Anda di halaman 1dari 16

Faktor-faktor Penentu Perilaku Mencontek di Kalangan

Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNP


========================================================
Oleh: Friyatmi

ABSTRACT

Cheating on test, which is a perennial problem in higher


education, is a fraudulent act that could result a blurred
evaluation process. This study aims to identify the characteristics
of cheating behaviour on test and to analyze determining factors
of cheating behaviour among students of Economic Faculty, the
State University of Padang. This study was an ex-post facto. The
data in this study were collected through quetionnaire and
analyzed with descriptive and factor analysis techniques. The
results of this study indicated that there are some characteristics
of student’s cheating behaviour: 39,7% of them used materials or
aids that have not been approved by lecturer, 62,7% copied the
answers from their friends or allowed the answers to be copied,
58,8% shared the answers or consulted them with their friends,
and 27,8% accessed the answers outside the room. The
determining factors of cheating behaviour consisted of: mastery
of the material, learning factors, success story, self-concept,
personal motives, situational, and social factors.

Kata Kunci: Perilaku, mencontek, ujian (test)

I. PENDAHULUAN
Belajar adalah suatu proses yang Pelaksanaan evaluasi yang
kompleks yang terjadi pada diri benar sangat dibutuhkan untuk
setiap orang sepanjang hidupnya. mengukur ketercapaian tujuan
Proses belajar terjadi karena adanya pembelajaran. Tercapai atau tidak-
interaksi antara seseorang dengan nya tujuan pembelajaran dapat
lingkungannya. Lingkungan yang dilihat dari perubahan yang terjadi
dimaksud terdiri dari sejumlah pada peserta didik. Azhar Arsyad1
komponen yang saling mempe- menyatakan bahwa salah satu
ngaruhi satu sama lainnya. Kom- pertanda bahwa seseorang telah
ponen tersebut antara lain: tenaga belajar adalah adanya perubahan
pengajar, perumusan tujuan, tingkah laku pada diri orang tersebut
pemilihan dan penyusunan materi, yang disebabkan oleh terjadinya
penggunaan strategi pembelajaran perubahan pada tingkat pengeta-
yang efektif, penggunaan media huan, keterampilan, atau sikap.
yang tepat serta pelaksanaan dan
evaluasi yang benar. 1
Azhar Arsyad. 2006. Media
Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo
Persada

Faktor-faktor Penentu Perilaku Mencontek di Kalangan Mahasiswa …


173
Perubahan pada aspek pengetahuan negeri, mengindikasikan bahwa
dapat dievaluasi melalui serangkaian aktivitas mencontek sudah menjdai
tes yang akhirnya akan merepresen- budaya dan sekaligus ”wabah” yang
tasikan hasil belajar mahasiswa. telah menyerang sebagian besar
Fenomena yang berkembang pelajar di dunia.
menunjukkan bahwa seringkali ter- Perilaku mencontek juga telah
jadi kecurangan-kecurangan dalam berkembang di kalangan mahasiswa
pelaksanaan tes, khususnya tes Universitas Negeri Padang (UNP),
tertulis. Salah satu bentuk kecu- khususnya Fakultas Ekonomi (FE).
rangan yang sering terjadi adalah Berdasarkan pengamatan dalam
munculnya aktivitas mencontek pelaksanaan Ujian Akhir Semester
yang dilakukan oleh sebagian (UAS) Juli – Desember 2008, sangat
mahasiswa, terutama terjadi pada banyak ditemui mahasiswa yang
saat menghadapi ujian akhir mencontek saat ujian berlangsung.
semester. Pengamatan peneliti di beberapa
Saat ini mencontek pada saat kelas yang sedang melaksanakan
ujian sepertinya bukan hal yang tabu UAS membuktikan bahwa sekitar ±
lagi bagi sebagian kalangan 80% mahasiswa sering mencontek
mahasiswa. Berbagai cara dan saat ujian berlangsung. Banyak
strategi mulai dari yang termudah strategi yang dilakukan mahasiwa
hingga tercanggih dilakukan untuk dalam mencontek, diantaranya
mendapatkan jawaban. Mulai dari bertanya kepada teman, membuat
bertanya pada teman, bahkan saling catatan kecil di kertas dan
tukar lembar jawaban, hingga menyimpannya di saku baju atau di
melihat catatan kecil di kertas atau kotak pena, membuat catatan-
di handphone yang telah diper- catatan penting di bangku dan di
siapkan sebelumnya. dinding-dinding kelas, atau
Ujian merupakan salah satu menyembunyikan buku di dalam
cara untuk mengevaluasi proses baju dan minta izin keluar ruangan
belajar. Mahasiswa dapat menge- saat ujian berlangsung.
tahui sejauh mana kemampuan Berbagai alasan dikemukakan
mereka dalam memahami materi mahasiswa ketika ketahuan mencon-
perkuliahan yang ditempuh. Bila tek oleh pengawas. Salah satunya
ternyata hasilnya belum maksimal, karena mereka tidak benar-benar
maka proses belajar harus diting- memahami materi dan tidak cukup
katkan baik intensitas maupun belajar. Terlepas dari berbagai
kualitas. Karena belajar merupakan alasan yang diungkapkan maha-
suatu proses usaha yang dilakukan siswa, sebenarnya ada faktor penting
untuk memperoleh suatu perubahan yang memungkinkan mahasiswa
perilaku yang baru secara kese- untuk mencontek. Faktor tersebut
luruhan sebagai hasil pengalaman adalah faktor yang berasal dari
individu itu sendiri dalam interaksi mahasiswa itu sendiri yang
dengan lingkungannya. berhubungan dengan kecenderungan
Berbagai hasil penelitian yang mereka untuk menerima atau
dilakukan di berbagai perguruan menolak sesuatu berdasarkan
tinggi, baik di dalam maupun di luar penilaiannya yang disebut dengan

174 TINGKAP Vol. VII No. 2 Th. 2011


sikap. Sikap seseorang akan mem- mendapatkan hasil yang instan.
pengaruhi segala tindakannya, Dengan mencontek mereka meng-
seseorang yang mempunyai sikap anggap tetap bisa menjawab soal
positif terhadap suatu objek akan ujian tanpa harus belajar terlebih
mendorong perilaku yang positif dahulu, bahkan ada kemungkinan
dan mengarah untuk mendukung mereka memperoleh nilai yang
sikap tersebut. Implikasinya, apabila hampir sama dengan mahasiswa
mahasiswa menilai bahwa men- yang pintar. Dengan kata lain, telah
contek merupakan aktivitas yang terbentuk kecendrungan sebagian
akan menguntungkan, maka ke- besar mahasiswa kuliah hanya untuk
mungkinan mereka akan mencontek memperoleh nilai yang tinggi,
walaupun sebenarnya mereka tahu sehingga mereka cenderung ber-
bahwa peraturan tidak memper- orientasi hasil dibandingkan proses
bolehkan hal tersebut. belajar itu sendiri.
Apabila kebiasaan mencontek Tujuan utama belajar adalah
ini dibiarkan terus berkembang, untuk mendapatkan ilmu penge-
berarti proses belajar belum berhasil tahuan dan nilai-nilai baru secara
karena tidak adanya perubahan afektif, kognitif, maupun motorik.
perilaku ke arah yang lebih baik, Hal itu memerlukan evaluasi untuk
melainkan mengalami degradasi mendapatkan report tentang sejauh-
moral. Berdasarkan fenomena yang mana proses pembelajaran telah
terjadi di atas, penulis tertarik untuk terjadi pada seseorang. Hal tersebut
meneliti apa saja faktor-faktor sesuai dengan pendapat Sumadi
penentu perilaku mencontek maha- Suryabrata2 yang menyatakan
siswa FE UNP, sehingga nantinya bahwa maksud dari evaluasi itu
dapat dirumuskan langkah-langkah adalah untuk mengetahui sudah
atau kebijaksanaan untuk memini- sejauhmanakah kemajuan dari anak
malisir masalah yang terjadi. didik. Akan tetapi dengan mencon-
tek, proses evaluasi menjadi kabur.
II.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Ukuran kemampuan yang tengah
dievaluasi menjadi tidak jelas,
Budaya Mencontek di Kalangan
karena ada partisipasi pihak lain
Mahasiswa
(teman atau catatan kecil) yang
Kebiasaan mencontek sudah terlibat dalam aktivitas mencontek.
membudaya bahkan mungkin sudah Sehingga hasil evaluasi tidak lagi
menjadi tindakan refleks, yang tanpa menunjukkan kemampuan maha-
disadari langsung dikerjakan secara siswa yang sebenarnya.
spontan ketika menemui soal-soal Sebuah penelitian yang dila-
yang tidak tahu atau lupa jawab- kukan disalah satu universitas negeri
annya. Padahal aktivitas mencontek di Jawa Barat menunjukkan bahwa
merupakan wujud rasa tidak percaya dari 231 mahasiswa yang dipilih
diri, kemalasan, spekulasi, ke- secara acak, diketahui bahwa 89%
curangan, dan irrasionalitas. Selain
menipu, mencontek juga merupakan
2
aktivitas spekulasi yang tinggi dan Sumadi Suryabrata. 2004. Psikologi Pen-
suatu bentuk sikap ingin segera didikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Per-
sada.

Faktor-faktor Penentu Perilaku Mencontek di Kalangan Mahasiswa …


175
pernah mencontek3. Perilaku men- cara belajar. Faktor penguasaan
contek tidak hanya berkembang di materi dan cara belajar tergolong
Indonesia, tetapi juga terjadi di faktor internal yang memiliki
negara-negara lain bahkan negara kekuatan besar dalam mengarahkan
maju. Sebagaimana yang diung- perilaku seseorang. Sebagaimana
kapkan oleh Clabaugh4 “aktivitas yang diungkapkan oleh I Nyoman
mencontek ibarat wabah (epidemic) Surna6 bahwa kekuatan yang berasal
yang telah menyerang sebagian dari dalam diri merupakan faktor
besar pelajar di dunia”. Penelitian utama dan sangat penting yang
Cizek5 juga menunjukkan sudah mendorong seseorang untuk mela-
berkembangnya perilaku mencon- kukan sesuatu. Kekuatan internal ini
tek di kalangan mahasiswa pada akan mempengaruhi pikirannya
beberapa universitas di California. yang selanjutnya akan mengarahkan
Hasil penelitian tersebut menyim- perilaku orang tersebut.
pulkan bahwa sekitar 86% maha- Tingkat penguasaan materi
siswa mengatakan pernah mencon- dapat dipengaruhi oleh kebiasaan
tek. Lebih parahnya lagi dari jumlah belajar seseorang. Mahasiswa yang
yang pernah mencontek tersebut memiliki waktu sedikit untuk belajar
sekitar 95% tidak pernah tertangkap pada umumnya memiliki tingkat
atau ketahuan mencontek oleh penguasaan materi yang rendah.
pengawas atau dosen. Apabila sudah demikian maka
kecendrungan untuk mencontek
Faktor-faktor Pendorong Perilaku akan semakin terbuka. Untuk
Mencontek menghindari hal tersebut, maka
belajar secara teratur dan memiliki
Ada banyak faktor yang dapat
pengaturan waktu yang baik
menjadi pendorong seseorang
merupakan cara belajar yang efektif.
(mahasiswa atau pelajar) untuk
Lebih lanjut Susilo7 mengungkap-
melakukan tidakan atau perileku
kan bahwa “orang yang memiliki
mencontek. Faktor penguasaan
waktu singkat untuk belajar hanya
materi merupakan faktor penentu
ingat mungkin kurang dari 60% dari
perilaku mencontek pertama yang
sekian banyak materi yang harus
memiliki pengaruh lebih besar
dipelajari”. Apabila penguasaan
dibanding faktor lainnya. Sementara
materi mereka sangat sedikit maka
faktor kedua yang menentukan
memungkinkan munculnya perilaku
perilaku mencontek adalah faktor
mencontek.
3
Belajar memerlukan pema-
Dian Vegawati. dkk. 2004. “Perilaku haman atas hal-hal yang dipelajari
Men-contek di Kalangan Mahasiswa”. sehingga diperoleh pengertian-
Makalah (tidak diterbitkan). Jatinangor:
Universitas Padjadjaran. pengertian. Pemahaman terhadap
4
Clabaugh, Gary K. 2003. Preventing materi dapat diperoleh dengan
Cheating and Plagiarism. 2nd Edition.
Oreland: New Foundations Press. 6
5 I Nyoman Surna. 1994. Pengembangan
Cizek, Grogory J. 1999. Cheating on Test:
How to Do It, Detect It and Prevent It. Diri. Jakarta: ASMI
7
Lawrence Er Ibaum Associates. M. Joko Susilo. 2006. Gaya Belajar Men-
jadikan Makin Pintar. Yogyakarta: Pinus

176 TINGKAP Vol. VII No. 2 Th. 2011


melakukan latihan dan ulangan, agar dilakukan oleh dosen untuk mening-
apa-apa yang dipelajari dapat katkan cara belajar mahasiswa
dikuasai. Berhasil atau tidaknya adalah dengan menciptakan ling-
mahasiswa memahami dan mengu- kungan belajar yang mendorong
asai materi perkuliahan dipengaruhi mahasiswa untuk berorientasi pada
oleh cara belajarnya. Lebih lanjut pemahaman, berfikir kreatif, kritis
Winkel8 mengungkapkan bahwa dan reflektif.
“pembelajar hendaknya melibatkan Faktor internal lainnya yang
diri secara aktif dalam pembelajaran dapat memunculkan perilaku men-
dengan cara berpikir secara contek adalah konsep diri dan
mendalam dan melakukan berbagai motivasi personal. Konsep diri
kegiatan belajar yang bermakna”. terbentuk melalui proses yang
Salah satu cara yang bisa terjadi sejak lahir kemudian secara
dilakukan mahasiswa untuk mengu- bertahap mengalami perubahan
asai materi adalah dengan meng- seiring dengan tingkat pertumbuhan
ulang dan menelaah lebih lanjut dan perkembangan individu. Pem-
materi yang diperoleh dari dosen. bentukan konsep diri sangat
Mempelajari kembali materi per- dipengaruhi oleh lingkungan.
kuliahan dari artikel, jurnal, buku Konsep diri juga akan dipelajari
dan sumber lainnya secara teratur melalui kontak dan pengalaman
memberikan dampak yang positif dengan orang lain termasuk
terhadap pemahaman mahasiswa. berbagai tekanan yang dialami
Seyogyanya mahasiswa harus individu. Hal ini akan membentuk
memiliki catatan sendiri sebagai persepsi individu terhadap dirinya
hasil ringkasan pemahamannya sendiri dan penilaian terhadap
terhadap materi yang disampaikan pengalaman akan situasi tertentu.
oleh dosen dan resumenya dari Konsep diri merupakan sepe-
membaca buku sumber lain. Hal ini rangkat instrumen pengendali
disebabkan karena otak kita mental dan karenanya mempenga-
memiliki kapasitas yang terbatas ruhi kemampuan berpikir seseorang.
untuk mengingat banyak hal, Muhibbin Syah9 menyebutkan bahwa
makanya catatan akan sangat seseorang yang mempunyai konsep
membantu mahasiswa mengingat diri positif akan menjadi invidu
kembali materi yang telah lama yang mampu memandang dirinya
dibahas. secara positif, berani mencoba dan
Adapun tujuan yang diha- mengambil resiko, selalu optimis,
dapkan dalam usaha mengulangi percaya diri, dan antusias mene-
kembali pelajaran di rumah itu tapkan arah dan tujuan hidup.
adalah untuk memperkuat ingatan Seseorang dengan konsep diri
siswa terhadap materi pelajaran positif akan mempunyai kemam-
yang akan digunakan untuk puan interpersonal dan intrapersonal
memecahkan masalah atau soal- yang baik pula, yang memung-
soal. Salah satu cara yang dapat kinkan untuk melakukan evaluasi
8 9
W.S. Winkel. 1991. Psikologi Penga- Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar.
jaran. Jakarta: PT. Grasindo Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Faktor-faktor Penentu Perilaku Mencontek di Kalangan Mahasiswa …


177
secara obyektif terhadap dirinya Pengendalian diri dan konsep
sendiri. Konsep diri positif akan diri dipengaruhi oleh motivasi
meminimalisasi munculnya kesu- seseorang dalam berprilaku.
11
litan belajar dalam diri mahasiswa. Slameto mengatakan bahwa “moti-
Sebaliknya, seseorang dengan vasi adalah menggerakkan siswa
konsep diri yang negatif memung- untuk melakukan sesuatu atau ingin
kinkan mereka akan mengalami melakukan sesuatu.” Motivasi
kesulitan belajar. Pada akhirnya personal maksudnya motif-motif
mereka lebih cenderung untuk yang bersumber dari dalam diri
mengambil jalan pintas untuk seseorang yang atas dasarnya
mencapai tujuan karena merasa kesadaran sendiri untuk melakukan
tidak pandai, tidak percaya diri dan sesuatu.
tidak memiliki optimisme. Hal
inilah yang dapat mendorong Motivasi dan Tujuan Mencontek
mahasiswa untuk mencontek. Salah Setiap mahasiswa memiliki motivasi
satu upaya yang dapat dilakukan tujuan yang berbeda-beda dalam
dosen adalah dengan pembentukan belajar. Sebagian mahasiswa
konsep diri melalui pendidikan mengikuti perkuliahan bertujuan
karakter, pengembangan kemampu- untuk menambah wawasan penge-
an afektif mahasiswa, dan meng- tahuan dan pemahamannya, namun
upayakan partisipasi aktif dan tidak sedikit mahasiswa yang
komunikasi yang terbuka antara memiliki persepsi bahwa kuliah
mahasiswa dan dosen. bertujuan untuk memperoleh nilai
Hal terpenting dari seluruh yang tinggi sehingga mudah
faktor yang ada adalah urgennya mendapat pekerjaan (orientasi
pengendalian diri dari mahasiswa hasil).
untuk tidak mencontek. Seseorang Mahasiswa dengan motif
yang memiliki pengendalian diri orientasi hasil memiliki kecen-
yang baik biasanya memiliki drungan yang besar untuk ber-
peluang kecil untuk mencontek. perilaku mencontek. Karena bia-
Hasil penelitian Abdullah Alhadza10 sanya mereka akan mengupayakan
di PPs UNJ mengungkapkan bahwa berbagai cara untuk mecapai tujuan
alasan pertama kenapa mahasiswa mereka memperoleh nilai yang
mencontek karena terpengaruh tinggi, salah satunya yaitu dengan
setelah melihat orang lain mencontek. Perilaku mencontek
mencontek meskipun pada awalnya dapat timbul karena adanya
tidak ada niat melakukannya. keinginan untuk menang berkom-
Fenomena ini memperjelas bahwa petisi dan diakui keberadaannya
sebenarnya sebagian besar maha- oleh lingkungan sekitar. Sebagai-
siswa memiliki pengendalian diri mana yang diungkapkan oleh
dan konsep diri yang rendah.

10
Abdullah Alhadza. 2004. Masalah Men-
11
contek (Cheating) di Dunia Pendidikan. Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor
www.depdiknas.go.id/jurnal. Diakses pada yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
tanggal 5 Desember 2009. Cipta.

178 TINGKAP Vol. VII No. 2 Th. 2011


Abraham Maslow dalam Robbins12 bahwa mereka telah memahami
bahwa dalam setiap diri manusia konsep dari suatu mata kuliah yang
terdapat lima tingkatan kebutuhan, tengah ditempuh.
yaitu kebutuhan fisik, kebutuhan Lebih lanjut Burt14 mengung-
rasa aman, kebutuhan sosial, kapkan ada tiga faktor yang berpe-
kebutuhan penghargaan dan kebu- ngaruh pada tingkah laku manusia,
tuhan aktualisasi diri. Mendapatkan yaitu faktor G (General), yakni
nilai yang tinggi merupakan suatu dasar yang dibawa sejak lahir, faktor
cara mahasiswa mengaktualisasikan S (Specific) yang dibentuk oleh
dirinya agar diterima oleh pendidikan dan faktor C (Common/
lingkungan. Group) yang didapatkan dari
Sehubungan dengan pendapat pengaruh kelompok. Pengaruh
di atas, Matrisoni13 menyatakan kelompok memberikan kontribusi
salah satu penyebab berkembangnya yang cukup besar dalam
budaya mencontek diantaranya menentukan perilaku. Perilaku
adalah sistem evaluasi yang sarat mencontek sering diakibatkan oleh
dengan muatan kognitif dan sangat pengaruh kelompok dimana orang
mengagungkan nilai. Seorang cenderung berani melakukan karena
mahasiswa akan dikatakan pandai melihat orang lain di kelompoknya
jika nilai mereka tinggi. Hal itu juga melakukan. Perilaku mencon-
menyebabkan para mahasiswa tek mahasiswa muncul disebabkan
berlomba-lomba dan berusaha oleh kesuksesan teman dalam
dengan segala cara untuk mengejar mencontek. Misalnya tidak ketahuan
nilai setinggi-tingginya, walaupun oleh pengawas saat mencontek atau
dengan cara yang tidak jujur yaitu nilai yang diperoleh teman yang
mencontek. mencontek lebih tinggi akan
Sebenarnya seorang dosen menjadi dorongan bagi mahasiswa
atau pengajar perlu mengubah cara untuk mencontek. Atau bisa juga
pandang mahasiswa agar tidak berupa pengalamannya sendiri
selalu berorientasi kepada nilai, pernah mencontek tanpa ketahuan
melainkan berorientasi kepada studi oleh pengawas.
dan proses pencarian ilmu itu Berdasarkan keberhasilannya
sendiri. Perlu ditekankan bahwa itulah perilaku mencontek akan
nilai bukanlah segala-galanya, terus tumbuh dan menjadi kebiasaan
namun nilai akan mengikuti dengan dalam setiap pelaksanaan ujian. Hal
sendirinya. Dengan demikian ini bisa diminimalisir oleh dosen
mahasiswa tak perlu risau dengan dengan menerapkan sanksi yang
nilai yang akan diperoleh sepanjang tegas, sehingga bisa menimbulkan
mereka telah menjalani proses efek jera bagi mahasiswa. Misalnya
dengan semaksimal mungkin. Yang mahasiswa yang ketahuan mencon-
paling penting adalah memastikan tek diberi hukuman misalnya diga-

12
Robbins, Stephen P. 2002. Perilaku Or- 14
Dalam Abdullah Alhadza. 2004. Masalah
ganisasi. Jakarta: Erlangga. Mencontek (Cheating) di Dunia Pendi-
13
Matrisoni. 2009. “Bogor Hindari Kebia- dikan.www.depdiknas.go.id/jurnal. Diakses
saan Mencontek”. Jurnal Bogor. April pada tanggal 5 Desember 2009.
2009.

Faktor-faktor Penentu Perilaku Mencontek di Kalangan Mahasiswa …


179
galkan dalam perkuliahan tersebut III. METODE PENELITIAN
dapat menjadi faktor pendorong Penelitian ini termasuk penelitian ex
untuk tidak mencontek. post facto, yaitu penelitian yang
Lebih lanjut Wijaya Kusu- dilakukan untuk meneliti aktivitas
mah15 mengungkapkan bahwa mencontek mahasiswa dan kemu-
bagaimanapun banyak variasi cara dian menganalisis faktor-faktor yang
mencontek mahasiswa, tetapi dapat menimbulkan peristiwa ter-
apabila mereka tidak memiliki sebut dengan pendekatan kuantitatif.
kesempatan maka mereka tidak akan Data penelitian dikumpulkan
bisa mencontek. Berarti dalam hal melalui angket/kuesioner dengan
ini mencontek itu terjadi karena responden mahasiswa FE UNP yang
adanya peluang atau kesempatan. terdaftar pada semester Januari-Juni
Salah satu penyebab munculnya 2009. Sampel penelitian dipilih
kesempatan mencontek adalah dengan teknik proportional random
pengawas lengah terhadap tingkah sampling berdasarkan proporsi
laku mahasiswa. Mahasiswa sering jumlah mahasiswa yang tersebar di
memanfaatkan kelemahan pengawas empat program studi, yaitu program
dengan cara berinteraksi dan studi pendidikan ekonomi, akun-
melakukan aktivitas mencontek. tansi, manajemen, dan ekonomi
Oleh karena itu, kesempatan men- pembangunan.
contek ini haruslah diminimalisir Teknik analisis data yang
oleh pengawas dengan melakukan digunakan adalah analisis deskriptif
pengawasan yang ketat dan disiplin dan inferensial. Analisis deskriptif
selama masa ujian. digunakan mengidentifikasi jenis-
Berkaitan dengan hal tersebut, jenis perilaku mencontek maha-
Buchari Alma16 memberikan sebuah siswa. Sedangkan analisis infe-
solusi untuk mengatur sebuah rensial berguna untuk menganalisis
pelaksanaan ujian dengan membagi faktor-faktor penentu perilaku men-
peserta didik menjadi dua contek mahasiswa FE-UNP meng-
kelompok. Hal itu untuk memi- gunakan analisis faktor dengan
nimalisasi kemungkinan untuk
bantuan program SPSS.
bertindak tidak jujur dalam ujian. Konsep dasar analisis faktor
Metode ini memacu siswa untuk berakar pada konsep-konsep dari
belajar lebih giat, rajin membaca, teori regresi yaitu korelasi parsial
dan fokus pada pelajaran sehingga dan korelasi ganda. Prosedurnya
tidak bergantung pada contekan. secara umum ada tiga, yaitu
Akibatnya semua prestasi hasil komputasi correlation matrix, inisial
belajar adalah benar-benar murni faktor ekstraksi faktor awal, rotasi
mencerminkan kemampuan mereka. sampai diperoleh hasil akhir yang
lebih sederhana dan lebih mudah
15 diinterpretasikan. Dalam penelitian
Wijaya Kusumah. 2009. Kenapa Siswa
Suka Mencontek? www.kompas.com. ini telah diidentifikasi sebanyak 32
Diakses tanggal 5 Desember 2009. indikator perilaku yang dapat
16
Buchari Alma. 2008. Kembangkan Buda- memunculkan perilaku mencontek.
ya Dilarang Mencontek. www.kompas. Identifikasi indikator tersebut
com. Diakses tanggal 5 Desember 2009.

180 TINGKAP Vol. VII No. 2 Th. 2011


berdasarkan pengamatan lapangan, IV.HASIL PENELITIAN DAN PEM-
diskusi dengan mahasiswa dan ahli, BAHASAN
serta kajian literature. 32 indikator
tersebut dianalisis dengan meng- Identifikasi Jenis-jenis Perilaku
gunakan teknik analisis faktor untuk Mencontek Mahasiswa FE UNP
direduksi faktor-faktor dominan Terdapat empat jenis perilaku
yang menentukan perilaku men- mencontek yang sering dilakukan
contek mahasiswa. Hasil analisis ini oleh mahasiswa. Karakteristik jenis-
kemudian akan diinterpretasikan jenis perilaku mencontek mahasiswa
dengan menggunakan teori-teori FE UNP untuk setiap program studi
yang ada dapat diidentifikasi sebagai berikut:

Tabel 1
Distribusi Frekuensi Jenis-jenis Perilaku Mencontek

Program Studi
No Indikator Pend. Akun- Ekonomi Manaje- Rerata
Ekonomi tansi Pemb. men
Menggunakan bahan atau
1 bantuan yang tidak diizinkan 40,7% 29,4% 51,3% 37,2%
39,7%
Menyalin jawaban orang
lain atau mengizinkan orang
2 65,7% 56,7% 65,0% 63,3% 62,7%
lain menyalin jawaban
sendiri
Saling bertukar jawaban
3 dengan orang lain dalam 61,4% 57,8% 62,7% 53,3% 58,8%
berbagai cara
Mencari jawaban ujian
4 27,5% 26,7% 30,5% 26,3% 27,8%
diluar ruang ujian
Rata-rata 48,8% 42,6% 52,4% 45,0%

Sumber : pengolahan data primer 2009

Data Tabel 1 di atas memperlihatkan jawaban kepada teman. Cara ini


bahwa dari empat jenis perilaku cukup ampuh karena dilakukan diam-
mencontek, jenis perilaku mencon- diam tanpa mengeluarkan suara
tek yang paling sering dilakukan sehingga tidak menarik perhatian
oleh mahasiswa FE UNP adalah pengawas.
menyalin jawaban teman atau Sedangkan jenis perilaku
mengizinkan teman menyalin mencontek yang paling sedikit
jawaban mereka, yaitu dengan TCR munculnya adalah mencari jawaban
62,7% yang berada pada kategori ujian di luar ruang ujian, dengan
sedang. Cara mencontek ini dilaku- TCR 27,8% termasuk kategori
kan mahasiswa dengan teknik rendah. Cara ini agak sedikit sulit
melirik kertas jawaban teman karena mungkin keluar ruangan
kemudian mencatatnya atau dengan menghabiskan waktu dan terkadang
sengaja memperlihatkan kertas

Faktor-faktor Penentu Perilaku Mencontek di Kalangan Mahasiswa …


181
pengawas tidak mengizinkan maha- tercakup pada setiap faktor perlu
siswa untuk keluar ruangan. dilakukan rotasi. Hasil analisis faktor
Apabila dilihat berdasarkan sebelum dirotasi disebut faktor
program studi, maka aktivitas matrik, faktor matrik berisikan
mencontek lebih sering muncul pada indikator baru dari faktor tersebut.
mahasiswa program studi ekonomi Koefisien faktor (loading) yang
pembangunan yang memperlihatkan memiliki nilai absolut 0,5 berarti
TCR yang lebih tinggi dibandingkan antara faktor dengan indikator
prodi lain, yaitu 52,4%. Sementara menunjukkan hubungan yang tinggi.
TCR untuk mahasiswa prodi Berdasarkan hasil analisis data
pendidikan ekonomi adalah 48,8%, terdapat 6 indikator yang memiliki
manajemen 45% dan akuntansi nilai MSA di bawah 0,5. Item
42,6%. Perbedaan ini disebabkan tersebut dikeluarkan dari analisis
oleh karakteristik materi perkuliahan karena bukan faktor dominan yang
yang berbeda untuk setiap program menentuka perilaku mencontek.
studi. Perhitungan matrik korelasi dila-
Perilaku mencontek ternyata kukan kembali dengan menganalisis
tidak hanya dilakukan oleh maha- 26 indikator yang memperlihatkan
siswa yang memiliki nilai rendah, nilai Kaiser Meyer Olkins-Measure
malahan lebih sering dilakukan oleh of Sampling Adequacy (KMO-MSA)
mahasiswa yang memiliki nilai sebesar 0,799. Oleh karena angka
tinggi. Apabila diidentifikasi ber- MSA di atas 0,5 maka semua
dasarkan IPK, maka perilaku men- indikator (26 item) telah terbentuk
contek dilakukan oleh 51% maha- menjadi faktor-faktor dominan yang
siswa yang memiliki IPK 3 – 4, mendorong perilaku mencontek
sebanyak 44,8% mahasiswa dengan mahasiswa.
IPK 2 – 2,99 dan hanya 4,2% Berdasarkan hasil rotated
mahasiswa ber-IPK dibawah 2. Data component matrix terdapat empat
tersebut membuktikan bahwa indikator yang tidak memiliki
perilaku mencontek muncul tidak korelasi yang kuat (<0,5) terhadap
hanya disebabkan oleh faktor faktor yang dibentuk. Indikator
kemampuan mahasiswa saja, tetapi tersebut adalah pengendalian diri,
ada faktor-faktor penentu lain baik karakteristik materi, bentuk tes, dan
itu faktor internal maupun faktor tingkat kesukaran soal.
eksternal yang bersifat situasional. Hasil dari proses rotasi disusun
kembali yang memperlihatkan bahwa
Faktor-faktor Penentu Perilaku seluruh indikator mengelompok
Mencontek menjadi tujuh faktor. Berdasarkan
analisis tersebut dapat dikatakan
Analisis faktor mempunyai tujuan
bahwa terdapat tujuah faktor yang
untuk mereduksi, mengurangi
menjadi penentu perilaku mencontek
jumlah faktor atau mencari
mahasiswa. Langkah selanjutnya
kemungkinan bahwa variabel yang
adalah dilakukan identifikasi nama
telah dikumpulkan bisa menjadi
setiap faktor sebagaimana yang
sejumlah faktor. Untuk untuk
terlihat pada tabel berikut :
mengetahui indikator-indikator yang

182 TINGKAP Vol. VII No. 2 Th. 2011


Tabel 2.
Identifikasi Faktor Penentu Perilaku Mencontek Mahasiswa

% %
Identifikasi faktor Identifikasi faktor
variance Loading variance Loading
Faktor I: 14,109 Faktor IV: 8,845
malas belajar 0,797 rasa percaya diri 0,720
kesungguhan belajar 0,756 jenis soal 0,651
penguasaan materi 0,737 kesempatan 0,627
mencontek tugas 0,648
waktu belajar 0,584 Faktor V: 8,348
memperoleh nilai 0,820
Faktor II: 10,426 tinggi 0,799
keterampilan 0,846 tidak ingin gagal
mencatat 0,809 6,344
kehadiran dalam 0,598 Faktor VI: 0,788
perkuliahan 0,500 kapasitas ruangan 0,626
keaktifan kesehatan
tidak menelaah 9,412 6,217
materi 0,769 Faktor VII: 0,698
0,677 solidaritas sosial 0,659
Faktor III: 0,670 kebiasaan/budaya
keberanian 0,512
pengalaman sukses
kemudahan teknologi
tuntutan orang tua
Sumber : pengolahan data primer 2009

Data Tabel 2 memperlihatkan bah- 3) Faktor loading 3 dengan variance


wa terdapat 7 faktor yang mendo- 9,412% terdiri dari indikator
rong mahasiswa mencontek. Faktor keberanian, pengalaman sukses,
tersebut sebagai berikut: kemudahan teknologi dan
1) Faktor loading 1 dengan variance tuntutan orang tua. Kete-
14,109% terdiri dari malas rampilan ini diberi nama faktor
belajar, kesungguhan belajar, pengalaman sukses (success
penguasaan materi, kebiasaan story).
membuat tugas, dan waktu 4) Faktor loading 4 dengan variance
belajar. Faktor ini diberi nama 8,845% terdiri dari rasa percaya
faktor penguasaan materi. diri, jenis soal, dan kesempatan.
2) Faktor loading 2 dengan variance Faktor ini diberi nama faktor
10,426% terdiri keterampilan konsep diri.
mencatat, kehadiran dalam 5) Faktor loading 5 dengan variance
perkuliahan, ketidakaktifan 8,348% terdiri dari motif mem-
dalam perkuliahan dan tidak peroleh nilai tinggi dan motif
menelaah materi. Keterampilan tidak ingin gagal. Faktor ini
ini diberi nama faktor cara diberi nama faktor motif
belajar. personal.

Faktor-faktor Penentu Perilaku Mencontek di Kalangan Mahasiswa …


183
6) Faktor loading 6 dengan variance merupakan faktor utama dan sangat
6,344% terdiri dari kapasitas penting yang mendorong seseorang
ruangan dan kesehatan. Faktor untuk melakukan sesuatu. Kekuatan
ini diberi nama faktor situa- internal ini akan mempengaruhi
sional. pikirannya yang selanjutnya akan
7) Faktor loading 7 dengan variance mengarahkan perilaku orang ter-
6,217% terdiri dari solidaritas sebut.
sosial dan kebiasaan/budaya. Selain itu, tingkat penguasaan
Faktor ini diberi nama faktor materi dapat dipengaruhi oleh
sosial. kebiasaan belajar seseorang.
Mahasiswa yang memiliki waktu
Pembahasan sedikit untuk belajar pada umumnya
memiliki tingkat penguasaan materi
Perilaku mencontek mahasiswa FE yang rendah. Apabila sudah
UNP ditentukan oleh tujuh faktor demikian maka kecendrungan untuk
yang terdiri dari faktor penguasaan mencontek akan semakin terbuka.
materi, cara belajar, success story, Untuk menghindari hal tersebut,
konsep diri, motif personal, situasi, maka belajar secara teratur dan
dan faktor sosial. Berdasarkan tujuh memiliki pengaturan waktu yang
faktor tersebut, terdapat empat baik merupakan cara belajar yang
faktor yang berasal dari dalam diri efektif. Pendapat ini juga senada
mahasiswa sendiri (faktor internal) dengan pendapat Susilo18 yang
yaitu penguasaan materi, cara mengungkapkan bahwa “orang yang
belajar, konsep diri, dan motif memiliki waktu singkat untuk
personal. Sementera tiga faktor belajar hanya ingat mungkin kurang
lainnya yaitu success story, situasi dari 60% dari sekian banyak materi
dan sosial merupakan faktor yang harus dipelajari”. Apabila
eksternal. penguasaan materi mereka sangat
Faktor penguasaan materi sedikit maka memungkinkan
merupakan faktor penentu perilaku munculnya perilaku mencontek.
mencontek pertama yang memiliki Smentara Winkel19 mengung-
pengaruh lebih besar dibanding kapkan bahwa “pembelajar hen-
faktor lainnya. Sementara faktor daknya melibatkan diri secara aktif
kedua yang menentukan perilaku dalam pembelajaran dengan cara
mencontek adalah faktor cara berpikir secara mendalam dan
belajar. Faktor penguasaan materi melakukan berbagai kegiatan belajar
dan cara belajar tergolong faktor yang bermakna”. Salah satu cara
internal yang memiliki kekuatan yang bisa dilakukan untuk meng-
besar dalam mengarahkan perilaku uasai materi adalah dengan
seseorang. Hal ini senada dengan mengulang dan menelaah lebih
apa yang diungkapkan oleh I
Nyoman Surna17 bahwa kekuatan
18
yang berasal dari dalam diri M. Joko Susilo. 2006. Gaya Belajar Men-
jadikan Makin Pintar. Yogyakarta: Pinus
19
W.S. Winkel. 1991. Psikologi Penga-
17
I Nyoman Surna. 1994. Pengembangan jaran. Jakarta: PT. Grasindo
Diri. Jakarta: ASMI

184 TINGKAP Vol. VII No. 2 Th. 2011


lanjut materi yang diperoleh dari melalui kontak dan pengalaman
dosen. Mempelajari kembali materi dengan orang lain termasuk
perkuliahan dari artikel, jurnal, buku berbagai tekanan yang dialami
dan sumber lainnya secara teratur individu. Hal ini akan membentuk
akan memberikan dampak yang persepsi individu terhadap dirinya
positif terhadap pemahaman sendiri dan penilaian terhadap
mahasiswa. Seyogyanya mahasiswa pengalaman akan situasi tertentu.
harus memiliki catatan sendiri Selanjutnya hal terpenting dari
sebagai hasil ringkasan pema- seluruh faktor yang ada adalah
hamannya terhadap materi yang pentingnya pengendalian diri dari
disampaikan oleh dosen dan mahasiswa untuk tidak mencontek.
resumenya dari membaca buku Seseorang yang memiliki pengen-
sumber lain. Hal ini disebabkan dalian diri yang baik biasanya
karena otak kita memiliki kapasitas memiliki peluang kecil untuk
yang terbatas untuk mengingat mencontek. Hasil penelitian Abdul-
banyak hal, makanya catatan akan lah Alhadza20 di PPs UNJ seperti
sangat membantu mahasiswa telah dikemukakan sebelumnya
mengingat kembali materi yang mengungkapkan bahwa alasan
telah lama dibahas. pertama kenapa mahasiswa
Adapun tujuan yang diha- mencontek karena terpengaruh
dapkan dalam usaha mengulangi setelah melihat orang lain
kembali pelajaran di rumah itu mencontek meskipun pada awalnya
adalah untuk memperkuat ingatan tidak ada niat melakukannya.
siswa terhadap materi pelajaran Fenomena ini memperjelas bahwa
yang akan digunakan untuk sebenarnya sebagian besar maha-
memecahkan masalah atau soal- siswa memiliki pengendalian diri
soal. Salah satu cara yang dapat dan konsep diri yang rendah.
dilakukan oleh dosen untuk mening- Disamping itu, setiap maha-
katkan cara belajar mahasiswa siswa memiliki tujuan yang ber-
adalah dengan menciptakan ling- beda-beda dalam belajar. Sebagian
kungan belajar yang mendorong mahasiswa mengikuti perkuliahan
mahasiswa untuk berorientasi pada bertujuan untuk menambah wawas-
pemahaman, berfikir kreatif, kritis an pengetahuan dan pemahamannya,
dan reflektif. namun tidak sedikit mahasiswa yang
Faktor internal lainnya yang memiliki persepsi bahwa kuliah
dapat memunculkan perilaku men- bertujuan untuk memperoleh nilai
contek adalah konsep diri dan yang tinggi sehingga mudah
motivasi personal. Konsep diri mendapat pekerjaan (orientasi
terbentuk melalui proses yang hasil). Mahasiswa dengan motif
terjadi sejak lahir kemudian secara orientasi hasil memiliki kecen-
bertahap mengalami perubahan derungan yang besar untuk ber-
seiring dengan tingkat pertumbuhan perilaku mencontek. Karena bia-
dan perkembangan individu. Pem-
bentukan konsep diri sangat 20
Abdullah Alhadza. 2004. Masalah Men-
dipengaruhi oleh lingkungan. contek (Cheating) di Dunia Pendidikan.
Konsep diri juga akan dipelajari www.depdiknas.go.id/jurnal. Diakses pada
tanggal 5 Desember 2009.

Faktor-faktor Penentu Perilaku Mencontek di Kalangan Mahasiswa …


185
sanya mereka akan mengupayakan dalam setiap pelaksanaan ujian. Hal
berbagai cara untuk mecapai tujuan ini bisa diminimalisir oleh dosen
mereka memperoleh nilai yang dengan menerapkan sanksi yang
tinggi, salah satunya yaitu dengan tegas, sehingga bisa menimbulkan
mencontek. Perilaku mencontek efek jera bagi mahasiswa. Misalnya
dapat timbul karena adanya mahasiswa yang ketahuan mencon-
keinginan untuk menang berkom- tek diberi hukuman misalnya diga-
petisi dan diakui keberadaannya galkan dalam perkuliahan tersebut
oleh lingkungan sekitar. dapat menjadi faktor pendorong
Hasil kajian ini juga relevan untuk tidak mencontek.
dengan apa yang dikemukakan oleh Selain didorong oleh faktor
Burt21 yang mengungkapkan adanya kelompok, perilaku mencontek
tiga faktor yang berpengaruh pada dapat muncul karena faktor
tingkah laku manusia, yaitu faktor G situasional, misalnya kapasitas
(General), yakni dasar yang dibawa ruangan ujian yang terlalu padat.
sejak lahir, faktor S (specific) yang Dosen hendaknya memperhatikan
dibentuk oleh pendidikan dan faktor kapasitas ruangan dan pengaturan
C (Common/Group) yang didapat- tempat duduk mahasiswa. Sehu-
kan dari pengaruh kelompok. bungan dengan ini, Wijaya Kusu-
Pengaruh kelompok memberikan mah22 mengungkapkan bahwa
kontribusi yang cukup besar dalam bagaimanapun banyak variasi cara
menentukan perilaku. Perilaku mencontek mahasiswa, tetapi
mencontek sering diakibatkan oleh apabila mereka tidak memiliki
pengaruh kelompok dimana orang kesempatan maka mereka tidak akan
cenderung berani melakukan karena bisa mencontek. Berarti dalam hal
melihat orang lain di kelompoknya ini mencontek itu terjadi karena
juga melakukan. Perilaku mencon- adanya peluang atau kesempatan.
tek mahasiswa muncul disebabkan Salah satu penyebab munculnya
oleh kesuksesan teman dalam kesempatan mencontek adalah
mencontek. Misalnya tidak ketahuan pengawas lengah terhadap tingkah
oleh pengawas saat mencontek atau laku mahasiswa. Mahasiswa sering
nilai yang diperoleh teman yang memanfaatkan kelemahan pengawas
mencontek lebih tinggi akan dengan cara berinteraksi dan
menjadi dorongan bagi mahasiswa melakukan aktivitas mencontek.
untuk mencontek. Atau bisa juga Oleh karena itu, kesempatan men-
berupa pengalamannya sendiri contek ini haruslah diminimalisir
pernah mencontek tanpa ketahuan oleh pengawas dengan melakukan
oleh pengawas. pengawasan yang ketat dan disiplin
Berdasarkan keberhasilannya selama masa ujian.
itulah perilaku mencontek akan
terus tumbuh dan menjadi kebiasaan
21
Dalam Abdullah Alhadza. 2004. Masalah
Mencontek (Cheating) di Dunia Pendi- 22
dikan.www.depdiknas.go.id/jurnal. Diakses Wijaya Kusumah. 2009. Kenapa Siswa
pada tanggal 5 Desember 2009. Suka Mencontek? www.kompas.com.
Diakses tanggal 5 Desember 2009.

186 TINGKAP Vol. VII No. 2 Th. 2011


Solusi yang dianggap cukup Saran
ampuh, menurut Buchari Alma23
untuk mengatasi hali ini adalah Perilaku mencontek dapat dimini-
dengan cara mengatur sebuah malisir dengan menciptakan kesa-
pelaksanaan ujian dengan membagi daran mahasiswa terhadap perannya
peserta didik menjadi dua sebagai seorang pembelajar dengan
kelompok. Ini dimaksudkan untuk cara membangun konsep diri yang
meminimalisir kemungkinan untuk positif dan memperbaiki persepsinya
bertindak tidak jujur dalam ujian. terhadap proses pembelajaran,
Metode ini memacu siswa untuk meningkatkan motivasi dan cara
belajar lebih giat, rajin membaca, belajar. Proses pembelajaran hen-
dan fokus pada pelajaran sehingga daknya diciptakan dan ditujukan
tidak bergantung pada contekan. untuk menanamkan nilai-nilai
Akibatnya semua prestasi hasil (pendidikan karakter) pada maha-
belajar adalah benar-benar murni siswa. Selain itu sudah saatnya
mencerminkan kemampuan mereka. sekarang ini para dosen mulai
Disamping itu hendaknya mengadakan evaluasi yang ber-
dosen lebih kreatif menciptakan variasi dengan membuat pertanyaan
suatu bentuk tes yang dapat tingkat tinggi, pengaturan soal yang
menumbuhkan daya nalar tinggi. berbeda versinya (jika kelas besar)
Tes yang melatih kreatifitas dan dan memperhatikan desain tempat
memajukan pola pikir mahasiswa duduk mahasiswa saat tes.
diharapkan dapat meminimalkan Disamping itu, pihak fakultas juga
kebiasaan mencontek mahasiswa. diharapkan membuat peraturan yang
jelas dan menerapkan sanksi yang
V. PENUTUP tegas terhadap aktivitas mencontek.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat
disimpulkan antara lain:
1) Aktivitas mencontek yang paling
sering dilakukan mahasiswa FE
UNP adalah menyalin jawaban
teman atau mengizinkan teman
menyalin jawaban mereka.
2) Faktor-faktor dominan penentu
perilaku mencontek mahasiswa
terbentuk menjadi tujuh faktor,
yaitu faktor penguasaan materi,
cara belajar, success story,
konsep diri, motif personal,
situasi, dan faktor sosial.

23
Buchari Alma. 2008. Kembangkan Buda-
ya Dilarang Mencontek. www.kompas.
com. Diakses tanggal 5 Desember 2009.

Faktor-faktor Penentu Perilaku Mencontek di Kalangan Mahasiswa …


187
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abdullah Alhadza. 2004. Masalah Mencontek (Cheating) di Dunia Pendidikan.


www.depdiknas.go.id/jurnal. Diakses tanggal 5 Desember 2009.
Azhar Arsyad. 2006. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Buchari Alma. 2008. Kembangkan Budaya Dilarang Mencontek.
www.kompas.com. Diakses tanggal 5 Desember 2009.
Cizek, Grogory J. 1999. Cheating on Test: How to Do It, Detect It and Prevent
It. Lawrence Er Ibaum Associates.
Clabaugh, Gary K. 2003. Preventing Cheating and Plagiarism. 2nd Edition.
Oreland: New Foundations Press.
Dian Vegawati. dkk. 2004. “Perilaku Mencontek di Kalangan Mahasiswa”.
Makalah (tidak diterbitkan). Jatinangor: Universitas Padjadjaran.
I Nyoman Surna. 1994. Pengembangan Diri. Jakarta: ASMI
Matrisoni. 2009. “Bogor Hindari Kebiasaan Mencontek”. Jurnal Bogor. April
2009.
M. Joko Susilo. 2006. Gaya Belajar Menjadikan Makin Pintar. Yogyakarta:
Pinus
Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Robbins, Stephen P. 2002. Perilaku Organisasi. Jakarta: Erlangga.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sumadi Suryabrata. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada.
Wijaya Kusumah. 2009. Kenapa Siswa Suka Mencontek? www.kompas.com.
Diakses tanggal 5 Desember 2009.
W.S. Winkel. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Grasindo

188 TINGKAP Vol. VII No. 2 Th. 2011