Anda di halaman 1dari 61

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Reformasi Pendidikan

1. Pengertian Reformasi Pendidikan

Reformasi berasal dari kata "re" dan "formasi". "Re" berarti kembali

dan "formasi" berarti susunan. Reformasi berarti pembentukan atau

penyusunan kembali. Begitu juga dalam Dictionary of Law disebutkan,

reformasi berasal dari bahasa inggris "reformation" berarti membentuk

atau menyusun kembali. Sedangkan dalam The Nelson Contemporary

English Dictionary disebutkan bahwa reformasi berasal dari kata "reform"

diartikan sebagai membentuk, menyusun, mempersatukan kembali.

Reformasi juga berarti perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang

sosial, politik, ekonomi atau agama) dalam suatu masyarakat atau negara.

Dalam bahasa arab, reformasi sering diartikan sebagai tajdid maupun islah.

Kedua kata tersebut memiliki makna yang berdekatan, yaitu melakukan

pembaharuan sehingga sesuatu menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Dengan demikian, istilah reformasi diartikan sebagai perubahan atau

penyusunan kembali terhadap suatu konsep, strategi, dan kebijakan yang

berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan

bernegara.

Reformasi awalnya adalah istilah yang dikenal dalam bidang politik.

Hal ini dimaklumi reformasi jika ditinjau segi sejarah adalah reformasi

agama di Eropa. Pada abad ke-16 satu abad setelah berlangsungnya era

35
36

pencerahan di dunia ilmu yang pada hakikatnya pembebasan akal dan dari

kecendrungan dogmatisme (Gereja) dalam bidang keagamaan respon

terhadap otoritas Paus di Vatikan mulai bermunculan yang dipelopori oleh

Awingli (1484-1531), Marthin Luther (1483-1546) dan John Calvin (1509-

1564) (Sumartana, 2013:69-70)

Yusuf Qardhawi (2012:67) menyebutkan reformasi adalah upaya

mengembalikan sesuatu pada keadaan semula sehingga tampil sebagai

sesuatu hal yang lebih baru, dengan cara memperkokoh sesuatu yang

lemah, memperbaiki yang usang dan menambal kegiatan yang retak

sehingga kembali mendekat pada bentuknya semula.

Pendapat Sinambela dkk, (2014: 25) menyatakan bahwa: Secara

teoretis, reformasi adalah perubahan di mana ke dalamannya terbatas

sedangkan keleluasaan perubahannya melibatkan seluruh masyarakat.

Pengertian ini akan lebih jelas jika dibedakan dengan revolusi. Konsep

terakhir menunjukkan ke dalaman perubahannya radikal sedangkan

keluasan perubahannya melibatkan pula seluruh masyarakat. Sebagai

perubahan yang penataan kembali bangunan masyarakat, termasuk cita-

cita, lembaga-lembaga dan saluran yang ditempuh dalam mencapai cita-

cita.

Menerjemahkan kata reformasi berarti perubahan radikal untuk

perbaikan (bidang sosial, politik, atau agama) di suatu masyarakat atau

negara. Sedangkan reformis adalah orang yang menganjurkan adanya

usaha perbaikan (bidang politik, sosial, agama) tanpa kekerasan. Radikal


37

berarti secara menyeluruh, habis-habisan, tindakan yang amat keras

menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan, dan sebagainya) dan

maju dalam berpikir atau bertindak.

Menurut Sedarmayanti (2009: 67) reformasi merupakan “proses

upaya sistematis, terpadu dan komprehensif, ditujukan untuk

merealisasikan tata kepemerintahan yang baik (Good governance). Good

governance adalah sistem yang memungkinkan terjadinya mekanisme

penyelenggaraan pemerintahan negara yang efektif dan efisien dengan

menjaga sinergi yang konstruktif di antara pemerintah, sektor swasta, dan

masyarakat”.

Kemudian menurut Samonte dalam (Ismiyarto, 2016: 4) memberikan

pemahaman tentang reformasi “sebagai perubahan-perubahan atau

inovasi-inovasi dengan penggunaan perencanaan dan adopsi untuk untuk

membuat sistem administrasi sebagai badan atau agen yang lebih efektif

untuk perubahan sosial, sebagai instrument yang baik untuk membawa

persamaan politik, sosial, dan perubahan ekonomi”. Selanjutnya pendapat

Quah (dalam Arief Idiris 2013: 136) yang dikutip oleh Ismiyarto (2016: 4)

mendefinisikan reformasi sebagai “suatu proses untuk mengubah proses

dan prosedur birokrasi publik dan sikap serta tingkah laku birokrasi untuk

mencapai efektivitas birokrasi dan tujuan pembangunan nasional”.

Pengertian Reformasi secara sederhana menurut Hidayat (2007:1)

adalah perbaikan atau perubahan bentuk. Reformasi berarti perubahan

dengan melihat keperluan masa depan, menekankan kembali pada bentuk


38

asal, berbuat lebih baik dengan menghentikan penyimpangan-

penyimpangan dan praktek yang salah atau memperkenalkan prosedur

yang lebih baik, suatu perombakan menyeluruh dari suatu sistem

kehidupan dalam aspek politik, ekonomi, hukum, social dan tentu saja

termasuk bidang pendidikan. Reformasi juga berarti memperbaiki,

membetulkan, menyempurnakan dengan membuat sesuatu yang salah

menjadi benar. Oleh karena itu, reformasi berimplikasi pada merubah

sesuatu untuk menghilangkan yang tidak sempurna seperti melalui

perubahan kebijakan institusional (Hasbullah, 2011:27)

Menurut Alamsyah (2011: 15), dewasa ini, istilah “reformasi” sudah

sedemikian merakyat di negara Indonesia ini, sehingga apa sebenarnya

esensi dari reformasi itu menjadi kabur, karena belum adanya konvensi

atau kesepakatan untuk tentang apa yang sebenarnya yang dimaksud

dengan istilah tersebut. Lain orang cenderung memakai istilah reformasi

dengan arti, maksud, dan tujuan yang berbeda. Istilah reformasi diartikan

sebagai upaya secara sengaja, terencana, dan terprogram untuk mengubah

“form” atau bentuk dari sesuatu bentuk yang dianggap lebih baik, atau

dikembalikan kepada bentuk asalnya karena alasan-alasan tertentu,

misalnya karena bentuk yang ada dinilai sudah menyimpang dari bentuk

asalnya. Perubahan disebut sebagai reformasi apabila mengandung tiga ciri

dasar, yaitu:

a. Bersifat disengaja, direncanakan, dan diprogramkan sesuai dengan

kesepakatan bersama.
39

b. Menyangkut perubahan sistematik, baik mengenai falsafah, struktur

fisik, dan struktur manajemen dari sistem tersebut.

c. Menyangkut perubahan manusia, baik pola pikir, pola sikap, maupun

pola tindaknya secara individu, kelompok, ataupun secara organisasi.

orang cenderung memakai istilah reformasi dengan arti, maksud, dan

tujuan yang berbeda.

Sedangkan pendidikan menurut Syah (2010:10) pendidikan berasal

dari kata didik lalu mendapat imbuhan pe-an artinya memelihara dan

memberikan latihan. Sedangkan secara yuridis formal menurut UU

SISDIKNAS No.20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan

terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran

agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan

masyarakat.

Menurut Djumali dkk (2014: 1), “pendidikan adalah untuk

mempersiapkan manusia dalam memecahkan problem kehidupan di masa

kini maupun di masa yang akan datang”. Menurut Sutrisno (2016: 29),

pendidikan merupakan aktivitas yang bertautan, dan meliputi berbagai

unsur yang berhubungan erat antara unsur satu dengan unsur yang lain

Martinus Jan Langeveld (2016:102) mengatakan pendidikan adalah

suatu usaha yang dengan sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan

membantu anak yang bertujuan meningkatkan ilmu pengetahuan, jasmani


40

dan akhlak sehingga secara perlahan bisa mengantarkan anak kepada

tujuan dan cita-citanya yang paling tinggi. Agar anak tesebut memperoleh

kehidupan yang bahagia dan apa yang dilakukannya dapat bermanfaat bagi

dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya. Selain dari itu

Pendidikan adalah upaya menolong anak untuk dapat melakukan tugas

hidupnya secara mandiri dan bertanggung jawab dan pendidikan

merupakan usaha manusia dewasa dalam membimbing manusia yang

belum dewasa menuju kedewasaan.

Menurut Kurniawan (2017: 26), pendidikan adalah mengalihkan

nilai-nilai, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan kepada generasi

muda sebagai usaha generasi tua dalam menyiapkan fungsi hidup generasi

selanjutnya, baik jasmani maupun rohani.

H. Mangun Budiyanto sebagaimana dikutip oleh Kurniawan (2017:

27), “berpendapat bahwa pendidikan adalah mempersiapkan dan

menumbuhkan anak didik atau individu menusia yang proses berlangsung

secara terus-menerus sejak ia lahir sampai ia meninggal dunia”.

Menurut Trahati (2015: 11), pendidikan adalah kegiatan yang

dilakukan manusia secara sadar dan terprogram guna membangun

personalitas yang baik dan mengembangkan kemampuan atau bakat yang

ada pada diri individu manusia agar mencapai tujuan atau target tertentu

dalam menjalani hidup.

Berdasarkan paparan di atas Reformasi pendidikan adalah upaya

perbaikan pada bidang pendidikan. Reformasi pendidikan memiliki dua


41

karakteristik dasar yaitu terprogram dan sistemik. Reformsi pendidikan

yang terprogram menunjuk pada kurikulum atau program suatu institusi

pendidikan. Yang termasuk ke dalam reformasi terprogram ini adalah

inovasi. Inovasi adalah memperkenalkan ide baru, metode baru atau sarana

baru untuk meningkatkan beberapa aspek dalam proses pendidikan agar

terjadi perubahan secara kontras dari sebelumnya dengan maksud-maksud

tertentu yang ditetapkan.

2. Jenis-jenis Reformasi Pendidikan

Secara umum, reformasi ini menyangkut perubahan kebijakan pada

struktur pengeluaran, skema pembiayaan, dan manajemen, meskipun

mungkin ada tumpang tindih yang signifikan di antara kategori-kategori

luas ini. Kami mengecualikan dari kategori-kategori ini sejumlah

reformasi profesional dan manajemen (seperti reformasi kurikulum atau

pelatihan guru) yang tidak memiliki dampak jelas yang terdokumentasi

pada distribusi. Kami juga mengecualikan skema pembiayaan yang

kurang umum di negara-negara berkembang, seperti pinjaman

mahasiswa.

Reformasi pengeluaran. Pemerintah dapat memilih untuk

merestrukturisasi pengeluarannya untuk merealokasi belanja dari

pendidikan tinggi ke tingkat pendidikan yang lebih rendah. Reformasi

yang bertujuan untuk meningkatkan pasokan sekolah dapat fokus pada

belanja yang ditargetkan atau perluasan cakupan di wilayah geografis

tertentu melalui campuran dukungan pemerintah dan swasta, termasuk


42

dukungan publik untuk pendidikan swasta di daerah berpenghasilan

rendah.

Reformasi pembiayaan. Pemerintah dapat memilih untuk

mereformasi pembiayaan pendidikan dengan memperkenalkan biaya

pengguna (cost recovery) atau, seperti yang terlihat di sejumlah negara

berkembang dalam beberapa tahun terakhir, dengan menghilangkannya.

Skema terkait adalah pengenalan pembiayaan masyarakat, di mana,

misalnya, masyarakat sepenuhnya bertanggung jawab atas pembangunan

dan pemeliharaan bangunan. Skema pembiayaan dapat mencakup skema

di sisi permintaan, di mana dana disalurkan langsung ke orang-orang

yang menuntut pendidikan daripada orang-orang yang menyediakannya

untuk memperkuat kekuatan klien atas penyedia. Skema pembiayaan sisi

permintaan dapat melibatkan transfer ke rumah tangga, voucher, atau

pembayaran yang diberikan langsung kepada siswa yang dapat

menyerahkannya ke sekolah pilihan mereka.

Reformasi manajemen dan kelembagaan. Sebuah negara di mana

terdapat manajemen terpusat atas sistem pendidikan dapat memilih untuk

mengimplementasikan reformasi manajemen dengan

mendesentralisasikan administrasi pendidikan. Ini mungkin melibatkan

pergeseran tanggung jawab dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah,

masyarakat, atau sekolah. Pergeseran ini mungkin termasuk

pendelegasian tugas yang sederhana dari pemerintah pusat ke pemerintah

daerah atau pemindahan otoritas dan pengambilan keputusan


43

sepenuhnya. Perubahan dapat dilihat tidak hanya sebagai penyesuaian

administratif, tetapi sebagai reformasi yang secara mendasar mengubah

hubungan antara kemampuan akuntabilitas dan cara di mana layanan

diberikan. Klasifikasi perubahan ini sebagai reformasi kelembagaan

mungkin sesuai.

Tentu saja ada metode alternatif untuk mengklasifikasikan reformasi

kebijakan pendidikan keluarga ini. Misalnya, seseorang dapat

merenungkan pembagian konsep antara skema kompensasi atau

kebijakan yang ditargetkan yang bertujuan untuk meningkatkan peluang

pendidikan bagi kaum miskin dan skema atau kebijakan yang bersifat

universal dalam cakupan. Reformasi yang telah dilaksanakan selama

dekade terakhir dapat secara luas diklasifikasikan sebagai yang terutama

ditujukan untuk memperluas akses (memperluas pasokan,

merestrukturisasi pengeluaran, menghapuskan biaya) dan yang terutama

ditujukan untuk meningkatkan kualitas, efisiensi, dan keberlanjutan.

3. Stakeholder Reformasi Pendidikan

Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, para peserta didik menegaskan

gagasan bahwa peserta didik memiliki hak untuk berpartisipasi dalam

keputusan tentang pendidikan. Gerakan-gerakan ini memiliki dampak

yang bertahan lama di universitas, di mana kehadiran peserta didik dalam

tata kelola dan evaluasi pengajaran peserta didik telah menjadi praktik

standar (Levin:2000).
44

Sekitar pertengahan tahun 1970-an, gagasan bahwa peserta didik

memiliki hak untuk terlibat dalam pengambilan keputusan, mulai

mengalami kemunduran. Dalam beberapa tahun terakhir, meskipun

retorika dominan dalam pendidikan menekankan hasil belajar untuk

mempersiapkan peserta didik untuk peran ekonomi (Levin, 1998b), minat

dalam peran yang lebih besar bagi peserta didik telah diperbarui. Namun

alasan untuk mengusulkan keterlibatan peserta didik yang lebih besar telah

bergeser. Pada 1960-an dan awal 1970-an, kekuatan peserta didik pada

dasarnya adalah upaya untuk memperluas partisipasi politik dan

demokrasi. Sedangkan literatur terbaru meskipun masih mencakup

beberapa seruan untuk partisipasi politik, bergeser menjadi keterlibatan

peserta didik dalam reformasi pendidikan.

Argumen pragmatis untuk partisipasi peserta didik dalam reformasi

pendidikan bervariasi dan saling berkaitan, tetapi argumen dapat dianggap

sebagai mewujudkan salah satu dari:

a. Implementasi Perubahan yang Efektif Membutuhkan Partisipasi Dari

Peserta didik Dan Guru

Gagasan bahwa partisipasi adalah syarat untuk berubah dan

karenanya untuk perubahan yang sukses umumnya sekarang dianggap

sebagai kebenaran yang diterima. Jika guru tidak berkomitmen untuk

reformasi maka reformasi itu tidak berakar (Fullan, 1991; Elmore,

1995; Cohen, 1995). Hampir setiap penulis terkemuka mengasumsikan

bahwa keterlibatan dan dukungan guru adalah kunci untuk setiap


45

perubahan yang langgeng di sekolah. Sykes (1999:224) mengatakan

bahwa "Anggota komunitas sekolah harus mengembangkan dalam

proses di mana mereka mengevaluasi pekerjaan mereka dan hasilnya

dalam pembelajaran peserta didik". Smylie dan Hart (1999:430)

membahas pentingnya membangun hubungan sosial yang kuat di

antara para guru. Kepala sekolah dengan kolaborasi tinggi dan budaya

profesional yang kuat bekerja secara aktif untuk menciptakan struktur,

tempat, dan kesempatan untuk hubungan sosial di antara guru agar

berkembang dan berfungsi dengan baik.

Adams dan Kirst, (1999:484) yang membahas

pertanggungjawaban, mengingatkan kita bahwa "Agen termotivasi

untuk berubah ketika tujuan pribadi mereka selaras dengan perubahan,

ketika mereka yakin akan kemampuan mereka untuk berubah, dan

ketika mereka merasa didukung dalam perubahan". Pentingnya

partisipasi guru diterima secara luas, dan penelitian telah bergerak

untuk mempertimbangkan bentuk-bentuk partisipasi yang mungkin

paling bermanfaat.

Sangat sedikit dari pekerjaan ini yang memberikan perhatian pada

partisipasi peserta didik. Namun tampaknya masuk akal untuk berpikir

bahwa pemahaman dan komitmen aktif oleh peserta didik untuk

reformasi sekolah sama pentingnya. Bagaimanapun, seperti yang

Fullan (1991:189) tunjukkan, “Perubahan efektif di sekolah melibatkan

sebanyak perubahan kognitif dan perilaku di pihak peserta didik seperti


46

halnya bagi orang lain.” Perlu bahwa upaya oleh guru untuk berubah

dapat ditolak oleh peserta didik yang tidak mendukung atau

memahaminya (Erickson & Schultz, 1992; Kohn, 1993; Ryan &

Stiller, 1991). Dengan demikian pemahaman dan komitmen peserta

didik terhadap reformasi harus ditanggapi dengan serius seperti yang

ingin kita lakukan untuk guru. Jika partisipasi oleh mereka yang

terkena dampak reformasi dipandang perlu, maka partisipasi oleh

peserta didik harus diberikan status yang sama.

b. Peserta didik Memiliki Pengetahuan dan Perspektif Unik Yang

Membuat Upaya Reformasi Berhasil

Hampir semua reformasi sekolah direncanakan dan dilaksanakan

oleh orang dewasa. Dengan berbicara dan mendengarkan peserta didik,

kita dapat belajar lebih banyak tentang bagaimana proses kelas dan

sekolah dapat dibuat lebih baik, dan bagaimana peningkatan dapat

dipupuk, apakah peserta didik berkomitmen atau tidak terhadap

reformasi.

Rudduck et al (1996:3) berpendapat bahwa upaya di Inggris untuk

meningkatkan prestasi peserta didik memerlukan pendidikan

”Mulailah dengan mengundang peserta didik untuk berbicara tentang

apa yang menjadi kesulitan dalam belajar, tentang apa yang membuat

motivasinya rendah dalam belajar, dan apa yang membuat mereka

menyerah ketika mendapat kesulitan.


47

Mereka juga membuat poin penting bahwa pekerjaan peserta

didik di sekolah tidak dapat dipisahkan dari perubahan yang terjadi

dalam kehidupan mereka di luar sekolah; bahwa perubahan dalam

peluang kerja yang dirasakan atau struktur keluarga atau peran gender

memiliki dampak kuat pada bagaimana peserta didik melihat dan

merespons apa yang disediakan sekolah.

Perspektif lain yang menarik tentang pengetahuan peserta didik

tentang peningkatan sekolah berasal dari karya Thorkildsen (1994),

yang menunjukkan bagaimana anak-anak yang masih sangat muda

telah mengembangkan gagasan tentang keadilan di kelas, tentang

praktik penilaian yang tepat, dan aspek penting lainnya dari kehidupan

sekolah. Namun, peserta didik jarang diminta untuk mengekspresikan

pandangan ini.

Mendengarkan peserta didik dengan lebih hati-hati tampaknya

menjadi persyaratan utama untuk memahami apa dampak reformasi

saat ini serta memikirkan tentang perubahan lain yang mungkin benar-

benar meningkatkan pembelajaran. Namun jarang tema ini muncul

dalam literatur reformasi sekolah. Bahkan model yang didasarkan

secara luas pada pengumpulan data untuk memandu perbaikan

memperlakukan peserta didik sebagai pelaku pasif daripada pelaku

aktif dalam reformasi pendidikan (mis. Joyce, Calhoun & Hopkins,

1999). Seperti yang dikatakan Fullan (1991:182), "... kita hampir tidak

tahu apa-apa tentang apa yang peserta didik pikirkan tentang


48

perubahan pendidikan karena tidak ada yang pernah bertanya kepada

mereka."

Data dan opini peserta didik juga dapat memiliki efek kuat pada

orang tua. Di beberapa sekolah, orang tua dapat menjadi penghalang

aktif untuk berubah karena mereka takut apa yang mereka anggap

sebagai 'eksperimen' pada anak-anak mereka. Tetapi ketika anak-anak

mereka berbicara kepada mereka tentang pengalaman mereka

bersekolah, dan orang tua benar-benar mendengar, akan ada jauh lebih

terbuka untuk mempertimbangkan praktik alternatif. Coleman (1998)

mengemukakan bahwa diskusi peserta didik-orang tua tentang sekolah

juga dapat dipupuk langsung oleh sekolah, dengan konsekuensi yang

mungkin bagi pemahaman semua orang.

c. Pandangan Peserta didik Dapat Membantu Memobilisasi Pendapat

Guru dan Orang Tua untuk Reformasi yang Lebih Baik

Menurut penelitian Levin (2000) tentang Manitoba School

Improvement Program (MSIP) .1 MSIP awalnya disponsori oleh

Walter dan Duncan Gordon Foundation sebagai upaya untuk

mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana perubahan yang nyata dan

dapat terjadi di sekolah menengah. Program ini melibatkan upaya

perubahan berbasis sekolah di sekitar 25 sekolah menengah dan

menengah di provinsi Manitoba. Strategi perubahan dikembangkan di

setiap sekolah, dengan staf pengajar memainkan peran penting dalam

menentukan agenda dan memajukan perubahan (Earl & Lee, 1999).


1
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di https://msip.ca/mission-vision-and-goals/
49

Salah satu hasil penelitian ini adalah peserta didik memiliki pengaruh

kuat pada kesediaan guru untuk mempertimbangkan perubahan nyata.

Corbett dan Wilson (1995) berpendapat bahwa resistensi peserta

didik terhadap perubahan juga dapat menjadi pengungkit untuk

pembelajaran pendidik. Ketika kita mendengar peserta didik berbicara,

misalnya, tentang penghafalan dan lulus ujian sebagai elemen penting

sekolah, kita mungkin menyadari bahwa kita telah gagal

mengomunikasikan tujuan dan aspirasi kita yang lebih luas untuk

bersekolah, dan bahwa perubahan dalam praktik perlu dilakukan.

Data dan opini peserta didik juga dapat memiliki efek kuat pada

orang tua. Di beberapa sekolah, orang tua dapat menjadi penghalang

perubahan karena mereka takut apa yang mereka anggap sebagai

'eksperimen' pada anak-anak mereka. Tetapi ketika anak-anak mereka

berbicara kepada mereka tentang pengalaman mereka bersekolah, dan

orang tua benar-benar mendengar, akan ada jauh lebih banyak

keterbukaan untuk mempertimbangkan praktik-praktik alternatif.

Coleman (1998) mengemukakan bahwa diskusi peserta didik-orang tua

tentang sekolah juga dapat dipupuk langsung oleh sekolah, dengan

konsekuensi yang mungkin bagi pemahaman semua orang.

Bahwa kita terkejut mengetahui bahwa peserta didik dapat

memiliki pengaruh penting dalam diskusi tentang perubahan

menunjukkan sejauh mana mereka telah ditinggalkan dari proses

pengambilan keputusan di sekolah. Seperti yang dikatakan Erickson


50

dan Schultz (1992: 482), "Tidak adanya pengalaman peserta didik dari

wacana pendidikan saat ini membatasi wawasan para pendidik dan

juga para peserta didik"

d. Pembelajaran Konstruktivisme Membutuhkan Peran Peserta didik

yang Lebih Aktif di Sekolah2

Banyak upaya terbaru dalam reformasi pendidikan

diselenggarakan di sekitar gagasan konstruktivisme tentang

pembelajaran (Pirik & Peterson, 1999). Pengakuan luas dari posisi ini

diilustrasikan dalam laporan Organisation for Economic Co-operation

and Development (OECD) pada tahun 1996 yang menggambarkan

"lingkungan belajar dan kerja yang sukses" sebagai bermakna dan

memotivasi untuk peserta didik; dengan mempertimbangkan apa yang

dibawa peserta didik; menjalin pengetahuan, pemecahan masalah dan

aplikasi; mendorong keterlibatan pelajar aktif, dan memungkinkan

peserta didik untuk mengontrol kinerja mereka sendiri. Sementara

konstruktivisme adalah istilah yang luas yang dapat mencakup

berbagai praktik pendidikan, benang merah adalah pandangan bahwa

sekolah harus diatur berdasarkan kenyataan bahwa peserta didik adalah

konstruktor pengetahuan yang aktif daripada penerima pasifnya (APA

2
Pembelajaran Konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama.
Teori konstruktivisme memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak
secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman
dan interaksi mereka 
51

& McREL, 1993). Semua versi konstruktivisme mengajak peserta

didik untuk terlibat lebih aktif dalam pembelajaran.

Tampaknya untuk menyimpulkan bahwa pembelajaran aktif

membutuhkan kehadiran peserta didik yang lebih aktif di kelas.

Aktivitas semacam itu tidak dapat dibatasi pada saat-saat yang

ditentukan oleh guru. Menurut definisi seorang peserta didik aktif

berusaha untuk mengelola pembelajarannya sendiri. Hasilnya tentu

akan lebih banyak pertanyaan dan pendapat oleh peserta didik tentang

organisasi pembelajaran. Peserta didik ingin mengatakan sesuatu

tentang bagaimana mereka belajar, kapan mereka belajar, di mana

mereka belajar, dan seterusnya. Banyak hal yang secara tradisional

dianggap sebagai bidang tugas para guru akan menjadi masalah yang

harus didiskusikan dan dinegosiasikan dengan peserta didik.

Sebuah catatan luar biasa dari ruang kelas yang mewujudkan

pendekatan yang benar-benar interaktif untuk bekerja dengan peserta

didik dapat ditemukan dalam " Education as Teenagers: Lessons from

Class Two " (Nicholls & Hazzard, 1993). Dijelaskan dalam buku ini,

sekelompok peserta didik kelas dua dengan banyak tantangan

kemiskinan, sangat vital, dan terbuka terhadap ide-ide peserta didik,

dan begitu didominasi oleh pentingnya pembelajaran yang nyata,

mungkin orang tidak tertarik dengan apa yang ada di dalamnya.

Seperti yang ditunjukkan oleh Newmann (1992), untuk

meningkatkan prestasi, seseorang harus terlebih dahulu belajar


52

bagaimana melibatkan peserta didik. Meskipun Newmann berpendapat

bahwa keterlibatan adalah konsep yang lebih luas daripada motivasi,

literatur substansial tentang motivasi (mis. Deci & Ryan, 1985; Kohn,

1993; McCombs & Whistler, 1997) memang memberikan dukungan

penting lain pada posisi konstruktivisme. Kershner (1996:78)

mewawancarai peserta didik kelas 9 (13-14 tahun) di Inggris tentang

apa yang berkontribusi pada kerja keras mereka. Bagi peserta didik,

gagasan kerja keras terkait erat dengan keterlibatan dalam tugas yang

menarik yang menghadirkan tantangan bagi mereka. Dorongan umum

di antara murid-murid ini adalah untuk cara kerja yang lebih mandiri

dan kreatif. Mereka berbicara dengan senang hati tentang pekerjaan

yang mengharuskan mereka melakukan penelitian sendiri,

menggunakan imajinasi mereka dan membuat pilihan tentang apa yang

akan dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan.

Konstruktivisme adalah elemen kunci dari rencana reformasi

yang berupaya meningkatkan standar pencapaian. Konsekuensi lebih

lanjut dari orientasi konstruktivisme harus secara logis menjadi peran

bagi peserta didik dalam membentuk sifat sekolah dan karenanya

reformasi. Untuk memindahkan sekolah lebih dekat ke praktik-praktik

yang mewujudkan gagasan-gagasan konstruktivisme membutuhkan

proses perubahan yang merupakan konstruktivis itu sendiri. Peserta

didik perlu menjadi pihak yang aktif dalam upaya tersebut.


53

e. Peserta didik Adalah pelaku Aktif, Sehingga Keterlibatan Mereka

Sangat Penting Bagi Peningkatan Mutu

Dalam argumen ini, persyaratan untuk keterlibatan peserta didik

berakar pada sifat dasar pendidikan, tidak hanya dalam hal pedagogik

konstruktivisme, tetapi untuk semua bentuk pembelajaran. Secara

umum, catatan sekolah dan reformasi sekolah fokus pada pengajaran

dan pekerjaan guru. Levin, (1993, 1994) sebenarnya belajar merupakan

elemen mendasar dari sekolah. Guru bukanlah penghasil pembelajaran;

pada akhirnya peserta didiklah yang harus melakukan pembelajaran.

Peserta didik bukanlah bahan mentah yang akan dibentuk, seperti yang

disarankan dalam begitu banyak metafora produksi untuk sekolah,

tetapi mau tidak mau pembentuk, untuk yang lebih baik atau lebih

buruk, dari diri mereka sendiri. Tentu saja orang membentuk diri

mereka dalam suatu konteks, sehingga guru, antara lain, dapat

memiliki dampak yang kuat pada apa yang peserta didik pilih untuk

lakukan. Tetapi minat kita akhirnya harus terletak pada apa yang

peserta didik pilih, dan itu berarti bahwa kita harus lebih

memperhatikan daripada saat ini apa yang dilakukan oleh peserta didik

dan mengapa mereka melakukannya.

Jika belajar memang merupakan pusat sekolah, maka tampak jelas

bahwa peserta didik perlu memiliki andil yang lebih besar dalam

membentuk produksi mereka sendiri jika kita ingin meningkatkan

hasil. Literatur besar dalam manajemen sekarang menekankan


54

pentingnya pengaturan kerja dalam menciptakan tim dan melibatkan

pekerja dalam keputusan tentang pekerjaan mereka. Di sekolah,

beberapa pemikiran ini telah diterapkan pada guru sebagai bagian dari

badan kerja yang sedang berkembang dalam hal kolegialitas

(Hargreaves, 1994).

B. Pembelajaran

1. Pengertian Pembelajaran

Kata pembelajaran berasal dari kata dasar belajar yang mendapat

awalan pe dan akhiran an yang memberi arti proses. Menurut Muhibbin

Syah, belajar mempunyai arti tahapan perubahan seluruh tingkah laku

individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi

dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif (Syah, 2015:92).

Sedangkan menurut Sardiman pengertian belajar dibagi menjadi dua yaitu

pengertian luas dan khusus. Dalam pengertian luas belajar dapat diartikan

sebagai kegiatan psikofisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya.

Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha

penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagaian kegiatan

menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya (Sardiman, 2016: 20-21).

Istilah pembelajaran berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Bab

pertama, adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
55

belajar pada suatu lingkungan belajar. Jadi interaksi siswa dengan guru

atau sumber belajar yang lain dalam lingkungan belajar disebut

pembelajaran. Belajar menurut Sudjana (2001:28), adalah suatu proses

yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang

Sedangkan menurut Degeng, sebagaimana dikutip oleh Hamzah B.

Uno (2012:2) bahwa pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan

siswa. Dalam pengertian ini secara implisit dalam pengajaran terdapat

kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode untuk

mencapai hasil pengajaran yang diinginkan. Belajar menurut Morgan

dalam Suprijono (2009:3), adalah perubahan perilaku yang bersifat

permanen sebagai hasil dari pengalaman. Salah satu pertanda bahwa

seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku

dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik

perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan

(psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif). Belajar

tidak hanya meliputi mata pelajaran, tetapi juga penguasaan, kebiasaan,

persepsi, kesenangan, kompetensi, penyesuaian sosial, bermacam-macam

keterampilan, dan cita-cita.

Surya, sebagaimana dikutip oleh Abdul Majid (2013:4) berpendapat

bahwa pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan individu

untuk memperoleh suatu perubahan perilaku, sebagai hasil dari

pengalaman individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Senada

dengan itu, Mulyasa (2012:129) mengemukakan bahwa pembelajaran


56

merupakan aktualisasi kurikulum yang menuntut keaktifan guru dalam

menciptakan dan menumbuhkan kegiatan peserta didik sesuai dengan

rencana yang telah diprogramkan

Pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru secara

terprogram dalam disain instruksional yang menciptakan proses interaksi

antara sesama peserta didik, guru dengan peserta didik dan dengan sumber

belajar. Pembelajaran bertujuan untuk menciptakan perubahan secara

terus-menerus dalam perilaku dan pemikiran siswa pada suatu lingkungan

belajar. Sebuah proses pembelajaran tidak terlepas dari kegiatan belajar

mengajar.

Mengajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses mengorganisasi

atau menata sejumlah sumber potensi secara baik dan benar, sehingga

terjadi proses belajar anak (Danim, 2011:34). Sedangkan mengajar

menurut Sudjana (2011:29) merupakan suatu proses, yaitu proses

mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga

dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar.

Pembelajaran pada hakekatnya merupakan proses interaksi antara

siswa dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah

lebih baik. Selama proses pembelajaran, tugas guru yang paling utama

adalah mengkondisikan lingkungan belajar agar menunjang terjadinya

perubahan perilaku bagi siswa (Mulyasa,2011:67). Pembelajaran

merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak

guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik


57

atau siswa. Berdasarkan teori belajar ada lima pengertian pembelajaran

diantaranya sebagai berikut:

a. Pembelajaran adalah upaya menyampaikan pengetahuan kepada siswa

di sekolah

b. Pembelajaran adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda

melalui lembaga sekolah

c. Pembelajaran adalah upaya mengorganisasikan lingkungan untuk

menciptakan kondisi belajar bagi siswa

d. Pembelajaran adalah upaya untuk mempersiapkan siswa untuk menjadi

warga masyarakat yang baik

e. Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi

kehidupan masyarakat sehari-hari (Oemar Hamalik, 2010;121).

Menurut Gagne sebagaimana yang telah dikemukakan oleh

Nazarudin (2017:162) pembelajaran dapat diartikan sebagai seperangkat

acara peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung proses belajar

yang sifatnya internal. Menurut Nazarudin (2017:163) pembelajaran

adalah suatu peristiwa atau situasi yang sengaja dirancang dalam rangka

membantu dan mempermudah proses belajar dengan harapan dapat

membangun kreatifitas siswa.

Jadi di dalam pembelajaran itu ditemukan dua pelaku yaitu pelajar dan

pembelajar. Pelajar adalah subyek yang belajar, sedangkan pembelajar

adalah subyek (guru) yang “membelajarkan” pelajar (siswa). Pembelajaran

sendiri adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional


58

untuk membuat siswa belajar secara aktif. Sedangkan desain instruksional

merupakan program pengajaran yang dibuat oleh guru secara konvensional

disebut juga persiapan mengajar (Dimyati, 2019: 15)

Berdasarkan beberapa pengertian pembelajaran di atas, maka dapat

penulis simpulkan bahwa pembelajaran dapat diartikan sebagai perubahan

dalam perilaku peserta didik sebagai hasil interaksi antara dirinya dengan

pendidik dan atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar dalam

memenuhi kebutuhan hidupnya.

2. Komponen-Komponen Pembelajaran

Berlangsungnya proses pembelajaran tidak terlepas dari komponen-

komponen yang ada didalamnya, menurut Moedjiono dan Dimyati

(2019:23) komponen-komponen proses belajar megajar tersebut

adalah peserta didik, guru, tujuan pembelajaran, materi/isi, metode, media

dan evalusi.

a. Peserta didik

Menurut Nazarudin (2017:49) peserta didik adalah manusia

dengan segala fitrahnya. Mereka mempunyai perasaaan dan fikiran

serta keinginan atau aspirasi. Mereka mempunyai kebutuhan dasar

yang harus dipenuhi yaitu sandang, pangan, papan, kebutuhan akan

rasa aman, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, dan kebutuhan

untuk mengaktualisasi dirinya sesuai dengan potensinya.

Menurut undang undang No.20 tentang Sistem Pendidikan

Nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha


59

mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang

tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik

adalah subjek yang bersifat unik yang mencapai kedewasaan secara

bertahap.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa peserta

didik adalah seseorang dengan segala potensi yang ada pada dirinya

untuk senantiasa dikembangkan baik melalui proses pembelajaran

maupun ketika ia berinteraksi dengan segala sesuatu. Dalam penelitian

ini yang dimaksud adalah peserta didik PKBM.

b. Guru

Pengertian guru menurut Muhammad Ali sebagaimana di

kemukakan oleh Nazarudin (2017:161) merupakan pemegang peranan

sentral proses belajar mengajar. Guru yang setiap hari berhadapan

langsung dengan siswa termasuk karakterisrik dan problem mengajar

yang mereka hadapi berkaitan dengan proses belajar mengajar.

Mochtar Buchori (2018:4) menyatakan bahwa yang akan dapat

memperbaiki situasi pendidikan pada akhirnya berpulang kepada guru

yang sehari-hari bekerja dilapangan.

Dari pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa guru adalah

seseorang dengan fitrahnya sebagai manusia berkepribadian yang

memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar dan

berpartisipasi penuh dalam menyelenggarakan pendidikan. Berkaitan

dengan penelitian ini guru yang dimaksud adalah pamong PKBM


60

dalam pembelajaran mata pembelajaran adalah pamong yang ahli di

bidangnya dan berkompeten.

c. Tujuan Pembelajaran

Dalam Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008 sebagaimana

dikemukakan Akhmad Sudrajat (2009) tentang Standar Proses

disebutkan bahwa tujuan pembelajaran memberikan petunjuk untuk

memilih isi mata pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan

waktu, petunjuk dalam memilih alat-alat bantu pengajaran dan

prosedur pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk

mengukur prestasi belajar siswa.

Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan

manfaat tertentu, baik bagi guru maupun siswa. Nana Syaodah

Sukmadinata (2011:104) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari

tujuan pembelajaran, yaitu

1) memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar

mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan

perbuatan belajarnya secara lebih mandiri.

2) memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar

3) membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan

media pembelajaran

4) memudahkan guru mengadakan penilaian

Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa tujuan

pembelajaran adalah suatu rancangan yang menitik beratkan terhadap


61

pencapaian yang akan di dapat oleh peserta didik setelah melalui

proses pembelajaran itu sendiri.

d. Materi/isi

Secara garis besar dapat dikemukakan bahwa materi pembelajaran

(instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap

yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar

kompetensi yang ditetapkan. Materi pembelajaran menempati posisi

yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus

dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran.

Sasaran tersebut harus sesuai dengan Standar Kompetensi dan

Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik. Artinya,

materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi

yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan

kompetensi dasar, serta tercapainya indikator.

e. Metode

Metode pembelajaran menurut Oemar Hamalik (2010:77)

merupakan salah satu cara yang digunakan oleh guru dalam

mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya

pembelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Sedangkan

menurut Sudjana (2011:76) metode adalah cara yang digunakan guru

dalam mengadakan interaksi atau hubungan dengan siswa pada saat

berlangsungnya pembelajaran.
62

Menurut Soetopo (2012:148) metode pembelajaran yang

digunakan dalam kegiatan belajar mengajar sebagai berikut:

1) Metode ceramah

Sebuah bentuk interaksi belajar mengajar yang dilakukan melaui

penjelasan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap

sekelompok peserta diklat.

2) Metode tanya jawab

Suatu metode dimana guru menggunakan atau memberi pertanyaan

kepada murid dan murid menjawab atau sebaliknya murid bertanya

kepada guru dan guru menjawab pertanyaan murid tersebut.

3) Metode diskusi

Merupakan suatu metode pembelajaran yang mana guru memberi

suatu persoalan (masalah) kepada murid dan para murid diberi

kesempatan secara bersama-sama untuk memecahkan masalah itu

dengan teman-temannya.

4) Metode pemberian tugas (resitasi)

Merupakan bentuk interaksi belajar mengajar yang ditandai dengan

adanya satu atau lebih tugas yang diberikan oleh guru dimana

penyelesaian tugas tersebut dapat dilakukan secara perorangan atau

keompok sesuai dengan perintah guru.

5) Metode demonstrasi dan eksperimen

Metode demonstrasi adalah metode dimana seorang guru

memperlihatkan sesuatu proses kepada seluruh anak didiknya.


63

Sedangkan metode eksperimen adalah guru atau siswa mengerjakan

sesuatu serta mengemati proses hasil percobaan itu.

6) Metode simulasi

Metode simulasi adalah cara penyajian pengalaman belajar dengan

menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep,

prinsip, atau ketrampilan sesuatu.

Menurut Danim (2011:36) metode pembelajaran yang umum

dipakai dalam proses belajar mengajar dikelas sebagai berikut:

a) Metode Ceramah

Ceramah diartikan sebagai proses penyampaian informasi

dengan jalan mengeksplanasi atau menuturkan sekelompok materi

secara lisan dan pada saat yang sama materi tersebut diterima oleh

sekelompok subyek.

b) Metode Diskusi

Diskusi diartikan sebagai suatu proses penyampaian materi,

dimana guru bersama subjek didik mengadakan dialog bersama

untuk mencari jalan pemecahan dan menyerap serta menganalisis

satu atau sekelompok materi tertentu.

c) Metode Tugas

Tugas diartikan sebagai materi tambahan yang harus dipenuhi oleh

subjek didik, baik didalam maupun diluar kelas.

d) Metode Latihan Inkuiri


64

Latihan inkuiri diartikan sebagai proses mempersiapkan kondisi

agar subjek didik siap menjawab teka teki.

e) Metode Karyawisata

Metode karya wisata diartikan sebagai suatu strategi belajar

mengajar, dimana guru dan muridnya mengunjungi suatu tempat

tertentu yang relevan untuk memperoleh sejumlah pengalaman

empiris.
65

f) Metode Seminar

Dengan seminar, biasanya wawasan terbuka luas, peran serta subjek

dominan, namun perlu persiapan yang memadai, seperti: penentuan

topik, mempersiapkan kertas kerja, organisasi kelas,

pengelompokan siswa menurut variasi/perbedaan kemampuan

individual mereka.

g) Metode Metode Mengajar yang Lain,

Metode mengajar yang lainnya seperti studi kasus, bermain peranan,

simulasi sosial, kerja dalam kelompok dan seterusnya

Sedangkan menurut Tri Mulyani (2010:53) metode yang

digunakan dalam pembelajaran dikelas meliputi:

a) Metode ceramah
b) Metode tanya jawab
c) Metode diskusi
d) Metode demonstrasi
e) Metode kerja kelompok
f) Metode pemberian tugas
g) Metode eksperimen
h) Metode penemuan
i) Metode simulasi
j) Metode pengajaran unit

Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa metode

pembelajaran adalah strategi atau cara yang dilakukan oleh guru dalam

melakukan hubungan atau interaksi dengan siswa untuk mencapai

tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Berkaitan dengan

penelitian ini metode dalam pembelajaran yang dilakukan di PKBM.

f. Media Pembelajaran
66

Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah

berarti tengah, perantara atau pengantar. Dengan demikian media

merupakan wahana penyalur informasi belajar dan penyalur pesan.

Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2012:1) mengemukakan bahwa

media pengajaran sebagai alat bantu mengajar.

Menurut Arief S. Sadiman (2012:7) media pembelajaran adalah

segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari

pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan,

perhatian, dan kompetensi serta perhatian siswa sedemikian rupa

sehingga proses belajar terjadi. Sedangkan menurut Danim (2011:7)

media pembelajaran merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap

yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi

dengan siswa atau peserta didik.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa media

pembelajaran merupakan seperangkat alat bantu yang dapat digunakan

sebagai sumber belajar oleh guru dalam menyampaikan materi kepada

siswa atau peserta didik. Dapat merangsang pikiran, perasaan,

perhatian dan kemauan siswa sehingga mendorong terjadinya proses

belajar mengajar.

Pengelompokan berbagai jenis media apabila dilihat dari segi

perkembangan teknologi oleh Seels dan Glasgow sebagaimana yang

telah dikemukakan oleh Arsyad (2016:33) di bagi kedalam 2 kategori


67

luas yaitu pilihan media tradisional dan pilihan media teknologi

mutakhir:

1) Pilihan Media Tradisonal:

a) Visual diam yang di proyeksikan, meliputi: proyeksi apaque

(tak tembus pandang), proyeksi overhead, slides, dan filmstrip

b) Visual yang tak di proyeksikan, meliputi: gambar, poster, foto,

charts, grafik, diagram, pameran, papan info, dan papan bulu

c) Audio, meliputi: rekaman piringan, pita kaset, reel, dan

cartridge

d) Penyajian multimedia, meliputi: slide plus suara (tape) dan

multi image

e) Visual dinamis yang di proyeksikan, meliputi: film, televisi,

dan video

f) Cetak, meliputi: buku teks, modul, teks terprogram, jobsheet,

workbook, majalah ilmiah berkala, dan lembaran lepas (hand-

out)

g) Permainan, meliputi: teka teki, simulasi, dan permainan papan

h) Realia, meliputi: model, spacimen (contoh), dan manipulative

(peta, boneka )

2) Pilihan Media Teknologi Mutakhir:

a) Media berbasis telekomunikasi, meliputi: telekonferen, kuliah

jarak jauh
68

b) Media berbasis mikroprocesor, meliputi: computer-assisted

instruction, permainan komputer, sistem tutor inteligen,

interaktif, hypermedia, compact (video) disk

Jika ditinjau manfaat media pembelajaran menurut Kemp dan

Dayton dalam bukunya Arsyad (2016:21) mengemukakan beberapa

hasil penelitian yang menunjukkan dampak positif dari penggunaan

media sebagai bagian integral pembelajaran di kelas atau sebagai cara

utama pembelajaran langsung sebagai berikut:

a) Penyampaian pembelajaran menjadi lebih baku

b) Pembelajaran bisa lebih menarik

c) Pembelajaran menjadi lebih interaktif

d) Lama waktu pembelajaran yang diperlukan dapat

dipersingkat

e) Kualitas hasil belajar dapat di tingkatkan

f) Pembelajaran dapat diberikan kapan dimana diinginkan atau

diperlukan

g) Sikap positif siswa terhadap apa yang dipelajari

h) Peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif.

Encyclopedia of Educational Research dalam Oemar Hamalik

(2010:15), merinci manfaat media pengajaran sebagai berikut:

a) Meletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berfikir, oleh karena itu

mengurangi verbalisme.

b) Memperbesar perhatian siswa.


69

c) Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar,

sehingga memuat pelajaran lebih mantap.

d) Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan

berusaha sendiri dikalangan siswa.

e) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu

terutama melalui gambar hidup.

f) Membantu timbulnya pengertian yang dapat membantu

perkembangan kemampuan bahasa.

g) Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan

cara lain dan membantu efisiensi dan keragaman yang banyak

dalam belajar.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa media

sangat berperan penting dalam sebuah proses pembelajaran, sehingga

penyaluran informasi atau materi yang di sampaikan guru terhadap

siswa dapat mudah diterima.

Pemilihan Media Pembelajaran Menurut Oemar Hamalik

(2010:7), beberapa faktor yang harus di perhatikan dalam pemilihan

media antara lain:

1) Rasional, artinya media pengajaran yang akan disajikan harus

masuk akal dan mampu dipikirkan kita.

2) Ilmiah, artinya media yang digunakan sesuai dengan

perkembangan akal dan ilmu pengetahuan.


70

3) Ekonomis, artinya dalam pembuatannya tidak terlalu mengeluarkan

banyak biaya atau sesuai dengan kemampuan pembiayaan yang

ada.

4) Praktis dan efisien, artinya media tersebut mudah digunakan dan

tepat dalam penggunaannya.

5) Fungsional, artinya media yang disajikan oleh guru dapat

digunakan dengan jelas oleh siswa.

Dalam pemilihan media pengajaran harus diperhatikan faktor-

faktor serta kriteria pemilihan media agar sesuai dengan apa yang akan

disampaikan.

g. Evaluasi

Menurut Nana Sudjana (2009:3) evaluasi merupakan proses

memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan

suatu kriteria tertentu. Evaluasi pembelajaran merupakan penilaian

kegiatan dan kemajuan belajar peserta didik yang dilakukan secara

berkala berbentuk ujian, hasil praktik, tugas harian, atau pengamatan

oleh guru. Bentuk ujian meliputi ujian tengah semester, ujian akhir

semester, dan ujian tugas akhir. Pembobotan masing-masing unsur

penilaian ditetapkan berdasarkan KKM sesuai dengan kurikulum

sekolah. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikemukakan bahwa

evaluasi adalah sebagai satu upaya untuk melihat, memberikan nilai

pada objek tertentu dengan menggunakan alat dan kriteria tertentu.


71

Berdasarkan penjelasan diatas, komponen pembelajaran dapat

diartikan sebagai seperangkat alat atau cara dari berbagai proses yang

kemudian menjadi satu kesatuan yang utuh dalam sebuah pembelajaran

demi tercapainya suatu tujuan.

3. Prinsip-prinsip Belajar

Pada hakikatnya untuk melengkapi dan untuk lebih memaknai arti

dari belajar, dapat dikemukakan prinsip-prinsip belajar, Sadirman (2011:

24-25) dikutip dari Mukhtar (2015: 10) menjelaskan prinsip-prinsip belajar

sebagai berikut.

a. Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi manusiawi dan

kelakukaannya.

b. Belajar memerlukan proses dan penahapan serta kematangan diri para

pembelajar.

c. Belajar akan lebih mantap dan efektif, bila didorong dengan motivasi

dari dalam/dasar kebutuhan/kesadaran atau intrinsic motivation.

d. Dalam banyak hal, belajar merupakan merupakan proses percobaan

(dengan kemungkinan berbuat keliru) dan conditioning atau pembiasan

e. Kemampuan belajar seorang pembelajar harus diperhitungkan dalam

rangka menentukan isi pelajaran.

f. Belajar dapat dilakukan dengan tiga cara yakni: 1) Diajar secara

langsung. 2) Kontrol, kontak, penghayatan, pengalaman langsung. 3)

Pengenalan dan/atau peniru.


72

Abdillah (2015: 11-12) berpendapat bahwasanya adapun prinsip-

prinsip belajar yang harus diperhatikan oleh seorang pengajar dalam

merancang metode pembelajarannya adalah sebagai berikut:

a. Prinsip latihan atau praktik.

b. Prinsip asosiasi atau menghubung-hubungkan.

c. Prinsip efek atau akibat.

d. Prinsip kesiapan atau kesiapan belajar.

e. Prinsip penghayatan atau tujuan belajar.

f. Prinsip urutan bertahap atau equence.

g. Prinsip menghormati individu atau indivudualisasi.

h. Prinsip kesempatan belajar yang memadai.

i. Prinsip hasil diketahui dengan segera atau evaluasi.

j. Prinsip konteks.

Setelah melihat prinsip-prinsip belajar dari berbagai pendapat tersebut

prinsip belajar tidak lepas dari persiapan belajar, proses dalam belajar dan

setelah pembelajaran. Dalam persiapan belajar perlu adanya keinginan

serta potensi dari masing-masing individu agar merasa siap untuk belajar.

Dalam proses belajar, motivasi, minat dan bakat sangat diperlukan agar

proses belajar menjadi hal yang menyenangkan. Sedangkan setelah belajar

perlu diberikan sebuah evaluasi untuk mengukur sejauh mana proses

belajar dapat diterapkan dalam kehidupan.

4. Ciri-ciri Belajar
73

Ciri-Ciri Belajar Menurut Surya (1997) dalam Rusman.2015:13-16)

Surya menyampaikan bahwa terdapat 8 ciri-ciri dari belajar.

a. Perubahan yang didasari dan disengaja (intensional)

Ciri tersebut menjelaskan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah

laku yang disadari atau disengaja oleh individu tersebut. Dia juga

menyadari hasil dari perubahan tersebut. Individu tersebut memahami

bahwa telah terjadi peningkatan pengetahuan atau keterampilan dari

hasilnya belajar.

b. Perubahan yang berkesinambungan (kontinu)

Perubahan yang berkesinambungan memiliki arti bahwa perubahan

yang terjadi pada individu merupakan perubahan lanjutan dari

keterampilan, pengetahuan yang telah dia miliki sebelumnya. Misalkan:

Si X sudah memiliki pengetahuan tentang penjumlahan dan

pengurangan, kemudian dia belajar tentang perkalian dan pembagian.

Maka dia dapat memanfaatkan pengetahuan terdahulunya untuk

mempelajari pengetahuan barunya.

c. Perubahan yang fungsional

Hasil dari perubahan belajar adalah perubahan yang fungsional, artinya

hasil dari perubahan tersebut berguna. Hasil perubahan tersebut dapat

dimanfaatkan untuk kepentingan masa sekarang atau yang akan datang,

Misalnya seorang mahasiswa fakultas pendidikan mempelajari mata

kuliah teori pembelajaran, suatu saat materi tersebut akan bermanfaat

untuk keperluannya menjadi guru.


74

d. Perubahan yang bersifat positif

Belajar adalah terjadinya perubahan pada diri individu, perubahan

tersebut harus bersifat positif atau kearah kebaikan. Misalnya Seorang

guru yang belajar tentang tipe tipe cara belajar anak. Setelah dia belajar

dia paham bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda,

sehingga kini dia selalu menggnakan metode yang disesuaikan dengan

siswa untuk belajar mereka.

e. Perubahan Bersifat Aktif

Hal ini berarti bahwa perubahan yang terjadi pada individu akibat

belajar diperoleh dari kegiatan aktif individu tersebut untuk

mendapatkan hasil dari perubahan tersebut.

f. Perubahan yang bersifat permanen

Hasil belajar merupakan hasil yang permanen. Jdi orang dikatakan

belajar jika dia memperoleh perubahan tingkah laku yang sifatnya

permanen (bertahan lama). Misalnya seorang mahasiswa yang belajar

tentang komputer, kemudian dia bisa mengoperasikan komputer.

Kemampuan tersebut selanjutnya bertahan untuk waktu yang lama.

g. Perubahan yang terjadi berarah atau bertujuan

Seseorang dikatakan belajar jika ia sadar, termasuk dikatakan sadar jika

ia punya tujuan. Jadi belajaar harus terarah untuk meraih tujuan.

Misalnya seseorang yang belajar bermain bola, ia punya tujuan agar

mahir bermain sepak bola atau punya kehidupan yang sehat.

h. Perubahan prilaku secara keseluruhan


75

Maksudnya adalah bahwa hasil dari belajar mempengaruhi perubahan

secara keseluruhan individu. Tidak hanya pengetahuannya yang

berubah, tetapi juga keterampilan dan sikapnya

Menurut Djamarah dan Zain (2010: 15) adapun ciri-ciri belajar adalah

sebagai berikut:

a. Belajar dilakukan dengan sadar dan mempunyai tujuan.

b. Belajar merupakan proses interaksi antara individu dan lingkungannya.

c. Belajar mengakibatkan terjadinya perubahan pada diri orang yan

belajar.

Adapun ciri-ciri perubahan tingkah laku menurut Sugihartono dkk

(2013: 74-78) dalam pengertian belajar adalah sebagai berikut:

a. Perubahan terjadi secara sadar. Suatu perilaku digolongkan sebagai

aktivitas belajar apabila pelaku menyadari terjadinya perubahan

tersebut atau sekurang-kurangnya merasakan ada perubahan dalam

dirinya, seperti pengetahuannya bertambah.

b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional. Perubahan

yang terjadi dalam diri setiap individu berlangsung secara

berkesinambungan dan tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan

mengakibatkan perubahan berikutnya dan selanjutnya. Misalnya jika

seorang anak belajar membaca, maka ia akan mengalami perubahan

yakni dari yang tidak membaca jadi bisa membaca.

c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif. Perubahan dalam

belajar dikatakan positif apabila perilaku senantiasa bertambah dan


76

tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

Perubahan dalam belajar dikatakan aktif berarti perubahan tidak terjadi

dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu itu sendiri.

d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara. Perubahan bersifat

permanen yaitu perubahan tersebut akan selalu menetap dan tidak akan

hilang begitu saja, melainkan akan terus dimiliki bahkan akan

bertambah jika terus dipergunakan.

e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.

Perubahan tingkah laku dalam belajar mensyaratkan adanya tujuan

yang akan dicapai oleh pelaku belajar dan terarah kepada sebuah

perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Misalnya seseorang

yang belajar mengetik sudah terlebih dahulu menetapkan apa yang

ingin dicapai dengan belajar mengetik.

f. Perubahan mencakup aspek tingkah laku.

Perubahan yang diperoleh seorang individu setelah melalui proses

belajar meliputi keseluruhan perubahan tingkah laku secara

menyeluruh dalam sikap, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya.

Setelah melihat ciri-ciri belajar menurut Djamarah (2010: 15) dan ciri-

ciri perubahan tingkah laku menurut Sugihartono dkk (2013: 74-78)

penulis menyimpulkan bahwa ciri-ciri seseorang yang belajar adalah

seseorang tersebut berkeinginan untuk belajar dan berinteraksi dengan

lingkungan disekitarnya. Bagi setiap individu belajar diharapkan dapat


77

merubah tingkah laku, serta dapat berinteraksi dengan lingkungannya agar

menjadi manusia yang lebih baik.

C. Pendidikan Nonformal (PNF)

1. Pengertian Pendidikan Non Formal (PNF)

Pendidikan (education) secara semantik berasal dari bahasa yunani

paidagogia yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Pedagogos adalah

seorang nelayan atau bujang dalam zaman yunani kuno yang pekerjaannya

menjemput dan mengantar anak-anak ke dan dari sekolah. Selain itu, di

rumahnya anak tersebut selalu dalam pengawasan dan penjagaan para

paedagogos. Istilah ini berasal dari kata paedos yang berarti anak, dan

agogos yang berarti saya membimbing atau memimpin.

Menurut Langeveld (2011: 5) pendidikan adalah setiap usaha,

pengaruh, perlindungan, dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju

kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup,

cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Pengaruh ini datangnya dari

orang dewasa (orang yang diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah,

buku, putaran hidup sehari-hari dan sebagainya) dan ditujukan kepada

orang yang belum dewasa. Dalam perspektif keindonesiaan, pengertian,

fungsi, dan tujuan pendidikan dirumuskan dalam Undang-Undang Sistem

Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 dan 3 “pendidikan

adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
78

proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan

potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasaan, dan akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,

mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung

jawab.

Definisi pendidikan nonformal menurut Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 pasal 1 adalah jalur pendidikan

di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan

berjenjang. Menurut Sudjana (2010:13) Pendidikan non formal merupakan

salah satu dari sekian banyak istilah yang muncul dalam studi

kependidikan pada akhir tahun tujuh puluhan. Iatilah-istilah pendidikan

yang berkembang di tingkat internsional mula saat itu adalah: pendidikan

sepanjang hayat (life long education), pendidikan pembaharuan (recurrent

education), pendidikan abadi (permanent education), pendidikan informal

(informal education), pendidikan masyarakat (community education),

pendidikan perluasan (extention education), pendidikan massa (mass


79

education), pendidikan sosial (social education), pendidikan orang dewasa

(adult eduction), dan pendidikan berkelanjutan (continuing education).

Pendapat para pakar pendidikan non formal mengenai definisi

pendidikan non formal cukup bervariasi. Philip H. Coombs dalam

Soeleman (2013:50) berpendapat bahwa pendidikan non formal adalah

setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan diluar

sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu

kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada

sasaran didik tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajar.

Menurut Soelaman (2013:15), pendidikan non formal adalah setiap

kesempatan dimana terdapat komunikasi yang terarah di luar sekolah dan

seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan

sesuai dengan tingkat usia dan kebutuhan hidup, dengan jutuan

mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang

memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efesien dan efektif

dalam lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan

negaranya.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan

non formal adalah pendidikan kegiatan belajar mengajar yang diadakan di

luar sekolah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan peserta didik tertentu

untuk mendapatkan informasi, pengetahuan, latihan, dan bimbingan

sehingga mampu bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan negara.


80

Pendidikan non formal sudah ada sejak dulu dan menyatu di dalam

kehidupan masyarakat lebih tua dari pada keberadaan pendidikan sekolah.

Para Nabi dan Rasul yang melakukan perubahan mendasar terhadap

kepercayaan, cara berfikir, sopan santun dan cara-cara hidup di dalam

menikmati kehidupan dunia ini, berdasarkan sejarah, usaha atau gerakan

yang dilakukan bergerak di dalam jalur pendidikan non formal sebelum

lahirnya pendidikan sekolah. Gerakan atau dahwah nabi dan Rosul begitu

besar porsinya pembinaan yang ditujukan pada orang-orang dewasa dan

pemuda. Para Nabi dan Rosul berurusan dengan pendidikan dan

pembangunan masyarakat melalui pembinaan orang dewasa dan

pemuda yang berlangsungnya diluar sistem persekolahan (Faisal, 2011:

80)

2. Tujuan Pendidikan Non formal

Ditinjau dari faktor tujuan belajar/pendidikan, pendidikan non formal

bertanggung jawab menggapai dan memenuhi tujuan-tujuan yang sangat

luas jenis, level, maupun cakupannya. Dalam kapasitas inilah muncul

pendidikan non formal yang bersifat multi purpose. Ada tujuan-tujuan

pendidikan non formal yang terfokus pada pemenuhan kebutuhan belajar

tingkat dasar (basic education) semacam pendidikan keaksaraan,

pengetahuan alam, keterampilan vokasional, pengetahuan gizi dan

kesehatan, sikap sosial berkeluarga dan hidup bermasyarakat, pengetahuan

umum dan kewarganegaraan, serta citra diri dan nilai hidup.


81

Ada juga tujuan belajar di jalur pendidikan non formal yang ditujukan

untuk kepentingan pendidikan kelanjutan setelah terpenuhinnya

pendidikan tingkat dasar, serta pendidikan perluasan dan pendidikan nilai-

nilai hidup. Contoh program pendidikan non formal yang ditujukan untuk

mendapatkan dan memaknai nilai-nilai hidup misalnya pengajian,

sekolah minggu, berbagai latihan kejiwaan, meditasi, “manajemen kolbu”,

latihan pencarian makna hidup, kelompok hoby, pendidikan kesenian, dan

sebagainya. Dengan program pendidikan ini hidup manusia berusaha diisi

dengan nilai-nilai keagamaan, keindahan, etika dan makna (Abdulhak

2012:44)

3. Karakteristik Pendidikan non formal

Pendidikan non formal memiliki ciri-ciri yang berbeda dari

pendidikan sekolah. Namun keduannya pendidikan tersebut saling

menunjang dan melengkapi. Dengan meninjau sejarah dan banyaknya

aktivitas yang dilaksanakan, pendidikan non formal memiliki cirri-ciri

sebagai berikut:

a. Bertujuan untuk memperoleh keterampilan yang segera akan

dipergunakan.

Pendidikan non formal menekankan pada belajar yang fungsional yang

sesuai dengan kebutuhan dalam kehidupan peserta didik.

b. Berpusat pada peserta didik.

Dalam pendidikan non formal dan belajar mandiri, peserta didik

adalah pengambilan inisiatif dan mengkontrol kegiatan belajarnya.


82

c. Waktu penyelenggaraannya relatif singkat, dan pada umumnya tidak

berkesinambungan.

d. Menggunakan kurikulum kafetaria. Kurikulum bersifat fleksibel, dapat

dimusyawarahkan secara terbuka, dan banyak ditentukan oleh peerta

didik.

e. Menggunakan metode pembelajaran yang partisipatif, dengan

penekanan pada elajar mandiri.

f. Hubungan pendidik dengan peserta didik bersifat mendatar. Pendidik

adalah fasilitator bukan menggurui. Hubungan diantara kedua

pihak bersifat informal dan akrab., peserta didik memandang

fasilitator sebagai narasumber dan bukan sebagai instruktur

g. Penggunaan sumber-sumber lokal.

Mengingat sumber-sumber untuk pendidikan sangat langka, maka

diusahakan sumber-sumber local digunakan seoptimal mungkin

(Abdulhak 2012:205)

4. Jenis dan Isi Pendidikan non formal

Jenis dan isi pendidikan non formal pada dasarnya bergantung pada

kebutuhan pendidikan.

a. Jenis pendidikan non formal berdasarkan fungsinya adalah:

1) Pendidikan Keaksaraan

Jenis program pendidikan keaksaraan, ia berhubungan dengan

populasi sasaran yang belum dapat membaca-menulis. Target

pendidikannya dari program pendidikan keaksaraan ini adalah


83

terbebasnya populasi sasaran dari buta baca, buta tulis, buta bahasa

Indonesia, dab buta pengetahuan umum.

2) Pendidikan Vokasional

Jenis program pendidikan vakasioanal berhubungan dengan

populasi sasaran yang mempunyai hambatan di dalam pengetahuan

dan keterampilannya guna kepentingan bekerja atau mencari

nafkah. Target pendidikannya dari program pendidikan vakasional

ini adalah terbebasnya populasi sasaran dari ketidaktahuan

atau kekurang mampuannya didalam pekerjaan-pekerjaan yang

sedang atau akan dimasukinnya.

3) Pendidikan Kader

Jenis program pendidikan kader berhubungan dengan populasi

sasaran yang sedang atau bakal memangku jabatan kepemimpinan

atau pengelola dari suatu bidang usaha di masyarakat, baik bidang

usaha bidang social-ekonomi maupun social-budaya. Jenis

pendidikan ini diharapkan hadir tokoh atau kader pemimpin dan

pengelola dari kelompok-kelompok usaha yang tersebar di

masyarakat.

4) Pendidikan Umum dan Penyuluhan

Jenis program pendidikan ini berhubungan dengan berbagai variabel

populasi sasaran, target pendidikannya terbatas pada pemahaman

dan menjadi lebih sadar terhadap sesuatu hal. Lingkup geraknya


84

bisa sangat luas dari soal keagamaan, kenegaraan, kesehatan,

lingkungan hukum dan lainnya.

5) Pendidikan Penyegaran Jiwa-raga

Jenis program pendidikannya ini berkaitan dengan pengisian waktu

luang, pengembangan minat atau bakat serta hobi (Sanapiah,

2011:91)

b. Isi program pendidikan non formal yang berkaitan dengan peningkatan

mutu kehidupan seperti:

1) Pengembangan nilai-nilai etis, religi, estetis, sosial, dan budaya.

2) Pengembangan wawasan dan tata cara berfikir.

3) Peningkatan kesehatan pribadi, keluarga dan lingkungan.

4) Peningkatan dan pengembangan pengetahuan di dalam arti luas

(sosial, ekonomi, politik, ilmu-ilmukealaman, bahasa, sejarah, dan

sebagainya)

5) Apresiasi seni-budaya (sastra, teater, lukis, tari, pahat dan lain

sebagainya)

Sedangkan isi program pendidikan non formal yang berhubungan

dengan keterampilan untuk meningkatkan pendapatan (income

generating skill), berhubungan dengan penguasaan pengetahuan dan

keterampilan yang dimaksudkan sebagai bekal bekerja, bekal mendapat

pendapatan. Seperti pertanian, perikanan, perkebunan dan lain

sebagainya (Sanapiah, 2011:96).

5. Sasaran Pendidikan non formal


85

Sesuai dengan rancangan Peraturan Pemerintah sasaran pendidikan non

formal dapat ditinjau dari beberapa aspek yakni sebagai berikut:

a. Sasaran Pelayanan

1) Usia Pra-Sekolah (0-6 tahun)

Fungsi lembaga ini mempersiapkan anak-anak menjelang mereka

sekolah formal sehingga mereka telah terbiasa untuk hidup dalam

situasi yang berbeda dengan lingkungan keluarga.

2) Usia Pendidikan Dasar (7-12 tahun)

Usia ini dilaksanakan dengan penyelenggaraan program kejar paket

A dan kepramukaan yang diselenggarakan secara sesama dan

terpadu

3) Usia Pendidikan Menengah (13-18 tahun)

Penyelenggaraan pendidikan non formal untuk usia semacam ini

diarahkan untuk pengganti pendidikan, sebagai pelenggkap dan

penambah program pendidikan bagi mereka

4) Usia Pendidikan Tinggi (19-24 tahun)

Pendidikan non formal menyiapakan mereka untuk siap bekerja

melalui pemberian berbagai keterampilan sehingga mereka menjadi

tenaga yang produktif, siap kerja dan siap untuk usaha mandiri

b. Berdasarkan Lingkungan Sosial Budaya

1) Masyarakat Pendesaan
86

Masyarakat ini meliputi sebagian besar masyarakat Indunesia dan

program diarahkan pada program-program mata pencarian dan

program pendayagunaan sumber-sumber alam.

2) Masyarakat Perkotaan

Masyarakat perkotaan yang cepat terkena perkembangan ilmu dan

teknologi, sehingga masyarakat perlu memperoleh tambahan

tersebut melalui pemberian informasi dan kursus-kursus kilat.

3) Masyarakat Terpencil

Untuk itu masyarakat terpencil ini perlu ditolong melalui

pendidikan non formal yang mereka dapat mengikuti perkembangan

dan kemajuan nasional.

c. Berdasarkan Sistem Pengajaran

Sistem Pengajaran dalam proses penyelenggaraan dan pelaksanaan

program pendidikan non formal meliputi:

1) Kelompok, organisasi dan lembaga

Mekenisme sosial budaya seperti perlombaan dan pertandingan

Kesenian tradisional, seperti wayang, ludruk, ataupun teknologi

modern seperti televisi, radio, film, dan sebagainya. Prasarana dan

sarana seperti balai desa, masjid, gereja, sekolah dan alat-alat

pelengkapan kerja Soelaiman, 2013:58)

2) Khalayak
87

Khalayak sasaran yang ingin/ harus dilayani pendidikan non formal

terentang seiring dengan kebutuhan belajar manusia untuk belajar

sepanjang hayat, sejak anak usia dini sampai dengan orang usia

lanjut. Dimana seseorang atau sebuah komunitas manusia muncul

kebutuhan belajar (kebutuhan pengetahuan, keterampilan, dan

sikap), maka di situ sebaiknya pendidikan non formal hadir. Dalam

kapasitas inilah pendidikan non formal dikatakan bersifat multi

audiens, tidak saja ditinjau dari segi usia, tetapi juga karakteristik

individu dan sosial seperti jenis kelamin dan gender, demografi,

geografis, pekerjaan, latar pendidikan formal, dan sebagainya.

Sungguh sangat banyak kebutuhan belajar manusia yang

hanya bisa didekati dan diselesaikan melalui pendidikan non

formal. Sementara jelas sekali bahwa kemampuan sekolah

menjangkau dan memenuhi kebutuhan belajar khalayak sasaran

luar mainstream sekolah (persyaratan usia, syarat pendidikan

pendahuluan, tempat tinggal, dan prasyarat formal lainnya) sangat

terbatas.

Dengan demikian khalayak sasaran pendidikan non formal

adalah semua orang yang membutuhkan layanan pendidikan untuk

meningkatkan kemampuan (pengetahuan, keterampilan dan sikap)

dalam upaya menggapai derajat, martabat, dan kualitas hidup yang

lebih baik, lebih indah, lebih bernilai, dan lebuh bermakna

(Abdulhak 2012:45).
88

6. Satuan Pendidikan Non Formal

Pada tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, nama

Direktorat DISKLUSEPA diganti menjadi Direktorat PNFP (Pendidikan

Non Formal dan Pemuda). Berdasarkan UU tersebut jalur, jenis, dan

satuan PNF mengalami perubahan guna disesuaikan dengan tuntutan

masyarkat tentang pendidikan. Satuan pendidikan non formal diperluas

menjadi enam yaitu (Abdulhak, 2013: 56-59):

a. Lembaga kursus

Kursus adalah satuan pendidikan non formal yang terdidri atas

sekumpulan warga masyarakat yang memberikan pengetahuan,

keterampilan, dan sikap mental tertentu bagi warga belajar. Kursus

diselenggarakan bagi warga belajar yang memerlukan bekal untuk

mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah, melanjutkan ke tingkat

atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

b. Lembaga pelatihan

c. Kelompok belajar

Kelompok belajar adalah satuan pendidikan non formal yang terdiri

atas sekumpulan warga masyarakat yang saling membelajarkan

pengalaman dan kemampuan dalam rangka meningkatkan mutu dan

taraf kehidupan. Napitupulu menjelaskan perkataan kejar di samping

mengandung arti harfiah yakni mengejar ketinggalan-ketinggalan,

juga sebagai dua akronim dari belajar dan bekerja serta kelompok

belajar. Kedua pengertian tersebut disimpulkan bahwa program kejar


89

dijalankan untuk mengejar ketinggalan, bersifat belejar dan bekerja,

menggunakan wadah kelompok belajar.

Program kejar diklasifikasikan menjadi dua yakni:

1) Kelompok Belajar Fungsional (termasuk didalam kelompok ini

adalah: Keaksaraan fungsional, Kelompok Belajar Usaha (KBU),

Kelompok Pemuda Produktif Pedesaan (KPPP), Kelompok

Pemberdayaan Swadaya Masyarakat (KPSM), dan Kelompok

Pemuda Produktif Mandiri (KPPM)

2) Kelompok Beajar Kesetaraan (Kejar Paket A setara SD, Kejar

Paket B setara dengan setara SLTP, Kelompok Belajar Paket C

d. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Pusat kegiatan belajar masyarakat menurut Sutaryat merupakan

tempat belajar yang bentuk dari, oleh dan untuk masyarakat, dalam

rangka meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, hobi, dan

bakat warga masyarakat, yang bertitik tolak dari kebermaknaan dan

kebermanfaatan program bagi warga belajar dengan menggali dan

memanfaatkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam

yang ada di lingkungannya.

Program pembelajaran yang dilaksanakan di PKBM digali dari

kebutuhan nyata yang dirasakan warga masyarakat, dikaitkan dengan

potensi lingkungan dan kemungkinan pemasaran hasil belajar. Dalam


90

kegiatan pembelajaran keterampilan fungsional terintegrasi dengan

seluruh program belajar, waktu belajar disesuaikan dengan kesiapan

warga belajar. Program yang dilaksanakan dan kembangkan di PKMB

tidak hanya program yang disponsori oleh instansi pendidikan non

formal tetapi juga program dari instansi lain (seperti pertanian,

kesehatan, perindustrian dan lain-lain).

Program-program yang dilaksanakan PKMB selalu dikaitkan

dengan upaya meningkatkan taraf hidup. Program-program yang

dimaksud adalah pendidikan anak usia dini, pendidikan keaksaraan,

pendidikan kesetaraan, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan

kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan lansia

dan lainnya.

e. Majlis Ta`lim

Majlis ta`lim adalah suatu pendiidkan non formal yang

dilaksanakan oleh masyarakat dengan tujuan meningkatkan

pengetahuan, dan keterampilan serta perubahan sikap hidup terutama

yang berhubungan dengan agama Islam yang dilaksanakan apik dan

rapi. Kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam masjlis ta`lim adalah

kelompok yasinan, kelompok pengajian, taman pengajian Al-Qur`an,

pengajian kitab kuning, salafiah dan lain-lain.

f. Satuan pendidikan sejenis

Pendidikan non formal yang diselenggarakan oleh masyarakat

untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perubahan sikap


91

cakupannya sangat luas, maka kegiatan tersebut perlu adanya landasan

hokum yang bisa menjamin keberadaan kegiatan tersebut. Maka

ditetapkan satuan pendidikan sejenis (UU No. 2003 pasal 26 ayat 4).

Jenis-jenis kegiatan yang termasuk dalam satuan pendidikan yang

sejenis (lainnya) menurut PP No. 37 Tahun 1991 tentang Pendidikan

Non Formal adalah pra sekolah (Kelompok bermain, Penitipan Anak),

balai latihan dan penyuluhan, kepramukaan, padepokan pencak silat,

sanggar kesenian, bengkel/teater, lembaga komunikasi edukatif

melalui media massa (cetak dan elektronik) dan majlis ta`lim (dalam

UU No. 20 Tahun 2003 berdiri sendiri menjadi satuan Pendidikan

Non Formal)

7. Peran Pndidikan Luar Sekolah

Masalah pendidikan dalam pendidikan sekolah, menyebabkan

pendidikan non formal mengambil peran untuk membantu sekolah dan

masyarakat dalam mengurangi masalah tersebut. Sudjana mengemukakan

peran pendidikan non formal adalah sebagai “pelengkap, penambah, dan

pengganti" dengan penjabaran sebagai berikut:

a. Sebagai pelengkap pendidikan sekolah

Pendidikan non formal berfungsi untuk melengkapi kemampuan

peserta didik dengan jalan memberikan pengalaman belajar yang tidak

diperoleh dalam pendidikan sekolah. Pendidikan non formal sebagai


92

pelengkap ini dirasakan perlu oleh masyarakat untuk memenuhi

kebutuhan belajar masyarakat dan mendekatkan fungsi pendidikan

sekolah dengan kenyataan yang ada di masyarakat. Oleh karena itu

program-program pendididkan non formal pada umumnya dikaitkan

dengan lapangan kerja dan dunia usaha seperti latihan keterampilan

kayu, tembok, las, pertanian, makanan, dan lain-lain.

b. Sebagai penambah pendidikan sekolah

Pendidikan non formal sebagai penambah pendidikan

sekolah bertujuan untuk menyediakan kesempatan belajar kepada: 1.

Peserta didik yang ingin memperdalam materi pelajaran tertentu yang

diperoleh selama mengikuti program pendidikan pada jenjang

pendidikan sekolah. 2. Alumni suatu jenjang pendidikan sekolah

dan masih memerlukan layanan pendidikan untuk memperluas

materi pelajaran yang telah diperoleh. 3. Mereka yang putus sekolah

dan memerlukan pengetahuan serta keterampilan yang berkaitan

dengan lapangan pekerjaan atau penampilan diri dalam masyarakat.

c. Sebagai pengganti pendidikan sekolah

Pendidikan non formal sebagai pengganti pendidikan sekolah

meyediakan kesempatan belajar bagi anak-anak atau orang dewasa

yang karena berbagai alasan tidak memperoleh kesempatan untuk

memasuk satuan pendidikan sekolah. Kegiatan belajar mengajar

bertujuan untuk memberikan kemampuan dasar membaca, menulis,

berhitung dan pengetahuan praktis dan sederhana yang berhubungan


93

dengan kehidupan sehari-hari seperti pemeliharaan kesehatan

lingkungan dan pemukiman, gizi keluarga, cara bercocok tanam, dan

jenis-jenis keterampilan lainnya Sudjana (2011:107).

D. Kerangka Berfikir

Menurut UU Sistem Pendidikan No.20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 1,

definisi pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Fungsi pendidikan adalah menghilangkan segala sumber penderitaan

rakyat dari kebodohan dan ketertinggalan. Sedangkan menurut UUSPN No.20

Tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi

mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa

yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Jalur pendidikan menurut UU Sistem Pendidikan No.20 Tahun 2003

adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri

dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Menurut undang-undang tersebut, jalur pendidikan terdiri atas pendidikan

formal (jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas

pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi), pendidikan

nonformal (jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat

dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang), dan pendidikan informal


94

(jalur pendidikan keluarga dan lingkungan) yang dapat saling melengkapi dan

saling memperkaya.

Sanafiah Faisal dalam Gatot Harikin (2010) mengemukakan bahwa ciri-

ciri pendidikan nonformal sebagai berikut: “Paket pendidikan yang

dilaksanakan berjangka pendek; setiap program pendidikan merupakan suatu

paket yang spesifik dan biasanya lahir dari kebutuhan yang sangat diperlukan;

persyaratan enromennya sangat fleksibel, baik dalam usia maupun tingkat

kemampuan; persyaratan unsur-unsur pengelolaannya jauh lebih fleksibel;

skuesnsi materi pelajaran atau latihannya relatif lebih luwes; tidak berjenjang

secara kronologis (walaupun terdapat ingkatan-tingkatan, misalnya tingkat

dasar, menengah, dan tinggi, hal itu juga tidak seketat perjenjangan pada

sistem persekolahan); serta perolehan dan keberartian nilai kredensialnya tidak

seberapa tersandarkan.”

Berdasarkan ciri-ciri pendidikan nonformal diatas, dapat disimpulkan

bahwa pendidikan nonformal memiliki ciri yang fleksibel karena dapat

diselenggarakan sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat.

Fungsi lembaga pendidikan nonformal menurut UU Sisdiknas Tahun

2003 pasal 26 adalah sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap

pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Pada ayat ke 5, kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang

memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, sikap untuk

mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri,

dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


95

Berdasarkan uraian di atas mengenai pendidikan nonformal maka

diperlukan usaha-usaha agar pendidikan nonformal dapat rumuskan

bagaimana bentuk idealnya dan dapat dilaksanaakan sesuai rencana. Salah

satu cara adalah dengan melakukan reformasi pembelajaran di lembaga-

lembaga pendidikan nonformal tersebut.