Anda di halaman 1dari 4

Obat Sistemik Pada Dermatomikosis Superfisial Infeksi oleh jamur biasanya baru terjadi apabila ada kondisi yang

menghambat salah satu mekanisme pertahanan tubuh. Infeksi jamur dibagi menjadi 2 : - Infeksi superfisial (infeksi dermatofit dan infeksi mukokutan) - Infeksi sistemik (infeksi jaringan dan organ yang lebih dalam) Infeksi superfisial umumnya diterapi dengan preparat lokal, kadang dengan obat sistemik. Obat-obat yang digunakan untuk infeksi jamur superficial: 1 Griseofulvin Griseofulvin tidak larut air. Obat diberikan per oral, dan hanya sekitar 50% dosis oral yang masuk ke sirkulasi. Absorbsi meningkat bila diberikan bersama lemak. Infeksi kulit dan rambut memerlukan terapi 4-6 minggu, kuku tangan sampai 6 bulan, dan kuku kaki memerlukan 1 tahun terapi. Griseofulvin menghambat jamur dari spesies Microsporum, Tricophyton, dan Epidermophyton. Griseofulvin biasanya hanya digunakan untuk mengobati infeksi dermatofit pada kulit, kuku atau rambut. Griseofulvin tersedia dalam bentuk tablet 125, 250, dan 500 mg, dan suspensi 125 mg/ml. Dosis dewasa adalah 500-1000 mg/hari dosis tunggal atau dosis terbagi. Untuk anak, dosisnya adalah 10 mg/kgBB/hari. Ketokonazol Obat ini mempunyai aktivitas antijamur terhadap Candida, Coccidioides immitis, Cryptococcus neoformans, H. capsulatum, B. dermatitidis, Sporothrix spp, dan Paracoccidioides brasiliensis. Ketokonazol bisa diberikan per oral atau topikal. Pada pemberian oral, obat ini diserap baik pada saluran cerna (75%), dan absorpsi meningkat pada pH asam. Diindikasikan pada Paracoccidioides brasiliensis, thrush (kandidiasis faringeal), kandidiasis mukokutan, dan dermatofit (termasuk yang resisten terhadap griseofulvin). Ketokonazol tersedia dalam bentuk tablet 200 mg, gel/krim 2%, dan scalp solution 20 mg/ml.

Itrakonazol Spektrum aktivitas antijamurnya sama dengan ketokonazol, plus Aspergillus. Obat ini diindikasikan untuk tinea, infeksi Candida mukokutan dan infeksi sistemik. Itrakonazol tersedia dalam bentuk kapsul 100 mg. Flukonazol Spektrum aktivitas antijamurnya sama dengan ketokonazol. Flukonazol dapat diberikan per oral atau iv. Obat ini diindikasikan untuk infeksi sistemik dan kandidiasis mukokutan. Flukonazol tersedia dalam bentuk kapsul 50 dan 150 mg dan infus 2 mg/ml. Nistatin Nistatin adalah antibiotik makrolida polyene dari Streptomyces noursei. Spektrum antijamurnya sebenarnya juga mencakup jamur-jamur sistemik, namun karena toksisitasnya, nistatin hanya digunakan untuk terapi infeksi Candida pada kulit, membran mukosa dan saluran cerna. Nistatin efektif untuk kandidiasis oral, kandidiasis vaginal dan esofagitis karena Candida. Nistatin terdapat dalam sediaan obat tetes/suspensi, tablet oral, tablet vagina, dan suppositoria. Terbinafin Terbinafin diberikan per oral, dan diabsorpsi baik dari saluran cerna, dengan kadar puncak dalam plasma tercapai dalam 2 jam. Terbinafin sangat aktif terhadap dermatofit, dengan aktivitas lebih baik daripada itrakonazol. Obat ini diindikasikan pada jamur dan kuku. Tersedia dalam bentuk krim 1% dan tablet 250 mg. Amfoterisin B Amfoterisin B termasuk ke dalam golongan polyene (strukturnya mirip dengan nistatin). Amfoterisin mempunyai spektrum aktivitas terhadap Aspergillus, B. dermatitidis, Candida, C. neoformans, C. immitis. H. capsulatum, Mucor, P. brasiliensis. Amfoterisin tidak larut dalam air, dan tidak diabsorpsi dari saluran cerna. ABLC (amphotericin B lipid complex) adalah formula amfoterisin B non-liposomal yang digabungkan dengan 2 fosfolipid. Amfoterisin merupakan drug of choice untuk terapi sebagian besar infeksi jamur yang berat. Amfoterisin B tersedia dalam bentuk salep mata/tetes mata 1%, injeksi 50 mg/10ml atau 0,1 mg/ml larutan.

Flusitosin (5-fluorositosin) Flusitosin adalah obat antimetabolit yang mengalami metabolisme intrasel menjadi bentuk aktif, yang kemudian mengakibatkan inhibisi sintesis DNA. Flusitosin mempunyai spektrum aktivitas antijamur terhadap Candida, C. neoformans, Cladosporium, Phialophora. Flusitosin diberikan per oral dan diabsorpsi baik dari saluran cerna serta terdistribusi secara luas pada tubuh, dengan kadar LCS 70-85% dari kadar plasma. Pengobatan sistemik pada infeksi Candida dan Cryptococcus 2 Obat Infeksi Candida Amphotericin B deoxycholate Liposomal amphotericin Amphotericin B lipid complex Fluconazole Voriconazole Caspofungin Infeksi Cryptococcus Amphotericin B Fluconazole Liposomal amphoterisin B Sediaan IV IV IV Oral, IV Oral, IV IV IV Oral, IV IV Dosis 0,6-1mg/kgBB per hari 3-5 mg/kgBB per hari 3-5 mg/kgBB per hari 400 mg per hari oral; 6-12 mg/kgBB per hari IV 6 mg/kgBB per hari IV 50 mg per hari 0,7-1 mg/kgBB per hari 400-800 mg per hari oral 3-5 mg/kgBB per hari

Pembagian golongan obat antijamur, sediaan dan dosisnya 3 Obat Golongan Azole Fluconazole Voriconazole Itraconazole Posaconazole Golongan Amfoterisin B AMB deoxycholate AMB lipid complex Liposomal AMB Golongan Echinocandins Caspofungin Golongan Allylamine Terbinafine Sediaan Oral, IV Oral, IV Oral Oral IV IV IV IV Oral Dosis 100-400 mg per hari IV / oral 200-300 mg per hari oral; 4-6 mg/kgBB per hari IV 100-400 mg per hari 200 mg per hari 0,5-1,5 mg/kgBB per hari 5 mg/kgBB per hari 3-5 mg/kgBB per hari 50 mg per hari 250 mg per hari

Penyakit jamur superfisial dan rekomendasi pengobatan 3 Penyakit Jamur Golongan Dermatofita Tinea pedis Tinea kruris Tinea korporis Onikomikosis Golongan Candida Kandidiasis kutan Kandidiasis vulvovaginal Kandidiasis oral Rekomendasi pengobatan Topikal Ketoconazole 6 minggu; Oral Terbinafine 2-4 minggu Topikal Ketoconazole 2 minggu; Oral Terbinafine 2-4 minggu Topikal Ketoconazole 2 minggu ; Oral Itraconazole 15 hari atau Terbinafine 2-4 minggu Oral Itraconazole 3-4 bulan atau Terbinafine 6-12 minggu Topikal Ketoconazole 2 minggu; Oral Fluconazole 1 minggu Topikal Gentian Violet 3 hari; Oral Fluconazole 5 hari Oral Fluconazole dosis tunggal

Pengobatan untuk penyakit dermatomikosis superfisial yang lain seperti T. versicolor umumnya secara topikal menggunakan krim ketoconazole 2% selama 11-22 hari. Adapun pengobatan secara sistemik dengan menggunakan tablet itraconazole 200 mg per hari selama 1 minggu. Pengobatan T. versicolor secara sistemik (oral) memberikan masa pengobatan yang lebih singkat dibandingkan secara topikal, namun mepunyai efek samping berupa mual atau gangguan fungsi hati reversible. 4