Anda di halaman 1dari 13

CRL I

Disusun Oleh :

KELOMPOK II
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Imaniah Sriwijayasih Iriani Reka S. Nurrahma hartono P. Rawsyan Fiker Ridho Nugraha Robby Maulana Zuraida Dwi G. (0609 4041 13 37) (0609 4041 1338 ) (0609 4041 1340 ) (0609 4041 1342 ) (0609 4041 1343 ) (0609 4041 1344 ) (0609 4041 1352)

Kelas : IV EGA Instruktur : Zurohaina S.T., M.T

JURUSAN TEKNIK KIMIA PROGRAM STUDI TEKNIK ENERGI POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 2011

PENGENALAN FLUIDA CRL

TUJUAN UMUM : 1. 2. 3. 4. Menjelaskan dan membedakan mode pengendalian kontinyu dan tidak kontinyu. Menjelaskan terminology yang digunakan dalam pengendalian unit CRL. Memahami prinsip pengendalian level air pada unit CRL. Melakukan simulasi pengendalian dan menjelaskan grafik tersebut.

PENDAHULUAN Peralatan simulasi proses CRL dibuat oleh DIDACTA Italia dan dikembangkan untuk mempelajari teknik pengendalian level (ketinggian) permukaan fluida cair, yang dalam hal ini fluida yang digunakan adalah air. Konfigurasi yang digunakan untuk simulasi ini adalah sistem loop terbuka (open loop) dan sistem loop tertutup ( closed loop). Selain itu, juga dipelajari mode pengendalian dengan pengendali tak kontinyu ( ON-OFF Controller) dan pengendali kontinyu (Three term controller; P/I/D). Peralatan CRL ini terdiri dari beberapa unit : 1. Tangki air kapasitas 20 liter. 2. Pompa sentrifugal dengan laju 20 liter/menit. 3. Katup jenis pneumatik proporsional dengan input 3 -5 psi. 4. Transduser I/P. 5. Inlet udara tekan (dioperasikan pada 2 bar, min). 6. Pengukur tekanan udara tekan. 7. Alat pengatur tekanan udara tekan secara manual. 8. Controller elektronik MiniReng (alat tambahan). 9. Peralatan listrik (panel CRL). 10. Komputer dan printer (aplikasi window, min window (95). 11. Tangki bening berskala. 12. Katup pengeluaran manual V1 dan V2. 13. Transduser P TI. 14. Katup solenoid untuk input gangguan (disturbance). X. Sinyal Penggerak (actuating signal) Y. Sinyal variable yang dikendalikan (controller var, signal) N. Sinyal gangguan (noise) URAIAN SINGKAT Liquid yang berada di tangki (1) dipompakan ke tangki berskala (11) oleh pompa sentrifugal (2) di bawah pengendaliankatup pneumatic proporsional (3).

Pengisian tangki berskala (11) menghasilkan tekanan pada bagian dasar tangki yang ekivalen terhadap ketinggian (level) liquid dalam tangki, di deteksi oleh tranduser P/I (13) dan di transmisikan sebagai sinyal Y ke unit pengkondisi (panel) kontrol (9). Outputnya berupa sinyal X yang berasal dari panel kontrol (9) di transmisikan ke katup (3) oleh tranduser I/P (4) yang kemudian menggerakkan katup pneumatik proporsional dengan bantuan udara tekan yang disuplai oleh inlet udara tekan (5). Katup V1 dan V2 dapat diatur secara manual untuk tertutup dan terbuka penuh dalam hubungan dengan tangki berskala (11). Katup solenoid (14) memungkinkan untuk pengendalian gangguan aliran air. Untuk pemakaian katup 14, V1 harus dalam keadaan terbuka penuh. PANEL KONTROL Panel kontrol (9) terdiri dari beberapa indikator yang menunjukkan kerja peralatan pada unit CRL ini, 15. Saklar utama (main switch) yang mensulai arus listrik dari socket dinding ke peralatan CRL. 16. Lampu indikator kerja pompa menunjukkan pompa sedang hidup. 17. Lampu indikator kerja level minimal dan maksimal untuk pemakaian resistive probe. Resistive probe terletak di dalam tangki berskala berbentuk seperti elektroda terbuat dari logam dalam 3 ukuran panjang berbeda. 18. Penunjuk ketinggian (level indikator) dalam satuan (%). 19. Lampu indikator, menunjukkan posisi katup untuk menimbulkan gangguan sesuai posisi nomor. Posisi selektor NOISE (gangguan) 0 Katup solenoid tidak diaktifkan Man Katup solenoid diaktifkan secara manual PC - Katup solenoid dikendalikan melalui komputer 20. Sinyal pengaturan , X, dalam bentuk output analog. 21. Sinyal yang dikendalikan , Y , Controller var dalam bentuk output analog. 22. Selektor pemilih untuk jenis mode control : - Pengendalian gerakan katup secara manual - Unit Off (0), posisi pengendali tidak hidup - Pengendalian dengan resistive probes - Pengendalian dengan PC ( komputer) - Pengendalian dengan Mini Reg ( alat tambahan) - Pengendalian dengan MRRP (alat tambahan) 23. Pengaturan katup secara manual 24. Pengaturan katup secara manual. 25. Lampu penunjuk power suplai.

JENIS PENGENDALIAN LEVEL

1. JENIS PENGENDALIAN LEVEL Pengendalian yang paling sederhana adalah jenis on-off, dimana pengeerak (actuator) hanya berada pada dua keadaan posisi ON (hidup) atau posisi membuka atau menutup aliran yang menuju tangki berskala. Pada keadaan ini, katup akan terbuka apabila level air berada dari level yang diinginkan (setr point)atau katup menutup napabila aiar melebihi dari set point.disini akan terdapat batasan level (level threshold) yang berhubungan dengan set point, apabila ada batasan ini dilampaui karena level bertambah atau berkurang, katup juga berubah posisinya, hal ini akan menimbulakan perubahan posisi katup disekitar batasan level yang diatur secara simetris diatas dan dibawah set point. o Batasan atas dilampaui apabila level meningkat, katup akan menutup o Batasan dibawah dilampaui apabila level berkurang, katup akan membuka. Interval antara level yang dikehendaki dengan salah satu batas level dinamakan HISTERISIS.semakin besar histerisis, semakin besar histerisis, semakin rendah tekanan pada actuator.

2. PENGENDALIAN P/I/D System pengendalian secara kontinyu berbeda dengan system pengendalian tak kontinyu (ON-OFF).pada system control kontinyu, system control melakukan evaluasi antara error dan set point dan secara kontinyu pula memberikan masukan (input) bagi eleman control akhir untuk melakukan perubahan agar harga pengendalian (control point) mendekati atau sama dengan harga set point. Sistem pengendalian kontinyu ini menggunakan kontinyu ini menggunakan tiga terminology berikut : 1. Proposional 2. Integral 3. Derivative Sinyal yang diregulasi, yang didasarkan atas error (perbedaan antara set point dengan control point) ditentukan oleh jumlah ketiga definisi diatas.

PROPOSIONAL Bagian atau komponen mode pengendali ini menyatakan eror yang terjadi sebanding antara set point dan harga terukur.sebanding ini dinyatakan sebagai harga konstanta (Kp).

Ketika sinyal regulasi mencapai 100 % atau katup pneumatic terbu ka penuh, eror mencapai level salurasi (jenuh), penambahan eror tidak akan meningkatkan sinyal regulasi. Disini perlu diketahui range interval eror agar sinyal regulasi dapat beroperasi antara 0% -100%.range variasi antara 0-PB, maka persen harga sinyal regulasi, X adalah X=e.PB Semakin besar PB, semakin kecil keluaran controller (X), untuk error yang sama, dengan kata lain, semakin rendah gain proposional controller. System pengendalian yang hanya menggunakan mode proposional ini mempunyai ketentuan berikut : a. Error tidak dapat dieliminasi (dikurangi dan sulit mencapai set point b. Adanya error sisa (residu) yang disebut OFFSET yang bertambah dengan bertambahnya PB.

INTEGRAL Mode control integral selalu digunakan berpasangan dengan mode proposional dengan persamaan : X(t) =Kp.E(t) + Ki,? 0 (X).dx Dengan mode gabungan ini eror pertama-tama meningkatkan kemudian berkurang dengan cepat oelh aksi proposional.error tidak akan menjadi nol dikarenakan oleh adanya offset.aksi control integral akan mengurangi eror secara tunas, sedangkan kondisi equilibrium baru memrlukan aliran masuk yang baru yang digerakkan oleh mode integrasi juga. Umumnya mode gabungan ini digunakan ketika variable yang dikendalikan diharapkan mngalami perubahan besar namun lambat yang memerlukan perubahan cukup besar pada sinyal regulasi X.

DERIVATIF Mode derivative juga dipergunakan bergabung dengan mode proposional dengan persamaan: X (t(=Kp.e(t) + Kd.d/dT e(t) Jika error konstan, derivative sebagai fungsi waktu akan mempunyai harga nol (tidak ada output).mode proposional derivative ini digunakan apabila diharapkan perubahan yang cepat dan dalam batas level yang diizinkan.oleh karena level control mempunyai variasi beban yang rada lambat, penggunaan mode proposional derivative kurang memberikan pengertian yang jelas. Mode gabungan yang melibatkan derivative yang digunakan pada CRL adalah mode gabungan atau PID (proposional, integral, derivative) dengan persamaan : X (t) = Kp.e(t) + Ki.? t0 e(x)dx +Kd.d/dt e(t) Gabungan ketiganya disini memberikan kemungkinan pengendalian yang sempurna dan menghasilkan pengendalian yang optimal.

PERCOBAAN I

PENGENDALIAN ON-OFF

I.

TUJUAN PERCOBAAN Setelah melakukan praktek ini mahasiswa diharapkan mampu : 1. Melakukan simulasi pengendalian On Off dengan mempergunakan peralatan CRL. 2. Menjelaskan pengertian set point, hysterisis, open time. 3. Memahami mekanisme pengendalian On Off 4. Mencetak grafik pengendalian On Off dan menjelaskan grafik tersebut. ALAT DAN BAHAN 2.1 Alat yang Digunakan : 1. Satu set CRL 2. Satu set personal komputer 2.2 Bahan yang Digunakan : 1. Air dalam tangki penampungan

II.

III.

DASAR TEORI Terlampir di pendahuluan.

IV.

PROSEDUR KERJA (Memastikan seluruh kabel listrik dan penghubung antara komputer dan unit CRL tersambung dengan baik dan benar selektor komputer pada CRL dan bukan pada CRF) 1. Mengeset selektor kontrol (23) dipanel kontrol unit CRL pada posisi PC dan selektor noise (20) pada 0. 2. Membuka katup VI dan V2 dan mengkosongkan volume tangki. Mengaturmagar katup V2 tertutup sekitar 25%, katup VI tetap terbuka. 3. Menghidupkan unit CRL dengan mengaktifkan tombol saklar utama. 4. Memutar sambil menarik katup tekanan (7) dan mengatur dengan memutar katup tersebut agar tekanan yang terbaca di (6), maksimal 2 bar. 5. Menghidupkan komputer, menjalankan p rogram CRL dan memilih file New .

6. Memilih regulator On Off pada Regulator Type , mengklik oke, lalu mengklik oke lagi. 7. Pada monitor PARAMETER, memasukkan : - Set Point = 30% - Hysterisis = 5% - Open Time = 2 s - Gain = 0,5 8. Menekan tombol Start untuk memulai percobaan. 9. Meng-observasi kejadian di unit CRL dan grafik terbentuk. 10. Setelah berjalan 10 menit, menekan tombol freeze . Hal ini menyebabkan proses terhenti. 11. Mengubah parameter sesuai perintah instruktur, menekan enter (atau klik oke) 12. Menekan tombol start kembali, meng-observasi gerakan yang terjadi baik di unit CRL maupun grafik yang terbentuk. 13. Mengulangi langkah 11 apabila perlu. Menekan tombol freeze dan menghidupkan printer, mengklik tombol Print untuk memulai pencetakan grafik. 14. Pada akhir percobaan, mengklik tombol Quit , lalu YES File, memilih EXIT dan menekan YES. 15. Mengosongkan tangki dan mematikan d=saklar utama.

Alternatif harga praktek : Mengubah harga set point setelah proses berjalan 1/3 grafik, menambahkan NOISE, kemudian mengubah harga GAIN. Mengubah ubah variable dinamis lainnya untuk mempermudah pemahaman mekanisme pengendalian.

PERCOBAAN II

PENGENDALIAN DENGAN RESISTIVE PROSES

I.

TUJUAN PERCOBAAN Setelah melakukan praktek ini mahasiswa diharapkan mampu : 1. Membedakan antara pengendalian On Off pengendalian dengan resistive 2. Menentukan kapan sebaiknya pengendalian resistive probes digunakan 3. Mencetak grafik dan menganalisa grafik yang terbentuk

II.

ALAT DAN BAHAN 2.1 Peralatan yang Digunakan : 1. Satu set unit CRL 2. Satu set personal Komputer

2.2 Bahan yang Dugunakan : 1. Air dalam tangki penampungan

III.

DASAR TEORI Tangki bening berskala unit CRL mempunyai 3 buah probes di dalamnya yang berfungsi untuk mengukur level fluida (R1, R2 dan R3). R1 dan R2 dapat berfungsi sebagai batas bawah dan R3 berfungsi sebagai batas seperti pada pengendalian On- Off.

Apabila katup pengeluaran (V2) terbuka, tangki pada keadaan kosong dan selektor pada panel kontrol (23) berada pada posisi sesuai resistive probes yaitu antara 0 dan PC, maka air akan mengalir mengisi tangki. Sistem akan membuka katup pneumatic sebesar 100 % sampai level mencapai R2 dan R3 melampaui R1 dan setelah melewati batas atas, katup akan menutup. Level akan turun karena

katup V2 terbuka sehingga level mencapai R2 dan melewati batas bawah R2 tersebut, katup terbuak kembali, demikian berulang seperti pengendalian On Off. R3 berada pada posisi level 85% sedangkan R2 pada level 75% kontrol pada posisi 0.

IV.

PROSEDUR KERJA 1. Mengosongkan tangki dengan membuka katup V2. 2. Menjalankan program CRL, memilih file NEW, mengklik OKE. 3. Memilih external regulator dan meng-klik oke. Memastikan unit CRL telah hidup. 4. Meng-klik tombol start untuk memulai dan mengubah mode selektor (24) di panel kontrol ke resistive probes. 5. Mengamati kejadian di dalam tangki pada grafik monitor. 6. Setelah didapat grafik konstan, meng-klik tombol freeze dan mengubah parameter mengubah harga set point. Harga set pont I = 50% Harga set pont II = 60% Harga set point III = 40% 7. Mengamati lagi perubahan yang terjadi. 8. Setelah stabil, meng-klik tombol freeze kembali. Print grafik yang terbentuk. 9. Mengatur selektor NOISE pada posisi MAN dan mengubah posisi katup C2. 10. Menekan tombol Reset kemudian start. Mengamati perubahan yang terjadi. 11. Menge-print hasil, kemudian meng -klik Quit dan keluar dari program.

PERCOBAAN I & II

V.

GRAFIK Terlampir

VI.

ANALISA DATA

Pada praktikum kali ini adalah melakukan pengendalian level fluida dengan menggunakan instrumen CRL. Jenis pengendalian yang dilakukan adalah pengendalian on off dan resistive probes. Pada pengendalian on off, katup V1 dan V2 diatur untuk pengendalian laju alir. V1 dibuka pada 100% dan V2 pada 25%, sehingga aliran dari V1 mengalir secara penuh. Parameter-parameter dalam praktek diatur, dengan mengatur set point, hysterisis, open time dan gain. Dan dilakukan 3 kali perubahan parameter, Set point = 30%, 40% dan 50% Hysterisis = 5%, 2% dan 4% Open time = 2s, 4s dan 4s Gain = 0,5 ; 0,8 dan 0,8

Untuk memulai percobaan (klik start) volume air dalam tangki harus lebih dari set point, pada batasan level ini, jika batasan level akan dilampaui, maka katup akan tertutup dan jika di bawah batasan maka katup akan membuka. Hal ini dapat dilihat, misal pada set point 30% dan hysterisis 5% maka jika level airnya 35 maka secara otomatis katup akan tertutup, karena hal ini melampaui batas set point, dan katup akan terbukka jika batas level di bawah set point. Air akan mengisi lagi pada level 25. Sedangkan open time merupakan waktu katup untuk terbuka dan tertutup, dan gain akan berpengaruh pada grafik. Jika gain 0,8 maka batas level yang tertera di grafik adalah 80. Begitu juga untu perubahan-perubahan parameter lainnya. Sedangkan pada resistive probes, yang harus diperhatikan adalah set point. Karena yang diatur pada pengendalian ini adalah set point. Dan controller diatur pada manual. Pengaruh set point terhadap waktu adalah, semakin besar set point yang kita atur, maka semakin cepat aliran tersebut mencapai waktu konstan.

PENGERTIAN DARI ; Set Point = harga yang ditentukan sebelum melakukan pengukuran.

Histerisis = interval antara nilai yang diinginkan dengan set point. Semakin besar histerisis, maka semakin kecil tekanan, dan semakin kecil histerisis maka semakin besar tekanan dan semakin cepat kerja pompa. Open time Gain = waktu yang dibutuhkan untuk membuka katup.

= Pembukaan, mempengaruhi laju air dalam tangki.

VII.

KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa : Pada percobaan pengendalian on off Jika level akan melampaui batasan set point, maka katup akan menutup dan jika kurang dari set point, maka katup akan terbuka dan aliran air akan mengisi tangki kembali. Pada pengendalian resistive probes Set point berpengaruh terhadap waktu. Semakin besar set point, maka waktu konstan yang didapat pada grafik semakin cepat.

VIII.

DAFTAR PUSTAKA Jobsheet. 2011. Petunjuk Praktikum Pengendalian Proses . POLSRI : Palembang

GAMBAR ALAT