Anda di halaman 1dari 10

Analisis Pengembangan UMKM…{Suyadi, Syahdanur & Susie}| 1

Jurnal Ekonomi KIAT p-ISSN 1410-3834


Vol. 29, No. 1, Juni 2018 e-ISSN 2597-7393

Analisis Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)


di Kabupaten Bengkalis-Riau
Suyadi1*; Syahdanur1; Susie Suryani1

INFO ARTIKEL ABSTRAK

Penulis: Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) adalah jenis kegiatan
1
Fakultas Ekonomi, Universitas ekonomi yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia
Islam Riau, Pekanbaru, Indonesia sebagai tumpuan dalam memperoleh pendapatan untuk kelangsungan
* hidupnya. Peranan UMKM dalam perekonomian Indonesia bukan hanya
E-mail: suyadi@eco.uir.ac.id
sebagai penyerap tenaga kerja karena persentasenya yang mencapai 90%
jika dibandingkan dengan usaha besar, tetapi juga mampu
Untuk mengutip artikel ini:
memperkenalkan berbagai produk lokal ke dunia internasional.
Suyadi, Syahdanur & S. Susie
2017, ‘Analisis pengembangan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis
usaha mikro kecil dan menengah perkembangan UMKM yang ada di kabupaten Bengkalis serta kendala-
(UMKM) di kabupaten bengkalis- kendala yang dihadapi para pelaku UMKM tersebut dalam
riau’, Jurnal Ekonomi KIAT, vol. mengembangkan usahanya. Jumlah pelaku UMKM yang dijadikan
29, no. 1, hal. 1-10. sampel sebanyak 30 responden dengan beberapa jenis usaha. Jenis
penelitian yang dilakukan adalah penelitian survey dengan metode
analisis data secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Akses online: perkembangan usaha para responden relatif stagnan, hanya beberapa
https://journal.uir.ac.id/index.php/kiat usaha saja yang menunjukkan peningkatan. Kendala utama yang
E-mail: dihadapi para pelaku UMKM adalah keterbatasan manajemen/
kiat@jurnal.uir.ac.id pengelolaan usaha dan ketakutan mengambil resiko. Kurangnya
pembinaan dan keterlibatan instansi terkait juga mereka anggap sebagai
Di bawah lisensi: faktor lambatnya perkembangan usaha mereka.
Creative Commons Attribute-
ShareAlike 4.0 International Katakunci: Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Keterbatasan
Licence Manajemen, Perkembangan usaha

1. Pendahuluan Pada tahun 2012, jumlah tenaga kerja yang


Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) adalah terserap oleh UMKM sebanyak 107.657.509 tenaga
kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh sebagian besar kerja. Jumlah ini meningkat sebanyak 5.935.051 orang
masyarakat Indonesia sebagai tumpuan dalam jika dibandingkan dengan tahun 2011 (Kementerian
memperoleh pendapatan. Data Kementerian Koperasi Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, 2012).
dan Usaha Kecil dan Menengah (2015) menyatakan Selanjutnya, UMKM juga memberikan kontribusi
bahwa presentase UMKM di Indonesia mencapai 90% yang besar terhadap ekspor dan PDB yaitu sebesar
dan hanya 10% nya adalah usaha besar. Walaupun 56,53%.
UMKM bukan merupakan usaha besar, namun peran Tidak dapat diragukan lagi, andil UMKM dalam
UMKM dalam menggerakkan sektor perekonomian perekenomian nasional sangatlah besar. Selain itu,
negara tidak dapat diragukan. UMKM telah berperan UMKM juga mempunyai ketahanan terhadap resesi
besar dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi di ekonomi global karena UMKM tidak terekspos
Indonesia,dimana 60% nya merupakan kontribusi dengan perekonomian global; memproduksi barang
UMKM. kebutuhan sehari-hari dari pada barang mewah;
Data Kementerian Koperasi dan UKM (2012) bersifat lokal dalam produksi dan pemasaran; dan
mengungkapkan bahwa, pada tahun 2012 terjadi UMKM, pada umumnya, lebih adaptif dan tidak
peningkatan jumlah unit usaha sebanyak 1.328.163 dibebani oleh biaya administrasi yang mahal (Hill
usaha jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 2001, Manikmas 2003).
Data terakhir menunjukkan bahwa rata-rata UMKM juga memiliki beberapa keunggulan
pertumbuhan UMKM di Indonesia hampir di atas 10% dibandingkan usaha besar yaitu inovasi yang mudah
setiap tahunnya. Peran berikutnya adalah dalam hal terjadi dalam pengembangan produk, kemampuan
penyerapan tenaga kerja. Bertambahnya jumlah menyerap tenaga kerja cukup banyak, fleksibilitas dan
UMKM juga berpengaruh pada penyerapan tenaga adaptasi terhadap perubahan pasar yang cepat lebih
kerja, dengan besar serapan mencapai 97%. baik dibandingkan usaha besar.
Analisis Pengembangan UMKM…{Suyadi, Syahdanur & Susie}| 2
Jurnal Ekonomi KIAT p-ISSN 1410-3834
Vol. 29, No. 1, Juni 2018 e-ISSN 2597-7393

Pengembangan UMKM harus dilakukan seiring hadapi berbagai permasalahan yang terkait dengan
dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi iklim usaha seperti; (a) besarnya biaya transaksi,
ASEAN (MEA) 2015, sehingga UMKM dapat panjangnya proses perizinan dan timbulnya berbagai
bersaing di MEA. Namun pengembangan UMKM pungutan; dan (b) praktik usaha yang tidak sehat.
bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Terdapat Selain itu, otonomi daerah yang diharapkan mampu
kendala yang terjadi dalam melakukan pengem- mempercepat tumbuhnya iklim usaha yang kondusif
bangan, dan kendala tersebut pada umumnya adalah bagi UKM ternyata belum menunjukkan kemajuan
kendala internal. Kendala yang dihadapi antara lain yang merata.
Sumber Daya Manusia yang belum baik, kemampuan Dengan demikian pengembangan usaha kecil dan
pemasaran UMKM yang terbatas, iklim usaha yang menengah sudah menjadi salah satu tugas pokok
belum kondusif, serta akses teknologi yang terbatas dalam program kerja intansi terkait. Program
dan kurangnya modal kerja. pengembangan UKM itu meliputi kegiatan bimbingan
Kabupaten Bengkalis adalah salah satu dan pengarahaan, pengadaan atau bantuan
kabupaten di propinsi Riau yang memiliki luas permodalan, pengembangan jaringan pemasaran,
wilayah 7.773,93 Km2, 8 kecamatan, jumlah penduduk pengembangan program kemitraan, dan juga
543.987 jiwa dengan tingkat pertumbuhan 1,46% pada melakukan evaluasi terhadap hasil dari program
tahun 2015-2016. Hingga tahun 2015 tercatat jumlah tersebut.
industri besar, menengah dan kecil sebanyak 4.886 Melihat pentingnya peranan UMKM dalam
usaha dengan 9.048 tenaga kerja (Kabupaten menghidupkan perekonomian daerah dan penyerapan
Bengkalis dalam angka, 2016 ). tenaga kerja, maka melalui penelitian ini dapat
Kabupaten Bengkalis juga terkenal dengan dirumuskan masalah sebagai berikut :
berbagai produk perikanan dan hasil olahannya seperti 1) Apakah kendala-kendala yang dihadapi oleh para
kerupuk ikan, ikan asin, dan lainnya. Begitu juga pelaku UMKM di kabupaten Bengkalis dalam
industri rumah tangga dengan berbagai jenis usaha menjalankan dan mengembangkan usahanya.
seperti kain tenun Bengkalis, dodol bengkalis, dan 2) Bagaimana pembinaan yang dilakukan instansi
yang paling terkenal adalah lempuk durian. Banyak terkait dalam membantu pelaku UMKM mengem-
UMKM yang menghasilkan produk yang terkenal bangkan usahanya.
bahkan sampai ke negara tetangga seperti Malaysia.
2. Telaah Pustaka
Jumlah perusahaan perdagangan di kabupaten
Bengkalis adalah 996 perusahaan, dengan 2.1. Pengertian UMKM
perbandingan: 130 perusahaan besar, 197 perusahaan Ketentuan Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 tentang
menengah dan 669 perusahaan kecil (Kabupaten usaha kecil dan kemudian dilaksanakan lebih lanjut
Bengkalis dalam angka, 2016). Hal ini menunjukkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997
bahwa jumlah perusahaan kecil mendominasi, dan tentang kemitraan, dimana pengertian UKM adalah
semua perusahaan kecil dan menengah termasuk sebagaimana diatur Pasal 1 UU Nomor 9 tahun 1995
dalam kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah sebagai berikut:
(UMKM). UMKM yang ada di kabupaten Bengkalis 1) Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang
tidak hanya merupakan sektor dengan jumlah berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan
perusahaan paling banyak, tetapi juga merupakan bersih atau hasil penjualan tahunan serta
sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja. kepemilikan sebagaimana diatur dalam undang-
undang ini.
Melihat besarnya kontribusi UMKM dalam
2) Usaha Menengah dan Besar adalah kegiatan
perekonomian daerah, maka pemerintah kabupaten
ekonomi yang mempunyai kriteria kekayaan bersih
Bengkalis terus berusaha untuk meningkatkan
atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari
kesejahteraan masyarakat melalui penyediaan
kekayaan bersih dan hasil penjualan tahunan usaha
berbagai kesempatan berusaha di bidang UMKM.
kecil.
Namun usaha tersebut masih menghadapi kendala,
baik yang disebabkan oleh faktor eksternal maupun Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) yang
faktor internal. Faktor internal adalah faktor yang mendefinisikan UKM menurut dua kategori yaitu:
berasal dari pelaku UMKM itu sendiri, seperti ; 1) Menurut omset, usaha kecil adalah usaha yang
keterbatasan modal, kurang terampilnya tenaga kerja, memiliki aset tetap kurang dari Rp 200 juta dan
kelemahan dalam akuntansi dan manajemen serta omset per tahun kurang dari Rp 1 milyar
terbatasnya kemampuan berinovasi. Adapun faktor 2) Menurut jumlah tenaga kerja, usaha kecil adalah
eksternal berkaitan dengan regulasi pemerintah, usaha yang memiliki tenaga kerja sebanyak 5-9
persaingan, perkembangan tekhnologi dan informasi orang
serta kurangnya pembinaan yang dilakukan instansi Longenecker et al. (2001: 15) mengatakan UKM
maupun pihak terkait lainnya. adalah usaha yang berpendapatan pertahun 100 juta
Di samping hal di atas, UKM juga masih meng- sampai 500 juta dan tenaga kerja kurang dari 100
orang.
Analisis Pengembangan UMKM…{Suyadi, Syahdanur & Susie}| 3
Jurnal Ekonomi KIAT p-ISSN 1410-3834
Vol. 29, No. 1, Juni 2018 e-ISSN 2597-7393

Sedangkan Ball et al. (2001: 494), berpendapat yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok tenaga
bahwa UKM (Usaha Kecil dan Menengah) adalah kerja kurang dari 100 orang, memiliki kekayaan bersih
yang memiliki omset lebih dari 300 juta dengan 200 juta (diluar tanah dan bangunan) dengan penda-
karyawan lebih dari 100, dengan kekayaan bersih 100 patan 100-200 juta.
juta (di luar tanah dan bangunan). Ciri-ciri usaha kecil menurut Mintzerg et al.,
Sebagai bahan perbandingan menurut Susana (dalam Nitisusastro, 2010: 57) adalah:
Suprapti (2005 : 48), UKM (Usaha Kecil Menengah) 1) Kegiatan cenderung tidak normal dan jarang yang
adalah badan usaha baik perseorangan atau badan memiliki rencana bisnis
hukum yang memiliki kekayaan bersih (tidak 2) Struktur organisasinya bersifat sederhana
termasuk tanah dan bangunan) sebanyak 200 juta dan 3) Jumlah tenaga kerja terbatas dengan pembagian
mempunyai omset atau hasil penjualan rata-rata per kerja yang longgar
tahun sebanyak Rp 1 milyar dan berdiri sendiri. 4) Kebanyakan tidak memiliki pemisahan antara
Pengertian UKM (Usaha Kecil Menengah) kekayaan pribadi dan perusahaan
menurut surat edaran Bank Indonesia No. 26/1/UKK 5) Sistem akuntansi yang kurang baik bahkan kadang-
tanggal 29 Mei 1993 adalah: kadang tidak memiliki
6) Skala ekonomi terlalu kecil sehingga sukar
1) Usaha Kecil adalah yang memiliki total aset
menekan biaya
maksimum Rp 600 juta, tidak termasuk tanah dan
7) Kemampuan pasar serta diversifikasi pasar
rumah yang ditempati.
cenderung terbatas
2) Usaha Menengah adalah usaha ekonomi yang
8) Marjin keuntungan sangat tipis
dikembangkan dengan perhitungan aset (diluar
9) Keterbatasan modal sehinnga tidak mampu
tanah dan bangunan) mulai dari 200 juta sampai
mempekerjakan manajer-manajer profesional. Hal
kurang dari 600 juta dengan jumlah tenaga kerja
itu menyebabkan kelemahan manajerial, yang
mulai 20 sampai dengan 99 orang.
meliputi kelemahan pengorganisasian, perenca-
Dari beberapa pendapat di atas disimpulakan nanaan, pemasaran, dan akuntansi.
definisi UKM adalah kegiatan usaha berskala kecil

2.2. Batasan/karakteristik UMKM menurut beberapa organisasi


Organisasi Jenis Usaha Keterangan Kriteria
Usaha Mikro • Pekerja <5 orang termasuk keluarga yang tidak dibayar
Badan Pusat Statistik
Usaha Kecil • Pekerja 5-19 orang
(BPS)
Usaha Menengah • Pekerja 20-99 orang
• Aset <Rp.200 juta diluar tanah dan bangunan
Kemenneg Koperasi dan Usaha kecil • Omset tahunan <Rp 1Milyar
UMKM
Usaha menengah • Aset Rp. 200 juta sampai Rp.1 milyar
• Usaha yang dijalankan oleh rakyat miskin atau mendekati
miskin
Usaha mikro • Dimiliki oleh keluarga, sumberdaya lokal dan teknologi
sederhana
Bank Indonesia
• Lapangan usaha mudah untuk keluar dan masuk
(BI)
• Aset < Rp.200 juta di luar tanah dan bangunan
Usaha kecil
• Omset tahunan < Rp. 1 Milyar
• Aset < Rp. 5 Milyar untuk (diluar tanah dan bangunan)
Usaha menengah
• Omset tahunan < Rp. 3 Milyar
Sumber: http://www.menlh.go.id/usaha-kecil/top/kriteria.html
Selain itu, Bararuallo (dalam Nitisusastro, 2010: 4) Hampir 60% usaha kecil masih menggunakan
20), mengemukakan bahwa ciri-ciri usaha kecil di teknologi tradisional
Indonesia adalah: 5) Hampir setengah perusahaan kecil hanya
1) Lebih dari setengah usaha didirikan sebagai menggunakan kapasitas terpasang kurang dari
pengembangan usaha kecil-kecilan 60%
2) Selain masalah permodalan, masalah yang dihadapi 6) Pangsa pasar usaha kecil cenderung menurun baik
usaha kecil bervariasi tergantung tingkat karena faktor kekurangan modal, kelemahan
perkembangan usaha teknologi dan kelemahan manajerial
3) Sebagian besar usaha kecil tidak mampu memenuhi 7) Hampir 70% usaha kecil melakukan pemasaran
persyaratan-persyaratan administrasi guna mempe- langsung kepada konsumen
roleh bantuan bank
Analisis Pengembangan UMKM…{Suyadi, Syahdanur & Susie}| 4
Jurnal Ekonomi KIAT p-ISSN 1410-3834
Vol. 29, No. 1, Juni 2018 e-ISSN 2597-7393

8) Tingkat ketergantungan terhadap fasilitas-fasilitas dan peralatan rumah tangga yang dikerjakan secara
pemerintah sangat besar manual atau semi otomatis.
Menurut Isono dan Heryadi (2001: 14), ada 9) Industri kerajinan yang memiliki kekayaan
beberapa karakteristik yang menjadi ciri usaha kecil, khasanah budaya daerah, nilai seni yang
antara lain adalah: menggunakan bahan baku alamiah maupun imitasi.
1) Mempunyai skala usaha kecil, baik modal, 2.4. Masalah-masalah yang dihadapi UMKM
penggunaan tenaga kerja maupun orintasi pasar.
Terdapat delapan masalah-masalah utama yang diha-
2) Banyak berlokasi di wilayah pedesaan dan kota-
dapi oleh para pengusaha kecil dan menengah yaitu:
kota atau daerah pinggiran kota besar.
1) Permasalahan Modal
3) Status usaha milik pribadi atau keluarga.
a. Suku bunga kredit perbankan yang masih tinggi
4) Sumber tenaga kerja berasal dari lingkungan sosial
sehingega krdit menjai mahal.
budaya (etnis geografis).
b. Informasi sumber pembiayaan dari lembaga
5) Pola bekerja sering kali part time atau sebagai
keuangan nonbank masih kurang.
usaha sampingan dari kegiatan ekonomi lainnya
c. Sistem dan prosedur kredit dari lembaga
6) Memiliki kemampuan terbatas dalam mengadopsi
keuangan bank dan nonbank terlalu rumit dan
teknologi, pengelolaan usaha dan administrasinya
memakan waktu yang cukup lama.
sendiri masih sederhana.
d. Perbankan kurang menginformasikan standar
7) Struktur permodalannya sangat tergantung pada
proposal untuk pengajuan kredit, sehingga
fiskal aset, berarti kekurangan modal kerja dan
pengusaha kecil belum mampu membuat
sangat tergantung terhadap sumber modal sendiri
proposal yang sesuai dengan krteria perbankan.
serta lingkungan pribadinya.
e. Perbankan kurang memahami kriteria usaha
8) Izin usaha seringkali tidak memiliki dan per-
kecil dalam menilai kelayakan usaha, sehingga
syaratan resensi berubah secara cepat.
jumlah kredit yang disetujui sering kali tidak
2.3. Jenis-jenis UMKM sesuai dengan kebutuhan usaha kecil.
Secara umum UMKM bergerak dalam 2 (dua) bidang, 2) Permasalahan pemasaran
yaitu bidang perindustrian dan bidang barang dan jasa. a. Posisi tawar pengusaha kecil ketika berhadapan
Menurut Keppres No. 127 Tahun 2001 , adapun dengan pengusaha besar selalu lemah, terutama
bidang/ jenis usaha terbuka bagi usaha kecil dan berkaitan dengan penentuan harga dan sistem.
menengah di bidang industri dan perdagangan adalah b. Asosiasi pengusaha atau profesi belum berperan
1) Industri makanan dan minuman olahan yang dalam mengkoordinasi persaingan yang tidak
melakukan pengawetan dengan proses pengasinan, sehat antara usaha yang sejenis.
penggaraman, pemanisan, pengasapan, penge- c. Infornasi untuk memasarkan produk masih
ringan, perebusan, penggorengan, dan fermentasi kurang, misalnya produk yang dinginkan,
dengan cara-cara tradisional. potensi pasar, tata cara memasarkan produk dan
2) Industri penyempurnaan benang dari serat buatan lain-lain.
menjadi benang bermotif/celup, ikat dengan 3) Permasalahan bahan baku
menggunakan alat yang digunakan oleh tangan. a. Suplai bahan baku untuk usaha kecil kurang
3) Industri tekstil meliputi pertenunan, perajutan, memadai dan berfluktuasi. Ini disebabkan karena
pembatikan, dan pembordiran yang memiliki ciri adanya pembeli besar yang menguasai bahan
dikerjakan dengan ATB , atau alat yang digerakkan baku.
tangan termasuk batik, peci, kopiah, dsb. b. Harga bahan baku masih terlalu tinggi
4) Pengolahan hasil hutan dan kebun golongan non c. Kualitas bahan baku rendah karena tidak adanya
pangan; Bahan bangunan atau rumah tangga: standarisasi dan adanya manipulasi kualitas
bambu, nipah, sirap, arang, sabut; Bahan industri: bahan baku.
getah-getahan, kulit kayu, sutra alam, gambir. d. Sistem pembelian bahan baku secara tunai
5) Industri perkakas tangan yang diproses secara menyulitkan pengusaha kecil, sementara
manual atau semi mekanik untuk pertukangan pembayaran penjualan produk umumnya tidak
dan pemotongan. tunai.
6) Industri perkakas tangan untuk pertanian yang 4) Permasalahan teknologi
diperlukan untuk persiapan lahan, proses produksi, a. Tenaga kerja terampil sulit diperoleh dan
pemanenan, pasca panen, dan pengolahan, kecuali dipertahankan karena lembaga pendidikan dan
cangkul dan sekop. pelatihan yang ada kurang dapat menghasilkan
7) Industri barang dari tanah liat, baik yang diglasir, tenaga kerja terampil yang sesuai dengan
maupun tidak diglasir untuk keperluan rumah kebutuhan usaha kecil.
tangga. b. Asas dan informasi sumber teknologi masih
8) Industri jasa pemeliharaan dan perbaikan yang kurang dan tidak merata.
meliputi otomotif, kapal dibawah 30 GT, elektronik c. Spesifikasi peralatan yang sesuai dengan
kebutuhan usaha kecil sukar diperoleh.
Analisis Pengembangan UMKM…{Suyadi, Syahdanur & Susie}| 5
Jurnal Ekonomi KIAT p-ISSN 1410-3834
Vol. 29, No. 1, Juni 2018 e-ISSN 2597-7393

d. Khususnya lembaga pengkajian teknologi yang 2.5. Pemberdayaan UMKM


ditawarkan pasar kepada pengusaha kecil 2.5.1.Pengertian pemberdayaan
sehingga teknologi tidak dapat dimanfaatkan Istilah pemberdayaan diambil dari bahasa asing yaitu
secara optimal. empowerment, yang juga dapat bermakna pemberian
e. Peran instansi pemerintah, nonpemerintah dan kekuasaan karena power bukan sekedar daya, tetapi
perguruan tinggi dalam mengidentifikasi, juga kekuasaan sehingga kata daya tidak saja
menemukan, menyebarluaskan dan melakukan bermakna mampu tetapi juga mempunyai kuasa
pembinaan teknis tentang teknologi baru atau (Wrihatnolo dan Riant, 2007: 1)
teknologi tepat guna bagi uasah kecil masih
Menurut Siahaan et al. (2006: 11) Pemberdayaan
kurang intensif.
dapat diartikan sebagai upaya untuk meningkatkan
5) Permasalahan manajemen
kemampuan seseorang atau kelompok sehingga
a. Pola manajemen yang sesuai dengan kebutuhan
mampu melaksanakan tugas dan kewenangannya
dan tahap perkembangan usaha sulit ditemukan
sebagaimana tuntutan kinerja tugas tersebut.
karena pengetahuan pengusaha relatif rendah.
Pemberdayaan merupakan proses yang dapat
b. Pemisahan antara manajemen keuangan perusa-
dilakukan melalui berbagai upaya, seperti pemberian
haan perusahaan dan keluarga belum dilakukan
wewenang, meningkatkan partisipasi, memberikan
sehungga pengusaha kecil mengalami kesulitan
kepercayaan sehingga setiap orang atau kelompok
dalam mengontrol atau mengatur cash flow serta
dapat memahami apa yang akan dikerjakannya, yang
dalam membuat perenacaan dan laporan
pada akhirnya akan berimplikasi pada peningkatan
keuangan.
pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.
c. Kemampuan pengusaha kecil dalam mengor-
ganisasikan diri dan karyawan masih lemah Pemberdayaan merupakan usaha membantu klien
sehingga terjadi pembagian kerja yang tidak memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan
jelas. menentukan tindakan yang akan ia lakukan terkait
d. Pelatihan tentang manajemen dari berbagai dengan diri mereka termasuk mengurangi efek
instansi kurang efektif karena materi yang terlalu hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan
banyak tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan. tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan
e. Produktivitas karyawan masih sehingga kemampuan & rasa percaya diri untuk menggunakan
pengusaha kecil sulit memenuhi ketentuan UMR daya yang ia miliki, antara lain melalui transfer daya
6) Permasalahan sistem birokrasi dari lingkungannya.
a. Perizinan yang tidak transparan, mahal, berbelit- 2.5.2.Pemberdayaan UMKM
belit, diskriminatif, lama, dan tidak pasti serta Dalam kaitannya dengan UMKM sebagai objek yang
terjadi tumpang tindih dalam mengurus diberdayakan, pemberdayaan adalah memberikan
perizinan. motivasi/dorongan kepada UMKM agar mereka
b. Penegakan dan pelaksanaan hukum dan berbagai memiliki kesadaran dan kemampuan untuk
ketentuan masih kurang serta cenderung kurang menentukan sendiri apa yang harus mereka lakukan
tegas. untuk mengatasi permasalahan yang mereka hadapi.
c. Pengusaha kecil dn asosiasi usaha kecil kurang
dilibatkan dalam perumusan kebijakan tentang Tujuan pemberdayaan UMKM menurut Undang-
usaha kecil. undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil
d. Pungutan atau biaya tambahan dalam adalah: 1) menumbuhkan dan meningkatkan kemam-
pengurusan perolehan modal dari dana puan usaha kecil menjadi usaha yang tangguh dan
penyisihan laba BUMN dan sumber modal mandiri serta dapat berkembang menjadi usaha
lainnya cukup tinggi. menengah; dan 2) meningkatkan peranan usaha kecil
dalam pembentukan produk nasional, perluasan
e. Banyak pungutan yang sering kali tidak disertai
kesempatan kerja dan berusaha, peningkatan ekspor,
pelayanan yang memadai.
7) Ketersediaan infrastruktur serta peningkatan dan pemerataan pendapatan untuk
a. Listrik, air,dan telepon berarti mahal dan sering mewujudkan dirinya sebagai tulang punggung serta
memperkukuh struktur perekonomian nasional.
kali mengalami gangguan di samping pelayanan
petugas yang kurang baik. 2.5.3.Program pemberdayaan usaha kecil dan
8) Pola kemitraan menengah
a. Kemitraan antara usaha kecil dengan usaha Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
menengah dan besar dalam pemasaran dan Periode Tahun 2004-2009, UKM menempati posisi
sistem pembayaran baik produk maupun bahan strategis untuk mempercepat perubahan struktural
baku dirasakan belum bermanfaat. dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
b. Kemitraan antara usaha kecil dengan usaha banyak. Sebagai wadah kegiatan usaha bersama bagi
menengah dan besar dalam transfer teknologi produsen maupun konsumen, UKM berperan dalam
masih kurang. memperluas penyediaan lapangan kerja, memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap
Analisis Pengembangan UMKM…{Suyadi, Syahdanur & Susie}| 6
Jurnal Ekonomi KIAT p-ISSN 1410-3834
Vol. 29, No. 1, Juni 2018 e-ISSN 2597-7393

Dengan persfektif peran seperti itu, sasaran 5) Membangun UKM yang diarahkan dan difokuskan
umum pemberdayaan UKM dalam lima tahun pada upaya-upaya untuk:
mendatang adalah: a. Membenahi dan memperkuat tatanan kelem-
1) Meningkatnya produktivitas UKM dengan laju bagaan guna menciptakan iklim dan lingkungan
pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbuhan usaha yang kondusif bagi kemajuan UKM serta
produtivitas nasional kepastian hukum yang menjamin terlindunginya
2) Meningkatnya proporsi usaha kecil formal dan/atau anggotanya dari praktek-praktek
3) Meningkatnya nilai ekspor produk UKM dengan persaingan usaha yang tidak sehat;
laju pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbu- b. Meningkatkan pemahaman, kepedulian dan
han nilai tambahnya dukungan pemangku kepentingan (stakeholders)
4) Berfungsinya sistem untuk menumbuhkembangkan kepada UKM
wirausaha baru berbasis ilmu pengetahuan dan c. Meningkatkan kemandirian UKM.
teknologi
3. Metode Penelitian
5) Meningkatnya kualitas kelembagaan dan organisasi
UKM 3.1. Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Bengkalis
Dalam rangka mewujudkan sasaran tersebut,
Provinsi Riau, khususnya di kepulauan Bengkalis.
pemberdayaan UKM akan dilaksanakan dengan arah
Penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu 4 bulan
kebijakan sebagai berikut:
mulai bulan Januari-April 2017.
1) Mengembangkan UKM yang dirahkan untuk
memberikan kontribusi yang signifikan terhadap 3.2. Populasi dan sampel
pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelaku
dan peningkatan daya saing; sedangkan (pengusaha) Usaha Mikro Kecil dan Menengah
pemberdayaan usaha skala mikro lebih diarahkan (UMKM) yang ada di Kepulauan Bengkalis.
untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan
pendapatan pada kelompok masyarakat peneliti serta jenis usaha dan jumlah pelaku UMKM
berpendapatan rendah. yang sangat banyak, maka peneliti mengambil sampel
2) Memperkuat kelembagaan dengan menerapkan sebanyak 30 pelaku UMKM sebagai responden.
prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik Adapun metode pengambilan sampelnya adalah
(good governance) dan berwawasan gender metode purposive non probability sampling.
terutama untuk: 3.3. Teknik analisa data
a. Memperluas akses kepada sumber permodalan Teknik analisa data yang dipergunakan adalah teknik
khususnya perbankan analisa secara diskriptif karena data yang diperoleh
b. Memperbaiki lingkungan usaha dan menyeder- bersifat kualitatif, yaitu dengan menyebarkan
hanakan prosedur perijinan kuesioner dengan menggunakan skala nominal.
c. Memperluas dan meningkatkan kualitas institusi Selajutnya menyajikan data yang dimulai dengan
pendukung yang menjalankan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai
d. Fungsi intermediasi sebagai penyedia jasa sumber data yang terkumpul, menelaah, menyusun-
pengembangan usaha, teknologi, manajemen, nya dalam satuan-satuan, yang kemudian dikatego-
pemasaran, dan informasi rikan pada tahap berikutnya, dan memeriksa
3) Memperluas basis dan kesempatan berusaha serta keabsahan data serta menafsirkannya dengan analisis
menumbuhkan wirausaha baru berkeunggulan sesuai dengan kemampuan daya nalar peneliti untuk
untuk mendorong pertumbuhan, peningkatan membuat kesimpulan penelitian.
ekspor dan penciptaan lapangan kerja terutama
dengan: 4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
a. Meningkatkan perpaduan antar tenaga kerja Berkaitan dengan tujuan penelitian yaitu untuk
terdidik dan terampil dengan adopsi penerapan mengetahui bagaimana manajemen usaha yang
teknologi dilakukan responden (pelaku UMKM) serta kendala
b. Mengembangkan UKM melalui pendekatan apa saja yang mereka hadapi, berikut ini akan
klaster di sektor agribisnis dan agroindustri dipaparkan hasil jawaban responden terhadap
disertai pemberian kemudahan dalam penge- wawancara yang dilakukan serta kuisioner yang
lolaan usaha, termasuk dengan cara meningkat- mereka isi.
kan kualitas kelembagaan UKM sebagai wadah 4.1. Kendala dalam berusaha
organisasi kepentingan usaha bersama untuk
memperoleh efisiensi kolektif Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam
4) Meningkatkan peran UKM sebagai penyedia menjalankan usahanya biasanya menghadapi
barang dan jasa pada pasar domestik yang semakin permasalahan yang berkaitan dengan hampir
berdaya saing dengan produk impor, khususnya keseluruhan sumberdaya baik masalah bahan baku,
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak. keuangan, pemasaran, tenaga kerja, tekhnologi dan
terlebih lagi aspek manajemennya. Di bawah ini
Analisis Pengembangan UMKM…{Suyadi, Syahdanur & Susie}| 7
Jurnal Ekonomi KIAT p-ISSN 1410-3834
Vol. 29, No. 1, Juni 2018 e-ISSN 2597-7393

adalah tabel yang menunjukkan hasil jawaban Tabel 2. Masalah yang berkaitan dengan bahan baku
responden terhadap kendala yang dihadapi dalam Masalah Jumlah Persentase
berusaha. 1. Bahan baku susah didapat 14 46,67
Tabel 1. Kendala yang dihadapi dalam berusaha 2. Harga bahan baku tidak
18 60
Kendala Jumlah Persentase stabil/sering berubah-ubah
1. Ketersediaan bahan baku 5 16,67 3. Bahan baku tidak sesuai
3 10
2. Ketersediaan tenaga kerja 15 50 standar yang diinginkan
3. Ketersediaan modal (uang) 27 90 4. Waktu tunggu untuk men-
- -
4. Ketersediaan teknologi/ dapatkan bahan baku lama
27 90 5. Biaya/ongkos yang diper-
mesin
5. Keterbatasan pengetahuan lukan untuk mendapatkan - -
30 100 bahan baku tinggi
bisnis/manajemen
6. Keterbatasan dalam pem- 6. Lain-lain - -
29 96,67 Sumber: Data olahan
bukuan (akuntansi)
7. Keterbatasan pemasaran 3 10 Tabel 3. Masalah yang berkaitan dengan tenaga kerja
8. Lain-lain - - Masalah Jumlah Persentase
Sumber: Data olahan 1. Susah mendapatkan tenaga
Data di atas menunjukkan bahwa kendala utama 23 76,67
kerja yang terampil
yang dihadapi responden adalah keterbatasan 2. Upah tenaga kerja tinggi 7 23,33
pengetahuan bisnis/manajemen. Faktor penyebab 3. Lain-lain - -
permasalahan ini umumnya karena tingkat pendidikan Sumber: Data olahan
dan rendahnya literasi pengelolaan usaha yang
dimiliki para pelaku usaha. Kebanyakan para pelaku Tabel 4. Masalah yang berkaitan dengan modal
usaha merasa sudah cukup dengan pengetahuan dan (uang)
kemampuan bisnis yang dimiliki sehingga tidak terlalu Masalah Jumlah Persentase
antusias untuk menambah ilmu bisnis mereka apalagi 1. Sulit mendapatkan pinjaman
16 53,33
jika harus mengeluarkan biaya untuk mendapatkan dari bank
ilmu tersebut. Adapun permasalahan modal adalah 2. Tidak ada bantuan modal
14 46,67
masalah klasik yang hampir dihadapi oleh semua jenis tunai dari instansi terkait
usaha. Masalah modal sangat erat kaitannya dengan 3. Lain-lain - -
ketakutan para pelaku usaha untuk mengambil resiko. Sumber: Data olahan
Terkadang mereka tidak memiliki keyakinan bahwa Tabel 5. Masalah yang berkaitan dengan mesin/
jika mereka menggunakan modal asing (hutang) usaha teknologi
mereka akan maju. Mereka lebih fokus memikirkan Masalah Jumlah Persentase
bagaimana membayar cicilan hutang ketimbang 1. Harga mesin mahal 21 70
memikirkan inovasi produk dan pengembangan daerah 2. Harus beli/pesan dari luar
pemasaran. 9 30
kota
Fenomena yang menarik dari jawaban responden 3. Perlu waktu untuk mem-
pada Tabel 1 di atas adalah bahwa hampir semua - -
pelajari mesin
responden tidak memiliki masalah dalam hal bahan 4. Biaya perawatan mesin
baku dan pemasaran. Jika bahan baku dan pemasaran -
tinggi/mahal
tidak menjadi kendala, harusnya responden bisa 5. Lain-lain - -
mengembangkan usahanya lebih baik. Namun, karena Sumber: Data olahan
responden memiliki keterbatasan pengetahuan
bisnis/manajemen, modal dan tekhnologi maka Tabel 6. Masalah yang berkaitan dengan manajemen
kekuatan dan peluang yang bersumber dari bahan Masalah Jumlah Persentase
baku dan pemasaran tidak dapat mengantarkan para 1. Kurangnya pelatihan yang
13 43,33
pelaku UMKM tersebut kepada kemajuan usaha diberikan instansi terkait
seperti yang mereka harapkan. 2. Tidak adanya permintaan
1 3,33
oleh instansi terkait
Selanjutnya pada tabel-tabel di bawah ini akan
3. Kurangnya mengikuti berita-
diperlihatkan lebih detail lagi permasalahan yang
berita yang berkaitan dengan 11 36,67
berkaitan dengan kendala yang dihadapi oleh para
pengembangan usaha
responden.
4. Tidak memiliki dasar ilmu
7 23,33
bisnis
5. Lain-lain - -
Sumber: Data olahan
Analisis Pengembangan UMKM…{Suyadi, Syahdanur & Susie}| 8
Jurnal Ekonomi KIAT p-ISSN 1410-3834
Vol. 29, No. 1, Juni 2018 e-ISSN 2597-7393

Tabel 7. Masalah yang berkaitan dengan pemasaran Permasalahan tekhnologi yang dihadapi adalah
(pasar) mahalnya harga mesin. Padahal penggunaan mesin
Masalah Jumlah Persentase dapat meningkatkan produksi, memudahkan inovasi
1. Tingginya tingkat per- dan efisiensi. Untuk masalah manajemen, kurangnya
21 70 pelatihan yang diberikan dari instansi terkait dianggap
saingan produk sejenis
2. Pasar sangat terbatas menjadi salah satu faktor penyebab, disamping kurang
11 36,67 intensnya para pelaku UMKM mengikuti
(hanya dikota bengkalis)
3. Sulit memasarkan produk perkembangan informasi dan tekhnologi (misalnya
2 6,67 melalui internet).
keluar daerah
4. Sulit mencari rekanan Adapun permasalahan pemasaran yang dihadapi
yang mau membantu me- 1 3,33 adalah tingginya tingkat persaingan sesama pelaku
masarkan produk UMKM untuk produk sejenis serta rendahnya akses
5. Tidak memiliki akses di pasar ke daerah lain. Dan untuk masalah yang
2 6,67
luar daerah berkaitan dengan pembukuan (akuntansi) yang paling
6. Lain-lain - - sering dihadapi para pelaku usaha di Bengkalis yang
Sumber: Data olahan menjadi objek pada penelitian ini yaitu tidak pernah
Tabel 8. Masalah yang berkaitan dengan pembukuan diberi pelatihan tentang pembukuan oleh instansi
(akuntansi) terkait. Padahal pembukuan adalah hal krusial bagi
Masalah Jumlah Persentase pengusaha untuk dapat memantau perkembangan
keuangan usahanya, bahan evaluasi perkembangan
1. Tidak merasa perlu mem-
usaha dan salah satu syarat untuk pengajuan pinjaman
buat pembukuan yang 6 20
kepada pihak ketiga.
baik
2. Tidak pernah diberi pela- 4.2. Pembinaan dan pengembangan usaha yang
tihan tentang pembukuan 24 80 dilakukan
oleh instansi terkait Keberhasilan usaha, pertumbuhan maupun
3. Lain-lain - - pengembangan UMKM tidak dapat dipisahkan dari
Sumber: Data olahan keikutsertaan berbagai pihak terkait dalam melakukan
pembinaan baik berupa pelatihan yang bersifat
Secara spesifik permasalahan bahan baku tekhnis, non tekhnis maupun pembinaan berupa
berkaitan dengan harga bahan baku yang tidak stabil. konseling langsung kepada para pelaku usaha. Dengan
Untuk tenaga kerja, adalah sulitnya mendapatkan keterbatasan yang dimiliki, baik keterbatasan modal,
tenaga kerja yang terampil. Sulitnya mendapatkan manajemen, maupun penguasaan pasar, para pelaku
pinjaman dari bank adalah masalah yang berkaitan UMKM senantiasa memerlukan peran aktif dari
dengan permodalan. berbagai pihak untuk mendapatkan informasi dan
edukasi mengenai strategi pengembangan usaha yang
mereka miliki.
Tabel 9. Waktu dan jenis pembinaan/pelatihan yang diberikan berbagai instansi terkait kepada pelaku UMKM di
kabupaten bengkalistahun 2011-2016
2011 Pelatihan desain produk imdustri kecil dan menengah Disperindag Bengkalis
2012 Pelatihan motivasi bagi pelaku usaha industri kecil dan menengah Disperindag Bengkalis
2014 Pelatihan Achievement Motivation Training (AMT) Disperindag Kota Pekan Baru
2016 Bagaimana memulai ekspor BBPPEI
Apresiasi pengembangan sistem rantai dingin dan pengolahan di kab Dinas Perikanan dan Kelautan
2016
bengkalis
2016 Pelatihan Industrialisasi pengolahan hasil perikanan di kab bengkalis Dinas Perikanan dan Kelautan
Dinamika kelompok pada kegiatan praktek pakan fasilitator daerah- Badan Ketahanan Pangan dan
2016
daerah Penyuluhan Bengkalis
2016 Peningkatan Kapasitas usaha masyarakat destinasi pariwisata Kementrian Pariwisata
Pelatihan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan bagi CV MWA
2016
kelompok PKK
Pelatihan Motivasi Usaha Disperindag Kab Bengkalis
Penyuluhan Keamanan Pangan Dinas Kesehatan
Pembinaan Kemampuan Teknologi Kemasan Disperindag Prov Riau
Pelatihan Pembuatan Krupuk Ikan Pemda Kab Bengkalis
Dinas Perikanan dan Kelautan
Bimbingan Teknologi Pengolahan Perikanan
Prov Riau
2015 Produk halal Departemen Agama
Analisis Pengembangan UMKM…{Suyadi, Syahdanur & Susie}| 9
Jurnal Ekonomi KIAT p-ISSN 1410-3834
Vol. 29, No. 1, Juni 2018 e-ISSN 2597-7393

Badan Ketahanan Pangan dan


2016 Pelatihan peningkatan SDA penyuluh pertanian/ perkebunan Penyuluhan Kabupaten
Bengkalis
Kepala Dinas Perikanan dan
2016 Pelatihan industri pengolahan hasil perikanan di kabupaten bengkalis
Kelautan Provinsi Riau
Pembinaan pengolahan produk perikanan kabupaten bengkalis tahun Disprindag
2014
2014
Kegiatan fasilitasi kerjasama kementrian idustri mikro dan kecil dan Disprindag
2013
menengah dengan swasta di pekanbaru
2011 Desain produk industri kecil dan menengah Disprindag
2016 Pembinaan kemampuan teknologi industri pelatihan pengolahan sagu Disprindag
2015 CEFE IKM Disperindag Prov Riau
2016 Pelatihan bagaimana memulai ekspor BBPPEI
2016 Pelatihan AMT Disperindag Kab Bengkalis
2015 Bim tek pengolahan difersifikasi produk bahan makanan berbasis ikan Disperindag Prov Riau
2015 Bimbingan teknik Dinas KKP Kab Bengkalis
2015 Cafe bagi ikm yang telah didiagnosa oleh upl
Di kota Pekanbaru Disperindag Prov Riau
Dinas Koperasi dan Usaha
2016 Peningkatan kapasitas koperasi, usaha kecil dan menengah (PK2UKM)
Mikro Prov Riau
2016 Bagaimana memulai ekspor Kementrian Perdagangan RI
2015 Bimtek pengolahan diserfikasi produk bahan Disperindag prov riau
Makan berbasis
2014 Pengolahan produk makanan Dinas Perindustrian Bks
2016 Pelatihan industrilisasi pengolahan perikanan Dinas KKP
2016 Pelatihan dinamika Badan Ketahanan Pangan
2011 Desain produk Disperindag
2011 Motivasi pelaku usaha Disperindag
2013 Konvensi gugus kendali mutu Disperindag Prov Riau
BBPPEI dan Disperindag
2016 Ekspor
Prov Riau
2016 Ojk jaring OJK
2016 Export import Disperindag
2014 Penyuluhan/survey dari media wawancara di radio pemkab bengkalis Radio RRI Bengkalis
Achievement Motivation Training Kadin Bengkalis
Program pelatihan keterampilan industri dan makanan Disperindag Bengkalis
Sumber: KADIN Kabupaten Bengkalis, 2016
Sebenarnya cukup banyak jenis pembinaan dipahami bahwa hal tersebut bukan karena tidak
maupun instansi terkait yang memberikan pelatihan perhatiannya pihak-pihak yang berkepentingan
kepada para pelaku UMKM dan terkadang dilakukan terhadap pelaku UMKM tersebut. Mengingat jumlah
beberapa kali dalam satu tahun yang sama. Semua pelaku UMKM yang begitu banyak dan dengan jenis
jenis pembinaan di atas disponsori dan dijembatani usaha yang juga sangat banyak, maka tentu perlu
oleh KADIN (Kamar Dagang dan Industri) selaku waktu dan dana yang cukup besar untuk membina
pihak yang berkepentingan terhadap pengembangan mereka semua. Namun demikian, pihak-pihak yang
usaha perdagangan maupun industri yang ada di suatu terkait dengan kemajuan dan perkembangan usaha
wilayah. Kadin juga bertindak sebagai pihak UMKM ini tentunya harus tetap melakukan
penghubung antara kepentingan instansi terkait pembinaan yang berkesinambungan, menambah jenis
dengan para pelaku UMKM. pelatihan sesuai tuntutan perkembangan tekhnologi
Selain melakukan pelatihan yang tersebut diatas, dan informasi serta menjalin kerja sama dengan lebih
Kadin juga berkerja sama dengan dinas terkait lainnya banyak instansi dan lembaga terkait.
seperti Dinas Pariwisata, Dinas perindustrian dan 5. Simpulan
perdagangan dan yang lainnya dalam memberikan
1) Umumnya modal pelaku UMKM di kabupaten
berbagai pembinaan guna mengembangkan industry
Bengkalis adalah modal sendiri.
dan perdagangan yang ada di kabupaten Bengkalis
2) Kendala utama yang dihadapi oleh pelaku UMKM
terutama untuk usaha kecil dan menengah (UMKM).
di kabupaten Bengkalis adalah keterbatasan
Jika dihubungkan dengan jawaban responden pengetahuan bisnis dan manajemen yang dimiki
yang menyatakan bahwa pembinaan yang dilakukan dan kelemahan dalam pembukuan.Penguasaan
instansi terkait masih kurang maka hal ini dapat
Analisis Pengembangan UMKM…{Suyadi, Syahdanur & Susie}| 10
Jurnal Ekonomi KIAT p-ISSN 1410-3834
Vol. 29, No. 1, Juni 2018 e-ISSN 2597-7393

tekhnologi merupakan kendala yang juga banyak 1) Para pelaku UMKM hendaknya meningkatkan
dikeluhkan pelaku usaha. pengetahuan bisnis dan manajemen secara kontinu
3) Masih kurang meratanya pembinaan yang karena adanya kemajuan tekhnologi dan informasi
dilakukan instansi terkait untuk pengembangan serta perubahan selera pasar
usaha pelaku UMKM. 2) Membangun kerjasama dan kemitraan dengan
4) Umumnya pelaku UMKM takut mengambil resiko pemerintah melalui dinas terkait, dan kemitraan
berkaitan dengan modal, inovasi produk dan dengan pihak swasta lainnya termasuk dengan
tekhnologi. lembaga pendidkan
3) Membangun kerjasama dengan mitra pemasaran
6. Saran
baik dalam kota maupun luar kota Bengkalis
Saran-saran yang diberikan berkaitan dengan hasil 4) Meningkatkan kerjasama dengan pihak distributor
penelitian adalah: untuk mendapatkan sumber bahan baku yang lebih
murah, berkualitas dan terjaminnya kontuinitasnya.

Referensi
Bahri, Erif. 2014. Pemberdayaan Masyarakat: Konsep Moloeng, lexi, 2006. Metode Penelitian Kualitatif,
dan Aplikasi. Jakarta : FAM Publishing Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Ball Donald A & McCulloch Wendell H 2001, Nitisusastro, Mulyadi. 2010. Kewirausahaan dan
International Business, 7th Ed. McGraw Hill Manajemen Usaha Kecil. Bandung: CV.
Bungin, Burhan. 2013 . Metodologi Penelitian Sosial Alfabeta
& Ekonomi. Jakarta : Kencana Isono, Sadoko & Heryadi 2001, Pengembangan
Dirlanudin. "Paradigma Baru Pengembangan Usaha Usaha Kecil. Bandung: Yayasan Akatiga
Kecil." Jurnal Ilmiah Niagara 1, no. 2 (2008): Setyobudi, Andang. "Peran Serta BI Dalam
47-67. Pengembangan UMKM." Buletin Hukum dan
Enright, Michael J. "Regional Clusters dan Kebanksentralan 5, no. 2 (Agustus 2007): 29-
Multinational Enterprises: Independence, 35.
Dependence, or Interdependence?" Sudarmini, Ketut. "Peran Perbankan Dalam
International Studies of Management & Pengembangan UMKM di Provinsi Bali."
Organization (M.E, Sharpe, Inc.) 30, no. 2 Jurnal Lingkungan & Pembangunan
(2000): 114-138. Wicaksana 15, no. 2 (Agustus 2006): 138-149.
Hill, Hal. "Small dan Medium Enterprises In Susana, Suprapti 2005, Ekonomi dan Bisnis. Opini.
Indonesia: Old Policy Challenges for a New Vol. VII No. 2
Administration." Asian Survey XLI, no. 2 Tambunan, T. "The Role of Small Firms in
(April 2001): 248-270. Indonesia." Small Business Economics
Hubeis, Musa. 1997. Menuju Industri Kecil (Springer) 4, no. 1 (March 1992): 59-77.
Profesional di Era Globalisasi Melalui Undang Undang dan Peraturan Tentang UKM:
Pemberdayaan Manajemen Industri. Bogor. Agromedia Pustaka
Little, I.M.D. "Small Manufacturing Enterprises in Wahyuni, Eti dkk. 2005. Lilitan Masalah Usaha
Developing Countries." The World Bank Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan
Economic Review (Oxford University Press) 1, Kontroversi Kebijakan. Medan: Bitra
no. 2 (January 1987): 203-235. Indonesia.
Loebis, Linda, dan Hubert Schmitz. "Java Furniture Wengel, Jan ter, dan Edgard Rodriguez. "SME Export
Makers: Globalisation Winners or Losers?" Performance in Indonesia After The Crisis."
Development in Practice (Oxfam GB) 3, no. 4 Small Business Economics (Springer) 26
(June 2005): 514-521. (2006): 25-37.
Longenecker JG, Moore CW & Petty JW 2001, Wijaya, Krisna. 2002. .Analisa Pemberdayaan Usaha
Kewirausahaan: Manajemen Usaha Kecil. kecil (Kumpulan Pemikiran). Bogor: Pustaka
Jakarta: Salemba Empat Wirausaha Muda
Manikmas, M. Oka Adnyana. "Potensi Pengembangan Wrihatnolo RR & Riant ND 2007, Manajemen
UKM Dalam Era Otonomi Daerah." SOCA 3, Pemberdayaan, Jakarta: Gramedia Pustaka
no. 1 (2003): 1-16. Utama
Mardikanto, Totok. 2010. Konsep Konsep
Pemberdayaan Masyarakat. Solo: UNS Press

Anda mungkin juga menyukai