Anda di halaman 1dari 67

LAPORAN AKHIR

KAJIAN KONVERSI MINYAK TANAH KE GAS ELPIJI DI SUMATERA UTARA

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PROPINSI SUMATERA UTARA MEDAN 2009

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas selesainya penelitian yang berjudul Kajian Konversi Minyak Tanah ke Gas Elpiji di Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan program konversi minyak tanah ke gas elpiji, kesiapan sarana & prasarana pendukung serta pengembangan progran konversi minyak tanah ke gas elpiji, sehingga data dan informasi pendukung yang ada dapat memudahkan investor dalam berinvestasi Hasil kajian ini belum sepenuhnya dapat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi di Sumatera Utara khususnya mengurangi ketergantungan dalam penggunaan

minyak tanah sehingga masih ada masyarakat yang belum siap untuk melaksanakan konversi minyak tanah ke gas elpiji. Untuk itu diperlukan implementasi strategi prioritas yang telah ditentukan dan sistem perencanaan terpadu yang komprehensif antara Pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten. Kami yakin hasil penelitian ini dapat membantu pembuka wacana dalam menyusun kebijakan kajian konversi minyak tanah ke gas elpiji di Sumatera Utara. Untuk itu kami mengharapkan masukan dan saran dari berbagai pihak, guna memudahkan pemerintah dalam mendapatkan data & informasi selanjutnya. Demikian, atas partisipasi pihak terkait dalam menyelesaikan penelitian ini diucapkan terimakasih.

Medan,

Desember 2009

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PROVINSI SUMATERA UTARA Kepala,

MAULANA POHAN PEMBINA UTAMA MADYA NIP. 195305071980021002

RINGKASAN
Konversi Minyak Tanah ke LPG merupakan program pemerintah untuk pengalihan subsidi dan penggunaan Minyak Tanah oleh masyarakat ke LPG 3 kg melalui pembagian paket LPG 3 kg beserta isi, kompor, regulator dan slang secara gratis kepada masyarakat yang memenuhi kriteria yang sudah ditentukan. Mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak yang cenderung meningkat jumlahnya (terutama pemakaian Minyak Tanah). Semakin menipisnya cadangan minyak bumi di Indonesia dan terus melambungnya harga minyak mentah dunia. Pemakaian LPG terbukti lebih mudah dan hemat, lebih aman dan lebih bersih. Pembangunan infrastruktur penyediaan dan pendistribusian LPG dalam rangka penggunaan LPG tabung 3 kg, termasuk memperbanyak titik-titik penjualan. Memberikan secara cuma-cuma tabung LPG 3 kg serta gas perdana, kompor LPG dan asesorisnya, kepada masyarakat yang beralih dari penggunaan minyak tanah ke LPG tabung 3 kg berdasarkan skala prioritas yang telah ditetapkan. Penarikan/pengurangan jatah minyak tanah setara dengan energi yang dialihkan di wilayah yang sudah mendapat tabung LPG 3 kg serta gas perdana, kompor LPG dan asesorisnya. Sosialisasi intensif kepada masyarakat pengguna dalam rangka memberi pemahaman dan cara penggunaan LPG tabung 3 kg yang benar sesuai kaidah keamanan dan keselamatan. Meningkatkan peran pemerintah daerah sampai pada tingkat kelurahan/desa dalam hal melakukan pengawasan terhadap pemberiaan tabung LPG 3 kg serta gas perdana, kompor LPG dan asesorisnya kepada masyarakat sesuai skala prioritas Diperlukannya penambahan infrastruktur seperti kilang produksi (LPG Plant),

fasilitas penyaluran LPG seperti tanki timbun, filiing station, alat angkut, depot,dan pangkalan dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi LPG dalam negeri. Dalam rangka mengembangkan infrastruktur LPG Indonesia perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut : Pembuatan Rencana Pengembangan Infrastruktur berdasarkan proyeksi kebutuhan dan kemampuan produksi yang terintegrasi. Pemberian Insentif fiskal dan non fiskal Peningkatan peran serta pendanaan dari perusahaan swasta. Membuka peluang kerjasama usaha.

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................ RINGKASAN............................................................................................................. DAFTAR ISI............................................................................................................. DAFTAR TABEL...................................................................................................... DAFTAR GAMBAR................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. 1.6. BAB II Latar Belakang Masalah............................................................. Perumusan Masalah.................................................................... Maksud dan Tujuan Penelitian................................................... Manfaat Penelitian...................................................................... Ruang Lingkup........................................................................... Hasil yang Diharapkan............................................................... Hal i ii iii v v 1 1 6 7 7 8 8 9 9 15 19 22 24 26 28 28 28 28 29 29 30 30 35 37 38 40 45 52

TINJAUAN PUSTAKA..................................................................... 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. Minyak Tanah dan Gas Elpiji..................................................... Sekilas tentang Program Konversi Minyak Tanah ke LPG........ Konversi Minyak Tanah ke Gas Elpiji (LPG)........................ Efektivitas Penggunaan LPG dibanding Minyak Tanah............. Peraturan Pemerintah.................................................................. 2.6. Pengawasan LPG Bersubsidi......................................................

BAB

III

METODOLOGI PENELITIAN...................................................... 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. Jenis Penelitian........................................................................... Waktu dan Lokasi Penelitian..................................................... Metode Pendekatan Studi.......................................................... Metode Pengumpulan Data........................................................ Teknik Analisis Data.................................................................

BAB

IV

HASIL DAN PEMBAHASAN.. 4.1. 4.2. 4.3. 4.4. 4.5. 4.6. 4.7. Pengumpulan Data..................................................................... Pandangan Pemerintah Terhadap Program Konversi................. Perbandingan LPG dan Minyak Tanah...................................... Minyak Tanah............................................................................ Pandangan Masyarakat.............................................................. Keuntungan Penggunaan LPG dibandingkan Minyak Tanah.... Permasalahan Konversi Minyak Tanah ke Elpiji.......................

iii

BAB

KESIMPULAN DAN SARAN..........................................


5.1. Kesimpulan.. 5.2. Saran Rekomendasi......................................................................

55
55 57 60

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................

iv

DAFTAR TABEL
hal Tabel 1.1. Penghematan Minyak Tanah ke Gas Elpiji............................................ Tabel 1.2. Perbandingan Jenis Energi dengan Nilai Rupiah yang dalam Konsumsi Rumah Tangga Sehari-hari Masyarakat..................... Tabel 1.3. Perbandingan Daya Bakar Beberapa Sumber Bahan Bakar................. Tabel 1.4. Jumlah Penurunan Subsidi Minyak Tanah dan LPG. untuk Bulan Januari s.d. 23 Agustus 2007............................................................... Tabel 1.5. Jumlah Penurunan Subsidi Minyak Tanah dan LPG. untuk Bulan Januari s.d 23 Agustus 2007................................................................ 11

36 38

45

46

DAFTAR GAMBAR
hal Gambar 2.1. Tabung Gas Elpiji.............................................................................. Gambar 2.2. Peta Lokasi Gas Domestik Regional I Sumatera Utara..................... Gambar 2.3. Skema Pembangkit Kompor Gas dan Tabung Elpiji 3 Kg................ Gambar 2.4. Jalur Distribusi Elpiji 3 Kg................................................................ Gambar 2.5. Pengisian Tabung Elpiji 3 Kilogram di Filling Plant Elpiji Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE)............................................................ 14 31 33 34

35

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah Pemerintah memberikan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk membantu kegiatan ekonomi rakyatnya. Hal ini dikarenakan masih besarnya ketergantungan sektor ekonomi rakyat terhadap BBM. Karena besarnya subsidi yang diberikan pemerintah kepada bahan bakar minyak, sehingga pemerintah harus mengeluarkan dana APBN lebih besar lagi seiring meningkatnya harga minyak dunia, oleh sebab itu pemerintah beserta DPR telah bersepakat untuk menghapuskan subsidi BBM secara bertahap seperti tertuang pada UU No. 25/2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas). Beban subsidi BBM bagi pemerintah sangat berat. Setiap tahunnya pemerintah menganggarkan kurang lebih 50 triliun Rupiah untuk keperluan subsidi BBM (minyak tanah, premium dan solar). Subsidi BBM yang terbesar dikenakan pada minyak tanah. Hal ini dikarenakan minyak tanah merupakan sarana bahan bakar bagi berbagai keperluan rumah tangga sampai pada industri. Data terakhir menyebutkan bahwa subsidi minyak tanah sekitar Rp. 3.800,- setiap liternya dan menyedot hampir 50% dari total subsidi BBM. Kebutuhan minyak tanah sebagai salah satu elemen BBM memiliki kecenderungan yang terus semakin meningkat. Apalagi, kondisi tersebut diimbangi dengan semakin naiknya harga minyak dunia. Upaya pemerintah untuk mengurangi subisidi minyak tanah dan mengalihkannya ke LPG merupakan keputusan rasional yang perlu didukung oleh 1

semua pihak. Pemerintah telah melaksanakan program pengalihan minyak tanah ke LPG yang dimulai tahun 2007. Salah satu bentuk realisasi program pengalihan minyak tanah ke LPG yang dilakukan pemerintah adalah dengan melakukan pembagian Paket LPG Tabung 3 Kg yang terdiri dari tabung LPG 3 Kg beserta katup/valve termasuk isi perdana dan kompor gas satu tungku beserta assesorisnya (selang gas dan regulator) secara cuma-cuma kepada rumah tangga dan usaha mikro yang berhak menerima. Program Konversi minyak Tanah ke Gas Elpiji yang sudah diprogramkan oleh Pemerintah Pusat akan segera disoalisasikan di Sumatera Utara. Namun, sebelum pelaksanaan sosialisasi oleh Pertamina, sebelumnya akan dilakukan pendataan dan diberikan penjelasan oleh Hiswana migas kepada masyarakat yang ada di Sumatera Utara khususnya di lima wilayah seperti Langkat, Binjai, Medan, Serdang Bedagai dan Deli Serdang. Pembagian paket LPG Tabung 3 Kg diberikan kepada masyarakat yang selama ini menggunakan bahan bakar minyak tanah maupun lainnya selain gas, dengan demikian diperlukan pendataan terhadap calon penerima paket tersebut. Karakteristik wilayahpun perlu didata sehingga distribusi paket memenuhi sasaran (baik jumlah dan pengguna) serta merata untuk seluruh wilayah. Energi memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat karena energi merupakan parameter penting bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Hampir semua sektor kehidupan (industri, rumah tangga, transportasi, jasa, dan lain-lain) tidak bisa dipisahkan dari sektor energi. Pada

sektor rumah tangga, energi berfungsi untuk penerangan, memasak, pemanas dan pendingin ruangan serta berbagai kegiatan rumah tangga yang lain. Program konversi minyak tanah ke elpiji merupakan upaya pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM yang cenderung terus meningkat jumlahnya. Sementara persediaan BBM negeri ini semakin menipis yang menyebabkan harga BBM semakin mahal dan menyebabkan tingginya subsidi yang harus disediakan oleh pemerintah. Dengan pengalihan tersebut diharapkan terjadi penurunan anggaran subsidi BBM, mengingat subsidi elpiji lebih rendah dibanding subsidi minyak tanah. Jika program ini berhasil, maka dari segi pemerintah akan ada penghematan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) senilai Rp. 22 triliun rupiah per tahun. Pemerintah mengajukan alokasi subsidi BBM tahun 2008 sebesar Rp. 46,7 triliun atau lebih rendah Rp. 9,66 triliun (20,7 persen) dibandingkan perkiraan tahun 2007 sebesar Rp. 56,36 triliun. Program konversi minyak tanah ke elpiji akan sangat menguntungkan semua pihak, baik pemerintah, masyarakat maupun pengusaha. Dengan konversi ini akan ada penghematan senilai Rp. 20.000 hingga Rp. 25.000 per bulan per Kepala Keluarga (KK), yang didapatkan dari hitungan jika menggunakan minyak tanah satu liter setara dengan 0,4 kg elpiji. Untuk saat sekarang ini, dengan harga minyak tanah Rp. 2.300/liter di pangkalan, sedangkan tabung gas 3 kg seharga Rp. 12.750,-, dimana 1 liter minyak tanah setara dengan 1/2 kg elpiji, berarti 3 kg elpiji (Rp. 12.750) = 6 liter minyak (Rp. 13.800,-) atau diperoleh keuntungan sekitar Rp.1.050,-. Jadi kalau sebuah keluarga menggunakan minyak tanah dalam 1 bulan 30 liter kemudian

beralih ke gas, maka dia butuh 5 tabung isi 3 kg dan akan memperoleh untung sebesar Rp. 5.000,-. Dengan demikian program konversi minyak tanah ke elpiji terdapat kenaikan pendapatan rill masyarakat untuk keluarga sederhana. Kunci keberhasilan dari program konversi minyak tanah ke gas elpiji adalah perencanaan yang matang, sosialisasi yang benar dan tepat sasaran, kualitas produk kompor dan tabung LPG yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga kemungkinan kompor meledak ketika dipakai tidak akan terjadi, kesiapan industri dalam negeri yang memproduksi kompor dan tabung LPG, serta pengawasan yang ketat terhadap pasokan dan permintaan minyak tanah terkait dengan program konversi sehingga tidak menimbulkan keresahan masyarakat akibat LPG masih langka sementara minyak tanah sudah ditarik dari pasaran. Metode pendataan calon penerima paket berdasarkan petunjuk yang telah ditetapkan yaitu dengan melaksanakan survey langsung ke lapangan dan dikoordinasikan dengan otoritas setempat seperti Kepala Desa, Kepala Kampung, RW dan RT. Hasil survey lapangan akan diverifikasi dan dimusyawarahkan dengan pihak-pihak terkait untuk menghasilkan daftar penerima paket LPG Tabung 3 kg. Data tersebut diintegrasikan menjadi suatu database tingkat propinsi. Propinsi Sumatera Utara termasuk dalam target Pemerintah untuk program pengalihan/konversi minyak tanah dan pendistribusian paket LPG tabung 3 Kg. Cakupan wilayah yang akan didata meliputi 15 kabupaten/kota, 177 kecamatan, 3.223 desa/kelurahan dengan estimasi target jumlah KK yang disurvey 947110

KK. Jumlah KK yang akan disurvey ini merupakan data indikasi calon penerima paket LPG tabung 3 Kg baik kategori rumah tangga maupun usaha mikro/Informal. Sejalan dengan program konversi minyak tanah ke elpiji tersebut, Pemerintah telah menetapkan Provinsi Sumatera Utara sebagai sasaran pelaksanaan program konversi pada tahun anggaran 2009 ini. Di sisi lain, dalam pelaksanaan konversi selama ini, masih banyak ditemui berbagai permasalahan di lapangan baik berupa kesiapan sarana dan prasarana maupun sumberdaya aparatur pelaksana. Minyak tanah adalah bahan bakar utama bagi berbagai keperluan rumah tangga hingga industri. Kebutuhan atas minyak tanah cenderung semakin meningkat. Begitu pula dengan trend harga minyak dunia yang cenderung kian meningkat pula. Sehingga dari tahun ke tahun, subsidi Pemerintah atas penggunaan minyak tanah juga semakin naik. Pemerintah mencanangkan program konversi minyak tanah ke LPG guna meningkatkan penghematan subsidi BBM melalui pengurangan penggunaan minyak tanah. Program konversi ini direncanakan berakhir pada akhir 2010 dengan menargetkan pengalihan penggunaan bahan bakar bagi 42 juta pengguna. Melalui konversi LPG ini, pemerintah berharap penyalahgunaan dalam jalur distribusi minyak tanah dapat dikendalikan, dan bagi masyarakat, memasak menjadi lebih murah, aman dan ramah lingkungan. Kebijakan konversi juga didasarkan atas pertimbangan bahwa potensi cadangan LPG lebih banyak dibandingkan minyak tanah. Pelaksanaan konversi

yang diikuti dengan penarikan minyak tanah dari pasar secara bertahap ini, juga bertujuan agar minyak tanah yang ditarik dapat diolah kembali menjadi bahan bakar yang lebih komersial, seperti bahan bakar pesawat/avtur. Pada hakekatnya, secara umum tujuan konversi ini adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Dengan adanya program konversi minyak tanah ke LPG, seluruh pihak yang terlibat dalam jalur distribusi minyak tanah juga akan dikonversikan. Baik pelaku usaha di tingkat agen, pangkalan, hingga gerobak dorong yang sebelumnya menjual minyak tanah akan secara bertahap mengalami konversi produk ke LPG. Sehingga program ini diyakini tidak akan mengurangi lapangan kerja bagi masyarakat. Bahkan sebaliknya, masyarakat mendapat kesempatan membuka lapangan kerja baru, sehingga diharapkan sektor ekonomi terutama usaha mikro dapat lebih berkembang dengan adanya konversi penggunaan sumber energi yang lebih ekonomis ini Untuk mendapatkan berbagai data dan informasi yang diperlukan guna berhasilnya pelaksanaan program konversi minyak tanah ke elpiji di Sumatera Utara, maka perlu dilakukan Kajian Konversi Minyak Tanah ke Gas Elpiji di Sumatera Utara.

1.2.

Perumusan Masalah Beberapa permasalahan yang dapat dirumuskan dalam Kajian Konversi

Minyak Tanah ke Gas Elpiji di Sumatera Utara, adalah :

1.

Bagaimana kesiapan sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan konversi minyak tanah ke elpiji di Sumatera Utara?

2.

Bagaimana kesiapan stakeholders (Pemerintah Daerah, Pertamina dan Swasta) dalam pelaksanaan konversi minyak tanah ke elpiji di Sumatera Utara?

3.

Sejauhmana sosialisasi program konversi minyak tanah ke elpiji telah dilaksanakan di Sumatera Utara?

1.3.

Maksud dan Tujuan Penelitian Maksud dari kajian ini adalah untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan

program konversi minyak tanah ke gas elpiji di Sumatera Utara, sehingga dapat diterapkan dan dikembangkan untuk mendukung kebijakan diversifikasi energi di daerah. Adapun tujuan penelitian adalah : 1. Untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan program konversi minyak tanah ke gas elpiji di Sumatera Utara. 2. Untuk mengetahui kesiapan sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan konversi minyak tanah ke elpiji di Sumatera Utara 3. Untuk pengembangan program konversi minyak tanah ke gas elpiji di Sumatera Utara. 1.4. Manfaat Penelitian Dalam penelitian ini dapat diajukan beberapa manfaat yang dapat dijadikan pedoman sebagai berikut : 7

1.

Sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan kebijakan program konversi minyak tanah ke gas elpiji di Sumatera Utara.

2.

Sebagai bahan analisis untuk perbaikan kebijakan program konversi minyak tanah ke gas elpiji di Sumatera Utara

1.5.

Ruang Lingkup Ruang lingkup kegiatan Kajian Konversi Minyak Tanah ke Gas Elpiji di

Sumatera Utara, sebagai berikut : 1. Identifikasi data dan informasi serta permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan program konversi minyak tanah ke elpiji di Sumatera Utara. 2. Analisis terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi dalam program konversi minyak tanah ke elpiji di Sumatera Utara. 3. Solusi dan upaya-upaya perbaikan pelaksanaan program konversi minyak tanah ke gas elpiji di Sumatera Utara.

1.6.

Hasil yang diharapkan Pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat melahirkan beberapa

rekomendasi yang dapat digunakan untuk menentukan kebijakan program konversi minyak tanah ke gas elpiji di Sumatera Utara, di antaranya : 1. Kebijakan pelaksanaan program konversi minyak tanah ke gas elpiji di Sumatera Utara. 2. Diversifikasi program energi di Sumatera Utara.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Minyak Tanah dan Gas Elpiji Sebelum adanya elpiji dari pemerintah, keadaan masyarakat di Sumatera

Utara aman dan senang. Meskipun penduduknya ada yang memakai kayu bakar, kompor minyak dan elpiji. Penduduk yang memakai kayu bakar merupakan penduduk yang ekonominya minim atau kelas bawah. Sedangkan penduduk yang memakai kompor minyak termasuk penduduk kelas menengah. Masyarakat yang menggunakan elpiji tergolong masyarakat kelas atas. Dari perbedaan penduduk yang memakai alat memasak dalam kehidupan seharihari tidak menimbulkan masalah. Sejak ada konversi minyak tanah inilah, yang membuat masyarakat merasa takut, panik dan resah. Padahal masih pendataan subsidi elpiji, tindakan masyarakat hanya bisa merespon dan menggunjing pada pendistributor agar konversi minyak tanah dibatalkan. Meskipun masyarakat tidak berminat, pendistributor tetap mendata masyarakat dan mengasi kesempatan 2 minggu pada pendataan tersebut. Dengan batas yang ditentukan distributor, masyarakat mulai menyukai, karena subsidi ini diberi. Setelah elpiji dibagikan pada masyarakat, keadaannya masih ricuh sebab masyarakat belum menerapkan, kurang adanya pengalaman tentang elpiji, serta masih terpengaruh terhadap isu-isu yang mementingkan keuntungan sendiri.

Minyak tanah (bahasa Inggris: kerosene atau paraffin) adalah cairan hidrokarbon yang tak berwarna dan mudah terbakar. Dia diperoleh dengan cara distilasi fraksional dari petroleum pada 150C and 275C (rantai karbon dari C12 sampai C15). Pada suatu waktu dia banyak digunakan dalam lampu minyak tanah tetapi sekarang utamanya digunakan sebagai bahan bakar mesin jet (lebih teknikal Avtur, Jet-A, Jet-B, JP-4 atau JP-8). Sebuah bentuk dari minyak tanah dikenal sebagai RP-1 dibakar dengan oksigen cair sebagai bahan bakar roket. Nama kerosene diturunkan dari bahasa Yunani keros. Biasanya, minyak tanah didistilasi langsung dari minyak mentah membutuhkan perawatan khusus, dalam sebuah unit Merox atau hidrotreater, untuk mengurangi kadar belerang dan pengaratannya. Minyak tanah dapat juga diproduksi oleh hidrocracker, yang digunakan untuk memperbaiki kualitas bagian dari minyak mentah yang akan bagus untuk bahan bakar minyak. Penggunaanya sebagai bahan bakar untuk memasak terbatas di negara berkembang, setelah melalui proses penyulingan seperlunya dan masih tidak murni dan bahkan memilki pengotor (debris). Minyak tanah digunakan untuk mengusir koloni serangga sosial, seperti semut, atau mengusir kecoa. Selain itu, beberapa pembasmi serangga bermerek juga menggunakan minyak tanah sebagai komponennya. Keuntungan Minyak Tanah:

Perlu kompor, yang harganya relatif lebih murah Dapat dibeli secara eceran

10

Kerugian Minyak Tanah:


Lebih repot dalam penggunaan Berasap dan berjelaga Meninggalkan kotor pada tembok Menyebabkan polusi Dapat menyebabkan bau pada makanan Perlu waktu untuk memanaskan kompor Dari sisi penghematan, menggunakan ELPIJI lebih hemat daripada minyak

tanah. Penghematan untuk pemakaian rumah tangga mencapai Rp. 24.000 / bulan. Hal ini dikarenakan ELPIJI lebih efisien dan mempunyai pembakaran yang lebih sempurna, seperti diperlihatkan pada tabel berikut. Tabel 1.1. Penghematan Minyak Tanah ke Gas Elpiji Bahan Bakar Kayu Bakar Arang Minyak Tanah Elpiji Daya Pemanasan (Kcal/Kg) 4000 8000 10479 11255 Efisiensi Apparatus (%) 15 15 40 53 Daya Panas Bermanfaat (Kcal/Kg) 600 1200 4192 5965

Sumber : PT. Pertamina (Persero)

Pengertian LPG (Gas Elpiji) LPG (Liquefied Petroleum Gas) adalah merupakan gas hasil produksi dari kilang minyak atau kilang gas, yang komponen utamanya adalah gas propane

11

(C3H8) dan butane (C4H10) yang dicairkan. Pertamina memasarkan LPG sejak tahun 1969 dengan merk dagang ELPIJI. Jenis LPG berdasarkan komposisi propane dan butane Berdasarkan komposisi propane dan butane, LPG dapat dibedakan menjadi tiga macam : 1. 2. 3. LPG propane, yang sebagian besar terdiri dari C3 LPG butane, yang sebagian besar terdiri dari C4 Mix LPG, yang merupakan campuran dari propane dan butane.

Kegunaan LPG LPG butane dan LPG mix biasanya dipergunakan oleh masyarakat umum untuk bahan bakar memasak, sedangkan LPG propane biasanya dipergunakan di industri-industri sebagai pendingin, bahan bakar pemotong, untuk menyemprot cat dan lainnya.

Sifat Umum ELPIJI PERTAMINA adalah: 1. Tekanan gas ELPIJI cukup besar, bila bocor segera membentuk gas, memuai dan mudah terbakar. 2. ELPIJI menghambur secara perlahan sehingga sukar mengetahuinya secara dini. 3. Berat jenis ELPIJI lebih besar daripada udara sehingga cenderung bergerak ke bawah. 4. 5. ELPIJI tidak mengandung racun. Berbau, sehingga mudah mendeteksi adanya kebocoran.

12

Tabung ELPIJI PERTAMINA Tabung ELPIJI PERTAMINA didesain dengan memperhatikan standar keamanan dan kepraktisan, serta sudah memenuhi standar pengujian yang berlaku. Tabung ELPIJI PERTAMINA diproduksi oleh Pabrik Tabung ELPIJI PERTAMINA di Plumpang, Jakarta, atau oleh pabrikan swasta lainnya yang ditunjuk oleh PERTAMINA dengan standarisasi yang telah ditetapkan. Saat ini terdapat 3 jenis tabung ELPIJI PERTAMINA :

ELPIJI kemasan 3 kg, berwarna hijau, untuk LPG bersubsidi pengganti minyak tanah

ELPIJI kemasan 12 kg, berwarna biru, biasanya digunakan oleh rumah tangga ELPIJI kemasan 50 kg, berwarna biru, biasanya digunakan oleh kalangan komersial (hotel, restoran) atau rumah tangga dengan konsumsi LPG yang cukup besar.

LPG Pressurized dan Refrigerated Pada suhu kamar, LPG akan berbentuk gas. Pengubahan bentuk LPG menjadi cair adalah untuk mempermudah pendistribusiannya. Berdasarkan cara pencairannya, LPG dibedakan menjadi dua, yaitu LPG Refrigerated dan LPG Pressurized. LPG Pressurized adalah LPG yang dicairkan dengan cara ditekan (4-5 kg/cm2). LPG jenis ini disimpan dalam tabung atau tanki khusus bertekanan. LPG jenis inilah yang banyak digunakan dalam berbagai aplikasi di rumah tangga dan

13

industri, karena penyimpanan dan penggunaannya tidak memerlukan handling khusus seperti LPG Refrigerated. LPG Refrigerated adalah LPG yang dicairkan dengan cara didinginkan (titik cair Propane + -42C, dan titik cair Butane + -0.5C). LPG jenis ini umum digunakan untuk mengapalkan LPG dalam jumlah besar (misalnya, mengirim LPG dari negara Arab ke Indonesia). Dibutuhkan tanki penyimpanan khusus yang harus didinginkan agar LPG tetap dapat berbentuk cair serta dibutuhkan proses khusus untuk mengubah LPG Refrigerated menjadi LPG Pressurized.

Gambar 2.1. Tabung Gas Elpiji

1.

Liquefied Petroleum Gas (LPG) PERTAMINA dengan brand ELPIJI, merupakan gas hasil produksi dari kilang minyak (Kilang BBM) dan Kilang gas, yang komponen utamanya adalah gas propana (C3H8) dan butana (C4H10) lebih kurang 99% dan selebihnya adalah gas pentana (C5H12) yang dicairkan. ELPIJI lebih berat dari udara dengan berat jenis sekitar 2,01 (dibandingkan dengan udara), tekanan uap Elpiji cair dalam tabung sekitar 5,0 6,2 Kg/cm2.

2.

Perbandingan komposisi, propana (C3H8) : butana (C4H10) = 30 : 70 14

3. 4.

Nilai kalori : + 21.000 BTU/lb Zat mercaptan biasanya ditambahkan kepada LPG untuk memberikan bau yang khas, sehingga kebocoran gas dapat dideteksi dengan cepat.

5.

ELPIJI PERTAMINA dipasarkan dalam kemasan tabung (3 kg, 6 kg, 12 kg, 50 kg) dan curah.

2.2.

Sekilas tentang Program Konversi Minyak Tanah ke LPG Setiap tahunnya pemerintah menganggarkan dana + Rp. 50 trilyun untuk

mensubsidi BBM: minyak tanah, premium dan solar. Dari ketiga jenis bahan bakar ini, minyak tanah adalah jenis bahan bakar yang mendapat subsidi terbesar (lebih dari 50% anggaran subsidi BBM digunakan untuk subsidi minyak tanah). Dari tahun ke tahun anggaran ini semakin tinggi, karena trend harga minyak dunia yang cenderung meningkat. Secara teori, pemakaian 1 liter minyak tanah setara dengan pemakaian 0,57 kg LPG. Dengan menghitung berdasarkan harga keekonomian minyak tanah dan LPG, subsidi yang diberikan untuk pemakaian 0,57 kg LPG akan lebih kecil daripada subsidi untuk 1 liter minyak tanah. Secara nasional, jika program Konversi Minyak Tanah ke LPG berhasil, maka pemerintah akan dapat menghemat 15 20 Trilyun subsidi BBM per tahun. Manfaat lain yang dapat diperoleh dari Konversi Minyak Tanah ke LPG adalah :

Mengurangi kerawanan penyalahgunaan minyak tanah Mengurangi polusi udara di rumah/dapur Menghemat waktu memasak dan perawatan alat memasak

15

Dapat mengalokasikan minyak tanah untuk bahan bakar yang lebih komersil (misalnya bahan bakar pesawat/avtur)

Meningkatkan kualitas hidup masyarakat

Mekanisme Pengalihan Pemerintah membagikan gratis peralatan memasak kepada rumah tangga pengguna minyak tanah :

1 set kompor 1 pit (berikut selang + regulator) 1 tabung 3 kg dan isi perdana

Pembagian peralatan memasak tersebut dilakukan untuk setiap wilayah tertentu (Kelurahan/Kecamatan). Wilayah yang sudah dibagikan peralatan memasak dengan LPG akan ditarik/dikurangi jatah minyak tanah yang disalurkan oleh Pangkalan di daerah tersebut. Sebenarnya, sudah sejak awal permasalahan distribusi BBM berpusat pada lemahnya pengawasan. Dari segi yuridis, mekanisme pengawasan seperti yang dikemukakan oleh UU RI No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi nampak sangat problematis. Dikatakan dalam Pasal 41 bahwa pengawasan dilaksanakan oleh Badan Pengatur yang biaya operasionalnya dijelaskan dalam Pasal 48 yaitu untuk pertama kalinya dibiayai oleh APBN, tetapi untuk selanjutnya dibiayai oleh aktor-aktor yang diawasinya. Pengawasan dilakukan juga oleh Polri dan Pejabat PNS Migas (Pasal 50), hanya dalam pelaksanaannya, Pejabat PNS Migas itu harus melapor kepada Polri bila melakukan penyidikan atas laporan atau temuan penyimpangan distribusi BBM dan untuk selanjutnya

16

hasil penyidikan diserahkan kepada Polri untuk disidik kembali sebelum diserahkan kepada Kejaksaan. Ada 2 persoalan dalam produk hukum ini yaitu bagaimana mungkin Badan Pengatur bisa melakukan tugas pengawasan bila dalam melaksanakan tugasnya badan ini dibiayai oleh mereka yang diawasi? Selanjutnya, adanya 3 lembaga pengawas yaitu Badan Pengatur, Polri dan Pejabat PNS Migas tanpa disertai aturan main bagi ketiganya dalam undang-undang ini, pada gilirannya akan ditafsirkan dengan mengacu pada UU RI. Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri Pasal 14 bahwa Polri sebagai lembaga yang paling berhak melakukan pengawasan distribusi BBM. Kedua lembaga lain tetap subordinasi terhadap Polri. Dalam tataran teoritis, persoalannya adalah tidak ada lembaga yang bisa mengawasi tugas pengawasan yang dilakukan oleh Polri dalam pendistribusian BBM. Persoalan pengawasan merupakan persoalan klasik bagi aktivitas negara modern, terlebih ketika aktivitas negara itu didelegasikan kepada lembaga pada level bawah, lengkap dengan segala kewenangannya. Untuk kasus distribusi BBM di Indonesia, persoalannya tidak hanya menyangkut masalah pengawasan saja, tetapi meluas pada lemahnya negara untuk menjalankan cakupan bidang-bidang pekerjaan yang diklaim sebagai bidang pekerjaan negara. Dari perumusan kebijakan distribusi BBM, UU RI Nomor 2 Tahun 2002 tentang Migas menyatakan bahwa pendistribusian minyak merupakan bidang tugas pemerintah Pasal tetapi didelegasikan kepada aktor-aktor seperti BUMN, BUMD, Koperasi dan Swasta (Pasal 9). Namun karena mekanisme pengawasan sendiri menimbulkan persoalan yaitu persoalan pembiayaan dan persoalan mekanisme

17

kerjasama dari 3 lembaga yang disebut sebagai pengawas, pelaksanaan di lapangan menjadi semakin tidak jelas. Oleh karena itu terjadilah beberapa praktek penyimpangan seperti penyimpangan pemasangan segel pada truk tangki yaitu segel tidak dipasang pada kran tangki tetapi dikantongi oleh sopir truk tangki, pemalsuan surat DO (Delivery Order), volume muatan yang bisa dilebihkan dari yang seharusnya dengan membayar sejumlah uang kepada petugas Pertamina di bagian pengisian. Akibatnya, terjadi penyimpangan dalam distribusi minyak tanah seperti distribusi minyak tanah bersubsidi kepada industri secara langsung atau kepada pengelola minyak oplosan, baik seluruhnya atau sebagian kecil sebagai akibat muatan yang dilebihkan, dan hasil oplosan ini pada gilirannya juga akan dijual kepada industri. Dalam banyak kasus ditemukan fakta bahwa

penyimpangan itu melibatkan Polri mulai dari pengawalan truk tangki illegal sampai kepada backing usaha oplosan. Berbagai bentuk penyimpangan distribusi BBM ini pada gilirannya akan merugikan rakyat kecil sebab jumlah minyak tanah yang seharusnya disediakan untuk mereka menjadi semakin berkurang, sementara pagu yang ditetapkan oleh pemerintah untuk minyak tanah yang disubsidi tetap yaitu 9,9 juta kiloliter. Menghilangnya minyak tanah dari peredaran di tengah masyarakat lebih banyak diakibatkan oleh penyimpangan ini. Penyimpangan itu disebabkan oleh lemahnya perumusan kebijakan seperti tertuang dalam Undang-undang, lemahnya pengawasan dalam pelaksanaan, lemahnya penegakkan hukum, tidak ada adanya mekanisme untuk mengontrol penyogokan, korupsi dan penyuapan. Dalam kacamata Francis Fukuyama, persoalan distribusi minyak tanah dan juga BBM

18

berada dalam kuadran IV yaitu lingkup fungsi negara yang sangat luas dengan kekuatan lembaga negara yang sangat lemah. Lemahnya negara ini juga semakin nampak ketika hukum tidak mampu menjangkau personel TNI yang terlibat dalam pem-backing-an distribusi BBM karena sampai saat ini militer berada di luar struktur hukum umum dan masih berada dalam yurisdiksi hukum militer.

2.3. Konversi Minyak Tanah ke Gas Elpiji (LPG)

Program kebijakan pemerintah ini merupakan program pengalihan subsidi dan penggunaan minyak tanah oleh masyarakat ke gas LPG 3 Kg melalui pembagian paket LPG 3 Kg beserta isi, kompor, regulator dan selang secara gratis kepada masyarakat yang memiliki kriteria yang sudah ditentukan sebelumnya. Program ini dilaksanakan oleh pemerintah dengan maksud untuk mengatisipasi semakin menipisnya cadangan minyak bumi di Indonesia dan terus

melambungnya harga minyak dunia. Kemudian selain itu program ini juga bertujuan untuk mengurangi beban subsidi BBM yang terlalu besar, khususnya subsidi bagi minyak tanah. Terakhir, program ini secara teknis terbukti lebih mudah digunakan, lebih hemat, lebih aman dan lebih ramah lingkungan. Program konversi ini memiliki target sasaran rumah tangga dan usaha mikro. Target rumah tangga yang dikenakan program konversi ini antara lain adalah: ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan, pengguna minyak tanah murni, kelas sosial C1 ke bawah (keluarga yang penghasilannya kurang dari 1,5 juta Rupiah perbulan), serta penduduk yang sah pada daerah tempat konversi tersebut dilakukan. Sedangkan Usaha Mikro yang dikenakan program konversi ini antara lain harus memiliki syarat: usaha mikro yang menggunakan minyak tanah 19

sebagai bahan produksinya, penduduk legal dari tempat konversi dilakukan serta memiliki surat keterangan usaha dari pemerintah kelurahan setempat. Program konversi ini dilaksanakan dengan melibatkan beberapa institusi, yaitu antara lain adalah Kementrian Negara Koperasi dan UKM sebagai insitusi pengadaan kompor dan akesorisnya serta mendistribusikannya ke masyarakat yang bekerja sama dengan P.T Pertamina. Pihak kedua adalah P.T. Pertamina yang bertugas menyediakan tabung dan isi LPG. Pihak ketiga adalah Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan yang bertugas mensosialisasikan konversi ini terhadap masyarakat luas. Pada praktiknya, P.T. Pertamina menjadi koordinator dalam proses konversi minyak tanah ke LPG 3 Kg. Dengan demikian, pemerintah mencoba mengkonversikan penggunaan sekitar 5,2 juta kiloliter minyak tanah kepada penggunaan 3,5 juta ton LPG hingga tahun 2010 mendatang yang dimulai dengan 1juta kilo liter minyak tanah pada tahun 2007. Langkah ini bisa dipahami cukup strategis mengingat setelah penghapusan subsidi bensin dan solar, permintaan terhadap minyak tanah tidak mengalami penurunan. Kampanye pemakaian kompor gas LPG (liquid petroleum gas) atau lebih popular disebut elpiji yang telah berlangsung beberapa bulan ternyata belum sesuai harapan. Selain karena tingkat pemahaman masyarakat yang terbatas, juga sangat terkait dengan budaya atau kebiasaan. Masyarakat kita tidak gampang untuk diyakinkan berubah, apalagi meninggalkan cara-cara lama yang digelutinya selama ini. Meyakinkan masyarakat terutama ibu-ibu untuk segera beralih dari menggunakan kompor minyak tanah ke kompor gas elpiji, jelas membutuhkan

20

waktu. Tidak semua masyarakat bisa menangkap dan percaya bahwa menggunakan elpiji jauh lebih murah daripada minyak tanah. Masyarakat umum telanjur menganggap bahwa harga elpiji terlalu mahal dan hanya bisa dijangkau kalangan tertentu. Karena itu, sosialisasi penggunaan elpiji harus menempuh berbagai cara dan bahasa yang mudah dipahami. Seperti berulangkali disampaikan pemerintah, salah satu tujuan kampanye konversi penggunaan minyak tanah ke elpiji adalah untuk menekan subsidi minyak tanah yang nilainya masih sangat besar. Selama ini harga berbagai jenis BBM lainnya sudah mengikuti harga pasar, sedangkan minyak tanah masih disubsidi pemerintah sehingga harganya bisa dijangkau masyarakat. Persoalan yang muncul kemudian, dengan adanya subsidi minyak tanah bukan berarti masyarakat sudah merasa terbantu. Harga minyak tanah di pasaran tetap dianggap mahal. Aturan dan pelaksanaan di lapangan seringkali tidak sesuai. Bahkan, harga eceran tertinggi (HET) seringkali dilanggar pengecer (agen) atau pangkalan dengan alasan stok berkurang. Posisi konsumen minyak tanah tetap lemah. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan pemerintah adalah dampak dari konversi minyak tanah ke elpiji. Kebijakan ini jelas akan membuat industri kompor minyak tanah gulung tikar. Kalau semua sudah pakai kompor elpiji, siapa yang akan beli kompor minyak tanah? Agar tidak terjadi pengangguran, perlu dipikirkan kebijakan lain misalnya memberi pinjaman lunak kepada mereka untuk menekuni usaha lain.

21

Industri pembuatan kompor minyak tanah termasuk dalam kelompok usaha kecil dan menengah (UKM) yang perlu mendapat perhatian khusus. Keberadaan mereka sangat strategis karena terkait lapangan kerja. Kalau semua usaha ini gulung tikar secara serentak pasti akan menimbulkan masalah, terutama terjadinya pengangguran. Kita berhadap kebijakan ini berjalan lancar tanpa mengorbankan usahausaha rakyat, termasuk industri kompor minyak tanah. Upaya pemerintah untuk mengurangi subsidi terhadap minyak tanah yang dianggap terlalu membebani anggaran pemerintah selama ini adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar kalau kebijakan itu justru membuat persoalan baru yang berdampak pada

ketidakstabilan dalam masyarakat.

2.4.

Efektivitas Penggunaan LPG dibanding Minyak Tanah Mengingat masih awamnya penggunaan LPG bagi masyarakat di

Sumatera Utara maka program ini memerlukan beberapa tahapan mulai dari pengenalan, sosialisasi, sampling area sampai pada perluasan program konversi. Penggunaan LPG 3 kg sebagai pengganti minyak tanah secara bertahap mulai dilaksanakan sejak awal tahun 2007. Pertamina menargetkan mendistribusikan LPG 3 kg hingga 567.767 ton pada 2007 yang diharapkan dapat mengkonversi sekitar 988.000 kiloliter minyak tanah. Perluasan uji pasar ini didasarkan atas keberhasilan pelaksanaan uji pasar sebelumnya pada Agustus 2008 di kecamatan medan labuhan, yang meliputi 500 KK. Dari uji tersebut terkumpul data 99% responden menyatakan akan tetap

22

menggunakan LPG 3 kg dan tidak akan menggunakan minyka tanah lagi.87,8% menyatakan bahwa LPG dapat digunakan lebih hemat dibandingkan minyak tanah, karena pengisi ulang untuk 1 tabung LPG dilakukan setelah 7 hari. Perbandingannya 1 tabung LPG setara dengan 5,22 liter minyaktanah dalam 5 hari. Dengan perhitungan pemakaian minyak tanah 1 liter per hari, maka LPG lebih hemat 97,4%, LPG 3 kg dapat menghemat sekitar Rp. 3000,- per minggu. Alokasi minyak tanah akan ditarik setara dengan jumlah energi LPG yang disalurkan. Ukuran kesetaraan yang telah ditetapkan adalah 1 kg LPG = 1,74 liter minyak tanah. Bila masyarakat sudah meninggalkan minyak tanah, pemerintah Indonesia memang mendapatkan kebaikan karena peningkatan efisiensi. Dalam

perbandingan subsidi, untuk minyak tanah adalah sebanyak Rp. 36,65 trilyun, sementara untuk LPG Rp. 16,53 trilyun. Artinya pemerintah Indonesia bisa berhemat sekitar Rp. 20 trilyun bahkan bisa lebih besar. Hal tersebut didukung pula dengan fakta bahwa harga minyak tanah Rp.2.500,-/liter sedangkan elpiji hanya Rp. 1.800,-/liter sehingga dengan menggunakan elpiji akan lebih murah bila dibandingkan dengan minyak tanah. Kalau untuk satu keluarga menggunakan minyak tanah 30 liter per bulan maka akan mengeluarkan biaya sebesar Rp. 75.000 ,- sedangkan kalau pakai elpiji hanya 12 kilogram dengan harga Rp. 40.000,- hingga Rp. 50.000,- maka akan ada penghematan sebesar Rp. 25.000,-/bulan. Berdasarkan fakta, kebutuhan minyak tanah adalah 10 juta kiloliter per tahun. Subsidinya hingga Rp. 600 milyar per tahun. Kalau tidak diatasi hal ini

23

merupakan salah satu komponen pembangkrut negara. Namun demikian, rangkaian kekacauan konversi minyak tanah ke LPG, karena kurangnya komitmen petinggi-petinggi negara yang diserahi amanah kepada detail-detail persiapan, perencanaan, sosialisai, komunikasi dan koordinasi dengan berbagai pihak.

2.5.

Peraturan Pemerintah Pemerintah dipusingkan bukan hanya oleh rumitnya merancang

pembangunan dan menentukan prioritas dalam penyusunan RAPBN, tetapi juga dengan besarnya subsidi terutama BBM yang harus ditanggung setiap tahun. Karena itulah, pemerintah bersama DPR telah bersepakat untuk menghapuskan subsidi BBM secara bertahap seperti tertuang dalam UU No. 25/2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas). Meskipun demikian, subsidi minyak tanah dikecualikan. Dengan kata lain, meski telah menerapkan harga pasar untuk bensin dan solar, pemerintah masih mensubsidi minyak tanah untuk keperluan masyarakat berpendapatan rendah dan industri kecil. Namun subsidi minyak tanah dalam dua tahun terakhir masih terasa memberatkan karena besarnya volume yang harus disubsidi, seiring dengan berbagai krisis dan transisi yang terjadi dalam managemen energi nasional. Kondisi ini diperberat pula dengan bertahannya harga minyak dunia pada kisaran USD 50-60 per barel.Seperti yang kita ketahui, saat ini Pemerintah Indonesia berencana mengonversi penggunaan sekitar 5,2 juta kiloliter (kl) minyak tanah kepada penguanaan 3,5 juta ton Liquefird Petroleum Gas (LPG) hingga tahun 2010 mendatang yang dimulai dengan 1 juta kl minyak tanah pada tahun 2007.

24

Distribusi BBM berpusat pada lemahnya pengawasan. Dari segi yuridis, mekanisme pengawasan seperti yang dikemukakan oleh UU RI No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi nampak sangat problematis. Dikatakan dalam Pasal 41 bahwa pengawasan dilaksanakan oleh Badan Pengatur yang biaya operasionalnya dijelaskan dalam Pasal 48 yaitu untuk pertama kalinya dibiayai oleh APBN, tetapi untuk selanjutnya dibiayai oleh aktor-aktor yang diawasinya. Pengawasan dilakukan juga oleh Polri dan Pejabat PNS Migas (Pasal 50), hanya dalam pelaksanaannya, Pejabat PNS Migas itu harus melapor kepada Polri bila melakukan penyidikan atas laporan atau temuan penyimpangan distribusi BBM dan untuk selanjutnya hasil penyidikan diserahkan kepada Polri untuk disidik kembali sebelum diserahkan kepada Kejaksaan. Ada 2 persoalan dalam produk hukum ini yaitu bagaimana mungkin Badan Pengatur bisa melakukan tugas pengawasan bila dalam melaksanakan tugasnya badan ini dibiayai oleh mereka yang diawasi? Selanjutnya, adanya 3 lembaga pengawas yaitu Badan Pengatur, Polri dan Pejabat PNS Migas tanpa disertai aturan main bagi ketiganya dalam undang-undang ini, pada gilirannya akan ditafsirkan dengan mengacu pada UU RI. Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri Pasal 14 bahwa Polri sebagai lembaga yang paling berhak melakukan pengawasan distribusi BBM. Kedua lembaga lain tetap subordinasi terhadap Polri. Dalam tataran teoritis, persoalannya adalah tidak ada lembaga yang bisa mengawasi tugas pengawasan yang dilakukan oleh Polri dalam pendistribusian BBM. Pemerintah Indonesia memutuskan untuk mengkonversi seluruh

penggunaan minyak tanah dalam keperluan rumah tangga ke alternatif bahan

25

bakar gas, ini merupakan suatu keputusan yang diambil sesudah mempelajari beberapa alternatif lain misalnya, memprioritaskan pendidikan dan pembangunan infrastruktur lainnya. Artinya, pengkonversian ini didasari oleh alasan Indonesia memiliki sumber daya alam gas yang relatif lebih banyak dibanding dengan minyak tanah. Selain itu, subsidi minyak tanah senilai 30 trilin rupiah bisa dihemat untuk keperluan lain seperti pendidikan dan pembangunan lain.

2.6.

Pengawasan LPG Bersubsidi Departemen ESDM bertanggungjawab dalam pengawasan penyediaan dan

pendistribusian LPG tabung 3 kg yang merupakan pengalihan dari minyak tanah bersubsidi. Pengawasan ini melibatkan berbagai instansi terkait antara lain Pemda, Lembaga Independen, serta Badan Usaha yang ditunjuk untuk melaksanakan penyediaan dan pendistribusian LPG tabung 3 kg tersebut. Dalam melakukan pembagian paket LPG bersubsidi perdana kepada masyarakat penguna minyak tanah, dilakukan koordinasi dengan melibatkan Pemda setempat. Sehingga semua masyarakat pengguna minyak tanah dapat digantikan dengan LPG. Pengawasan dalam pengurangan kuota minyak tanah untuk daerah yang akan dikonversi melibatkan Badan Pengatur yang mempunyai tanggungjawab dalam pengawasan penyediaan dan pendistribusian minyak tanah bersubsidi. Tujuan pengawasan tersebut adalah untuk menghindari kelangkaan minyak tanah dimasyarakat. Pengawasan dalam kegiatan penyediaan dan pendistribusian LPG melibatkan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) serta Lembaga Independen dan 26

Pemda. Lembaga Independen disini selain bertujuan untuk mengawasi juga melakukan verifikasi realisasi volume LPG bersubsidi sebagai referensi bagi Departemen Keuangan dalam pembayaran subsidi kepada Badan Usaha pelaksana. Untuk pengawasan program konversi di Provinsi Sumatera Utara berjalan sesuai rencana, maka Pertamina menjalin kerja sama dengan tujuh perusahaan sebagai konsultan yaitu PT. Nandhita Graha, PT. Pos Indonesia, PT. Multi Grahita Nusantara, PT. Marketing Sentra, PT. Info Cahaya, PT. Surveyor Indonesia dan PT. Pranata UI. (lin)

27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1.

Jenis Penelitian Kajian Penelitian Konversi Minyak Tanah ke Elpiji (Gas) di Sumatera

Utara adalah Provinsi Sumatera Utara dilakukan dengan metode deskriptif yang akan mengkaji Konversi Minyak Tanah ke Elpiji (Gas) di Sumatera Utara guna melihat berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan program konversi minyak tanah ke gas elpiji, mengetahui kesiapan sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan konversi minyak tanah ke elpiji, dan bagaimana pengembangannya di Sumatera Utara.

3.2.

Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan dari bulan Juli hingga Oktober

2009, di beberapa lokasi kegiatan Kajian Konversi Minyak Tanah ke Gas Elpiji di Sumatera Utara, antara lain di Kabupaten Langkat, Kota Binjai, Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Serdang Bedagai.

3.3.

Metode Pendekatan Studi Dalam melaksanakan kajian ini digunakan berbagai pendekatan studi,

studi lapangan yang mencakup berbagai aspek data dan informasi serta publikasi yang terkait dengan konversi minyak tanah ke elpiji.

28

3.4.

Metode Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan merupakan data primer dan sekunder yang

diperoleh dari berbagai publikasi yang berasal dari stakeholders dan berbagai informasi yang terkait dengan konversi minyak tanah ke elpiji. Data lainnya yang dikumpulkan merupakan data dan informasi yang diperoleh langsung dari lapangan dan hasil koordinasi dengan instansi terkait serta melalui studi literatur. Pelaksanaan pengumpulan data dibagi dua tahapan yaitu : pembuatan instrumen pengumpulan data dan kegiatan pengumpulan data.

3.5.

Teknik Analisis Data Data terkumpul disusun dan ditabulasi sesuai dengan kebutuhan analisis.

Teknik analisis yang digunakan dalam kegiatan kajian ini adalah analisis statistik deskriptif.

29

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Pengumpulan Data Sebanyak 113 agen dari 116 yang sudah didata Pertamina Region I

Sumatera dinyatakan siap menjadi distributor tabung LPG 3 kilogram kepada masyarakat. Seluruh agen ini telah mendapat izin prinsip sementara dari Pertamina untuk melakukan penebusan/pengisian LPG di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) yang akan dimulai Mei 2009. Program konversi minyak tanah ke LPG (elpiji) di Provinsi Sumatera Utara, sudah ada 113 agen yang dinyatakan siap mendistribusikan LPG, Karena, sampai kini prosesnya masih tahap sosialisasi, belum kepada tahap distribusi ataupun tahap penarikan minyak tanah, ke 113 agen LPG itu pada awalnya merupakan agen minyak tanah. Dari 30 kabupaten dan kota yang ada di Sumatera Utara, yang dinilai lebih siap untuk melakukan program konversi ini masih lima daerah. Yakni Langkat, Binjai, Deli Serdang, Serdang Bedagai dan Medan. Dari kelimanya, Langkat dinilai paling siap. Dari lima daerah itu pelaksanaan konversi tetap tidak akan menghilangkan keberadaan minyak tanah. Hanya minyak tanah bersubsidi yang ditarik secara bertahap. Dengan kata lain, minyak tanah tetap ada tapi dengan harga ekonomis antara Rp. 6.000,- Rp. 7.000,- per liter,. Terkait keandalan stok LPG, bahwa proses pengisian tabung LPG berbobot 3 Kg, akan dilakukan di sejumlah SPBE yang telah dibangun pihak swasta. Hingga kini, di lima daerah di Sumut itu telah dibangun 5 SPBE yang nantinya menjadi suplai poin tahap

30

pertama dari dua tahap pelaksanaan program konversi minyak tanah ke LPG di Provinsi Sumatera Utara. Nantinya, seluruh daerah di Sumatera Utara akan ada SPBE (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji). Namun untuk kini yang baru terbangun masih lima ditambah SPBE di Belawan dan satu depot di Tandem Hulu, Minyak tanah bersubsidi ditarik dari peredaran, maka masyarakat sudah benar-benar tidak mengeluh untuk menggunakan LPG, khususnya terkait keandalan stok di lapangan.

Sumber : Berdasarkan data Susenas BPS 2006

Gambar 2.2. Peta Lokasi Gas Domestik Regional I Sumatera Utara

Upaya pemerintah untuk mengurangi subisidi minyak tanah dan mengalihkannya ke LPG merupakan keputusan rasional yang perlu didukung oleh semua pihak. Pemerintah telah melaksanakan program pengalihan minyak tanah ke LPG yang dimulai tahun 2007. Salah satu bentuk realisasi program pengalihan

31

minyak tanah ke LPG yang dilakukan pemerintah adalah dengan melakukan pembagian Paket LPG Tabung 3 Kg yang terdiri dari tabung LPG 3 Kg beserta katup/valve termasuk isi perdana dan kompor gas satu tungku beserta assesorisnya (selang gas dan regulator) secara cuma-cuma kepada rumah tangga dan usaha mikro yang berhak menerima. Pembagian paket LPG Tabung 3 Kg diberikan kepada masyarakat yang selama ini menggunakan bahan bakar minyak tanah maupun lainnya selain gas, dengan demikian diperlukan pendataan terhadap calon penerima paket tersebut. Karakteristik wilayahpun perlu didata sehingga distribusi paket memenuhi sasaran (baik jumlah dan pengguna) serta merata untuk seluruh wilayah. Metode pendataan calon penerima paket berdasarkan petunjuk yang telah ditetapkan yaitu dengan melaksanakan survey langsung ke lapangan dan dikoordinasikan dengan otoritas setempat seperti Kepala Desa, Kepala Kampung, RW dan RT. Hasil survey lapangan akan diverifikasi dan dimusyawarahkan dengan pihak-pihak terkait untuk menghasilkan daftar penerima paket LPG Tabung 3 kg. Data tersebut diintegrasikan menjadi suatu database tingkat propinsi. Program konversi di wilayah Sumut yang diterapkan di 12 kabupaten dan kota se Sumut akan menjangkau 2.035.250 (Kelurahan) keluarga yang tersebar di Asahan (205.933), Deli Serdang (454.885), Karo (75.896), Labuhanbatu (202.656), Langkat (208.889), Sergai (164.727) dan Simalungun (188.327). Kemudian Binjai (48.232), Medan (381.396), Pematang Siantar (46.410), Tanjung Balai (29.247) dan Tebing Tinggi (28.652). Jumlah KK yang akan

32

disurvey ini merupakan data indikasi calon penerima paket LPG tabung 3 Kg baik kategori rumah tangga maupun usaha mikro/informal.

Gambar 2.3. Skema Pembagian Paket Kompor Gas dan Tabung Elpiji 3 kg

a)

Pertamina menentukan daerah yang akan dikonversi, berdasarkan kesiapan infrastruktur

b)

Pertamina berkoordinasi dengan Pemda setempat mengenai pelaksanaannya, dan melakukan sosialisasi dengan Agen dan Pangkalan Minyak Tanah di daerah yang akan dikonversi

c)

Agen Minyak Tanah mengajukan permohonan menjadi Agen Elpiji 3 kg ke Pertamina disertai kelengkapan administrasi dan daftar Pangkalannya yang akan dikonversi menjadi Pangkalan Elpiji 3 kg.

d)

Konsultan memberikan jadwal pelaksanaan pancacahan dan distribusi di daerah terkait ke Pertamina.

e)

Pertamina memberikan persetujuan pengangkatan Agen Elpiji 3 kg sementara dan menyetujui jadwal pelaksanaan pencacahan dan distribusi konsultan ke masyarakat.

f)

Agen Elpiji 3 kg melakukan penebusan tabung Elpiji 3 kg baru ke Depot Pertamina untuk stok di Gudang dan Pangkalan Elpiji 3 kg-nya

33

g)

Apabila Agen Minyak Tanah sampai dengan H+10 setelah distribusi belum mengajukan permohonan menjadi Agen Elpiji 3 kg, maka akan disiapkan surat pernyataan tidak bersedia menjadi Agen Elpiji 3 kg untuk ditandatangani.

Jalur Distribusi Elpiji 3 Kg

Gambar 2.4. Jalur Distribusi Elpiji 3 Kg

Keterangan:

LPG FP (LPG Filling Plant) Pertamina adalah stasiun pengisian LPG milik Pertamina, yang mengisi Elpiji curah ke dalam tabung Elpiji 3 kg.

Filling Plant Swasta/SPPBE (Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji) adalah stasiun pengisian LPG milik swasta. Seperti halnya LPG FP Pertamina, SPPBE bertugas untuk mengisi Elpiji curah ke dalam tabung Elpiji 3 kg.

Agen Elpiji 3 kg membeli Elpiji dalam kemasan tabung 3 kg ke Pertamina dan menjualnya kepada konsumen, langsung atau tidak langsung melalui Pangkalan Elpiji 3 kg. 34

Agen Elpiji 3 kg mendapatkan margin Rp .100/kg dan transportation fee Rp. 390,10 per kg, sedangkan Pangkalan mendapatkan margin Rp .300 per kg.

Gambar 2.5. Pengisian tabung elpiji 3 kilogram di Filling Plant Elpiji Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE)

4.2. Pandangan Pemerintah Terhadap Program Konversi Pemerintah menerapkan kebijakan konversi energi melalui berbagai pertimbangan, bukan sekadar proyek tanpa perencanaan. Konversi penggunaan minyak tanah memang harus dilaksanakan secara berkesinambungan mengingat masih tingginya permintaan dan ketergantungan nasional terhadap BBM. Padahal, seluruh dunia sedang mengalami krisis energi akibat melambungnya harga minyak. Beban pemerintah akan membengkak jika harua tetep mengikuti kemauan masyarakat untuk mensubsidi BBM. Sebagai gambaran, harga minyak tanah di pasar adalah Rp. 5.660/liter, sedangkan pemerintah menjual dengan harga eceran tertinggi Rp. 2.250. Ini berarti terdapat selisih sebesar Rp. 3.410/liter yang harus ditanggung pemerintah. Kebutuhan minyak tanah bagi 50 juta kk Indonesia kurang lebih 9,9 juta kiloliter,

35

atau hamper 10 miliar liter tahun. Artinya, tiap tahun pemerintah mengeluarkan tidak kurang dari Rp. 34 trilyun hanya untuk menambah belanja minyak tanah. Tentu saja ini merupakan pengeluaran yang tidak sedikit dan harus diminimalisir demi efisiensi dan kesejahteraan bersama. Mengapa pemerintah memilih elpiji sebagai pengganti BBM? Sebelumnya pemerintah berencana untuk mengganti BBM dengan briket batubara namun ternyata batubara tidak lebih murah, langka di pasaran serta efek pembakarannya berakibat buruk bagi lingkungan. Elpiji dinilai sebegai energi yang bersih, praktis, cepat memanaskan, hemat dan aman. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pusat kajian Energi dan Sumberdaya mineral Universitas Trisakti, untuk memasak jenis masakan yang sama, biaya yang dikeluarkan dengan elpiji hanya 40% biaya memasak dengan minyak tanah. Elpiji dinilai bukanlah teknologi yang rumit dan mahal sehingga dapat dioperasikan dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat. Tabel 1.2. Perbandingan jenis energi dengan nilai rupiah yang dikeluarkan dalam konsumsi rumah tangga sehari-hari masyarakat. Jenis Elpiji Elpiji 3 Elpiji 12 Minyak Briket Uraian No Kg Kg Tanah Batubara (liter) (Kg) Pemakaian : Kg 0,6 0,6 1,5 6 1. atau Liter/Hari 2. Harga (Rp)/Kg Rupiah/Hari Perawatan Kompor/Tabung Distribusi Mudah Mudah Langka Langka 2.800,1.680,Mudah 2.500,1.500,Mudah 4.000,6.000,Sulit 900,5.400,Mudah

3. 4.

36

Dari tabel 1.2. dapat dilihat bahwa elpiji merupakan energi yang paling murah, mudah didapatkan serta memberikan keuntungan lain bagi masyarakat. Jadi, program konversi minyak ke elpiji adalah langkah tepat untuk mengantarkan masyarakat kita ke taraf sosial yang lebih baik. Masyarakat dapat menghemat, secara bersamaan pemerintah dapat mengalokasikan anggaran untuk bidang lain (kesehatan, pendidikan dan lain-lain) yang dapat mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

4.3. Perbandingan LPG dan Minyak Tanah LPG Keuntungan :


o o o o o o

Mudah digunakan dan dipindahkan Bersih dan ramah lingkungan Pembakaran mudah disesuaikan Temperatur panas yang tinggi Berbau khas Kompor tidak perlu dipanaskan terlebih dahulu

Kerugian :
o o

Memerlukan tabung yang harganya cukup mahal Memerlukan peralatan seperti kompor gas yang harganya lebih mahal dibandingkan dengan kompor biasa

Harus dibeli dalam satuan tertentu (tidak bisa eceran)

37

4.4. Minyak Tanah Keuntungan :


o o

Perlu kompor, yang harganya relatif lebih murah Dapat dibeli secara eceran

Kerugian :
o o o o o o

Lebih repot dalam penggunaan Berasap dan berjelaga Meninggalkan kotor pada tembok Menyebabkan polusi Dapat menyebabkan bau pada makanan Perlu waktu untuk memanaskan kompor Dari sisi penghematan, menggunakan ELPIJI lebih hemat daripada minyak

tanah. Penghematan untuk pemakaian rumah tangga mencapai Rp 24.000/bulan. Hal ini dikarenakan ELPIJI lebih efisien dan mempunyai pembakaran yang lebih sempurna, seperti diperlihatkan pada tabel 1.3. berikut.

Tabel 1.3. Perbandingan daya bakar beberapa sumber bahan bakar Daya Pemanasan Effisiensi Daya Panas Bahan Bakar (Kcal/Kg) Apparatus Bermanfaat (%) (Kcal/Kg) Kayu Bakar 4.000 15 600 Arang Minyak Tanah Elpiji 8.000 10.479 11.255 15 40 53 1.200 4.192 5.965

38

Sifat umum ELPIJI PERTAMINA adalah: 1. Tekanan gas ELPIJI cukup besar, bila bocor segera membentuk gas, memuai dan mudah terbakar. 2. ELPIJI menghambur secara perlahan sehingga sukar mengetahuinya secara dini. 3. Berat jenis ELPIJI lebih besar daripada udara sehingga cenderung bergerak ke bawah. 4. 5. ELPIJI tidak mengandung racun. Berbau, sehingga mudah mendeteksi adanya kebocoran.

Tabung ELPIJI PERTAMINA Tabung ELPIJI PERTAMINA didesain dengan memperhatikan standar keamanan dan kepraktisan, serta sudah memenuhi standar pengujian yang berlaku. Tabung ELPIJI PERTAMINA diproduksi oleh Pabrik Tabung ELPIJI PERTAMINA di Plumpang, Jakarta, atau oleh pabrikan swasta lainnya yang ditunjuk oleh PERTAMINA dengan standarisasi yang telah ditetapkan. Saat ini terdapat 3 jenis tabung ELPIJI PERTAMINA: a. ELPIJI kemasan 3 kg, berwarna hijau, untuk LPG bersubsidi pengganti minyak tanah b. c. ELPIJI kemasan 12 kg, berwarna biru, biasanya digunakan oleh rumah tangga ELPIJI kemasan 50 kg, berwarna biru, biasanya digunakan oleh kalangan komersial (hotel, restoran) atau rumah tangga dengan konsumsi LPG yang cukup besar.

39

4.5. Pandangan Masyarakat Kebijakan konversi minyak tanah ke gas merupakan usaha efisiensi dalam pemakaian energi. Rasionalisasi pemakaian energi merupakan upaya positif untuk menekan jumlah subsidi yang sangat besar tetapi disesalkan rakyat, kelangkaan terjadi ketika sedang berlangsung proses konversi. Kenyataannya, infrastruktur elpiji belum tertata sebaik infrastruktur minyak tanah yang sudah puluhan tahun dikonsumsi. Masalah menjadi bertambah rumit ketika beberapa pihak mencoba menggali keuntungan dengan cara menimbun minyak dalam jumlah besar dan menjual kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi. Tidak dilindunginya kepastian kesediaan produk membuat masyarakat merasa cemas untuk terus menggunakan elpiji. Beberapa orang bahkan kembali menggunakan kayu untuk memasak. Masalah yang timbul di lapangan mengenai kebijakan konversi sudah cukup banyak dan agaknya pemerintah masih belum terlalu siap untuk menghadapi hal semacam ini karena sampai sekarang belum ada mekanisme yang jelas dalam mengatasi masalah yang terjadi. Masalah kelangkaan minyak tanah yang disebabkan oleh kebijakan konversi ini seolah-olah bukan disebabkan oleh kelalian negara melaksanakan kewajibannya, tetepi sebagai masalah rumah tangga belaka dan rendahnya perekonomian masyarakat. Seperti kita ketahui, pemerintah menerapkan kebijakn mengurangi pasokan minyak tanah agar masyarakat mematuhi mengikuti program konversi. Kondisi dan sosial ekonomi masyarakat, termasuk daya beli yang rendah, kultur masyrakat yang relatif belum siap, belum dilaksanakannya upaya sosialisasi

40

secara komprehensif dan aspek gejolak masyarakat yang akan timbul akibat kelangkaan atau bahkan tidak tersedianya minyak tanah seperti yang terjadi di beberapa daerah. Bahkan di beberapa daerah, pemerintah merasa takut untuk menerapkan kebijakan konversi energi di daerahnya karena menilai infrastruktur elpiji di daerah belum mencukupi, belum matangnya koordinasi antar instansi pemerintah serta alasan-alasan kultural masyarakat yang memandang minyak tanah bukan sekedar alat untuk memasak namun juga bagian dari gaya hidup yang sudah terstruktur. Masyarakat pun lebih nyaman membeli minyak tanah dengan cara mengecer, walaupun pada akhirnya total uang yang mereka keluarkan lebih besar dari pada dengan membeli elpiji 3 kg. Hal ini disebabkan banyaknya masyarakat yang bekerja dengan sistem upah harian dan atau tidak terbiasa dengan kebiasaan menyisihkan uang/menabung. Selain itu, elpiji memiliki kesan negatif bagi sebagian masyarakat. Faktor keamanan, yaitu resiko meledak atau terbakarnya tabung elpiji menciptakan ketakutan tersendiri bagi masyarakat. Memang ada yang mengatakan bahwa perawatan elpiji mudah dan cukup aman saat digunakan. Namun, beberapa kasus meladaknya elpiji oleh ketidak tahuan masyarakat atau tabung yang bocor menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat pengguna. Belum lagi, terdapat kecurigaan pemerintah akan menaikkan harga elpiji sewaktu-waktu, disaat masyarakat sudah sangat tergantung dengan elpiji.

41

Apa yang sebaiknya kita lakukan? Sebuah kebijakan tidak akan berjalan atau akan mengalami hambatan yang besar jika tidak sejalan dengan atau tidak mampu memhami sehingga yang menjadi konteks dari tujuan kebijakan tersebut. Kebijakan yang menurut pembuat kebijaknnya memiliki kandungan isis dan tujuan yang baik tetap tidak akan diterjemahkan yang sama oleh kelompok sasaran jika mengabaikan aspek kontekstual dari lokasi kebijakan tersebut. Pembangunan infrastruktur harus menjawab permasalahan yang dialami kelas atas, menengah maupun bawah karena jika pembangunan infrastruktur hanya memperhatikan kepentingan kelas atas saja maka kesenjangan sosial dengan kelas lainnya akan semakin lebar karena kelas atas akan memperoleh fasilita yang lebih besar dan layanan publik yang lebih baik sehingga produktivitas pendapatan kelas bawah dan menengah semakin menurun. Akses terhadap infrastruktur energi seharusnya dijaga agar kesejahteraan masyarakat dapat terjamin. Kelangsungan program konversi hanya bisa dilaksanakan jika dimulai dari perencanaan dan program pelaksanaanya dibenahi dari sekarang sebelum mengalami kegagalan atau menciptakan dampak yang lebih buruk. Pemerintah harus lebih cermat dalam menentukan lapisan masyarakat yang akan menjadi sasaran konversi. Jangan sampai pemberian kompor gas gratis dan tabung gas bersubsidi menjadi salah sasaran, bukan diterima oleh masyarakat yang membutuhkan bantuan. Jika kebijakan infrstruktur tepat sasaran dan tepat program, niscaya pendapatan masyarakat akan mengalami kenaikan dan akses mereke terhadap kesejahteran semakin lebar.

42

Persoalan infrastruktur energi sejatinya bukan semata persoalan ekonomi namun juga politik, sosial dan budaya. Perencanaan infrastruktur seharusnya dapat membangun objektivitas sehingga dapat berkontribuasi dalam pembangunan dengan didasari oleh pengetahuan, bukan sekedar meknisme pasar. Simplikasi persoalan energi hanya sebatas persoalan ekonomi tidak bisa menyelesaikan gejolak di masyarakat yang masih gagap teknologi, wlaupun teknologi elpiji diklaim masih sangat sederhana. Sosialisasi, pelatihan dan jaminan (garansi) yang menjadi keamanan penggunan elpiji merupakan solusi yang cukup menjawab kekhawatiran masyarakat. Pemerintah harus mengusahakan program konversi energi dengan menilik kepentingan dan kemampuan semua lapisan masyarakat. Pemerintah harus memahami bahwa masyarakat sebagai subyek pembangunan dalam kenyataannya sangat kompleks dan beragam, dalam arti terhimpun atas dasar berbagai fungsi katagori sosial 8 dan di dalam masyarakat terdapat berbagai kepentingan yang menyebabkan tingkat adaptasi terhadap pembangunan infrastruktur bervariasi. Kebijakan yang dijalankan sebaiknya juga berkelanjutan, terencana dan tidak bertentangan. Rencana konversi terasa mendadak dan tidak terencana secara komprehensif. Dapat dilihat dari rencana konversi energi yang awalnya menggunakan briket batubara yang dapat memberdayakan masyarakat kecil dalam pembuatan kompor tiba-tiba diganti dengan elpiji yang kompor dan tabungnya hanya dapat diproduksi oleh pabrik besar. Seharusnya kepentingan rakyat kecil lebih diutamakan dari pada kepentingan kapital. Infrastruktur dapat menstimulir munculnya kegiatan ekonomi atau mendukung berkembangnya dalam suatu

43

kegiatan ekonomi wilayah. Konversi energi yang berbasis pada masyarakat niscaya juga akan meminimalisir konflik dalam masyarakat, efisien serta memberdayakan masyarakat secara ekonomi. Terapi kelangkaan untuk membuat rakyat beralih dari menggunakan minyak tanah menjadi menggunakan gas juga dinilia bukan solusi yang elegan karena sangat terburu-buru, tidak melihat kemampuan masyarakat. Kisruh yang terjadi akibat konversi gas menunjukkan fakta bahwa pemerintah tidak memiliki perencanaan dan implementasi yang baik karena program yang baik semestinya diikuti dengan perencanaan serta implementasi yang baik sehingga bisa memperkecil distorsi. Di sisi lain, masyarakat juga harus lebih dewasa dalam menggunakan energi, tidak memboroskan energi yang disubsidi pemerintah. Masyarakat harus mandiri, realitis dan tidak terus menerus terlena oleh fasilitas yang selama ini disediakan oleh pemerintah. Proses adopsi memang tidak mudah, terlebih energi minyak tanah sudah menjadi kultur selama puluhan tahun. Untuk lebih memudahkan proses adaptasi masyarakat, pemerintah dapat bekerjasama dengan Pertamina dalam mengadakan penyuluhan pada masyarakat grass root serta mewadahi aspirasi masyarakat dengan membuka hotline pelanggan elpiji atau kotak saran. Jadi, dalam proses konversi masyarakat tidak berjalan sendiri, namun senantiasa didampingi pemerintah dan perusahaan sebagai pihak yang berkompten.

44

4.6. Keuntungan Penggunaan LPG dibandingkan Minyak Tanah Adanya pengurangan beban pemerintah untuk memberikan subsidi kepada rumah tangga dan usaha kecil karena adanya selisih subsidi antara minyak tanah dan LPG. Untuk bulan Januari s.d 23 Agustus 2007 jumlah penurunan subsidi sebesar 126,5 milyar dengan perhitungan sebagai berikut : Tabel 1.4. Jumlah penurunan subsidi minyak tanah dan LPG. untuk bulan Januari s.d 23 Agustus 2007 Keterangan LPG Mitan Volume Harga Ekonomis Harga Subsidi Rata-Rata Subsidi/Unit Subsidi (Rp. Milyar) Saving Subsidi (Rp. Milyar) 3.962,0 Mton 7.966,7 (Rp/kg) 3.463,6 (Rp/Kg) 4.503,0 (Rp/Kg) 19,1 126,5 34.735,0 KL 5.570,8 (Rp/Lt) 1.818,2 (Rp/Lt) 3.752,7 (Rp/ Lt) 145,6

Keuntungan penggunaan LPG dibandingkan minyak tanah bagi masyarakat adalah bahan bakar LPG lebih efisien. Berdasarkan kajian riil di lapangan pemakaian minyak tanah/KK sebanyak 1 liter/hari sehingga atau 30 liter/bulan sedangkan pemakaian LPG dengan kapasitas 1 tabung sebanyak 3 kilogram adalah 7-10 hari/tabung atau 3-4 tabung/bulan untuk setiap KK. Titik serah minyak tanah berada di depo, sehingga harga yang sampai di konsumen adalah harga HET (sekitar Rp. 2.250/liter) sehingga biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengkonsumsi minyak tanah untuk setiap KK selama sebulan sebanyak Rp. 67.500. Sedangkan titik serah LPG berada di agen sehingga masyarakat bisa mendapatkan harga Rp. 12.750/tabung. Dengan jumlah konsumsi per bulan 45

sebanyak 3 4 tabung maka biaya yang harus dikeluarkan masyarakat jika menggunakan LPG sebesar Rp. 38.250,- Rp. 51.000,-. Jadi jika dibandingkan menggunakan minyak tanah, penghematan yang dapat dilakukan masyarakat sekitar Rp. 16.500,- Rp. 29.250,- per bulan. Tabel 1.5. Perbandingan penghematan penggunaan minyak tanah dengan gas elpiji

MINYAK TANAH
Pemakaian (per KK) Pemakaian (KK/bulan) Titik Serah Harga Biaya per KK/bulan Penghematan per KK/bulan 1 liter/hari 30 liter Depo Rp. 2.250 per liter (HET) Rp. 67.500 1 tabung/7 hari

LPG
1 tabung/10 hari 3 tabung (9 kg)

4 tabung (12 kg) Agen

Rp. 12.750 per tabung Rp. 51.000 Rp. 16.500 Rp. 38.250 Rp. 29.250

Safety sehubungan program konversi minyak tanah ke LPG 1. 2. Tabung gas Elpiji memenuhi standard Safety SNI Setiap kali tabung gas Elpiji akan diisi ulang di FP Filling Plant Pertamina, SPPBE atau SPPEK tabung tersebut diperiksa akan kelayakan edarnya 3. Setiap tabung gas Elpiji mempunyai masa edar 5 tahun sejak diproduksi dan kemudian setelah 5 tahun akan di uji ulang secara menyeluruh. Apabila kondisi tabung masih laik edar maka tabung tersebut akan diedarkan dan diisi gas Elpiji hingga 5 tahun mendatang berdasarkan sertifikasi dari Disnaker. Akan tetapi jika sebelum 5 tahun menunjukkan tanda-tanda tidak layak edar

46

(tabung berkarat penyok, bocor), tabung tersebut akan ditarik dan dilakukan pengujian ulang. Subsidi Minyak Tanah Subsidi harga minyak tanah merupakan selisih antara harga jual eceran yang ditetapkan Pemerintah dengan harga patokan minyak tanah, dengan formula : Subsidi = VolumeMitanX (Harga PatokanMitan Harga Jual EceranMitan) pada tahun 2006 subsidi minyak tanah mencapai Rp. 31,58 triliun atau sekitar 50% total subsidi Bahan Bakar Minyak. (Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral) Penurunan subsidi minyak tanah dapat dilakukan dengan cara mengurangi penggunaan minyak tanah melalui penghematan atau menggunakan bahan bakar alternatif sebagai pengganti minyak tanah seperti LPG. Selain itu penghematan juga dapat dilakukan melalui efisiensi pendistribusian minyak tanah dan melakukan rasionalisasi harga jual minyak tanah mendekati harga

keekonomiannya. Sasaran Rasio Gasifikasi (perbandingan antara jumlah rumah tangga yang berbahan gas dengan jumlah rumah tangga keseluruhan). Tahun 2007 0,08 JutaKK 6,0 Juta KK 6,0 Juta KK 12,8 Juta KK (21,40%) 59,6 Juta KK Tahun 2012 1,2 Juta KK 9,6 Juta KK 42,0 Juta KK 52.8 Juta KK (78,65%) 67,16 Juta KK

Penggunagas kota Pengguna gas LPG kemasan 12 kg Pengguna gas LPG kemasan 3 kg

: : :

Perkiraan jumlah KK Indonesia

Sumber : Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral

Sasaran Program Pengalihan Minyak Tanah ke LPG adalah ZERO-KERO 2012.

47

Pengertian Zero-Kero adalah kondisi di mana tidak ada lagi minyak tanah bersubsidi yang digunakan untuk memasak. Sesuai Peraturan Presiden No. 9 Tahun 2006 maka minyak tanah untuk penerangan tetap tersedia. Selain itu minyak tanah akan tetap dipasarkan dengan harga keekonomianatau ditingkatkan nilai tambahnya menjadi avtur. Terdistribusinya tabung LPG 3 kg untuk 6 juta KK pada tahun 2007 dan sekitar 42 juta KK pada akhir tahun 2012. Kebijakan dan Strategi Visi Pengelolaan Energi Nasional adalah terjaminnya penyediaan energi untuk kepentingan nasional Misi Pengelolaan Energi Nasional adalah : 1. 2. 3. Menjamin ketersediaan energi domestik Meningkatkan nilai tambah sumber energi Mengelola energi secara etis dan berkelanjutan termasuk memperhatikan pelestarian fungsi lingkungan 4. Menyediakan energi yang terjangkau untuk kaum dhuafa dan untuk daerah yang belum berkembang 5. Mengembangkan kemampuan dalam negeri yang meliputi kemampuan pendanaan, teknologi dan sumber daya manusia dalam rangka menuju kemandirian. Kebijakan Utama Sisi Penyediaan : Meningkatkan kemampuan pasokan energy, Mengoptimalkan produksi energy dan Konservasi sumber daya energi

48

Sisi Pemanfaatan : Efisiensi pemanfaatan energy, Diversifikasi penggunaan sumber energy, Mendorong harga energi ke arah harga keekonomianuntuk pengembangan energi dengan tetap, memberikan subsidi bagi masyarakat dhuafa (tidak mampu). Pelestarian lingkungan : Tingkat makro : pembangunan berkelanjutan Strategi Pelaksanaan Pengalihan Untuk mencapai sasaran ditempuh strategi sebagai berikut : 1. Penghapusan subsidi minyak tanah secara bertahap, penggunaan LPG tabung 3 kg 2. Pembangunan infrastruktur penyediaan dan pendistribusian LPG dalam rangka penggunaan LPG tabung 3 kg, termasuk memperbanyak titik-titik penjualan 3. Memberikan secara cuma-cuma tabung LPG 3 kg serta gas perdana, kompor LPG dan asesorisnya, kepada masyarakat yang beralih dari penggunaan minyak tanah ke LPG tabung 3 kg berdasarkan skala prioritas yang telah ditetapkan 4. 5. Mengikutsertakan potensi badan usaha nasional dalam Program Pengalihan Penarikan/pengurangan jatah minyak tanah secara prudent (bijaksana) setara dengan energi yang dialihkan di wilayah yang sudah mendapat tabung LPG 3 kg serta gas perdana, kompor LPG dan asesorisnya 6. Sosialisasi intensif kepada masyarakat pengguna dalam rangka memberi pemahaman dan cara penggunaan LPG tabung 3 kg yang benar sesuai kaidah keamanan dan keselamatan

49

7.

Meningkatkan peran pemerintah daerah sampai pada tingkat kelurahan/desa dalam hal melakukan pengawasan terhadap pemberian tabung LPG 3 kg serta gas perdana, kompor LPG dan asesorisnya kepada masyarakat sesuai skala prioritas Dapat dianalisis bahwa dominasi energy non komersial (khususnya kayu

bakar) dalam konsumsi energi pada sektor rumah tangga bisa terjadi karena 3 (tiga) faktor kemungkinan, yaitu ; A. Faktor Ekonomi Keterbatasan ekonomi menyebabkan, jika ada pilihan, kelompok masyarakat ekonomi rendah lebih memilih energi yang harganya tidak melebihi daya beli. Bagi kelompok rumah tangga miskin di pedesaan, energi non komersial (kayu bakar) tentu saja menjadi pilihan. B. Faktor Infrastruktur Keterbatasan infrastruktur juga menghambat masyarakat dalam

mengkonsumsi energi komersial. Ketiadaan LPG di pedesaan menyebabkan rumah tangga kaya di desa tidak memungkinkan memakai gas untuk memasak meski sebenarnya mereka mampu membeli. Begitu pula, ketiadaan listrik di daerah terpencil menyebabkan penduduk di wilayah itu terus bergantung pada kayu bakar ataupun minyak tanah sebagai sumber energinya C. Faktor Pola Pikir (mind set) Faktor pola pikir seringkali juga menjadi faktor penghambat dalam konsumsi energy komersial. Misalnya, faktor ketakutan untuk menggunakan kompor LPG atau bahkan kompor minyak tanah, menyebabkan banyak kelompok

50

rumah tangga kaya di pedesaan masih bertahan menggunakan kayu bakar. Faktor pola pikir yang dimaksud juga bisa berarti pandangan bahwa menggunakan kayu bakar jauh lebih menguntungkan karena harga ekonominya tidak ada. Mereka belum memikirkan bahwa waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk mencari kayu bakar maupun hasil samping pembakaran berupa CO2 dan abu sebenarnya juga merupakan harga mahal yang harus dibayar. Sementara dari sisi penghematan pengeluaran rumah tangga untuk energi dapat dilihat dari perhitungan kesetaraan kalori, dimana 1 liter minyak tanah setara dengan 0,4 kg LPG (Sumatera Ekspres, 19 September 2007). Jika diasumsikan konsumsi rumah tangga terhadap minyak tanah sekitar 1 liter per hari, maka perbandingannya adalah sebagai berikut : 1. Pengeluaran untuk minyak tanah Asumsi harga minyak tanah = Rp 2.500,- per liter Pengeluaran untuk minyak tanah sebulan = 30 hari Rp 2.500,- per liter = Rp 75.000,2. Pengeluaran untuk LPG Harga LPG tabung 3 kg = Rp 13.000,- Rp. 13.000,- : 3 kg = Rp. 4.300,per kg Pengeluaran untuk LPG sebulan = 30 hari 0,4 kg Rp. 4.300,- = Rp. 52.000,- Jadi ada penghematan sekitar = Rp. 75.000,- Rp. 52.000,- = Rp. 23.000,- per bulan Kunci keberhasilan dari program ini adalah: perencanaan yang matang, sosialisasi yang benar dan tepat sasaran, kualitas produk kompor dan tabung LPG

51

yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga kemungkinan kompor meledak ketika dipakai tidak akan terjadi, kesiapan industri dalam negeri yang memproduksi kompor dan tabung LPG, serta pengawasan yang ketat terhadap pasokan dan permintaan minyak tanah terkait dengan program konversi sehingga tidak menimbulkan keresahan masyarakat akibat LPG masih langka sementara minyak tanah sudah ditarik dari pasaran.

4.7. Permasalahan Konversi Minyak Tanah ke Elpiji Dari hasil pengamatan di lapangan, pelaksanaan konversi minyak tanah ke Gas Elpiji banyak ditemukan permasalahan. Pada umumnya permasalahan yang ditemui hampir sama di semua wilayah yang diamati, yaitu Kota Medan, Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Langkat dan Serdang Bedagai. Permasalahan yang muncul antara lain adalah : 1. Sosialiasasi Sosialisasi yang dilakukan oleh konsultan sangat terbatas sehingga menimbukan berbagai permasalahan baru bagi masyarakat, antara lain :

Belum mengetahui adanya program konversi minyak tanah ke elpiji. Tidak memahami bagaimana cara memasak dengan mnggunakan gas elpiji sehingga enggan menggunakan karena merasa lebih rumit dalam pengoperasiannya

Takut akan bahaya yang ditimbulkan dengan penggunaan tabung dan kompor gas isi 3 kg, penyebab terjadinya ledakan saat menggunakan

52

2.

Disribusi Pelaksanaan distribusi tabung dan perlengkapannya banyak mengalami penyimpangan antara lain : Tidak tepat sasaran kepada yang seharusnya memperoleh bantuan Ditemukan perlengkapan yang telah rusak dan tidak dapat diperguanakan Distribusi yang tidak merata

3.

Agen Permasalahan yang berkaitan dengan agen yang berperan sebagai penyedia tabung Elpiji 3 kg antara lain : Jumlah agen yang ada masih belum memadai Lokasi agen tidak tersebar merata sehingga sebagian masyarakat harus menempuh jarak yang jauh untuk memperoleh Elpiji Agen tidak dapat menjamin ketersediaan pasokan Elpiji setiap hari Penolakan agen minyak tanah terhadap adanya konversi

4.

Penarikan minyak tanah subsidi Penarikan minyak tanah bersubsidi menimbulkan beberapa permasalahan antara lain : Berkurangnya pasokan minyak tanah bersubsidi menyebabkan

kelangkaan minyak tanah sehingga sering menimbulkan antrian panjang di berbagai pangkalan minyak tanah Tutupnya beberapa pangkalan minyak tanah Terjadi kenaikan harga minyak tanah di atas HET

53

Menimbulkan keresahan pada masyarakat yang masih menggunakan minyak tanah sebagai maban bakar kompor untuk memasak

5.

Infratruktur LPG Diperlukannya penambahan infrastruktur dalam rangka peningkatan kilang produksi (LPG Plant) dan fasilitas penyaluran LPG seperti tanki timbun, filiing station, alat angkut, depot,dan pangkalan

54

BAB V KESIMPULAN
Kesimpulan

PT. Pertamina (Persero) menyatakan berhasil menarik volume minyak tanah 3,816 juta kiloliter (kl) secara akumulasi hingga pekan ketiga Mei 2009 dari target 4,2 juta kl minyak tanah hingga akhir 2009. Besaran volume minyak tanah yang dicapai pada 2009 ini seiring dengan pendistribusian paket perdana konversi kemasan 3 kilogram (kg) yang telah mencapai 25.973.518 unit. "Meski pada dua tahun pertama banyak kendala, kita berhasil menghemat subsidi secara akumulasi hingga Mei mencapai Rp. 7,05 triliun. Dan ini lebih tinggi dari target 2009 yang sebesar Rp. 6,17 triliun". Pencapaian itu terlihat dari harga keekonomian minyak tanah saat ini yang mencapai Rp. 6.453 per liter dibandingkan harga keekonomian elpiji yang mencapai Rp. 7.012 per kilogram. Sedangkan pencapaian program pengalihan minyak tanah ke elpiji (konversi) dari Januari-Mei 2009, penarikan volume minyak tanah mencapai 1,051 juta kl. Pencapaian tersebut naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 547.131 kl. Target akumulasi penarikan minyak tanah sampai 2009 sebesar 4,2 juta kl dan pembagian paket perdana 23 juta unit. "Ini apabila pembangunan infrastruktur dapat selesai sesuai target waktu". 1. Subsidi elpiji 3 kg merupakan selisih antara harga patokan dikurangi harga jual eceran yang sudah termasuk margin badan usaha dan pajak pertambahan

55

nilai (PPN). Harga patokan adalah harga elpiji berdasarkan harga kontrak (contract price-CP) Aramco Plus ditambah beta. CP Aramco Plus tersebut dengan asumsi harga di atas kapal (freight on board/FOB), termasuk biaya angkut kapal (freight cost), juga termasuk biaya proses dari elpiji berpendingin (refrigerated) ke bertekanan (pressurized), dan pajak impor sebesar lima persen. Harga jual eceran elpiji 3 kg yang dijual sekarang ini sebesar Rp. 4.250 per kg, sudah termasuk margin agen atau pangkalan Rp. 400 per kg dan PPN 10 persen. Patokan harga CP Aramco saat ini sebesar 501 dolar AS per metrik ton, freight cost 68,64 dolar AS per metrik ton, dan bea impor Rp. 103,81 per kg. 2. PT. Perusahaan Gas Negara (PGN) berencana membangun terminal liquified natural gas (LNG) di Kota Medan. Rencana itu dilakukan setelah melihat beberapa faktor. Untuk itu, PT PGN akan terus menjajaki kemungkinan pembangunan itu agar bisa diwujudkan. Sumatera Utara kekurangan gas sebesar 140 MMSCFD yang terus meningkat, Pemerintah Sumatera Utara berharap pada tahun 2012 terminal penerima LNG bisa selesai dibangun, guna menunjang pertumbuhan industri di Medan yang perlu didukung dengan penyediaan energi yang memadai,(Harian Analisa Terbit Jumat, 20 Nopember 2009) 3. Kurangnya sosiasilasi yang dilakukan pemerintah tentang penggunaan tabung dan kompor gas isi 3 kg itu, juga dinilai sebagai salah satu penyebab terjadinya ledakan saat menggunakan alat tersebut. 4. Diharapkan target konversi bagi dua juta rumahtangga dan usaha mikro di daerah ini bisa terealisasi hingga akhir 2009. Konversi tahap pertama sejak

56

April hingga posisi Agustus telah didistribusikan paket perdana berupa tabung gas ukuran 3 kg kepada 699.500 rumahtangga termasuk usaha mikro (RT-UM) di Binjai, Langkat, Deli Serdang dan Serdang Bedagai 5. Diperlukannya penambahan infrastruktur dalam rangka peningkatan kilang produksi (LPG Plant) dan fasilitas penyaluran LPG seperti tanki timbun, filiing station, alat angkut, depot,dan pangkalan serta jumlah SPBBE (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji)

5.2. 1.

Saran Rekomendasi Bertentangan dengan mitos yang berkembang selama ini, penduduk miskin justru membayar harga yang mahal dalam bentuk uang tunai atau tenaga untuk energi yang mereka gunakan. Selain itu, mereka menggunakan prosentase yang lebih besar dari pendapatannya dibandingkan penduduk kayabukan hanya karena pendapatan mereka teramat kecil tetapi juga karena bahan bakar yang mereka gunakan efisiensinya lebih kecil dibandingkan bahan bakar modern/komersial.

2.

Bagi kelompok rumah tangga miskin yang masih sulit untuk mengakses energi, perlu diberlakukan kebijakan subsidi yang tepat sasaran, dalam arti benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh kelompok ini. Subsidi bagi kelompok masyarakat miskin ini terutama difokuskan untuk dana kesehatan dan pendidikan. Perbaikan kualitas kesehatan akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan perbaikan kualitas pendidikan akan meningkatkan keahlian serta ketrampilan penduduk sehingga akan berimplikasi pada

57

peningkatan pendapatan dan kesejahteraan. Di sisi lain, perbaikan kualitas pendidikan juga akan merubah pola pikir masyarakat sehingga mereka akan cermat dalam memilih energi yang efisien, ramah lingkungan dan sesuai dengan daya beli. 3. Mengkaji kembali konsep konversi energi dengan lebih mempertimbangkan ketersediaan pasokan untuk memanfaatkan sumber-sumber energi domestic secara optimal. Apabila LPG dianggap Pemerintah sebagai alternatif terbaik, perlu dilakukan antisipasi agar tidak ada ketergantungan terhadap impor dan dilakukan perbaikan infrastruktur untuk menjamin ketersediaan LPG. Hanya melalui pendekatan seperti inilah, maka kebijakan konversi energi tidak akan menghasilkan kontroversi berupa kelangkaan produk dan harga yang mahal. 4. Memperhatikan proyeksi tahun 2010 adalah tahun di mana konversi minyak tanah ke LPG telah dilakukan di semua daerah, maka sudah seharusnya dilakukan penambahan pasokan LPG agar industri LPG tidak tergantung pada impor. Namun upaya penambahan pasokan domestic sepertinya belum bisa dilakukan secara maksimal mengingat lapangan gas bumi potensial di Indonesia (selain Tanjung Jabung) yaitu Natuna masih juga terikat kontrak jual beli jangka panjang ekspor dengan Jepang dan Korea. 5. Program sosialisasi kepada masyarakat agar dapat mensukseskan program ini. Karena itu ukuran tabung gas dan kepastian rancangan kompor hendaklah dibuat sedemikian rupa sehingga memang sesuai dengan kebutuhan mereka. Khusus untuk ukuran tabung gas, kiranya perlu dipikirkan ulang secara seksama, hingga tidak terjadi salah persepsi nantinya bagi sebagian

58

masyarakat miskin yang tentu juga memiliki tingkat pendidikan yang agak terbatas dibandingkan dengan masyarakat luas lainnya. Kedua hal ini sangat perlu diperhatikan untuk menghindarkan berbagai masalah sosial yang belum diantisipasi pemerintah pada saat ini. 6. Diperlukannya penambahan infrastruktur dalam rangka peningkatan kilang produksi (LPG Plant) dan fasilitas penyaluran LPG seperti tanki timbun, filiing station, alat angkut, depot,dan pangkalan

59

DAFTAR PUSTAKA
ANONIM, Wawancara Ramson Siagian: Soal Konversi Minyak Tanah Pemerintah Terlalu Ambisius, Suara Merdeka, Senin, 3 September 2007

ANONIM, Konversi Minyak Tanah ke Gas Elpiji Dipercepat, Sumatera Ekspres, Rabu, 19 September 2007

Chaniago, Andrinof A. Gagalnya Pembangunan Kajian Ekonomi Politik terhadap Akar Krisis Indonesia. Jakarta:LP3ES, 2001

SAGHIR, J., 2005, Energy and Poverty : Myths, Links and Policy Issues. Energy Working Notes, No. 4. May 2005. Energy and Mining Sector Board-The World Bank Groups

http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2005-06-25-Minyak-TanahSebagai-Pengganti-Solar:-Sebuah-Tinjauan-Singkat.shtml

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/052006/09/0601.htm

http://kolom.pacific.net.id/ind/eddy_satriya/artikel_eddy_satriya/menyoal_konver si_minyak_tanah_ke_bahan_bakar_gas.html

http://www.pertamina.com/konversi

http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/07/tgl/10/tim e/144613/idnews/803151/idkanal/4

http://dwimurdianto.blogspot.com/2007/08/konversi-minyak-tanah-ke-gas.html

60

61