Anda di halaman 1dari 19

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

I.

JUDUL GEOLOGI DAERAH NANGGULAN dan SEKITARNYA, KECAMATAN NANGGULAN, KABUPATEN KULONPROGO, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

II.

LATAR BELAKANG PENELITIAN Kulonprogo yang merupakan salah satu daerah kabupaten yang ada di

kota Yogyakarta, merupakan salah satu studio alam terbaik bagi mahasiswa bidang ilmu kebumian untuk belajar dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah didapat di bangku kuliah. Secara umum daerah Kulonprogo khususnya daerah nanggulan masuk kedalam daerah perbukitan menoreh. Perbukitan menoreh merupakan kumpulan bukit-bukit yang terbentuk dari sisa dari suatu pegunungan berapi aktif yang ada jutaan tahun yang lalu. Pada daerah ini pula batuan dimulai dari umur eosen sampai dengan pengendapan merapi resent sekarang tersendapkan. pada umur eosen dimana di interpretasikan bahwa daerah tersebut dahulunya merupakan daerah transisi yang kemudian mengalami kenaikan air laut sampai menjadi daerah neritik. Hal tersebut dibuktikan dengan terendakannya formasi sentolo dan jonggrangan yang terdiri dari batuan karbonat klastik dan batugamping terumbu yang khas di endapkan pada lingkungan laut dangkal. Selanjutnya pada perkembangan sampai pada saat sekarang daerah kulonprogo kebali menjadi lingkungan darat sampai ke lingungan vulkanik yang sampai sekarang masih aktif. Dari semua penjelasan diatas, terdapat banyak cerita menarik yang diharapkan bisa didapatkan pada daerah kulonprogo khusunya pada daerah telitian penulis yaitu daerah nanggulan. Dan selain itu penulis juga mengharapkan bisa mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan selama mengikuti perkuliahan sehingga bisa bermanfaat bagi penulis sendiri atau bahkan pada masyarakat pada umumnya. Oleh karena kekompleksan dan keunikan dari daerah nanggulan sehingga penulis memilih daerah ini sebagai daerah penilitan penulis.

Isnianto Saputra (111.080.024)

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

III.

RUMUSAN MASALAH Sebelum melakukan penilitian pada daerah yang di inginkan, penulis

berusaha membuat suatu ruang lingkup penilitan yang diwujudkan dalam rumusan masalah. Dari rumusan masalah ini diharapkan penulis bisa lebih memfokuskan penilitian ini untuk dapat mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah dimunculkan. Rumusan masalah ini juga sebagai batasan dari penelitian yang dilakukan supaya kegiatan dilapangan labih terkoordinasi dan efisien. Adapun pertanyaan-pertanyaan tersebut ialah sebagai berikut : 1. 2. 3. Bagaimanakah susunan Statigrafi daerah telitian Bagaimana Struktur Geologi yang berkembang Bagaimana pembagian bentuk lahan berdasarkan Aspek

Geomorfologi 4. 5. Bagaimana umur daerah telitian berdasarkan Aspek Paleontologi Bagaimana sejarah perkembangan dari daerah Nanggulan ditinjau dari aspek geologi nya

IV.

MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN Maksud dari kuliah lapangan ini adalah untuk mempelajari teknik -

teknik pemetaan geologi pada lintasan permukaan dengan mengaplikasikan ilmu yang telah didapatpada saat kuliah dan tujuan dari kuliah lapangan ini adalah untuk memberikan informasigeologi daerah telitian, mengenai geomorfologi, struktur geologi, stratigrafi dan potensi geologi, serta sejarah geologi dan hubungan kendali geologi terhadap potensi daerah secara rinci.

V.

LETAK DAN PENCAPAIAN LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian terletak di daerah Kabupaten Kulonprogo,

Kecamatan Nanggulan dan sekitarnya, Provinsi DIY. Berdasarkan koordinat GPS di sekitar koordinat X: 409000-412000, dan Y: 914500-914900, untuk pencapaian lokasi dari Yogyakarta menuju lokasi sekitar 45 menit menggunakan sepeda motor dengan kecepatan 50km/jam, jarak yang di

Isnianto Saputra (111.080.024)

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

tempuh lebih kurang 50 km, yang kira-kira mengarah ke barat laut. Daerah telitian juga bisa diakses menggunakan kendaraan bermobil.

VI.

HASIL YANG DIHARAPKAN Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mengetahui persebaran

litologi, struktur geologi yang bekerja, umur pengendapan, serta sejarah geologi pada daerah tersebut, dan penulis juga mencoba untuk bisa memperkirakan paleogeografi pada daerah telitian. Selain itu juga penulis juga mengharapkan bisa mengaplikasikan ilmu yang telah didapat pada bangku kuliah pada keadaan lapangan yang sangat dinamis.

VII.

MANFAAT PENELITIAN

Dari hasil kuliah lapangan (pemetaan geologi) sangat bermanfaat bagi :

1. Bagi Keilmuan  Sebagai suatu kesempatan bagi para mahasiswa untuk bisa mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkannya dibangku kuliah  Sebagai waktu yang baik untuk melakukan tahapan-tahaan penilitan yang cermat dan baik, serta mengaplikasikan metoda-metoda pekerjaan lapangan untuk bisa menghasilkan suatu peta geologi, peta geomorfologi, dan informasi lainnya, dari data yang lengkap, jelas, dan berkualitas.

2. Bagi Institusi  Menambah koleksi Perpustakaan UPN Veteran Yogyakarta, khususnya Jurusan Teknik Geologi.  Mengenalkan kampus UPN Veteran Yogyakarta, khususnya Jurusan Teknik Geologi kepada masyarakat.

Isnianto Saputra (111.080.024)

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

3. Bagi Masyarakat  Mengenalkan ilmu geologi  Menyampaikan kondisi geologi daerah penelitian untuk mengurangi resiko geologi.

4. Bagi Pemerintah  Memberikan informasi kondisi geologi pada daerah telitian dan meminimalisir bencana geologi.

VIII.

METODOLOGI

Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menganalisa dan menginterpretasikan data-data lapangan. Tahapan-tahapan penelitian :
y

Pra mapping Studi pustaka : sejarah geologi, mencari peta, regional daerah. Mempelajari metode-metode yang akan digunakan. Mempelajari klasifikasi yang ada. Interpretasi dari peta topografi Survei awal /observasi Rencana lintasan Persiapan checklist Perijinan dan persiapan perlengkapan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Mapping Pengenalan daerah Lintasan pengamatan Penelitian lapangan

1. 2. 3.

Pasca Lapangan Analisa Laboratorium dan Studio Analisa Petrografi

1. a.

Isnianto Saputra (111.080.024)

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

b. c. d.

Analisa Paleontologi Analisa Sedimentologi Analisa Data Struktur Geologi

Isnianto Saputra (111.080.024)

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

2.

Penyusunan laporan ALUR PIKIR PENELITIAN

Alur pikir penelitian geologi (Gambar 1)


KAJIAN PUSTAKA

KONSEP DAN MENGINTERPRETASI DAERAH TELITIAN

MENENTUKAN LINTASAN GEOMORFOLOGI LITOLOGI STRUKTUR GEOLOGI PENGAMBILAN SAMPEL PENGAMBILAN FOTO

PENGUMPULAN DATA KE LAPANGAN

PEMROSESAN DAN PE MILAHAN JENIS DATA

PETROGRAFI PALEONTOLOGI

PENYAJIAN DATA

STRUKTUR GEOLOGI SEDIMENTOLOGI

P E M A N F A AT A N MO D E L ANALISIS DATA
GEOMORFOLOGI, LITOLOGI, STRATIGRAFI, LINGKUNGAN PENGENDAPAN, STRUKTUR GEOLOGI

HASIL PETA GEOMORFOLOGI, PETA GEOLOGI DAN PENAMPANG GEOLOGI, PENAMPANG STRATIGRAFI, FOTO, SKETSA, LAPORAN YANG MENYERTAI PETA-PETA TERSEBUT, LAMPIRAN DATA DAN ANALISIS LABORATORIUM (LAPORAN RESMI)

Isnianto Saputra (111.080.024)

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

Alur pikir kajian geomorfologi (Gambar 2)

KAJIAN PUSTAKA

INTERPRETASI PETA TOPOGRAFI POLA PUNGGUNGAN POLA BUKIT POLA PENGALIRAN TEKSTUR PENGALIRAN POLA KELERENGAN

KERJA LAPANGAN KELERENGAN BENTUK LEMBAH JENIS EROSI GERAKAN MASSA MATA AIR DEBIT SUNGAI BEDROCK STREAM/ALLUVIAL STREAM DLL

DATA GEOMORFOLOGI

POLA PUNGGUNGAN POLA BUKIT JARAK ANTAR BUKIT BENTUK LEMBAH

KETINGGIAN RELIEF KELERENGAN JENIS EROSI


KLASIFIKASI BENTUKLAHAN (Verstappen - Zuidam)
MORFOLOGI : - MORFOGRAFI - MORFOMETRI - MORFOGENESA : - MORFOSTRUKTUR AKTIF DAN PASIF - MORFOSTRUKTUR DINAMIK - DLL

SATUAN BENTUKLAHAN N HUBUNGAN GEOMORFOLOGI DAN GEOLOGI DAERAH TELITIAN


(LITOLOGI, STRATIGRAFI TERBATAS, STRUKTUR GEOLOGI)

Isnianto Saputra (111.080.024)

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

Alur pikir kajian stratigrafi.(Gambar 3)

KAJIAN PUSTAKA

KERJA LAPANGAN

ANALISA LABORATORIUM

LINTASAN TERPILIH PROFIL SINGKAPAN

MODEL

LINGKUNGAN PENGENDAPAN
LINTASAN STRATIGRAFI BEBERAPA LINTASAN
MEKANISME STRUKTUR SEDIMEN

PETROGRAFI

PALEONTOLOGI

PENAMPANG STRATIGRAFI DAERAH PENELITIAN

DISEBANDINGKAN

STRATIGRAFI DAERAH PENELITIAN

STRATIGRAFI DENGAN PENELITI TERDAHULU

Isnianto Saputra (111.080.024)

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

Alur pikir kajian struktur geologi.(Gambar 4)

KAJIAN PUSTAKA

KERJA LAPANGAN

STRATIGRAFI DAERAH PENELITIAN

KEDUDUKAN LAPISAN KENAMPAKAN PUNGGUNGAN PERUBAHAN ALIRAN


DATA STRUKTUR GEOLOGI

GEOMORFOLO GI DAERAH PENELITIAN

STRUKTUR GARIS & BIDANG KEKAR, SESAR, LIPATAN

ANALISIS STRUKTUR

REKONSTRUKSI

ANALISIS DATA

KEKAR,SESAR, LIPATAN, REKONSTRUKSI PENAMPANG GEOLOGI

STRUKTUR GEOLOGI REGIONAL

STRUKTUR GEOLOGI DAERAH PENELITIAN DAN SEKITARNYA

Isnianto Saputra (111.080.024)

IX.

GELOGI REGIONAL a. Fi iografi Regional Pembahasan tatanan geologi secara regional di Indonesia, tidak

terle as dari pembagian jal r-jal r fisiografi yang dib at oleh Van Bemmelen (1949).

Gambar .1 Peta Fi i rafi Jawa Tengah (Van Bemmelen, 19 9)




Van Bemmelen, (1949) membagi Jawa Tengah menjadi enam zona fisiografi, yaitu: Gunung Api Kuarter, Dataran Allu ial Utara Jawa, Antiklinorium Serayu Utara, Kubah dan Punggungan pada Zona Depresi Tengah, Antiklinorium Serayu Selatan dan Pegunungan Selatan. Sedangkan fisiografi Jawa Timur dapat dibagi menjadi enam lajur, yaitu : (1) Lajur Karimun Jawa-Bawean, (2) Lajur Gunungapi Alkali, (3) Lajur Rembang, (4) Lajur Kendeng, (5) Lajur Gunungapi Tengah dan (6) Lajur Pegunungan Selatan yang umumnya merupakan blok yang miring ke arah selatan dan ditutupi oleh batugamping yang disebut Pegunungan Seribu (van Bemmelen, 1949). Lajur Rembang dan Lajur Kendeng merupakan pegunungan lipatan yang berarah relatif barat-timur, menempati bagian utara Jawa Timur (van Bemmelen, 1949). Lajur Rembang umumnya dis usun oleh batuan sedimen

nianto Saputra (111.080.024)

10

Pro o l Kuli

n g n Pemetaan Geologi

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

yang didominasi oleh batugamping lingkungan laut dangkal dan endapan klastik lingkungan laut dan sedikit batuan volkanik klastik yang hadir sebagai sisipan. Lajur Kendeng disusun oleh endapan piroklastik yang berumur Oligo-Miosen dan sangat tebal. Lajur Pegunungan Selatan menempati bagian paling selatan pulau Jawa dan umumnya merupakan blok yang miring kearah selatan dan ditutupi oleh batugamping yang disebut Pegunungan Seribu (van Bemmelen, 1949). Lajur ini disusun oleh batuan sedimen tertua yang tersingkap di Jawa bagian Timur, terdiri dari batupasir kuarsa dan konglomerat yang berumur Eosen Tengah, batuan volkanik dan plutonik Oligo-Miosen atau disebut juga sebagai Old Andesite (van Bemmelen, 1949). Lajur Karimun Jawa-Bawean dan Lajur Gunungapi Alkali menempati lepas pantai laut Jawa dimana Lajur Gunungapi Alkali terletak di sebelah selatan Lajur Karimun Jawa-Bawean dan memanjang dari arah barat ke timur. Lajur Karimun Jawa-Bawean disusun oleh batugamping Oligo-Miosen sedangkan Lajur Gunungapi Alkali disusun oleh batuan gunungapi Plistosen dengan komposisi alkali (Gafoer dan Ratman,1999). Daerah Yogyakarta terutama bagian baratdaya - selatan dan timur merupakan dataran yang tertutup endapan alluvial dan batuan volkanik yang berasal dari gunung Merapi muda. Sedangkan ke arah barat yaitu di daerah Kulon Progo dataran tersebut berubah secara bertahap menjadi morfologi perbukitan. Sebagian besar bagian barat (Pegunungan Kulon Progo) memiliki relief tinggi. Dataran tinggi Jonggrangan yang merupakan tempat tertinggi di daerah ini dengan ketinggian mencapai 750 m di atas permukaan air laut. Perbukitan tersebut terkikis oleh sejumlah sungai yang membentuk serangkaian lembah .

b. Stratigrafi Regional Pegunungan Kulon Progo tersusun atas batuan yang berumur Eosen sampai Miosen (van Bemmelen, 1949). Urutan stratigrafi batuan dari tua ke muda adalah Formasi Nanggulan, Formasi Andesit Tua, Formasi

Jonggrangan, Formasi Sentolo dan Endapan Alluvial. Beberapa peneliti lain

Isnianto Saputra (111.080.024)

11

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

menamakan Formasi Andesit Tua sebagai Formasi Kebo Butak (Rahardjo dkk, 1977) atau Formasi Kulon Progo dengan Anggota Ijo (Suroso dkk., 1986) dan Kompleks volkanik Progo dengan Formasi Kaligesing/Formasi Dukuh (Pringgoprawiro dan Riyanto, 1988).

Formasi Nanggulan Formasi Nanggulan merupakan formasi tertua yang tersingkap di Kulon Progo. Martin,(1916) menamakan sebagai Nanggulan beds (diambil dari Purnamaningsih dan Pringgoprawiro, 1981). Hartono, (1969)

mengatakan sebagai Globigerina marl untuk lapisan teratas Formasi Nanggulan yang kemudian dijadikan satu satuan stratigrafi yaitu Anggota Seputih oleh Purnamaningsih dan Pringgoprawiro, (1981). Bagian bawah dari formasi ini tersusun oleh batupasir kemudian di atasnya diendapkan perselingan batupasir dan batulempung menyerpih yang mengandung lignit. Pada bagian tengah formasi terdiri dari perselingan napal pasiran dengan batupasir serta batulempung yang mengandung Nummulites Jogjakartae. Di atasnya diendapkan napal dan batugamping yang berselingan dengan batupasir dan serpih yang mengandung Camerina dan Dyscocyclina Van Bemmelen (1949) memasukkan semua fasies volkanik yang berumur Oligosen-Miosen di sepanjang pulau Jawa bagian selatan kedalam Formasi Andesit Tua. Suroso dkk, (1986) menyebutkan bahwa Formasi Andesit Tua yang tersingkap di daerah Kulon Progo berdasarkan penampakan di lapangan mempunyai karakteristik fisik yang dapat dibedakan di tempat lainnya yaitu Formasi Kulon Progo untuk breksi volkanik yang berasosiasi dengan tuf lapili dan tuf dan Anggota Ijo untuk lava andesit piroksen dan andesit hornblenda serta (van Bemmelen, 1949). Pada bagian atas formasi terdiri dari napal dan batupasir gampingan yang disebut sebagai Anggota Seputih (Pringgoprawiro dan Riyanto, 1988). Berdasarkan analisis foraminifera plangton umur Formasi Nanggulan adalah Eosen Tengah sampai Oligosen Awal (Hartono, 1969). Formasi ini berada pada daerah dengan morfologi perbukitan bergelombang dan tersebar merata

Isnianto Saputra (111.080.024)

12

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

di daerah Nanggulan, Sermo, Gandul dan Kokap sebagai jendela singkapan di dalam Formasi Andesit Tua (van Bemmelen, 1949).

Formasi Kebo Butak Formasi Kebo Butak diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Nanggulan. Formasi ini oleh van Bemmelen (1949) dibagi atas breksi andesit, tuf, lapili, aglomerat dan sisipan aliran lava andesit yang lebih dikenal dengan Formasi Andesit Tua. Sejumlah terobosan dasit, andesit porfir dan diorit porfir juga termasuk dalam formasi ini (Rahardjo dkk., 1977). asosiasinya dengan breksi volkanik. Formasi Giripurwo untuk perselingan breksi volkanik dan batupasir volkanik yang menunjukkan mekanisme turbidit. Berdasarkan kandungan foraminifera plangton pada sisipan lempungnya, Formasi Giripurwo berumur Miosen Awal (N6-N8). Berdasarkan fasies pengendapannya Formasi Andesit Tua dapat dibedakan menjadi Kompleks Volkanik Progo atau Formasi Kaligesing dan Formasi Dukuh. Kompleks Volkanik Progo atau Formasi Kaligesing merupakan fasies darat dengan litologi berupa breksi volkanik dan perselingan lava dan breksi. Formasi Dukuh diendapkan sebagai kipas laut dalam yang terdiri atas perselingan batupasir, batugamping, batulempung dan breksi volkanik (Pringgoprawiro dan Riyanto, 1988). Hubungan antara Kompleks Volkanik Progo dan Formasi Dukuh adalah saling menjemari dimana berdasarkan kandungan foraminifera plangtonik berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal (N3-N5). Di kompleks Pegunungan Kulonprogo dapat dijumpai beberapa pusat erupsi yang terdiri atas perselingan lava dan breksi andesit (Soeria-Atmadja dkk., 1994). Pada bagian tengahnya terdapat leher-leher volkanik, kubah lava dan breksi piroklastik dimana bagian tepinya terdiri dari breksi laharik. Batuannya berkomposisi antara basaltik sampai andesit. Berdasarkan penentuan umur absolut batuan dengan menggunakan metoda K-Ar oleh Soeria Atmadja, dkk. (1994) didapatkan bahwa batuan volkanik di daerah Kulon Progo berkisar antara 29.63 2.26 sampai 22.64 1.13 juta tahun yang lalu (Oligosen Akhir Miosen Awal).

Isnianto Saputra (111.080.024)

13

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

Formasi Jonggrangan Formasi Jonggrangan diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Kebo Butak dan mempunyai hubungan yang menjemari dengan bagian bawah Formasi Sentolo (Rahardjo dkk., 1977). Formasi Jonggrangan terdiri atas konglomeratan, napal tufaan, batupasir gampingan dengan sisipan lignit yang ke arah atas berubah menjadi batugamping berlapis dan batugamping koral. Formasi ini dianggap berumur Miosen Bawah.

Formasi Sentolo Formasi ini pada bagian bawahnya terdapat konglomerat alas yang ditutupi oleh napal tufaan dengan sisipan tuff ke arah atas berangsur berubah menjadi batugamping berlapis yang kaya foraminifera. Pringgoprawiro, (1969) telah menentukan umur dari Formasi Sentolo yang sebelumnya dianggap berumur Miosen Akhir menjadi Pliosen berdasarkan fosil foraminifera plangton. Rahardjo dkk., (1977) mengatakan umur Formasi Sentolo adalah Miosen Tengah-Pliosen berdasarkan fosil foraminifera plangton.

Endapan Alluvial Di atas Formasi Sentolo diendapkan secara tidak selaras endapan alluvial dan endapan volkanik Kuarter yaitu endapan hasil letusan gunung Merapi yang terdiri dari tuf, tuf lapilli, breksi, aglomerat dan lava andesit. Endapan alluvial terdiri dari material lepas yang berukuran kerakal, pasir, lanau dan lempung di sepanjang sungai dan dataran pantai selatan.

Isnianto Saputra (111.080.024)

14

Propo al Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi




Gambar II.1 Kesebandingan Stratigrafi daerah Kulon Progo menurut beberapa peneliti terdahulu.

c. Struktur Geologi Di daerah nanggulan berkembang dua pola arah struktur yang berkembang, yakni berarah utara-selatan dan berarah barat-timur. Arah struktur utara-selatan berkembang pada batuan Paleogen seperti ditunjukan oleh arah sumbu antiklin Nanggulan. Sementara arah struktur yang barat-timur terdapat pada batuan neogen yang

Isnianto Saputra (111.080.024)

15

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

membentk struktur homoklin dengan kmiringan lapisan ke selatan. (Prasetyadi C, 2007)

X.

RENCANA KERJA

Waktu yang diperlukan dalam melakukan penelitian ini mulai dari taham persiapan hingga waktu presentasi pertanggungjawban direncanakan selama 5 bulan.

Mei Waktu

Juni

Juli

Agustus

Kegiatan Pengadaan Peta Pengadaan Proposal Checking Lapangan Pengurusan Surat Izin Penelitian Lapangan Analisa Lab. Dan Studio Pengolahan Data Konsultasi Penyusunan Laporan Presentasi

Isnianto Saputra (111.080.024)

Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 16

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

XI. No 1 2 3 4 5 6 7 8

BIAYA ANGGARAN PELAKSANAAN Item Sewa GPS Sewa Kompas Sewa Meteran Larutan HCL 0,1M Loupe Uang Makan & Minum Bensin Lain-lain 10% PENGELUARAN 10 10 Hari 10 10 10 Q 1 1 1 1 1 3 2 Unit (@) 50.000,00 10.000,00 10.000,00 50.000,00 150.000,00 15.000,00 4.500,00 Jumlah (Rp.) 500.000,00 100.000,00 100.000,00 50.000,00 150.000,00 450.000,00 90.000,00 144.000,00 1.584.000,00

XII.

SARANA DAN PRASARANA Dalam pelaksanaan Kuliah Lapangan Geologi (KLG2 ) maka

dibutuhkan beberapa peralatan dan fasilitas pendukung diantaranya : a. b. c. d. e. f. Peta topografi daerah telitian GPS Palu geologi Meteran Fasilitas untuk analisa laboratorium Komputer untuk mengolah data

Fasilitas : a. b. c. d. e. Laboratorium Akses ke perpustakaan Akses ke internet Akses untuk penggandaan data Akomodasi, transportasi dan konsumsi

Isnianto Saputra (111.080.024)

17

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

XIII.

PENUTUP Kesempatan yang diberikan pada mahasiswa dalam melakukan Kuliah

Lapangan Pemetaan Geologi akan memberikan pengalaman, pelajaran dan ilmu dalam memetakan suatu daerah atau lokasi. Dan dalam kesempatan ini mahasiswa akan berusaha untuk bisa memanfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin dan hasil dari Pemetaan Geologi ini akan dibuat dalam bentuk laporan, yang nantinya akan dipresentasikan dan semoga

menghasilkan informasi yang lebih bermanfaat dan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Isnianto Saputra (111.080.024)

18

Proposal Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi

DAFTAR PUSTAKA

Harjanto Agus, 2008, MAGMATISME DAN MINERALISASI DI DAERAH KULON PROGO DAN SEKITARNYA JAWA TENGAH, Ph.D Theses Surono, B. Toha, I. Sudarsono, dan S. Wiryosuyono, 1992, Peta Geologi Lembar Surakarta-Giritontro, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Prasetyadi Carolus, 2007, EVOLUSI TEKTONIK PALEOGEN JAWA BAGIAN TIMUR, Ph.D Theses

Isnianto Saputra (111.080.024)

19