Anda di halaman 1dari 44

1

BAB I PENDAHULUAN

I.I LATAR BELAKANG Setiap tahun diseluruh dunia, ratusan ibu, anak-anak dan dewasa meninggal karena penyakit yang sebenarnya masih dapat dicegah. Hal ini dikarenakan kurangnya informasi tentang pentingnya imunisasi. Bayi-bayi yang baru lahir, anakanak usia muda yang bersekolah dan orang dewasa sama-sama memiliki resiko tinggi terserang penyakit-penyakit menular yang mematikan seperti : Difteri, Tetanus, Hepatitis B (H-B) , Influenza, Typhus, Radang selaput otak, Radang paru-paru, dan masih banyak penyakit lainnya yang sewaktu-waktu muncul dan mematikan. Untuk itu salah satu pencegahan yang terbaik dan sangat vital agar bayi-bayi, anak-anak muda dan orang dewasa terlindungi hanya dengan melakukan imunisasi (anariyusmi, 2011). Menurut laporan WHO (Badan Kesehatan Dunia) tidak kurang dari 300 juta penduduk di dunia yang didalam tubuhnya bersarang virus hepatitis-B.Mereka merupakan pengidap kronik atau karier, yang dapat menularkan penyakit tersebut kepada orang lain (Sitorus, 2008 : 146). Pemerintah Indonesia melalui Program Pengembangan Imunisasinya (PPI) sejalan dengan komitmen internasional Universal Child Immunization (UCI), telah

menargetkan Universal Child Immunization 80-80-80 sebagai target cakupan imunisasi untuk BCG, H-B 0-7 hari, polio, campak, dan hepatitis B, harus mencapai cakupan 80% baik di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota bahkan di setiap desa/kelurahan. Infeksi hepatitis B masih tinggi yaitu angka kejadiannya 4%-30% pada orang normal, sedangkan pada penyakit hati menahun angka kejadiannya 20%40% Bila program imunisasi ini berhasil, diharapkan pada tahun 2015 (satu generasi kemudian) hepatitis B bisa diberantas dan bukan merupakan persoalan kesehatan masyarakat lagi. Pencegahan terhadap penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi telah menampakkan hasilnya. Meskipun program pemberian imunisasi sudah dijalankan dengan baik, namun masih terdapat beberapa cakupan imunisasi yang tidak tercapai. Masalah rendahnya cakupan imunisasi kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah, kurangnya pengetahuan ibu tentang imunisasi, kurangnya informasi dan penyuluhan yang diberikan kepada ibu yang mempunyai bayi dan balita tentang imunisasi, sosial ekonomi, kebudayaan. Secara nasional, pencapaian UCI tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 6.8% dari 69.43% pada tahun 2005 menjadi 76.23% pada tahun 2007. Akan tetapi pada tahun 2009 pencapaian UCI secara nasional kembali turun hanya menjadi 68,3% (Dinkes, 2011).

Berdasarkan Laporan Pencapaian UCI Puskesmas Prabumulih Timur Tahun 2010 di kelurahan Karang Raja, untuk imunisasi dari data sasaran bayi 135 bayi yaitu Hb 0-7 Hari 33,3% , BCG 140,7% , DPT/HB1 113,3% , DPT/HB3 92,6% , Polio 4 91,9% , dan Campak 96,3% . Dari data tersebut yang ada di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Prabumulih Timur Tahun 2010 bahwa nilai pencapain imunisasi H-B 0-7 hari paling terendah dari imunisasi lainnya. Berdasarkan data tersebut dan dari latar belakang yang ada maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi H-B 0-7 hari di Poskesdes Karang Raja di Wilayah Kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih tahun 2011.

1.2 PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang diatas, didapatkan rumusan masalah yaitu sebagai berikut : Adakah hubungan antara tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi H-B 0-7 Hari di Poskesdes Karang Raja di Wilayah Kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih tahun 2011 ?

1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 TUJUAN UMUM Untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi H-B 0-7 hari di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih tahun 2011. 1.3.2 TUJUAN KHUSUS 1.3.2.1 Mengetahui hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian imunisasi H-B 0-7 hari di Poskesdes Karang Raja di Wilayah Kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih tahun 2011. 1.3.2.2 Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi H-B 0-7 hari di Poskesdes Karang Raja di Wilayah Kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih tahun 2011. 1.3.2.3 Menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi H-B 0-7 hari di Poskesdes Karang Raja di Wilayah Kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih tahun 2011.

1.4 MANFAAT PENELITIAN 1.4.1 Bagi Peneliti Untuk menambah pengetahuan tentang imunisasi H-B 0-7 hari dan pemahaman dalam menyusun metodologi penelitian dalam mengaplikasikan mata kulya metodologi penelitian. 1.4.2 Instansi Pendidikan Dapat menambah bahan kepustakaan pada penelitian berikutnya di instansi Akademi Kebidanan Rangga Husada kota Prabumulih dan dapat digunakan sebagai bahan bacaan mahasiswa 1.4.3 Bagi Instansi Kesehatan Dapat menambah informasi bagi instansi-instansi kesehatan dalam rangka melakukan peningkatan program imunisasi H-B 0-7 hari. 1.4.4 Bagi lahan penelitian Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukkan bagi Poskesdes Karang Raja khususnya terhadap penjelasan pemberian imuinisasi hepatitis B 0-7 hari.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan 2.1.1 Pendidikan 2.1.1.1 Pengertian Lamanya sekolah atau tingkat sekolah yang telah diikuti oleh responden (Notoatmodjo, 2010 : 112). Berdasarkan Notoatmodjo (2003), Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan orang atau keluarga dalam masyarakat. Dalam rangka pembinaan dan peningkatan perilaku kesehatan masyarakat supaya lebih efektif perlu diperhatikan tiga faktor utama yaitu : a. Faktor predisposisi ( predisposing factor ) Faktor ini mencakup : pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal- hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, dan tingkat sosial ekonomi. b. Faktor pemungkin ( enambling factor ) Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan. Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana fasilitas

kesehatan bagi masyarakat. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik, posyandu, polindes, dokter, bidan praktek swasta, dan sebagainya. c. Faktor penguat ( reinforcing factor ) Faktor- faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma), tokoh agama (toga), sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Termasuk juga di sini undang-undang, peraturan- peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan. Untuk berperilaku sehat, masyarakat kadang- kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif serta dukungan fasilitas saja melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama, para petugas terutama petugas kesehatan (Notoatmodjo, 2003).

2.1.2 Pengetahuan 2.1.2.1 Pengertian Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan what, misalnya apa air, apa manusia, apa alam, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010 : 1).

2.1.2.2 Tingkat Pengetahuan Menurut (Notoatmodjo, 2007 : 140-142) tingkat pengetahuan didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu : 2.1.2.2.1 Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya. Contoh : dapat menyebutkan tanda-tanda kekurangan kalori dan protein pada anak balita. 2.1.2.2.2 Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Misalnya dapat menjelaskan mengapa harus makan-makanan yang bergizi.

2.1.2.2.3 Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus statistic dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsipprinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cyclel) didalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan. 2.1.2.2.4 Analisa (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan),

membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya. 2.1.2.2.5 Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun suatu formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat

10

meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. 2.1.2.2.6 Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya, dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi, dapat menangggapi terjadinya diare di suatu tempat, dan sebagainya.

2.1.2.3 Cara Mengukur Tingkat Pengetahuan Menurut (Notoatmodjo, 2007 : 142) pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan pengetahuan didalam domain kognitif. Sedangkan kategori pengetahuan ada dua kategori yaitu : 1. Baik : Apabila dapat menjawab pertanyaan dengan benar 70% dari semua pertanyaan. 2. Kurang : Apabila dapat menjawab pertanyaan dengan benar < 70% dari semua Pertanyaan (Notoatmodjo, 2003).

11

2.2

Imunisasi

2.2.1 Pengertian y Imunisasi adalah memberikan kekebalan pada bayi dan balita dengan suntikan atau tetesan untuk mencegah agar anak tidak sakit atau walaupun sakit tidak menjadi parah (Kementerian Kesehatan RI, 2010). y Imunisasi merupakan bentuk intervensi kesehatan yang sangat efektif dalam menurunkan angka kematian bayi dan balita (Dewi, 2010 : 129). y Imunisasi ialah suatu usaha untuk memberikan kekebalan pada ibu dan anak terhadap penyakit tertentu (Depkes RI, 2008). y Imunisasi ialah memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tbuh membuat zat antibody untuk mencegah penyakit tersebut (Salmadjuli, 2008). y Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu (Hidayat, 2008 : 54). y Imunisasi ialah cara untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga kelak bila ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya sakit ringan (Kharel, 2007).

12

2.2.2 Tujuan Imunisasi Tujuan pemberian imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah denagn imunisasi (Hidayat, 2008 : 54).

2.2.3 Macam-macam Imunisasi Berdasarkan proses dan mekanisme pertahanan tubuh, imunisasi dibagi menjadi dua yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. 2.2.3.1 Imunisasi Aktif Imunisasi aktif merupakan pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan terjadi suatu proses infeksi buatan, sehingga tubuh mengalami reaksi imunologi spesifik yang akan menghasilkan respons seluler dan humoral serta dihasilkannya cell memory. Jika benar-benar terjadi infeksi maka tubuh secara cepat dapat merespons. Dalam imunisasi aktif terdapat empat macam kandungan dalam setiap vaksinnya,yang dijelaskan sebagai berikut . y Antigen merupakan bagian dari vaksin yang berfungsi sebagai zat atau mikroba guna terjadinya semacam infeksi buatan (berupa polisakarida, toksoid, virus yang dilemahkan, atau bakteri yang dilemahkan). y Pelarut dapat berupa air steril atau berupa cairan kultur jaringan.

13

Preservatif, stabilizer, dan antibiotik yang berguna untuk mencegah tumbuhnya mikroba sekaligus untuk stabilisasi antigen.

Adjusvans yang terdiri atas garam aluminium yang berfungsi untuk meningkatkan imunogenitas antigen.

2.2.3.2 Imunisasi Pasif Imunisasi pasif merupakan pemberian zat (immunoglobulin), yaitu suatu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia atau binatang yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang diduga sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi.

2.2.4 Jenis Imunisasi Dasar dan Booster Di Indonesia terdapat jenis imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah (Imunisasi dasar) dan ada juga yang hanya dianjurkan. Imunisasi wajib di Indonesia sebagaimana telah diwajibkan oleh WHO ditambah dengan hepatitis B. Sedangkan imunisasi yang hanya dianjurkan oleh pemerintah dapat digunakan untuk mencegah suatu kejadian yang luar biasa atau penyakit endemik atau untuk kepentingan tertentu (bepergian) misalnya jemaah haji yang disuntikan imunisasi meningitis (Hidayat, 2008 : 55)

14

Jenis Imunisasi Dasar dan Booster 1. Imunisasi BCG 2. Imunisasi Hepatitis B 3. Imunisasi Polio 4. Imunisasi DPT 5. Imunisasi Campak 6. Imunisasi MMR 7. Imunisasi Typhus Abdominalis 8. Imunisasi Varicella 9. Imunisasi Hepatitis A 10. Imunisasi Hib (Hidayat, 2008 : 55-59)

2.2.5 Kontraindikasi Imunisasi Jenis imunisasi memiliki beberapa kontraindikasi sebagaimana diringkas pada tabel menurut ( Hidayat, 2008 : 60 ) No 1 2 JENIS VAKSIN Semua vaksin DPT KONTRAINDIKASI Terjadi reaksi anafilaksis terhadap vaksin tersebut penyakit sedang atau berat denngan atau tanpa demam. Ensefalopati dalam 7 hari pasca pemberian dosis DPT sebelumnya. Infeksi dengan HIV Gangguan imunodefisiensi yang diketahui seperti tumor hematologis dan padat, imunodefisiensi congenital, dan terapi imunosupresi jangka panjang.

Polio

15

4 5 6

MMR Hib ( haemophilus influenza tipe b ) Hepatitis B

Reaksi anafilaksis pada telur dan neomisin, kehamilan, serta ada gangguan imunodefisiensi. Tidak teridentifikasi Reaksi anafilaksis terhadap ragi roti biasa. Adanya gangguan imunokompresi seperti orang yang mengalami imunodefisiensi congenital, leukemia, limfoma, dan lain-lain. Individu yang mendapat dosis kortikosteroid sistemik dosis tinggi mengalami reaksi anafilaksis terhadap neomisin. Tabel 2.1

Varicella

2.2.6 Imunisasi Hepatitis B Imunisasi hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis. Kandungan vaksin ini adalah HbsAg dalam bentuk cair. Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis sebanyak 3 kali dan penguatnya dapat diberikan pada usia 6 tahun. Imunisasi hepatitis ini diberikan melalui intramuskuler. 2.2.6.1 Jadwal Imunisasi Hepatitis B Imunisasi aktif dilakukan dengan cara pemberian suntikan dasar sebanyak tiga kali dengan jarak waktu satu bulan antara suntikan satu dan dua, lima bulan atara suntikan dua dan tiga. Imunisasi ulang diberikan setelah lima tahun pasca imunisasi dasar. Cara pemberian imunisasi dasar tersebut dapat berbeda, tergantung dari rekomendasi pabrik pembuat vaksin hepatitis B mana yang akan dipergunakan.

16

Misalnya imunisasi dasar vaksin buatan Pasteur, Perancis berbeda dengan jadwal vaksinasi vaksin buatan MSD, Amerika Serikat. Khusus bayi yang lahir dari seorang ibu pengidap virus hepatitis B, harus diberikan imunisasi pasif dengan immunoglobulin anti hepatitis B dalam waktu sebelum berusia 24 jam. Berikutnya bayi tersebut harus pula mendapat imunisasi aktif 24 jam setelah lahir, dengan penyuntikan vaksin hepatitis B dengan pemberian yang sama seperti biasa (Priyono, 2010).

2.3

Hepatitis B

2.3.1 Pengertian o Hepatitis B merupakan penyakit endemik di hamper seluruh bagian dunia (Dewi, 2010 : 131). o Hepatitis B merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB), termasuk dalam family hepadnaviridae, yaitu virus DNA yang menyerang hati (hepar) (Sitorus, 2008 : 153). o Imunisasi hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis (Hidayat, 2008 : 56). o Imunisasi hepatitis B adalah tindakan imunisasi dengan pemberian vaksin hepatitis B ke tubuh yang bertujuan memberi kekebalan dari penyakit hepatitis (Hidayat, 2008 : 100).

17

2.3.2 Etiologi Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan virus hepatitis B (Kementrian Kesehatan RI, 2010). Hepatitis B adalah virus yang menyerang hati, masuk melalui darah ataupun cairan tubuh dari seseorang yang terinfeksi seperti halnya virus HIV. Hepatitis B hampir 100 kali lebih infeksius dibandingkan dengan virus HIV. Virus ini tersebar luas di seluruh dunia dengan angka kejadian yang berbeda-beda. Angka kejadian di Indonesia mencapai 4%-30% pada orang normal, sedangkan pada penyakit hati menahun dapat ditemukan angka kejadian 20%-40%. Apabila seseorang terinfeksi dengan virus ini maka gejalanya dapat sangat ringan sampai berat sekali. Pada orang dewasa dengan infeksi akut biasanya jelas dan akan sembuh sempurna pada sebagian besar (90%) pasien. Akan tetapi pada anak-anak terutama balita, sebagian besar dari mereka penyakitnya akan berlanjut menjadi menahun.

2.3.3 Cara Penularan Hepatitis B sering ditularkan melalui cara- cara yang kadang tidak disadari oleh masyarakat.Namun yang perlu diketahui oleh mereka bahwa penyakit ini tidak bisa ditularkan melalui kontak biasa.Cairan tubuh harus mengalami pertukaran yang artinya pasien tidak bisa kena infeksi hanya melalui pelukan ataupun melalui jabat tangan biasa.

18

Berikut cara yang mungkin bisa : a. Hubungan Seksual Penularan virus hepatitis B bisa terjadi jika seseorang melakukan hubungan seksual tanpa pelindung dengan pasangan yang telah terinfeksi virus hepatitis B. selain itu infeksi juga bisa terjadi melalui luka yang terjadi akibat hubungan seksual. b. Penggunaan alat bersama Virus hepatitis B akan dengan mudah menular melalui peralatan yang telah terinfeksi oleh darah yang mengandung virus, seperti; pisau cukur dan sikat gigi. c. Ibu ke anak Wanita hamil yang terinfeksi virus hepatitis B bisa menurunkan penyakit itu kepada bayinya. Jika seorang wanita terinfeksi hepatitis B, bayi mereka akan mewarisi penyakit ini. Dengan seri pertama dari tiga vaksin yang diberikan, resiko ini akan mengalami penurunan.

2.3.4 Gejala dan Tanda Tanda dan gejala hepatitis B biasanya muncul setelah dua sampai tiga bulan setelah anda terinfeksi dan gejalanya dapat bervariasi dari yang ringan sampai parah. Tanda dan gejala hepatitis B antara lain: Nyeri pada area perut

19

Urin yang berwarna gelap Nyeri sendi Hilang nafsu makan Mual dan muntah Lemah dan kelelahan Kulit dan area putih pada mata menjadi kuning

2.3.5 Pencegahan Hepatitis B Pencegahan dilakukan dengan menghindari kontak dengan virus, baik terhadap pengidap, organ tubuh, transplantasi, maupun alat-alat kedokteran. Dapat pula dengan pemberian kekebalan melalui imunisasi,baik imunisasi pasif maupun aktif. 1. Imunisasi Pasif Imunisasi pasif dilakukan dengan pmeberian immunoglobulin.imunisasi ini diberikan baik sebelum terjadi paparan maupun setelah terjadinya paparan.Imunisasi ini dapat dilakukan dengan memberikan IG/immune serum globulin (ISG) atau hepatitis B Globulin (HBIG).Indikasi utama diberikannya imunisasi pasif ini adalah sebagai berikut ; a. Paparan dengan darah yang ternyata mengandung HbsAg, baik melalui kulit ataupun mukosa,seperti tertusuk jarum suntik. Pada kecelakaan jarum suntik

20

ini, dosis yang diberikan adalah 0,06 ml/kg, dosis maksimal 5ml, diberikan secra intramuskuler dan harus dalam jangka waktu 24 jam, lalu diulangi 1 bulan setelahnya. b. Paparan seksual dengan pengidap HbsAg (+). Dosis yang digunakan jika terjadi paparan seksual adalah dengan dosis tunggal 0,06 ml/kg yang diberikan secara intramuskuler dan harus dalam jangka waktu 2 minggu dengan dosis maksimal 5ml. c. Paparan perinatal , ibu HbsAg (+).Imunisasi pasif harus diberikan sebelum 48 jam dengan dosis sebanyak 0,5 ml secara intramuskuler (Dewi, 2010 : 132). 2. Imunisai Aktif Imunisasi aktif dapat diberikan dengan pemberian partikel HbsAg yang tidak infeksius. Ada tiga jenis vaksin hepatitis B, yaitu sebagai berikut : 1. 2. 3. Vaksin yang berasal dari plasma Vaksin yang dibuat dengan teknik rekombinan (rekayasa genetik) Vaksin polipeptida Penyuntikan diberikan intramuskuler di daerah deltoid atau paha antrolateral (jangan dilakukan pada daerah bokong) (Dewi, 2010 : 132).

21

2.3.6 Kontraindikasi dan Efek Samping 2.3.6.1 Kontraindikasi Imunisasi tidak dapat diberikan kepada anak yang menderita sakit berat. Vaksinasi hepatitis B dapat diberikan pada ibu hamil dengan aman dan tidak akan membahayakan janin. Bahkan memberikan perlindungan kepada janin selama dalam kandungan ibu maupun kepada bayi selama beberapa bulan setelah lahir (Priyono, 2010 : 148). 2.3.6.2 Efek samping Efek samping yang terjadi pascaimunisasi hepatitis B pada umumnya ringan, hanya berupa nyeri, bengkak, panas, mual, dan nyeri sendi maupun otot (Dewi, 2010 : 133).

22

BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIOPNAL dan HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep serta variabel dalam penelitian ini secara sistematis dapat digambarkan sebagai berikut :

Variabel Independent Pendidikan

Variabel Dependent

Pemberian Imunisasi H-B 0-7 Hari

Pengetahuan
Skema 3.1 Kerangka Konsep

3.2 Definisi Operasional 3.2.1 Variabel Dependen Pemberian imunisasi H-B 0-7 hari 1. Pengertian : Pemberian imunisasi H-B 0-7 hari pada bayi yang berumur 0-7 hari. 2. Cara Ukur : Wawancara

22

23

3. 4.

Alat Ukur : Kuisioner Hasil Ukur : 1. Ya, jika balita ibu mendapatkan imunisasi H-B 0-7 hari 2. Tidak, jika balita ibu tidak mendapat imunisasi H-B 0-7 hari.

5.

Skala Ukur : Nominal

3.2.2 Variabel Independen Pendidikan 1. Pengertian : Lamanya sekolah atau tingkat sekolah yang telah diikuti oleh responden. 2. Cara Ukur 3. Alat Ukur 4. Hasil Ukur : Wawancara : Kuisioner : 1. Rendah ( < SMA ) 2. Tinggi ( SMA ) 5. Skala Ukur : Ordinal

(Notoatmodjo, 2010 : 112) Pengetahuan 1. Pengertian : Hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan what. 2. Cara Ukur : Wawancara

24

3. Alat Ukur 4. Hasil Ukur

: Kuisioner : a. Baik : Apabila dapat menjawab pertanyaan dengan benar 70% dari semua pertanyaan. b. Kurang : Apabila dapat menjawab pertanyaan dengan benar < 70% dari semua pertanyaan.

5. Skala Ukur

: Ordinal

(Notoatmodjo, 2003)

3.3 Hipotesis 1. Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian imunisasi H-B 0-7 hari di Poskesdes Karang Raja di Wilayah Kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih tahun 2011. 2. Ada hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi H-B 0-7 hari di Poskesdes Karang Raja di Wilayah Kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih tahun 2011.

25

3. Ada hubungan antara tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi H-B 0-7 hari di Poskesdes Karang Raja di Wilayah Kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih tahun 2011.

26

BAB IV MEDOTE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini menggunakan metode metode survey analitik dengan Cross Sectional diamana variabel independen (pendidikan dan pengetahuan) dan variable dependen (pemberian imunisasi H-B 0-7 hari) dikumpulkan dalam waktu bersamaan.

4.2 Populasi dan Sampel Penelitian 4.2.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2005 : 79). Populasi untuk penelitian yaitu jumlah sasaran bayi yang berumur 0-11 hari di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih Tahun 2010 dari bulan januari - desember adalah 135 bayi. 4.2.2 Sampel Sampel dari penelitian adalah accidental sampling dimana sampel diambil dari kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia.

26

27

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian 4.3.1 Tempat Penelitan Penelitian ini akan dilakukan di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Prabumulih Timur Kota Prabumulih. 4.3.2 Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni Juli.

4.4 Tekhnik dan Instrumen Penelitian 4.4.1 Tekhnik Pengumpulan Data a. Data Primer Data diperoleh pada saat kegiatan posyandu di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumlih dengan menyebarkan quisioner dan mengadakan wawancara secara langsung yang dilakukan sendiri oleh peneliti. b. Data Sekunder Data diperoleh melalui kepustakaan KMS di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumlih.

28

4.4.2 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian berupa kuisioner dan KMS.

4.5 Pengolahan dan Analisis Data 4.5.1 Pengolahan Data 4.5.1.1 Editing Adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul. 4.5.1.2 Coding Merupakan kegiatan pemberian kode numeric (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. 4.5.1.3 Memasukkan Data (Data Entry) Adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel atau database komputer, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau dengan membuat table kontigensi. 4.5.1.4 Pembersihan Data (Cleaning) Membersihkan data sehingga data sudah benar-benar bebas dari kesalahan. (Notoatmodjo, 2010 : 176-177).

29

4.5.2 Analisis Data 4.5.2.1 Analisis Univariate Dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel. Variabel pendidikan, pengetahuan, dan pemberian imunisasi H-B 0-7 Hari akan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. 4.5.2.2 Analisis Bivariate Analisa data untuk hubungan antara variabel independen (tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu) dan variabel dependen (pemberian imunisasi H-B 0-7 Hari) dengan menggunakan Uji statistic Chi Square dengan tingkat kemaknaan 0,05 ( = 0,05) dengan program komputerisasi SPSS (Statistical Package and Sosial Solution).

30

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1 Gambaran Umum 5.1.1 Geografi 1. Letak Wilayah Poskesdes Karang Raja terletak di Jl. Gotong Royong RT. 03 RW 04 Kel. Karang Raja Kec. Parbumulih Timur Kota Prabumulih. 2. Batas Wilayah Poskesdes Karang Raja berbatasan dengan wilayah : a. Sebelah Timur b. Sebelah Barat c. Sebelah Utara d. Sebelah Selatan 3. Luas Wilayah Poskesdes Karang Raja mempunyai luas wilayah keseluruhan 1.105 km. 5.1.2 Gambaran Demografi 1. Jumlah Penduduk : Kelurahan Muara Dua : Kelurahan Pasar I : Kelurahan Tugu Kecil : Kelurahan Majasari

31

Jumlah penduduk di kelurahan Karang Raja keseluruhannya berjumlah 5.649 jiwa. Jumlah wanita usia subur (WUS) 1.226 jiwa, pasangan usia subur (PUS) 1.430 jiwa, ibu hamil (BUMIL) 148 jiwa, ibu bersalin (BULIN) 141 jiwa, usia lanjut (USILA) 519 jiwa, bayi 135 jiwa, dan Prasekolah 152 jiwa. 30 2. Sarana Pelayanan Kesehatan Sarana kesehatan di Poskesdes Karang Raja terdiri dari : a. Ruang KIA b. Ruang Bersalin c. Ruang Periksa d. Loket :1 :1 :1 :1

e. Kader Posyandu : 39 f. Posyandu Balita : 5 g. Posyandu Lansia : 3

5.2 Analisa Data 5.2.1 Analisa Univariat Analisa dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan presentase dari variabel pendidikan, pengetahuan (variabel independen) serta pemberian imunisasi H-B 0-7 Hari (variabel dependen).

32

5.2.1.1 Pendidikan Pendidikan adalah lamanya sekolah atau tingkat sekolah yang telah diikuti oleh responden (Notoatmodjo, 2010 : 112). Pendidikan responden dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu tinggi (jika pendidkan terakhir responden SMU) dan rendah (jika pendidikan responden terakhir < SMU) dengan jumlah responden 41 orang. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 5.1 dibawah ini.

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0-7 Hari di Kelurahan Karang Raja kota Prabumulih tahun 2011 No 1 2 Pendidikan Tinggi Rendah Jumlah
Sumber : Data Primer Terolah, 2011

Frekuensi 15 26 41

Persentase (%) 36,6 63,4 100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa responden dengan pendidikan rendah 26 (63,4%) lebih banyak dari pada responden dengan pendidikan tinggi 15 (36,6%).

33

5.2.1.2 Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan what, misalnya apa air, apa manusia, apa alam, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010 : 1). Pengetahuan responden dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu baik (jika responden dapat menjawab tahu 70% dari pertanyaan yang diberikan) dan kurang (jika responden dapat menjawab tahu < 70% dari pertanyaan yang diberikan) dengan jumlah responden 41 orang. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 5.2 dibawah ini.

Tabel 5.2 Distribusi

Frekuensi

Pengetahuan

Ibu

dengan

Pemberian

Imunisasi Hepatitis B 0-7 Hari di Kelurahan Karang Raja kota Prabumulih tahun 2011 No 1 2 Pengetahuan Baik Kurang Jumlah
Sumber : Data Primer Terolah, 2011

Frekuensi 12 29 41

Persentase (%) 29,3 70,7 100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa responden yang pengetahuannya kurang terhadap pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari 29

34

(70,7%) lebih banyak dari pada responden yang pengetahuannya baik 12 (29,3%).

5.2.1.3 Pemberian Imunisasi H-B 0-7 Hari Imunisasi hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis (Priyono, 2010).

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0-7 Hari di Poskesdes Karang Raja Wilayah Kerja Puskesmas Prabumulih Timur Kota Prabumulih tahun 2011 Pemberian Imunisasi No. H-B 0-7 Hari 1 2 Mendapatkan Tidak Mendapatkan Jumlah
Sumber : Data Primer Terolah, 2011

Frekuensi

Persentase (%)

15 26 41

36,6 63,4 100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa bayi yang mendapatkan imunisasi H-B 0-7 Hari adalah sebesar 15 (36,6%) dan bayi yang tidak mendapatkan imunisasi H-B 0-7 Hari adalah sebesar 26 (63,4%).

35

5.2.2 Analisa Bivariat Analisis bivariat ini untuk mengetahui hubungan antara variabel independen (pendidikan dan pengetahuan) dengan variabel dependen (pemberian imunisasi H-B 0-7 Hari) di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih dengan menggunakan uji Chi Square, dengan tingkat kemaknaan 0,05 pada df = 1 bila p. value 0,05 berarti ada hubungan yang bermakna (signifikan) dan bila p. value > 0,05 berarti tidak ada hubungan yang bermakna. 5.2.2.1 Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0-7 Hari Pendidikan adalah lamanya sekolah atau tingkat sekolah yang telah diikuti oleh responden (Notoatmodjo, 2010 : 112). Pendidikan responden dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu tinggi (jika pendidkan terakhir responden SMU) dan rendah (jika pendidikan responden terakhir < SMU) dengan jumlah responden 41 orang. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 5.1 dibawah ini.

36

Tabel 5.4 Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0-7 Hari di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih Tahun 2011 Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0-7 Hari Tidak Mendapatkan Mendapatkan N % N % 10 66,7 5 33,3 5 15 19,2 36,6 21 26 80,8 63,4

No

Pendidikan

Tingkat Kemaknaan p. value 0,002

1 2

Tinggi Rendah Jumlah

15 26 41

100 100 100

Sumber : Data Primer Terolah, 2011

Dari tabel 5.4 diatas dapat dilihat bahwa proporsi responden yang pendidikannya tinggi dan bayinya mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari sebanyak 10 orang (66,7%) lebih banyak dari yang tidak mendapatkan imunisasi yaitu sebanyak 5 orang (33,3%). Sedangkan responden yang pendidikannya rendah dan bayinya tidak mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari sebanyak 21 orang (80,8%) lebih banyak dari yang mendapatkan imunisasi yaitu 5 orang (19,2). Dari hasil analisis bivariat tabel 5.4 menunjukkan ada hubungan yang bermakna (signifikan) antara pendidikan dengan pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari dengan p value 0,002 < 0,05, sehingga hipotesis yang menyatakan

37

ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari diterima. 5.2.2.2 Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0-7 Hari Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan what, misalnya apa air, apa manusia, apa alam, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010 : 1). Pengetahuan responden dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu baik (jika responden dapat menjawab tahu 70% dari pertanyaan yang diberikan) dan kurang (jika responden dapat menjawab tahu < 70% dari pertanyaan yang diberikan) dengan jumlah responden 41 orang. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 5.2 dibawah ini. Tabel 5.5 Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0-7 Hari di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih Tahun 2011 Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0-7 Hari Tidak Mendapatkan Mendapatkan N % N % 8 66,7 4 33,3 7 15 24,1 36,6 22 26 75,9 63,4

No

Pengetahuan

Tingkat Kemaknaan p. value 0,015

1 2

Baik Kurang Jumlah

12 29 41

100 100 100

Sumber : Data Primer Terolah, 2011

38

Dari tabel 5.5 diatas dapat dilihat bahwa proporsi responden yang pengetahuannya baik dan bayinya mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari sebanyak 8 orang (66,7%) lebih banyak dari yang tidak mendapatkan imunisasi yaitu sabanyak 4 orang (33,3%). Sedangkan responden yang pengetahuannya kurang dan bayinya tidak mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari sebanyak 22 orang (75,9%) lebih banyak dari yang mendapatkan imunisasi yaitu 7 orang (24,1%). Dari hasil analisis bivariat tabel 5.5 menunjukkan ada hubungan yang

bermakna (signfikan) antara pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari dengan p value 0,015 < 0,05. Sehingga hipotesis yang menyatakan ada

hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari diterima.

39

BAB VI PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian yang dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih pada bulan juni-juli 2011 dengan jumlah responden 41 responden diperoleh pembahasan sebagai berikut : 6.1 Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0-7 Hari Berdasarkan penelitian univariat tabel 5.1 bahwa responden dengan pendidikan rendah 26 (63,4%) lebih banyak dari pada responden dengan pendidikan tinggi 15 (36,6%). Dari hasil analisis bivariat tabel 5.4 menunjukkan ada hubungan yang bermakna (signifikan) antara pendidikan dengan pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari dengan p value 0,002 < 0,05, sehingga hipotesis yang menyatakan ada hubungan

antara tingkat pendidikan dengan pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari diterima. Menurut analisa peneliti, dari hasil penelitian yang dilakukan di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih tahun 2011 dapat dilihat bahwa ibu yang mempunyai bayi dengan tingkat pendidikan

39

40

rendah paling banyak tidak mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu dan informasi mengenai imunisasi hepatitis B 0-7 hari. Karena pendidikan seseorang dapat mempengaruhi

pengetahuannya. Namun ada juga ibu yang berpendidikan tinggi tetapi bayinya tidak mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari. Hal ini dapat disebabkan karena ibu tersebut bersalin di bidan praktek swasta atau di rumah, sehingga bayinya tidak mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari.

6.2 Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0-7 Hari Berdasarkan penelitian univariat tabel 5.2 bahwa responden yang

pengetahuannya kurang terhadap pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari 29 (70,7%) lebih banyak dari pada responden yang pengetahuannya baik 12 (29,3%). Dari hasil analisis bivariat tabel 5.5 menunjukkan ada hubungan yang bermakna (signfikan) antara pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari dengan p value 0,015 < 0,05. Sehingga hipotesis yang menyatakan ada hubungan

antara pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari diterima. Menurut analisa peneliti, dari hasil penelitian yang dilakukan di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Pabumulih Timur kota Prabumulih dapat dilihat bahwa ibu yang mempunyai bayi dengan pengetahuan kurang paling banyak

41

tidak mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari. Hal ini dikarenakan ibu yang berpengetahuan kurang tidak mengetahui dengan baik bahwa pentingnya imunisasi hepatitis B 0-7 hari sehingga ibu tersebut menganggap imunisasi tidak terlalu penting dan bersikap tidak mau mengimunisasi anaknya yang secara tidak langsung mempengaruhi keberhasilan cakupan imunisasi hepatitis B 0-7 hari pada bayi.

6.3 Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0-7 Hari Imunisasi hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis (Priyono, 2010). Berdasarkan hasil analisis univariat terhadap variabel pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari diperloeh data bahwa dari 41 responden didapatkan 26 (63,4%) bayi yang tidak mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari lebih banyak dari pada bayi yang mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari yaitu berjumlah 15 (36,6%). responden yang pendidikannya tinggi dan bayinya mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari sebanyak 10 orang (66,7%) lebih banyak dari yang tidak mendapatkan imunisasi yaitu sebanyak 5 orang (33,3%). Sedangkan responden yang pendidikannya rendah dan bayinya tidak mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari sebanyak 21 orang (80,8%) lebih banyak dari yang mendapatkan imunisasi yaitu 5 orang (19,2%). responden yang pengetahuannya baik dan bayinya mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari sebanyak 8 orang (66,7%) lebih banyak dari yang tidak mendapatkan

42

imunisasi

yaitu

sabanyak

orang

(33,3%).

Sedangkan

responden

yang

pengetahuannya kurang dan bayinya tidak mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari sebanyak 22 orang (75,9%) lebih banyak dari yang mendapatkan imunisasi yaitu 7 orang (24,1%).

43

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih tahun 2011, peneliti menarik beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan variabel independen (pendidikan dan pengetahuan) dan variabel dependen (pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari) dengan jumlah responden 41 orang yaitu : 1. Dari 41 responden sebagian besar responden yang tidak mendapatkan imunisasi hepatitis B 0-7 hari (63,4%), tingkat pendidikan rendah (63,4%), dan yang pengetahuannya kurang (70,7%). 2. Ada hubungan yang bermakna (signifikan) antara pendidikan dengan pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih Tahun 2011. Hal ini terlihat dari hasil uji statistik chi square dengan p value 0,002 < 3. Ada hubungan 0,05.

yang bermakna (signfikan) antara pengetahuan ibu dengan

pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari di Poskesdes Karang Raja wilayah kerja Puskesmas Prabumulih Timur kota Prabumulih Tahun 2011. Hal ini terlihat dari hasil uji statistik chi square dengan p value 0,015 < 0,05.

43

44

7.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian yang didapat, maka disarankan : 1. Bagi Masyarakat Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat ksususnya ibu-ibu yang mempunyai bayi tentang imunisasi hepatitis B 0-7 hari. 2. Bagi Petugas Kesehatan diharapkan lebih meningkatkan penyuluhan tentang pentingnya imunisasi dan meningkatkan peran serta masyarakat untuk membawa anaknya ke Posyandu. 3. Bagi Akbid Rangga Husada Prabumulih Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi di perpustakaan Akademi Kebidanan Rangga Husada Prabumulih, mengenai pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari. 4. Bagi Peneliti Selanjutnya Diharapkan bagi mahasiswa yang selanjutnya akan meneliti masalah ini agar dapat menggali lagi kira-kira faktor apalagi yang dapat mempengaruhi pemberian imunisasi hepatitis B 0-7 hari.