس ْوق َ(ر َو ُاه ال ُبخ ِار ُّي‬‫ِسب‬

Maknanya: “Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan ”


(HR al-Bukhari).

Hadits ini menyebut perbuatan mencaci seorang Muslim


sebagai kefasikan karena ia tergolong dosa besar.

Sedangkan melaknat artinya adalah mencaci orang lain


serta mendoakannya agar dijauhkan dari kebaikan dan
rahmat Allah. Seperti mengatakan: Semoga Allah
melaknatmu, semoga laknat Allah menimpamu, engkau
terlaknat, atau engkau termasuk orang yang pantas
mendapat laknat Allah. Melaknat seorang Muslim
hukumnya dosa besar.

Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan


tegas menyatakan:
َ َ َّ ُ َْ َ ْ ْ َ
)‫(متف ٌق َعل ْي ِه‬ ‫ل ْع ُن ال ُمؤ ِم ِن كقت ِل ِه‬

Maknanya: “Melaknat seorang Mukmin serupa dengan


membunuhnya ”(Muttafaqun ‘alaih).

Mencaci dan melaknat saudara sesama Muslim bukanlah


sifat seseorang Mukmin yang sempurna imannya
3

sebagaimana ditegaskan Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa


sallam:
ُ َ َ ‫الفاحش َو ًَل‬
َ َ َ َّ َّ َ َ َّ َّ ُ ْ ُ ْ َ ْ َ
‫الب ِذ ْي ِء َ(ر َو ُاه أ ْح َمد‬ ِ ِ ‫ليس المؤ ِمن ِبالطع ِان وًل اللع ِان وًل‬
ُ َ ْ ِّّ ‫َو‬
)‫اليِم ِذ ُّي َوغ ْْ ُيه َما‬

Maknanya: “Seorang Mukmin yang sempurna imannya


bukanlah seorang pencaci, pelaknat, bukan pula orang yang
berkata keji dan kotor ”(HR Ahmad, at-Tirmidzi, dan lain-
lain).

Bahkan dalam hadits lain, Baginda Rasulullah shallallahu


‘alaihi wa sallam dengan tegas bersabda:
َ ْ ُ َ ِّ ُ َّ ُ َ َ َ ْ َ ُ َّ ُ َ َ َ ْ َ َّ َّ ََ َّ
)‫اس اتق َاء ف ْح ِش ِه َ(ر َو ُاه ال ُبخ ِار ُّي‬‫اس من تركه الناس أو ودعه الن‬ ِ ‫ِإن ش الن‬
Maknanya: “Sesungguhnya termasuk manusia yang paling
buruk adalah seseorang yang ditinggalkan orang lain karena
takut akan perkataan keji dan kotornya ”(HR al-Bukhari).

Sebaliknya, Muslim yang baik adalah seorang Muslim yang


orang lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya.
Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
َ َ َّ ُ َ ْ
)‫(متف ٌق َعل ْي ِه‬ ‫الم ْس ِل ُم َم ْن َس ِل َم ال ُم ْس ِل ُم ْون ِم ْن ِل َس ِان ِه َو َي ِد ِه‬
ُ
4

Maknanya: “Muslim yang sempurna imannya adalah


seseorang yang orang Muslim lainnya selamat dari
gangguan lidah dan tangannya ”(Muttafaqun ‘alaih).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Oleh karena itulah, mari kita jaga lidah kita. Jangan sampai
menjadi sumber bencana bagi diri kita sendiri maupun
orang lain. Lidah bisa menjadi bencana bagi diri sendiri,
karena jika tidak hati-hati, ucapan-ucapan yang haram dan
mengandung dosa akan meluncur dari lidah kita. Imam al-
Ghazali menuturkan: “Lidah adalah nikmat yang agung.
Bentuknya kecil. Tapi akibat yang ditimbulkannya bisa
sangat besar. ”

Hadirin Rohimakumulloh,

Dengan sebab lidah, seorang anak bisa bertengkar dengan


kedua orang tuanya. Dengan sebab lidah, bisa terjadi
perceraian antara suami istri. Dengan sebab lidah,
kerusuhan dan huru-hara dapat meletus di mana-mana dan
meluas ke mana-mana. Dengan sebab lidah, seseorang bisa
membunuh teman atau tetangganya. Dengan sebab lidah,
bisa saja terjadi kekacauan yang memporak-porandakan
seluruh penjuru negeri. Dan dengan sebab lidah, bisa jadi
kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi
keutuhan sebuah negara, yaitu persatuan dan kesatuan.
5

Sangat benar apa yang disabdakan Baginda Rasulullah


shallallahu ‘alaihi wa sallam:
َ َ َّ ُ ْ ُ ْ َ ْ َ ً ْ َ ْ ُ َ ْ َ ْ َ َ ُ ُْ َ َ ْ َ
)‫(متف ٌق َعل ْي ِه‬ ‫الي ْو ِم اْل ِخ ِر فليقل خ ْيا أو ِليصمت‬‫اهلل و‬
ِ ‫من كان يؤ ِمن ِب‬

Maknanya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan


hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam ”
(Muttafaqun ‘alaih).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Suatu ketika, sahabat Abdullah bin Mas’ud radliyallahu


‘anhu mendaki gunung Shafa. Setelah tiba di puncaknya,
beliau memegang lidahnya sembari berucap: “Wahai lidah,
ucapkanlah perkataan yang baik niscaya engkau beruntung.
Diamlah dari perkataan yang buruk niscaya engkau
selamat. Lakukanlah itu sebelum engkau menyesal.
Sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
َّ ُ َ َ
ُّ ِ ‫الط َ َي‬ َ ْ َ َ َ ََُْ
َ ‫آد َم م ْن ل‬
)‫ان‬ ‫ِي‬ ‫اه‬‫و‬‫(ر‬ ‫ه‬‫ان‬‫س‬
ِِ ِ ِ ‫أ كثـر خطايا اب ِن‬

Maknanya: “Sebagian besar dosa dan kesalahan manusia


itu bersumber dari lidahnya ”(HR ath-Thabarani).
6

Sahabat Nabi yang lain, Mu’adz bin Jabal radliyallahu ‘anhu


suatu ketika bertanya kepada Baginda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah kita akan dimintai
pertanggungjawaban atas apa yang kita bicarakan? ”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya balik:
ُ َّ َ َ َ َ ْ َ ْ ْ ُ ُ َ َ َّ ْ ِ َ َّ ُّ ُ َ ْ َ َ
‫اخ ِر ِه ْم ِإًل َح َص ِائد‬
ِ ‫ف الن ِار عَل وجو ِه ِهم أو عَل من‬ ‫َ ْوهل يكب الناس ِ ي‬
ِّ َ
)‫أل ِسن ِت ِه ْم؟ َ(ر َو ُاه التـرِم ِذي‬
ُّ ْ

Maknanya: “Adakah sesuatu yang menjerumuskan


manusia ke neraka lebih banyak daripada perkataan yang
diucapkan lidah-lidah mereka? ”(HR at-Tirmidzi).

Baginda Nabi juga menasihatkan:


َّ ُ َ َ َ ْ َ َ ْ َ َ َ َ ُ َ ْ َّ َ َ َ َ َّ َ َ َ ً َ ْ َ َ ْ َ َ َّ
ُّ ِ ‫الط َ َي‬
)‫ان‬ ِ‫ي‬ ‫ِإنك لم تزل س ِالما ما سكت ف ِإذا تكلمت ك ِتب لك أو عليك (رواه‬

Maknanya: “Sesungguhnya engkau senantiasa selamat


selagi diam, namun jika engkau telah berbicara, maka
ucapanmu akan bermanfaat bagimu atau
membahayakanmu ”(HR ath-Thabarani).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam sebuah peribahasa dikatakan: “Terlongsong perahu


boleh balik, terlongsong cakap tak boleh balik. ”Artinya
perkataan yang tajam kerap kali menjadikan celaka diri dan
tidak dapat ditarik kembali. Sebab itu jika orang hendak
7

berucap, hendaklah dipikirkan lebih dahulu. Sangat penting


bagi kita untuk berpikir sebelum berucap. Berpikir sebelum
berkomentar. Berpikir sebelum menulis di medsos. Tulisan
adalah salah satu dari dua lisan kita.

Jika baik dan bermanfaat, kita katakan atau kita tulis. Jika
tidak ada manfaatnya atau bahkan berpotensi
menimbulkan keburukan, kekacauan dan kesalahpahaman,
maka lebih baik diam. Jika ada manfaat di satu sisi, namun
ada pula mudaratnya di sisi yang lain, maka kita mengikuti
prinsip: mencegah mafsadah lebih didahulukan daripada
menarik maslahah. Saring sebelum sharing. Tidak setiap
yang terpikir, kita ucapkan. Tidak setiap kejadian kita
komentari. Jangan mengomentari sesuatu yang kita tidak
ada ilmu tentangnya. Alih-alih komentar kita
menyelesaikan masalah, justru malah menambah dan
memperuncing masalah.

Hadirin sidang Jumat yang berbahagia,

Sekarang ini meskipun tahun 2024 masih lumayan lama,


namun aroma persaingan perebutan kekuasaan sudah
mulai terasa, marilah kita jaga persatuan dan kesatuan.
Jangan beri peluang sedikit pun kepada para pengadu
domba untuk menceraiberaikan kita. Tahan setiap ucapan
atau komentar yang berpotensi memecah belah persatuan
8

dan kesatuan. Beda pandangan silahkan asalkan jangan


saling memaki. Beda pendapat boleh. Asalkan jangan saling
membenci. Kritikan boleh disampaikan. Asalkan tetap
menjaga kesantunan dan kesopanan. Jauhkan lisan kita dari
sumpah serapah, mencaci, memaki, mencela, menista,
mengejek, melaknat, mengutuk, menghina, mengolok-
olok, melecehkan, merendahkan, mencibir, mencemooh,
menjelekkan, menghasut, menggunjing, mengadu domba
dan memfitnah.

Ingat, setiap apa yang kita ucapkan, lakukan dan yakini akan
kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Allah ta’ala
berfirman:
َ ُ ُ َ ُ َ َ ُ َ َْ َ ُ ْ َ
)٢٤ :‫َي ْو َم تش َهد َعل ْي ِه ْم أل ِسنت ُه ْم َوأ ْي ِد ِيه ْم َوأ ْر ُجل ُه ْم ِب َما كانوا َي ْع َملون (النور‬

Maknanya: “Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki


mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang
dahulu mereka kerjakan ”(QS an-Nur: 24)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh


keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa
barakah bagi kita semua. Amin.
َّ ‫ إ َّن ُه ُه َو ْال َغ ُف ْو ُر‬،‫اس َت ْغ ِف ُر ْو ُه‬ َ ‫أ ُق ْو ُل َق ْو ْل ٰه َذا َو َأ ْس َت ْغف ُر‬.َ
ْ ‫ َف‬،‫هللا ْل َو َل ُك ْم‬
‫الر ِح ْي ُم‬ ِ ‫ِي‬ ِ ‫ِي‬
‫‪9‬‬

‫‪Khutbah II‬‬
‫َ‬ ‫َ َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ َ َِ َ ُ َ ّ ْ ُ ّ‬ ‫َْ ُ‬
‫َل َوأ َسل ُم َعَل َس ِّي ِدنا ُم َح َّم ٍد ال ُم ْصط ِف‪َ ،‬و َعَل ِآل ِه‬ ‫ي‬ ‫هلل وكف‪ ،‬وأص‬ ‫ِ‬ ‫ال َح ْمد‬
‫ُ َ ْ َ ُ َ ََ ْ َ َ ُ َ ْ ُ َ َّ‬ ‫َ ْ ْ َ َ َ ْ َ ُ َ ْ َّ َ َّ‬ ‫َو َأ ْص َ‬
‫شيك له‪َ ،‬وأش َهد أن‬ ‫ِ‬ ‫ًل‬ ‫ه‬ ‫د‬ ‫ح‬ ‫و‬ ‫هللا‬ ‫ًل‬ ‫إ‬ ‫له‬
‫ِ ِ‬ ‫إ‬ ‫ًل‬ ‫ن‬ ‫أ‬ ‫د‬ ‫ه‬ ‫ش‬ ‫أ‬ ‫‪.‬‬‫ا‬ ‫ف‬ ‫و‬ ‫ال‬ ‫ل‬ ‫ه‬
‫ِِ ِ‬ ‫أ‬ ‫ه‬ ‫اب‬ ‫ح‬
‫َ ِّ َ َ ُ َ َّ ً َ ْ ُ ُ َ َ ُ ْ ُ ‪ُ.‬‬
‫سيدنا محمدا عبده ورسوله ـ‬
‫ْ َ ِّ ْ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫َل ال َع ِظ ْي ِم‬ ‫ع‬ ‫ال‬ ‫هللا‬
‫ِ‬ ‫ى‬ ‫و‬ ‫س ب َت ْق َ‬ ‫أ َّما َب ْع ُد‪َ ،‬ف َيا أ ُّي َها ْال ُم ْس ِل ُم ْو َن‪ ،‬أ ْو ِص ْي ُك ْم َو َن ْف ِ ْ‬
‫ْ‬ ‫َ ْ َ ُ ْ َ َّ َ َ َ َ ُ ْ َ ْ َ ْ َ َ َ ُ ْ ي َّ ِ َ َ َّ َ َ ِ َ ي َ ِّ ْ َ‬
‫واعلموا أن هللا أمركم ِبأم ٍر ع ِظي ٍم‪ ،‬أمركم ِبالصَل ِة والسَل ِم عَل ن ِبي ِه الك ِري ِم‬
‫َ‬ ‫ُّ‬ ‫َ َ َ ‪ُ َ َ َّ َ ُّ َ َ ِّ َّ َ َ َ ُّ َ ُ ُ َ َ َ َ َ َ َّ َّ :‬‬
‫آمنوا َصلوا َعل ْي ِه‬ ‫فقال ِإن اَّلل ومَل ِئكته يصلون عَل الن ِ يب‪ ،‬يا أيها ال ِذين‬
‫َ ِّ َ ُ َ َّ ََ‬ ‫َ َ ّ ُ َ ْ ً َ ّٰ ُ َّ َ ِّ َ َ َ ِّ َ ُ َ َّ َ َ َ‬
‫آل سي ِدنا محم ٍد كما‬ ‫وسلموا تس ِليما‪ ،‬اللهم صل عَل سي ِدنا محم ٍد وعَل ِ‬
‫َ‬ ‫ْ َ‬ ‫َ‬ ‫َ َّ ْ َ َ َ َ ِّ َ ْ َ ْ َ َ َ َ‬
‫آل َس ِّي ِدنا ِإ ْب َر ِاه ْي َم َو َب ِارك َعَل َس ِّي ِدنا ُم َح َّم ٍد‬ ‫صليت عَل سي ِدنا ِإبر ِاهيم وعَل ِ‬
‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ْ َ َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫آل َس ِّي ِدنا‬ ‫ِ‬ ‫آل َس ِّي ِدنا ُم َح َّم ٍد ك َما َب َاركت َعَل َس ِّي ِدنا ِإ ْب َر ِاه ْي َم َو َعَل‬ ‫ِ‬ ‫َو َعَل‬
‫اغف ْر ل ْل ُم ْسلم ْْ َِ َ ْ ُ ْ َ‬ ‫ْ َ ْ َ ِ ْ ْ َ َ ْ َِ َّ َ َ ْ ٌ َ ْ ٌ َ ّٰ ُ َّ ْ‬
‫ات‬ ‫ي والمس ِلم ِ‬ ‫ِِ‬ ‫ك ح ِميد م ِجيد‪َ .‬اللهم ِ ِ‬ ‫َ‬
‫ِإبر ِاهيم‪ ِ ،‬يف العال ِم ْي ِإن‬
‫َ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َّ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫ْ ُ ْ ْ َِ َ ْ ُ ْ َ‬
‫ات‪ ،‬اللهم ادفع عنا ال َبَل َء والغَل َء‬ ‫ْ‬
‫ات اْلحي ِاء ِمنهم واْلمو ِ‬
‫َ‬
‫ي والمؤ ِمن ِ‬ ‫والمؤ ِم ِن ْ‬
‫الش َدائ َد َوا ْلم َح َن‪ ،‬ماَ‬ ‫َ ْ َ َ َ َ ْ َ ْ َ َ َ ْ ُ ْ َ َ َ ْ َ ِْ َ َ ُّ ُ ْ َ ْ ُ ْ َ َ َ َ َّ‬
‫والوباء والفحشاء والمنكر والب يغ والسيوف المخت ِلفة و‬
‫ِ‬ ‫ِ‬
‫ْ ُ ْ ْ َِ َ َّ ا َّ َ‬ ‫َْ‬ ‫ْ َ َ َ َ َ َ َّ ا‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬
‫اصة َو ِم ْن ُبلد ِان المس ِل ِم ْي عامة‪ِ ،‬إنك‬ ‫ظ َه َر ِمن َها َو َما َبط َن‪ِ ،‬من بل ِدنا هذا خ‬
‫َ َ ُ ِّ ََ ْ َ‬
‫ش ٍء ق ِد ْي ٌر‬ ‫عَل كل ي‬
‫ُْْ َ َْ َ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫ْ ْ‬ ‫َّ َ ْ‬ ‫َ‬
‫وينَه َع ِن‬ ‫هللا َيأ ُم ُر ِبال َعد ِل َواْل ْح َس ِان َو ِإ ْيت ِاء ِذي القرن‬ ‫هللا‪ ،‬إن‬ ‫ِع َباد ِ‬
‫َ ْ‬ ‫ُ ُ َ َّ ُ َ َ َّ َ َ ُ‬ ‫َ ْ َ َ ُْْ َ َ َْ‬
‫هللا ال َع ِظ ْي َم‬ ‫الب ِ ِيغ‪َ ،‬ي ِعظك ْم ل َعلك ْم تذك ُر ْون‪ .‬فاذك ُروا‬ ‫الفحش ِاء والمنك ِر و‬
‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫َْ ُ ُ ََ ْ‬
‫هللا أ ك ُي‪.‬ـ‬ ‫يذك ْرك ْم ول ِذك ُر ِ‬