Anda di halaman 1dari 8

UNDANG - UNDANG NO.

11 TAHUN 2008
TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK
(UU ITE)


Diaiukan sebagai tugas mata kuliah Etika ProIesional
Oleh :
1. Eko ribut santoso (0910651221)
2. Ahmad eko B.P (0910651228)
3. MahIut Hamsyah (0910651253)
4. Very kurniawan (0910651236)
5. Wahyudi harnowo (0910651222)
6. Moch. Rizal (0910651245)
7. Fera Novianty (0910651210)
8. Dwiki Rahmat N (0910651238)
9. Erka khakim (0910651203)
10.Qori U (0910651252)
11.Melinda Rahmah (0910651246)

FAKULTAS TEKNIK
1URUSAN TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH 1EMBER

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Indonesia telah memasuki sebuah tahapan baru dalam dunia inIormasi dan
komunikasi dalam hal ini adalah internet. Indonesia merupakan salah satu negara
berkembang di dunia yang telah memulai babakan baru dalam tata cara pengaturan
beberapa sistem komunikasi melalui media internet yakni seperti inIormasi, pertukaran
data, transaksi online dsb. Hal itu dilakukan oleh Indonesia melalui pemerintah yang
bekeriasama dengan Dewan Perwakilan Rakyat untuk membuat sebuah draIt atau aturan
dalam bidang komunikasi yang tertuang dalam RUU ITE atau Undang-Undang InIormasi
dan Transaksi Eletronik. Tepatnya pada tanggal 25 Maret 2008 telah disahkan meniadi
UU oleh DPR. UU ini dimaksudkan untuk meniawab permasalahan hukum yang
seringkali dihadapi diantaranya dalam penyampaian inIormasi, komunikasi, dan/atau
transaksi secara elektronik, khususnya dalam hal pembuktian dan hal yang terkait dengan
perbuatan hukum yang dilaksanakan melalui sistem elektronik. Hal tersebut adalah
sebuah langkah maiu yang di tempuh oleh pemerintah dalam penyelenggaraan layanan
inIormasi secara online yang mencakup beberapa aspek kriteria dalam penyampaian
inIormasi.
Untuk itu tentu dibutuhkan suatu aturan yang dapat memberikan kepastian
hukum dunia maya di Indonesia. Maka diterbitkanlah undang-undang No. 11 tahun 2008
tentang inIormasi dan transaksi elektronik yang lazim dikenal dengan istilah 'UU ITE.

1.2.Tuiuan Penulisan
Adapun tuiuan dari makalah ini adalah :
1. Sebagai tugas mata kuliah Etika ProIesional
2. Sebagai panduan untuk memahami UU ITE





BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Latar Belakang Disusunnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008


Hukum yang baik adalah hukum yang bersiIat dinamis, dimana hukum dapat
berkembang sesuai dengan perkembangan yang teriadi di masyarakat. Salah satu
perkembangan yang teriadi adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
dunia maya. Dunia maya iuga telah mengubah kebiasaan banyak orang yang
menggunakan internet untuk melakukan berbagai kegiatan dan iuga membuka peluang
teriadinya keiahatan. Untuk itu tentu dibutuhkan suatu aturan yang dapat memberikan
kepastian hukum dunia maya di Indonesia. Maka diterbitkanlah undang-undang No. 11
tahun 2008 tentang inIormasi dan transaksi elektronik yang lazim dikenal dengan istilah
'UU ITE.
2.2.ManIaat Kehadiran UU ITE
Kehadiran UU No. 11 Tahun 2008 tentang InIormasi dan Transaksi Elektronik
(ITE) akan memberikan manIaat, beberapa diantaranya; (i) meniamin kepastian hukum
bagi masyarakat yang melakukan transaksi secara elektronik; (ii) mendorong
pertumbuhan ekonomi Indonesia; (iii) sebagai salah satu upaya untuk mencegah
teriadinya keiahatan berbasis teknologi inIormasi; (iv) melindungi masyarakat pengguna
iasa dengan memanIaatkan teknologi inIormasi.

2.3. Kronologis UU ITE
UU ITE mulai dirancang seiak Maret 2003 oleh Kementerian Negara
Komunikasi dan InIormasi (KominIo) dengan nama Rancangan Undang Undang
InIormasi Elektronik dan Transaksi Elektronik (RUU-IETE). Semula UU ini dinamakan
Rancangan UndangUndang InIormasi Komunikasi dan Transaksi Elektronik (RUU
IKTE) yang disusun Ditien Pos dan Telekomunikasi - Departemen Perhubungan serta
Departemen Perindustrian dan Perdagangan, bekeria sama dengan Tim dari Fakultas
Hukum Universitas Padiadiaran (Unpad) dan Tim Asistensi dari ITB, serta Lembaga
Kaiian Hukum dan Teknologi Universitas Indonesia (UI).
Setelah Departemen Komunikasi dan InIormatika terbentuk berdasarkan Peraturan
Presiden RI No 9 Tahun 2005, tindak laniut usulan UU ini kembali digulirkan. Pada 5
September, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui surat No.R./70/Pres/9/2005
menyampaikan naskah RUU ini secara resmi kepada DPR RI. Bersamaan dengan itu,
pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan InIormatika membentuk 'Tim Antar
Departemen Dalam rangka Pembahasan RUU Antara Pemerintah dan DPR RI dengan
Keputusan Menteri Komunikasi dan InIormatika No.83/KEP/M.KOMINFO/10/2005
tanggal 24 Oktober 2005 yang kemudian disempurnakan dengan Keputusan Menteri No.:
10/KEP/M.KominIo/01/2007 tanggal 23 Januari 2007 dengan Pengarah:
O Menteri Komunikasi dan InIormatika,
O Menteri Hukum dan HAM, Menteri Sekretaris Negara, dan Sekretaris Jenderal
O DepkominIo. Ketua Pelaksana Ir. Cahyana Ahmadiayadi, Dirien Aplikasi
Telematika
O DepkominIo, Wakil Ketua Pelaksana I: Dirien Peraturan Perundang-undangan
O Departemen Hukum dan HAM dan Wakil Ketua Pelaksana II: StaI Ahli Menteri
Komunikasi dan InIormatika Bidang Hukum.

2.3.1. Proses Pembahasan UU ITE
A. Pembentukan Pansus Dan RDPU
Merespon surat Presiden No. R./70/Pres/9/2005, DPR membentuk Panitia
Khusus (Pansus) RUU ITE yang awalnya diketuai oleh R.K. Sembiring Meliala (FPDIP)
untuk selaniutnya digantikan oleh Suparlan, SH (FPDIP). Pansus DPR beranggotakan 50
orang dari 10 (sepuluh) Iraksi yang ada di DPR. Pansus mulai bekeria seiak 17 Mei 2006
hingga 13 Juli 2006 dengan menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan
berbagai pihak sebanyak 13 kali; antara lain operator telekomunikasi, perbankan, aparat
penegak hukum, dan kalangan akademisi. Setelah menyelesaikan RDPU dengan 13
institusi, pada Desember 2006 Pansus DPR RI menetapkan DaItar Inventarisasi Masalah
(DIM). Ada 287 DIM yang berasal dari 10 Iraksi yang tergabung dalam Pansus.

B. Rapat Pansus, Pania, Dan Timus-Timsin
Pembahasan DIM RUU ITE antara Pansus DPR dengan Pemerintah (Tim
Antar Departemen Pembahasan RUU ITE) mulai dilaksanakan pada 24 Januari 2007 di
Ruang Komisi I DPR. Pembahasan dilakukan sekali dalam seminggu (Rabu atau Kamis)
sesuai undangan DPR.
Pada pembahasan RUU ITE tahap Pansus, sesuai ketentuan, Pemerintah
diwakili oleh Menteri Komunikasi dan InIormatika atau Menteri Hukum dan HAM serta
didampingi anggota Tim Antar Departemen Pembahasan RUU ITE. Rapat Pansus yang
dilaksanakan seiak 24 Januari hingga 6 Juni 2007, dilakukan sebanyak 17 kali dan
berhasil membahas seluruh DIM Setelah Pansus, pembahasan dilakukan pada tahap
Panitia Keria (Pania), berlangsung mulai 29 Juni 2007 sampai 31 Januari 2008, dengan
iumlah rapat sebanyak 23 kali. Selesai Rapat Pania, pembahasan dilaniutkan pada tahap
Tim Perumus (Timus) dan Tim Sinkronisasi (Timsin) yang berlangsung seiak 13 Februari
sampai 13 Maret 2008 dengan iumlah rapat sebanyak 5 kali.

C. Rapat Pleno Pansus Dan Paripurna Dewan
Tahap selaniutnya setelah Rapat Pansus, Pania, dan Timus-Timsin dilalui,
digelar Rapat Pleno Pansus RUU ITE dilakukan untuk pengambilan keputusan tingkat
pertama terhadap naskah akhir RUU ITE. Ini dilangsungkan pada 18 Maret 2008, dan
hasilnya menyetuiui RUU ITE dibawa ke pengambilan keputusan tingkat II. Pada Rapat
Paripurna DPR RI, tanggal 25 Maret 2008, 10 Fraksi sepakat menyetuiui RUU ITE
ditetapkan meniadi Undang-Undang untuk selaniutnya dikirim ke Presiden untuk
ditandatangani.
Kemudian lahirlah UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang InIormasi dan
Transaksi Elektronik (ITE), yang telah ditandatangan oleh Presiden RI Susilo Bambang
Yudhoyono, pada 21 April 2008 lalu, yang sebelumnya pada 25 Maret 2008 ditelah
disetuiui oleh DPR, sebagai upaya untuk menyediakan payung hukum bagi kegiatan
pemanIaatan teknologi inIormasi dan transaksi elektronik.

2.4. Gambaran Umum UU ITE
UU ITE ini terdiri dari 13 bab dan 54 pasal ;
Bab 1 Tentang Ketentuan Umum,
Yang menielaskan istilahistilah teknologi inIormasi menurut undang-undang inIormasi
dan transaksi elektronik.
Bab 2 Tentang Asas Dan Tuiuan,
Yang menielaskan tentang landasan pikiran dan tuiuan pemanIaatan teknologi inIormasi
dan transaksi elektronik.
Bab 3 Tentang InIormasi, Dokumen, Dan Tanda Tangan Elektronik,
Yang menielaskan sahnya secara hukum penggunaan dokumen dan tanda tangan
elektronik sebagai mana dokumen atau surat berharga lainnya.
Bab 4 Tentang Penyelenggaraa SertiIikasi Elektronik Dan Sistem Elektronik,
Menielaskan tentang individu atau lembaga yang berhak mengeluarkan sertiIikasi
elektronik dan mengatur ketentuan yang harus di lakukan bagi penyelenggara sistem
elektronik.
Bab 5 - Tentang Transaksi Elektronik,
Berisi tentang tata cara penyelenggaraan transaksi elektronik.
Bab 6 Tentang Nama Domain, Hak Kekayaan Intelektual, Dan Perlindungan Hak
Pribadi,
Menielaskan tentang tata cara kepemilikan dan penggunaan nama domain, perlindungan
HAKI, dan perlindungan data yang bersiIat privacy.
Bab 7 Tentang Perbuatan Yang Dilarang,
Menielaskan tentang pendistribusian dan mentransmisikan inIormasi elektronik secara
sengaia atau tanpa hak yang didalamnya memiliki muatan yang dilarang oleh hukum.
Bab 8 Tentang Penyelesaian Sengketa,
Menielaskan tentang pengaiuan gugatan terhadap pihak pengguna teknologi inIormasi
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bab 9 Tentang Peran Pemerintah Dan Peran Masyarakat,
Menielaskan tentang peran serta pemerintah dan masyarakat dalam melindungi dan
memanIaatkan teknologi inIormasi dan transaksi elektronik.
Bab 10 Tentang Penyidikan,
Bab ini mengatur tata cara penyidikan tindak pidana yang melanggar Undang-Undang
ITE sekaligus menentukan pihak-pihak yang berhak melakukan penyidikan.
Bab 11 - Tentang Ketentuan Pidana,
Berisi sanksi-sanksi bagi pelanggar Undang-Undag ITE.
Bab 12 Tentang Ketentuan Peralihan,
MenginIormasikan bahwa segala peraturan lainnya dinyatakan berlaku selama tidak
bertentangan dengan UU ITE.
Bab 13 Tentang Ketentuan Penutup,
Berisi tentang pemberlakuan undang-undang ini seiak ditanda tangani presiden.


2.5. Tuiuan Undang-Undang ITE
1. Mengembangkan kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat inIormasi
dunia.
2. Mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional dalam rangka
meningkatkan keseiahteraan masyarakat.
3. Meningkatkan aktiIitas dan eIisiensi pelayanan publik.
4. Membuka kesempatan seluas-luasnya kepada setiap orang untuk memaiukan
pemikiran dan kemampuan dibidang penggunaan dan pemanIaatan teknologi
inIormasi seoptimal mungkin namun disertai dengan tanggung iawab.
5. Memberikan rasa aman, keadilan dan kepastian hukum bagi pengguna dan
penyelenggara teknologi inIormasi.

2.6. Contoh - Contoh Kasus Pelanggaran UU ITE
O Luna Maya diierat pasal 27 undang-undang ITE karena melecehkan proIesi
wartawan (bukan iurnalist, kalau iurnalist menulis dengan Iakta dan bukti yang
nyata, kalau wartawan bisa menulis dengan abstrak yang dalam hal ini kita
pandang sebagai ISU) inIotainment dengan kata 'pelacur dan ~pembunuh'.
O Prita Mulyasari diierat pasal 27 ayat 3 Undang-Undang nomor 11 tahun 2008
tentang InIormasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), karena akan mengancam
kebebasan berekspresi.
O Narliswandi sudah diperiksa pada 28 Agustus lalu. Penyidik berniat pula menierat
Narliswandi dengan Pasal 27 Undang-Undang InIormasi dan Transaksi Elektronik
dengan ancaman hukuman 6 tahun peniara dan denda Rp 1 miliar. Karena kasus
pencemaran nama baik terhadap anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Alvin Lie.
O Agus Hamonangan diperiksa oleh penyidik Polda Metro Jaya Sat. IV Cyber Crime
yakni Sudirman AP dan Agus Ristiani. Meruiuk pada laporan Alvin Lie,
ketentuan hukum yang dilaporkan adalah dugaan perbuatan pidana pencemaran
nama baik dan Iitnah seperti tercantum dalam Pasal 310, 311 Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP), serta dugaan perbuatan
mendistribusikan/mentransmisikan inIormasi elektonik yang memuat materi
penghinaan seperti tertuang dalam Pasal 27 ayat (3) Pasal 45 ayat (1) UU Nomor
11 Tahun 2008 tentang InIormasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
O Ariel diierat Pasal 27 ayat 1 UU nomor 11 tahun 2008 tentang ITE io pasal 45
ayat 1 UU ITE mengatur tentang hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan
dan/atau membuat dapat diaksesnya InIormasi elektronik dan/atau dokumen
elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.
O Dani Firmansyah, hacker situs KPU dinilai terbukti melakukan tindak pidana yang
melanggar pasal 22 huruI a, b, c, tahun 2008 tentang Telekomunikasi. Selain itu
Dani Firmansyah iuga dituduh melanggar pasal 38 Bagian ke-11 UU
Telekomunikasi.

BAB III
KESIMPULAN
Walaupun terlambat, kehadiran aturan hukum baru tersebut dapat dilihat
sebagai bentuk respons pemerintah untuk menierat orang-orang yang tidak bertanggung
iawab dalam menggunakan internet hingga merugikan masyarakat, bangsa, dan negara
Indonesia. Menurut MenkominIo Muhammad Nuh,sedikitnya ada tiga hal mendasari
penyalahgunaan internet yang dapat menghancurkan keutuhan bangsa secara keseluruhan,
yakni pornograIi, kekerasan, dan inIormasi yang mengandung hasutan SARA.
Kalau UU ITE dilihat dalam perspektiI penanggulangan penyalahgunaan
internet di atas, maka semestinya tak perlu ada pro dan kontra. Ini karena pada dasarnya
kehadiran UU itu untuk melindungi masyarakat dari kerugian dan kehancuran akhlak
yang akan berimplikasi pada kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Meski
demikian, kehadiran perangkat hukum itu pun tidak secara otomatis dapat menghentikan
langkah para hacker atau cracker. Bahkan, boleh iadi perangkat hukum ini akan
memancing keberanian mereka untuk mencari titik-titik lemahnya sehingga mereka bisa
terus melancarkan aksinya. Kenyataannya, para pelaku cvber crime secara umum adalah
orang-orang yang memiliki keunggulan dan kemampuan keilmuan dan teknologi di
bidangnya. Sementara itu, kemampuan aparat untuk menangkalnya sungguh iauh dari
kualitas dari para pelaku keiahatan tersebut.
Semoga kehadiran UU ITE bisa meniadi payung hukum bagi aparat
kepolisian untuk bertindak tegas dan selektiI terhadap berbagai ienis penyalahgunaan
internet. Dengan demikian, kehadiran UU ini tidak meniadi momok yang menakutkan
bagi pengguna dan mematikan kreativitas seseorang di dunia maya.