Anda di halaman 1dari 19

EKSISTENSI HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM DUNIA USAHA

MAKALAH Disusun: Untuk memenuhi Tugas Matakuliah Hukum Komersial Oleh : Dea Putri Yanuarista NIM. 105020101111026

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS EKONOMI JURUSAN ILMU EKONOMI Juni , 2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan petunjuk dan Karunia-Nya , sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan Makalah yang berjudul Eksistensi Hukum Perlindungan Konsumen dalam Dunia Usaha . Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada: 1. Bapak dan Ibu saya yang senantiasa mendoakan serta memberikan dorongan baik secara moral maupun secara spiritualdan segala yang tidak ternilai. 2. Semua Keluarga besar yang telah memberikan dukungan dan semangat serta doa hingga terselesaikannya Makalah ini. 3. Semua teman-teman yang tiada henti memotivasi saya menyelesaikan Makalah ini. 4. Orang-orang yang tanpa sengaja memberikan sebuah Inspirasi dalam Makalah ini. Akhirnya penulis berharap Makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Serta kritik dan saran sangat saya perlukan untuk menyempurnakan saya. Malang, 5 Juli 2011 agar segera

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.. i KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI...iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Rumusan Masalah. 2 1.3 Manfaat Penelitian 2 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Konsumen.. 4 2.2 Definisi Perlindungan Konsumen... 5 2.3 Asas dan Tujuan dari Perlindungan Konsumen 5 2.4 Dasar-Dasar Hukum Perlindungan Konsumen... 7 2.5 Hak dan Kewajiban dari Konsumen 8 2.6 Usaha untuk Mendidik Konsumen... 9 2.7 Tanggung Jawab Pelaku Usaha terhadap Konsumen.. 10 2.8 Sanksi-Sanksi jika Produsen Merugikan Konsumen 11 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan.. 13 3.2 Saran 13 DAFTAR PUSTAKA.. 15

iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Saat ini semakin sering saja pihak produsen yang menganak tirikan pihak konsumen. Dalam beberapa kasus banyak ditemukan pelanggaran pelanggaran yang dilakukan oleh pihak produsen kepada pihak konsumen , khusunya dalam hal yang merugikan kesehatan para konsumen bahkan jiwa dari para konsumenpun tidak sering terancam. Beberapa contohnya seperti , masih banyak ditemukan makanan dan minuman kadaluarsa yang terdapat dalam parcel-parcel. Produk susu China yang mengandung melamin juga sempat menggemparkan masyarakat Indonesia dan China. Zat melamin memang akan meningkatkan kandungan protein jika dicampurkan dengan susu, namun hal ini tidak menguntungkan konsumen tapi malah merugikan produsen karena banyak bayi yang mengalami penyakit penyakit seperti gagal ginjal, bahkan tidak sedikit dari mereka yang meniggal dunia setelah mengkonsumsi susu yang mengandung zat melamin ini. Dari kedua contoh diatas kita dapat mengetahui bahwa konsumen lah yang menjadi pihak yang dirugikan. Hal tersebut disebabkan mingkin karena kurangnya pengawasan dari pihak pemerintah , polisi dan dinas-dinas terkait setempat. Eksistensi konsumen tidak sepenuhnya dihargai oleh pihak produsen karena tujuan utama dari produsen adalah memperoleh untung sebanyak-banyaknya dalam jangka pendek bukan jangka panjang. Oleh karena itu saya menyusun makalah ini yang berisi tentang eksistensi hukum perlindungan konsumen dalam dunia usaha.

1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini , yaitu : 1. Apa yang dimaksud dengan konsumen ? 2. Apa yang dimaksud dengan perlindungan konsumen ? 3. Apa saja azaz dan tujuan dari perlindungan konsumen ? 4. Apa saja dasar-dasar hokum untuk perlindungan konsumen ? 5. Apa sajakah hak dan kewajinan dari konsumen ? 6. Apa saja usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mendidik konsumen agar konsumen tidak mengalami kerugian ? 7. Apa sajakah tanggung jawab pelaku usaha terhadap para konsumennya ? 8. Apa saja sanksi sanksi yang dapat dikenakan kepada pihak produsen jika pihak konsumen merasa dirugikan ? Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan makalah ini , yaitu : 1. Mengetahui pengertian konsumen dan perlindungan konsumen 2. Mengetahui karakteristik dari hokum perlindungak konsumen 3. Mengatahui aplikasi hokum perlindungak konsumen di dunia usaha 1.3 Manfaat Penulisan Dalam makalah ini, penulis menyajikan dua manfaat secara umum yang kemudian dikelompokkan lagi menjadi manfaat-manfaat secara khusus, antara lain: 1. Secara Teoritis a. Dapat memberi pengetahuan bagi pembaca mengenai masalah social yang terjadi, yaitu hokum perlindungan konsumen yang harus diketahui oleh konsumen agar konsumen tidak dirugikan oleh produsen

b. Analisis sosial dapat ditindak lanjuti sebagai bahan penulisan selanjutnya. 2. Secara Praktis Dapat dijadikan sebagi bahan pertimbangan bagi pihak-pihak pemerintah maupun masyarakat untuk lebih memperhatikan adanya hukum yang mengatur dalam suatu kehidupan

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Konsumen Sebelum kita membahas tentang perlindungan konsumen lebih dalam , kita harus mengetahui dahulu definisi sari konsumen itu sendiri. Istilah konsumen berasal dari bahasa Belanda, Konsument. Menurut Undang Undang No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 1butir 2 : Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/ atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Selain menurut Undang-Undang No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen , seorang ahli bernama Hornby juga mengutarakan pendapatnya tentang arti konsumen , yaitu Konsumen (consumer) adalah seseorang yang membeli barang atau menggunakan jasa; seseorang atau suatu perusahaan yang membeli barang tertentu atau menggunakan jasa tertentu; sesuatu atau seseorang yang menggunakan suatu persediaan atau sejumlah barang; setiap orang yang menggunakan barang atau jasa. Selain itu Philip Kotler dalam bukunya Prinsiples Of Marketing adalah mengatakan , semua individu dan rumah tangga yang membeli atau memperoleh barang atau jasa untuk dikonsumsi pribadi. Menurut Aziz Nasution , konsumen pada umumnya adalah setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa digunakan untuk tujuan tertentu. Terdapat berbagai pengertian mengenai konsumen walaupun tidak terdapat perbedaan yang mencolok antara satu pendapat dengan pendapat lainnya. konsumen pada umumnya adalah setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa digunakan untuk tujuan tertentu. Konsumen masih dibedakan lagi yaitu konsumen antara dan konsumen akhir. Konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/ atau jasa untuk digunakan dengan tujuan komersial, sedangkan konsumen akhir adalah setiap orang yang mendapatkan dan menggunakan barang dan/ atau jasa untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya pribadi, keluarga dan/atau rumah tangga dan tidak untuk diperdagangkan kembali. 4

2.2 Definisi Perlindungan Konsumen Sekarang kita akan memulai membahas apa itu perlindungan konsumen. Perlindungan konsumen adalah jaminan yang seharusnya didapatkan oleh para konsumen atas setiap produk bahan makanan yang dibeli. Namun dalam kenyataannya saat ini konsumen seakan-akan dianak tirikan oleh para produsen. Dalam beberapa kasus banyak ditemukan pelanggaran-pelanggaran yang merugikan para konsumen dalam tingkatan yang dianggap membahayakan kesehatan bahkan jiwa dari para konsumen. Sebagai contohnya , penjual diwajibkan menunjukkan tanda harga kepada pembeli sebagai pemberitahuan harga agar konsumen tidak merasa dirugikan oleh produsen. Dengan menggalakkan hal seperti menunjukkan tanda harga di setiap barang yang akan dijual oleh pihak produsen maka akan mengurangi sedikit demi sedikit adanya praktek penipuasn yang dilakukan oleh produsen yang sering kali merugikan para konsumen , apalagi para konsumen yang tidak terlalu teliti jika akan memeli suatu barang. Maka dari itu disinilah pentingnya adanya perlindungan konsumen bagi para konsumen, agar para konsumen tidak terus menerus dirugikan oleh para produsen yang tidak bertanggung jawab dengan ulah yang telah diperbuatnya. 2.3 Asas dan Tujuan dari Perlindungan Konsumen Dalam pasal 2 Undang Undang Perlindungan Konsumen disebutkan bahwa , perlindungan konsumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum.. Kemudian dijelaskan dalam penjelasannya bahwa perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan 5 ( lima ) asas yang relevan dalam pembangunan nasional, yaitu:

5 Asas Manfaat dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan kondumen harus memberikan manfaat sebesar besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan. Asas Keadilan dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil. Asas Keseimbangan dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materiil dan spirituil. Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatankepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan/ atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan.. Asas Kepastian Hukum dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hokum.

Selanjutnya dilanjutkan bahwa tujuan perlindungan konsumen yakni : Meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/ atau jasa Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan menuntut hak haknya sebagai konsumen Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi

Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha 6

Meningkatkan kualitas barang dan/ atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/ atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen. Sesungguhnya asas dan tujuan dari perlindungan konsumen menitik beratkan konsumen sebagai bagian yang perlu mendapatkan perhatian khususnya oleh pemerintah, selain itu guna terwujudnya tujuan perlindungan konsumen hendaklah dimulai dari diri kita sendiri selaku masyarakat konsumen, untuk terus aktif dalam memperjuangkan hak sebagai konsumen secara perseorangan dan sebagai masyarakat konsumen. Tujuan perlindungan konsumen juga dapat terjadi dengan cara menumbuh kembangkan diri selaku masyarakat konsumen sebagai satu kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan, sehingga tercipta daya yang lebih kuat dan pejal sebagai posisi tawar untuk perimbangan dari pada posisi pelaku usaha yang disadari memang lebih baik.

Dasar Dasar Hukum Perlindungan Konsumen Pada hakekatnya, terdapat dua instrumen hukum penting yang menjadi landasan kebijakan perlindungan konsumen di Indonesia, yakni : Undang-Undang Dasar 1945, sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia, mengamanatkan bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Tujuan pembangunan nasional diwujudkan melalui sistem pembangunan ekonomi yang demokratis sehingga mampu menumbuhkan dan mengembangkan dunia yang memproduksi barang dan jasa yang layak dikonsumsi oleh masyarakat.

Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK). Lahirnya Undang-undang ini memberikan harapan bagi masyarakat Indonesia, untuk memperoleh perlindungan atas kerugian yang diderita atas transaksi suatu barang dan jasa. UUPK menjamin adanya kepastian hukum bagi konsumen. 7

Hak dan Kewajiban dari Konsumen Penting kiranya para konsumen memahami hak-hak yang dimiliki demi mendapatkan perlindungan akan barang dan/jasa yang dikonsumsinya. Berikut hak-hak yang dimiliki para konsumen: Menurut pasal 4 : 1. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa; 2. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan 3. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa 4. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan 5. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut 6. hak untuk mendapatpembinaan dan pendidikan konsumen; 7. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif 8. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; 9. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya

8 Selain konsumen mempunyai hak , konsumen juga harus memenuhi kewajibannya. Menurut pasal 5 , yaitu : 1. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan; 2. beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa 3. membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati 4. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut 1.5 Usaha untuk Mendidik Konsumen

Faktor utama yang menjadi kelemahan konsumen adalah tingkat kesadaran konsumen akan haknya masih rendah. Hal ini terutama disebabkan oleh rendahnya pendidikan konsumen. Oleh karena itu, Undang-undang Perlindungan Konsumen dimaksudkan menjadi landasan hukum yang kuat bagi pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat untuk melakukan upaya pemberdayaan konsumen melalui pembinaan dan pendidikan konsumen. Upaya pemberdayaan ini penting karena tidak mudah mengharapkan kesadaran pelaku usaha yang pada dasarnya prinsip ekonomi pelaku usaha adalah mendapat kentungan yang semaksimal mungkin dengan modal seminimal mungkin. Prinsip ini sangat potensial merugikan kepentingan konsumen, baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui pendidikan, konsumen dapat diajarkan bagaimana mendeteksi adanya penipuan dan penyalahgunaan lain serta dibuat sadar akan obat yang ada dan

peluang untuk memperbaiki. Begitu pula, siapa saja dapat mengambil manfaat dari wawasan yang lebih luas ke dalam strategi penghematan uang.

1.6 Tanggung Jawab Pelaku Usaha terhadap Konsumen Tanggung jawab produk adalah tanggung jawab para produsen untuk produk yang telah dibawanya ke dalam peredaran, yang menimbulkan/ menyebabkan kerugian karena cacat yang melekat pada produk tersebut. Di dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen terdapat 3 (tiga) pasal yang menggambarkan sistem tanggung jawab produk dalam hukum perlindungan konsumen di Indonesia, yaitu ketentuan Pasal 19 Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen merumuskan tanggung jawab produsen sebagai berikut:

1. Pelaku Usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/ atau kerugian konsumen akibat mengkomsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan. 2. Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan/ atau jasa yang sejenis atau secara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/ atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3. Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal transaksi. 4. Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasrkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsure kesalahan. (50 Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen.

10 1.7 Sanksi Sanksi jika Produsen Merugikan Konsumen Sanksi Bagi Pelaku Usaha Menurut Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen :

Sanksi perdata ganti rugi dalam bentuk : 1. Pengembalian uang atau 2. Penggantian barang atau 3. Perawatan kesehatan, dan/atau 4. Pemberian santunan Ganti rugi diberikan dalam tenggang waktu 7 hari setelah tanggal transaksi. Sanksi Administrasi ganti rugi dalam bentuk : maksimal Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah), melalui BPSK jika melanggar Pasal 19 ayat (2) dan (3), 20, 25

Sanksi Pidana , Kurungan : 1. Penjara, 5 tahun, atau denda Rp. 2.000.000.000 (dua milyar rupiah) (Pasal 8,9, 10, 13 ayat (2), 15, 17 ayat (1) huruf a, b, c, dan e dan Pasal 18 2. Penjara, 2 tahun, atau denda Rp.500.000.000 (lima ratus juta rupiah) (Pasal 11, 12, 13 ayat (1), 14, 16 dan 17 ayat (1) huruf d dan f Ketentuan pidana lain (di luar Undang-undang No. 8 Tahun. 1999 tentang

Perlindungan Konsumen) jika konsumen luka berat, sakit berat, cacat tetap atau kematian.

11

Hukuman tambahan , antara lain : 1. Pengumuman keputusan Hakim 2. Pencabuttan izin usaha; 3. Dilarang memperdagangkan barang dan jasa ; 4. Wajib menarik dari peredaran barang dan jasa; 5. Hasil Pengawasan disebarluaskan kepada masyarakat .

12 BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas maka kami menyimpulkan bahwa hingga saat ini perlindungan konsumen masih menjadi hal yang harus diperhatikan. Konsumen sering kali dirugikan dengan pelanggaran-pelanggaran oleh produsen atau penjual. Pelanggaran- pelanggaran yang terjadi saat ini bukan hanya pelanggaran dalam skala kecil, namun sudah tergolong kedalam skala besar. Dalam hal ini seharusnya pemerintah lebih siap dalam mengambil tindakan. Pemerintah harus segera menangani masalah ini sebelum akhirnya semua konsumen harus menanggung kerugian yang lebih berat akibat efek samping dari tidak adanya perlindungan konsumen atau jaminan terhadap konsumen.

3.2 Saran Berdasarkan langkah yang mungkin dapat dilakukan oleh pemerintah menurut pendapat kami adalah :

1.

Menetapkan undang-undang yang tegas dan jelas. Pemerintah memang sudah memiliki atau membuat beberapa undangundang yang membahas masalah yang sama sebelumnya, Namun hingga saat ini undang- undang tersebut belum berjalan dengan efektif. Maka, sebaiknya pemerintah kembali memperbaharui atau merevisi undang - undang tersebut.

13 2. Menetapkan sanksi yang tegas atas pelanggaran terhadap UU. Selama ini pun pemerintah sudah membuat sanksi atas pelanggaran terhadap UU mengenai undang-undang terhadap perlindungan konsumen namun hingga saat ini sanksi tersebut belum diterapkan secara nyata dan tegas sehingga belum mampu menyebabkan efek jera pada setiap pelanggaran UU tersebut. 3. Mengawasi secara langsung dalam proses produksi sebuah produk yang akan diproduksi dalam skala besar. Seperti kita ketahui beberapa produk seperti susu atau berbagai makanan dalam kemasan banyak dikonsumsi oleh masyarakat secara umum. Oleh karena itu ada baiknya jika selain pemerintah membuat UU, dan sanksi terhadap yang melanggarnya, pemerintah pun melakukan pengawasan secara langsung. Hal ini diharapkan akan mengurangi kemungkinan sebuah perusahaan melakukan kecurangan dalam produksi. 4. Melakukan pengawasan terhadap produk produk yang dijual di pasaran Pelanggaran terhadap Undang-undang yang berkenaan dengan peelindungan konsumen juga dapat terjadi atau dilakukan oleh pihak penjual atau pengecer Dalam berbagai kasus, perlindungan konsumen dilanggar dengan cara menjual barang-barang kadaluwarsa yang sudah tidak layak dikonsumsi tanpa sepengetahuan konsumen. Oleh karena itu pemerintah beserta badan hokum yang bertugas dan lebih mengerti masalah ini seharusnya

lebih bisa mengamankan dan melindungi konsumen.

14

DAFTAR PUSTAKA

http://lumanyun.blogspot.com/2011/05/dasar-hukum-perlindungankonsumen.html Diakses pada tanggal 17 Juni 2011 //pkditjenpdn.depdag.go.id/index.php?page=konsumen#Dasar http://id.wikipedia.org/wiki/Konsumen http://www.asiatour.com/lawarchives/indonesia/konsumen/asiamaya_uu_perlind ungan_konsumen_bab3_bagian1.htm http://anggara.org/2006/06/19/persoalan-persoalan-di-seputar-perlindungankonsumen/

15