Anda di halaman 1dari 4

1.

LATAR BELAKANG
Angka infeksi daerah operasi (IDO) semakin meningkat setiap saat. Penyebab
IDO terutama munculnya infeksi akibat E. coli (ESBL+) dan Klebsiella pneumonia
(ESBL-). Penelitian di 6 rumah sakit pendidikan di Indonesia didapatkan prevalensi
bakteri penghasil enzyme Extended Spectrum Beta-lactamase berkisar 30-70% (E. coli
dan Klensiella pneumonia) (surveillance PPRA, Balitbangkes, WHO 2013). Bakteri
penghasil ESBL, sudah resisten terhadap antibiotic cephalosporin generasi I-IV.
Peningkatan prevalensi bakteri resisten ini dipicu karena penggunaan antibiotic golongan
cephalosporin dan quinolone dan dipercepat perkembangannya yang dikenal dengan
mekanisme “selective pressure). Biaya yang dikeluarkanuntuk menangani komplikasi
operasi sangat bervariasi, the American College of Obstetricians dan Gynecologists di
USA melaporkan rata0rata lebih dari $ 10.000 da apabila penggunaan antibiotic
profilaksis dilakukan dengan benar, maka angka IDO dapat berkurang hingga 65%
(Wright et al, 2013)
Kumpulan data WHO 2016, IDO dari Negara Low Middle income berkisar 1,2-
23,6% (rata-rata 11,8%). Surveillance of SSI in Europe 2010-2011 didapatkan distribusi:
Procedures %
Colon surgery 9.5
Coronary bypass 3.5
Cesarean section 2.9
Cholcystectomy 1.4
Hip prosthesis 1.0
Laminectomy 0.8
Knee prosthesis 0.75

Antibiotic digunakan sebagai terapi pada pengobatan kasus infeksi bakteri dan
keperluan profilaksis. Pada penggunaan untuk pencegahan komplikasi IDO, dikenal
sebagai pemberian profilaksis yang secara luas telah dilaksanakan sejak lama. Pemberian
antibiotic profilaksis masih banyak kesimpangasiuran terutama jenis dan lama
pemberiaannya.
Definisi antibiotic profilaksis adalah antibiotic yang diberikan sebelum, saat dan
setelah operasi untuk mencegah terjadinya komplikasi infeksi (IDO) (SIGN 2014).

2. TUJUAN
a. Memahami berbagai jenis IDO
b. Memahami prinsip pemberian antibiotic prilaksis
c. Mengetahui fungsi antibiotic profilaksis
d. Mengetahui indikasi pemberian antibiotic profilaksis
e. Mengenal factor risiko terjadinya IDO
f. Mengenal berbagai jenis antibiotic untuk profilaksis
g. Memahami regimen dosis antibiotic profilaksis
3. MEMAHAMI JENIS IDO
a. Superficial, infeksi terjadi dalam 30 hari pasca operasi. Meliputi jaringan subkutis.
Dengan tanda, nyeri, hangat, kemerahan, edema, keluar cairan atau pus.
b. Deep, infeksi terjadi 30-90 hari, meliputi jaringan subkutis sampai lapisan otot dan
fascia. Tidak ada hubungan dengan rongga di bawahnya (termasuk burst abdomen).
c. Organ space/ abces, terjadi 30-90 hari pasca operasi yang menyangkut infeksi organ
dibawah dinding rongga. Terjadi lubang atau hubungan antara organ, rongga dan
dinding otot, fascia atau kulit (Horan et al, 1992; Sing et al. 2014).

4. PRINSIP PEMBERIAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS


Antibiotik diberikan sebelum operasi, sehingga saat insisi dimulai, jaringan target operasi
sudah terpapar oleh antibiotic dalam kadar yang diharapkan untuk menghambat
kolonisasi atau berkembangnya bakteri yang masuk dalam jaringan target saat operasi
berlangsung. Antibiotic profilaksis tidak bertujuan sterilisasi jaringan target. Berbeda
dengan antibiotic terapi, tujuannya adalah mematikan dan menghilangkan bakteri pada
jaringan tertentu yang mengalami infeksi. Pada profilaksis bakteri akan dimatikan oleh
system immunitas innate tubuh, sehingga pada profilaksis hanya diperlukan antibiotic
berkekuatan rendah, sepert halnya sefalosporin generasi I-II. Antibiotic harus mampu
menjangkau dan terdistribusi di daerah target operasi dengna cepat mencapai kadar yang
diharapkan, efektif dan aman (Eyk et al/SOGC 2012).

5. FUNGSI ANTIBIOTIK PROFILAKSIS


Mencegah terjadinya komplikasi infeksi pasca operasi dengan segala konsekuensinya,
seperti: meningkatnya ALOS, biaya perawatan dan tindakan mengatasi komplikasi,
menurunnya kemampuan inerja saat mengalami atau pasca komplikasi srta mortalias
(SIGN 2014; Eyk et al/SOGC 2012).

6. INDIKASI
Indikasi antibiotic profilaksis digunakan pada prosedur operasi golongan bersih dan
bersih terkontaminasi serta tidak didapatkan tanda infeksi secara klinis (SIGN 2014;Eyk
et al/SOGC 2012)
Golongan Batasan
Bersih/ clean Operasi dilakukan pada pasien yang
secara klinis tidak didapatkan tanda
infesksi, inflmasi. Tidak melibatkan
traktus respiratorius, penceraan, genetalia-
urinarius.
Bersih-kontaminasi/ Clean Contaminated Operasi dilakukan pada pasien yang
secara klinis tidak didapatkan tanda
infeksi/inflamasi. Prosedur melibatkan
traktus respiratorius, pencernaan,
genetalia-urinarius. Dengan tumpahan
cairan yang tidak signifikan.

Pada operasi bersih yang tidak memasuki rongga tubuh dapat dipertimbangkan
tanpa pemberian antibiotic, seperti operasi fibro adenoma mammae, struma, soft tissue
tumor, sirkumsisi.
Operasi termasuk kategori bersih-terkontaminasi meliputi dibidang obstetric-
ginekologi, bedah digestif, orthopedic, thoraks kardio-vaskuler, onkologi dan lain lain.
Sehingga pada umumnya diberikan antibiotic profilaksis untuk mencegah komplikasi
infeksi.
7. FAKTOR RISIKO IDO
Factor risiko terjadinya IDO sangat tergantung dari multi factor sehingga bias dibagi 2
kelompok:
a. Factor pasien
- Usia ekstrem: terlalu kecil atau terlalu tua (>65 tahun)
- Kondisi nutrisi buruk
- Obesitas
- Perokok
- Sedang menderita infeksi ditempat lain
- Immunokompromise (SLE, DM, HIV-AIDS, Konsumsi steroid)
- Perawatan lama pre-post operasi
b. Factor terkait prosedur
- Prosedur cuci tangan
- Antiseptic daerah operasi
- Cukur/shaving
- Lama operasi
- Antibiotic profilaksis
- Kondisi kamar operasi
- Kerusakan jaringan saat operasi
- Pemasangan drain
- Hipotermia saat dan post operasi
ASA SCORE, The American Society of Anesthesiologist tahun 1963, telah
menetapkan skoring untuk mempredeksi keadaan pasien pre-operasi berdasarkan
temuan komorbiditas, skore >2 menunjukkan risiko peningkatan komplikasi termasuk
IDO (ASA 1963; Culver et al 1993).
ASA Score
1 Pasien normal dan sehat
2 Pasien dengan kondisi sakit ringan
3 Pasien dengan sakit berat, gerakan terbatas
4 Pasien dengan sakit berat, immobilisasi, ada amcaman kematian
5 Pasien dalam keadaan sakit berat yang tidak ada jaminan keselamatan
dalam 24 jam meskipun dioperasi atau tidak
8. JENIS ANTIBIOTIK PROFILKASIS
Antibiotik profilkasis telah dibuktikan dapat menurunkan kejadian IDO, tetapi
penggunaan antibiotic yang tidak tepat justru berpotensi meningkatkan kejadian IDO.
Pilihan jenis antibiotic untuk keperluan profilaksis diharapkan dapat membunuh bakteri
yang terlibat pada daerah operasi atau jaringan yang terpapar selama prosedur. Banyak
penelitian, antibiotic tidak perlu mematikan bakteri yang terlibat, tetapi cukup berguna
untuk mencegah kolonisasi saja. Selanjutnya sisem kekebalan tubuh akan melakukan
eliminasi bakteri tersebut. Tindakan yang perlu dilakukan untuk meminimalkan paparan
bakteri sebelum, selama dan sesudah operasi sebaiknya dilakukan dengan standar.
Semua jenis operasi bersih dan bersih-terkontaminasi ang berisiko terjadi IDO,
memerlukan antibiotic cephalosporin golongan I-II, Cefazolin atau Cefuroxim. Waktu
paruh >90 menit, kompatibel dengan semua obat anestesi dan dapat melindungi terhadap
sebagian besar bakteri permukaan penyebab IDO (Delinger et al 2001; Bratzler et al
2003; Elbur et al, 2013).

9. REGIMEN DOSIS
a. Dosis
Dosis tunggal Cefazolin 2g (BB<70 kg) atau 30 mg/kg berat badan, dianggap cukup
untuk melindungi atau menekan kejadian IDO pada operasi bersih atau bersih
terkontaminasi. Pada operasi orthopedic, Cefazolin 2g, memberikan konsentrasi
adekuat pada daerah tulang untuk menekan kolonisasi Staphylococcus aureus
(Yamada et al, 2011).
Antibiotic dilarutkan dalam laruan normal saline (piggy-bag) 100ml, diberikan intra
venous selama 15 menit. Cefazoline sudah mencapai konsentrasi optimal di daerah
target operasi dalam 17-22 menit (Goede et al, 2013).
Dosis tunggal dan 3 kali pemberian memiliki risiko IDO tidak berbeda secara
bermakna, sehingga dianjurkan pemberian antibiotic profilaksis cukup sekali
saja/dosis tunggal (Bratzler et al 2013; Morill et al 2013).
Dosis ulangan diperlukan untuk mempertahankan konsentrasi antibiotic di jaringan
target operasi maupun yang dilaluinya. Indikasi pemberian ulangan antibiotic durante
operasi, apabila lama operasi >3jam atau perdarahan >1500ml (SIGN 2014).
b. Rute
Semua pemberian antibiotic profilaksis diberikan secara parenteral intravena, karena
diharapkan dalam waktu singkat sudah terdistribusi di daerah operasi konsentrasi
optimal.
c. Waktu pemberian
Waktu optimal untuk mencegah IDO, pemberian golongan cephalosporin diberikan
30-60 menit sebelum insisi. Apabila ada riwayat anafilaksis terhadap golongan
cephalosporin, sehingga harus menggunakan Vancomycin, maka diberikan minimal
60-120 menit sebelum insisi, karena pemberian Vancomycin harus diberikan dalam
waktu >60 menit (Batzler 2013; SIGN 2014).