Anda di halaman 1dari 19

Laporan Kasus

KEJANG DEMAM SEDERHANA

Oleh :
dr. Tri Ratna Fauziah

Pembimbing :
dr. Ratna Willian

Peserta Program Internship Kedokteran Indonesia


Rumah Sakit Muhammadiyah Siti Khodijah Gurah
Kabupaten Kediri
Periode 25 Februari – 25 Juni 2021

1
LEMBAR PENGESAHAN

PORTOFOLIO KASUS

KEJANG DEMAM SEDERHANA

Mengetahui,
Pembimbing

dr. Bambang, Sp.A

Pembimbing Penulis

dr. Ratna Willian dr. Tri Ratna Fauziah

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kejang demam merupakan kejadian kejang pada anak usia lebih dari 1 bulan,
berhubungan dengan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38 C yang tidak disebabkan oleh
infeksi sistem saraf pusat (SSP), tanpa adanya riwayat kejang neonatal atau kejang
tanpa sebab sebelumnya, dan tidak memenuhi kriteria kejang simptomatik lainnya
(Syndi, 2013). Secara umum terdapat dua jenis kejang demam, yaitu kejang demam
sederhana (KDS) yang berlangsung kurang dari 15 menit, kejang bersifat umum, yang
mencakup hampir 80% kasus dan kejang demam kompleks (KDK) yang berlangsung
lebih dari 15 menit, fokal, dan multiple (lebih dari 1 kali kejang dalam 24 jam). Kejang
demam merupakan jenis kejang yang paling banyak terjadi pada anak, mengenai 2-5%
anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun dengan puncak onset antara usia 18-22 bulan.
Walaupun terjadi hanya beberapa menit, bagi orang tua rasanya sangat mencemaskan,
menakutkan dan terasa berlangsung sangat lama, jauh lebih lama dibanding yang
sebenarnya (Hardika, 2019).
Di Indonesia belum ada data mengenai insiden kejang demam. Beberapa rumah
sakit telah melaporkan jumlah temuan kasus kejang demam, seperti di Rumah Sakit
Umum (RSU) Bangli dari Januari-Desember 2007 sebanyak 47 kasus kejang demam,
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Kariadi Semarang pada Januari 2008-Maret
2009 mendapatkan 82 kasus , dan di Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan
Kita Jakarta dari tahun 2008- 2010 sebanyak 86 kasus (Hardika, 2019). Kejang demam
merupakan jenis kejang yang paling sering, biasanya merupakan kejadian tunggal dan
tidak berbahaya. Berdasarkan studi populasi, angka kejadian kejang demam di Amerika
Serikat dan Eropa 2–7%, sedangkan di Jepang 9–10%. Dua puluh satu persen kejang
demam durasinya kurang dari 1 jam, 57% terjadi antara 1-24 jam berlangsungnya

demam, dan 22% lebih dari 24 jam.2 Sekitar 30% pasien akan mengalami kejang
demam berulang dan kemudian me- ningkat menjadi 50% jika kejang pertama terjadi
usia kurang dari 1 tahun. Sejumlah 9–35% kejang demam pertama kali adalah
kompleks, 25% kejang demam kompleks tersebut berkembang ke arah epilepsi (Arief,
2015).

3
Prognosis kejang demam umumnya baik, bangkitan kejang demam dapat
membawa kekhawatiran yang sangat besar bagi orang tuanya. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa kejadian berulangnya kejang demam pada anak berhubungan
dengan riwayat keluarga dengan kejang demam, usia saat kejang demam pertama, suhu
rendah saat kejang demam pertama, jarak antara munculnya kejang dengan onset
demam, atau terdapat kejang demam kompleks (Hardika, 2019). Namun demikian,
sebagian besar kejang demam tidak mempengaruhi kesehatan jangka panjang. Kejang
demam merupakan kedaruratan medis yang memerlukan pertolongan segera. Diagnosis
secara dini serta pengelolaan yang tepat sangat diperlukan untuk menghindari cacat
yang lebih parah, yang diakibatkan bangkitan kejang yang sering.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Kejang Demam


Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada anak berumur 6 bulan

sampai 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh (suhu di atas 38 0C, dengan
metode pengukuran suhu apa pun) yang tidak disebabkan oleh proses intracranial.
Kejang terjadi karena kenaikan suhu tubuh, bukan karena gangguan elektrolit atau
metabolik lainnya. Bila ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya maka tidak
disebut sebagai kejang demam. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan mengalami
kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain, terutama infeksi susunan saraf
pusat. Bayi berusia kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam rekomendasi ini
melainkan termasuk dalam kejang neonatus (Ismael dkk, 2016).

B. Patofisiologi Kejang Demam


Peningkatan temperatur dalam otak berpengaruh terhadap perubahan letupan
aktivitas neuronal. Perubahan temperatur tersebut menghasilkan sitokin yang
merupakan pirogen endogen, jumlah sitokin akan meningkat seiring kejadian demam
dan respons inflamasi akut. Respons terhadap demam biasanya dihubungkan dengan
interleukin-1 (IL-1) yang merupakan pirogen endogen atau lipopolisakarida (LPS)
dinding bakteri gram negatif sebagai pirogen eksogen. LPS menstimulus makrofag yang
akan memproduksi pro- dan anti-inflamasi sitokin tumor necrosis factoralpha (TNF-α),
IL-6, interleukin1 receptor antagonist (IL- 1ra), dan prostaglandin E2 (PGE2). Reaksi
sitokin ini mungkin melalui sel endotelial circumventricular akan menstimulus enzim
cyclooxygenase2 (COX-2) yang akan meng- katalis konversi asam arakidonat menjadi
PGE2 yang kemudian menstimulus pusat termoregulasi di hipotalamus, sehingga terjadi
kenaikan suhu tubuh. Demam juga akan meningkatkan sintesis sitokin di hipokampus.
Pirogen endogen, yakni interleukin 1ß, akan meningkatkan eksitabilitas neuronal
(glutamatergic) dan menghambat GABA ergic, peningkatan eksitabilitas neuronal ini
yang menimbulkan kejang (Arief, 2015).
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 10 celsius akan mengakibatkan kenaikan
metabolism basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada anak

5
usia 3 tahun, sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan pada orang
dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi
perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat
terjadi difusi dari ion K+ maupun ion Na+ melalui membran tersebut, dengan akibat
akan terjadi lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga
dapat meluas ke seluruh sel maupun ke sel-sel tetangga melalui bantuan
neurotransmitter dan terjadilah kejang (Irdawati, 2009). Tiap anak memiliki ambang
kejang yang berbeda, tergantung dari ambang kejang yang dimilikinya, seorang anak
menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak yang memiliki ambang kejang
rendah, kejang dapat terjadi pada suhu 38 0 C dan pada anak yang memiliki batas
ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 400 C atau lebih. Berdasarkan
hal ini dapat disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering tejadi pada
ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan
pada suhu berapa penderita kejang (Erwika, 2014).

C. Klasifikasi Kejang Demam


1. Kejang demam sederhana (simple febrile seizure)
2. Kejang demam kompleks (complex febrile seizure)
a. Kejang demam sederhana
Kejang demam yang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit), bentuk
kejang umum (tonik dan atau klonik), serta tidak berulang dalam waktu 24 jam.
Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara seluruh kejang demam.
Sebagian besar kejang demam sederhana berlangsung kurang dari 5 menit dan
berhenti sendiri (Ismael dkk, 2016).
b. Kejang demam kompleks
Kejang demam dengan salah satu ciri yaitu kejang lama (>15 menit),
kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial.
Berulang atau lebih dari 1 kali dalam waktu 24 jam. Kejang lama adalah kejang
yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan
di antara bangkitan kejang anak tidak sadar. Kejang lama terjadi pada 8% kejang
demam. Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum yang
didahului kejang parsial. Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam
1 hari, dan di antara 2 bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi
pada 16% anak yang mengalami kejang demam (Ismael dkk, 2016).
6
D. Penegakan Diagnosis
1. Anamnesis
a. Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang
b. Suhu sebelum/saat kejang, frekuensi dalam 24 jam, interval, keadaan anak pasca
kejang, penyebab demam di luar infeksi susunan saraf pusat (gejala infeksi
saluran napas akut/ISPA, infeksi saluran kemih/ISK, otitis media akut/OMA,
dll)
c. Riwayat perkembangan, Riwayat kejang demam, dan epilepsi dalam keluarga
d. Singkirkan penyebab kejang yang lain (misalnya diare/muntah yang
mengakibatkan gangguan elektrolit, sesak yang mengakibatkan hipoksemia,
asupan kurang yang menyebabkan hipoglikemia) (IDAI, 2009).
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kesadaran: apakah terdapat penurunan kesadaran, Suhu tubuh: apakah terdapat
demam
b. Tanda rangsang meningeal: Kaku kuduk, Bruzinski I dan II, Kernique, Laseque
c. Pemeriksaan nervus kranial
d. Tanda peningkatan tekanan intracranial: ubun ubun besar (UUB) membonjol,
papil edema
e. Tanda infeksi di luar SSP: ISPA, OMA, ISK, dll
f. Pemeriksaan neurologi: tonus, mototrik, reflex fisiologi, reflex patologis (IDAI,
2009).
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium darah
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang
demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab
demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan atas indikasi misalnya
darah perifer, elektrolit, dan gula darah (Ismael dkk, 2016)..
b. Pungsi Lumbal
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau
menyingkirkan kemungkinan meningitis. Berdasarkan bukti-bukti terbaru, saat
ini pemeriksaan pungsi lumbal tidak dilakukan secara rutin pada anak berusia
<12 bulan yang mengalami kejang demam sederhana dengan keadaan umum
baik. Dengan indikasi (Ismael dkk, 2016).:

7
1) Terdapat tanda dan gejala rangsang meningeal
2) Terdapat kecurigaan adanya infeksi SSP berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan klinis
3) Dipertimbangkan pada anak dengan kejang disertai demam yang
sebelumnya telah mendapat antibiotik dan pemberian antibiotik tersebut
dapat mengaburkan tanda dan gejala meningitis.
c. EEG
Pemeriksaan EEG tidak diperlukan untuk kejang demam, kecuali apabila
bangkitan bersifat fokal. EEG hanya dilakukan pada kejang fokal untuk
menentukan adanya fokus kejang di otak yang membutuhkan evaluasi lebih
lanjut (Ismael dkk, 2016)..
d. Pencitraan
Pemeriksaan neuroimaging (CT scan atau MRI kepala) tidak rutin
dilakukan pada anak dengan kejang demam sederhana. Pemeriksaan tersebut
dilakukan bila terdapat indikasi, seperti kelainan neurologis fokal yang menetap,
misalnya hemiparesis atau paresis nervus kranialis (Ismael dkk, 2016).

E. Penatalaksaan Kejang Demam


1. Antikonvulsan
Pada umumnya kejang berlangsung singkat (rerata 4 menit) dan pada waktu
pasien datang, kejang sudah berhenti. Apabila saat pasien datang dalam keadaan kejang,
obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam intravena. Dosis
diazepam intravena adalah 0,2-0,5 mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 2 mg/menit
atau dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 10 mg. Secara umum,
penatalaksanaan kejang akut mengikuti algoritma kejang pada umumnya.
Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orangtua di rumah
(prehospital)adalah diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kg atau
diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 12 kg dan 10 mg
untuk berat badan lebih dari 12 kg. Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang
belum berhenti, dapat diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval
waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali pemberian diazepam rektal masih tetap kejang,
dianjurkan ke rumah sakit. Di rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena. Jika
kejang masih berlanjut, lihat algoritme tatalaksana status epilepticus (Ismael dkk, 2016).
a. Profilaksis antikonvulsan intermiten
8
Yang dimaksud dengan obat antikonvulsan intermiten adalah obat antikonvulsan
yang diberikan hanya pada saat demam. Profilaksis intermiten diberikan pada
kejang demam dengan salah satu faktor risiko di bawah ini:
1) Kelainan neurologis berat, misalnya palsi serebral
2) Berulang 4 kali atau lebih dalam setahun
3) Usia <6 bulan
4) Bila kejang terjadi pada suhu tubuh kurang dari 39 derajat Celsius
5) Apabila pada episode kejang demam sebelumnya, suhu tubuh meningkat
dengan cepat.

Obat yang digunakan adalah diazepam oral 0,3 mg/kg/kali per oral atau rektal
0,5 mg/kg/kali (5 mg untuk berat badan <12 kg dan 10 mg untuk berat badan >12
kg), sebanyak 3 kali sehari, dengan dosis maksimum diazepam 7,5 mg/kali.
Diazepam intermiten diberikan selama 48 jam pertama demam. Perlu
diinformasikan pada orangtua bahwa dosis tersebut cukup tinggi dan dapat
menyebabkan ataksia, iritabilitas, serta sedasi.

b. Profilaksis antikonvulsan rumatan


Berdasarkan bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak berbahaya dan
penggunaan obat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan, maka
pengobatan rumat hanya diberikan terhadap kasus selektif dan dalam jangka
pendek. Indikasi pengobatan rumat:
1) Kejang fokal
2) Kejang lama >15 menit
3) Terdapat kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang,
misalnya palsi serebral, hidrosefalus, hemiparesis. Kelainan neurologis tidak
nyata misalnya keterlambatan perkembangan, bukan merupakan indikasi
pengobatan rumatan.
4) Pada anak dengan kelainan neurologis berat dapat diberikan edukasi untuk
pemberian terapi profilaksis intermiten terlebih dahulu, jika tidak
berhasil/orangtua khawatir dapat diberikan terapi antikonvulsan rumat.

Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam
menurunkan risiko berulangnya kejang. Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat
menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada 40-50% kasus. Obat

9
pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada sebagian kecil kasus, terutama yang
berumur kurang dari 2 tahun, asam valproat dapat menyebabkan gangguan fungsi
hati. Dosis asam valproat adalah 15-40 mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis, dan
fenobarbital 3-4 mg/kg/hari dalam 1-2 dosis. Pengobatan diberikan selama 1 tahun,
penghentian pengobatan rumat untuk kejang demam tidak membutuhkan tapering
off, namun dilakukan pada saat anak tidak sedang demam (Ismael dkk, 2016).

2. Anitipiretik
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko
terjadinya kejang demam. Meskipun demikian, dokter neurologi anak di Indonesia
sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan. Dosis parasetamol yang digunakan
adalah 10-15 mg/kg/kali diberikan tiap 4-6 jam. Dosis ibuprofen 5-10 mg/kg/kali, 3-
4 kali sehari (Ismael dkk, 2016).

F. Prognosis
1. Kecatatan atau kelainan neurologis
Prognosis kejang demam secara umum sangat baik. Kejadian kecacatan sebagai
komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan. Perkembangan mental dan
neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya normal. Kelainan
neurologis dapat terjadi pada kasus kejang lama atau kejang berulang, baik umum
maupun fokal. Suatu studi melaporkan terdapat gangguan recognition memory pada
anak yang mengalami kejang lama. Hal tersebut menegaskan pentingnya terminasi
kejang demam yang berpotensi menjadi kejang lama (Ismael dkk, 2016).
2. Kemungkinan berulangnya kejang demam
Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko
berulangnya kejang demam adalah:
a. Riwayat kejang demam atau epilepsi dalam keluarga
b. Usia kurang dari 12 bulan
c. Suhu tubuh kurang dari 39 derajat Celsius saat kejang
d. Interval waktu yang singkat antara awitan demam dengan terjadinya kejang.
e. Apabila kejang demam pertama merupakan kejang demam kompleks.

Bila seluruh faktor tersebut di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang


demam adalah 80%, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan

10
berulangnya kejang demam hanya 10-15%. Kemungkinan berulangnya kejang
demam paling besar pada tahun pertama (Ismael dkk, 2016).

3. Faktor risiko terjadinya epilepsi


a. Terdapat kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang
demam pertama
b. Kejang demam kompleks
c. Riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara kandung
d. Kejang demam sederhana yang berulang 4 episode atau lebih dalam satu tahun.

Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi


sampai 4-6%, kombinasi dari faktor risiko tersebut akan meningkatkan
kemungkinan epilepsi menjadi 10-49%. Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat
dicegah dengan pemberian obat rumatan pada kejang demam (Ismael dkk, 2016).

4. Kematian
Kematian langsung karena kejang demam tidak pernah dilaporkan. Angka
kematian pada kelompok anak yang mengalami kejang demam sederhana dengan
perkembangan normal dilaporkan sama dengan populasi umum (Ismael dkk, 2016).

G. Edukasi Kepada Orang Tua


Kejang merupakan peristiwa yang menakutkan bagi setiap orangtua. Pada saat
kejang, sebagian besar orangtua beranggapan bahwa anaknya akan meninggal.
Kecemasan tersebut harus dikurangi dengan cara diantaranya:
1. Meyakinkan orangtua bahwa kejang demam umumya mempunyai prognosis baik.
2. Memberitahukan cara penanganan kejang.
3. Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali.
4. Pemberian obat profilaksis untuk mencegah berulangnya kejang memang efektif,
tetapi harus diingat adanya efek samping obat (Ismael dkk, 2016).

11
BAB 3
STATUS PASIEN

A. Identitas Pasien
Nama : An. HM
Alamat : Jl. Pamenang RT01/RW01
Umur : 2 tahun 25 hari
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Tanggal masuk RS : 07 Maret 2021 pukul 12.00 WIB
Tanggal periksa : 07 Maret 2021 pukul 12.05 WIB
No. RM : 099042

B. Anamnesis
Alloanamnesis

Keluhan utama
Kejang

Riwayat penyakit sekarang


Pasien datang dibawa oleh orang tua dengan keluhan kejang sejak 30 menit
SMRS. Kejang dialami 1x dirumah dengan durasi kejang selama 3 menit, mata
mendelik keatas, badan tangan dan kaki kaku. Saat kejang pasien tidak sadar, sebelum
dan setelah kejang pasien menangis. Keluhan kejang disertai dengan demam, demam
dirasakan sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien sempat mengalami batuk dan
pilek sebelum demam. Pasien sudah sempat minum obat paracetamol namun demam
belum turun. Keluhan batuk dan pilek saat ini sudah tidak dirasakan, keluhan lain
seperti mual, muntah disangkal. BAK terakhir 4 jam SMRS, BAB 7 jam SMRS

Riwayat penyakit dahulu


Pasien memiliki Riwayat kejang demam 5 bulan yang lalu dan membaik setelah dibawa
ke Rumah Sakit.

12
Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada keluarga yang memiliki riwayat sakit serupa dengan pasien.

Riwayat pekerjaan, sosial, ekonomi, dan kebiasaan


Tinggal dengan ayah, ibu, 2 saudara kandung, dan kakek, nenek. Rumah terdiri dari 4
kamar tidur, 2 kamar mandi, lantai keramik, berdinding tembok, ventilasi cukup,
penerangan cukup. Pendapatan dirahasiakan. Kesan sosial-ekonomi menengah ke atas

Riwayat Pribadi
1. Prenatal
G1P2A0 usia 30 tahun, usia kehamilan 39 minggu, ibu ANC rutin di bidan dan
posyandu, Riw. HT gestasional (-), Riw. DM gestasional (-), Riw. Infeksi saat
hamil (-), Riw. Trauma (-)
2. Natal
Lahir di Bidan, lahir Spontan langsung menangis dengan BBL : 3800 gram dan
PBL : 49 cm
3. Post-natal
Riwayat hiperbilirubinemia (-), Riwayat kejang (-), Riwayat trauma (-), Riwayat
sianosis (-).
Kesimpulan : Riwayat kehamilan dan persalinan baik

Riwayat Imunisasi

Jenis I II III IV Booster


BCG 1 bulan - - -
DPT 2 bulan 3 bulan 4 bulan - -
Polio 2 hari 2 bulan 3 bulan 4 bulan -
Campak 9 bulan - - - -
Hepatitis B Lahir 2 bulan 3 bulan -
Kesan: imunisasi dasar dilakukan sesuai usia

13
C. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : lemah, kesan gizi baik
Kesadaran : compos mentis
GCS : E4 V5 M6
Nadi : 105x/menit
Suhu : 38,2 0C
Pernapasan : 20x/menit
Panjang badan : 87 cm
Berat badan : 14 kg
BB/U : 0,92 (-2 s/d +2 SD BB Normal)
TB/U : -0,44 (-2 s/d +2 SD Normal)
BB/TB : 1,2 (-2 s/d +2 SD Normal)
Kesimpulan : Status gizi baik, perawakan medium

Pemeriksaan Fisik
Kepala Leher
Kepala : normocephal, rambut hitam, terdistribusi merata, tidak mudah dicabut
Konjunctiva : anemis (-/-)
Sclera : tidak ikterik
Pupil : bulat, isokor, diameter 3mm/3mm, reflex cahaya +/+
Telinga : tidak ada kelainan
Hidung : nafas cuping hidung (-)
Mulut : sianosis (-), lidah kotor (-).
Leher : pembesaran KGB (-), JVP tidak meningkat, tidak ada deviasi trakea,
krepitasi (-)
Thoraks
Paru
Inspeksi : simetris
Statis : normochest, barrel chest (-), venaektasi (-)
Dinamis : gerakan dinding dada kanan dan kiri simetris, penggunaan otot nafas
tambahan (-/-), retraksi dinding dada (-/-)
Palpasi : fremitus vokal kanan dan kiri sama
Perkusi : sonor di lapangan paru kanan dan kiri
Auskultasi : vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
14
Jantung
Inspeksi : iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : iktus cordis teraba di ICS V linea midclavicularis sinistra
Perkusi
Batas jantung kanan: ICS IV linea parasternalis dextra
Batas jantung kiri: ICSV linea midclavicularis sinistra
Auskultasi : S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : perut tampak datar, caput medusa (-), vena kolateral (-)
Auskultasi : bising usus (+), normal
Palpasi : soepel, nyeri tekan epigastrium (-), hepatomegali (-), splenomegali (-)
Perkusi : timpani di seluruh lapangan abdomen
Ekstremitas
Atas : ekstremitas teraba hangat, pitting edema (-/-), CRT < 2 detik
Bawah : ekstremitas teraba hangat, pitting edema (-/-), CRT < 2 detik,

Status Neurologis
GCS : E4V5M6
Kaku kuduk :-
Laseque : >70° / >70°
Brudzinski I :-/-
Kernig : >135° / >135°
Brudzinski II :-/-
Nervus Kranialis
Nervus I dan II : sulit dievaluasi
Nervus V : sulit dievaluasi
Nervus III, IV, dan VI : mata dapat digerakkan ke segala arah
Nervus VII : parese (-)
Nervus VIII : sulit dievaluasi
Nervus IX dan X : sulit dievaluasi
Nervus XI : sulit dievaluasi
Nervus XI : atrofi lidah(-), tremor(-), deviasi(-)
Kekuatan Motorik : kesan baik 5/5/5/5
Sensorik dan Otonom : kesan baik
15
Reflek fisiologis bisep, tricep, achiles, patella ++/++
Refleks patologis
Babinski : -/-
Chaddock : -/-
Oppenheim : -/-
Kesan: status neurologis dalam batas normal

D. Pemeriksaan penunjang
Hematologi (10 Maret 2021)
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
Darah Lengkap
Hemoglobin 12,1 g/dl 13,5-16,1
Lekosit 5.700 sel/mm3 3.500-10.000
LED mm/jam 0-10
Hitung Jenis
-Eosinophils 0,2 % 0-5

-Basophils 0,2 % 0-1

-Neutrofil 70,9 % 50-70

-Limfosit 20,6 % 20-40

-Monocyte 8,1 % 3-8

Hematokrit 35,7 % 40-52

Trombosit 173.000 sel/mm3 150.000-450.000

Eritrosit 4.480.000 sel/mm3 3.5-5.5 juta

Retikulosit
79,8 fl 81.1-96
MCV
27,0 pikogram 27-31.2
MCH
33,9 g/dl 31.8-36.4
MCHC
1.170 /ul 800-4000
ALC
3,5 Up to 3,13
NLR

Rapid test (10 Maret 2021)


Parameter Hasil Nilai Rujukan
nCoV IgG/IgM IgM non reaktif, IgG reaktif NON REAKTIF

16
E. Diagnosis kerja
Kejang Demam Sederhana

F. Penatalaksanaan di IGD
Infus Kaen 3B 12 tpm
Inj. Valisanbe 4 mg (ekstra) bila kejang
Inj. Cortidex 3x2mg
PO. Sanmol syrup 3xcth1
Alih rawat Sp.A

G. Follow up
Follow up I (8 Maret 2021)
S O A P
Demam sudah KU: CM Kejang Demam Inf. KAEN 3B 12
berkurang, tidak Nadi 100x/min Sederhana tpm
ada kejang Tax 36,7 Inj.
ulangan RR 20x/min Dexamethasone 3 x
C/P S1S2 reguler ½
Rh-/-, wh-/- Inj. Diazepam
Abd : BU(+) normal, 2x6mg
tympani, soepel PO. Sanmol Syr
Ext: akral hangat (+) 3x1 ½ cth
PO. Diazepam
3x1,5mg

Follow up II (9 Maret 2021)


S O A P
Demam (-), KU: CM Kejang Demam Obat pulang:
kejang (-), Nadi 90x/min Sederhana PO. Nufit 1x1
pasien rencana Tax 36,5 PO. Diazepam
pulang hari ini RR 20x/min 3x1mg
C/P S1S2 reguler
Rh-/-, wh-/-
Abd : BU(+) normal,
tympani, soepel
Ext: akral hangat (+)

17
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
(suhu rectal > 38 0
C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Kejang demam
merupakan kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada anak, terutama umur
6 bulan hingga 5 tahun. Hampir 3% anak dibawah 5 tahun pernah menderita kejang
demam.
Pada kasus pasien adalah anak laki – laki berusia 2 tahun 25 hari dengan berat
badan 14 kg, yang datang dibawa oleh orang tua dengan keluhan kejang sejak 30 menit
SMRS. Kejang dialami 1x dirumah dengan durasi kejang selama 3 menit, mata
mendelik keatas, badan tangan dan kaki kaku. Saat kejang pasien tidak sadar, sebelum
dan setelah kejang pasien menangis. Keluhan kejang disertai dengan demam, demam
dirasakan sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien sempat mengalami batuk dan
pilek sebelum demam. Pasien sudah sempat minum obat paracetamol namun demam
belum turun. Keluhan batuk dan pilek saat ini sudah tidak dirasakan, keluhan lain
seperti mual, muntah disangkal. BAK terakhir 4 jam SMRS, BAB 7 jam SMRS.
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik mengarah ke diagnosis kejang demam
sederhana dimana demam di provokasi oleh riwayat infeksi saluran pernafasan. Untuk
penanganan awal pada pasien ini diberikan terapi pendukung berupa Inj. Valisanbe 4
mg (ekstra) untuk menurunkan resiko kejang diberikan dan PO. Sanmol syrup 3xcth1
untuk keluhan demam. Pasien diobservasi keluhan subyektif, suhu, nadi, RR, kejang,
pupil, akralnya. Selama di rawat, pasien tidak mengalami kejang yang berulang,
sehingga prognosisnya adalah bonam.

18
DAFTAR PUSTAKA

Arief, RF. 2015. Penatalaksanaan Kejang Demam Dokter Umum Di Rumah Sakit Islam
Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Indonesia. Continuing Medical Education. Cdk-232/
Vol. 42 No. 9, Th. 2015.
Behrman, Richard E, Robert M. Kliegman. Hal B Jenson. 2007. Nelson Ilmu Kesehatan
Anak. Kejang Demam. Edisi 18. EGC. Jakarta.
Erwika A. 2014. Therapy Management Of Simple Febrile Seizure With Hyperpirexia In
Three Years Old Child. Faculty Of Medicine, University Of Lampung.
Iradawati. 2009. Kejang Demam dan Penatalaksanaannya Berita Ilmu Keperawatan ISSN
1979-2697, Vol 2 No.3, September 2009: 143-146.
Ismael, S. Pusponegoro HD, Widodo DP,. 2016.Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Unit Kerja Koordinasi Neurologi
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Ed: Badan Penerbit IDAI.
Syndi Sd, Pellock Jm. 2013. Recent Research On Febrile Seizures. Journal Of Neurology
& Neurophysiology. 2013; 4(165): 1-13.

19