Anda di halaman 1dari 14

Dosen Pengampu Dr.

Hendang Tanusdjaja, CPA

Mata Kuliah Pelaporan Akuntansi keuangan

PT. PERUSAHAAN GAS NEGARA

Oleh: Kelompok II
y y y y y y y ARRIDHO ABDUH ADRIYANTI A PUTRI HERI R YULIANTORO HENDRA MIZKAN SITI SAMSIAH SUSAN ESARI THOMAS HUTAHAEAN

MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2011

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................ ................................ ................................ ................................ ..... 2

I.

OVERVIEW KASUS ................................ ................................ .. Error! Bookmark not defined.

II. ISU-ISU POKOK ................................ ................................ ................................ ........................ 5 III. LANDASAN TEORI ................................ ................................ ................................ .................. 7 IV. PEMBAHASAN ................................ ................................ ................................ ....................... 10 V. KESIMPULAN ................................ ................................ ................................ ......................... 12 DAFTAR PUSTAKA ................................ ................................ ................................ ...................... 13

I. OVERVIEW KASUS

Profil Perusahaan

PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau sering disebut PGN merupakan sebuah perusahaan milik negara yang dirintis sejak tahun 1859 dengan nama Firma LJN Einthoven & Co. Gravenhage. Kemudian, pada tahun 1863, oleh Pemerintah Belanda, perusahaan tersebut diberi nama NV Netherland Indische Gaz Maatschapij (NV NIGM). Pada tahun 1958, Pemerintah Republik Indonesia mengambil alih kepemilikan Firma tersebut dan merubah namanya menjadi Badan Pengambil Alih Perusahaan-perusahaan Listrik dan Gas (BP3LG). Seiring dengan perkembangan Pemerintahan Indonesia. Pada tahun 1961 status perusahaan itu beralih menjadi BPU-PLN. Pada tanggal 13 Mei 1965, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19/1965, Perusahaan ditetapkan sebagai perusahaan negara dan dikenal sebagai Perusahaan Negara Gas (PN Gas). Kemudian, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1984, PN Gas diubah menjadi perusahaan umum (Perum) dengan nama Perusahaan Umum Gas Negara. Setelah itu, status perusahaan diubah dari Perum menjadi Perseroan Terbatas yang dimiliki oleh negara sehingga namanya berubah menjadi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 1994 dan Akta Pendirian Perusahaan No. 486 tanggal 30 Mei 1996 yang diaktakan oleh notaris Adam Kasdarmaji, S.H. Sejak saat itu, nama resmi Perseroan menjadi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Saham perusahaan telah dicatatkan di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tanggal 15 Desember 2003 dengan kode transaksi perdagangan PGAS.

Visi Menjadi perusahaan publik terkemuka di bidang penyedia energi gas bumi

Misi Meningkatkan pemanfaatan gas bumi bagi kepentingan industri, komersial dan rumah tangga melalui jaringan pipa transmisi, moda transportasi lain, jaringan pipa distribusi dan kegiatan niaga serta usaha lain yang mendukung pemanfaatan gas bumi. Bidang Usaha Bidang usaha utama Perseroan adalah distribusi gas bumi ke pelanggan industri, komersial dan rumah tangga dan transmisi gas bumi. Untuk mencapai target pengelolaan gas, Perseroan membagi wilayah usaha menjadi Strategic Business Unit (SBU) Distribusi dan SBU Transmisi, yaitu:

1. SBU Distribusi Wilayah I, Jawa Bagian Barat SBU Distribusi Wilayah I yang mencakup Wilayah Jawa Bagian Barat sampai dengan Sumatera Selatan, memiliki 7 (tujuh) Distrik dan 1 (satu) Rayon, yaitu: Distrik Jakarta, Banten, Bekasi, Karawang, Bogor, Cirebon, dan Palembang, serta Rayon Bandung. 2. SBU Distribusi Wilayah II, Jawa Bagian Timur SBU Distribusi Wilayah II yang mencakup Wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Makassar memiliki 4 (empat) Distrik dan 1 (satu) Rayon, yaitu: Distrik Surabaya-Gresik, Sidoarjo-Mojokerto, PasuruanProbolinggo, Semarang serta Rayon Makassar. 3. SBU Distribusi Wilayah III, Sumatera Bagian Utara SBU Distribusi Wilayah III yang mencakup Wilayah Sumatera Utara, Kepulauan Riau dan Riau memiliki 3 (tiga) Distrik yaitu Distrik Medan, Batam dan Pekanbaru. 4. SBU Transmisi Sumatera-Jawa SBU Transmisi Sumatera-Jawa yang mencakup Wilayah Sumatera dan Jawa. Saham Perusahaan Gas Negara Saat ini pemerintah hanya menguasai 57 persen saham PGN sedangkan 43 persen sisanya dikuasai oleh publik. Pada pertengahan Januari 2007, informasi keterlambatan komersialisasi gas via pipa transmisi SSWJ dari manajemen PGN menjadi penyebab utama anjloknya harga saham BUMN itu hingga sebesar 23% dalam satu hari. Sentimen negatif di pasar modal itu berkaitan dengan kecurigaan bahwa PGN dan pemerintah menutup-nutupi keterlambatan proyek tersebut yang harusnya sudah operasi pada Desember 2006, tapi tertunda hingga

Januari 2007 dan tertunda lagi hingga Maret. Akibatnya PGN dikenakan denda oleh Pertamina sebesar US$ 15.000 per hari sejak 1 November 2006 II. ISU POKOK KASUS KOMERSIALISASI GAS PT. Perusahaan Gas Negara adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi dan eksploitasi Gas Bumi. Dengan demikian kegiatan ini harus diinformasikan ke dalam prospektusnya. Salah satu yang dijelaskan dalam prospektusnya adalah rencana proyek penyaluran gas dari Sumatera menuju Jawa yang dikenal dengan proyek South Sumatera West Java (SSWJ). Dalam prospektusnya menginformasikan adanya proyek SSWJ I dan II (pemetaan Sumetera-Cilegon-Bekasi) yang rencananya akan selesai pada bulan Desember 2006. Proyek South Sumatera West Java (SSWJ) adalah proyek pipanisasi gas, dari lapangan gas Pagardewa (Sumatera Selatan) menuju Banjarnegara (Cilegon) sepanjang 337 Km, terbagi atas pipa darat (onshore) sepanjang 272 Km dan pipa bawah laut (offshore) sepanjang 105 Km. Proyek ini diharapkan akan selesai paling lambat pada akhir Maret 2007. Namun, pada pertengahan Januari 2007, informasi keterlambatan komersialisasi gas via pipa transmisi SSWJ dari manajemen PGN menjadi penyebab utama anjloknya harga saham BUMN itu hingga sebesar 23% dalam satu hari. Sentimen negatif di pasar modal itu berkaitan dengan kecurigaan bahwa PGN dan pemerintah menutup-nutupi keterlambatan proyek tersebut yang harusnya sudah operasi pada Desember 2006, tapi tertunda hingga Januari 2007 dan tertunda lagi hingga Maret 2007. Akibatnya PGN dikenakan denda oleh Pertamina sebesar US$ 15.000 per hari sejak 1 November 2006. Pasalnya Pertamina dan PGN telah meneken perjanjian take or pay, dimana keterlambatan proyek yang bisa berakibat pada keterlambatan pasokan gas dari Pertamina harus dikompensasikan dalam bentuk denda sebesar 15 ribu dolar AS per hari. Denda itu dihitung selama empat bulan dari November 2006 hingga Februari 2007, hingga mencapai angka sebesar 1,8 juta dolar. Sutikno dalam penjelasannya mengatakan denda tersebut tak bakal mengganggu performa finansial PGN. Keterlambatan Manajemen PT. PGN menyampaikan informasi komersialisasi gas proyek SSWJ berdampak kepada penurunan nilai saham-saham BUMN lainnya yang notabenenya merupakan saham terbesar di pasar bursa. Harga saham PGAS turun sebagai dampak siaran pers manajemen PGN pada 11 Januari 2007. Siaran pers menyatakan terjadi koreksi volume gas dari 150 MMSCFD menjadi
5

30 MMSFCD. Dinyatakan pula, penundaan gas in (dalam rangka komersialisasi) yang semula akhir Desember 2006 menjadi Maret 2007. Bapepam menilai manajemen PGN sudah tahu informasi penurunan volume sejak 12 September 2006. Sedangkan penundaan gas in i sejak 18 Desember 2006. "Kedua informasi itu termasuk informasi material yang dapat memengaruhi harga saham di bursa.

KASUS INSIDER TRADING PADA PGN Dalam Pasal 86 ayat (2) UU No. 5 tahun 1995 tentang Pasar Modal disebutkan bahwa perusahaan publik menyampaikan laporan kepada Bapepam dan mengumumkan kepada masyarakat tentang peristiwa material yang dapat mempengaruhi harga efek selambatlambatnya pada akhir hari kerja ke-2 (kedua) setelah terjadinya peristiwa tersebut Ada beberapa hal yang seringkali dilarang dalam hal keterbukaan informasi, di antaranya sebagai berikut: 1. Memberikan informasi yang salah sama sekali. 2. Memberikan informasi yang setengah benar. 3. Memberikan informasi yang tidak lengkap 4. Sama sekali diam terhadap fakta/informasi material. Pada kenyataannya PT. Gas Negara terlambat melaporkan fakta atas penundaan proyek pipanisasi yang dilakukan oleh PT PGN. Dalam hal ini keterlambatan pelaporan keterbukaan informasi sebanyak 35 hari. Mengenai informasi penurunan volume gas dan informasi tertundanya gas in Dikategorikan sebagai fakta material dalam Peraturan Nomor X.K.1. Sehingga telah jelas, bahwa PT. Gas Negara melanggar pasal 86 ayat (2) UU No. 5/1995 jo. Peraturan Nomor X.K.1. dengan pelanggaran ini PT. PGN dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar Rp. 35 juta .

III.

LANDASAN TEORI

1. UU No 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal Dalam Undang-undang Pasar Modal yang dimaksud dengan Prinsip keterbukaan adalah pedoman umum yang mensyaratkan Emiten, Perusahaan Publik, dan Pihak lain yang tunduk pada undang-undang ini untuk menginformasikan kepada masyarakat dalam waktu yang tepat seluruh informasi material mengenai usahanya atau efeknya yang dapat berpengaruh terhadap keputusan pemodal terhadap Efek dimaksud dan atau harga dari efek tersebut (Pasal 1 Butir 25). Ketentuan prinsip full disclosure dalam Undang-undang Republik Indonesia Tentang Pasar Modal diatur dalam Pasal 90, yang menyebutkan sebagai berikut: Dalam kegiatan perdagangan Efek, setiap pihak dilarang secara langsung atau tidak langsung:

a) Menipu atau mengelabui Pihak Lain dengan menggunakan sarana dan atau cara apapun b) Turut serta menipu atau mengelabui Pihak lain c) Membuat pernyataan tidak benar mengenai fakta yang material atau tidak mengungkapkan fakta yang material agar pernyataan yang dibuat tidak menyesatkan mengenai keadaan yang terjadi pada saat pernyataan dibuat dengan maksud untuk menguntungkan atau menghindarkan kerugian untuk diri sendiri atau pihak lain atau dengan tujuan mempengaruhi pihak lain atau dengan tujuan mempengaruhi Pihak lain untuk membeli atau menjual efek. Pasal 93 menyebutkan: Setiap Pihak dilarang, dengan cara apa pun, membuat pernyataan atau memberikan keterangan yang secara material tidak benar atau menyesatkan sehingga mempengaruhi harga Efek di Bursa Efek apabila pada saat pernyataan dibuat atau keterangan diberikan: a. Pihak yang bersangkutan mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa pernyataan atau keterangan tersebut secara material tidak benar atau menyesatkan; atau b. Pihak yang bersangkutan tidak cukup berhati-hati dalam menentukan kebenaran material dari pernyataan atau keterangan tersebut.

Sedangkan ketentuan tentang Perdagangan Orang Dalam diatur dalam Pasal 95 dan 96 Undang-undang Republik Indonesia Tentang Pasar Modal. Pasal 95, menyebutkan:Orang
7

dalam dari Emiten atau Perusahaan Publik yang mempunyai informasi orang dilarang melakukan pembelian atau penjualan atas Efek: a. Emiten atau Perusahaan Publik dimaksud; atau b. Perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan Emiten atau Perusahaan Publik yang bersangkutan. Pasal 96, menyebutkan:Orang dalam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dilarang: a. Mempengaruhi Pihak lain untuk melakukan pembelian atau penjualan atas Efek dimaksud; atau b. Memberi informasi orang dalam kepada Pihak mana pun yang patut diduganya dapat mempergunakan informasi dimaksud untuk melakukan pembelian atau penjualan atas Efek. Pasal 1 butir 7 UUPM menetapkan, bahwa Informasi atau Fakta Materiel adalah informasi atau fakta penting dan relevan mengenai peristiwa, kejadian, atau fakta yang dapat mempengaruhi harga Efek pada Bursa Efek dan keputusan pemodal, calon pemodal, atau Pihak lain yang berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut. Dalam Keputusan Bapepam No. Kep-86/PM/1996 Tentang Keterbukaan Informasi yang Harus Segera Diumumkan Kepada Publik (Peraturan Nomor X.K.1). Antara lain ditentukan bahwa apabila terjadi kejadian atau fakta material, maka haruslah melaporkan kepada Bapepam, dan mengumumkannya kepada masyarakat selambat-lambatnya pada hari kerja ke dua setelah kejadian tersebut.

2. Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Dan Lembaga Keuangan Nomor: Kep-413/Bl/2009 Tentang Transaksi Material Dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama Transaksi Material adalah setiap: a. Pembelian saham termasuk dalam rangka pengambilalihan; b. Penjualan saham; c. Penyertaan dalam badan usaha, proyek, dan/atau kegiatan usaha tertentu; d. Pembelian, penjualan, pengalihan, tukar menukar atas segmen usaha atau aset selain saham; e. Sewa menyewa aset; f. Pinjam meminjam dana; g. Menjaminkan aset; dan/atau h. Memberikan jaminan perusahaan, Nilai Transaksi Material dihitung berdasarkan laporan keuangan sebagai berikut: a. laporan keuangan tahunan yang diaudit; b. laporan keuangan tengah tahunan yang disertai laporan Akuntan dalam rangka penelaahan terbatas paling kurang untuk akun ekuitas; atau c. laporan keuangan interim yang diaudit selain laporan keuangan interim tengah tahunan, dalam hal Perusahaan mempunyai laporan keuangan interim

3. IAS 34. Laporan Keuangan Interim Laporan keuangan interim adalah Laporan keuangan yang berisi seperangkat laporan keuangan lengkap atau kondensasian untuk perioda interim Materialitas akan dinilai atas hubungannya dengan data keuangan perioda interim dengan tujuan utama untuk memasukkan semua informasi yang berpaut dengan posisi keuangan dan kinerja entitas selama perioda tersebut. Harus dipahami bahwa untuk menilai materialitas, pengukuran interim akan bergantung pada penggunaan estimasi yang lebih banyak daripada pengukuran data keuangan tahunan. 4. PSAK 5 (SEGMEN OPERASI) Segmen operasi adalah suatu komponen dari entitas:  Yang terlibat dalam aktivitas bisnis yang mana memperoleh pendapatan dan menimbulkan beban (termasuk pendapatan dan beban terkait dengan transaksi dengan komponen lain dari entitas yang sama);  Hasil operasinya dikaji secara reguler oleh pengambil keputusan operasional untuk membuat keputusan tentang sumber daya yang dialokasikan pada segmen tersebut dan menilai kinerjanya; dan  Tersedia informasi keuangan yang dapat dipisahkan. Prinsip Utama Entitas mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi sifat dan dampak keuangan dari aktivitas bisnis yang mana entitas terlibat dan lingkungan ekonomi dimana entitas beroperasi. Entitas mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi sifat dan dampak keuangan dari aktivitas bisnis yang mana entitas terlibat dan lingkungan ekonomi dimana entitas beroperasi

Pengungkapan Entitas mengungkapkan informasi untuk memungkinkan para pengguna laporan keuangan mengevaluasi sifat dan dampak keuangan atas aktivitas bisnis yang mana entitas terlibat dan lingkungan ekonomi dimana entitas beroperasi .

5. Penelitian terkait dengan pengungkapan informasi Penelitian Ge dan McVay (2005) :Pengungkapan informasi material berhubungan positif dengan kompleksitas bisnis suatu perusahaan (misalnya , multi segmen, dan

penggunaan kurs mata uang asing).

Dalam penelitiannya,

Wisadha (2007) megungkapkan bahwa para manajer

perusahaan merupakan pihak yang dianggap sebagai superior informasi atau memiliki informasi yang lebih dapat membuat pelaporan keuangan perusahaan berpotensi lebih informatif untuk disampaikan kepada investor-investor sebagai pihak luar perusahaan.

Fuad (2006), dalam penelitiannya mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan informasi adalah ukuran perusahaan, auditor, dan pengungkapan informasi satu tahun sebelumnya.

10

IV.

PEMBAHASAN Dalam kasus Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagaimana tersebut diatas, yang

mengatakan pipa gas dari Sumatera Selatan ke Jawa Barat akan tersambung Desember 2006, ternyata tidak selesai sampai Januari 2007. Anehnya, dengan aturan yang sudah jelas saja, Bapepam hanya mengacu pada peraturan Bapepam tentang keterbukaan informasi. Padahal, seharusnya Bapepam harus mengacu pada pasal 93 UU No 8/1995. Itu sudah jelas penipuan. Ini yang menjadi pertanyaan. Investor akan menilai, bahwa PGN yang menipu informasi, hanya dikenakan sanksi administrasi dan denda. Padahal, mencermati kasusnya, sebenarnya bukan peraturan Bapepam yang dilanggar, tetapi pasal 93 UU No 8/1995 tentang penipuan informasi. Sebab, PGN telah berjanji menyelesaikan pembangunan pipa gas itu lewat prospektusnya.

Pada tanggal 14 Januari 2007, Perseroan mengeluarkan press release yang menyatakan bahwa terjadi keterlambatan dalam penyelesaian pembangunan pipa transmisi gas bumi SSWJ yang disebabkan oleh: 1. Permasalahan sosial dalam proses pembebasan lahan bagi jalur pipa sepanjang lebih dari 400 km termasuk kegiatan perizinan. 2. Permasalahan cuaca yang mempersulit proses pemasangan pipa di rawa-rawa dengan sistem push pull dan hydrostatic test. Tingginya curah hujan dan banjir juga menyulitkan pelaksanaan hydrotest dan mobilitas. 3. Permasalahan teknis, diantaranya terkait dengan rangkaian pelaksanaan hydrostatic test demi memperoleh pipa dengan kualitas terbaik.

Pada tanggal 19 Desember 2007 Bapepam LK mengeluarkan Putusan Nomor S-230/ BL/S.2/2007 sampai dengan Putusan Nomor S-238/BL/S.2/2007 yang memberikan sanksi administratif berupa denda kepada 9 orang pejabat Perseroan yang dianggap mengetahui informasi orang dalam (insider trading) dan melakukan transaksi jual saham PGAS. Sanksi tersebut ditanggung secara pribadi oleh masing-masing yang bersangkutan dan telah dilaksanakan pembayarannya dalam tenggat waktu yang ditentukan. Perkara tersebut muncul karena menurut Bapepa LK, pada periode 12 September 2006 11 Januari 2007, terdapat informasi material tentang keterlambatan proyek, namun belum disampaikan kepada publik dan pada saat yang sama, ada yang melakukan transaksi jual saham.
11

Dalam UU No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal juga dijelaskan tentang prinsip keterbukaan ini. Dalam pasal 1 angka 25 disebutkan bahwa Prinsip Keterbukaan adalah pedoman umum yang mensyaratkan emiten, perusahaan publik, dan pihak lain yang tunduk pada undang-undang ini untuk menginformasikan kepada masyarakat dalam waktu yang tepat seluruh informasi material mengenai usahanya atau efeknya yang dapat berpengaruh terhadap keputusan pemodal terhadap efek dimaksud dan atau harga dari efek tersebut. Sedangkan yang dimaksud dengan informasi atau fakta material adalah informasi atau fakta penting dan relevan mengenai peristiwa, kejadian, atau fakta yang dapat mempengaruhi harga efek pada bursa efek dan atau keputusan pemodal, calon pemodal, atau pihak lain yang berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut . Dalam kasus insider trading PT. PGN yakni memberikan keterangan material tidak benar tentang rencana volume gas yang dapat dialirkan melalui proyek SSWJ (South Sumatera-West Java) . Fakta itu sudah diketahui atau sewajarnya diketahui oleh direksi, yang kemudian seharusnya keterangan itu disampaikan kepada publik, namun tidak disampaikan. Sehingga jelas terjadi bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap pasal 93 UU No. 8/1995 dan diancam dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp. 15 milyar . Oleh karena itu, sudah sepatutnya dan sewajarnya Bapepam-LK menjatuhkan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp. 5 miliar kepada Direksi PT PGN yang menjabat pada periode bulan Juli 2006 s.d. Maret 2007 yaitu Sutikno, Adil Abas, Djoko Pramono, WMP Simanjuntak dan Nursubagjo Prijono. Dalam pasal 95 UU No. 8/1995 tentang Pasar Modal menerangkan bahwa orang dalam dari perusahaan publik yang mempunyai informasi orang dalam dilarang melakukan transaksi atas Efek Emiten atau Perusahaan Publik dimaksud. Penjelasan pasal 95 memberi arti kepada orang dalam sebagai pihak-pihak yang tergolong dalam: 1. Komisaris, Direktur, atau pengawas perusahaan terbuka 2. Pemegang saham utama perusahan terbuka 3. Orang yang karena kedudukannya, profesinya atau karena hubungan usahanya dengan perusahaan terbuka memungkinkan memperoleh informasi orang dalam. Dengan kedudukan disini dimaksudkan sebagai lembaga, institusi atau badan pemerintahan. Sementara yang merupakan hubungan usaha adalah hubungan kerja atau kemitraan dalam kegiatan usahanya, seperti, nasabah, pemasok, kontraktor, pelanggan, kreditur, dan lain-lain
12

4. Pihak yang tidak lagi menjadi pihak sebagaimana tersebut dalam point 1,2,3 tersebut sebelum lewat jangka waktu 6 bulan

V.

KESIMPULAN 1. PT. Gas Negara melanggar pasal 86 ayat (2) UU No. 5/1995 jo. Peraturan Nomor X.K.1. karena terlambat melaporkan fakta atas penundaan proyek pipanisasi yang dilakukan oleh PT PGN. Dalam hal ini keterlambatan pelaporan keterbukaan informasi sebanyak 35 hari. Mengenai informasi penurunan volume gas dan informasi tertundanya gas in dikategorikan sebagai fakta material dalam Peraturan Nomor X.K.1. 2. Mengenai pemberian keterangan yang secara material tidak benar tentang rencana volume gas yang dapat dialirkan melalui proyek SSWJ (South Sumatera-West Java) jelas bahwa PT PGN melakukan pelanggaran terhadap pasal 93 UU No. 8/1995 . Oleh karena itu, sudah sepatutnya dan sewajarnya Bapepam -LK menjatuhkan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp. 5 miliar kepada Direksi PT PGN yang menjabat pada periode bulan Juli 2006 s.d. Maret 2007. 3. Terkait dengan keterlibatan orang dalam PT. PGN dalam kasus ini maka telah jelas bahwa orang dalam PT. PGN ini melanggar pasal 95 UU No. 8/1995 tentang Pasar Modal yang menerangkan bahwa orang dalam dari perusahaan publik yang mempunyai informasi orang dalam dilarang melakukan transaksi atas Efek Emiten atau Perusahaan Publik dimaksud hal ini diperjelas dalam penjelasan pasal 95.

13

Daftar Pustaka

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

Annual Report Perusahaan Gas Negara Tahun 2007 http://www.pgn.co.id/ir_ar.php UU No 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Dan Lembaga Keuangan Nomor: Kep413/Bl/2009 Tentang Transaksi Material Dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama PSAK 5 Tentang Segmen Operasi Fuad, Muhammad. 2006. Uji empiris faktor-faktor yang mempengaruhi disclosure perusahaan manufaktur di BEJ. Akuntanbilitas, September 2006. Hal 80-87 Ge, Weili and McVay, Sarah. 2005. The Disclosure of Material Weaknesses in Internal Control after the Sarbanes-Oxley Act. Accounting Horizons Vol. 19, No. 3 September 2005 pp. 137158 Wisadha, I.G. Suparta. 2007. Pengaruh Pengumuman Strategi Pengungkapan Informasi Emiten Pada Return Saham Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Akuntansi Universitas Udayana.

14