Anda di halaman 1dari 25

22

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN



4.1 Perhitungan Perancangan Poros
Putaran mesin diperoleh dari data spesifikasi kendaraan Toyota kijang
5K yaitu sebesar 8500 rpm dan daya yang dihasilkan sebesar 8,45 kW. Poros
yang dikenakan beban puntir dan beban lentur sekaligus, maka pada
permukaan poros akan terjadi tegangan geser karena momen puntir dan
tegangan lentur karena momen lengkung, maka daya rencana poros dapat
ditentukan denan rumus:

Sulaiso
Dimana
Pd = daya rencana (kW)
fc = faktor koreksi
P = daya nominal motor penggerak (kW)





Jika momen puntir (disebut juga momen rencana) adalah T
(kg.mm) maka:

1
5
1
10 74 , 9
102
60 / 2 1000 /
n
P
x T
sehingga
n T
P
d
d
!
!
T




(Sularso, 1994: 7)



23

Bila momen rencana T (kg.mm) dibebankan pada suatu diameter
poros d (mm), maka tegangan geser (kg.mm
2
) yang terjadi adalah:

3 3
1 , 5
16 / d
T
d
T
! !
T
X


Karena terdapat beban pada poros, maka diperoleh:

(+) F
C A B
(-) a

b


40 60

MA = 0










MB = 0




Harga-harga momen lentur horizontal dan vertical





(Sularso, 1994: 7)



24

Momen lentur gabungan:






Meskipun dalam perkiraan sementara ditetapkan bahwa beban
hanya terdiri atas momen puntir saja, perlu ditinjau pula apakah ada
kemungkinan pemakaian dengan beban lentur dimasa mendatang. Jika
memang diperkirakan akan terjadi pemakaian dengan beban lentur maka
dapat dipertimbangkan pemakaian faktor Cb yang harganya antara 1,2-
2,3.(jika tidak diperkirakan akan terjadi pembebanan lentur maka Cb
diambil = 1,0).
Dari persamaan diatas diperoleh rumus untuk menghitung diameter
poros:

Sulaiso

Tabel 4.1 Baja karbon untuk konstruksi mesin dan baja batang yang difinis
dingin untuk poros.
Standar dan
Macam
Lambang
Perlakuan
Panas
Kekuatan
Tarik
(kg/mm
2
)
Keterangan
Baja karbon kons-
truksi mesin
(JIS G 4501)
S30C
S35C
S40C
S45C
S50C
S55C
Penormalan
Penormalan
Penormalan
Penormalan
Penormalan
Penormalan
48
52
55
58
62
66

Batang baja yang
difinis dingin
S35C-D
S45C-D
S55C-D
-
-
-
53
60
72
Ditarik dingin,
digerinda,
dibubut, atau
gabungan antara
hal-hal tersebut.
(Sumber: Sularso, 1994: 8)



25

Tabel 4.2 Faktor keamanan
Nilai koreksi Keterangan
Sf1
5,6
6,0
Dipakai untuk bahan SF
Dipakai untuk bahan SC
Sf2 1,3 3,0 Mengantisipasi pengaruh pasak
(Sularso, 1994: 8)

ana tegangan lentui yang nkan


Tabel 4.3 Faktor koreksi untuk momen puntir (Kt) dan
pembebanan lentur (Km)
Nilai koreksi Keterangan
Kt
0,1 1,0
1,0 1,5
1,5 3,0
Jika bahan yang dikenakan lentur,
Jika terjadi kejutan dan tumbukan sedang
Jika terjadi kejutan dan tumbukan besar
Km
1,0
1,2 2,3
Tidak ada beban lentur
Ada beban lentur

maka:







26

Konsentrasi tegangan dialur pasak adalah lebih besar dari pada
tangga poros. Dapat dilihat dari tabel berikut ini:
Tabel 4.4 Ukuran-ukuran utama














(Sumber: Sularso, 1994: 10)

Didapat:
ai ai let
Dilihat pada gambar 2.5 faktor konsentrasi tegangan .

Sulaiso





27


Gambar. 4.1 Faktor konsentrasi tegangan

Faktor konsentrasi = 0,005 diperoleh = 2,8
Maka tegangan geser yang diperoleh:

Sulaiso




Jika dibandingkan dengan

dengan

adalah
berarti

sesuai dengan landasan


teori maka poros dengan diameter 19 mm dapat digunakan dengan
aman.

Perhitungan defleksi puntiran


Sulaiso



28

Dimana G untuk baja = 8,3 x 10
3
kg/mm
2

Untuk poros yang dipasang pada mesin, pada umumnya dalam
kondisi normal dan besarnya lebih kecil dari defleksi puntiran yang
diizinkan berkisar 0,25
0
-0,3
0

aka



Karena (0,023
0
< 0,25
0
) maka poros aman digunakan, maka dipilih
diameter poros ds = 19 mm.
Tabel 4.5 Diameter poros

















(Sumber, Sularso, 1994: 9)



29

4.2 Bantalan
Pada perencanaan mesin ini digunakan bantalan gelinding yang
memakai bantalan peluru (bola) baris tunggal, yaitu suatu bantalan peluru
yang terdiri dari dua buah cincin jalan (cincin dalam dan cincin luar), terdapat
diantaranya peluru dan sangkarnya.
Bahan bantalan adalah umumnya cincin dan elemen gelinding dibuat
dari baja karbon tinggi. Baja bantalan ini dapat memberikan efek stabil pada
perlakuan panas dan memberikan umur panjang serta keausan singkat.
Pada perancangan ini digunakan bantalan gelinding dengan data-data
sebagai berikut (spesifikasi ini dapat dilihat pada, tabel berikut ini)
Tabel 4.6 Data spesifikasi bantalan

(Sumber: Sularso, 1994: 143)



30

Dikarenakan dalam tabel tidak ada harga untuk diameter 19, maka
penulis mengambil d = 20 mm.
- Nomor bantalan : 6004
- Diameter lubang (d) : 20 mm
- Diameter luar (D) : 42 mm
- Lebar bantalan (B) : 12 mm
- Radius ( r ) : 1
- Kapasitas nominal dinamis spesifik (c) : 735
- Kapasitas nominal statis spesifik

: 465

y Beban ekivalen dinamis

Sulaiso
Gaya radial yang timbul adalah gaya yang terbesar yaitu gaya akibat
berat puli yaitu

total sebesar = 25 (kg). Sedangkan untuk gaya


aksial yang timbul akibat pembebanan dianggap tidak ada. Faktor
yang mempengaruhi perhitungan beban ekivalen dinamis dapat dilihat
pada tabel Faktor-faktor V,X,Y dan Xo,Yo.
(Sumber: Sularso, 1994: 135)

Dari tabel didapat :
V = 1 X = 1 Y = 0 Xo = 0,6 Yo = 0,5



31

Maka:




y Faktor kecepatan bantalan


(Sularso, 1994: 136)
y Faktor Umur


(Sularso, 1994: 136)
y Umur bantalan

(Sularso, 1994: 136)





4.3 Puli dan Sabuk
Data yang diperoleh dari spesifikasi toyota kijang 5K yaitu:
- Daya = 8,45 (kW)
- Putaran mesin = 8500 (rpm)
Untuk mengurangi kesalahan dalam perancangan maka ditemukan
faktor koreksi fc dimana dalam menentukan faktor koreksi ini harus
diperhatikan jam kerja atau pemakaian mesin tersebut dalam sehari yang
dapat dilihat pada table 4.1 di bawah ini.










32

Tabel 4.5 Faktor koreksi















(Sumber: Sularso, 1994: 165)

Pada perancangan ini diambil jam kerja 8-10 jam dengan variasi
beban sedang, maka faktor koreksi yang diambil adalah fc = 1,4. Dari data
tersebut maka dapat dihitung daya rencana sebagai berikut :

Sulaiso


y Momen punter rencana,
Pada poros penggerak

= 8500 rpm

Sulaiso






33

Pada poros yang digerakan

= 1400 (rpm)




y Tegangan geser yang terjadi
Bahan poros yang digunkan adalah S40C dengan kekuatan tarik 55
kg/mm
2
.
Tabel 4.2 Baja karbon untuk kontruksi mesin dan baja batang
yang ditarik dingin untuk poros
Standar dan macam Lambang
Perlakuan
panas
Kekuatan
tarik(kg/mm
2
)
Keterangan
Baja karbon
konstruksi mesin
(JIS G 4501)
S30C
S35C
S40C
S45C
S50C
S55C
Penormalan





48
52
55
58
62
66

Batang baja yang
difinis dingin
S35C-D
S45C-D
S55C-D
-
-
-
53
60
72
Ditarik dingin,
digerinda,
dibubut,
atau gabungan
antara hal-hal
tersebut
(Sumber: Sularso,1994: 3)

= faktor kelelahan = 6 untuk bahan S-C

= faktor konsentrasi tegangan = 3



Maka:

Sulaiso










34

y Diameter poros rencana

Sulaiso

Tabel 4.3 Faktor koreksi untuk momen puntir (Kt) dan
pembebanan lentur (Cb)
Nilai koreksi Keterangan
Kt
0,1 1,0
1,0 1,5
1,5 3,0
Jika bahan yang dikenakan lentur,
Jika terjadi kejutan dan tumbukan sedang
Jika terjadi kejutan dan tumbukan besar
Cb
1,0
1,2 2,3
Tidak ada beban lentur
Ada beban lentur
(Sumber; Sularso,194: 8)

Kt = faktor koreksi = 1,5
Cb = faktor lenturan = 2,0




Hasil perencanaan poros sesuai dengan diameter poros.








35

y Perbandingan reduksi ( i )

Sulaiso

Pemilihan penampang sabuk-V
Dengan daya rencana 8,45 (kW), putaran poros penggerak 8500 (rpm)
didapatkan penampang sabuk-V adalah tipe A (dapat dilihat pada
gambar 4.1 di bawah ini)

Gambar 4.2 Diagram pemilihan sabuk-V
(Sumber: Sularso, 1994: 164)


Ukuran penampang sabuk dapat dilihat pada gambar 4.2 dibawah ini.

Gambar.4.3 Ukuran penampang sabuk-V
(Sumber: Sularso, 1994: 164)




36

y Diameter lingkaran jarak bagi puli
Untuk penampang sabuk tipe A, diameter minimum puli kecil yang
dianjurkan dapat dilihat pada tabel 4.4 dibawah ini.

Tabel. 4.4 Diameter minimum puli yang diizinkan dan dianjurkan (mm)
Penampang A B C D E
Diameter minimum yang
Diizinkan
65 115 175 300 450
Diameter minimum yang
dianjurkan
95 145 225 350 550
(Sularso, 1994: 169)

y Diameter lingkaran jarak bagi puli penggerak (dp)
dp = 95
y Diameter lingkaran jarak bagi puli yang digerakan




y Diameter luar puli
Diameter luar puli penggerak















37

Dimana harga K yaitu :
Tabel ukuran puli-V 4.5 berikut ini:

(Sumber: Sularso, 1994: 166)





y Diameter luar puli yang digerakan





y Kecepatan linier sabuk V


Sulaiso


Sesuai dengan landasan teori bahwa v harus < 30 m/s.






38

y Panjang keliling sabuk V (L)
Jarak sumbu poros yaitu harus 1,5 sampai 2 kali diameter puli yang
digerakan, jadi:




Maka panjang keliling sabuk adalah:

Sulaiso































39

Tabel 4.6 Panjang sabuk V standar

(Sumber: Sularso, 1994: 168)

Dalam perdagangan terdapat berbagai panjang sabuk V dari
tabel 4.6 didapat nomor nominal sabuk yang digunakan yaitu No.133
dengan panjang 3378.










40

y Jarak sumbu poros
Jarak sumbu poros yang sebenarnya adalah:

Sulaiso

ana

Sulaiso




Maka:




y Daerah penyetelan jarak sumbu poros
Dari table 4.7 daerah penyetelan jarak sumbu poros, maka didapat
untuk sabuk-V tipe A dengan L = 3378 mm, adalah:
Tabel 4.7 Daerah penyetelan jarak sumbu poros

(Sumber: Sularso, 1994: 174)
Kesebelah dalam dari letak standar Ci = 20 mm
Kesebelahan luar dari letak standar Ct = 75 mm



41

y Menentukan sudut kontak puli

Sulaiso



Untuk dapat memelihara tegangan yang cukup dan sesuai pada sabuk,
jarak poros puli harus dapat distel ke dalam maupun ke luar . daerah
penyetelan untuk masing-masing penampang sabuk diberikan dalam
tabel 4.8 faktor koreksi

.
Tabel 4.8 faktor koreksi



(Sumber: Sularso, 1994: 174)












42

y Luas penampang sabuk tipe A




tan





Untuk mencari a menggunakan perbandingan:



Jadi:




y Mencari luas trapezium






43

Berat sabuk untuk tipe sabuk A gaya tegang sabuk sebagai fungsi massa
dan kecepatan sabuk dinyatakan dengan rumus:

Tabel 4.9 Dimensi standar sabuk V
Type of
belt
Horse power
range
Minimum pitch
diameter of pulley
(D) mm
Top width
(b) mm
Thickness
(t) mm
Weight per meter
length in kg
A
B
C
D
E
1-5
3-20
10-100
30-200
40-500
75
125
200
355
500
13
17
22
32
38
8
11
14
19
23
0,106
0,189
0,343
0,596
-
(Sumber: R.S Khurmi, 1982: 680)

ana sabuk

R S Khui

gaya tegang sentiugal kg


W beiat sabuk
kg

anang
g giatas

et


v keceatan lnei

et




44

y Gaya tegangan maksimum yang diizinkan:

R S Khui
Dimana:

= 21 kg/mm
2
(tegangan tarik yang diijinkan dari bahan
sabuk)




Tegangan pada tight side :

R S Khui



Dimana: = 0,3 (koefisien gesek karet dengan logam)

sn




sn

log



y Gaya yang bekerja pada puli (Fp)

R S Khui








45














Gambar 4.4 Mesin APVV

Keterangan:
1. Poros yang dipasang puli
2. Bantalan
3. Rotor
4. Kipas/ sudu
5. Stator
6. Lubang keluar udara
7. Lubang masuk udara












1
2
3
4
5
6
7



46


in






out






Gambar 4.5 Stator dan rotor














Gambar 4.6 Rumah bantalan
Seal karet