Anda di halaman 1dari 7

DETASEMEN KESEHATAN WILAYAH 03.04.

03
RUMKIT TK II 03.06.01 CIREMAI

PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR


KOMPETENSI JABATAN BAGI STAF NON KLINIS

BAB I
PENDAHULUAN

1. Umum.

a. Berdasarkan pasal 17 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974


tentang pokok-pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditentukan bawa pengangkawan pegawai Negeri
Spil dalam jabatan dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalisme sesuai
dengan kompetensi, prestasi kerja dan jenjang pangkat yang ditetapan untuk
jabatan itu serta syarat obyektif lainnya tanpa membedakan jenis kelamin, suku,
agama, ras atau golongan.

b. Untuk menjamin obyekltifitas, keadilan dan transparansi pengangkatan


Pegawai dalam jabatan dan guna mewujudkan Instansi Rumah Sakit yang bersih
dan berwibawa serta menjamin keberhasilan pelaksanaan pemerintahan dan
pembangunan, perlu ditetapkan Standar Kompetensi.

2. Maksud dan Tujuan.

a. Maksud.
Peraturan ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi Pimpinan dalam menyusun
standar Kompetensi Jabatan Non Klinis di Rumkit Tk.III Ciremai.

b. Tujuan.
Ditetapkannya pedoman ini adalah agar dapat menyusun Standar Kompetensi
Jabatan Non Klinis di Rumkit Tk.III Ciremai.

3. Ruang Lingkup.
Ruang lingkup penyusunan Standar Kompentensi Jabatan Non Klinis diatur dengan
tata urut sebagai berikut :

a. Pembentukan dan tugas tim penyusun Standar Kompetensi Jabatan dengan


pendekatan kompetensi manajerial.
b. Prosedur penyusunan Standar Kompetensi Jabatan dengan pendekatan
kompetensi manajerial.
c. Penilaian kompetensi dengan pendekatan kompetensi manajerial.
d. Penutup.
4. Pengertian.
Dalam peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara ini yang dimaksud
dengan.
a. Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah PNS sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1974 tentang pokok-pokok kepegawaian.
b. Standar Kompetensi Jabatan yang selanjutnya disebut Standar Kompetensi
Manajerial adalah persyaratan kompetensi manajerial minimal yang harus dimiliki
seorang PNS dalam melaksanakan tugas jabatan.
c. Jabatan struktural adalah kedudukan yang menunjukkan tugas,
tanggungjawab, wewenang, dan hak seorang PNS dalam suatu satuan kerja.
d. Pejabat Struktural yang dimaksud dalam pedoman ini adalah jabatan
struktural eselon I, II, III dan IV.
e. Ikhtisar jabatan adalah uraian tugas yang disusun secara ringkas dalam
bentuk satu kalimat yang mencerminkan pokok-pokok tugas jabatan.
f. Uraian tugas adalah suatu paparan atas semua tugas jabatan yang
merupakan tugas pokok pemegang jabatan dalam memproses bahan kerja menjadi
hasil kerja dalam kondisi tertentu.
g. Penilaian Kompetensi adalah proses membandingkan antara kompetensi
jabatan yang dipersyaratkan dengan kompetensi yang dimiliki oleh pemegang
jabatan atau calon pemegang jabatan.
h. Kamus Kompetensi Manajerial PNS yang selanjutnya disebut Kamus
Kompetensi Manajerial adalah kumpulan kompeensi yang meliputi nama
kompetensi, batasan dan level kompetensi.

BAB II
PEMBENTUKAN DAN TUGAS TIM PENYUSUN STANDAR KOMPETENSI

5. Pembentukan Tim Penyusun Standar Kompetensi.

a. Tim Penyusun Standar mempunyai tugas untuk mengumpulkan, menyusun


dan menganalisis data dan informasi yang diperlukan dalam rangka penyusunan
Standar Kompetensi.
b. Hasil penyusunan kompetensi dihimpun oleh Kepala Urusan Personalia
yang selanjutnya ditetapkan menjadi Standar kompetensi Instansi yang
bersangkutan.
c. Syarat keanggotaan Tim Penyusun Standar Kompetensi adalah :

1) Menduduki jabatan struktural paling rendah Eselon IV atau setara


yang secara fungsional menangani kepegawaian.
2) Pendidikan paling rendah Strata -1 (S-1) atau yang sederajat.
3) Telah mengikuti bimbingan tehnis dan/atau mampu melakukan
analisis kompetensi jabatan berdasarkan penilaian Kepala Urusan
Personalia dan Syarat-syarat obyektif yang ditentukan oleh Pejabat
Personalia seperti pengalaman dan kemampuan lain yang diperlukan Tim.
d. Susunan keanggotaan Tim Penyusun Standar Kompetensi terdiri atas :

1) Seorang Ketua merangkap anggota.


2) Seorang sekretaris merangkap anggota
3) Paling kurang 7 (tujuh) orang anggota, termasuk Ketua dan
Sekretaris.

e. Ketua Tim Penyusun Standar Kompetensi dapat ditunjuk dari Pejabat eselon
II atau Eselon III yang secara fungsional bertanggungjawab di bidang kepegawaian
sedangkan Sekretaris dapat ditunjuk paling rendah Pejabat eselon IV yang
memiliki kemampuan.

6. Tugas Tim Penyusun Standar Kompetensi Manajerial (TPSKM).

a. Tugas Ketua TPSKM :

1) Membuat rencana kerja penyusunan standar kompetensi.


2) Memberikan pengarahan dan bimbingan kepada anggota TPSKM .
3) Menyampaikan hasil penyusunan Standar Kompetensi kepada
Pejabat Kepegawaian Instansi yang terkait.
.
b. Tugas Sekretaris TPSKM.

1) Membantu Ketua dalam pelaksanaan tugasnya.


2) Menyiapkan dan menyelenggarakan diskusi, lokakarya atau
workshop.
3) Mempersiapkan tugas-tugas kesekretariatan yang diperlukan untuk
kelancaran pelaksanaan penyusunan Standar Kompetensi Manajerial

c. Tugas Anggota TPSKM adalah

1) Mengumpulkan dan menyusun selruh data serta informasi yang


dibutuhkan dalam penyusunan Standar Kompetensi Manajerial.
2) Melakukan wawancara dengan para pihak (pemegang jabatan,
atasan langsung dan pimpinan penentu kebijakan) untuk mengidentifikasi
kebutuhan kompetensi jabatan.
3) Melakukan rapat, pelatihan atau workshop.
4) Menyusun hasil akhir Standar Kompetensi.

BAB III
PROSEDUR PENYUSUNAN STANDAR KOMPETENSI

7. Proses penyusunan Standar Kompetensi Standar meliputi tahap-tahap sebagai


berikut :

a. Pengumpulan Data.
1) Pengumpulan data yang terdiri dari struktur organisasi dan tata kerja,
visi dan misi organisasi serta ikhtisar jabatan dan uraian tugas :

a) Struktur organisasi dan tata kerja yang memuat nama jabatan,


tugas pokok, dan fungsi.
b) Visi dan misi organisasi diperlukan sebagai landasan untuk
menentukan kompetensi manajerial pada setiap organisasi
c) ikhtisar Jabatan dan uraian tugas diperlukan sebagai informasi
yang lebih spesifik untuk menentukan kompetensi dari setiap jabatan.

2) Untuk data yang telah tersedia seperti visi, misi, nama jabatan, uraian
tugas dapat memanfaatkan dokumen yang telah dimiliki..
3) Apabila visi dan misi belum terdokumentasikan secara tertulis, maka
Tim dapat memperoleh informasi dari pimpinan instansi tentang arah
kebijakan instansi di masa yang akan datang.

b. Identifikasi Kompetensi

1) Kompetensi Manajemen dipilih dari kompetensi yang tersedia dalam


Kamus Kompetensi Manajerial sesuai dengan bidang pekerjaan yang
menjadi tanggungjawabnya, dengan jumlah antara 10 (sepuluh) sampai
dengan 15 (lima belas) kompetensi.

2) Identifikasi kompetensi manajerial dilakukan oleh TPSKM untuk


menentukan kompetensi berdasarkan langkah-langkah sebagai berikut :

a) Menentukan nama jabatan yang akan diidentifikasikan


kompetensinya.
b) Menuangkan ikhtisar jabatan
c) Merinci setiap uraian tugas menjadi kegiatan-kegiatan utama
d) Menganalisis kegiatan-kegiatan utama tersebut untuk
menentukan kata kunci dari tugas pekerjaan.
e) Kata kunci yang diperoleh dari uraian tugas digunakan untuk
menntukan kompetensi dan selanjutnya level kompetensi diperoleh
berdasarkan kegiatan utama dengan berpedoman pada kamus
kompetensi manajerial
f) Apabila hasil idenetifikasi kompetensi ada dua atau lebih uraian
tugas yang memiliki kompetensi sama atau hamper sama, cukup
dipilih satu kompetensi yang memilki level paling tinggi atau yang
uraian tugasnya sangat mempengaruhi kelancaran pelaksanaan
tugas.

3) Identifikasi kompetensi dilakukan dengan menggunakan formulir


sebagiamana contoh. Uraian tugas :
a) Menyusun rencana kegiatan dengan mempertimbangkan
alokasi waktu dan anggaran
b) Menyiapkan data yang berkaitan dengan jabatan sebagai
bahan pertimbangan atasan secara lengkap, teliti dan akurat
c) Membagi tugas/kegiatan kepada bawahan dengan
memberikan arahan, baik secara tertulis maupun lisan tentang
analisis jabatan sesuai dengan bidang tugas masing-masing.
d) Memeriksa hasil kerja bawahan secara teliti untuk
disempurnakan agar hasil yang dicapai benar-benar akurat sesuai
dengan ketentuan yang berlaku dan
e) Melakukan evaluasi pelaksanaan tugas untuk dilakukan
tindakan perbaikan agar dicapai kinerja yang optimal.

4) Identifikasi kegiatan utama dilakukan dari setiap uraian tugas diatas :

a) Menyusun rencana kegiatan dengan mempertimbangkan


alokasi waktu dan anggaran. Dalam pelaksanaannya adalah :

1) Mengumpulkan data secara lengkap.


2) Membuat rencana kerja berdasarkan prioritas

b) Menyiapkan data yang berkaiatan dengan jabatan sebagai


bahan pertimbangan atasan secara lengkap, teliti dan akurat. Dalam
pelaksanaannya adalah :

1) Mengumpulkan data selengkap mungkin.


2) Memeriksa dan mengolah data

c) Membagi tugas/kegiatan kepada bawahan dengan


memberikan arahan, baik secara tertulis maupun lisan tentang analisis
jabatan sesuai dengan bidang tugas masing-masing, dalam
pelaksanaannya adalah :

1) Mengelompokkan tugas
2) Mengenali kemampuan bawahan
3) Memberi petunjuk secara lisan dan tertulis

d) Memeriksa hasil kerja bawahan secara teliti untuk


disempurnakan agar hasil yang dicapai benar-benar akurat dan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku, dalam pelaksanaannya adalah :

1) Memeriksa hasil kerja bawahan


2) Memberi koreksi dan petunjuk perbaikan terhadap
kesalahan.
3) Memastikan kembali hasil kerja bawahan
e) Melakukan evaluasi pelaksanaan tugas utnuk dilakukan
tindakan perbaikan agar dicapai kinerja yanag optimal, dalam
pelaksanaannya adalah :

1) Melakukan kajian terhadap efektifitas dan efisiensi


pelaksanaan tugas
2) Melakukan tindakan perbaikan.

8. Validasi Kompetensi.

a. Tahap ini melakukan konfirmasi kompetensi kepada pihak-pihak terkait yaitu


atasan pemegang jabatan dan/atau pejabat lain yang ditunjuk :

1) Pejabat yang secara fungsional bertanggungjawab di bidang


kepegawaian.
2) Pejabat kepegawaian tingkat instansi pemerintah
3) Konfirmasi keabsahan kompetensi dilakukan kepada atasan
pemegang jabatan dan/atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Pejabat yang
secara fungsional bertanggungjawab di bidang kepegawaian dengan
mngundang mereka untuk memperoleh kepastian apakah kompetensi yang
telah dirumuskan.

b. Untuk ditetapkan menjadi Daftar Kompetensi dengan menentukan urutan


peringkat kompetensi dari yang Mutlak, Penting dan Perlu. Konfirmasi tersebut
dilakukan oleh atasan pemegang jabatan dan/atau pejabat lain yang ditunjuk oleh
pejabat yang secara fungsional bertanggung jawab di bidang kepegawaian atau
pejabat kepegawaian.

1) Mutlak, kompetensi tersebut mutlak harus ada, ketiadaan kompetensi


ini akan menyebabkan pekerjaan tidak lancer, karena ketiadaan kompetensi
ini tidak dapat diganti oleh kompetensi lain.
2) Penting, ketiadaan kompetensi ini tidak menyebabkan perkerjaan
tidak lancar karena dapat diganti/diwakili oleh kompetensi lain.
3) Perlu/pilihan, kompetensi ini baik, tidak begitu diperlukan dalam
jabatan yang bersangkutan (tanpa kompetensi ini tidak berpengaruh pada
organisasi).

9. Penentuan Kompetensi.
Perumusan pada standar kompetensi ini dilakukan dengan langkah sebagai
berikut :

a. Berpikir analis
b. Komunikasi lisan
c. Komunikasi tertulis.
d. Perencanaan pengorganisasian.
e. Pengaturan kerja.
f. Berorientasi pada kualitas.
g. Perbaikan terus menerus.
h. Kepemimpinan.
i. Pencarian informasi.
j. Pendelegasian wewenang.
k. Mengarahkan dan memberikan perintah

BAB IV
PENILAIAN KOMPENTENSI

10. Penilaian Kompetensi.


Penilaian kompetensi dilakukan untuk memperoleh data atau informasi yang dapat
dijadikan bukti yang menunjukan pakah pemegang jabatan atau calon pemegang jabatan
dapat memenuhi atau tidak memenuhi kompetensi minimal yang dipersyaratkan untuk
melaksanakan tugas.
Metode, prosedur dan hal-hal yang terkait dengan penilaian kompetensi akan diatur
tersendiri dengan peraturan-peraturan yang terkait.

BAB V
PENUTUP

11. Demikian pedoman penyusunan standar kompetensi jabatan bagi staf non klinis di
Rumkit Tk.II 03.06.01 Ciremai untuk dijadikan arahan dan dilaksanakan sebagaimana
mestinya.

Kepala Rumah Sakit Ciremai

dr. Handy Hernandy.Y,Sp.M


Letnan Kolonel Ckm NRP 11930098810770