Anda di halaman 1dari 28

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Makanan Pendamping ASI (MP ASI)

1. Pengertian MP ASI Pemberian MP ASI adalah pemberian makanan/minuman pada bayi setelah bayi berusia diatas 6 bulan (Indiarti, 2008). Pemberian MP ASI dini adalah pemberian makanan kepada bayi sebelum bayi berusia 6 bulan (Indiarti, 2008). 2. Jenis-jenis Pemberian MP ASI Dini Sering kali bila ASI belum keluar bayi diberikan makanan prelakteal yang berupa air gula atau susu formula. Hal ini sangat merugikan karena menghilangkan rasa haus sehingga b ayi malas menyusu. Karena dalam keadaan normal, cadangan tenaga dan air dalam tubuh bayi baru lahir cukup untuk pertahanan bayi dalam hari-hari pertama sebelum proses menyusui menjadi mantap. Prelakteal hanya dapat diberikan apa bila ada indikasi medis. (Perinasia,2010). Adapun jenis-jenis prelakteal yang ada di masyarakat antara lain : a. Makanan Makanan yang diberikan sebagai pendamping ASI adalah jenis makanan lumat mudah ditelan oleh bayi. Adapun jenis jenis MP ASI yang diberikan kepada bayi adalah :

1) Buah Buah-buahan yang biasa diberikan pada bayi adalah : a) Pisang Pisang dikeruk bagian pinggirnya menggunakan sendok, lalu haluskan baru diberikan kepada bayi. Pisang yang diberikan dapat berupa pisang raja, pisang ambon atau pisang hijau. b) Kelapa Muda Di beberapa daerah terdapat kebiasaan

memberikan makanan kepada bayi berupa kelapa muda yang masih sangat muda dengan daging kelapa masih berupa lendir yang diberikan kepada bayi satu minggu setelah bayi dilahirkan. c) Pepaya Selain buah pisang, pepaya masak juga diberikan kepada bayi dengan cara dikeruk menggunakan sendok dan dihaluskan agar mudah dicerna bayi. 2) Nasi bubur Beras yang sudah direbus menjadi bubur kemudian disaring sehingga lembut dan mudah dicerna oleh bayi. 3) Air tajin Di beberapa daerah juga terbia sa memberikan

makanan kepada bayi berupa air tajin dari beras yang direbus dan disaring untuk diambil air kemudian diberikan

kepada bayi. Air tajin ini diberikan kepada 1 -2 hari setelah bayi dilahirkan. b. Minuman Minuman yang diberikan pada bayi adalah air putih, air , susu formula dan madu. 3. Dampak Negatif Pemberian Makanan Buatan Menurut Depkes RI (2009) member MP-ASI dini atau terlalu awal yaitu kurang dari 6 bulan akan : Menggantikan asupan ASI, membuat bayi sulit

memenuhi kebutuhan gizinya. Makananmengandung zat gizi rendah bila berbentuk cair, seperti bubur encer. Meningkatkan resiko kesakitan : kurangnya faktor perlindungan, MP-ASI tidak sebersih ASI, tidak mudah dicerna seperti ASI, meningkatkan resiko alergi Pemberian makanan pendamping ASI yang terlalu dini akan meningkatkan angka kematian pada bayi. Selain itu tidak ditemukan bukti yang mendukung bahwa pemberian Makanan Pendamping ASI pada usia 5-6 bulan lebih menguntungkan. Bahkan Pemberian MP-ASI yang terlalu dini mempunyai dampak negative terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positipnya untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi (Laksono, 2010).

4. Dampak Positif Menunda MP-ASI Dini (Indiarti,2009). a. Mengurangi alergi makanan Bayi sejak usia 6 bulan mempunyai apa ya ng disebut usus terbuka. Maksudnya adalah jarak yang ada diantara sel sel usus kecil akan membuat makro melekul yang utuh, termasuk protein danbakteri pathogen, dapat masuk kedalam aliran darah. Dengan tidak memberikan MP -ASI sebelum usia 6 bulan (ASI saja) maka akan menguntungkan bayi sebab zat anti body yang terdapat didalamASI dapat masuk langsung melalui aliran darah bayi. Tetapi bagi bayi yang mendapat MP ASI bakteri pathogen dapat masuk dan dapat menyebabkan berbagai gangguan penyakit. Penutupan usus terjadi sekit ar usia 6 bulan saat bayi dapat memproduksi antibodynya sendiri. b. Melindungi Bayi Dari Kekurangan Zat Besi Menurut penelitian Pisacane,1995 bayi yang diberi ASI eksklusif selama 7 bulan (tidak diberikan MP -ASI) dan tidak diberi suplemen zat besi menunjukan level hemoglobin yang secara signivikan lebih tinggi dalam waktu satu tahun disbandingkan pada bayi yang mendapat ASI tapi juga diberikan MP-ASI (makanan padat) pada usia kurang dari 7 bulan. Oleh karena itu pemberian MP-ASI dini akan

mengganggu penyerapan zat besi pada bayi. Bayi yang lahir normal sangat cukup kebutuhan suplemen zat besinya jika

hanya minum ASI saja. Dengan begitu MP-ASI sebelum 6 bulan tidak diperlukan. c. Dapat melindungi bayi dari kegemukan. Bayi yang diberikan MP-ASI dini maka bayi akan mengalami obesitas atau kegemukan, karena zat-zat yang diperlukan oleh tubuh kelebihan. Faktamembuktikan bahwa bayi yang tidak diberikan MP-ASI dini mengurangi angka obesitas atau kegemukan pada bayi sebesar 13 %, hal ini terjadi karena kandungan gizi pada ASI sangat tepat dalam memenuhi kebutuhan bayi tidak berlebihan atau kurang. King (2001) pemberian makanan buatan tidak sebaik pemberian ASI karena banyak keburukan -keburukan dari makanan buatan itu sendiri yaitu : 1. Pencemaran Makanan buatan sering tercemar bakteri, terutama bila ibu menggunakan botol dan tidak merebusnya setiap selesai memberi makan. Bakteria tumbuh sangat cepat pada makanan buatan. Bakteria sangat berbahaya bagi bayi sebelum susu tercium basi. 2. Infeksi Susu sapi tidak mengandung sel darah putih hidup dan antibodi untuk melindungi tubuh terhadap infeksi. Bayi yang diberi makanan buatan lebih sering sakit diare dan infeksi saluran pernapasan.

3. Pemborosan Ibu dari kelompok ekonomi lemah mungkin tidak mampu membeli cukup susu untuk bayinya. Mereka mungkin

memberikan dalam jumlah sedikit dan mungkin menaruh susu atau bubuk susu kedalam botol. Sebagai akibatnya bayi yang diberi susu botol sering kelaparan. 4. Kekurangan Vitamin Susu sapi tidak mengandung vitamin yang cukup 5. Kekurangan Zat Besi Zat besi dari susu sapi tidak diserap sempurna seperti zat besi dari ASI. Bayi yang diberi makanan buatan bisa terkena anemia karena kekurangan zat besi. 6. Terlalu banyak garam Susu sapi terlalu mengandung terlalu banyak garam yang kadang-kadang bisa menyebabkan hipernatremia (terlalu

banyak garam dalam darah) dan kejang, terutama bila anak menderita diare 7. Terlalu banyak kalsium dan fosfat Hal ini bisa menyebabkan tetani, yaitu kedutan dan kaku otot (kejang-kejang) 8. Lemak yang tidak cocok Susu sapi mengandung lebih banyak asam lemak jenuh dibandingkan ASI. Untuk pertumbuhan bayi yang sehat

diperlukan asam lemak tidak jenuh yang lebih banyak. Susu

sapi tidak mengandung lemak esensial dan asam linoleat yang cukup, dan mungkin juga tidak mengandung kolestrol yang cukup bagi pertumbuhan otak. Susu krim kering tidak mengandung lemak, sehingga tidak mengandung cukup banyak energi. 9. Protein yang tidak cocok Susu sapi mengandung terlalu ba nyak protein kasein. Kasein mengandung campuran asam amino yang tidak cocok dan sulit dikeluarkan oleh ginjal bayi yang belum sempurna. Petugas kesehatan kadang-kadang mengajarkan ibu untuk mengencerkan susu sapi dengan air untuk mengurangi protein total. Tetapi susu yang diencerkan tidak mengandung asam amino esensial sistin dan taurin yang cukup diperlukan bagi pertumbuhan otak bayi. 10. Tidak bisa dicerna Susu sapi lebih sulit dicerna karena tidak men gndung enzim lipase untuk mencerna lemak. Juga karena kasein membentuk gumpalan susu tebal yang sulit dicerna karena susu sapi lambat dicerna maka lebih lama untuk mengisi lambung bayi daripada ASI. Akibatnya bayi cepat merasa lapar. Bayi yang diberikan susu sapi bisa menderita sembelit, yaitu tinja menjadi lebih tebal dan keras.

11. Alergi Bayi yang diberi susu sapi terlalu dini mungkin menderita lebih banyak masalah alergi, misalnya asma dan eksim. Tabel 2.1.Pola pemberian ASI dan MP -ASI
Umur (bulan) ASI Makanan Lumat Makanan Lembek Makanan Keluarga

Sumber Depkes RI,2009 Tabel 2.2. Perbandingan ASI dan Susu Sapi Kandungan Pencemaran bakteri Zat anti infeksi ASI Tidak ada Antibodi Leukosit Laktoferin Faktor bifidus 1% 0,5% 0,5% Cukup untuk pertumbuhan otak Susu Sapi Mungkin ada Tidak giat

Protein - Total - Kasein - Laktalbumin Asam amino - Sistin - Taurin Lemak - Total - Kejenuhan asam lemak - Asam linoleat esensial - Kolesterol Lipase untuk mencerna lemak Laktosa (gula)

4% (terlalu banyak ) 3% (terlalu banyak ) 0,5% tidak cukup

4% (rata-rata) asam lemak tak jenuh cukup

4% terlalu banyak asam lemak jenuh tidak cukup tidak cukup tidak ada

cukup cukup ada

3 4% ( tidak cukup)

Garam (Meq/I) - Natrium - Klorida - Kalium Mineral (Meq /I) - Kalsium - Fosfat Zat besi

7% (cukup) 6,5 (tepat) 12 (tepat) 14 (cukup) 350 (tepat) 150 (tepat) jumlahnya sedikit diserap baik cukup cukup cukup, tidak perlu tambahan

25 ( terlalu banyak ) 29 ( terlalu banyak ) 35 ( terlalu banyak ) susu sapi 1440 ( terlalu banyak ) 900 ( terlalu banyak ) jumlahnya sedikit diserap tidak baik tidak cukup mungkin tidak cukup diperlukan lebih banyak

Vitamin Air

Sumber : Menolong Ibu Menyusui ( 2000) 5. Alasan alas an yang tidak tepat sehingga bayi diberikan MP -ASI dini antara lain : Ibu melihat tanda bayi merasa lapar, tangan ke sepert i memasukkan

dalam mulit, yang sebenarnya perkembangan

normal dan ini bukan tanda bayi lapar. Ibu percaya bahwa bayi sudah berkurang minum ASI, sehingga ibu mulai member MP-ASI Ibu merasa kenaikan berat badan apa yang diharapkan. Adanya pengaruh orang lain, seperti tetangga, orang tua, keluarga, bahkaniklan makanan bayi. Pemberian MP ASI dini meningkatkan resiko bayi mengalami infeksi, kesakitan dan kematian. Penelitian telah membuktikan kalau bayi 0 6 bulan yang diberikan ASI pertumbuhannya jauh lebih baik daripada bayi yang tidak mendapatkan ASI. Pemberian ASI yang cukup dan baik menyebabkan peningkatan gizi, ASI dapat bayi tidak sesuai dengan

menurunkan angka kesakitan 1020 kali dan angka kematian 7 kali pada pemberian ASI eksklusif sejak lahir sampai berusia 6 bulan (Depkes RI, 2005). ASI eksklusif dapat mengurangi risiko infeksi jalan naf as. Bayi bayi yang mendapat makanan buatan atau Makanan Pendamping ASI (MP ASI) akan menghadapi risiko pneumonia 3 4 kali lebih besar dibandingkan bayi yang mendapat ASI eksklusif. Studi di Brazil menunjukkan bayi yang mendapat MP ASI berupa makanan atau susu formula mempunyai kemungkinan meninggal karena pnemonia empat kali lebih besar dibandingkan bayi yang mendapat ASI. Penelitian lain di Dundee, Scotland menemukan bahwa bayi yang dapat ASI lebih sedikit kemungkinan untuk kena infeksi napas, sebagai contoh, pada usia 013 minggu, hampir 39% bayi yang mendapat susu botol kena penyakit infeksi napas, dibandingkan 23% bayi yang mendapat ASI. Pemberian MP ASI dapat meningkatkan risiko infeksi seperti infeksi telinga dan meningitis. Penelitian dari Swedia menunjukkan bahwa bayi yang mendapat MP ASI lebih banyak kemungkinannya untuk kena radang telinga tengah. Sebagai contoh, pada usia satu sampai tiga bulan hanya 6% dari bayi yang disapih kena radang telinga tengah dibandingkan dengan 1% dari bayi yang mendapat ASI. Telah disepakati bahwa risiko alergi pada bayi yang diberikan MP ASI lebih sering terjadi (Susilowati, 2002).

B. Pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan melalui pancaindra manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dan sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan seseorang tentang suatu obyek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua ini yang menentukan sikap seseorang terhadap obyek tertentu, semakin banyak aspek positif dari obyek diketahui maka menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tersebut. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (perilaku) dan perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih lama dari pada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. 1. Proses Adopsi Perilaku Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003)

mengemukakan bahwa sebelum mengadopsi perilaku baru dalam diri seseorang akan terjadi berturut -turut yaitu : a. Awareness (kesadaran). Dimana seseorang menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus. b. Interest. Subyek mulai tertarik terhadap stimulus obyek tersebut. Disini sikap subyek sudah mulai timbul.

c. Evaluation. Pada tahap ini subyek mulai menimbang -nimbang baik buruknya stimulus terhadap dirinya. d. Trial. Dimana subyek mulai melakukan sesuatu sesuai apa yang dikehendaki oleh stimulus. e. Adoption. Dimana subyek telah berperilaku sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikap stimulus. 2. Tingkatan Pengetahuan di Dalam Domain Kognitif Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu meteri yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengertian ini adalah mengingat kembali (recall) suatu yang spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya. b. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat

menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat

menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainyaterhadap obyek yang dipelajari. c. Aplikasi (aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu situasi dan kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hokum-hukum, rumus, metode dan sebagainya dalam kontek atau situasi yang lain, d. Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitanya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaaan (membuat kata kerja, seperti dapat menggambarkan memisahkan,

bagan),

membedakan,

mengelompokkan dan sebagainya, e. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis itu suatu kemapuan untuk menyusun formulasi baru dari formula -formula yang ada.

f. Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang

ditentukan sendiri atau penggunaan kriteria -kriteria yang ada (Notoatmodjo, 2003) Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau kuesioner

yang menanyakan tentang isi materi

yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas. Pengetahuan seseorang adalah merupakan informa si yang diperoleh melalui : (Lilik, 2009) 1. Pengalaman Pribadi Pengalaman seseorang dapat diperoleh melalui

pengalaman pribadi yang memberikan informasi mengenai suatu masalah. Melalui pengalaman pribadi ini ditemukan jawaban atas masalah yang sebelumnya tidak diketahui. Pengalaman

merupakan sumber pengetahuan yang terbaik dengan kata lain pengalaman adalah guru yang terbaik. 2. Pengalaman Orang Lain Pengalaman dapat juga diperoleh melalui pengalaman orang lain. Dengan melihat kejadian atau masalah yang terja di pada orang lain, seseorang dapat memperoleh informasi

mengenai suatu masalah baik secara langsung maupun tidak langsung. 3. Media Massa Media massa merupakan sumber informasi yang paling banyak memberikan pengetahuan pada seseorang mengenai suatu masalah. Sumber informasi melalui media ini dapat berupa majalah, koran, televisi radio, iklan dan lain sebagainya. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan perbandingan terhadap objek tertentu. Penginderaan ini terjadi melalu i panca indera manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, raba dan rasa.

Pengetahuan adalah segala hal yang diketahui tentang objek. Pengetahuan seseorang diperoleh dari beberapa sumber

misalnya media massa, media elektronik, buku petunjuk, p etugas kesehatan, media poster, kerabat dekat dan sebaginya.

Pengetahuan ini dapat membentuk keyakinan tertentu sehingga seseorang berperilaku sesuai keyakinan tersebut (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan merupakan segala hal yang diketahui tentang suatu objek. Pengetahuan tentang ASI berarti sejauh mana seorang ibu memahami mengenai pengertian ASI dan manfaat ASI bagi pertumbuhan bayi, jika pengetahuan ibu sangat kurang tentang ASI maka ibu akan menganggap bahwa ASI sama baiknya dengan makanan pendamping lain nya dan akan

memberikan ASI disertai makanan lain (MP ASI dini) sebelum bayi berusia 6 bulan (Trisno, 2005). 3. Cara Mengukur Tingkat Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara yang menyatakan isi materi yang ingin diketahuidari subjek peneliti atau responden, pengetahuan yang ingin diukur dapat disesuakan dengan tingkat tersebut diatas (Notoatmojo,2003).
B. Dukungan Keluarga

1. Pengertian Dukungan Pengertian dari dukungan adalah informasi verbal atau non verbal, saran, bantuan, yang nyata atau tingkah laku di berikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek di dalam lingkungan sosialnya atau yang berupa kehadiran dan hal -hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkah laku penerimanya (Kuntjoro, 200 2). Pandangan sama juga dikemukakan oleh Sarason dalam Kuntjoro (2002) yang mengatakan bahwa dukungan adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian dari orang -orang yang di andalkan, menghargai atau menyayangi kita. Kebanyakan ahli psikologi akan setuju bahwa d ukungan merupakan faktor penting dalam perilaku, tetapi ada sedikit kekurang setujuan tentang apa yang mendasari dukungan sosial. Dukungan sosial dapat di ukur dengan melihat tiga elemen (Cobb and Jones dalam Nivel, 2000) :

a. Prilaku sportif aktual teman-teman dan sanak famili b. Sifat kerangka sosial (apakah kelompok jaringan tertutup dari individu atau lebih menyebar) c. Cara dimana seorang individu merasakan dukungan yang diberikan oleh teman-teman dan sanak familinya. 2. Sumber-sumber Dukungan Menurut Rook dan Dooley (2001) ada dua sumber dukungan sosial yaitu: 1) Dukungan yang natural di terima seseorang melalui interaksi sosial dalam kehidupan secara spontan dengan orang -orang yang berada di sekitarnya, misalnya anggota keluarga (anak, istri, suami, kerabat ) teman dekat atau relasi. Dukungan sosial ini bersifat non formal. 2) Dukungan artifical adalah dukungan yang di rancang kedalam kebutuhan primer seseorang, misalnya dukungan sosial akibat bencana alam melalui berbagai sumbangan sosial . Sumber dukungan yang bersifat natural berbeda dengan sumber dukungan sosial yang bersifat artifical dalam sejumlah hal. Perbedaan tersebut dalam hal sebagai berikut (Kuntjoro, 2002): a) Keberadaan sumber dukungan sosial natural bersifat apa adanya tanpa dibuat-buat sehingga lebih mudah di peroleh dan bersifat spontan.

b) Sumber dukungan sosial yang natural memiliki kesesuaian dengan norma yang berlaku tentang kapan sesuatu harus diberikan. c) Sumber dukungan sosial yang natural berakar dari

hubungan yang tidak berakar lama. d) Sumber dukungan natural memiliki keragaman dalam penyampaian dukungan sosial, mulai pemberian barang barang nyata hingga sekedar menerima seseorang dalam menyampaikan pesan e) Sumber dukungan yang natural terbebas dari beban dan label psikologi. 3. Jenis-jenis Dukungan Smeat (1999) menjelaskan bahwa dimensi dukungan dibagi menjadi 4 jenis yaitu : a. Dukungan informasi Dukungan informasi berupa memberi nasehat, petunjuk, saran-saran, umpan balik berupa informasi yang berguna dan berhubungan dengan masalah dan situasi. b. Dukungan emosional Dukungan emosional berupa ungkapan empati,

kepedulian, dan perhatian terhadap seseorang. c. Dukungan instrumental/physcal Dukungan instrumental berupa bantuan langsung seperti pekerjaan ketika seseorang membutuhkan, memberi pinjaman

uang kepada orang itu atau menolong dengan pekerjaan pada waktu mengalami masalah. d. Dukungan penghargaan Dukungan penghargaan terjadi lewat ungkapan hormat

(penghargaan) positif untuk orang itu, dorongan untuk maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan ind ividu, dan perbandingan positif orang itu dengan orang lain misalnya orang-orang yang kurang mampu atau lebih buruk keadaanya (menambah penghargaan diri).

C. Tinjauan Umum Tradisi/Kebiasaan

1. Pengertian (Tuti, 2008) Kebudyaan atau kultur menurut Koenjaraningrat kebudayaan berarti buddhayah yang berasal dari kata jamak buddhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal. Jadi secara implisit budaya adalah manu sia hidup dalam suatu lingkungan alam dan sosial manusia yang mengekspresikan semua usnur yang dimiliki yang berasal dari gagasan dan pikiran melalui suatu proses penciptaan keadaan-keadaan tertentu,

lembang sosial, kepercayaan maupun pola perilaku. Akumul asi dari itu semua menyatakan bahwa sosial budaya merupakan satu kesatuan yang integratif dan kohesif dengan kata lain adalah

kumpulan ikatan nilai danm tradisi yang melembaga dalam kehidupan manusia. Tradisi adalah kebiasaan yang ada di masyarakat yang dilakukan secara turun temurun dan menjadi aturan dalam kelompok masyarakat (Prasetya,2007) Nilai-nilai sosial dan kebiasaan yang ada dimasyarakat sangat mempengaruhi kesehatan individu, keluarga dan kelompok. Kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh dan berkembang d imasyarakat karena mempunyai tujuan dan kepentingan yang sama. Kebiasaan tersebut ditumbuhkan oleh orang -orang terdahulu atau tokoh -tokoh masyarakat yang ada di masyarakat dan disebar luaskan, serta jika seseorang mendapat informasi yang sama secara berulang-ulang dan kebiasaan ini akan diteruskan secara turun -temurun. Tradisi adalah kebiasaan yang ada di masyarakat yang dilakukan secara turun temurun dan menjadi suatu aturan dalam kelompok masyarakat (Prasetya,2007). Mitos adalah kombinasi antara pengalaman-pengalaman dan kepercayaan. Mitos dapat diterima seseorang karena adanya keterbatasan pengindraan dan keterbatasan penalaran yang akan mempengaruhi cara padtang suatu masalah (Jasin,2007) Kebiasaan-kebiasaan dan prilaku masyara kat sering kali merupakan penghalang dan penghambat terciptanya pola hidup sehat di masyarakat. Tingkat kepercayaan masyarakat kepada orang-orang / masyarakat yang dituakan karena kharismatik yang

sedemikian tinggi sehingga

kebiasaan-kebasaan baik yang

menghambat maupun yang mendukung kesehatan akan dilakukan. Penuturan para antropolog yang melakukan penelitian dan menuliskan hasilnya mengungkapkan adanya perlakuan khusus terhadap ibu dalam masa kehamilan, persalinan dan pasca persalinan. Prilaku dibentuk oleh kebiaasan, yang diwarnai oleh adat (budaya), tatanannorma yang berlaku dimasyarakat (sosial), dan kepercayaan (agama). Prilaku umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Prilaku adalah hasil dari proses yang berlangsung selama masa perkembangan, Setiap orang selalu terpapar dan tersentuh oleh kebiasaan dilingkungan serta mendapat pengaruh dari masyarakat, baik secara langsung maupun tidak lanssung . Makanan Pendamping ASI harus diberikan bayi berusia 6 bulan tetapi dalam prakteknya MP-ASI sudah diberikan sejak dini yaitu sejak bayi berusia 3 bulan bahkan di beberapa didaerah MP ASI diberikan sejak bayi. Pemberian MP -ASI dini mempunyai resiko terhadap kesehatan bayi. Hasil penelitian membuktikan bahwa bayi-bayi yang diberikan MP-ASI dini mempunyai resiko mengalami kegemukan atau obesitas karena pada bayi berusia dibawah 6 bulan belum bias memproses pemecahan sari-sari makanan. Bahkan beberapa kasus yang ekstrim dilakukan operasi

pembedahan

pada bayi yang kemudian sakit atau alergi akibat

pemberian -ASI dini (Laksono,2010).

Rendahnya pemberian ASI salah satunya dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat yang memberikan makanan pendamping ASI dini kepada bayi. Kebiasaan ini telah dilakukan diberbagai

daerah di Indonesia dengan memberikan makanan pendamping ASI kepada bayi sejak dini bahkan setelah bayi lahir

(Juliantoro,2000). Kebiasan masyarakat di Pulau Jawa masyarakat terbiasa memberikan buah-buahan seperti pisang kepada bayi yang baru lahir, demikian juga di pulau Madura, ada kebiasaan masyarakat Madura yang memberikan nasi lembek pada bayi setelah bayi berumur 1 minggu, hal ini menyebabkan angka pencapaian ASI eksklusif hanya sebesar 3,4% (Wildan, 2006). Kebiasaan memberikan makanan pendamping ASI sejak dini di berbagai daerah tidak terlepas dari pengaruh sos ial budaya masyarakat yang turun temurun dipercaya dan dianggap sebagai suatu kebenaran. Kebiasaan memberikan MP-ASI dini karena

menganggap bahwa bayi yang menangis berarti lapar dan harus diberi makan (Juliantoro, 2006). Kebiasaan-kebiasaan tersebut telah lama berkembang dimasyarakat dan menjadi salah satu faktor yang dominan yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif dan

mendukung pemberian MP ASI dini. Kebiasaan memberikan MPASI dini didalam masyarakat juga sangat kuat pengaruhnya dan dan didukung dengan adanya mitos-mitos yang berkembang

dimasyarakat. Kebiasaan memberikan MP-ASI dini ini sudah dilakukan oleh masarakat yang diturunkan dari nenek atau dilakukan secara turun temurun. Mitos-mitos yang mendukung pemberian MP-ASI dini

yang ada dimasyarakat antara lain : 1) Jika ASI belum keluar dapat diberikan madu dan susu formula. Faktanya : Pemberian makanan lain selain ASI meningkatkan resiko terganggunya usus bayi yang masih belum siap . 2) Usia 0- 6 bulan ASI saja tidak cukup untuk bayi ASI .Faktanya : semua kebutuhan bayi sampai usia 6 bulan dapat terpenuhi oleh ASI saja. 3) Susu formula sama baiknya dengan ASI. Faktanya : tidak ada cairan apapun yang dapat menggantikan ASI. 4) ASI yang keluar pertama kali yang berwarna kuning merupakan ASI basi dan tidak baik untuk bayi dan harus

dibuang. Faktanya : ASI yang keluar pada hari pertama sampai ketujuh adalah colostrom ( susu jolong ) yaitu cairan berwarna jernih kekuningan dan mengandung zat putih telur (protein) dalam kadar tinggi terutama zat anti infeksi / daya tahan tubuh sedangkan kadar laktosa ( hidrat arang ) dan lemak rendah sehingga mudah dicerna. Dan sangat

dianjurkan untuk bayi. 5) Bayi menangis karena lapar Faktanya : bayi menangis karena kurang nyaman, merasa

tidak aman, merasa sakit, dan sebagainya dan belum tentu lapar

D. Kerangka Teoritis

Kerangka teoritis terdiri dari kesatuan pengertian konsep dan pernyataan yang akan menyajikan suatu fenomena dan dapat dipergunakan untuk menjabarkan, menjelaskan dan memprediksi atau mengontrol suatu kejadian (Nursalam, 2001). Kerangka teori ini mengusulkan tiga tingkatan factor -faktor yang mempengaruhi praktek menyusui yaitu individu, masyarakat, dan kelompok. a. Faktor tingkat individu Faktor tingkat individu merupakan factor yang

menghubungkan secara langsung kepada ibu -bayi dan bayi-ibu. Mereka meliputi niat ibu untukmenyusui, pengetahuannya,

keterampilan dan pengalaman orang tua, pen galaman kelahiran, status dan resiko kesehatan para ibu dan bayi dan sifat awal interaksi antara ibu dan bayi. Masing -masing hal ini berpengaruh secara langsung terhadap jangka waktu dan inisiasi dalam menyusui, dan sering dihubungkan dengan variabel sosia l dan demografis. b. Faktor tingkat kelompok dan lingkungan Faktor tingkat kelompok dan factor lingkungan dimana para ibu dan bayi dalam diri mereka, factor yang memungkinkan para ibu

untuk menyusui. Lingkungan yang memiliki suatu pengaru langsung pada para ibu dan bayi meliputi: 1) Lingkungan rumah sakit dan fasilitas kesehatan, dimana praktek dan prosudur seperti bayi secara rutin disatukan dengan para ibu untuk mengijinkan permintaan member meke, mendukung dan menyediakan professional teknik kontak langsung kulit ke kulit setelah melahirkan dengan praktek menyusui adalah pengalaman awal pemberianmakan dan kelanjutan yang mendukung menyusui. 2) Rumah dan lingkungan panutan, dimana factor -faktor fisik dan sosial seperti rumah tangga, kesamaan, keadaan keluarga, sikap mitra dan pendukung dan dukungan panutan

mempengaruhi waktu,tekad dan energy yang para ibu punyai untuk menyusui. 3) Lingkungan pekerjaan, dimana kebijakann, fasilitas dan praktek seperti jam kerja, kebijakan dan fasilitas yang memungkinkan di tempat penyimpanan susuibu mempengaruhi kemampuan ibu untuk mengkombinasikan antara pekerjaan dengan menyusui. 4) Lingkungan masyarakat, tingkat isarat yangmana untuk

menyusui dikenali sebagai norma, dan dip erkuat oleh kebijakan dan fasilitasdi tempat umum, sebagai contoh terdapat ruang orang tua dan ramah menyusui di dalam ruangpusat makan

perbelanjaan

dan

tempatpertunjukan,

rumah

danangkutan umum.

5) Lingkungan kebijakan umum, yang mana gaya masing-masing lingkungan ini mempengaruhi keputusanibu dalammemberikan makan. Sebagai contoh, keuntungan seperti cuti hamil, pinjaman atau asuransi kesehatan mempunyai suatu dampak yang signifikan pada rumah sakit, rumah dan lingkungan kerja yang pada gilirannya, mempengaruhi keputusan yang member makan bayi secara langsung. c. Faktor tingkat masyarakat Faktor tingkatan bermasyarakat mempengaruhi

kemampuan menerima menyediakan latar

dan harapan tentang menyusui dan belakang atau konteks dimana

praktekpemberian makan ibu terjadi, ini meliputi norma -norma budaya mengenai menyusui, member makan anak, dan orang tua, peran wanita-wanita didalam masyarakat, mencakup bagai mana aktif diluar rumah itu dihargai, peranan sosial laki -Laki meliputi dukungan kepada para ibu untuk menyu sui, norma-norma budaya mengenai seksualitas yang mempersulit ibu untuk menyusui, dan pentingnya produk ekonomi seperti susu mengganti dan makanan komplimenter di dalam system makanan. Tingkat kelompok dan masyarakat dapat saling

mempengaruhi dalam hubun gan yang positif maupun negative dengan pengetahuan danketerampilan ibu, Sebagai contoh, seorang ibu mungkin terpengaruh untuk menyusui, tetapi suatu lingkungan didalam rumah sakit yang tidak mendukung dapat

mendorong ibu untuk memutuskan atau memberhentik an menyusui lebih awal, Dengan cara yang sama, sekalipun rumah sakit mendukung untuk menyusui, setelah keluar dari rumah sakit tidak ada dukungan di rumah atau didalam masyarakat dapat juga mendorong ibu kearah untuk menghentikan menyusui lebih awal. Lagi, sikap bermasyarakat lebih luas tentang seksualitas, terutama payudara, dapat mempengaruhi tingkat derajat dan cara dukungan masyarakat.
Praktek Menyusui Faktor tingkat Individu

Faktor Bayi

Faktor Ibu/Bayi

Faktor Ibu

Faktor tingkat kelompok Rumah Sakit & Pelayanan Kesehatan

Ragam dari lingkungan

Lingkungan Rumah/ Keluarga

Lingkungan Kerja

Lingkungan Masyarakat

Lingkungan Kebijakan Umum Faktor tingkat masyarakat

Faktor Sosial, Budaya, Ekonomi 1. Norma-norma budaya menyusui, makanan anak dan orang tua 2. Peran masyarakat laki-laki dan orang tua 3. Norma-norma budaya dan seksualitas 4. Sistem makanan

Bagan 2.1. Kerangka Teoritis yang mempengaruhi praktek menyusu Menurut Debora Hektor, Lesley King, dan Karen Webeb (2004)