Anda di halaman 1dari 6

www.ahmadiyya.or.

id

Tujuan Baiat
Yang dikemukakan di bawah ini adalah dua ekstraksi yang diambil dari Malfuzat. Yang pertama adalah khutbah pada tahun 1895 oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmada s dari Qadian, Masih Maud dan Imam Mahdi. Yang kedua adalah intisari dari khutbah Hazrat Masih Maud pada tahun 1907. Diambil dari Malfuzat volume 1, hal. 2 - 5 dan volume 10, hal. 93 - 95. Penterjemah: A.Q.Khalid

Setiap anggota Jemaat harus mengetahui manfaat inisiasi melalui tindakan Baiat dan mengapa hal itu memang perlu adanya. Jika nilai dan manfaat sesuatu belum diketahui, dengan sendirinya nilai hakikinya tidak akan mungkin dipahami. Dalam setiap rumah terdapat berbagai jenis barang seperti uang dalam pecahan besar atau kecil, kayu dan berbagai macam lainnya. Metoda menjaga setiap jenis barang ditentukan oleh nilai nominal dan harkatnya. Seseorang tidak akan memberikan perhatian yang sama atas lembaran ratusan dan sepuluh ribuan misalnya. Adapun barangbarang dari kayu, biasanya diabaikan saja tanpa harus difikirkan keamanannya. Singkat kata, lebih banyak perhatian yang diberikan kepada barang yang jika hilang akan menimbulkan kesulitan yang lebih besar. Begitu juga dalam Baiat, hal yang paling diutamakan adalah p er t a u b a t a n ( t a u b a t ar t i nya kembali). Yang dimaksud adalah laku kembali dari keadaan dosa
- 1 -

Pendiri Jemaat Islam Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. Dalam tahun 1891, berdasarkan wahyu Ilahi, beliau menyatakan diri sebagai AlMasih yang Dijanjikan dan Imam Mahdi yang kedatangannya telah dinubuatkan oleh Hazrat Muhammad Rasulullah s.a.w. serta kitab suci agama lainnya. Pernyataan beliau menjadi dasar dari keimanan Jemaat Islam Ahmadiyah.

www.ahmadiyya.or.id

dimana seseorang tadinya telah tenggelam di dalamnya sehingga menjadikannya tempat bermukim. Pengertian taubat dengan demikian adalah meni ng g alk an t em p at demikian menuju rujuu0u dengan menjalankan laku kesucian dan kesalehan. Semua sama mengetahui kalau meninggalkan negeri sendiri dimana ia terbiasa hidup adalah suatu hal yang amat berat dan ia mengalami berbagai macam kesulitan. Bahkan meninggalkan sebuah rumah saja bisa menyebabkan seseorang terasa menderita. Jika ia harus meninggalkan negeri maka ia harus memutus hubungan dengan semua kawan yang telah dikenalnya disana. Ia juga harus meninggalkan segala perabotan rumah seperti tempat tidur, permadani dan lainlain serta meninggalkan para tetangganya, jalan tempat tinggal, warung tempat belanja. Pokoknya semua ditinggalkan ketika ia hijrah ke negeri baru dan tidak lagi akan kembali ke negeri lama. Inilah yang dimaksud dengan taubat. Sahabat di kalangan pendosa nyata berbeda dengan sahabat dalam ketakwaan. Kaum Sufi menggambarkan perubahan keadaan dari dosa kepada ketakwaan sebagai suatu kematian. Barangsiapa yang melakukan pertaubatan harus siap menghadapi berbagai gangguan dan rintangan dalam kehidupannya, sedangkan pada tahapan pertaubat- 2 -

an hakiki banyak lagi rintangan menghadang di hadapan seseorang. Namun Allah s w t bersifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia tidak akan mengambil nyawa seorang yang telah bertaubat sebelum Dia telah memberikan gantinya dengan alternatif yang lebih baik (dari yang ditinggalkannya).

. . .Sesungguhnya Allah mencintai mereka yang bertaubat. . . (S.2 Al-Baqarah:223 Ayat di atas menunjukkan kenyataan bahwa orang yang bertaubat akan menjadi miskin dan tak berdaya, karena itu Tuhan mencintainya dan mengaruniakan kepadanya izin untuk bergabung bersama orangorang yang baik. Bangsa lainnya tidak ada menganggap Tuhan sebagai wujud yang Pengasih dan Penyayang. Umat Kristen menganggap Tuhan itu kejam sedangkan Anak-Nya dianggap bersifat welas asih dan karena Tuhan tidak mau mengampuni maka terpaksa sang Anak harus mengorbankan nyawanya untuk mendapatkan pengampunan itu. Adalah suatu ketololan yang luar biasa menganggap ada perbedaan demikian besar di antara sang Bapak dan Anak. Biasanya orang selalu melihat kemiripan

www.ahmadiyya.or.id

akhlak dan laku di antara bapak dan keturunannya tetapi umat Kristiani tidak ada usaha mencari kemiripan tersebut. Jika benar Tuhan itu tidak mengenal kasih sayang, maka tidak mungkin bagi manusia untuk eksis meski cuma sesaat. Tuhan yang telah mencipta ribuan barang sebelum manusia dengan tujuan agar setiap tindakannya akan memberikan maslahat kepadanya, bagaimana mungkin lalu membayangkan wujud Tuhan yang tidak akan menerima pertaubatan dan laku kebajikan. Hakikat daripada dosa adalah tidak mungkin Tuhan mencipta adanya dosa, lalu beberapa ribu tahun kemudian baru Dia memikirkan cara untuk mengampuninya. Sebagaimana lalat memiliki dua sayap, yang satu mengandung obat yang lainnya mengandung racun, begitu juga manusia memiliki dua sayap yaitu satu adalah dosa dan yang lainnya rasa malu, pertaubatan dan kepedihan atas perilakunya sendiri. Hal ini terdapat dalam berbagai kejadian dalam kehidupan seperti contohnya seseorang yang mencambuk sahayanya lalu menyesal atas kekejaman dirinya. Sepertinya kedua sayap bekerja bersama, sang racun dengan penawarnya. Pertanyaan yang mengemuka ialah mengapa diciptakan racun? Jawaban atas hal itu ialah racun itu kemudian

menjadi penawar dirinya sendiri setelah melalui beberapa perubahan tertentu. Ketika unsur racun sudah dieliminasi maka ia berubah menjadi obat penawar. Jika tidak ada dosa maka racun ketakaburan, kesombongan dan ketinggian hati akan menjadi amat berlebihan dalam diri manusia. Pertaubatan mengurangi perkembangan daripada kecenderungan berbahaya dari ketakaburan, kesombongan dan ketinggian hati. Kalau Hazrat Rasulullah Muhammadsaw sendiri memohon ampun, beristighfar, tujuhpuluh kali sehari, lalu kita sendiri bagaimana? Hanya orang yang senang dengan dosa yang tidak mau bertaubat dari dosa. Orang yang menyadari hakikat dosa pasti akan meninggalkannya. Dalam hadith Rasulullah saw dinyatakan bahwa seseorang yang berulangkali meratap di hadapan Allahsw t memohon pengampunan, pada akhirnya Allah sw t akan menyatakan: Aku telah memaafkan engkau. Engkau sekarang boleh melakukan apa pun sesukamu. Dengan keadaan demikian berarti hatinya telah berubah haluan dan dosa akan tampak sebagai hal yang menjijikkan sama halnya seperti orang yang melihat seekor kambing sedang memamah rumput, ia tidak akan tertarik melakukan hal yang sama. Begitu pula, seseorang yang sudah diampuni Tuhan, hidupnya tidak akan lagi bergelimang dosa. Umat
- 3 -

www.ahmadiyya.or.id

Muslim secara alamiah menolak daging babi meski mereka masih melakukan hal-hal terlarang lainnya. Hakikat dari sikap penolakan tersebut adalah harus sedemikian rupa sehingga kita memahami mengapa kita membenci segala hal yang berbau dosa. Tidak perduli berapa pun banyaknya dosa yang dilakukan seseorang, janganlah ia sampai berhenti berdoa. Doa merupakan penawar dosa. Ia yang bersiteguh melakukannya akan memahami bahwa melalui doa yang terus menerus maka laku dosa tidak lagi menarik baginya. Mereka yang berputus asa menenggelamkan diri dalam dosa tanpa mau bertaubat, sesungguhnya ia menyangkal para Nabi dan kemujaraban berkat mereka. Demikian itulah yang dimaksud dengan hakikat bertaubat. Menjadi pertanyaan mengapa pertaubatan merupakan hal yang esensial dalam Baiat? Pada dasarnya manusia terbiasa hidup dalam ketidak-perdulian mengenai hal yang berkaitan dengan keruhanian. Ketika ia bersedia menjadi mubayyin di tangan seseorang yang telah dikaruniai Tuhan dengan perubahan ruhani dalam hidupnya, ia berhasrat ikut menikmati perubahan tersebut. Sebagaimana tunas yang diokulasikan ke sebuah batang akan mengalami perubahan maka hubungan si mubayyin itu
- 4 -

melalui laku Baiatnya akan membawa efek yang sama. Nur dan rahmat yang menjadi ciri dari tangan yang menerima Baiat, akan mewujud dalam kehidupan sang mubayyin, dengan syarat bahwa sifat hubungannya adalah tulus dan suci. Kalau sifat hubungannya seperti mengokulasi ranting kering ke sebuah pohon maka jelas tidak akan ada perubahan. Manfaat hakiki hanya akan muncul kalau sang mubayyin berlaku seperti cabang dari sebuah pohon, tambah baik sifat hubungannya akan tambah besar manfaat ruhaninya. Kegiatan Baiat jika hanya merupakan laku verbal dan kebiasaan saja jelas tidak ada gunanya. Seseorang baru akan bisa menikmati manfaatnya jika ia telah meninggalkan semua nafsu diri dan dengan tulus dan kasih mengikuti wujud kepada siapa ia telah menyatakan ikrarnya. Kaum munafik di zaman Hazrat Rasulullahsaw tetap saja tidak memiliki keimanan sempurna karena mereka tidak mempunyai hubungan yang tulus dengan beliau. Itulah sebabnya pernyataan lisan La ilaha illallah saja tidak ada gunanya bagi mereka. Karena itu menjadi syarat adanya kedekatan berdasarkan ketulusan dan kasih dengan wujud di tangan siapa ia menyatakan ikrar Baiatnya. Ketiadaan hubungan hakiki, apalagi tidak mempunyai kecenderungan untuk mencipta

www.ahmadiyya.or.id

hubungan demikian, jelas tidak akan memberikan hasil yang baik. Hubungan kasih dan ketulusan harus ditanamkan dan dikembangkan. Sedapat mungkin sang mubayyin harus bercita-cita ingin menjadi seperti wujud di tangan siapa ia Baiat dengan cara meneladani perilaku dan mengikuti keteguhan keimanannya. Jiwa manusia yang mementingkan diri sendiri, sepertinya menjanjikan umur panjang, namun itu hanyalah tipuan belaka. Tidak ada yang bisa memastikan panjang umur tiap orang. Bersegeralah menuju kebenaran dan ibadah serta peliharalah perilaku dari pagi sampai malam setiap harinya. (Malfuzat, vol. 1, h. 2-5) Keadaan manusia yang terbaik ialah jika ia benar dan jelas dalam segala hal yang ia lakukan dan dalam kebiasaannya. Status perilakunya harus sedemikian rupa dimana ia meyakini bahwa rahmat Tuhan ada beserta dirinya dan bahwa ia selalu didukung oleh tanda-tanda samawi yang luar biasa dan perkasa. Hanya dengan demikian bisa dikatakan bahwa ia beserta Tuhan-nya dan Tuhan beserta dirinya. Syaitan selalu berusaha menciptakan kesempatan untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Hanya karena aku berulangkali telah mengemukakan wahyu yang aku

terima, lalu ada beberapa orang yang merasa bahwa mereka harus melakukan hal yang sama. Hal demikian sesungguhnya merupakan cobaan bagi mereka dimana mereka telah dibantu Syaitan yang menggiring mereka kepada kehancuran. Akibatnya mereka mulai menerima wahyu-wahyu Syaitan dan mendengar suaranya di dalam batinnya sendiri. Orang-orang seperti Chiragh Din, Ilahi Bakhsh, Faqir Mirza dan banyak lagi lainnya telah menemui kehancuran mereka di jalan ini dan m a s i h b a n y a k lai nnya y a n g mengikuti jalan yang sama. Para anggota Jemaatku agar menjauhi masalah demikian. Pada Hari Penghisaban nanti, Tuhan tidak akan menanyakan kepada mereka berapa mimpi yang telah mereka terima, karena mereka hanya akan ditanya masalah ketakwaan dan amal saleh yang telah dilakukannya. Wahyu adalah laku Tuhan dan bukan laku manusia. Menganggap laku Tuhan sebagai alasan untuk sombong dan membanggakan diri adalah laku orang yang bodoh. Perhatikanlah kehidupan Hazrat Rasulullah saw dan lihat bagaimana beliau biasa beribadah. Terkadang beliau berdiri sepanjang malam sehingga kaki-kaki beliau membengkak. Ketika ditanya oleh isterinya mengapa beliau harus berjuang demikian keras padahal dirinya sudah disucikan dari dosa, beliau menjawab Tidakkah aku
- 5 -

www.ahmadiyya.or.id

sepatutnya menjadi hamba Allah yang tahu bersyukur? Seseorang tidak boleh sampai berputus asa. Terjangan dosa amatlah keras dan perbaikan terasa sulit namun janganlah putus harapan. Sebagian orang menyatakan dirinya sebagai pendosa dan merasa karam dalam tuntutan nafsu dirinya, karena itu bagaimana mungkin bisa bertakwa? Mereka harus meyakini bahwa seorang yang beriman tidak akan pernah kehilangan harapan. Ia yang berputus asa dan menganggap tidak ada harapan, sesungguhnya ia sendiri adalah Syaitan. Seorang yang beriman tidak boleh lemah. Tidak perduli betapa pun banyaknya dosa yang dilakukan, Tuhan telah memberkati manusia dengan kemampuan untuk mengatasinya. Tuhan telah menempatkan kekuatan dalam dirinya yang akan membakar dosa dan kekuatan itu sesungguhnya ada dalam fitrat manusia. Kalian sendiri mengetahui betapa suhu air yang dipanaskan setinggi-tingginya sekali pun, jika dituangkan ke atas api, tetap saja akan memadamkan api itu. Keadaan demikian disebabkan Tuhan telah menempatkan karakteristik dalam air yang jika disiramkan ke atas api akan memadamkannya. Begitu juga, betapa pun seorang manusia tenggelam dalam dosa, tidak perduli betapa dalam ia karam dalam perilaku buruk, tetap saja ia memiliki kapasitas untuk memadam- 6 -

kan api dosa. Jika kemampuan demikian tidak ada diberikan kepada manusia maka ia tidak akan bisa dimintakan pertanggungjawaban atas dirinya. Dengan demikian juga maka kemunculan para Nabi dan Rasul menjadi tidak ada gunanya. Kenyataannya, fitrat manusia itu bersifat suci. Bila tubuh jasmani merasakan lapar dan haus, tersedia makanan dan air. Kalau kita membutuhkan udara untuk bernafas, nyatanya telah tersedia udara. Jika semua kebutuhan tubuh jasmani ada disediakan, mengapa untuk kebutuhan ruhani harus berbeda? Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun serta menutupi cacat para hamba-Nya, nyatanya telah memberikan semua yang diperlukan bagi keselamatan ruhani. Jika ada manusia yang ingin mencari air ruhani, ia akan bisa menemukannya. Kalau ia bermaksud mencari roti ruhani, pastilah akan diberikan kepadanya. Sebagaimana ada akidah bagi dunia phisikal, begitu juga ada akidah yang sama berkaitan dengan dunia spiritual, dengan syarat bahwa hal itu harus dicari. Ia yang mencari pasti akan menemukan. Ia yang berjuang mencari Tuhan, pasti akan m e nj u m p a i k e r i d h a a n I l a h i . (Malfuzat, vol. 10. h.93-95)