Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hakekat Pendidikan Karakter


1. Pengertian Karakter
Karakter menurut Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional
(Kemendiknas) adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku,
personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah
berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Sedangkan yang
disebut individu berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha
melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya sendiri, antar
sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya,
dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan
kesadaran, emosi dan motivasi (perasaan) (Kemendiknas, 2011).
Menurut Tadkiroatun Musfiroh, karakter mengacu kepada serangkaian
sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan
(skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau
menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam
bentuk tindakan atau tingkah laku.
Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada
nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang
lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif)
sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri
(Tadkiroatun Musfiroh, Universitas Yogyakarta, 2008).
Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah:
cinta kepada Allah dan ciptaan-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur,
hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif,
kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah
hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa
karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian,

10
11

peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun,


disiplin, visioner, adil, dan punya integritas.
Berdasarkan penjelasan di atas, penulis menyimbulkan bahwa karakter
adalah kepribadian atau perilaku/watak manusia yang berhubungan dengan
Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungannya.
2. Pengertian Pendidikan Karakter
Gagasan dasar tentang pendidikan karakter secara umum sesungguhnya
bukan suatu hal yang baru bagi pembentukan watak di Indonesia. Pendidikan
modern Indonesia tempo dulu yang dikenal seperti R.A Kartini, Ki Hajar
Dewantoro, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Moh.Nasir telah berdaya upaya
menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai sarana membentuk watak dan
identitas bangsa Indonesia. Sebelum Indonesia merdeka Soekarno menyatakan
bahwa tidak ada kemerdekaan jika dalam mentalitas bangsa tidak ada semangat
dan kemauan untuk merdeka. Inilah cita-cita Soekarno untuk menggembleng
rakyat, membangun karakter bangsa untuk meraih Indonesia merdeka. Pemikiran
Soekarno berlanjut dengan mendasari negara kesatuan Indonesia yang Bhineka
Tunggal Ika ini dengan falsafah Pancasila, (D. Yahya Khan, 2010; 120).
Sedangkan penjabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.” Undang-undang tersebut sangatlah jelas dan gamblang tidak
diragukan, bahwa pendidikan seharusnya menciptakan manusia yang membangun
peradaban dunia selaras dengan misi diciptakannya, yaitu menjadi khalifah Allah
dimuka bumi ini, (Al Mawardi dalam Hamka Abdul Azis, 2011: 10).
Menurut Elkind dan Sweet, pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut:
“Character education is the deliberate effort to help people understand, care
about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of
12

character we want for our children, it is clear that we want them to be able to
judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe
to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”,
(Elkind dan Sweet, 2004).
Kesimpulan dari pendapat Elkind dan Sweet bahwa pendidikan karakter
adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter
peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup
keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan
materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.
Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas, secara
psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu
merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif,
dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga,
sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter
dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat
dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah
Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and
kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity
development) yang secara diagramatik dapat digambarkan sebagai berikut
(Kemendiknas, 2010).
OLAH PIKIR OLAH HATI
Cerdas Jujur
Bertanggung Jawab
OLAH RAGA (KENESTETIK) OLAH RASA dan KARSA
Bersih, Sehat, Menarik Peduli dan Kreatif

Komitmen dan spirit pembangunan bangsa dan karakter, seperti Ir


Sukarno, Presiden RI Pertama ditemakan dengan nation and character building
bukan hanya harus dianggap penting, tetapi harus diterima sebagai keniscayaan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kebangsaan. Secara konstitusional-
filosofis komitmen kebangsaan dan bernegara Indonesia tersebut dengan tegas
13

dinyatakan dalam keempat alinea Pembukaan UUD 1945 (Udin S Winataputra,


2010: 1).
Upaya penanaman nilai moral yang bersumber dari nilai-nilai luhur
budaya bangsa, dalam rangka pembentukan karakter dan jati diri peserta didik
sebagai generasi muda bangsa, masih belum mendapat perhatian yang memadahi.
Padahal kata Tengku Ramli Zakaria semua mata pelajaran, tidak terbatas pada
mata pelajaran agama dan PKn, yang memiliki tiga domain tujuan pembelajaran,
yakni:
1. Domain Kognitif,
2. Domain Afektif, dan
3. Domain Psikomotorik
Sedangkan peran guru dalam rangka pembentukan karakter dan jati diri
bangsa sangat penting, karena guru merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan
program-program pendidikan. Oleh karena itu, dalam mengemban tugas
profesionalnya, semua guru patut memberi perhatian secara utuh kepada tiga
domain tujuan pendidikan tersebut (Zakaria, 2011: 1).
Dari penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa pendidikan karakter
adalah upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk
menanamkan nilai-nilai perilaku peserta didik yang berhubungan dengan Tuhan
Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang
terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan
norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

3. Konsep Pendidikan Karakter


Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau
kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan
karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school
life to foster optimal character development”.  Dalam pendidikan karakter di
sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk
komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses
14

pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran,


pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler,
pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga
sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu
perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan  harus
berkarakter.
Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas
pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan
tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya
kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai
kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan  di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut
telah  sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga
pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan
dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian  peserta didik
melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa konsep pendidikan
karakter yaitu penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi
komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai tersebut.
4. Tahapan Pengembangan Karakter
Pengembangan atau pembentukan karakter diyakini perlu dan penting
untuk dilakukan oleh sekolah dan stakeholders-nya untuk menjadi pijakan dalam
penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah. Tujuan pendidikan karakter pada
dasarnya adalah mendorong lahirnya anak-anak yang baik (insan kamil). Tumbuh
dan berkembangnya karakter yang baik akan mendorong peserta didik tumbuh
dengan kapasitas dan komitmennya untuk melakukan berbagai hal yang terbaik
dan melakukan segalanya dengan benar dan memiliki tujuan hidup. Masyarakat
juga berperan membentuk karakter anak melalui orang tua dan lingkungannya.
Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing),
pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Karakter tidak terbatas pada
pengetahuan saja. Seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu
15

mampu bertindak sesuai dengan pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi


kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut. Karakter juga menjangkau
wilayah emosi dan kebiasaan diri. Dengan demikian diperlukan tiga komponen
karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing
(pengetahuan tentang moral), moral feeling  atau perasaan (penguatan emosi)
tentang moral, dan moral action atau perbuatan bermoral. Hal ini diperlukan
agar peserta didik dan atau warga sekolah lain yang terlibat dalam sistem
pendidikan tersebut sekaligus dapat memahami, merasakan, menghayati, dan
mengamalkan (mengerjakan) nilai-nilai kebajikan (moral).
Pengembangan karakter dalam suatu sistem pendidikan adalah keterkaitan
antara komponen-komponen karakter yang mengandung nilai-nilai perilaku, yang
dapat dilakukan atau bertindak secara bertahap dan saling berhubungan antara
pengetahuan nilai-nilai perilaku dengan sikap atau emosi yang kuat untuk
melaksanakannya, baik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan,
bangsa dan negara serta dunia internasional.

TUHAN Y M E

Nilai- Nilai-
Nilai Nilai
Moral
Knowing
DIRI SENDIRI SESAMA

CHARACTER
Nilai-
Nilai- Moral Moral Nilai
Nilai Action Feeling

KEBANGSAAN LINGKUNGAN

Gambar
Nilai- 2.2
Nilai
Model pengembangan karakter
(Panduan Pendidikan Karakter, Kemendiknas, 2010)

Kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah
terbiasa tersebut secara sadar menghargai pentingnya nilai karakter (valuing).
16

Karena mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk
berbuat salah, bukan karena tingginya penghargaan akan nilai itu. Misalnya ketika
seseorang berbuat jujur hal itu dilakukan karena dinilai oleh orang lain, bukan
karena keinginannya yang tulus untuk mengharagi nilai kejujuran itu sendiri. Oleh
karena itu dalam pendidikan karakter diperlukan juga aspek perasaan (domain
affection atau emosi). Komponen ini dalam pendidikan karakter disebut dengan
“desiring the good” atau keinginan untuk berbuat kebaikan. Pendidikan karakter
yang baik dengan demikian harus melibatkan bukan saja aspek “knowing the
good” (moral knowing), tetapi juga “desiring the good” atau “loving the good”
(moral feeling), dan “acting the good” (moral action). Tanpa itu semua manusia
akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh sesuatu paham. Dengan
demikian jelas bahwa karakter dikembangkan melalui tiga langkah, yakni
mengembangkan moral knowing, kemudian moral feeling, dan moral action.
Dengan kata lain, makin lengkap komponen moral dimiliki manusia, maka akan
makin membentuk karakter yang baik atau unggul dan tangguh (Yahya Khan,
Jakarta, 2010).
Pengembangan karakter sementara ini direalisasikan dalam pelajaran
agama, pelajaran kewarganegaraan, atau pelajaran lainnya, yang program
utamanya cenderung pada pengenalan nilai-nilai secara kognitif, dan mendalam
sampai ke penghayatan nilai secara afektif. Menurut Mochtar Buchori (2007),
pengembangan karakter seharusnya membawa anak ke pengenalan nilai secara
kognitif, penghayatan nilai secara afektif, akhirnya ke pengamalan nilai secara
nyata. Untuk sampai ke praksis, ada satu peristiwa batin yang amat penting yang
harus terjadi dalam diri anak, yaitu munculnya keinginan yang sangat kuat (tekad)
untuk mengamalkan nilai. Peristiwa ini disebut Conatio, dan langkah untuk
membimbing anak membulatkan tekad ini disebut langkah konatif. Pendidikan
karakter mestinya mengikuti langkah-langkah yang sistematis, dimulai dari
pengenalan nilai secara kognitif, langkah memahami dan menghayati nilai secara
afektif, dan langkah pembentukan tekad secara konatif. Ki Hajar Dewantoro
menterjemahkannya dengan kata-kata cipta, rasa, karsa.
(www.sejarahpendidikan.com).
17

B. Hakekat Pendidikan Agama Islam


1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan
Agama dan Pendidikan Keagamaan, pendidikan agama adalah pendidikan yang
memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan
peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-
kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis
pendidikan (Pasal 1 ayat 1).
Menurut Zakiyah Darajat (2000: 86), pendidikan agama Islam adalah
pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan
dan asuhan terhadap anak didik yang diharapkan setelah selesai dari pendidikan
itu dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang
telah diyakini secara menyeluruh serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai
suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia
dan akherat kelak. Membimbing dan membina anak secara keseluruhan sesuai
dengan ajaran agama Islam sebagai bekal untuk menuju kehidupan yang
memberikan keselamatan dunia dan akhirat kelak.
Adapun pengertian pendidikan agama Islam menurut standar isi adalah
upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal,
memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan
ajaran Islam dari sumber utama yaitu kitab suci Al Qur’an dan Al Hadits melalui
bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman (Depdiknas, 2006).
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa
pendidikan agama Islam adalah suatu proses kegiatan bimbingan jasmani dan
rohani berdasarkan ajaran agama Islam yang dilakukan dengan sadar untuk
mengembangkan ajaran potensi spiritual anak menuju perkembangan maksimal,
agar terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
2. Model Pengembangan Evaluasi Pendidikan Agama Islam Berbasis
Karakter Di SMPN Jakarta
Hubungan antara pendidikan karakter dengan Pendidikan Agama Islam
dapat dilihat dalam dua sisi, yakni materi dan proses pembelajaran. Dari segi
18

materi Pendidikan Agama Islam dapat tercakup nilai pendididikan karakter. Hal
ini bisa dilihat dalam tabel berikut ini:

No Aspek Nilai Pendidikan Karakter

1 Al-Quran Religius, jujur, toleransi, disiplin,


(Ayat-ayat Al-Qur’an tentang kerja keras, kreatif, mandiri,
manusia dan tugasnya sebagai demokratis, rasa ingin tahu,
khalifah di bumi, Keikhlasan semangat kebangsaan, cinta tanah
dalam beribadah, Demokrasi, air, menghargai prestasi, bersahabat/
Kompetisi dalam kebaikan, komunikatif, cinta damai, gemar
Perintah menyantuni kaum membaca, peduli lingkungan, peduli
Dhu’afa, Perintah menjaga sosial, tanggung jawab
kelestarian lingkungan hidup,
Anjuran bertoleransi, Etos kerja,
Pengembangan IPTEK

2 Aqidah Religius, jujur, toleransi, disiplin,


(Iman kepada Allah melalui kerja keras, kreatif, mandiri,
pemahaman sifat-sifatNya dalam demokratis, rasa ingin tahu,
Asmaul Husna, keimanan kepada semangat kebangsaan, cinta tanah
Malaikat, Iman kepada Rasul rasul air, menghargai prestasi, bersahabat/
Allah, Iman kepada Kitab-kitab komunikatif, cinta damai, gemar
Allah, Iman kepada Hari Akhir, membaca, peduli lingkungan, peduli
Iman kepada qadha qadar sosial, tanggung jawab

3 Akhlak Religius, jujur, toleransi, disiplin,


Perilaku terpuji, Menghindari kerja keras, kreatif, mandiri,
Perilaku Tercela demokratis, rasa ingin tahu,
semangat kebangsaan, cinta tanah
air, menghargai prestasi, bersahabat/
komunikatif, cinta damai, gemar
membaca, peduli lingkungan, peduli
19

No Aspek Nilai Pendidikan Karakter

sosial, tanggung jawab

4 Fikih Religius, jujur, toleransi, disiplin,


Sumber hukum Islam, Hukum kerja keras, kreatif, mandiri,
taklifi, dan hikmah ibadah, Zakat, demokratis, rasa ingin tahu,
Haji dan Wakaf, Hukum Islam semangat kebangsaan, cinta tanah
tentang Mu’amalah, Pengurusan air, menghargai prestasi, bersahabat/
jenazah, Khutbah, Tabligh dan komunikatif, cinta damai, gemar
Dakwah, Hukum membaca, peduli lingkungan, peduli
Islam tentang Hukum Keluarga, sosial, tanggung jawab
Waris

5 Tarikh dan Kebudayaan Islam Religius, jujur, toleransi, disiplin,


(Keteladanan Rasulullah dalam kerja keras, kreatif, mandiri,
membina umat periode Makkah, demokratis, rasa ingin tahu,
Keteladanan Rasulullah dalam semangat kebangsaan, cinta tanah
membina umat periode Madinah, air, menghargai prestasi, bersahabat/
Perkembangan Islam pada abad komunikatif, cinta damai, gemar
pertengahan (1250 – membaca, peduli lingkungan, peduli
1800), Perkembangan Islam pada sosial, tanggung jawab
masa modern (1800-sekarang),
Perkembangan Islam di Indonesia,
perkembangan Islam
di dunia

Sedangkan dalam proses pembelajaran, guru dalam mengajar Pendidikan


Agama Islam ke peserta didik memuat pendidikan karakter. Bahkan, guru dalam
pelaksanaan pendidikan karakter dimulai sejak guru membuat rencana
pembelajaran.
C. Kerangka Konsep
20

Berdasarkan pada uraian pada bab sebelumnya, penulis dapat melihat


keterkaitan antara nilai-nilai perilaku dalam komponen-komponen moral karakter
(knowing, feeling, dan action) terhadap Tuhan YME, diri sendiri, sesama,
lingkungan, kebangsaan, dan keinternasionalan membentuk suatu karakter
manusia yang unggul (baik).
Penyelenggaraan pendidikan karakter memerlukan pengelolaan yang
memadai. Pengelolaan yang dimaksudkan adalah bagaimana pembentukan
karakter dalam pendidikan direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan secara
memadai. Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan adalah dengan
penyelenggaraan ekstrakurikuler.
Kegiatan Ekstra Kurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata
pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik
sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang
secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang
berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Jika digambarkan dalam diagram
mengenai integrasi kegiatan belajar mengajar (KBM) dan kegiatan.

Ekstrakulikuler kedalam pendidikan karakter adalah sebagai berikut


(Desain Induk Pendidikan Karakter, Kemendiknas, 2010) :

Gambar 2.4
Konteks Mikro Pengembangan Pendidikan Karakter
21

Sebagai suatu sistem pendidikan, maka dalam pendidikan karakter juga


terdiri dari unsur-unsur pendidikan yang selanjutnya akan dikelola melalui
bidang-bidang perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian. Unsur-unsur
pendidikan karakter yang akan direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan
tersebut antara lain meliputi:
(a) Nilai-nilai karakter kompetensi lulusan,
(b) Muatan kurikulum nilai-nilai karakter,
(c) Nilai-nilai karakter dalam pembelajaran,
(d) Nilai-nilai karakter pendidik dan tenaga kependidikan, dan
(e) Nilai-nilai karakter  pembinaan kepesertadidikan.
Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh T. Ramli, dimana
dikatakan bahwa pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama
dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk
pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga
negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang
baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara
umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya
masyarakat dan bangsanya (T. Ramli, 2003)