Anda di halaman 1dari 4

Sejarah Peradilan Agama di Indonesia

11 Apr 2010

Ragam Republika

Nidla Zuraya Sistem peradilan agama di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh penguasa Mataram. Peradilan Agama di Indonesia mempunyai sejarah yang cukup panjang, jauh sebelum bangsa ini memperoleh kemerdekaan. Para pakar dan ahli hukum sejarah sepakat bahwa sistem Peradilan Agama di Indonesia sudah dikenal sejak Islam masuk ke bumi Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Pada masa itu hukum Islam mulai berkembang di wilayah nusantara bersama-sama dengan hukum adat. Kendati demikian, dalam perjalanannya keberadaan peradilan agama mengalami pasang surut. Muchtar Zarkasyi dalam artikelnya tentang Sejarah Peradilan Agama di Indonesia menjelaskan, hukum Islm telah dipakai oleh masyarakat Indonesia, sebelum Belanda melancarkan politik hukumnya di Indonesia.Ia menjelaskan, hukum Islam sebagai hukum yang berdiri sendiri telah mempunyai kedudukan yang kuat, baik di masyarakat maupun dalam peraturan perundang-undangan negara. Kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berdiri di Indonesia, melaksanakan hukum Islam dalam wilayah kekuasaannya masingmasing. Kerajaan Islam Pasai yang berdiri di Aceh Utara pada akhir abad ke-13 M, merupakan kerajaan Islam pertama yang kemudian diikuti dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam lainnya, seperti Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Ngampel (Surabaya), dan Banten. Di bagian Timur Indonesia berdiri pula kerajaan Islam, seperti Tidore dan Makassar. Pada pertengahan abad ke-16, kerajaan Mataram yang menguasai wilayah Jawa Tengah, berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di pesisir utara. Kerajaan Mataram ini memiliki peranan besar dalam penyebaran Islam di nusantara. Dengan masuknya penguasa kerajaan Mataram ke dalam agama Islam, maka pada permulaan abad ke-17 M penyebaran agama Islam hampir meliputi sebagian besar wilayah Indonesia. Penyebaran agama Islam yang merata hampir ke seluruh wilayah Indonesia, menumbuhkan komunitas-komunitas masyarakat Islam di wilayah-wilayah tersebut. Dengan timbulnya komunitas-komunitas ini, maka kebutuhan akan lembaga peradilan yang memutus perkara berdasarkan hukum Islam makin diperlukan. Sistem peradilan agama di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh penguasa Mataram. Sistem Peradilan Pradata dan Peradilan Padu yang telah dikenal jauh sebelum Islam datang dihapus untuk kemudian digantikan dengan sistem Peradilan Serambi yang berasaskan Islam. Penggantian ini bertujuan untuk menjaga integrasi wilayah Kerajaan Mataram.

Sebagai bagian dari mekanisme penyelenggaraan kenegaraan, keberadaan peradilan agama sempat mengalami pasang surut ketika Sultan Agung meninggal dan digantikan oleh Amangkurat I. Saat berkuasa, Amangkurat I pernah menutup peradilan agama dan menghidupkan kembali Peradilan Pradata. Namun, setelah ia mangkat, peradilan agama kembali dihidupkan. Daniel S Lev dalam bukunya yang bertajuk Islamic Courts in Indonesia A Study in The Political Bases of Legal Institutions, mengungkapkan, pada awal proses pembentukan lembaga peradilan yang berdasarkan hukum Islam, proses penyelesaian sengketa masih dilakukan secara sederhana. Dalam keadaan tertentu, terutama bila tidak ada hakim di suatu wilayah tertentu, maka dua orang yang bersengketa itu dapat bertahkim kepada seseorang yang dianggap memenuhi syarat. Bila tidak ada Imam, maka penyerahan wewenang untuk pelaksanaan peradilan dapat dilakukan oleh ahlu al-halli wa al-aqdi (lembaga yang mempunyai otoritas menentukan hukuman), yakni para sesepuh dan ninik mamak dengan kesepakatan. Di masa raja-raja Islam, jelas Lev, lembaga peradilan agama diselenggarakan oleh para penghulu, yaitu pejabat administrasi masjid setempat. Sidang-sidang peradilan agama pada masa itu biasanya berlangsung di serambi masjid, sehingga lembaga peradilan agama sering pula disebut Pengadilan Serambi. Keadaan ini dapat dijumpai di semua wilayah kekuasaan Islam di seluruh nusantara, yang kebanyakan menempatkan jabatan keagamaan, penghulu dan atau hakim, sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan pemerintahan umum. Masa penjajahan Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, peradilan agama mendapat pengakuan secara resmi. Pada 1882, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan Staatsblad (Stbl) No 152 yang merupakan pengakuan resmi terhadap eksistensi peradilan agama dan hukum Islam di Indonesia. Secara kelembagaan juga dibentuk lembaga peradilan agama dengan nama Priesterraad. Dalam implementasinya, keberadaan Priesterraad ini memiliki istilah yang berbeda-beda di setiap wilayah. Untuk wilayah Jawa dan Madura, digunakan istilah Pengadilan Agama untuk tingkat pertama dan Mahkamah Tinggi Islam untuk tingkat banding, sesuai dengan Stbl 1882 Nomor 152, Stbl 1937 Nomor 116, dan Stbl 1937 Nomor 610. Sementara untuk wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur dengan nama Kerapatan Qodhi untuk pengadilan tingkat pertama dan Kerapatan Qodhi Besar untuk tingkat banding. Ketentuan ini diatur dalam Stbl 1937 Nomor 638 dan 639. Keberadaan lembaga peradilan agama mendapat perhatian umat Islam, seiring dengan makin berkembang dan meluasnya ajaran Islam ke berbagai wilayah pelosok nusantara.

Dan lembaga peradilan agama ini menjadi alat kelengkapan bagi masyarakat untuk melaksanakan hukum Islam. Hal inilah yang kemudian mendorong tumbuh dan berkembangnya peradilan agama di wilayah Indonesia. Jika di masa penjajahan, jumlah Pengadilan Agama masih sangat terbatas. Setelah Indonesia merdeka, jumlah Pengadilan Agama bertambah terus, baik di wilayah Jawa maupun di pulau lainnya. Mengenai wewenang, lembaga peradilan agama di masa penjajahan memiliki kewenangan yang hampir sama dengan saat ini. Yang membedakan hanyalah lembaga peradilan agama di luar Jawa dan Madura semasa penjajahan Belanda mempunyai wewenang yang lebih luas. Namun, sekarang hal itu disesuaikan dengan wewenang yang ada di Jawa dan Madura, karena Jawa dan Madura dijadikan sebagai contoh untuk Pengadilan Agama lainnya. Pada masa pendudukan Jepang, keberadaan lembaga peradilan agama tidak mengalami perubahan, kecuali namanya diubah jce dalam bahasa Jepang, yaitu Sooryo Hooin. Sementara dari sisi aturan perundangan, undang-undang yang mengatur peradilan agama pada masa Pemerintahan Jepang sama dengan perundang-undangan di masa Pemerintahan Belanda. Paska Kemerdekaan Setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 5 tanggal 25 Maret 1946 yang mengubah kedudukan Pengadilan Agama, yang semula di bawah Departemen Kehakiman, menjadi berada di bawah Departemen Agama. Kemudian, pada 1957 pemerintah mengeluarkan PP No 45 untuk mengatur Pengadilan Agama selain Jawa dan Madura, serta Kalimantan Timur dan Selatan. Dengan adanya PP ini, maka untuk wilayah selain Jawa dan Madura serta Kalimantan Timur dan Selatan digunakan nama Mahkamah Syariah untuk tingkat pertama dan Mahkamah Syariah Propinsi untuk tingkat banding. Di masa Orde Baru, keberadaan lembaga peradilan agama diperkuat dengan keluarnya Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 1970, yang membagi kekuasaan kehakiman, yakni Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer, dan Peradilan Tata Usaha Negara. Kemudian, peradilan agama lebih diperkuat lagi dengan keluarnya Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1/1977 tentang Kasasi bagi putusan Pengadilan Agama. Penyeragaman istilah untuk seluruh Indonesia baru dilakukan setelah keluarnya Surat Keputusan (SK) Menteri Agama Nomor 6 Tahun 1980, yaitu Pengadilan Agama untuk pengadilan tingkat pertama dan Pengadilan Tinggi Agama untuk tingkat banding. Pada 29 Desember 1989, Presiden Republik Indonesia mengesahkan UU Nomor 7 Tahun 1989

tentang Peradilan Agama yang dimuat dalam Lembaran Negara RI Nomor 49 Tahun 1989 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 3400. ed syafruddin Entitas terkaitAmangkurat | Belanda | Departemen | Indonesia | Islam | Islm | Jawa | Kasasi | Keberadaan | Kendati | Kerajaan | Ketentuan | Legal | Madura | Mataram | Mengenai | Ngampel | Orde | Pemerintahan | Pengadilan | Penggantian | Penyebaran | Penyeragaman | Peradilan | PP | Priesterraad | Sistem | Sooryo | Staatsblad | Stbl | Tidore | Aceh Utara | Amangkurat I | Islamic Courts | Kalimantan Selatan | Kalimantan Timur | Kerajaan Mataram | Kerapatan Qodhi | Mahkamah Syariah | Muchtar Zarkasyi | Nidla Zuraya | Paska Kemerdekaan | Pemerintahan Jepang | Pengadilan Agama | Peradilan Agama | Peradilan Padu | Peradilan Serambi | Peraturan Pemerintah | PP No | Setelah Indonesia | Sultan Agung | Surat Keputusan | Timur Indonesia | UU Nomor | Daniel S Lev | Indonesia A Study | Kerajaan Islam Pasai | Kerapatan Qodhi Besar | Mahkamah Syariah Propinsi | Mahkamah Tinggi Islam | Menteri Agama Nomor | Pengadilan Tinggi Agama | Peradilan Tata Usaha | Presiden Republik Indonesia | Sejarah Peradilan Agama | Sistem Peradilan Pradata | The Political Bases | Lembaran Negara RI Nomor | Peraturan Mahkamah Agung Nomor | Tambahan Lembaran Negara Nomor | Ringkasan Artikel Ini Sejarah Peradilan Agama di Indonesia. Muchtar Zarkasyi dalam artikelnya tentang Sejarah Peradilan Agama di Indonesia menjelaskan, hukum Islm telah dipakai oleh masyarakat Indonesia, sebelum Belanda melancarkan politik hukumnya di Indonesia.Ia menjelaskan, hukum Islam sebagai hukum yang berdiri sendiri telah mempunyai kedudukan yang kuat, baik di masyarakat maupun dalam peraturan perundang-undangan negara. Sistem Peradilan Pradata dan Peradilan Padu yang telah dikenal jauh sebelum Islam datang dihapus untuk kemudian digantikan dengan sistem Peradilan Serambi yang berasaskan Islam. Sidang-sidang peradilan agama pada masa itu biasanya berlangsung di serambi masjid, sehingga lembaga peradilan agama sering pula disebut Pengadilan Serambi. Yang membedakan hanyalah lembaga peradilan agama di luar Jawa dan Madura semasa penjajahan Belanda mempunyai wewenang yang lebih luas. Paska Kemerdekaan Setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 5 tanggal 25 Maret 1946 yang mengubah kedudukan Pengadilan Agama, yang semula di bawah Departemen Kehakiman, menjadi berada di bawah Departemen Agama. Di masa Orde Baru, keberadaan lembaga peradilan agama diperkuat dengan keluarnya Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 1970, yang membagi kekuasaan kehakiman, yakni Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer, dan Peradilan Tata Usaha Negara. Penyeragaman istilah untuk seluruh Indonesia baru dilakukan setelah keluarnya Surat Keputusan (SK) Menteri Agama Nomor 6 Tahun 1980, yaitu Pengadilan Agama untuk pengadilan tingkat pertama dan Pengadilan Tinggi Agama untuk tingkat banding.