Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, karena pendidikan bagian inti dari
kedaulatan dan harga diri bangsa, melalui pendidikan ini juga pembentukan
karakter dan identitas seorang warga negara bisa tumbuh dan berkembang,
pendidikan juga menjadi salah satu program unggulan dari program pemerintah,
sehingga pendidikan dijadikan “anak emas” mengalahkan program lainnya.
Perhatian pemerintah terhadap pendidikan yaitu dengan membentuk program-
program pendidikan, salah satunya melalui pendidikan karakter dengan tujuan
menjadikan generasi didik yang unggul dan bermartabat, pendidikan karakter
kemudian disosialisasikan oleh kementrian dan lembaga pemerintah melalui
seminar dan workshop tentang pentingnya mengimplementasikan pendidikan
karakter kepada generasi didik dan masyarakat, (Kemendiknas, 2011: 2).
Selain itu, perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan yaitu dengan
mengaplikasikan Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 terlebih pada pasal
31 ayat 4 yang berbunyi: “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan
sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja
negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi
kebutuhan penyelanggaraan pendidikan nasional,” (UUD, 1945: 4).
Perhatian pemerintah untuk memajukan dan mengembangan pendidikan,
tentu akan membangkitkan gairah, harapan dan optimisme para penyelenggara
dan penggiat dibidang pendidikan, wajar itu terjadi, mengingat selama 32 tahun
dibawah rezim orde baru, kebijakan-kebijakan terkait pendidikan terkesan
menindas dan tidak adanya kebebasan. Belum lagi, sistem pendidikan yang
memunculkan kerancuan terhadap orientasi pendidikan dan berakibat pada
maraknya komersialisasi dibidang pendidikan, karena komersialisasi pendidikan
berdampak pada masyarakat yang tidak mampu membiayai biaya sekolah dan

1
2

mendapatkan penddikan yang layak, sedangkan keberhasilan pendidikan hanya


didasari pada besarnya jumlah lulusan sekolah yang dapat diserap oleh sektor
industri, padahal tujuan pendidikan diantaranya untuk menjadikan siswa cerdas
dan mengembangkan intelektual, (Andrias Harefa, 2005: 151).
Anak adalah amanah Allah yang harus dibina, dipelihara dan diurus secara
seksama serta sempurna agar kelak berguna bagi agama, bangsa dan negara dan
secara khusus dapat menjadi pelipur lara orang tua, penenang hati ayah dan bunda
serta sebagai kebanggaan keluarga (Abdulah Nasih Ulwan, 2002: 7). Anak
merupakan amanat bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang masih suci merupakan
permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan
apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya. Jika dibiasakan
dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua
orang tuanya di dunia dan akherat, juga setiap gurunya. Tapi jika dibiasakan
kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat
dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh guru dan walinya. Maka hendaklah
guru dan wali memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak
yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-
senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan
menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.
Mendidik anak merupakan tanggung jawab yang berat. Rasulallah SAW
telah menyebutkan dengan tepat tanggung jawab itu yaitu sebagai seorang
pemimpin, sebagai seorang pemimpin harus berhati-hati terhadap yang
dipimpinnya. Orang tua harus terus menerus mengawasi dan memperhatikan
sehingga yakin bahwa anak-anak mereka tidak tersesat dan jatuh. Seseorang tidak
bisa dibiarkan tumbuh dan berkembang begitu saja tanpa ada yang merawat dan
membimbing, karena anak bisa tumbuh liar tak terkendali. Pendidikan merupakan
tanggung jawab dan kewajiban orang tua karena anak sebagai amanah Allah
SWT. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh menelantarkan kebutuhan-kebutuhan
anak yakni kasih sayang, perlindungan, pendidikan dan sebagainya. Sebagaimana
sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits : “Hormatilah anak-anakmu sekalian
3

dan perhatikanlah pendidikan mereka, karena anak-anakmu sekalian adalah


karunia Allah kepadamu.” (HR. Ibnu Majah)
Hadits tersebut mengandung suatu perintah pada orang tua untuk
memperhatikan pendidikan dan mengarahkan anak-anak kepada terbentuknya
akhlak mulia sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam. Sekalipun anak memiliki
kesiapan yang besar untuk menjadi baik, sekalipun fitrahnya bersih dan lurus, tapi
dia tidak akan tertuntun kepada prinsip-prinsip pendidikan yang utama selagi
pendidik tidak memiliki akhlak dan nilai-nilai kemuliaan yang luhur. Semua
pengharapan yang positif dalam diri anak tidaklah dapat terpenuhi tanpa adanya
bimbingan yang memadai, selaras dan seimbang.
Semua itu tidak akan didapatkan secara sempurna kecuali pada ajaran
Islam, karena bersumber pada wahyu Allah SWT yang paling mengerti tentang
hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW
bersabda: “Setiap bayi dilahirkan atas fitrah, maka orang tuanyalah yang
menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi”. Dari hadits tersebut mengandung
arti bahwa sangatlah penting pendidikan dalam membentuk karakter anak.
Dengan pendidikan yang baik akan didapat karakter yang mulia sebagai fondasi
yang kuat dalam mempersiapkan pribadi yang saleh dan bertanggung jawab atas
segala persoalan dan tugas hidupnya. (Haya Binti Mubarok Al Barik, 2006: 248)
Dalam kepentingan pendidikan perlu dikembangkan sejumlah nilai yang
penting untuk dimiliki anak dalam rangka pembangunan Indonesia. Nilai-nilai
yang akan dikembangkan untuk bangsa Indonesia disesuaikan dengan
permasalahan yang krusial yang dihadapi oleh bangsa Indonesia (Dharma
Kesuma, 2012: 15). Sebagaimana kondisi bangsa Indonesia yang dikategorikan
dalam kondisi krisis, yakni krisis multidimensi dalam setiap sisi kehidupan,
seperti perilaku seks bebas di kalangan generasi muda yang semakin tidak
terbendung oleh nasehat dan didikan orang tua. Kenyataan lain adalah adanya
peredaran narkoba yang semakin menggurita di kalangan generasi muda seperti
pelajar. Tindakan tawuran, pengeroyokan, pencurian, menjadi kelompok geng
4

motor yang narkis dan perampokan yang dilakukan oleh para remaja (Agus
Wibowo, 2013: 2).
Dalam lingkup sekolah, masyarakat umum harusnya tidak langsung
sepenuhnya menyalahkan pihak sekolah khususnya para pendidik sebagai pihak
yang paling bertanggung jawab atas keterpurukan bangsa ini dalam pola pikir dan
perilaku yang tidak sesuai dengan tuntutan warga dunia yang seharusnya
berbudaya dan bermasyarakat. Keterpurukan tersebut disebabkan lantaran
kurangnya inovasi pemilihan dan penentuan metode dalam pendidikan, pendidik
cenderung memiliki paradigma lama, yakni materi oriented. Namun dalam
realitanya pendidik sebagai garda terdepan dalam membentuk karakter bangsa
yang berbudi pekerti luhur, cerdas, humanis dan religius juga tidak dapat cuci
tangan dari masalah ini (Sutarjo Adisusilo, 2012: 5). Melihat adanya kenyataan
tersebut mengindikasikan perlunya adanya pengembangan pendidikan karakter
pada anak, pendidikan tidak sekedar pengetahuan dan kecerdasan intelektual
semata, tetapi juga menjangkau dalam wilayah moral atau kepribadian sesuai
dengan ajaran agama.
Sebagaimana dalam teori pendidikan, terdapat beberapa aliran tentang
pembelajaran dan pendidikan. Aliran humanistik yang memandang bahwa
pendidikan humanistik bahwa proses pendidikan bukan hanya sebagai sarana
transformasi pengetahuan saja, akan tetapi lebih dari itu bahwa proses belajar
merupakan bagian dari mengembangkan nilai- nilai kemanusiaan (Baharuddin,
dkk, 2007: 143). Ini sejalan dengan tujuan dari pendidikan karakter yang juga
merupakan bagian dari tujuan pendidikan nasional.
Dalam mengatasi keterpurukan karakter bangsa, telah banyak usaha yang
dilakukan, salah satunya dengan pengembangan pendidikan karakter sebagai
upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas manusia. Namun, masih
saja kekurangan dan kegagalan menyertai pendidik. Hal ini disebabkan kelemahan
yang ada dalam pendidik dalam memilih dan mengembangkan metode yang
diterapkan. Dalam hal kurangnya penerapan metode maupun pemahaman aspek-
aspek yang kurang tepat khususnya dalam pola pendidikan karakter anak yang
bertujuan untuk membentuk kepribadian muslim. Dengan demikian dibutuhkan
5

cara yang sesuai yang dapat mengantarkan pada pendidikan karakter yang secara
sistematis dan berkelanjutan. Metode pendidikan yang memberi pencerahan bagi
pendidik dan anak, bahwa nilai bukan sekadar objek ranah kognitif namun sampai
pada internalisasi nilai dan bermuara pada penghayatan nilai dalam kehidupan
nyata (Baharuddin, dkk, 2012: 6).
Sementara itu, pemerintah dan masyarakat berusaha serius dalam
menciptakan pendidikan yang baik untuk melahirkan masyarakat yang cerdas dan
berdaya saing, sebagaimana dirumuskan dalam Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJPN), kini pendidikan di Indonesia telah ternodai dengan
berbagai kasus yang dilakukan oleh para elit politik, birokrat dan bahkan para
penegak hukum. Seperti, anggota DPR melakukan korupsi, bupati berakhir
jabatannya di penjara, aparat pajak mengemplang dana pajak masyarakat, dan
penegak hukum yang terjerat dengan kasus hukum, semua itu adalah orang-orang
terpelajar, hasil pendidikan dan perguruan tinggi di Indonesia. Oleh karena itu,
Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Kesra) pada 2010 mengeluarkan
kebijakan nasional mengenai pembangunan karakter bangsa, yang diharapkan bisa
direspon oleh Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Kementerian
Agama (Kemenag), (Dede Rosyada, 2011:1).
Pendidikan karakter bangsa yang menjadi tema besar pada perayaan Hari
Pendidikan Nasional (Hardiknas) lalu, mengingatkan bahwa bangsa ini sudah
menjadi bangsa yang tidak civilized lagi. Itu sebabnya upaya membangun bangsa
yang beradab harus dilakukan melalui proses pendidikan “Education is not a
preparation of life, but it’s life itself”, demikian pendapat John Dewey, ketika
berusaha menjelaskan tentang ranah pendidikan yang sesungguhnya, yaitu
pendidikan adalah kehidupan, (www.kompas.com, 2010: ).
Sementara menurut W.S Rendra dalam salah satu puisinya “papan tulis -
papan tulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan”. Ia
mempertanyakan mengapa, dalam proses pendidikan di sekolah ternyata masih
lebih mengutamakan aspek kognitifnya ketimbang afektif dan psikomotoriknya.
Bahkan, Ujian Nasional (UN)-pun lebih mementingkan aspek intelektualnya
ketimbang aspek kejujurannya, tingkat kejujuran pada Ujian Nasional hanya
6

mencapai 20%, karena masih banyak peserta didik yang menyontek dalam
pelbagai cara dalam mengerjakan soal Ujian Nasional, (www.detik.com, 2000:1).
Dalam buku tentang kecerdasan ganda (Multiple Intelligences), Daniel
Goleman mengingatkan kepada kita bahwa kecerdasan emosional dan sosial
dalam kehidupan diperlukan 80%, sementara kecerdasan intelektual hanyalah
20% saja. Dalam hal inilah maka pendidikan karakter diperlukan untuk
membangun kehidupan yang lebih beradab, bukan kehidupan yang justru dipenuhi
dengan perilaku biadab, maka terpikirlah oleh para cerdik pandai tentang apa yang
dikenal dengan pendidikan karakter (character education).
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka penulis merasa perlu
adanya pengkajian ulang atau kritik terhadap realitas yang ada dalam dunia
pendidikan. Oleh karena itu, penulis mengangkat judul “MODEL
PENGEMBANGAN EVALUASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BERBASIS KARAKTER DI SMPN JAKARTA” (Studi Kasus Pada SMPN
233 Jakarta). Harapan penulis dengan mengupas lebih dalam terhadap dunia
pendidikan akan menjadikan penulis berfikir kreatif, inipatif, solutif dan lebih
baik dalam mengelola sebuah lembaga pendidikan.

A. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas penulis mengidentifikasi
permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana cara mensosialisikan ide Model Pengembangan
Evaluasi Pendidikan Agama Islam berbasis Karakter di SMPN 233 Jakarta?
2. Bagaimana mencetak lulusan sekolah yang mempunyai karakter
yang bermoral?
3. Bagaimana mengajarkan pendidikan karakter kepada peserta didik?
4. Bagaimana menjadikan Model Pengembangan Evaluasi
Pendidikan Agama Islam berbasis Karakter di SMPN 233 Jakarta?
5. Bagaimana pelaksanaan Model Pengembangan Evaluasi Pendidian
Agama Islam berbasis Karakter di SMPN 233 Jakarta?
7

6. Bagaimana proses evaluasi pelaksanaan Model Pengembangan


Evaluasi Pendidian Agama Islam berbasis Karakter dalam di SMPN 233
Jakarta?

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah


Berdasarkan identifikasi masalah di atas, mana penulis membatasi
permasalahan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :
a. Bagaimana pelaksanaan Model Pengembangan Evaluasi Pendidikan Agama
Islam berbasis Karakter di SMPN 233 Jakarta?
b. Bagaimana proses evaluasi pelaksanaan Model Pengembangan Evaluasi
Pendidikan Agama Islam berbasis Karakter di SMPN 233 Jakarta?

C. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian


Dari masalah di atas, tujuan penulis dan kegunan penelitian melakukan
penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pelaksanaan Model Pengembangan Evaluasi
Pendidikan Agama Islam berbasis Karakter di SMPN 233 Jakarta.
2. Untuk mengetahui proses evaluasi dan kebijakan Model
Pengembangan Evaluasi Pendidikan Agama Islam berbasis Karakter di SMPN
233 Jakarta
3. Secara teoritis, menambah khazanah untuk pengembangan keilmuan sebagai
wacana baru dalam bidang pendidikan, khususnya dalam metode pendidikan
Islam.
4. Secara praktis, bagi orangtua, guru, lembaga, pengelola maupun pelaku
kebijakan, hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan dalam
menentukan metode dan arah pengembangan pendidikan sekaligus menambah
wawasan pendidikan Islam. bagi mahasiswa, penelitian ini diharapkan dapat
dipergunakan sebagai salah satu bahan acuan bagi pelaksanaan penelitian-
penelitian yang lebih relevan.
8

D. Kajian Pustaka Terdahulu


Kajian pustaka terdahulu yang sangat penting penulis ketengahkan dalam
tesis ini adalah sebagai berikut:
1. Hamka Abdul Aziz dalam buku Pendidikan Karakter Berpusat Pada Hati,
menyatakan bahwa pendidikan karakter yang efektif itu idealnya dimulai
dari hati dengan menanamkan berbagai sifat mulia untuk peserta didik,
lalu diaplikasikan dalam kehidupan dengan cara bertahap sehingga
melekat dan terpatri dalam jiwa dan tingkah laku mereka.
2. Abdullah Nasih Ulwan dalam buku Tarbiyah Al Aulad Fi Al Islam,
menyatakan bahwa anak amanah yang harus dipelihara dan diurus dengan
seksama, agar kelak berguna bagi agama nusa dan bangsa, serta secara
khusus dapat menjadi pelipur lara bagi orang tua, maka harus diajarkan
akhlak yang terpuji sejak lahir , anak-anak bahkan sampai dewasa dan di
saat sama dijauhkan dari pengaruh negative pergaulan yang ada. Insya
Allah anak akan tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana dan sesuai dengan
harapan ayah dan ibunya.
3. Dharma Kesuma, dkk, dalam buku Pendidikan Karakter (Kajian Teori dan
Praktik di Sekolah),menyatakan bahwa dalam kepentingan pendidikan
peru dikembangkan sejumlah nilai-nilai karakter yang penting dan mulia
untuk dimiliki anak dalam rangka pembangunan mental anak bangsa yang
berakhlak dan berbudaya.
4. Sutarjo Adisusilo dalam buku, Pembelajaran Nilai Karakter:
Kontruksivisme Dan VCT Sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran
Afektif, menyatakan bahwa untuk mewujudkan karakter bangsa yang
berbudi pekerti luhur, cerdas, humanis dan religious perlu dikembangkan
pendidikan karakter pada anak, yang tidak hanya menitikberatkan pada
aspek intlektual semata, tetapi juga menjangkau wilayah moral dan
kepribadian berdasarkan agama.
5. Yahya Khan dalam buku Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri,
menyatakan bahwa rakyat harus disadarkan akan pentingnya pendidikan
9

karakter melalui penghayatan akan jasa para pahlawan yang


memperjuangkan bangsa agar mendapatkan kebebasan.
Kelima buku yang terssebut di atas, belum ada yang membahas
secara spesifik membahas tentang Model Pengembangan Evaluasi
Pendidikan Agama Islam berbasis Karkter di SMPN 233 Jakarta di
sekolah, sehingga sangat diperlukan untuk dikaji agar dapat memberikan
pencerahan sekaligus paradigma baru dalam pengajaran Model
Pengembangan Evaluasi Pendidikan Agama Islam berbasis Karakter di
SMPN 233 Jakarta.