Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang sering ditemukan pada
Negara berkembang. Secara umum, hipertensi tidak bergejala, mudah
dideteksi, biasanya mudah diobati dan sering menyebabkan komplikasi
kematian bila tidak ditangani. Sebagai hasil dari program pendidikan yang
luas pada akhir tahun 1960 dan 1970-an baik oleh lembaga swasta maupun
pemerintah, jumlah pasien terdiagnosis dan / atau tidak diobati berkurang
secara signifikan pada akhir 1980-an ke level 25% dengan seiring penurunan
mortalitas kardiovaskular. Sayangnya, pertengahan 1990-an, tren
menguntungkan ini mulai berubah. Jumlah pasien terdiagnosis dengan
hipertensi meningkat menjadi hampir 33%, penurunan angka kematian
kardiovaskular cenderung statis, dan jumlah individu dengan penyakit kronis
dengan hipertensi yang tidak diobati atau pengobatannya buruk cenderung
meningkat.1
Misalnya, prevalensi penyebab hipertensi seperti penyakit gagal ginjal
stadium akhir per juta penduduk meningkat dari 100 pada tahun 1982 menjadi
250 pada tahun 1995, dan prevalensi gagal jantung kongestif dari usia 55
sampai 75 lebih dari dua kali lipat antara 1976-1980 dan 1988 sampai 1991.
Jadi, meskipun pengetahuan mengenai patofisiologi hipertensi meningkat,
akan tetapi prevalensi kasus penyebab hipertensi masih sekitar 90 sampai 95%
(yang berpotensi pencegahan atau penyembuhan). Akibatnya, dalam banyak
kasus hipertensi diobati secara nonspesifik, sehingga sejumlah besar efek
samping ringan dan relatif. tingginya tingkat ketidakpatuhan (50 sampai
60%).1
Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu diketahui tentang penyakit
hipertensi dan mengetahui pengobatannya, hal ini disebabkan hipertensi
merupakan penyakit yang banyak dialami oleh masyarakat tanpa ada gejala
yang signifikan dan merupakan penyakit yang menimbulkan penyakit lain

1
yang lebih berbahaya bila tidak diobati secepatnya. Ketepatan dan kepatuhan
penggunaan obat yang tidak sesuai standar dan tidak teratur merupakan hal
yang akan merugikan pasien itu sendiri dan merupakan faktor yang
menyebabkan kegagalan terapi yang sedang dijalani. Menurut data terakhir
pada bulan Januari 2012, angka kejadian hipertensi di Rumah Sakit
Bhayangkara menempati peringkat 3 dari 10 besar penyakit yang ada di
Rumah Sakit Bhayangkara, hal ini menjadi salah satu alasan dipilihnya
Rumah Sakit Bhayangkara menjadi tempat penelitian.
Dari Masalah yang dapat muncul akibat dari ketidakpatuhan terhadap
terjadinya kekambuhan hipertensi maka penderita sebenarnya hanya
memerlukan disiplin dan ketentuan menjalankan aturan hidup sehat,sabar dan
ikhlas dalam mengendalikan perasaan dan keinginan atau ambisi.Selain itu
mengontrol tekanan darah,minum obat dengan benar dan tepat serta jangan
pernah bosan dengan pengobatan yang sedang dijalani.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat dirumuskan suatu
permasalahan yaitu :
1. Bagaimanakah kesesuaian penggunaan antihipertensi pada pasien di
Rumah Sakit Bhayangkara dengan The joint National Commitee on
Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure
(JNC VII)?
2. Bagaimanakah tingkat kepatuhan pasien dalam menggunakan
antihipertensi?
3. Bagaimanakah sumbangan kepatuhan terhadap penurunan tekanan darah?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara kepatuhan pasien penderita hipertensi non
komplikasi terhadap pengunaan obat di Rumah Sakit Bhayangkara

2
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui derajat tekanan darah pada pasien hipertensi sesuai dengan
JNC-VII
2. Mengetahui kepatuhan pasien hipertensi dalam melakukan kontrol ke
dokter
3. Mengetahui kepatuhan pasien hipertensi dalam mengkonsumsi obat
antihipertensi.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Bagi Rumah Sakit
Hasil Penelitian ini diharapkan berguna bagi Rumah Sakit dalam upaya
meningkatkan informasi dan usaha pencegahan hipertensi pada
masyarakat.
2. Bagi Masyarakat
Hasil Penelitian Ini diharapkan menambah pengetahuan masyarakat
tentang bagaimana Mengontrol Penyakit Hipertensi dengan mematuhi
dalam mengonsumsi obat yang diberikan

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hipertensi


Saat ini untuk orang dewasa, hipertensi didefinisikan sebagai
peningkatan tekanan darah sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih tinggi dan
atau peningkatan tekanan darah diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih
tinggi. Hipertensi dibagi menjadi dua tingkatan baik bersadarkan sistolik
maupun diastolik darah (Tabel 1). Tekanan darah sistolik antara 120 dan
139mm Hg atau tekanan darah diastolik antara 80 dan 89 mm Hg
dikategorikan prehipertensi. Orang dengan prehipertensi memiliki
peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan perkembangan hipertensi dari
waktu ke waktu dibandingkan dengan orang dengan tekanan darah normal.2

Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah pada Pasien Dewasa dengan


Usia 18 tahun dan lebih.2*

* Tanpa mengkonsumsi obat antihipertensi dan tidak akut. ketika tekanan darah sistolik
dan diastolik masuk ke dalam kategori yang berbeda maka katergori yang dipilih adalah
kategori yang lebih tinggi

kategori harus dipilih untuk mengklasifikasikan tekanan darah seseorang

Hipertensi sistolik terisolasi merupakan masalah yang banyak


ditemukan pasien orang dengan usia lebih dari 55 tahun. Definisi hipertensi
sistolik terisolasi merupakan keadaan dimana tekanan darah sistolik

4
140mmHg aatau lebih dan tekanan darah diastolic kurang dari 90 mmHg.
Penyebab sekunder dari dari kelainan ini dihubungkan dengan adanya
peningkatan curah jantung atau Cardiac output (anemia, tirotoksikosis, fistula
arteriovenous, Penyakit Paget pada tulang dan beriberi) atau peningkatan
volume sekuncup atau stroke volume (insufisiensi aorta dan blok jantung
total). 2
Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang menjadi semakin
penting. Prevalensi hipertensi meningkat dengan bertambahnya umur ke titik
di mana lebih dari setengah dari orang usia 60-69 tahun dan sekitar tiga-
perempat dari mereka 70 tahun dan lebih tua. Peningkatan terutama tekanan
darah sistolik bertanggung jawab dalam meningkatkan insiden dan prevalensi
hipertensi sejalan dengan pertambahan usia.3
Studi Jantung Framingham baru-baru ini menjelaskan risiko seumur
hidup hipertensi mencapai sekitar 90 persen untuk pria dan wanita yang tidak
hipertensi pada usia 55 atau 65 tahun dan selamat sampai usia 80-85. Bahkan
setelah disesuaikan dengan persaingan angka kematian, risiko seumur hidup
sisa hipertensi adalah 86-90 persen pada wanita dan 81-83 persen pada pria 3

2.2 EPIDEMIOLOGI
Tekanan darah meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Tekanan
darah sistolik meningkat sepanjang hidup, tetapi tekanan darah diastolik
cenderung stabil pada usia dekade kelima. Dengan demikian, baik insiden dan
prevalensi hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia, dan hipertensi
sistolik terisolasi menjadi subtipe yang paling umum pada orang tua. Untuk
orang setengah baya dengan tekanan darah normal yang hidup sampai usia 85
tahun, masa residual risiko mengembangkan hipertensi adalah 90%.2
Selain usia, faktor-faktor lain yang terkait dengan peningkatan risiko
hipertensi yang tidak dapat diubah (nonreversible) termasuk ras Afrika
Amerika atau memiliki riwayat keluarga hipertensi. Faktor yang dapat diubah
(reversible) termasuk memiliki tekanan darah dalam rentang prehipertensi,
kelebihan berat badan, memiliki gaya hidup yang kurang gerak, diet

5
mengkomsumsi tinggi natrium- rendah kaliu, asupan alkohol yang berlebih,
atau memiliki sindrom metabolik. Sindrom metabolik didefinisikan oleh
adanya tiga atau lebih dari kondisi berikut: obesitas perut (lingkar pinggang>
40 inci pada pria atau> 35 inci pada wanita), toleransi glukosa oral (glukosa
puasa ≥ 110 mg / dL), tekanan darah 130/85 mm Hg atau lebih tinggi,
meningkatkan tingkat plasma trigliserida (≥ 150 mg / dL), atau rendah high-
density lipoprotein (HDL) kolesterol (<40 mg / dL pada pria atau <50 mg / dL
pada wanita). Hal ini diduga bahwa resistensi insulin mungkin menjadi faktor
pathophysiologik yang mendasari untuk sindrom metabolik. Memperbaiki
faktor reversibel dapat menurunkan tekanan darah dan mencegah
perkembangan dari hipertensi. 2
Dalam usia dewasa muda dan usia pertengahan awal, hipertensi lebih
umum pada pria dibandingkan pada wanita. Pada orang yang lebih tua dari 60
tahun, sebaliknya adalah hipertensi lebih umum pada wanita dibandingkan
pada pria. Hipertensi lebih umum di ras Afrika Amerika daripada ras kulit
putih di segala usia, dan di kedua ras itu lebih umum di ekonomi yang
menengah ke bawah.2
Prevalensi hipertensi tergantung antara komposisi ras pada populasi
yang diteliti dan kriteria yang digunakan untuk mendefinisikan kondisi. Dalam
populasi suburban kulit putih seperti dalam penelitian Framingham, hampir
seperlima dari individu memiliki tekanan darah 160/95 mmHg, sementara
setengahnya memiliki tekanan darah 140/90 mmHg. Prevalensi yang lebih
tinggi telah didokumentasikan dalam penduduk kulit putih. Pada perempuan
prevalensi berkaitan erat dengan usia, dengan peningkatan yang substansial
terjadi setelah usia 50. Peningkatan ini diduga berkaitan dengan perubahan
hormonal saat menopause, meskipun mekanismenya belum diketahui dengan
jelas. Dengan demikian, rasio frekuensi hipertensi pada wanita dibandingkan
pria meningkat 0,6-0,7 pada usia 30 hingga 1,1-1,2 pada usia 65.1
Data dari The National Health and Nutrition Survey (NHANES) telah
menunjukkan bahwa 50 juta atau lebih orang Amerika menderita hipertensi
yang menjalani beberapa bentuk pengobatan.1,2 Seluruh Dunia estimasi

6
prevalensi untuk hipertensi diperkirakan sebanyak 1 miliar orang, dan sekitar
7,1 juta kematian per tahun mungkin disebabkan hipertensi. Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa tekanan darah suboptimal
(tekanan darah sistolik > 115 mmHg) bertanggung jawab atas 62 persen dari
penyakit serebrovaskular dan 49 persen dari penyakit jantung iskemik (IHD),
dengan sedikit variasi berdasarkan jenis kelamin. Selain itu, tekanan darah
suboptimal tersebut merupakan faktor risiko nomor satu kematian di dunia.3.
Untuk orang-orang dengan hipertensi, kematian yang paling sering
disebabkan oleh komplikasi dari penyakit arteri koroner. Faktor-faktor yang
menambah risiko ini adalah penggunaan tembakau, hiperlipidemia, diabetes
mellitus, obesitas, gaya hidup yang kurang gerak, sindrom metabolik, jenis
kelamin (laki-laki dan pascamenopause pada perempuan), usia lebih tua dari
60 tahun, dan riwayat keluarga penyakit kardiovaskular premature (wanita
<65 tahun, laki-laki <55 tahun). Adanya kerusakan organ target (stroke,
hipertrofi ventrikel kiri, penyakit jantung iskemik, gagal jantung kongestif,
penyakit ginjal, retinopati, penyakit pembuluh darah perifer, dan demensia)
meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular peristiwa ini berlanjut bahkan
jika tekanan darah telah dikontrol. Fakta ini berpendapat untuk identifikasi
dini dan pengobatan yang tepat hipertensi untuk menghindari perkembangan
cedera organ target.2

2.3 Etiologi Hipertensi


Sebagian besar (80-90%) dari pasien dengan hipertensi memiliki peningkatan
tekanan darah primer, yaitu hipertensi esensial yang tidak diketahui
penyebabnya.4
1. Hipertensi Esensial/ Hipertensi Primer 4
Hipertensi esensial memiliki etiologi multifaktorial.
a. Faktor genetik
Tekanan darah anak dalam sebuah keluarga cenderung meningkat apabila
orang tuanya mengalami hipertensi,dibandingkan dengan anak tanpa
riwayat orang tua hipertensi. Hal ini menunjukkan tendensi faktor risiko

7
genetik dalam penyebab hipertensi, meskipun sebagian, adanya pengaruh
lingkungan secara bersama. Namun, sebagian besar faktor genetik
bertanggung jawab atas kejadian hipertensi dalam sebuah keluarga.
b. Janin faktor
Berat badan lahir rendah dikaitkan dengan hipertensi. Hubungan ini
mungkin karena adaptasi janin intrauterin abikbat kekurangan gizi dengan
perubahan jangka panjang dalam darah Kapal struktur atau fungsi penting
sisstem hormonal.
c. Faktor-faktor lingkungan
Di antara beberapa faktor lingkungan yang telah diduga berperan, berikut
ini tampaknya menjadi yang paling signifikan :
1) Obesitas. Orang gemuk memiliki tekanan darah yang lebih tinggi
dibandingkan orang kurus. Ada resiko, yang cenderung lebih tinggi
jika tekanan darah diukur dengan manset kecil. Sesuaikan ukuran
maset dengan lingkar lengan. Gangguan pernafasan saat tidur yang
bersamaan ditemukan pada pasien obesitas merupakan faktor risiko
tambahan.
2) Asupan. Kebanyakan penelitian telah menunjukkan hubungan yang
erat antara konsumsi alkohol dan hipertensi. Namun, subyek yang
mengonsumsi sejumlah kecil alkohol tampaknya memiliki tingkat
tekanan darah yang lebih rendah daripada mereka yang mengkonsumsi
alkohol dalam jumlah banyak.
3) Asupan Garam. Asupan Garam yang tinggi telah disarankan untuk
menjadi penentu utama dari perbedaan tekanan darah dalam populasi
di seluruh dunia. Populasi dengan asupan natrium lebih tinggi
memiliki tekana darah rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan
asupan natrium rendah. Migrasi dari pedesaan ke lingkungan
perkotaan dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah yang sebagian
terkait dengan jumlah garam dalam diet. Studi tentang pembatasan
asupan garam telah menunjukkan efek yang menguntungkan pada
tekanan darah pada pasien hipertensi. Sejumlah bukti telah

8
menjelaskan komsumsi tinggi kalium dapat melawan efek asupan
kadar garam yang tinggi.
4) Stres. Nyeri akut atau stress dapat meningkatkan tekanan darah.
Namun hubungan antaran nyeri kronik dan peningkatan tekanan darah
belum dapat dijelaskan dengan pasti.
d. Mekanisme Hormonal
e. Adanya sistem saraf otonom maupun Renin-angiotensis, peptide
nautriuetik dan sistem kalikrein-kinin memainkan peran dalam regulasi
perubahan tekanan darah jangka pendek dan telah dikaitkan dalam
patogenesis hipertensi. Penurunan renin, saltsensitive, hipertensi esensial
yang terjadi pada pasien yang mengalami retensi garam dan air dapat
dijelaskan.
f. Resistensi Insulin
Hubungan antara diabetes dan hipertensi telah lama telah diakui dan
sebuah sindrom telah dijelaskan dari adanya hiperinsulinemia, intoleransi
glukosa, penurunan tingkat kolesterol HDL, hipertrigliseridemia dan
obesitas sentral (semua yang berhubungan dengan resistensi insulin)
dalam hubungan dengan hipertensi. Hubungan ini (juga disebut sindrom
metabolik) merupakan faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskular.

2. Hipertensi Sekunder 4
Hipertensi sekunder adalah keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah
akibat dari penyakit spesifik dan berpotensi dapat diobati. Bentuk-bentuk dari
penyeba hipertensi sekunder seperti yang ada di bawah ini:
a. Penyakit Ginjal
Sekitar 80% pasien penyakit ginjal mengalami hipertensi. Penyebab yang
palig sering adalah:
- Nefropati diabetik
- Glomerulonefritis Kronik
- Penyakit Polikistik pada dewasa
- Nefritis tubulointestinal Kronik
- Penyakit renovaskuler.

9
Hipertensi itu sendiri dapat menyebabkan atau memperburuk
penyakit ginjal. Mekanisme peningkatan tekanan darah ini akibat
retensi garam dan air, meskipun dapat pula ditemukan
ketidaksesuaian peningkatan level plasma rennin.
b. Penyakit Endokrin
- Sindrom Conn
- Adrenalhiperplasia
- Pheochromasitoma
- Sindrom Cushing
- Acromegali
c. Penyakit kardiovaskular Kongenital
Penyebab yang paling sering adalah coartasio aorta.
d. Obat-obatan
Banyak obat telah terbukti menyebabkan atau memperburuk hipertensi,
atau mengganggu respon terhadap beberapa agen antihipertensi: NSAID,
kontrasepsi oral, steroid, carbenoxolone, akar manis, simpatomimetik dan
vasopressin. Pasien yang memakai monoamine oxidase inhibitors yang
mengkonsumsi makanan yang mengandung tyramin dapat
mengembangkan paroksismal hipertensi berat.
e. Kehamilan
Curah jantung meningkat pada kehamilan tetapi, karena relatif besarnya
penurunan resistensi perifer, tekanan darah pada ibu hamil perempuan
biasanya lebih rendah dari pada mereka yang tidak hamil. Hipertensi
dicatat dalam 8-10% dari kehamilan; bila terdeteksi pada trimester pertama
kehamilan atau bertahan setelah melahirkan, biasanya karena sudah ada
hipertensi esensial sebelumnya. Hipertensi yang muncul pada paruh kedua
kehamilan atau 'hipertensi yang dicetuskan oleh kehamilan’ biasanya
sembuh setelah melahirkan. Ketika tekanan darah meningkat terhadap
pengobatan> 160/110 mmHg dibenarkan untuk diobati. Pre-eklampsia
adalah sindrom yang terdiri dari kehamilan yang diinduksi hipertensi
dengan proteinuria. penyebab primer tidak diketahui dengan pasti, tetapi

10
kemungkinan melibatkan gangguan sirkulasi uteroplasenta dan
mengakibatkan pembatasan pertumbuhan intrauterin. Hipertensi pada
kehamilan, bersama dengan emboli paru, adalah penyebab kematian ibu
yang paling umum, dengan kejadian 10 per 1 juta kehamilan. Selain itu,
penting kondisi eklampsia, yang berhubungan dengan berat hipertensi,
pada akhirnya dapat menyebabkan kejang-kejang, gangguan edema otak
dan paru, penyakit kuning, kelainan pembekuan dan kematian janin.

2.4 Patomekanisme Hipertensi


Tekanan darah arteri adalah hasil dari resistensi perifer totoal dan
curah jantung. Curah jantung dapat meningkat dengan meningkatnya denyut
jantung atau volume sekuncup atau keduanya. Resistensi perifer meningkat
oleh faktor-faktor yang meningkatkan viskositas darah atau vasokontriksi
lumen pembuluh darah, terutama arteriol.5
Beberapa teori yang menjelaskan perkembangan hipertensi, termasuk: 5
1. Perubahan dalam penampang arteriolar menyebabkan peningkatan
resistensi pembuluh darah perifer
2. Abnormalitas peningkatan tonus dalam sistem saraf simpatik yang berasal
dari pusat-pusat sistem vasomotor, menyebabkan resistensi pembuluh
darah perifer meningkat
3. Peningkatan volume darah akibat disfungsi ginjal atau hormonal
4. Peningkatan penebalan arteriolar disebabkan oleh faktor genetik, yang
menyebabkan peningkatan resistensi pembuluh darah perifer
5. Pelepasan rennin yang abnormal, sehingga terbentuk angiotensin II, yang
mengkonstriksi arteriol dan meningkatkan volume darah.
Hipertensi yang berkepanjangan meningkatkan beban kerja jantung
sebagai perlawanan terhadap kenaikan ejeksi ventrikel kiri. Untuk
meningkatkan daya kontraktilitas, ventrikel kiri mengalami hipertrofi,
kebutuhan oksigen dan beban kerja jantung meningkat. Dilatasi jantung dan
kegagalan dapat terjadi ketika hipertrofi tidak bisa lagi mempertahankan curah
jantung yang memadai. Karena hipertensi memicu aterosklerosis koroner,

11
jantung selanjutnya dapat dikompromikan oleh berkurangnya aliran darah ke
miokardium, sehingga timbullah angina atau infark miokard (MI). Hipertensi
juga menyebabkan kerusakan pembuluh darah, yang menyebabkan percepatan
terjadinya aterosklerosis dan kerusakan organ target, seperti cedera retina,
gagal ginjal, stroke, dan aneurisma dan diseksi aorta. 5
Patofisiologi hipertensi sekunder berhubungan dengan penyakit yang
mendasarinya. Sebagai contoh: 5
1. Penyebab paling umum dari hipertensi sekunder adalah penyakit ginjal
kronik. Kerusakan ginjal kronis akibat dari glomerulonefritis atau stenosis
arteri ginjal yang mengganggu ekskresi natrium, sistem renin-
angiotensin-aldosteron, atau perfusi ginjal, akhirnya menyebabkan
tekanan darah meningkat.
2. Dalam sindrom Cushing, peningkatan kadar kortisol meningkatkan
tekanan darah dengan meningkatkan retensi natrium ginjal, meningkatkan
kadar angiotensin II, dan respon pembuluh darah terhadap norepinefrin.
3. Dalam aldosteronisme primer, peningkatan volume intravaskular,
perubahan konsentrasi natrium dalam dinding pembuluh darah, atau
sangat
4. Tingginya kadar aldosteron menyebabkan vasokonstriksi dan peningkatan
resistensi perifer.
5. Pheochromocytoma adalah tumor sel chromaffin medula adrenal yang
mengeluarkan epinephrine dan norepinephrine. Epinefrin meningkatkan
kontraktilitas dan ritme jantung, sedangkan norepinefrin meningkatkan
resistensi pembuluh darah perifer.

2.5 Klasifikasi Hipertensi


Tabel 2 menunjukkan klasifikasi tekanan darah untuk orang dewasa
usia 18 tahun dan lebih tua. Klasifikasi ini didasarkan pada rata-rata dua atau
lebih pengukuran, saat duduk, pembacaan tekanan darah dilakukan oleh
patugas kunjugan kedua atau lebih.3

12
Prehipertensi bukan kategori penyakit. Sebaliknya, prehipertensi
adalah sebutan yang dipilih untuk mengidentifikasi individu yang berisiko
tinggi akan mengalami hipertensi, sehingga baik pasien dan dokter patut
waspada terhadap risiko ini dan terdorong untuk campur tangan dan mencegah
atau menunda perkembangan dari penyakit tersebut. Individu yang
dikategorikan prehipertensi belum dianjurkan untuk terapi obat oral
berdasarkan tingkat tekanan darah dan harus secara tegas dan jelas disarankan
untuk memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi risiko berkembangnya
hipertensi di masa depan. Selain itu, individu dengan prehipertensi, yang juga
menderita diabetes atau penyakit ginjal, harus dipertimbangkan untuk terapi
obat yang sesuai jika modifikasi gaya hidup gagal untuk menurunkan tekanan
darah mereka menjadi 130/80 mmHg atau kurang.3

Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC VII


Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah
Darah (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal <120 dan <80
Prehipertensi 120-139 atau 80-90
Hipertensi Tahap I 140-159 atau 90-99
Hipertensi Tahap II >160 >100

Klasifikasi ini tidak membedakan individu hipertensi dengan ada atau


tidak adanya faktor resiko atau kerusakan target organ untuk membuat
rekomendasi pengobatan yang berbeda, JNC 7 menunjukkan bahwa semua
orang dengan hipertensi (stadium 1 dan 2) dapat diobati. Tujuan pengobatan
adalah untuk individu dengan hipertensi dan tidak ada kondisi lain yang
menyertai yaitu tekanan darah <140/90 mmHg. Tujuan untuk individu dengan
prehipertensi adalah untuk menurunkan tekanan darah ke tingkat normal
dengan perubahan gaya hidup, dan mencegah progresifitas kenaikan tekanan
darah dengan modifikasi gaya hidup yang disarankan.3

2.6 Tanda dan Gejala


Secara umum, hipertensi tidak bergejala. Namun beberapa tanda dan
gejala dapat terjadi pada pasien hipertensi, yaitu:5

13
1. Peningkatan tekanan darah pada pembacaan setidaknya dua kali berturut-
turut setelah penyaringan awal
2. Nyeri kepala oksipital (kemungkinan memburuk pada di pagi hari sebagai
akibat dari peningkatan tekanan intrakranial); mual dan muntah juga dapat
terjadi
3. Epistaksis yang mungkin karena keterlibatan vaskular
4. Bruits (yang dapat didengar melalui aorta perut atau karotis, arteri ginjal,
dan femoralis) disebabkan oleh stenosis atau aneurisma
5. Pusing, kebingungan, dan kelelahan yang disebabkan oleh perfusi jaringan
menurun karena vasokonstriksi pembuluh darah
6. Penglihatan kabur sebagai akibat dari kerusakan retina
7. Nokturia disebabkan oleh peningkatan aliran darah ke ginjal dan
peningkatan filtrasi glomerular
8. Edema yang disebabkan oleh peningkatan tekanan kapiler.
Jika hipertensi sekunder ada, tanda-tanda dan gejala lain yang timbul
kemungkinan berhubungan dengan penyebabnya. Misalnya, Cushing sindrom
dapat menyebabkan obesitas dan striae trunkal berwarna ungu, sedangkan
pasien dengan pheochromocytoma dapat timbul sakit kepala, mual, muntah,
palpitasi, pucat, dan keringat berlimpah.5

2.7 Diagnosis
Beberapa pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis:5
1. Pengukuran tekanan darah yang berulang akan sangat bermamfaat
2. Unrinalisis dapat menunjukkan adanya protein, sel darah merah atau sel
darah putih, pada penyakit ginjal: adanya katekolamin yang dihubungkan
dengan pheochromasitoma, atau glukosa yang menunjukkan adanya
diabetes.
3. Pengujian laboratorium dapat mengungkapkan adanya peningkatan
nitrogen urea dan kadar kreatinin serum dari penyakit ginjal, atau
hipokalemia menunjukkan disfungsi adrenal (hiperaldosteronisme primer).
4. Hitung darah lengkap dapat mengungkapkan penyebab hipertensi
misalnya polisitemia dan anemia.

14
5. Excretory urography dapat mengungkapkan adanya atrofi ginjal yang
mengarah ke penyakit ginjal kronik. Satu ginjal lebih kecil dari ginjal
sebelahnya menunjukkan penyakit ginjal unilateral.
6. Elektrocardiografi (EKG) dapat menunjukkan adanya hipertrofi ventrikel
kiri atau iskemik jantung.
7. Foto X-ray dada dapat menunjukkan kardiomegali
8. Echokardiografi dapat mengungkapkan adanya hipertrofi ventrikel kiri.

2.8 Penatalaksanaan
Pasien dengan tekanan diastolik 90 mmHg atau tekanan sistolik 140
mmHg harus ditangani. Pasien dengan hipertensi sistolik terisolasi (level 160
mmHg dengan tekanan diastolik 89 mmHg) harus juga diobati jika mereka di
atas usia 65 tahun. Pasien dengan hipertensi dengan tekanan darah yang tidak
stabil atau hipertensi sistolik terisolasi yang tidak diobati harus memiliki
tindak lanjut pemeriksaan rutin pada interval 6 bulan karena hipertensi dapat
menjadi progresif dan / atau berkelanjutan. Akhirnya, pasien dengan penyakit
vaskular aterosklerotik atau diabetes mellitus dan tekanan darah diastolik
antara 85 dan 90 mmHg juga harus menerima terapi antihipertensi.1,2
Berapakah target penurunan tekanan darah yang semestinya?
Sebelumnya diasumsikan 140/90 mmHg adalah tingkat yang diinginkan. Hal
ini tampaknya masih wajar untuk pasien nondiabetes sejak studi Pengobatan
Optimal Hipertensi (HOT) tidak mendeteksi perbedaan yang signifikan dalam
risiko kardiovaskular antara pasien nondiabetes dirawat untuk tujuan
penurunan tekanan darah diastolic 90 mmHg dibandingkan 80 mmHg. 1,2
Sekitar kurang dari sepertiga dari pasien hipertensi di Amerika
Serikat diobati secara efektif. Jumlah kegagalan terhitung kecil terkait
dengan obat yang tidak merespon. Kebanyakan kegagalan akibat (1) gagal
mendeteksi hipertensi, (2) kegagalan institusi dalam pengobatan yang efektif
pasien hipertensi asimtomatik, dan (3) kegagalan hipertensi asimtomatik
pasien untuk mematuhi terapi. Untuk membantu mengatasi masalah
selanjutnya, pasien harus dididik untuk melanjutkan perawatan sekali untuk

15
rejimen yang efektif yang telah diidentifikasi. Efek samping dan
ketidaknyamanan pengobatan harus diminimalkan atau dihilangkan agar
pasien dapat bekerja sama. 1,2

a. Pengobatan Non-Farmakologi
Perubahan gaya hidup dapat menurunkan tekanan darah dan harus
digalakkan untuk semua orang dengan prehipertensi. Modifikasi mungkin
cukup sebagai terapi awal untuk beberapa orang dengan hipertensi stadium
1. Perlu terapi tambahan bagi mereka dengan hipertensi yang lebih
parah.2,3
Pendekatan Diet untuk Menghentikan Hipertensi atau The Dietary
Approach to Stop Hypertension (DASH) efektif dalam menurunkan
tekanan darah pada pasien dengan prehipertensi atau hipertensi tahap .
Rencana makan DASH meliputi mengkonsumsi diet kaya buah-buahan,
sayuran (kalium yang tinggi), dan produk susu rendah lemak (kalsium
tinggi) dengan pengurangan kandungan dari lemak total dan jenuh. 2,3
Prevalensi hipertensi lebih besar pada orang-orang yang
mengalami obesitas. Peningkatan tekanan darah sering seiring dengan
berat badan, dan uji klinis banyak telah mendokumentasikan efektivitas
penurunan berat badan untuk menurunkan tekanan darah. Pengurangan
berat badan ke dalam kisaran normal (indeks massa tubuh 18,5-24,9)
adalah tujuan yang diharapkan. 2,3
Pembatasan asupan natrium setiap hari menjadi100 mEq (2,4 g
natrium atau 6 gr garam) menurunkan tekanan darah pada sejumlah pasien
tapi tidak semua pasien hipertensi. Sensitivitas terhadap garam lebih
umum pada orang-orang ras African American, obesitas, atau orang tua
atau yang memiliki hipertensi rendah renin, tingkat tekanan darah yang
lebih tinggi, atau penyakit ginjal kronik, efek antihipertensi dari banyak
obat yang ditingkatkan oleh pembatasan natrium. Juga, pembatasan
natrium meminimalkan kehilangan kalium yang menginduksi diuresis. 2,3

16
Latihan aerobik yang teratur dapat menurunkan tekanan darah
secara langsung dan secara tidak langsung dengan memfasilitasi
penurunan berat badan. Setidaknya 30 menit sehari-hari aktivitas aerobik,
seperti berjalan, harus digalakkan. 2,3
Pembatasan asupan alkohol setiap hari ]kurang dari 1 oz (30 ml)
dari etanol (<0.5 oz untuk perempuan atau laki-laki ringan) sering
dikaitkan dengan penurunan tekanan darah. Alkohol adalah sumber kalori,
dan penggunaannya sering dikaitkan dengan buruknya kepatuhan dengan
terapinantihipertensi. Asupan alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan
hipertensi yang tidak stabil yang sulit untuk mengontrol dalam hubungan
dengan gejala lain (pembilasan dan takikardia) yang merujuk pada
penyakit pheochromocytoma. 2,3
Karena komplikasi dari penyakit arteri koroner yang paling umum
penyebab kematian pada orang hipertensi, semua risiko untuk penyakit
kardiovaskular harus ditangani. Manfaat penurunan tekanan darah
dikurangi pada perokok. Komponen sindrom metabolik hidup
berdampingan lebih sering pada orang hipertensi dibandingkan orang
normotensi. Pengobatan sindrom metabolik menurunkan risiko penyakit
jantung dan hipertensi yang sedang berkembang. Ini mencakup instruksi
dalam diet rendah lemak, penurunan berat badan; dorongan berolahraga
secara teratur, dan penggunaan obat-obatan untuk menurunkan kadar
serum lipid, tekanan darah, dan sensitivitas insulin bila diperlukan. 2,3

b. Pengobatan Farmakologi
Dalam lebih dari 50% dari orang dengan tahap 1 hipertensi,
tekanan darah dapat dikontrol dengan terapi obat tunggal. Faktor penting
untuk pertimbangkan ketika memilih obat untuk terapi awal adalah khasiat
sebagai monoterapi, rute eliminasi, interaksi obat, efek samping, dan
biaya. Pemilihan obat yang tepat adalah penting untuk menjaga kepatuhan
jangka panjang. 2,3

17
Pasien dengan hipertensi stadium 2, orang-orang dengan tekanan
darah awal lebih dari 20/10 mm Hg di atas batas, dan mereka ditargetkan
untuk menurunkan tekanan darah (penyakit ginjal kronis atau diabetes)
sering akan memerlukan dua atau lebih obat untuk mengontrol tekanan
darah. Pertimbangan terapi awal dengan kombinasi dua obat (salah
satunya adalah diuretik yang tepat untuk tingkat fungsi ginjal) harus
dipertimbangkan. 2,3
Pengobatan monoterapi meliputi diuretik tiazid, beta-bloker,
calcium channel blockers (CCB), ACE-inhibitors (ACEIs) dan Angiotensi
Receptor Blockers (ARBs). Kombinasi dosis rendah juga dapat digunakan
untuk terapi awal. Tiazid sebaiknya diberikan sebagai terapi awal pasien
hipertensi tanpa komplikasi yang tidak memiliki pilihan yang jelas untuk
jenis lain. 2,3
Obat kelas lain dipertimbangan untuk diberikan apabila diuretik
tidak efektif atau ada kontraindikasi atau dengan pengaturan obat lain
yang memiki alternative pada kondisi tertentu (misalnya ACEIs pada
pasien hipertensi dengan gagal jantung kongestif). Antagonis alfa yang
bekerja sentral (clonidin, methyldopa, guanabenz dan guanfacine) dan
vasodilator (hydralazine dan mnoxidil) dapat dipertimbangkan dalam
kondisi pseudotolasnsi. Pseudotoleransi adalah stimulasi reflex dari sistem
rennin-angiotensin-aldosteron atay sistem saraf simpatis yang
menyebabkan retensi cairan, peningkatan resistensi vascular, atau
peningkatan curah jantung dengan hilangnya kemanjuran dengan
penggunaan jangka panjang. Oleh karena itu sejumlah obat tidak diberikan
sendiri. Obat efek sentral (-agonist cocok ketika diberikan dengan diuretic,
vasodilator paling baik diberikan sebagai obat ketiga dalam kombinasi
diuretic dan adrenergik inhibitor. Adapula obat yang lebih baik pada
sejumlah umur dan ras tertentu (diuretik dan CCB lebih efektif pada ras
Afro-Amerika dan pasien usia: beta-bloker , ACEI dan ARB lebih efektif
pada pasien kulit putih dan dan pasien yang lebih muda. Dengan terapi
kombinasi, memastikan obat bekerja kombinasi dan dua obat dari kelas

18
yang sama tidak boleh diberikan. Biasanya, salah satu obat kombinasi
adalah diuretik kelemahan dan impotensi. Impotensi merupakan efek
sampiang yang paling berpotensi pada semua obat anti hipertensi. 2,3
Dikenal ada 2 kelompok obat lini pertama yang lazim digunakan
untuk pengobatan awal hipertensi yang itu diuretic, beta-bloker, ACE-
inhbitor, ARB dan antagonis kalsium. Pada JNC-VII, penyekat reseptor
alfa adrenergik tidak dimasukkan dalam lini pertama.6
Berikut ini pembagian obat lini pertama hipertensi: 6
1. Diuretik
Diuretik bekerja dengan meningkatkan ekskresi natrium, air
dan klorida sehingga menurunkan volume darah dan cairan
ekstraseluler. Penelitian-penelitian besar membuktikan bahwa efek
proteksi kardiovaskuler diuretic belum dikalahkan oleh obat lain
sehingga diuretic dianjurkan untuk sebagian besar kasus hipertensi
ringan dan sedang. Bahkan bila menggunakan kombinasi dua atau
lebih antihipertensi, maka salah satunya adalah diuretik. 6
Sampai sekarang diuretik golongan tiazid merupakan obat
utama dalam terapi hipertensi. Sebagian penelitian besar membuktikan
bahwa diuretik terbukti paling efektif dalam menurunkan risiko
kardiovaskuler. 6
Diuretik bekerja dengan menghambat transport bersama Na-Cl
di tubulus distal ginjal, sehingga ekskresi Na+ dan Cl-
meningkat.Beberapa obat golongan diuretic antara lain
hidroklorotiazid, bendroflumetiazid, klorotiazid dan diuretik lain yang
memiliki gugus aryl-sulfonamida. Pemberian 1x sehari. 6

2. Beta bloker
Beta-bloker bekerja dengan (1) menurunkan frekuensi denyut
jantung dan kontraktilitas miokard sehingga menurunkan curah
jantung, (2) hambatan sekresi rennin di sel jungstaglomeruler ginjal
dengan akibat penurunan kadar angiotensin II, (3) efek sentral yang

19
mempengaruhi aktivitas baroreseptor, perubahan aktivitas neuron
adrenergik perifer dan oeningkatan sintesis prostasiklin. 6
Dari berbagai beta-bloker, atenolol merupakan obat yang sering
dipilih. Dosis lazim 50-100 mg per oral sehari. Metoprolol diberikan
dua kali sehari dengan dosis 50-100 mg. Labetolol diberikan dua kali
sehari maksimal 300 mg, dam karvedilol sekali sehari maksimal 50
mg. 6

3. Angiotensin Converting Enzym (ACE) inhibitor dan Angiotensin


Reseptor Blocker (ARB)
ACE-inhibitor bekerja dengan menghambat perubahan
angiotensin I menjadi angiotensin II sehingga terjadi vasodilatasi dan
penurunan sekresi aldosteron. Pada gagal jantung kongestif, ACEI
mengurangi beban jantung dan akan memperbaiki keadaan pasien. 6
ACEI dibedakan atas dua kelompok yaitu: 1) yang bekerja
langsung, contohnya Captopril dosis 25-100 mg 2-3x sehari dan
lisinopril 10-40 mg 1x sehari. 2) Prodrug, contohnya enalapril,
kuinapril, perindopril, ramipril, silazapril, benazepril, fosinopril dan
lain-lain. 6
ARB bekerja dengan memblok reseptor AT 1 sehingga terjadi
vasokontriksi, sekresi aldosteron, rangsangan saraf simpatis, stimulasi
jantung, efek renal serta efek jangka panjang berupa hipertrofi otot
polos pembuluh darah dan miokard. Obat ARB seperti Losartan 25-
100 mg 1-2x sehari, valsartan, irberstan, telmisartan dan candesartan
1x sehari. 6

4. Antagonis Kalsium
Antagonis kalsium meghambat influx kalsium pada sel otot
polos pembuluh darah dan miokard. Di pembuluh darah, antagonis
kalsium terutama menimbulkan relaksasi arteriol, sedangkan vena
kurang dipengaruhi. Penurunan resistensi perifer ini sering diikuti oleh
reflek takikardia dan vasokontriksi, terutama menggunakan golongan

20
dihidropiridin kerja pendek (nifedipin). Dossi nifedipin 3-4x sehari tab
100 mg. Sedangkan diltiazem 80-180 mg 3x sehari dan verapamil 80-
320 mg 2-3x sehari tidak menimbulkan takikardia karena efek
kronotropik negative langsung pada jantung. Bila reflex takikardia
kurang baik, seperti pada orang tua, maka pemberian antagonis
kalsium dapat menimbulkan hipotensi yang berlebihan. 6

2.9 Definisi Kepatuhan


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pranoto,2007)7, patuh adalah
suka menurut perintah, taat pada perintah, sedangkan kepatuhan adalah
perilaku sesuai aturan dan berdisiplin. Sarafino (1990)8 dikutip oleh (Slamet
B, 2007)9, mendefinisikan kepatuhan (ketaatan) sebagai tingkat penderita
melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh dokter atau
orang lain. Kepatuhan juga dapat didefinisikan sebagai perilaku positif
penderita dalam mencapai tujuan terapi (Degresi, 2005)10.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan
Menurut (Niven, 2008)11 faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan
adalah:
a) Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara. Pendidikan klien dapat meningkatkan kepatuhan, sepanjang bahwa
pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang aktif.

b) Akomodasi
Suatu usaha harus dilakukan untuk memahami ciri kepribadian klien yang
dapat mempengaruhi kepatuhan.

21
c) Modifikasi faktor lingkungan dan social
Hal ini berarti membangun dukungan sosial dari keluarga dan teman-
teman, kelompok-kelompok pendukung dapat dibentuk untuk membantu
kepatuhan terhadap program pengobatan

d) Meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan klien


Meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan klien adalah suatu
hal penting untuk memberikan umpan balik pada klien setelah
memperoleh infomasi tentang diagnosis. Suatu penjelasan penyebab
penyakit dan bagaimana pengobatan dapat meningkatkan kepatuhan

e) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu obyek tertentu, dari pengalaman dan penelitian
terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih
langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan
(Notoatmodjo, 2007)12.
Menurut fungsinya pengetahuan merupakan dorongan dasar untuk ingin
tahu, untuk mencari penalaran, dan untuk mengorganisasikan
pengalamannya. Adanya unsur pengalaman yang semula tidak konsisten
dengan apa yang diketahui oleh individu akan disusun, ditata kembali atau
diubah sedemikian rupa, sehingga tercapai suatu konsistensi. (Azwar,
2007)13.

f) Usia
Usia adalah umur yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat akan
berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan
seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Dari segi
kepercayaan, masyarakat yang lebih dewasa akan lebih dipercaya daripada
orang yang belum cukup tinggi tingkat kedewasaannya. Hal ini sebagai
akibat dari pengalaman dan kematangan jiwanya. (Notoatmodjo, 2007)12.

22
g) Dukungan Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil masyarakat yang terdiri atas 2 orang atau
lebih, adanya ikatan persaudaraan atau pertalian darah, hidup dalam satu
rumah tangga berinteraksi satu sama lain, mempertahankan satu
kebudayaan (Effendy, 2006)14.

23
BAB III
KERANGKA KONSEP PENELITIAN

3.1 Kerangka Teori

HIPERTENSI Kepatuhan Hipertensi


Penatalaksanaan hipertensi

Faktor-faktor penyebab
Faktor-faktor penyebabhipertensi
hipertensi: : Faktor yang mempengaruhi kepatuhan :
1. Hipertensi primer 1. Demografi (usia, jenis kelamin,
1.
a. Hipertensi
Keturunan primer suku bangsa, status sosio-ekonomi
b. Ciri perseorangan dan pendidikan)
a. Keturunan 2. Pengetahuan
c. Kebiasaan hidup
b. Cirisekunder
2. Hipertensi perseorangan 3. Dukungan sosial (dukungan
a. Penyakit instrumental, emosional,
c. Kebiasaan hidup informatif, dan penghargaan)
b. Pengaruh sekunder : obat
4. Psikososial (sikap dan budaya)

3.2 Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Umur Kepatuhan minum Obat


Jenis kelamin antihipertensi
Dukungan sosial

3. 3 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel Independen (Variabel Bebas)
Variabel independen dalam penelitian ini adalah demografi, dan
dukungan sosial

24
2. Variabel Dependen (Variabel Terikat)
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kepatuhan minum obat
antihipertensi.

3.4 Hipotesis Penelitian


Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah :
Ha : Ada hubungan kepatuhan pasien hipertensi
non komplikasi terhadap penggunaan obat menurut standar JNC VII di rumah
sakit bhayangkara
Ho : Tidak Ada hubungan / tidak ada hubungan kepatuhan pasien hipertensi
non komplikasi terhadap penggunaan obat menurut standar JNC VII di rumah

3.5 Definisi Operasional

DEFINISI CARA ALAT SKALA


Variabel HASIL UKUR
OPERASIONAL UKUR UKUR UKUR
Umur Umur adalah usia Kuesioner Kuesioner 1. Jika ≥ 35 Nominal
yang dihitung Tahun
sejak lahir sampai 2. Jika < 35
saat ini waktu Tahun
penelitian
berlangsung yang
di ukur dalam
tahun
Jenis kelamin Jenis kelamin Kuesioner Kuesioner 1. Laki-laki Nominal
adalah sesuatu 2. Perempuan
yang digunakan
untuk
mengidentifikasi
perbedaan
lakilaki
dan
perempuan dari
segi anatomi
biologinya
Dukungan Keluarga yang Kuesioner Kuesioner 1. Tidak ada Ordinal
Keluarga senantiasa dukungan
mengingatkan 2. Ada
dan mendukung dukungan
pengobatan
responden

25
Kepatuhan Menuruti aturan Kuesioner Kuesioner 3. Tidak Patuh Ordinal
meminum pengobatan dan <4
obat anti perilaku yang 4. Patuh > 4
hipertensi sesuai dengan
yang disarankan
oleh dokter atau
petugas kesehatan
lainnya.

26
BAB IV
KAJIAN ISLAM

Dalam Al-Quran surat Al-A’raf:31

yaa banii aadama khudzuu ziinatakum 'inda kulli masjidin wakuluu wasyrabuu
walaa tusrifuu innahu laa yuhibbu lmusrifiin
[7:31] Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki)
mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.15

4.1 Makan makanan yang sehat:16


Allah berfirman yang artinya:
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah
rizkikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman
kepada-Nya”. (QS. 5:8)
Makanan yang halal adalah makanan yang tidak diharamkan oleh
Allah . Dalam Al-Quran Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang
artinya,“Diharamkan bagi kamu sekalian bangkai, darah, daging babi,
daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang
dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas kecuali
kamu sempat menyembelihnya, dan diharamkan bagi kamu sekalian hewan
yang disembelih untuk berhala. (QS. AI-Maidah: 3)

1. Nabi menganjurkan agar mendinginkan makanan/minuman sebeum


dimakan, dengan sabdanya,“Dinginkanlah makanan / minuman kamu

27
sesungguhnva tidak ada kebaikan pada makanan / minuman yang panas.’
(HR. Al-Hakim dan Ad-Dailami). Mendinginkannya tidak dengan ditiup
dengan napas karena ini juga dilarang oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam (HR ibnu Majah)
2. Tidak minum Alkohol dan apa saja yang merusak tubuh
Allah berfirman, “Mereka bertanya tentang “khamar’ dan judi,
katakanlah, pada keduanya ada bahaya yang besar dan pula manfaat
pada manusia, dan bahayanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. Al-
Baqarah: 219).
Pada ayat lain dikatakan oleh Allah, “Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala,
mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan
syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat
keberuntungan. ‘(QS. 5: 90)
Khamar adalah segala sesuatu yang memabukkan, misalnya
alkohol. Oleh para ahli, alkohol diketahui dapat menimbulkan kerusakan
pada seluruh bagian tubuh manusia, seperti sistem syaraf, pembuluh darah,
jantung, hati, saluran cerna dll. Demikian pula bahan-bahan lain yang
dapat merusak sel-sel tubuh sehingga dapat menimbulkan gangguan fungsi
alat tubuh dan penyakit. Karena itu, maka segala penyebab kebinasaan
yang merusak itu wajib dijauhi, sebagaimana larangan Allah, “Jangan
campakkan dirimu ke dalam kebinasaan.‘ (QS Al-Baqarah: 195)
Termasuk disini adalah rokok yang sudah nyata menimbulkan kerusakan
jantung, pembuluh darah, cerna, gigi, paru-paru, nafas, kulit dan lain-lain.

4.2 Ketenangan Jiwa


Ketenangan jiwa diperlukan untuk keserasian fungsional organ-organ
tubuh. Sebaliknya ketegangan, kecemasan, emosi, akan menimbulkan
gangguan fungsional pada organ-organ tubuh seperti sistem pencernaan.
pernapasan, jantung, pembuluh darah, syaraf, hormonal dll. Seorang yang
gelisah, gundah, resah hati akan mengalami gangguan konsentrasi, gangguan

28
tidur, sakit kepala, berdebar, sesak, tidak nafsu makan, mulas, mencret, sering
mau kencing, dan keluhan keluhan lain, sehingga akan mengganggu aktifitas
hariannya.
Ketenangan hati diperlukan untuk kesempurnaan / kelancaran kerja
seluruh alat tubuh.
Membaca serta memahami Al-Qur’an atau dzikrullah bagi seorang
mukmin merupakan obat untuk ketenangan hatinya.
Dalam Al-Quran, Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman yang
artinya, “Wahai sekalian manusia telah datang kepadamu pelajaran (Al
Quran) dari Tuhanmu, dan sebagai obat untuk yang ada dalam dada
(“qalbun”/ hati), dan petunjuk serta rahmat bagi mereka yang beriman.
“(Yunus;57).
Di surat lain, Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,
“Orang-orang yang beriman akan menjadi tenang hatinya dengan dzikir
kepada Allah, Ketahuilah bahwasanya dengan dzikir kepada Allah hati akan
menjadi tenang.” (QS.Ar-Raad: 28).
Demikian jaminan Allah bagi orang yang beriman.
Seorang yang benar-benar beriman menurut firman Allah Subhanallahu wa
Ta’ala yang artinya, “Adalah mereka yang apabila disebut nama Allah
bergetarlah hatinya, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah
bertambahlah keimanannya, dan kepada Tuhannya mereka bertawakkal,
mereka mendirikan shalat dan menginfaqkan sebagian rezekinya,
demikianlah orang yang benar-benar beriman (QS. Al-Anfal: 2-4). Orang
yang beriman akan terjauh dan perasaan cemas, gelisah, resah, atau sakit hati
yang berlebihan dan semacamnya oleh karena dia percaya dengan yakin akan
adanya Allah yang Mengasih dan Maha penyayang kepada hambaNya serta
percaya akan ketentuan taqdir.
Dalam Al-Qur’an Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman yang
artinya, “Apabila hambaKu bertanya tentang Aku, katakanlah ahwasanya
Aku ini dekat sekali, kukabulkan permohonan hambaKu apabila memohon,
maka patuhlah kepadaKu dan berimanlah kepadaKu. “(QS. Al-Baqarah: 186)

29
Dengan pernyataan Allah ini seorang mukmin yang bertaqwa kepada
Allah Subhanallahu wa Ta’ala akan selalu dalam keadaan tenang tidak akan
gelisah / resah / cemas walaupun menghadapi situasi yang bagaimanapun,
karena merasa Allah selalu bersamanya dan mendengar serta mengabulkan
permohonan hambaNya

30
BAB V
METODE PENELITIAN

5. 1 Desain Penelitian
Rancangan penelitian ini adalah “Cross Sectional Study”, untuk
mengetahui hubungan antara evaluasi kepatuhan pasien hipertensi non
komplikasi terhadap pengunaan obat di RS.Bhayangkara dan pada penelitian
ini juga dilakukan analisis terhadap data-data yang dikumpulkan

5.2 Lokasi dan waktu penelitian


 Lokasi penelitian : RS.Bhayangkara
 Waktu penelitian : Desember 2012

5.3 Populasi dan Sampel


Populasi
Populasi : Seluruh Pasien non komlikasi Hipertensi
DiRS.Bhayangkara
Sampel
Sample : Seluruh Pasien yang menderita Hipertensi non
komplikasi diRS.Bhayangkara Bulan Desember
2012-januari 2013

5.4 Rumus Besar Sample


Menggunakan Rumus Total Sampling

5.5 Teknik Pengambilan Sampel


Menggunakan teknik purposive sampling artinya ditentukan dengan
mempertimbangkan tujuan penelitian berdasarkan kriteria-kriteria yang
ditentukan terlebih dahulu

31
5.5 Jenis dan Cara Pengumpulan Data
5.5.1 Jenis data : Data Primer (langsung dari pasien)
5.5.2 Sumber Data : Wawancara, Quisioner, dan
pengukuran tekanan darah
langsung pada pasien
5.5.3 Instrumen Pengumpulan Data : Dalam penelitian ini instrumen
yang digunakan yaitu kuisioner dan
tensimeter
5.5.4 Cara Pengumpulan Data : Penelitian ini dilakukan dengan
cara observasi langsung ke
lapangan. Observasi tersebut
berupa wawancara, pemberian
kuisioner dan pengukuran tekanan
darah.

32
BAB VI
HASIL PENELITIAN

6.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

LUAS

LUAS

Gambar 6.1 : Denah lokasi RS. Bhayangkara

KETERANGAN :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan rumah masyarakat umum dan SPK

Bhayangkara serta Asrama Polisi

2. Sebelah Timur berbatasan dengan Asrama polisi

3. Sebelah Selatan berbatasan dengan rumah masyarakat umum dan jalan

Mallombassang

33
4. Sebelah Barat berbatasan dengan jalan Mappa Oudang

6.1.1 Sejarah
Berawal dari perintah lisan PANGDAK XVIII SULSELRA BRIGJEN
IMAM SUPOYO kepada Kapten Polisi dr. ADAM IMAN SANTOSA pada
tanggal 2 Nopember 1965, untuk menempati dan memfungsikan bekas
SEKOLAH POLISI NEGARA DJONGAYA menjadi RUMAH SAKIT
KEPOLISIAN BHAYANGKARA MAKASSAR.
Satu bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 1 Desember 1965 mulai
difungsikan Poliklinik Umum dan bagian Kebidanan. Saat itu juga Lettu
Polisi dr. ZAINAL ARIFIN yang bertugas di Poliklinik Poltabes Makassar
mulai aktif di Poliklinik Umum dan dr. ABADI GUNAWAN di bagian
Kebidanan Rumah Sakit Kepolisian Makassar
Pada tanggal 1 Maret 1966 mulai difungsikan bangsal laki-laki, bangsal
wanita dan bangsal anak-anak.
Tanggal 1 Januari 1967 bagian rontgen difungsikan
Tanggal 2 Nopember 1968 diusulkan pendidikan SPK C dengan lama
pendidikan 2 (dua) tahun, oleh dr. ADAM IMAN SANTOSA dan
diteruskan oleh Pangdak VIII Brigjen Pol. Johny Anwar ke Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, sehingga bulan Juni 1969 Pendidikan SPK
C angkatan I dimulai atas ijin Depkes RI
Tanggal 1 Maret 1969 dilakukan renovasi gudang kaporlap SPN Jongaya
menjadi ruang pertemuan personil Rumah Sakit Kepolisian Bhayangkara.
Tanggal 10 Januari 1970 Rumah Sakit Kepolisian Bhayangkara diakui
secara resmi oleh Mabes Polri dengan Surat Keputusan Kapolri No. Pol. :
B/117/34/SB/1970 yang ditandatangani oleh Wakapolri Inspektur Jenderal
Polisi T.A.AZIZ, yang berbunyi sesuai teks aslinya sbb :
Menarik Surat Saudara tanggal 29 April 1969 No. Pol. : 346/Kes/III/69,
dengan ini dipermaklumkan, bahwa kami sangat menghargai usaha
tersebut dalam rangka meningkatkan kesedjahteraan, chususnja dalam

34
perawatan kesehatan anggota/pegawai sipil dan keluarganja, sekaligus
merupakan pengisian dari pada fungsi dan organisasi seksi kesehatan
Komdak XVIII/Sulselra.
Mengenai pembinaan selandjutnja dilaksanakan melalui Direktorat
Kesehatan Mabak meurut ketentuan2 jang berlaku dan menjesuaikan
dengan kemampuan keuangan jang ada.
Dengan demikian Rumah Sakit tersebut setjara resmi kami njatakan
menjadi :”Rumah Sakit Kepolisian R.I.” dan merupakan formasi organik
dari Seksi Kesehatan Komdak XVIII/Sulselra.
Tanggal 10 Desembar 1979 SPK C secara resmi ditutup dan diganti dengan
nama SPK Gaya Baru, yang hanya berlangsung selam 2 (dua) tahun yakni
tahun 1979 – 1980, dan pada tahun 1980 SPK Gaya Baru berubah menjadi
SPK dengan masa pendidikan 3 (tiga) tahun, dan pada tahun 1984
menerima anggata Polri dari seluruh Indonesia untuk dididik menjadi
tenaga kesehatan.
Perkembangan fisik Rumah Sakit Kepolisian Bhayangkara Makassar
dimulai pada tanggal 7 Oktober 1971 dengan diresmikannya ruang
Disdokkes dan Rumah Sakit Kepolisian Bhayangkara Makassar oleh
Kapolda Sulsel.
Pembangunan tahap pertama tahun 1973 yang ditandai dengan
diresmikannya ruang perawatan Perwira (paviliun). Tahun 1977 dengan
dukungan anggaran dari Menhankam Pangab Jenderal M.Yusuf,
dibangunlah sarana pendukung diagnostic dan sarana pelayanan kesehatan.
Pembangunan tahap kedua tahun 1983 terdiri atas Ruang Perawatan Anak 2
(dua) lantai, Ruang Fisioterapi dan Gizi serta Ruang Gawat Darurat. Tahun
1996 diresmikan ruang Otopsi dan Musholla, tahun 1997 diresmikan Ruang
ICU dan Ruang Operasi, tahun 2000 Rumah Sakit Kepolisian Bhayangkara
Makassar mendapat bantuan lunak dari Spanyol berupa peralatan
kesehatan.

35
Perkembangan pembangunan selanjutnya adalah pembangunan koridor
yang menghubungakan ruang-ruang perawatan maupun poliklinik, gedung
perawatan Garuda dan Kasuari yang berlantai 2 (dua).
Tanggal 1 Januari 1999 Gedung Kantin Bhayangkara, Gedung Primkoppol
dan tambahan Masjid Bhayangkara diresmikan oleh KADISDOKKES
POLDA SULSEL LETKOL POL. dr. S BUDI SISWANTO
Tanggal 10 Oktober 2001 Rumah Sakit Kepolisian Bhayangkara Makassar
berubah status menjadi Rumah Sakit tingkat II dengan Surat Keputusan
Kapolri No. Pol. : SKEP/1549/X/2001.
Untuk menghilangkan kesan bahwa Rumah Sakit Kepolisian Bhayangkara
hanya diperuntukkan bagi anggota Polri maka berdasarkan Surat Keputusan
Kapolda Sulsel No. Pol.:SKEP/321/X/2001 tanggal 16 Oktober 2001
diputuskan penggantian nama Rumah Sakit Kepolisian Bhayangkara
Makassar menjadi Rumah Sakit Bhayangkara Tk. II Mappa Oudang
Makassar yang diresmikan oleh Kapolda Sulsel Irjen Pol. Drs. FIRMAN
GANI, sekaligus meminta restu kepada adik kandung
Tanggal 14 Januari 2009, Depkes RI memberikan Sertifikat Akreditasi
Rumah Sakit Nomor : YM.01.10/III/125/09 dengan status Akreditasi Penuh
Tingkat Dasar yang berlaku tangal 14 Januari 2009 sampai dengan 14
Januari 2012 kepada Rumah Sakit Bhayangkara Mappa Oudang sebagai
pengakuan bahwa rumah sakit telah memenuhi standar pelayanan yang
meliputi : Administrasi Manajemen, Pelayanan Medis, Pelayanan Gawat
Darurat, Pelayanan Keperawatan, dan Rekam medis. Yang ditandatangani
atas nama Menteri Kesehatan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik
FARID W. HUSAIN.
Peresmian Gedung IGD pada tanggal 18 Maret 2009 oleh KAPOLDA
SULSEL IRJEN POL. Drs. MATHIUS SALEMPANG
Pada tanggal 15 Juli 2009 KETUA UMUM BHAYANGKARI NY.
NANNY BAMBANG HENDARSO meresmikan Renovasi Ruang
Cendrawasih

36
Peresmian Renovasi Ruang Perawatan Cendrawasih B pada tanggal 16
Desember 2009 oleh KAPOLDA SULSEL IRJEN POL. Drs. ADANG
ROCHJANA
Peresmian Renovasi Ruang Intermediate Care Unit, USG, Treadmill dan
Ruang Makan Karyawan oleh KAPOLDA SULSEL IRJEN POL. Drs.
ADANG ROCHJANA tanggal 17 Maret 2010
Tanggal 23 Nopember 2010, Menteri Keuangan RI mengesahkan
Penetapan Rumah Sakit Bhayangkara Tk. II Mappa Oudang Makassar pada
Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai Instansi Pemerintah yang
menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK – BLU),
dengan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 440 / KMK.05 / 2010,
yang ditandatangani Menteri Keuangan AGUS D.W. MARTOWARDOJO.
Tanggal 8 Juni 2011 nomenklatur Rumah Sakit Bhayangkara Tk. II Mappa
Oudang Makassar berubah nama menjadi Rumah Sakit Bhayangkara
Makassar dengan kode Kemenkeu 646307.
Pada hari Jumat, tanggal 21 Oktober 2011 jam 14.00 wita secara resmi
KAPOLDA SULSEL INSPEKTUR JENDERAL POLISI Drs. H. JOHNY
WAINAL USMAN, MM melalukan peletakan batu pertama dalam rangka
dimulainya renovasi ruang : Perawatan dan Bedah sentral serta ICU yang
berlantai 3 (tiga).

6.1.2 Visi & Misi RS. Bhayangkara


6.1.2.1 Visi
Menjadi Rumah Sakit Bhayangkara terbaik di kawasan Timur Indonesia
dan jajaran Polri, dengan Pelayanan Prima dan mengutamakan
penyembuhan serta terkendali dalam pembiayaan.

37
6.1.2.2 Misi
1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang prima dengan meningkatkan
kualitas disegala bidang pelayanan kesehatan, termasuk kegiatan
kedokteran kepolisian (forensik, perawatan tahanan, kesehatan kamtibmas
dan DVI) baik kegiatan operasional kepolisian, pembinaan kemitraan
maupun pendidikan dan latihan.
2. Menyelenggarakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan
pengawasan anggaran secara transparan dan akuntabel.
3. Meningkatkan kualitas SDM yg professional, bermoral dan memiliki
budaya organisasi sebagai pelayan prima.
4. Mengelola seluruh sumber daya secara efektif, efisien dan akuntabel guna
mendukung pelaksanaan tugas pembinaan maupun operasional Polri.

6.1.3 Tujuan RS. Bhayangkara


1. Tersedianya pelayanan kesehatan spesialisasi yang lengkap dan sesuai
dengan standar akreditasi
2. Meningkatkan kepuasan pelanggan dengan meminimalisir komplain guna
meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Rumah Sakit Bhayangkara
Makassar
3. Meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan standar akreditasi
4. Meningkatkan kompetensi dan profesionalisme SDM
5. Menjaga kuantitas SDM secara ideal sesuai dengan beban dan ancaman
tugas
6. Meningkatkan kesejahteraan dan etos kerja SDM
7. Terwujudnya transparansi dan akuntabilitas dibidang keuangan.
Terwujudnya pengelolaan seluruh sumber daya lainnya secara efektif,
efisien dan akuntabel.

38
6.1.4 Fasilitas Pelayanan
a. Pelayanan Rawat Jalan, terdiri atas :
1) Klinik Umum
2) Klinik Gigi
3) Klinik KB dan KIA
4) Klinik Kecantikan
5) Spesialis Penyakit Dalam
6) Spesialis Anak
7) Spesialis Bedah
8) Spesialis Obsgyn
9) Spesialis Ortopedi
10) Spesialis Mata
11) Spesialis Paru
12) Spesialis THT
13) Spesialis Saraf
14) Spesialis Jantung
15) Spesialis Jiwa
16) Spesialis Kulit dan Kelamin
17) Radiologi
18) Spesialisasi Lainnya, yang tidak memiliki poliklinik (bedah
urologi, bedah digestif, bedah plastik, rehab medik, gizi klinik,
dll)

b. Pelayanan Rawat Inap, terdiri atas :


1) Pelayanan Rawat Inap Kelas VIP
2) Pelayanan Rawat Inap Kelas I
3) Pelayanan Rawat Inap Kelas II
4) Pelayanan Rawat Inap Kelas III
5) Pelayanan Intensif Care Unit (ICU).

39
6.2 Karakteristik Sampel Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Bhayangkara pada Poli Penyakit
Dalam. Variabel yang ditelitia dalam penelitian ini adalah umur, jenis kelamin,
dan dukungan keluarga pada pasien hipertensi sebagai responden terhadap
kepatuhan minum obat antihipertensi. Data diambil melalui wawancara dan
pengisian kuesioner.Sampel sebanyak 66 responden yang telah terdiagnosis HT
non Komplikasi atau Hipertensi Primer di Poli penyakit dalam RS.
Bhayangkara.

6.3 Analisis Univariat


Adapun hasil penelitian disajikan dalam table yang disertai penjelasan sebagai
berikut karakteristik umum :
6.3.1 Karakteristik Responden berdasarkan Umur
Tabel 6.1 Karakteristik Responden berdasarkan Umur di RS.Bhayangkara

Karakteristik Umur Frekuensi (%)


< 45 9 13.6
≥ 45 57 86.4

Jumlah 66 100

Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa distribusi responden


berdasarkan kelompok umur yang menjadi objek penelitian yakni : responden
terbanyak yakni > 45 tahun sebanyak 57 responden (86,4%) dengan rata
berumur 53 tahun dengan usia termuda 30 tahun dan tertua 82 tahun.

6.3.2 Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin


Tabel 6.2 Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin di
RS.Bhayangkara
Karakteristik Frekuensi (%)
Jenis Kelamin

40
Perempuan 37 56.1
Laki-laki 29 43.9
Jumlah 66 100
Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa distribusi jenis kelamin dalam
penelitian ini yaitu terbanyak responden perempuan dengan frekuensi 37
responden (56,1%) sedangkan responden laki-laki sebanyak 29 responden
(43,9%).

6.3.3 Karakteristik responden terhadap dukungan keluarga


Tabel 6.3 Karakteristik Responden berdasarkan Dukungan Keluarga di
RS.Bhayangkara
Karakteristik Frekuensi (%)
Dukungan Keluarga
Tidak Ada dukungan 32 48.5
Ada Dukungan 34 51.5
Jumlah 66 100
Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa Hasil penelitian mengenai


distribusi dukungan keluarga dalam proses pengobatan responden adalah
terbanyak : ada dukungan sebanyak 34 responden (51.5%) sedangkan tidak
ada dukungan sebanyak 32 responden (48.5%).

6.3.4 Karakteristik responden terhadap derajat hipertensi


Tabel 6.4 Karakteristik Responden berdasarkan Derajat Hipertensi di
RS.Bhayangkara
Karakteristik Frekuensi (%)
Derajat Hipertensi

41
HT I 22 33.3
HT II 44 66.7
Jumlah 66 100
Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil penelitian mengenai


Distribusi derajat Hipertensi dalam penelitian ini yang terbanyak adalah
Hipertensi Grade II (HT II) sebanyak 44 responden (66,7%) sedangkan
Hipertensi Grade I (HT I) sebanyak 22 responden (33.3%).

6.3.3 Karakteristik Derajat Kepatuhan Minum Obat & Kontrol Tekanan


Darah
Tabel 6.5 Karakteristik Responden berdasarkan Derajat Kepatuhan di
RS.Bhayangkara
Karakteristik Frekuensi (%)
Derajat Kepatuhan
Tidak Patuh 28 42.4
Patuh 38 57.6
Jumlah 66 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil penelitian mengenai
derajat kepatuhan minum obat & kontrol tekanan darah didapatkan distribusi
terbanyak adalah Patuh sebanyak 38 responden (57.6%) sedangkan Tidak
patuh sebanyak 28 responden (42,4%).

6.4 Hasil Analisis Bivariat


Anilisis Bivariat bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel
independent dengan variabel dependen. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui
hubungan antara umur, jenis kelamin dan dukungan keluarga pasien hipertensi
non-komplikasi terhadap kepatuhan minum obat anti hipertensi di Poli Penyakit

42
Dalam RS. Bhayangkara Makassar. Pengujian hipotesis penelitian ini
menggunakan uji Chi Square. Pengujian data penelitian menggunakan bantuan
program SPSS versi 17.00 for window.
Syarat Uji Chi Square adalah sel yang mempunyai nilai expected kurang dari
5, maksimal 20% dari jumlah sel. Pada penelitian ini, setelah variable independen
yang terdiri dari umur, jenis kelamin dan dukungan keluarga terhadap variable
dependen Kepatuhan dimasukkan ke dalam diagram uji hipotesis tabel B x K,
terdapat 1 sel yang mempunyai nilai expected kurang dari 5, sehingga untuk umur
digunakan uji alternatif Fisher sedangkan jenis kelamin dan dukungan keluarga
tetap menggunakan uji hipotesis Chi Square dan telah memenuhi syarat.

6.4.1 Hubungan Umur terhadap Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi


Tabel 6.6 Hubungan Umur terhadap Kepatuhan Minum Obat di
RS.Bhayangkara

Kepatuhan Minum Obat

Umur Tidak Patuh Patuh Total Fisher


(Thn) <4 >4 p Value test

N % N % N %
< 45 1 1.5 8 12.1 9 13.6
0.041 0.067
≥45 27 40.9 30 45.5 57 86.4

Jumlah 28 42.4 38 57.6 66 100

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa didapatkan jumlah


responden yang patuh minum obat terbanyak yaitu umur ≥ 45 tahun sebanyak 30
orang (45.5%) sedangkan untuk umur <45 tahun jauh lebih rendah yaitu sebanyak
8 orang (12.1%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai p = 0.041 (p < 0.05)
akan tetapi ada 25% cells yang mempunyai nilai expected di bawah 5, sehingga
digunakan uji alternatif Fisher dengan nilai p 0.067 (p>0.05), berarti H0 diterima
dan Ha ditolak. Hal ini berarti tidak ada hubungan antara umur dengan kepatuhan
minum obat.

43
6.4.2 Hubungan Jenis Kelamin terhadap Kepatuhan Minum Obat
Antihipertensi
Tabel 6.7 Hubungan Jenis Kelamin terhadap Kepatuhan Minum Obat di
Bhayangkara

Kepatuhan Minum Obat


Tidak Patuh Patuh Total
Umur
<4 >4 p Value
N % N % N %
Perempuan 16 24.2 21 31.8 37 56.1
0.879
Laki-laki 12 18.2 17 25.8 29 43.9

Jumlah 28 42.4 38 57.6 66 100

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa didapatkan jumlah responden


yang patuh minum obat terbanyak yaitu perempuan sebanyak 16 orang (24.2%)
sedangkan Laki-laki sebanyak 12 orang (18.2%).Hasil uji statistik menunjukkan
bahwa nilai p = 0.879 (p > 0.05), berarti H 0 diterima dan Ha ditolak. Hal ini berarti
tidak ada pengaruh antara jenis kelamin responden terhadap kepatuhan minum
obat

6.4.3 Hubungan Dukungan Keluarga terhadap Kepatuhan Minum Obat

Tabel 6.8 Hubungan Dukungan Keluarga terhadap Kepatuhan Minum Obat


di RS.Bhayangkara

Kepatuhan Minum Obat


Tidak Patuh Patuh Total
Umur
<4 >4 p Value
N % N % N %
Dukungan
11 16.7 21 31.8 32 48.5
Kurang
0.199
Dukungan
17 25.8 17 25.8 34 51.5
Lebih

44
Jumlah 28 42.4 38 57.6 66 100

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa didapatkan jumlah responden


yang patuh minum obat terbanyak yaitu Adanya dukungan keluarga sebanyak 17
orang (25.8%) sedangkan Tidak ada dukungan dari keluarga sebanyak 11 orang
(16.7%).Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai p = 0.199 (p > 0.05), berarti
H0 diterima dan Ha ditolak. Hal ini berarti tidak ada pengaruh antara dukungan
keluarga responden terhadap kepatuhan minum obat.

45
BAB VII
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dari wawancara sesuai


dengan kuesioner di bagian Poli Penyakit Dalam di RS. Bhayangkara didapatkan
sampel sebanyak 66 responden. Karakteristik umur terbanyak pada usia ≥45 tahun
yakni sebanyak 57 responden (86,4%) dengan jenis kelamin yang terbanyak
adalah perempuan sebanyak 37 responden (56,1%), dengan dukungan keluarga
terbanyak adalah adanya dukungan sebesar 34 responden (51,5%), derajat
hipertensi terbanyak adalah Hipertensi Grade II sebanyak 44 responden (66.7%),
dengan kepatuhan minum obat yang terbanyak adalah 38 responden yang patuh
(57,6%). Sistematika pembahasan hasil penelitian ini dibagi menjadi pembahasan
mengenai keterbatasan penelitian dan pembahasan hasil penelitian.

7.4 Keterbatasan penelitian


Beberapa keterbatasan penelitian yang ada adalah sebagai berikut :
1. Keterbatasan waktu dan tenaga dari penelitian.
Dalam hal waktu peneliti mengalami kesulitan untuk mendapatkan
sampel yang lebih banyak karena waktu yang diberikan sangat
terbatas. Kemudian dalam hal tenaga, dalam penelitian ini
dilakukan secara individu sehingga penyusunan skripsi ini
dilakukan secara individu pula.
2. Keterbatasan kuesioner.
Peneliti belum menemukan standar baku kuesioner tentang
evaluasi kepatuhan hipertensi non komplikasi terhadap penggunaan
obat di RS.Bhayangkara sehingga kuesioner dibuat berdasarkan
pemahaman dari peneliti sendiri.

46
3. Keterbatasan melakukan pendekatan dengan responden
Dalam pengumpulan data,peneliti tidak dapat melakukan
pendekatan yang lebih mendalam karena waktu yang diberikan dari
pihak Rumah Sakit tempat penelitian cukup terbatas.

7.5 Hubungan antara umur dengan kepatuhan minum obat antihipertensi.


Berdasarkan hasil uji alternatif Fisher diperoleh nilai P = 0,067 (p > 0,05)
yang berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur dengan
kepatuhan meminum obat. Frekuensi umur yang patuh minum obat terbesar ≥ 45
tahun yaitu sebesar 30 orang (45,5%) dan menyatakan bahwa tidak terdapatnya
hubungan. Hal tersebut kemungkinan dikarenakan kebanyakan responden takut
akan efek samping obat ataupun malas meminum obat apabila tidak merasakan
gejala hipertensi.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Hilda tahun
2007 dengan sampel yang berjumlah 94 orang menunjukkan tidak adanya
hubungan antara usia dengan status kepatuhan diit hipertensi pada lansia dengan p
value = 0,357 dan penelitian yang dilakukan oleh Yuliarti tahun 2007 dengan
jumlah sampel 104 orang, menunjukkan tidak ada hubungan antara usia dengan
hipertensi pada usia lanjut dengan p value = 1,000
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang didapatkan
oleh Nandang Tisna pada tahun 2009 yaitu terdapat hubungan yang bermakna
antara usia dengan tingkat kepatuhan pasien dalm meminum obat antihipertensi.
Penelitain tersebut berjumlah 92 responden dengan p Value = 0,005.

7.6 Hubungan antara Jenis Kelamin dengan kepatuhan minum obat


antihipertensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terlihat sebagian besar responden
berjenis kelamin perempuan lebih banyak 56,1% disbanding laki-laki 43,9%. Bila
dihubungkan dengan kepatuhan minum obat antihipertensi menunjukkan
responden perempuan yang patuh sebanyak 31,8% disbanding laki-laki 25,8%.
Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa dimana kondisi kejadian

47
hipertensi biasanya lebih banyak laki-laki memiliki gaya hidup yang cenderung
meningkat tekanan darahnya, namun perempuan dewasa mempunyai prevalensi
hipertensi yang lebih tinggi daripada laki-laki hal ini umumnya disebabkan karena
perempuan mengalami kehamilan dan menggunakan alat kontrasepsi hormonal
(Karyadi 2002).
Berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh nilai P = 0,879 (p > 0,05) yang
berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan
kepatuhan meminum obat. Hasil penilitian ini sesuai dengan Hilda pada tahun
2007, menyatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin
dengan kepatuhan dengan sampel yang diteliti berjumlah 94 orang dengan nilai p
value = 0,245.

7.7 Hubungan antara dukungan keluraga dengan kepatuhan minum obat


antihipertensi.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa 32 responden (48,5%) dengan
dukungan kelurga kurang, terlihat bahwa 11 responden (16,7%) tidak patuh dan
21 responden (31,8%) yang patuh meminum obat antihipertensi. Sedangkan 34
responden dengan dukungan keluarga lebih, terlihat proporsi yang sama antara
responden yang patuh dan tidak patuh yaitu sebanyak 17 responden (25,8%).
Hasil uji statistic (Chi Square) didapatkan P Value = 0,199 sehingga dapat
disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara dukungan kelurga
dengan kepatuhan meminum obat antihipertensi. Hasil ini sangat bertolak
belakang dengan teori yang mengemukakan bahwa keluarga dapat menjadi faktor
yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan nilai kesehatan
individu serta dapat juga menemukan tentang program pengobatan yang dapat
mereka terima (Niven 2002).
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa lebih banyak responden yang
dukungan keluarga kurang dengan tingkat kepatuhan tinggi. Hal tersebut mungkin
disebabkan oleh faktor dukungan yang tinggi oleh dokter dan perawat di poli
Penyakit Dalam RS. Bhayangkara, namun faktor tersebut tidak diteliti.

48
BAB VIII

KESIMPULAN DAN SARAN

8.1 Kesimpulan
Penelitian Evaluasi kepatuhan hipertensi non hipertensi terhadap
pengunaan obat ini dilakukan di RS.Bhayangkara pada bulan Desember
2012 dengan responden yang didapatkan 66 orang penderita hipertensi non
komplikasi terhadap pengunaan obat yang diagnosis kliniknya oleh dokter
penyakit dalam,dari penelitian ini dapat disimpulkan :

8.1.1 Penderita hipertensi non komplikasi sebagian besar banyak terjadi pada
responden yang berumur ≥45 tahun dengan jenis kelamin perempuan
yang rata – rata mendapat dukungan dari keluarga untuk berobat teratur.
8.1.2 Tidak terdapat hubungan antara umur dengan kepatuhan minum obat pada
pasien hipertensi non komplikasi
8.1.3 Tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan minum
obat pada pasien hipertensi non komplikasi.
8.1.4 Tidak terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan
minum obat pada pasien hipertensi non komplikasi.

8.2 Saran

8.2.1 Bagi Peneliti Lain

Agar penelitian ini dapat diteruskan oleh peneliti lain dengan menambah
jumlah variabel dan jumlah sampel penelitian, sehingga lebih memperkuat
kepustakaan yang diambil.

49
8.2.2 Bagi Instansi Pemerintahan/RS. Bhayangkara
Perlu ditingkatkan mutu pelayanan kepada pasien hipertensi. Dan
memberikan intervensi pengobatan hipertensi agar pengobatan pasien
hipertensi tidak terputus.

8.2.3 Bagi Masyarakat


Untuk masyarakat yang sudah didiagnosis hipertensi agar rutin
memeriksakan tekanan darah dan meminum obat secara teratur dan tidak
terputus. Dikarenakan pengobatan hipertensi harus sampai seumur hidup.

50
BAB IX

PENUTUP

Penulis mengucapkan banyak Terima kasih kepada Ayahanda Dr.dr


A.Armyn Nurdin,M.S,c,BK selaku dosen pembimbing yang telah berkenan
membimbing dan memberi masukan kepada penulis dalam penelitian ini.Segenap
jajaran pimpinan dan staf RS.Bhayangkara atasa kerjasama dan bimbingannya
dalam penyusunan skripsi ini. Serta tim penguji dalam skripsi ini yang telah
membantu dalam proses penelitian dan memberikan banyak masukan kepada
penulis.

JANUARI,2013

PENULIS

ACHMAD FAUZY ABDULLAH

51
REFERENSI

1. Fisher Nomi, Williams Gordon. Hypertensive Vascular Diease. Harrison


Tinsley R, editor. Harrison’s Principle of Internal Medicine. 16th edition.
United Nations of America: McGraw-Hill. 2005. P.1463-80
2. Schwartz Gary L. Hypertension. Habermann Thomas, Ghosh K. Amit, editors.
Mayo Clinic Internal Medicine Concise Textbook. USA: Mayo Clinic
Scientific Press and Informa Healthcare USA, INC. 2008. P 429-64
3. Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation and Treatment of High Blood Pressure. U.S. Department Health
and Human Services. August. 2004
4. Camm AJ, BUnce N. Cardiovascular Disease. Kumar Parveen, Clark Micheal,
editors. Kumar & Klark’s Clinicak Medicine. Seventh Edition. UK: Saunders
Elsevier. 2005. p.798-804
5. Kowalak Jenifer, Cardiovascular System. Kowalak Jenifer, Cavallini Mario,
editors. Handbook of Pathopisiology. US: Springhouse Corporation.
2001.p.120-4
6. Hafrialdi. Antihipertensi. Gunawan Gan Sulistia, editor. Farmakologi dan
Terapi. Edisi 5. Jakarta: Departemen farmakologi dan Terapeutik Fakultas
Kedokteran Indonesia. 2007. h.341-60
7. Pranoto. 2007. Ilmu Kebidanan. Yogyakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
8. Sarafino. 2003. Dukungan Keluarga. Jakarta : Salemba Medika
9. Slamet B. 2007. Psikologi Umum. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
10. Degresi. 2005. Ilmu Perilaku Manusia. Jakarta : PT. Rineka Cipta
11. Niven. 2008. Psikologi Kesehatan : Pengantar Untuk Perawat Dan
Profesional. Jakarta : EGC

52
12. Notoatmodjo. 2007. Promosi Kesehatan Ilmu Dan Seni. Jakarta : Rineka Cipta
13. Azwar, 2007. Sikap Manusia dan Pengukurannya. Jakarta : PT. Rineka Cipta
14. Effendy. 2005. Keperawatan Keluarga. JAKARTA : EGC
15. nhouzhouzst.blogspot.com/2010/08/surah-al-araf-31/html
16. enkripsi.wordpress.com/2010/11/08/cara-sehat-menurut-agama-islam/

53
Skripsi Penelitian

EVALUASI KEPATUHAN PASIEN HIPERTENSI


NON KOMPLIKASI TERHADAP PENGGUNAAN OBAT
DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA

Oleh:

ACHMAD FAUZY ABDULLAH


10542 0149 09

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2013

54
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Skripsi, Januari 2013

Achmad Fauzy Abdullah


Armyn Nurdin

“EVALUASI KEPATUHAN PASIEN HIPERTENSI NON KOMPLIKASI


TERHADAP PENGGUNAAN OBAT DI RUMAH SAKIT
BHAYANGKARA”
( … + …Halaman + …Tabel + …Lampiran)

ABSTRAK

LATAR BELAKANG : Menurut data terakhir pada bulan Januari 2012, angka
kejadian hipertensi di Rumah Sakit Bhayangkara menempati peringkat 3 dari 10
besar penyakit yang ada di Rumah Sakit Bhayangkara.
TUJUAN PENELITIAN : Mengetahui hubungan antara kepatuhan pasien
penderita hipertensi non komplikasi terhadap pengunaan obat. Penelitian ini
dilaksanakan di Rumah Sakit Bhayangkara, Makassar pada tanggal 10 Desember
2012 – 10 Januari 2013.
METODE PENELITIAN : Rancangan penelitian ini menggunakan desain
“Cross Sectional Study”, dengan menggunakan data primer langsung dari
responden yang menderita hipertensi. Responden adalah semua penderita
hipertensi yang berobat di bagian Poli Penyakit Dalam RS. Bhayangkara dengan
jumlah responden 66 orang.
HASIL PENELITIAN : Hasil penelitian ini menggambarkan distribusi umur
terbanyak pada usia ≥45 tahun yakni sebanyak 57 responden (86,4%) dengan jenis
kelamin yang terbanyak adalah perempuan sebanyak 37 responden (56,1%),
dengan dukungan keluarga terbanyak adalah adanya dukungan sebesar 34
responden (51,5%), derajat hipertensi terbanyak adalah Hipertensi Grade II
sebanyak 44 responden (66.7%), dengan kepatuhan minum obat yang terbanyak
adalah 38 responden yang patuh (57,6%) dan secara statistik tidak terdapat
hubungan yang bermakna (>0,05).
KESIMPULAN : Tidak terdapat hubungan umur, jenis kelamin, dukungan
keluarga terhadap kepatuhan pasien hipertensi non komplikasi terhadap
penggunaan obat di RS. Bhayangkara.
KATA KUNCI : Kepatuhan pasien, hipertensi non komplikasi, penggunaan obat.

55
56