Anda di halaman 1dari 13

PROGRAM KERJA PENGENDALIAN RESISTENSI

ANTIMIKROBA

RSU MADANI MEDAN


TAHUN 2018
BAB I

PENDAHULUAN

Keselamatan pasien di rumah sakit adalah sistem pelayanan dalam suatu RS yang
memberikan asuhan pasien menjadi lebih aman. Risiko terjadinya kesalahan medis yang dialami
pasien di rumah sakit sangat besar. Besarnya risiko dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
lamanya pelayanan, keadaan pasien, kompetensi dokter, serta prosedur dan kelengkapan fasilitas.
Kesalahan medis tersebut bisa saja terjadi pada saat komunikasi dengan pasien, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan penunjang, diagnosis maupun terapi dan tindak lanjut, namun bukan
disebabkan oleh penyakit underlying diseases. Risiko klinis tersebut bisa berakibat cedera,
kehilangan/kerusakan atau bisa juga karena faktor kebetulan atau ada tindakan dini tidak
berakibat cedera.
Kejadian risiko yang mengakibatkan pasien tidak aman sebagian besar dapat dicegah
dengan beberapa cara. Antara lain meningkatkan kompetensi diri, kewaspadaan dini, dan
komunikasi aktif dengan pasien. Salah satu yang bisa dilakukan untuk mendukung program
patient safety tersebut adalah penggunaan antibiotik secara bijak dan penerapan pengendalian
infeksi secara benar. Diharapkan penerapan “Program Pengendalian Resistensi Antibiotik” dapat
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya penanganan kasus-kasus infeksi di rumah
sakit serta mampu meminimalkan risiko terjadinya kesalahan medis yang dialami pasien di
rumah sakit.
Resistansi antibiotika telah menjadi masalah di Indonesia dengan merujuk pada Pedoman
Pengendalian Resistensi Antibiotika (PPRA) yang melibatkan 20 rumah sakit pendidikan.
Permenkes no. 2406/Menkes/PER.XII/2011 tentang Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik dan
beberapa hasil penelitian telah dilakukan antara lain Antimicrobial Resistance in: Indonesia
Prevalence and Prevention (AMRIN) menyatakan bahwa Indonesia memiliki resistensi terhadap
mikroba. Akibat dari resistensi antibiotika yaitu pengobatan pasien menjadi gagal atau tidak
sembuh, biaya jadi meningkat karena LOS (long of stay) lebih lama dan jenis antibiotika
beragam serta keberhasilan program kesehaan masyarakat dapat terganggu.
Badan Eksekutif WHO telah merekomendasikan untuk memasukkan resistensi antibiotika
ke resolusi EB134.R13 pada World Health Assembly 2014 bulan Mei lalu, dengan penyusunan
Rencana Aksi Global untuk Resistensi Antibiotika. World Health Day 2011 mengusung tema
Antimicrobial Resistance (AMR). Hal ini kemudian dilanjutkan oleh penandatanganan “Jaipur
Declaration on Antimicrobial Resistance 2011” oleh Menteri-menteri Kesehatan dari negara-
negara anggota WHO Regional Asia Tenggara. Dimana pada Deklarasi Jaipur tersebut
ditekankan pentingnya pemerintah menempatkan prioritas utama untuk mempertahankan efikasi
antibiotik dan menghindari resistensi antimikroba. Mengatasinya dengan melakukan rencana aksi
yang melibatkan multisektor
Untuk mendukung kegiatan PPRA di rumah sakit perlu kesiapan infrastruktur rumah sakit
melalui kebijakan pimpinan rumah sakit yang mendukung penggunaan antibiotic secara bijak
(prudent use of antibiotics), pelaksanaan pengendalian infeksi secara optimal, pelayanan
mikrobiologi klinik dari pelayanan farmasi klinik seara professional. Hal ini sesuai dengan hasil
rekomendasi Lokakarya Nasional Kedua ‘Staregy to Combat the Emergence and Spread of
Antimikrobial Resistant Bacteria in Indonesia’ di Jakarta tanggal 6-7 Desember 2006 bahwa
setiap rumah sakit diharapkan segera menerapkan PPRA.
2. LATAR BELAKANG

Resistensi mikroba terhadap antimikroba (disingkat resistensi antimikroba antimicrobial


resistance, AMR) telah menjadi masalah kesehatan yang mendunia, dengan berbagai dampak
merugikan dapat menurunkan mutu pelaksanan kesehatan. & unsure dan berkembanganya

Resistensi antimikroba terjadi karena tekanan seleksi (sele'tion pressure) yang sangat
berhubungan dengan penggunaan antimikroba dan penyebaran mikroba resisten (spread).
Tekanan seleksi resistensi dapat dihambat dengan cara menggunakan secara bijak sedangkan
proses penyebaran dapat dihambat dengan cara mengendalikan infeksi secara optimal. Resistensi
antimikroba yang dimaksud adalah resistensi terhadap antimikroba yang efektif, untuk terapi
infeksi yang disebabkan oleh bakteri jamur virus dan parasit. Bakteri adalah penyebab infeksi
terbanyak maka penggunaan anti bakteri yang dimaksud adalah penggunaan antibiotik. Hasil
penelitian Antimcrobial Resistant indonesia (AMRIN-StudY) tahun 2000-2005 pada 2494
individu masyarakat, memperlihatkan bahwa 43% eserichia coli resisten terhadap berbagai jenis
antibiotic antara lain ampisilin (34%), kotrimoksazole (29%) dankloramfenikol (25%).
Sedangkan pada 781 pasien yang dirawat di rumah sakit di dapatkan 8.eserichia coli resisten
terhadap berbagai jenis antibiotic, yaitu ampisilin (73%), kotrimoksazol (56%),
klorampenikol(43%) siprofloksasin (22%), dangentamisin(18%). Hasil penelitian ini
membuktikan bahwa masalah resistensi antimikroba juga terjadi di indonesia. Penelitian tersebut
memperlihatkan bahwa di indonesia terdapat masalah resistensi antimikroba, penggunaan
antibiotik yang tidak bijak dan pengendalian infeksi yang belum optimal.penelitian AMRIN ini
menghasilkan rekomendasi berupa metode yang telah divalidasi (alidatedmethod) untuk
mengendalikan resistensi antimikroba secara efisien. Hasil penelitian tersebut telah di
sebarluaskan kerumah sakit lain di Indonesia melalui lokakarya nasional pertama di
bandungtanggal 29-31 mei 2005 dengan harapan agar rumahsakit lain dapat melaksanakan self
assessment program menggunakan :validated methode seperti yang dimaksud di atas.
Pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi di masing-masing rumah sakit
sehingga akan diperoleh data resistensi antimikroba data penggunaan antibiotic dan
pengendalian infeksi di indonesia. Namun sampai sekarang gerakan pengendalian resistensi
antimikroba di rumah sakit secara nasional belum berlangsung baik, terpadu, dan menyeluruh
sebagaimana yang terjadi di beberapa Negara .berbagai cara perlu dilakukan untuk
menanggulangi masalah resistensi antimikroba ini baik ditingkat perorangan maupun di tingkat
institusi atau lembaga pemerintahan dalam kerja sama antara institusi maupun antara
negara.WHO telah berhasil merumuskan 97 rekomendasi bagi Negara anggota untuk
melaksanakan pengendalian resistensi antimikroba. Di Indonesia rekomendasi ini tampaknya
belum terlaksana secara institusional. Padahal sudah diketahui bahwa penanggulangan masalah
resistensi antimikroba di tingkat internasional hanya dapat dituntaskan melalui gerakan global
yang dilaksanakaan secara serentak, terpadu, dan bersinambung dari semua negara. Diperlukan
pemahaman dan keyakinan tentang adanya masalah resistensi antimikroba yang kemudian
dilanjutkan dengan gerakan nasional melalui program terpadu antara rumah sakit profesi
kesehatan masyarakat perusahaan farmasi dan pemerintah daerah di bawah koordinasi
pemerintah pusat melalui kementerian kesehatan. Gerakan penanggulangan dan pengendalian
resistensi antimikroba secara paripurna ini disebut dengan program pengendalian Resistensi
Antimikroba (PPRA).Dalam rangka pelaksanaan PPRA di rumah sakit maka perlu disusun
pedoman pelaksanaan agar pengendalian resistensi antimikroba di rumahsakit di seluruh
Indonesia berlangsung secara baku dan data yang diperoleh dapat mewakili data nasional di
indonesia.

B. TUJUAN

Pedoman ini dimaksudkan untuk menjadi acuan dalam pelaksanaan program pengendalian
resistensianti mikroba di rumah sakit agar berlangsung secara baku, terpadu, berkesinambungan,
terukur, dan dapat dievaluasi.

1.Tujuan Umum

Menurunkan,memenimalkan,mencegah kejadian resistensi terhadap antimikroba dan


meningkatkan penggunaan antibiotic yang bijak pada pasien di rumah sakit umum
madani

2. Tujuan khusus

acuan dalam pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit umum madani medan
Sebagai,melalui:

 Terbentuk dan berfungsinya komite PPRA di rumah sakit umum madani

 Meningkatkan peranan pimpinan rumah sakit dibidang penanganan penyakit infeksi dan
penggunaan antibiotic

 Peningkatan fungsi laboratorium mikrobiologi klinik laboratorium penunjang lain


berkaitam dengan penanganan penyakit infeksi

 Pelaksanaan penggunaan antibiotic yang bijak dengan terwujudnya profil indicator:

1. Perbaikan kuantitas penggunaan antibiotic;

2. Perbaikan kualitas penggunaan antibiotic

3. Perbaikan pola kepekaan antibiotic dan penurunan pola resistensi antimikroba


4. Penurunan angka angka kejadian infeksi dirumah sakit yang disebabkan oleh
mikroba multi resisten,dan

5. Peningkatan mutu penanganan kasus infeksi secara multi disiplin melalui forum
kajian kasus infeksi terintegrasi

 Pengadaan fasilitas dan peralatan sesuai standar.

3.SASARAN

Sasaran kegiatan program pengendalian resistensi antimikroba rumah sakit


madani,meliputi:

1. Seluruh anggota komite PPRA

2. Seluruh pihak manajemen yang terkait

3. Seluruh PPA yang terkait


BAB II
KEBIJAKAN DAN DASAR HUKUM

Komite PPRA di bentuk agar dapat mencapai visi, misi dan tujuan dari penyelengraan
PPRA.Tim di bentuk berdasarkan kaidah organisasi yang miskin struktur dan kaya fungsi dan
dapat menyelenggarakan tugas, wewenang dan tanggung jawan secara efektif dan efisien.Efektif
dimaksud agar sumber daya yang ada di fasilitas pelayanan kesehatan dapat dimanfaatkan secara
optimal.

A. Kebijakan
Rumah sakit (Tim/Komite PPRA) menetapkan dan melaksanakan evaluasi dan analisis
indikator mutu PPRA sesuai peraturan perundangan-undangan meliputi :
1. Perbaikan kuantitas penggunaan antibiotik
2. Perbaikan kualitas penggunaan antibiotik
3. Peningkatan mutu penanganan kasus infeksi secara multidispilin dan terintegrasi
4. Penurunan angka infeksi rumah sakit yang di sebabkan oleh mikroba resisten
5. Indikator mutu PPRA terintegrasi pada indikator mutu PMKP

B. Dasar Hukum
1. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran;
2. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan;
3. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
4. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga
Kesehatan;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1438/MENKES/PER/IX/2010 Standar Pelayanan Kedokteran;
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2015 tentang
Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2017 tentang
Keselamatan Pasien;
8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34 tahun 2017 tentang
Akreditasi Rumah Sakit;
9. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
129/MENKES/SK/II/2008 tentang Standar Pelayan Min imal Rumah Sakit.
BAB III
ORGANISASI PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIMIKROBA

Organisasi pengendalian resistensi antimikroba disusun agar dapat mencapai visi, misi dan
tujuan dari penyelenggaraan PPRA.PPRA di bentuk berdasarkan kaidah organisasi yang miskin
struktur dan kaya fungsi dan dapat menyelenggarakan tugas, wewenang dantanggung jawab
secara efektif dan efisien.Efektif dimaksud agar sumber daya yang ada di rumah sakit dan
fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dapat di manfaat secara optimal.

A. Pimpinan dan Staf


Pimpinan dan petugas kesehatan dalam Komite dan Tim PPRA di beri kewenangan dalam
menjalankan program dan menentukan sikap pengendalian resintensi antimikroba.
Kriteria :
1. Komite PPRA disusun minimal terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan
Anggota.Ketua sebaiknya dokter, mempunyai minat, kepedulian dan pengetahuan,
pengalaman, mendalami masalah infeksi.Sekretaris sebaiknya seorang Farmasi yang
mempuyai minat, kepedulian dan pengetahuan, pengalamam, mendalami masalah
infeksi. Anggota terdiri dari :
a. Dokter wakil dari tiap SMF (Staf Medis Fungsional)
b. Dokter Mikrobiologi/Patologi Klinik
c. Perawat PPI
d. KFT
2. Tim PPRA terdiri dari KFT, Farmasi klinis, dan Mikrobiologi.

1. Direktur
Tugas Direktur :
a. Membentuk Komite dan Tim PPRA rumah sakit dengan Surat keputusan.
b. Bertanggung jawab dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap penyelengaraan
program pengendalian resistensi antimikroba.
c. Bertanggung jawab terhadap tersedianya fasilitas sarana dan prasarana termasuk
anggaran yang dibutuhkan.
d. Menentukan kebijakan pengendalian resistensi antimikroba.
e. Mengadakan evaluasi kebijakan pengendalian resistensi antimikroba berdasarkan
saran dari Komite PPRA rumah sakit.
f. Mengadakan evaluasi kebijakan pemakaian antibiotika yang rasional di rumah
sakit berdasarkan saran dari Komite PPRA rumah sakit
g. Mengesahkan Standar Prosedur Operasional (SPO) untuk PPRA rumah sakit.

2. Komite PPRA
Kriteria Anggota Komite PPRA :
a. Mempunyai minat dalam PPRA
b. Pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan PPRA

Tugas dan Tanggung Jawab Komite PPRA

a. Menyusun dan menetapkan serta mengevaluasi kebijakan PPRA


b. Melaksanakan sosialisasi kebijakan PPRA rumah sakit, agar kebijakan dapat
dipahami dan dilaksanakan oleh petugas kesehatan rumah sakit
c. Membuat SPO PPRA
d. Menyusun program PPRA dan mengevaluasi pelaksananan program tersebut
e. Bekerjasama dengan Tim PPRA dalam menurunkan angka infeksi di rumah sakit
f. Memberikan usulan untuk menurunkan angka infeksi di rumah sakit
g. Memberikan konsultasi pada petugas kesehatan rumah sakit dan fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya dalam PPRA
h. Mengidentifikasi temuan di lapangan dan mengusulkan pelatihan untuk
meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) rumah sakit dalam
PPRA
i. Melakukan pertemuan berkala, termasuk evaluasi kebijakan.
j. Menerima laporan dari Tim PPRA dan membuat laporan kepada Direktur
k. Berkoordinasi dengan unit terkait lainnya
l. Memberikan usulan kepada Direktur untuk pemakaian antibiotika yang rasional di
rumah sakit berdasarkan pantauan kuman dan resistensinya terhadap antibiotika
dan menyebar-luaskan data resistensi antibiotika
m. Mengembangkan, mengimplementasikan dan secara periodic mengkaji kembali
rencana manajemen PPRA apakah telah sesuai kebijakan manajemen rumah sakit

Peran farmasi sebagai anggota tim pengendalian resistensi antimikroba :

 Menerapkan prinsip penggunaan antibiotic secara bijak dan menerapkan kewaspadaan


standar
 Melakukan koordinasi program pengendalian resistensi antimikroba.
 Melakukan koordinasi dalam penyusunan panduan penggunaan antibiotic.
 Melakukan evaluasi penggunaan antibiotic bersama tim.
Peran laboratorium sebagai anggota tim pengendalian resistensi antimikroba :

 Lab mikrobiologi klinik bertugas menyusun pola mikroba dan kepekaan terhadap
antibiotic
 Dilakukan update setiap 1 tahun
 Digunakan sebagai dasar penyusunan dan pembaharuan pedoman penggunaan AB

Tujuan pelaporan :

 Mengetahui pola bakteri dan jamur penyebab infeksi mendapat antibiogram local
 Dasar penyusunan laporan hasil identifikasi mikroba melalui pemeriksaan mikrobiologi
 Data mikroba multiresisten diserahkan juga ke PPI

Peran perawat sebagai anggota tim pengendalian resistensi antimikroba :

 Menerapkan kewaspadaan standar dalam upaya mencengah penyebaran mikroba resisten.


 Terlibat dalam cara pemberian antibiotic yang benar.
 Terlibat dalam pengambilan specimen mikrobiologi secara teknik aseptic.

Peran Apoteker sebagai anggota tim pengendalian resistensi antimikroba :

 Mengelola serta menjamin mutu dan ketersediaan antibiotic yang tercantum dalam
formularium.
 Memberikan rekomedasi dan konsultasi serta terlibat dalam tata laksana pasien
infeksi,melalui pengkajian peresepan,pengendalian dan monitoring antibiotic,visit
kebangsal pasien bersama tim.
 Memberikan informasi dan edukasi tentang penggunaan antibiotic yang tepat dan benar.
 Melakukan evaluasi penggunaan antibiotic bersama tim.

Peran PPI sebagai anggota tim pengendalian resistensi antimikroba :

 Penerapan kewaspadaan standar.


 Surveilens kasus infeksi yang disebabkan mikroba multi resisten.
 Isolasi bagi pasien infeksi yang disebabkan mikroba multi resisten.
 Menyusun pedoman penanganan kejadian luar biasa mikroba multi resisten

B. Sarana dan Fasilitas Pelayanan Penunjang (Supporting System)


1. Sarana Kesekretariatan
a. Ruangan Sekretariat
b. Komputer, printer dan internet
c. Telepon dan Faksimili
d. Alat tulis kantor
2. Dukungan Manajemen
Dukungan yang diberikan oleh manajemen berupa :
a. Penerbitan Surat Keputusan untuk Komite dan Tim PPRA rumah sakit
b. Anggaran atau dana untuk kegiatan :
(1) Pendidikan dan Pelatihan (Diklat).
(2) Pengadaan fasilitas pelayanan penunjang.
(3) Untuk pelaksanaan program, monitoring, evaluasi, laporan dan rapat rutin.
3. Kebijakan dan Standar Prosedur Operasional
Kebijakan dan Standar Operasional yang perlu di persiapkan oleh rumah sakit adalah:
a. Kebijakan Manajemen
(1) Ada kebijakan penggunaan Antibiotika Propilaksis
(2) Ada kebijakan panduan penggunaan antibiotika

b. Kebijakan Teknis
(1) Ada SPO audit kuantitatif penggunaan antibiotika
(2) Ada SPO audit kualitatif penggunaan antibiotika
4. Pengembangan dan Pendidikan
a. Tim PPRA
(1) Wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan PPRA
(2) Memiliki sertifikat PPRA
(3) Mengembangkan diri mengikuti seminar, lokakarya dan sejenisnya
(4) Bimbingan teknis secara berkesinambungan
b. Staf Rumah Sakit
(1) Semua staf rumah sakit harus mengetahui tentang program pengendalian
resistensi antimikroba
(2) Semua staf rumah sakit yang berhibungan dengan pelayanan pasien harus
mengikuti pelatihan PPRA
(3) Rumah sakit secara berkala melakukan sosialisasi PPRA
(4) Semua karyawan baru, mahasiswa harus mendapatkan orientasi PPRA
BAB VI

KESIMPULAN

Muncul dan berkembangnya mikroba resisten dapat dikendalikan melalui dua kegiatan
utama yaitu penerapan penggunaan antibiotic secara bijak (prudent use o, antibiotics), dan
penerapan prinsip pencegahan penyebaran mikroba resisten melalui kewaspadaan standar.
Penggunaan antibiotik secara bijakialah penggunaan antibiotik yang sesuai dengan penyebab
infeksi dengan rejimen dosis optimal.lama pemberian optimal efek samping minimal dan
dampak minimal terhadap munculya mikroba resisten. Oleh sebab itu pemberian antibiotic harus
disertai dengan upaya menemukan penyebab infeksi dan pola kepekaannya. Penggunaan
antibiotic secara bijak memerlukan kebijakan pembatasan dalam penerapannya.

Antibiotic dibedakan dalam kelompok antibiotik yang bebas digunakan oleh semua
klinisi (non-restrited) dan antibiotik yang dihemat dan penggunaannya memerlukan persetujuan
tim ahli (restrited dan reserted) peresepan antibiotic bertujuan mengatasi penyakit infeksi (terapi)
dan mencegah infeksi pada pasien yang berisiko tinggi untuk mengalami infeksi bekteri pada
tindakan pembedahan (profilaksis bedah) dan beberapa kondisi medis tertentu (proilak
sismedik). Antibiotik tidak diberikan pada penyakit non-infeksi dan penyakit infeksi yang dapat
sembuh sendiri (sel,-limited) seperti infeksi virus. Pemilihan jenis antibiotic harus berdasarkan
hasil pemeriksaan mikrobiologi atau berdasarkan pola mikroba dan pola kepekaan antibiotic dan
di arahkan pada antibiotic berspektrum sempit untuk mengurangi tekanan seleksi (selection
pressure). Penggunaan antibiotic empiris berspektrum luas masih di benarkan pada keadaan
tertentu. Selanjutnya dilakukan penyesuaian dan evaluasi setelah ada hasil pemeriksaan
mikrobiologi (streamlining atau de-eskalasi).

Beberapa masalah dalam pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit perlu


diatasi. Dan misalnya tersedianya laboratorium mikrobiologi yang memadai komunikasi antara
berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan perlu ditingkatkan. Selain itu, diperlukan dukungan
kebijakan pembiayaan dan pengadaan antibiotik yang mendukung pelaksanaan penggunaan
antibiotic secara bijak di rumah sakit. Untuk menjamin berlangsungnya program ini perlu
dibentuk Tim pelaksana program pengendalian resistensi antimikroba Tim PPRA di rumah sakit.

Anda mungkin juga menyukai