Anda di halaman 1dari 17

KEPERAWATAN MATERNITAS II ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.

E DENGAN KARSINOMA SERVIKS


Dosen Pengampu : Eni Purwaningsih, A.Md., S.Kep., Ns.

Disusun Oleh :

MARIA AURELIA METY BONEFASIUS RIANG HEPAT AYU SILVIANA RULIS LIDYA AMIANI

08130271 08130279 08130294 08130307

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA 2010

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Kanker adalah istilah umum untuk pertumbuhan sel tidak normal (yaitu, tumbuh sangat cepat, tidak terkontrol, dan tidak berirama) yang dapat menyusup ke jaringan tubuh normal sehingga mempengaruhi fungsi tubuh. Kanker menjadi momok bagi semua orang, hal ini karena angka kematian akibat kanker yang sangat tinggi. Tidak hanya di Indonesia melainkan juga di berbagai Negara. Salah satu kanker yang berbahaya adalah kanker serviks/ carcinoma serviks atau disebut juga kanker leher rahim. Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur. Insidensi karsinoma serviks hanya dibawah karsinoma mamae dalam tumor ganas pada wanita. Diseluruh dunia setiap tahun terdapat sekitar 500 ribu kasus baru, atau 5,0% dari seluruh kasus baru tumor ganas. Di Cina, setiap tahun terdapat 131.500 kasus baru, insidensi pada kelompok usia muda cenderung meningkat. Insidensi kanker serviks invasive di berbagai Negara bervariasi sangat besar. Data akhir tahun 1980-an menunjukkan, Columbia merupakan area insiden tinggi di dunia, insiden terstandarisasi adalah 48,2/100.000, sedangkan Israel paling rendah, yaitu 3,8/100.000. menurut laporan gabungan mortalitas disesuaikan untuk kanker serviks dari 50 negara selama 1986/1988, yang tertinggi adalah Meksiko (14,7/100.000) merupakan 24,5 kali lipat dari yang terendah yaitu Thailand (0,6/100.000)

B. TUJUAN UMUM Setelah menyusun makalah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami tentang penyakit Karsinoma Serviks serta proses keperawatannya.

C. TUJUAN KHUSUS 1. Mengetahui tentang pengertian dari Karsinoma Serviks 2. Mengetahui tentang anatomi-fisiologi Serviks 3. Mengetahui tentang etiologi dari Karsinoma Serviks 4. Mengetahui tentang manifestasi klinis dari Karsinoma Serviks 5. Mengetahui tentang patofisiologi dari Karsinoma Serviks 6. Mengetahui tentang masalah-masalah yang terkait dengan Karsinoma Serviks 7. Melakukan asuhan keperawatan pada klien anak dengan Karsinoma Serviks

BAB II TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI
Carsinoma serviks adalah tumor ganas paling sering di temukan pada system reproduki wanita.(Desen 2008) Cancer cerviks atau kanker pada mulut rahim adalah kanker yang terjadi pada serviks uterus,suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk kearah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang sanggama (vagina). (Diananda 2008) Kanker serviks merupakan karsinoma ginekologi yang terbanyak di derita (Mansjoer.2001) Kanker (ca) adalah istilah umum yang mencaup setiap pertumbuhan malignan dalam setiap bagian tubuh, pertumbuhan ini tidak bertujuan, bersifat parasit, dan berkembang dengan mengorbankan manusia sebagai hospesnya (Hinchliff, 1999). Kanker serviks adalah keadaan dimana sel-sel neoplastik terdapat pada seluruh lapisan epitel serviks uteri (Price dan Wilson, 1995). Kanker serviks adalah adanya pertumbuhan sel-sel abnormal pada lapisan epitel serviks.

B. ETIOLOGI Penyebab pasti kanker serviks belum diketahui tetapi yang biasanya menyebabkan kanker serviks ada 3 faktor yaitu 1. Faktor resiko perilaku a. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.an b. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual

Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks, pada usia 16 tahun ( Diananda. 2008) Pernikahan pertama pada usia 18 tahun kebawah di bandingkan 25 tahun ke atas memiliki prevalensi lebih tinggi 13,3 hingga 25 kali limpat, semakin mitra seksual, resiko relative kejadian kanker serviks semakin tinggi (Desen 2008) c. Usia 35 36 tahun rentan terkena kanker serviks 1) Jumlah kehamilan dan partus Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks. 2) Jumlah perkawinan Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan bergantiganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini. 3) Hygiene dan sirkumsisi Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma. 2. Faktor biologi a. Infeksi virus Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) , HIV- AIDS dan HPV (Human Papilloma Virus) HPV adalah suatu virus yang dapat menyebabkan terjadinya kutil pada daerah genital (kondiloma akuminata), yang ditularkan melalui hubungan seksual. HPV sering diduga sebagai penyebab terjadinya perubahan yang abnormal dari sel-sel leher rahim. b. Genetik 3. Faktor lainya a. Sosial Ekonomi Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi,

imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh b. Lingkungan : 1) Radiasi. Kontak dengan radiasi ionisasi disertai manifestasi leukemia yang timbul bertahun-tahun kemudian. 2) Zat Kimia. Zat kimia misalnya : benzen, arsen, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen antineoplastik dikaitkan dengan frekuensi yang meningkat khususnya agen-agen alkil. c. Idiopatik

C. ANATOMI FISIOLOGI ORGAN TERKAIT Serviks uteri merupakan jaringan berbentuk silinder, panjang 2,5-3 cm, terbagi menjadi pars vaginalis dan pars kanalis serviks uteri, ke atas berhubungan dengan korpus uteri, ke bawah berhubungan dengan forniks vagina. Serviks uteri terbentuk dari jaringan ikat, pembuluh darah, otot polos, konsistensi kenyal. Permukaan pars vaginalis diselimuti epitel berlapis skuamosa, mukosa kanalis servikalis berupa epitel thorak tinggi, terdapat kelenjar musinosa yang mensekresi sedikit cairan alkalis membentuk sumbat mucus yang menyumbat kanalis servikalis mencegah masuknya kuman. Perbatasan antara epitel skuamosa dan torak terdapat di ostium serviks, disebut pita peralihan, menjadi tempat predileksi timbulnya tumor. Pada neonates dan masa reproduksi, karena kadar esterogen tinggi, pita peralihan bergeser keluar. Sedangkan pada masa pertumbuhan dan pasca menopause, pita peralihan menyusut ke dalam ostium eksternal serviks. Serviks uteri mengandalkan kepada 2 ligamen cardinal di kedua sisi, ke belakang ligament sakrouteri dan ke depan ligamen vesikouterina memfiksasinya dalam kavum pelvis minor.

D. PATOFISIOLOGI
Karsinoma serviks adalah penyakit yang progresif, mulai dengan intraepitel, perubahan neoplastik, berkembang menjadi kanker serviks setelah 10 tahun atau lebih. Secara histopatologi lesi pre invasif biasanya berkembang melalui beberapa stadium displasia (ringan, sedang dan berat) menjadi

karsinoma insitu dan akhirnya invasif. Meskipun kanker invasif berkembang melalui perubahan intraepitel, tidak semua perubaha n ini progres menjadi invasif. Lesi preinvasif akan mengalami regresi secara spontan sebanyak 3 -

35%. Bentuk ringan (displasia ringan dan sedang) mempunyai angka regresi yang tinggi. Waktu yang diperlukan dari displasia menjadi karsinoma insitu (KIS) berkisar antara 1 7 tahun, sedangkan waktu yang diperlukan dari karsinoma insitu menjadi invasif 3 20 tahun (TIM FKUI, 1992). Proses perkembangan kanker serviks berlangsung lambat, diawali

adanya perubahan displasia yang perlahan - lahan menjadi progresif. Displasia ini dapat muncul bila ada aktivitas regenerasi epitel yang meningkat misalnya akibat trauma mekanik atau kimiawi, infeksi virus atau bakteri dan gangguan keseimbangan hormon. Dalam jangka waktu 7 10 tahun perkembangan tersebut menjadi bentuk preinvasif berkembang menjadi invasif pada stroma serviks dengan adanya proses keganasan. Perluasan lesi di serviks dapat menimbulkan luka, pertumbuhan yang eksofitik atau dapat berinfiltrasi ke kanalis serviks. Lesi dapat meluas ke forniks, jaringan pada ser viks, parametria dan akhirnya dapat menginvasi ke rektum dan atau vesika urinaria. Karsinoma serviks dapat meluas ke arah segmen bawah uterus dan kavum uterus. Penyebaran kanker ditentukan oleh stadium dan ukuran tumor, jenis histologik dan ada tidaknya invasi ke pembuluh darah, anemis hipertensi dan adanya demam. Penyebaran dapat pula melalui metastase limpatik dan hematogen. Bila pembuluh limfe terkena invasi, kanker dapat menyebar ke pembuluh getah bening pada servikal dan parametria, kelenjar getah bening obtupator, iliaka eksterna dan kelenjar getah bening hipogastrika. Dari sini tumor menyebar ke kelenjar getah bening iliaka komunis dan pada aorta. Secara hematogen, tempat penyebaran terutama adalah paru -paru, kelenjar getah bening mediastinum dan supravesikuler, tulang, hepar, empedu, pankreas dan otak (Prayetni, 1997).

E. KLASIFIKASI Klasifikasi menurut FIGO (Federation Internationale de Gynecologic et Obstetrigue), 1988:


Tingkat Kriteria

Karsinoma Pra invasif


0 Karsinoma in situ atau karsinoma intra epitel.

Karsinoma Invasif

I Ia

Proses terbatas pada serviks (perluasan ke korpus uteri tidak dinilai). Karsinoma serviks preklinis hanya dapat didiagnostik secara mikroskopis, lesi tidak lebih dari 3 mm atau secara mikroskopik kedalamannya > 3-5 mm dari epitel basal dan memanjang tidak lebih dari 7 mm.

Ib II

Lesi invasif > 5, dibagi atas lesi < 4 Cm dan > 4 Cm. Proses keganasan telah keluar dari serviuks dan menjalar ke 2/3 bagian atas vagina dan atau ke parametrium tetapi tidak sampai dinding panggul.

II a II b

Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infiltrat tumor. Penyebaran ke parametrium, uni atau bilateral tetapi belum sampai dinding pangguL

III

Penyebaran sampai 1/3 distal vagina atau ke parametrium sampai dinding panggul.

III a III b

Penyebaran sampai 1/3 distal vagina namun tidak sampai ke dinding panggul. Penyebaran sampai dinding panggul, tidak ditemukan daerah bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul atau proses pada tingkat I atau II tetapi sudah ada gangguan faal ginjal/hidronefrosis.

IV

Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa rektum dan atau vesika urinaria (dibuktikan secara histologi) atau telah bermetastasis keluar panggul atau ketempat yang jauh.

IV a IV b

Telah bermetastasis ke organ sekitar. Telah bermetastasis jauh.

F. MANIFESTASI KLINIS 1. Perdarahan per vaginam : pada stadium awal terjadi perdarahan sedikit pasca kontak, sering terjadi pasca koitus atau periksa dalam. Dengan progresi penyakit, frekuensi dan volume perdarahan tiap kali bertambah, dapat timbul hemoragi massif, penyebab perdarahan per vaginam adalah eksfoliasi jaringan kanker.

2. Secret per vaginam : pada stadium awal berupa keputihan bertambah, disebabkan iritasi oleh lesi kanker atau peradangan glandula serviks, di sebabkan hipersekresi. Dengan progresi penyakit, sekret bertambah, encer seperti air, berbau amis, bila terjadi infesi timbul bau busuk atau bersifat purulen. 3. Nyeri : umumnya pada stadium sedang, lanjut atau bila disertai infeksi. Sering berlokasi di abdomen bawah, region gluteal atau sakrokoksigeal. Nyeri abdomen bawah tengah mungkin disebabkan lesi kanker serviks atau parametrium disertai infeksi atau akumulasi cairan, pus dalam kavum uteri, yang menyebabkan uterus kontraksi. Nyeri keram intermiten abdomen bawah satu atau kedua sisi mungkin disebabkan oleh kompresi atau invasi tumor sehingga ureter obstruksi dan dilatasi. Bila timbul hidronefrosis dapat menimbulkan nyeri area ginjal. Nyeri tungkai bawah, gluteal, sacrum umunya disebabkan desakan atau invasi tumor terhadap saraf kavum pelvis. 4. Gejala saluran urinarius seringkali karena infeksi, dapat timbul polakisuria, urgensi, disuria. Dengan progresi kanker, dapat mengenai buli-buli, timbul hematuria, piuria, hingga terbentuk fistel sisto-vaginal. Bila lesi menginvasi ligament cardinal, mendesak atau invasi ureter, timbul hidronefrosis, akhirnya menyebabkan uremia. Tidak sedikit pasien stadium lanjut meninggal akibat uremia. 5. Gejala saluran pencernaan : ketika lesi kanker serviks menyebar ke ligament cardinal, ligament sacral, dapat menekan rectum, timbul obstipasi, bila tumor menginvasi rectum dapat timbul hemotokezia, akhirnya timbul fistel rektovaginal. 6. Gejala sistemik : semangat melemah, letih, demam, mengurus, anemia, udema.

F. KOMPLIKASI 1. Retensi Urin Pada waktu histerektomi total radikal mudah terjadi ruda paksa pleksus saraf dan pembuluh darah kecil intra pelvis, hingga timbul gangguan sirkulasi darah, disuria, retensi uri. Biasanya pasca operasi dipertahankan saluran urin lancer 5-7 hari, secara berkala dibuka 3-4 hari, fungsi buli-buli

biasanya dapat pulih. Pada retensi uri sekitar 80% dalam 3 minggu fungsi buli-bulinya pulih. 2. Kista limfatik pelvis Pasca pembersihan kelenjar limfe pelvis, drainase limfe tidak lancer, dapat terbentuk kista limfatik retroperitoneal, umumnya pasien asimtomatik dan mengalami absorpsi spontan, bila kista terlalu besar timbul rasa tak enak perut bawah, nyeri tungkai bawah, akumulasi cairan kista dikeluarkan, gejala akan mereda. 3. Sistitis radiasi dan rektitis radiasi Pasca radiasi pelvis pasien umumnya mengalami sistitis radiasi ataupun rektitis radiasi yang bervariasi derajatnya. Gejala berupa rasa tak enak abdomen bawah, polakisuria, disuria atau hematuria, tenesmus,

mukokezia, hemotokezia. Bagi pasien dengan derajat ringan tak perlu ditangani, bila derajat sedang ke atas umumnya di obati dengan anti radang, hemostatik, antispasmodik dll.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Sitologi/Pap Smear Keuntungan, murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat Kelemahan, tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi. 2. Schillentest Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna. 3. Koloskopi Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali. Keuntungan dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy. Kelemahan ; hanya dapat memeiksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelianan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat 4. Kolpomikroskopi Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali 5. Biopsi Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya.

6.

Konisasi Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi

meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.

H. PENANGANAN MEDIS DAN KEPERAWATAN 1. Operasi/pembedah Pembedahan merupakan prosedur pengobatan kanker yang paling tua ,dan paling besar kemungkinanya untuk sembuh, khususnya untuk jenis kanker tertentu yang belum menyebar ke bagian tubuh lain. 2. Kemoterapi Kemoterapi di gunakan untuk pengonbatan kanker sejak 1950-an. Dibeikan sebelum operasi sebelum operasi untuk memperkecil ukuran kanker yang akan di operasi, atau sesudah operasi untuk membersikan sisa-sisa sel kanker.kadang di kombinasi dengan terapi radiasi, kadang tidak obat penghancur sel kanker ini di berikan dalam tablet / pil,suntikan, ataupun infuse 3. Radiasi Untuk beberapa jenis kanker seperti kanker di daerah leherdan

kepala,kelenjar, radiasi merupakan pilihan pengobatan yang paling utama. Terapi inin efeknya bersifat local ini di berikan secara eksternal seperti gelombang radioaktif (sinar) dan internal (obat telan atau suntik). 4. Immunoterapi Immunoterapi yang disebut juga terapi biologi yang merupakan jenis pengobatan kanker yang relative baru.tindakan beda dengan imunisasi pda umumnya immunoterapi bertujuan untuk meningkatkan kekebalan tubuh guna melawan sel sel kanker. 5. Terapi gen Terapi ini dilakukan dengan beberapa cara (1)menganti gen yang rusak atau hilang, 2 menghentikan kerja gen yang bertanggung jawab terhadap pembentukan sel kanker, 3 menambahkan gen yang membuat sel kanker lebih mudah dideteksi dan dihancurkan oleh system kekebalan tubuh, kemoterapi, maupun radioterapi, dan 4 menghentkan kerja gen yang memicu

pembuatan pembuluh darah baru di jaringan kanker sehingga sel-sel kankernya mati.

I. PENGKAJIAN 1. Data dasar Pengumpulan data pada pasien dan keluarga dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik dan melalui pemeriksaan penunjang 2. Data pasien Identitas pasien, usia, status perkawinan, pekerjaan jumlah anak, agama, alamat jenis kelamin dan pendidikan terakhir. 3. Keluhan utama : pasien biasanya datang dengan keluhan intra servikal dan disertai keputihan menyerupai air. 4. Riwayat penyakit sekarang : Biasanya klien pada stsdium awal tidak merasakan keluhan yang mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul keluhan seperti : perdarahan, keputihan dan rasa nyeri intra servikal. 5. Riwayat penyakit sebelumnya Data yang perlu dikaji adalah : Riwayat abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat ooperasi kandungan, serta adanya tumor. Riwayat keluarga yang menderita kanker. 6. Keadaan Psiko-sosial-ekonomi dan budaya: Ca. Serviks sering dijumpai pada kelompok sosial ekonomi yang rendah, berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitas makanan atau gizi yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh, serta tingkat kebersihan dari saluran urogenital. 7. Data khusus: Riwayat kebidanan ; paritas, kelainan menstruasi, lama,jumlah dan warna darah, adakah hubungan perdarahan dengan aktifitas, apakah darah keluar setelah koitus, pekerjaan yang dilakukan sekarang 8. Pemeriksaan penunjang Sitologi dengan cara pemeriksaan Pap Smear, kolposkopi, servikografi, pemeriksaan visual langsung, gineskopi. personal hygiene terutama

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan yang tidak adekuat dalam diet, hilangnya nafsu makan, mual/ muntah. Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien, akan menunjukan peningkatan berat badan, peningkatan nafsu makan, tidak ada mual dan muntah, peningkatan pengetahuan tentang makanan bergizi Intervensi keperawatan: a. Mengurangi kondisi atau gejala penyakit yang menyebabkan penurunan nafsu makan Rasional: Mengurangi penyabab penurunan nafsu makan b. Memberikan makanan yang disukai sedikit demi sedikit tetapi sering dengan memperhatikan jumlah kalori Rasional: Makanan kesukaan dapat meningkatkan nafsu makan c. Timbang berat badan klien Rasional: Mengetahui keadekuatan nutrisi d. Menata ruangan senyaman mungkin Rasional: Menciptakan suasana makan yang nyaman e. Menurunkan stress psikologi Rasional: stress psikologi dapat menuntun nafsu makan f. Sajikan makanan mudah dicerna Rasional: memudahkan klien yang kesulitan menelan g. Berikan pendidikan tentang cara diet, kebutuhan kalori Rasional: Mengatur pola diet yang seimbang dan bergizi

2. Nyeri b.d agen biologis Penekanan kanker pada dinding serviks Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien nyeri akan berkurang. Kriteria Hasil :
 Menyatakan nyeri berkurang dengan indikator 1-3 (tidak ada, ringan,

sedang )
 Ekspresi wajah tenang.  Tidak ada petunjuk non verbal tentang nyeri  HR 60-100x/mnt, RR 16-24x/mnt, TD 120/80mmHg.

 Menerima medikasi nyeri sesuai yang diresepkan  Mengambil peran aktif dalam pemberian analgetik.  Skala nyeri 1-3 (tidak ada, ringan, sedang )

Intervensi Keperawatan : a. Kaji karakteristik nyeri : lokasi, kualitas, frekuensi, dan durasi. Rasional : Memberikan dasar untuk mengkaji perubahan pada tingkat nyeri dan mengevaluasi intervensi. b. Berikan terapi analgetik sesuai dengan instruksi dokter. Lakukan penilaian respon pasien terhadap pemberian analgetik Rasional : analgetik merupakan agen farmakologi yang berfungsi mengurangi rasa nyeri, analgetik cenderung lebih efektif ketika diberikan secara dini pada siklus nyeri, respon pasien memberikan informasi tambahan tentang nyeri klien. c. Berikan dukungan emosional dan menentramkan kekuatiaran pasien. Rasional : mengurangi ketakutan dan ansietas akibat penyakit yang di derita. Ketakutan dan ansietas akan meningkatkan persepsi nyeri. d. Gunakan metode distraksi seperti relaksasi, teknik pernapsan dalam, mendengarkan musik, dan imajinasi. Raional : teknik pengalihan perhatian atau distraksi dapat membuat mengurangi nyeri yang dirasakan pasien karena pasien tidak fokus terhadap nyeri yang dialaminya.

3. Resiko terjadinya kekurangan volume cairan s/d diare, muntah, tidak adekuatnya masukan makanan dan cairan. (Marilan E. Doenges, 1999) Hasil yang diharapkan:
 Cairan dan elektrolit terpenuhi  Rasa mual muntah berkurang  Membrane mukosa lembab  BC normal  Turgor kulit normal.
Intervensi Keperawatan :

a. Kaji secara akurat output faeces (warna, konsistensi, frekuensi)

Rasional

Mengetahui jumlah cairan yang keluar dan mengetahui

perkembangan penyakit. b. Kaji output urine (volume, warna, pH, protein, berat jenis) Rasional : Menentukan tingkat kebutuhan cairan tubuh.

c. Timbang BB tiap hari dalam waktu dan timbangan yang sama. Rasional : Mengetahui status nutrisi pasien.

d. Monitor intake-output Rasional e. Monitor : Mengetahui keseimbangan cairan tubuh. elektrolit dan laporkan jika terjadi

nilai-nilai

ketidakseimbangan elektrolit. Rasional : Sebagai indikator untuk tindak lanjut.

f. Monitor pemberian cairan dan elektrolit. Rasional : Mempertahankan hidrasi pasien secara adekuat.

4. Gangguan citra tubuh b.d perubahan penampilan, fungsi dan peran (kemoterapi). Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien,maka citra tubuh an harga diri klien dapat diperbaiki. Kriteria Hasil:
 Harga diri yang positif  Menunjukkan citra tubuh, ditandai dengan indikator kekonsistenan 5

(positif).
 Kongruen antara realitas tubuh, ideal tubuh, dan wujud tubuh.  Kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh.  Mempertahankan

peran sebelumnya

dalam pembuatan

keputusan,

mengungkapkan perasaan dan reaksi terhadap kehilangan, ikut serta dalam aktivitas perawatan diri. Intervensi Keperawatan : a. Kaji perasaan pasien tentang gambaran dan tingkat harga diri. Rasional : Memberikan dasar untuk mengkaji perubahan pada tingkat nyeri dan mengevaluasi intervensi. b. Berikan motivasi untuk keikutsertaan yang kontinu dalam aktivitas dalam aktivitas dan pembuatan keputusan.

Rasional : memberikan motivasi memungkinkan kontrol kontinu terdapat kejadian dandiri klien c. Berikan dukungan pada klien untuk mengungkapkan kekhawatirannya. Rasional : mengidentifikasi kekhawatiran merupakan satu tahapan penting dalam mengatasinya. d. Bantu klien dalam perawatan diri ketika keletihan Rasional : kesejahteraan fisik meningkatkan harga diri. e. Berikan motivasi kepada klien dan pasangannya ataupun keluarga untuk saling berbagi kekhawatiran mengenai perubahan fungsi seksual Rasional : memberikan kesempatan untuk mengekspresikan

kekhawatirannya