Anda di halaman 1dari 23

IDENTIFIKASI SISWA YANG MENGALAMI GANGGUAN INTERAKSI DI SLBN A BANDUNG

Oleh KELOMPOK 1 ANGGOTA IIM IMANDALA SUTAN SYAPRUDDIN WASDI BUDHI SISWATI SITI KOMARIAH

JURUSAN PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2010

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam asesmen terdapat rangkaian proses yang sistematis. Identifikasi merupakan salah satu proses dalam rangkaian proses asesmen (Zaenal, 2009). Melalui tahapan ini akan diperoleh data awal yang berkaitan untuk menentukan lokasi, subyek, menentukan letak kemampuan/hambatannya, dan membuat rekomendasi untuk asesmen lebih lanjut serta menyajikan profil hasil identifikasi. Dalam kaitannya dengan identifikasi gangguan interaksi maka langkah ini sangat penting karena akan diketahui kemampuan dan hambatan-hambatan yang dialami dalam aspek-aspek interaksi. Terkadang para pendidik lupa, pada saat menyusun dan melaksanakan pembelajaran tidak berdasarkan kemampuan dan hambatan-hambatan yang dimiliki oleh anak. Pada kasus gangguan interaksi sering di beri label anak pembangkang, malas, anak yang tidak mau bergaul, anak nakal, dan lain-lain. Padahal perilaku yang dilabelkan itu muncul dikarenakan tidak terpenuhinya kebutuhan belajar dan lingkungan belum memahami kondisi anak. Maka tidaklah mengherankan apabila hasil belajar atau prestasi belajarnya selalu rendah. Padahal anak tersebut memiliki prestasi belajar yang rendah bukan karena ia bodoh atau nakal tapi karena lingkungan (guru, materi, metode, dll) tidak memperdulikan kondisinya. Oleh karena itu kami dari kelompok 1 mencoba untuk berupaya memberikan salah satu solusi agar kondisi di atas tidak terjadi. Upaya yang kami lakukan adalah menyusun instrument identifikasi gangguan interaksi. Melalui instrument tersebut diharapkan dapat menggali kemampuan dan hambatan interaksi. Data yang diperoleh dapat dijadikan rujukan bagi guru dalam menyusun program pembelajaran.

B. Pengertian Identifikasi Interaksi Pengertian identifikasi dalam hal ini adalah suatu proses awal dalam serangkaian proses asesmen yang fokusnya untuk menemukan keberadaan subyek yang mengalami gangguan interaksi dan menggali

kemampuan/hambatan interaksi. Lerner (1989) mengemukakan bahwa dalam melakukan asesmen di dalamnya terdapat proses idntifikasi dalam rangka menemukan subyek/kasusnya dan memperoleh data awal untuk asesmen lebih lanjut. Prosedurnya adalah: 1. Menentukan lokasi (di sekolah mana dan kelas berapa) 2. Menetukan subyeknya 3. Menemukan kemampuan dan hambatannya 4. Rekomendasi

A. Tujuan Berdasarkan pemaparan di atas maka Identifikasi ini bertujuan untuk: 1. Merumuskan model identifikasi gangguan interaksi 2. Menemukan anak/kasus yang mengalami gangguan interaksi. 3. Menemukan kemampuan interaksi 4. Menemuakan gangguan interaksi

A. Ruang Lingkup Raung lingkup identifikasi gangguan interaksi ini mencakup sentuhan, aspek visual, gerak, peniruan, dan bunyi suara.

BAB II PROSEDUR IDENTIFIKASI

A. Menentukan Lokasi Untuk identifikasi ini kami menentukan lokasi di SLBN A Pajajaran Kota Bandung. B. Menentukan Subyek Subyek atau kasus yang kami tentukan adalah Ahmad Ghifari Lazuardian. Subyek adalah siswa kelas VI yang mengalami hambatan visual (tunanetra) juga memiki perilaku autistic. Kami mengambil subyek ini karena masih jarang ada yang melakukan identifikasi gangguan interaksi terhadap subyek yang tergolong double handicapped.

C. Menggali Kemampuan Interaksi Kelompok 1 menggali kemampuan dan hambatan subyek di atas menggunakan instrument yang dikembangkan sendiri dan mencakup aspek sentuhan, visual, gerakan, bunyi/suara, dan peniruan. Instrumen tersebut dapat dilihat di bawah ini.

INSTRUMEN IDENTIFIKASI HAMBATAN INTERAKSI

Nama Anak Jenis kelamin Tempat, atanggal lahir Sekolah Kelas Tanggal Pelaksanaan Nama Orang Tua Pendidikan Pekerjaan Alamat No, Tlp

: : : : : : : : : : :

Berilah tanda Cek lis (V) pada kolom yang sesai dengan kondis anak Catatan/ N Aspek o a Sentuha n 1. Merasakan adanya sentuhan ketika permukaan kulitnya diusap 2. Merasakan panas, dingin, hangat yang ditimbulkan oleh cuaca atau benda sekitar. 3. Menjerit seperti kesakitan ketika disentuh 4. Merasakan geli pada bagian telapak kaki, pinggang, ketiak, leher. 5. Merasakan sakit ketika dicubit pada pipi, tangan, kaki, punggung, perut 6. Merasakan getaran 7. Merasakan naik 8. Merasakan turun posisi posisi Gejala yang nampak A K nsitas Y TD Deskripsi/Inte

Visual*

1. menatap ketika berhadapan 2. Mengarahkan/memalin gkan mata kepada orang yang mendekat 3. kontak mata ketika menerima sesuatu 4. kontak mata dengan benda yang baru dilihatnya 5. Interaksi mata dengan benda yang digerakkan 6. Interaksi mata terhadap perubahan wajah(ekspresi) 7. Reaksi mata terhadap cahaya kilatan 8. Interaksi mata terhadap benda warna warni 9. Interaksi mata terhadap cahaya warna-warni 1. Ada gerakan bola mata (melirik) pada orang yang ada di sekitar 2. Ada gerakan bola mata (melirik) pada orang yang baru datang 3. Ada gerakan bola mata (melirik) pada orang yang memberi stimulus 4. Ada gerakan menoleh pada orang yang memberi stimulus 5. Ada reaksi gerak yang tidak bertujuan ketika diberi stimulus (panggilan, pujian) 6. Ada gerakan aneh yang diulang-ulang ketika sendirian

Gerakan

7. Ada gerakan yang diulang-ulang ketika ada orang lain 8. Ada gerakan aneh yang diulang-ulang ketika menginginkan sesuatu 9. Ada gerakan aneh yang diulang-ulang ketika marah 10.Ada bentuk gerakan untuk mempertahankan kesukaannya 11.Ada gerakan yang bertujuan (mengambil mainan/makanan, merapihkan mainan, mengkonstruk mainan, dll) 12.Ada kekakuan dalam gerakan bertujuan 13.Ada kekakuan dalam gerakan tidak bertujuan 14.Gerakan aneh sering terjadi pada kepala (menggoyanggoyang, menganggu-angguk dlll) 15. Gerakan aneh sering terjadi pada tangan (menggosok-gosok tangan, meremas jari, memukulmukul kepala/meja/paha), mengayun lengan, mengambilan /membuang benda yang ada, tangan

diperhatikan, dll. 16.Gerakan aneh sering terjadi pada kaki (menggetarkan kaki ketika duduk di kursi, berjalan berputar-putar, berlari-lari, dll) 17.Gerakan aneh sering terjadi pada badan (membungkukubungkukan badan, memutar-mutar badan, dll) 18.Gerakan-gerakan aneh lainnya (mencium/menjilat benda-benda, 19.Duduk bengong tanpa aktivitas D Peniruan 1. Dapat menirukan suara yang didengar (menirukan penjual sayur, dsb) 2. Dapat menirukan gerakan manusia atau hewan (Menirukan gerak katak melompat, dsb) 3. Dapat memainkan peran sebuah profesi (menirukan dokter, guru, dsb) 4. Dapat menirukan ekspresi (menirukan orang menangis, tertawa, dsb) 5. Dapat menirukan gerakan permainan (melompat, melempar, dsb)

Bunyi/su araa

6. Dapat melakukan gerakan imaginatif kreasi sendiri 1. menoleh mendengar langkah sepatu 2. Menoleh mendengar pintu diketuk 3. Menoleh(mencari sumber bunyi) mendengar bunyi bel 4. Menoleh (mencari sumber bunyi) mendengar bunyi telepon 5. Menoleh mendengar benda yang jatuh 6. Menutup telinga ketika mendengar music yang keras

7. Menutup telinga mendengar bunyi keras (petir, bunyi kereta api, bunyi pesawat terbang, bunyi motor, klakson mobil )

8. Menoleh mendengar suara binatang (kucing, ayam, burung, kambing, sapi dll) 9. Menoleh mendengar orang bernyanyi 10.Menyimak suara orang bernyanyi

11.Menoleh ketika namanya dipanggil. *identifikasi visual dilaksanakan bagi subyek yang tidak mengalami hambatan visual.
Catatan dan kesimpulan untuk rekomendasi program penanganan/intervensi:

BAB III HASIL PELAKSANAAN IDENTIFIKASI

INSTRUMEN IDENTIFIKASI HAMBATAN INTERAKSI Nama Anak Jenis kelamin Tempat, atanggal lahir Sekolah Kelas Tanggal Pelaksanaan Nama Orang Tua Pendidikan Pekerjaan Alamat No, Tlp : Ahmad Ghifari Lazuardian : Laki-laki : Bandung, 21 Mei 1997 : SLB A Pajajaran : VI : Selasa, 15 Juni 2010 : Evy Affifah : S-1 : Swasta : Jl Pasir Jaya II No.22 Buah Batu Bandung : 022.5204634

Berilah tanda Cek lis (V) pada kolom yang sesai dengan kondis anak N o a Y A TD K Catatan/ Deskripsi/Inte nsitas Memberikan reaksi, menarik atau bergerak Ada reaksi thd suhu misalnya gelisah ketika kepanasan

Aspek Sentuha n

Gejala yang nampak

1. Merasakan V adanya sentuhan ketika permukaan kulitnya diusap 2. Merasakan V panas, dingin, hangat yang ditimbulkan oleh cuaca atau benda sekitar.

3. Menjerit seperti kesakitan ketika disentuh 4. Merasakan geli V pada bagian telapak kaki, pinggang, ketiak, leher. 5. Merasakan sakit V ketika dicubit pada pipi, tangan, kaki, punggung, perut 6. Merasakan V getaran

Reaksi yang diberikan berupa gerakan Menarik bagian yang digelitik

Reaksi menangis

Misalnya berpegangan ketika goncangan Reaksinya ketika naik berpegangan Reaksinya ketika turun berpegangan

7. Merasakan posisi naik 8. Merasakan posisi turun b Visual* 1. menatap ketika berhadapan 2. Mengarahkan/me malingkan mata kepada orang yang mendekat 3. kontak mata ketika menerima sesuatu 4. kontak mata dengan benda yang baru dilihatnya 5. Interaksi mata dengan benda yang digerakkan 6. Interaksi mata terhadap perubahan wajah(ekspresi) 7. Reaksi mata terhadap cahaya

8. 9. C Gerakan 1.

2.

3.

4.

kilatan Interaksi mata terhadap benda warna warni Interaksi mata terhadap cahaya warna-warni Ada gerakan bola mata (melirik) pada orang yang ada di sekitar Ada gerakan bola mata (melirik) pada orang yang baru datang Ada gerakan bola mata (melirik) pada orang yang memberi stimulus Ada gerakan V menoleh pada orang yang memberi stimulus

Terbatas hanya apabila dikenal dan stimulus menarik Tepuk tangan, gelenggeleng

5. Ada reaksi gerak V yang tidak bertujuan ketika diberi stimulus (panggilan, pujian) 6. Ada gerakan V aneh yang diulang-ulang ketika sendirian 7. Ada gerakan V yang diulangulang ketika ada orang lain 8. Ada gerakan V aneh yang diulang-ulang ketika menginginkan sesuatu

Tepuk tangan, geleng Tepuk tangan, geleng Tepuk tangan, loncat

9. Ada gerakan V aneh yang diulang-ulang ketika marah 10.Ada bentuk V gerakan untuk mempertahanka n kesukaannya 11.Ada gerakan V yang bertujuan (mengambil mainan/makana n, merapihkan mainan, mengkonstruk mainan, dll) 12.Ada kekakuan dalam gerakan bertujuan 13.Ada kekakuan dalam gerakan tidak bertujuan

Gigit tangan, pukul kepala Mempertahanka n benda yang dipegannya Sudah mengerti arah berjalan sesuai tujuan

Gerakan normal hanya agak lambat Tepuk tangan dan menggelang normal Menggelenggeleng

14. Gerakan

aneh V sering terjadi pada kepala (menggoyanggoyang, mengangguangguk dlll) 15.Gerakan aneh V sering terjadi pada tangan (menggosokgosok tangan, meremas jari, memukul-mukul kepala/meja/pah a), mengayun lengan, mengambilan /membuang benda yang ada, tangan diperhatikan, dll. 16.Gerakan aneh V sering terjadi

Selalu tepuktepuk

Loncat-loncat pada kondisi

pada kaki (menggetarkan kaki ketika duduk di kursi, berjalan berputar-putar, berlari-lari, dll) 17.Gerakan aneh sering terjadi pada badan (membungkukubungkukan badan, memutar-mutar badan, dll) 18.GerakanV gerakan aneh lainnya (mencium/menjil at benda-benda,

senang

Meloncat-loncat memutar-mutar badan 180 derajat

Kadang-kadang Ada gerakan aneh yang muncul saat ini selalu meloncat ketika memasuki kamar mandi Pada saat menunggu

19.Duduk bengong V tanpa aktivitas

Peniruan

1. Dapat menirukan V suara yang didengar (menirukan penjual sayur, dsb)

Hanya yang menarik hatinya Iklan, bahasa aneh / bahasa yang kurang familiar Hanya bila diminta

2. Dapat menirukan V gerakan manusia atau hewan (Menirukan gerak katak melompat, dsb) 3. Dapat memainkan peran sebuah profesi (menirukan dokter, guru, dsb)

Meskipun diminta

4. Dapat menirukan V ekspresi (menirukan orang menangis, tertawa, dsb) 5. Dapat menirukan V gerakan permainan (melompat, melempar, dsb) 6. Dapat melakukan gerakan imaginatif kreasi sendiri 1. menoleh mendengar langkah sepatu V V

Dapat menirukan sesuai perintah Bila diminta

Tidak pernah tanpa diminta Tetapi menanyakan siapa yang dating Tetapi menanyakan Hanya menoleh tidak mencari sumber bunyi

Bunyi/su araa

2. Menoleh mendengar pintu diketuk 3. Menoleh(mencar V i sumber bunyi) mendengar bunyi bel

Akan menoleh jika suaranya menarik

4. Menoleh V (mencari sumber bunyi) mendengar bunyi telepon 5. Menoleh V mendengar benda yang jatuh 6. Menutup telinga ketika mendengar music yang keras

Hanya menoleh tidak mencari sumber bunyi

Hanya menoleh

Menutup telinga pada bunyi tertentu, biasanya yang

gaduh, ramai Misalnya Pancasila pada saat upacara 7. Menutup telinga mendengar bunyi keras (petir, bunyi kereta api, bunyi pesawat terbang, bunyi motor, klakson mobil ) 8. Menoleh mendengar suara binatang (kucing, ayam, burung, kambing, sapi dll) 9. Menoleh mendengar orang bernyanyi 10.Menyimak suara v orang bernyanyi v Hanya suara tertentu

Acuh/tidak nyaman terhadap binatang

Hanya suara yang menarik kadang-kadang mengikuti

11.Menoleh ketika v Tetapi namanya menjawab dipanggil. *identifikasi visual dilaksanakan untuk subyek yang tidak mengalami hambatan visual Keterangan Kuantitatif: Pada Aspek Sentuhan apabila skor ya tinggi menunjukkan tanda-tanda negatif ganguan interaksi Pada Aspek Gerakan apabila skor ya tinggi menunjukkan tanda-tanda positif teridentifikasi gangguan interaksi

Pada Aspek Peniruan apabila skor ya tinggi menunjukkan tanda-tanda negatif teridentifikasi gangguan interaksi

Pada Aspek Bunyi / Suara apabila skor ya tinggi menunjukkan tanda-tanda positif teridentifikasi gangguan interaksi

Rekapitulasi Data dan Penilaian Kuantitatif : Aspek Ya Tida k Jumlah Item Prosent ase Penilaia n Negative ganggua n interaksi Positif ganggua n interaksi Cukup tergangg u Interaksi Cukup tergangg u interaksi

Sentuhan

12.5

Gerakan

13

16

81.25 33.3333 333 36.3636 364

Peniruan

Bunyi/Suara

11

Kesimpulan Penilaian Kuantitatif: Melihat analisis hasil data di atas dapat disimpulkan bahwa anak yang menjadi observasi kami adalah : 1. Pada aspek sentuhan anak sedikit mengalami hambatan dalam berinteraksi (12%)
2. Pada aspek gerakan anak teridentifikasi mengalami gangguan dalam

berinteraksi (81%) 3. Pada aspek peniruan anak sedikit mengalami gangguan dalam beinteraksi (33%) 4. Pada aspek Bunyi suara anak sedikit teridentifikasi mengalamai gangguan dalam beinteraksi (36%)

Penilaian Kualitatif: 1. Sentuhan Kemampuan Ahmad Ghifari (AG) ketika permukaan kulitnya diusap adalah dengan memberikan reaksi menarik bagian tubuh yang disentuh atau bergerak. Reaksi terhadap suhu panas AG terlihat gelisah. AG tidak menjerit kesakitan ketika disentuh hanya bergerak saja. Mampu memberika respon bergerak ketika bagian tubuhnya digelitiki. AG mampu merasakan rasa sakit dengan respon menangis. Pada waktu ada getaran/goncangan AG merespon dengan berpegangan tangan. AG mampu merasakan posisi naik dan turun dengan respon memegang tangan gurunya.

2. Visual

3. Gerakan AG menoleh pada stimulus dari orang yang sudah dikenalnya dan stimulusnya harus menarik perhatian. Ketika diberi stimulus ada reaksi berupa gerakan yang tidak bertujuan, yaitu menggeleng kepala dan bertepuk tangan. Ada gerakan aneh ketika sendirian, yaitu bertepuk tangan dan menggeleng-geleng kepala. AG melakukan gerakan berulang-ulang tepuk tangan dan gelenggeleng kepala ketika sedang sendiri. AG melakukan gerakan gerakan gelenggeleng kepala saat menginginkan sesuatu. Bahkan AG sudah mengerti arah datangnya sesuatu sehingga bisa bereaksi terhadap datangnya stimulus. AG mengalamikakakuan dalam gerakan-gerakan normal, AG sering

memunculkan gerakan ang hampir sama untuk keinginan yang berbeda, yakni gerakan menggelangkan kepala atau tepuk tangan untuk memperoleh kenginan yang berbeda. 4. Peniruan AG mampu menirukan suara-suara yang didengarnya akan tetapi harus yang menarik perhatiananya, seperti suara tukang sayur, iklan di televisi. AG dapat menirukan gerakan hewan, manusia yang meperagakan katak meloncat, walaupun dengan diminta untukmenirukan. AG dapat menirukan gerakan meloncat walau pun dengan diminta. AG dapat melakukan gerakan berdasarkan penghayatannya/hayalannya walau tidak diminta. 5. Bunyi/suara AG bereaksi terhadap suara sepatu yang didengarnya dan menayakan siapa itu. AG bereaksi saat pintu ada yang mengetuk dan diringai dengan menanyakan siapa itu. Ketikan dibunyikan bel, AG hanya menoleh tidak bertanya sesuatu, dia hanya menoleh ke sumber bunyi. AG menoleh ke sumber bunyi ketika mendengar benda jatuh, tetapi AG akan meutup telingan ketika mendengar musik keras, bunyi-bunyi yang keras. AG bersaksi denga suara-suara binatang, yang bernyanyi, dan menyimak serta kadang-kadang meniru dan mengikuti lagu tersebut. AG bereaksi jika dipanggil namanya.

INTERPRETASI AG memiliki kemampuan interaksi yang dapat dikembangkan seperti kemampuan untuk menggunakan kulitnya atau indra sentuhannya dalam berinteraksi dengan lingkungan, tetapi tidak semua interaksi sentuhan ini dapa direspon hanya yang sudah diketahui dan dikenalnya. Kekurangan AG dalam

mengenal lingkungan diakibatkan dari fungsi visual dan kelainan penyertanya selain tunanetra. Walaupun tunanetra AG dapat menirukan gerakan-gerakan yang dicontohkan, atau gerakan yang sudah dikenal, selain itu mempu menirukan suara manusia atau hewan, seperti orang yang menewrakan jualannya atau suara binatang. AG mampu menirukan gerakan-gerakan yang sudah dikenalnya atau diminta untuk menirukan gerakan tertentu dari orang yang, atau benda yang sudah dikenal. Ternyata AG bermasalah dengan suara, ia tidak suka dengan suara keras, music keras,degan menunjukkan penolakannya melalui aksi tutup telinga, sulit untuk berinteraksi dengan kondisi seperti diesbutkan. Jika suara tidak adaptif akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi. Uraian di atas bahwa AG tidak banyak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan, akan tetapi perlu meperhatikan bagian-bagian yang peka bagi AG agar dihidari atau dikenalkan dengan melalui tahapan sehingga mampu meningkatkan kemampuan interaksinnya dengan lingkungan.

Catatan dan kesimpulan untuk rekomendasi program penanganan/intervensi: Berdasarkan hasil identifikasi di atas maka yang menjadi prioritas utama untuk penanganan adalah interaksi aspek gerakan karena pada asepek ini subyek mengalami hambatan sebesar 81% dan aspek bunyi mengalami hambatan sebesar 36%. Deskripsi hambatan tersebut dapat dilihat pada tabel instrument kolom catatan/deskripsi/intensitas.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasn dalam bab-bab sebelumnya maka dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa: 1. Data kemampuan dan hambatan belajar yang dimiliki oleh anak/siswa sangat dibutuhkan untuk proses pembelajaran. 2. Identifikasi dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk menggali kemampuan dan hambatan belajar. 3. Gangguan interaksi merupakan salah satu kondisi yang sering dilupakan oleh guru dan sering dianggap sebagai perilaku nakal, bodoh, dll.

4. Untuk melakukan identifikasi gangguan interaksi dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: a. Menentukan lokasi (di sekolah mana dan kelas berapa) b. Menetukan subyeknya c. Menemukan kemampuan dan hambatannya d. Rekomendasi 1. Aspek yang diungkap dalam gangguan interaksi meliputi aspek sentuhan, visual, gerakan, peniruan, dan bunyi/suara. A. Rekomendasi Berkaitan dengan pengembangan intrumen identifikasi gangguan interaksi, kelompok 1 merekomendasikan kepada tenaga ahli pendidikan kebutuhan khusus:
1. Untuk mengembangkan pula instrument bagi subyek yang mengalami

double handicapped. 2. Instrumen yang dikembangkan mudah untuk digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

James D. McDonald. (2004). Communicating Partner. London and Philadelphia: Jessica Kingsley Publisher. Permanarian S. (2007). Interaksi Komunikasi Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: UPI Stewart L. Tubbs and Sylvia Moss. (2001). Human Communication. Singapore: Mc. Grew Hill Inc. Zaenal Alimin. (2003). Perogram Pembelajaran Individual. Jakarta: Dirjen Dikti.