Anda di halaman 1dari 31

Tugas Kelompok

Analisis Kasus Intervensi pada Lansia dengan Gangguan Psikososial

Tugas Mandiri ini diselesaikan untuk memenuhi tugas Keperawatan Gerontik

Dosen Pembimbing: Ns. Annisa Wuri Kartika, M.Kep, Sp.Kep.Kom

Oleh

Kelompok 6 Reguler 2

Edo Apriliano Pratama 185070200111016

Machlusi Husna Nur Fitria 185070200111020

Nafiza Syarafina Yanani 185070201111006

Tiya Handayani Solihin 185070201111024

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2021
Kata Pengantar

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah sharing jurnal ini dengan tepat
waktu. Tanpa pertolongan-Nya, tentunya kami tidak akan sanggup untuk
menyelesaikan makalah sharing jurnal ini dengan baik. Shalawat serta salam,
semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita, yaitu Nabi Muhammad
SAW yang kita nanti-nantikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Tim penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat
sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis
mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah Analisa kasus ini sebagai
tugas dari mata kuliah Keperawatan Gerontik.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun dari pembaca,
supaya makalah sharing jurnal ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih
baik lagi. Kemudian, apabila terdapat banyak kesalahan, penulis mohon maaf
yang sebesar-besarnya.
Demikian, semoga bermanfaat. Penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak, khususnya kepada dosen Keperawatan Gerontik yang
telah membimbing kami dalam menulis makalah analisa kasus ini.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Malang, 14 November 2021

ii
Daftar Isi

Kata Pengantar.....................................................................................................ii
Daftar Isi............................................................................................................... iii
Bab 1 Pendahuluan..............................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Tujuan....................................................................................................2
Bab 2 Tinjauan Pustaka........................................................................................3
2.1 Konsep Lansia........................................................................................3
2.1.1 Definisi Lansia.................................................................................3
2.1.2 Perkembangan Lansia.....................................................................3
2.1.3 Permasalahan Kesehatan Mental pada Lansia di Indonesia...........4
2.2 Lansia dengan Depresi...........................................................................4
2.2.1 Definisi............................................................................................4
2.2.2 Tanda dan Gejala............................................................................5
2.2.3 Patofisiologi.....................................................................................5
2.2.4 Klasifikasi Depresi...........................................................................6
2.2.5 Faktor Penyebab Depresi................................................................7
2.2.6 Penatalaksanaan.............................................................................9
Bab 3 Asuhan Keperawatan...............................................................................11
3.1 Pengakajian Keperawatan....................................................................11
3.2 Analisis data.........................................................................................14
3.3 Pohon masalah.....................................................................................17
........................................................................................................................ 17
3.4 Diagnosa Keperawatan........................................................................18
3.5 Intervensi Keperawatan........................................................................18
Bab 4 Penutup....................................................................................................24
4. 1. Kesimpulan............................................................................................24
Daftar Pustaka.....................................................................................................iv
Bab 1
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Peningkatan jumlah lanjut usia (Lansia) saat ini terus terjadi baik di
dunia maupun di Indonesia, dimana WHO pada Tahun 2016 mengatakan
jumlah lansia saat ini sekitar 700 juta jiwa. Proporsi lansia Indonesia tahun
2035 diprediksi akan mengalami peningkatan sebesar 15,8% sejak 2017.
Hal ini menunjukan bahwa usia lansia dimana seseorang berusia 60 tahun
ke atas lebih telah melewati kriteria lebih dari 7,0%. Kriteria ini, memasukan
Indonesia berada pada negara yang memasuki aging population.
Bertambahnya jumlah lansia membutuhkan peningkatan pelayanan
kesehatan. Peningkatan ini memaksa pemerintah Indonesia melakukan
persiapan memasuki aging population. Persiapan ini meliputi kemungkinan
munculnya penyakit penyakit yang umumnya diderita oleh lansia seperti
penyakit menular ataupun tidak menular, degeneratif ataupun sebaliknya.
Salah satu masalah kesehatan selain penyakit fisik, masalah psikososial
juga menjadi hal yang penting untuk diantisipasi. Menurut WHO (2020),
secara umum, lansia mengalami kondisi kesakitan karena penurunan
fungsi tubuhnya.
Adanya kelainan psikososial pada lansia, akan semakin memperparah
kesakitan yang dialami oleh lansia tersebut. Lansia mengalami berbagai
permasalahan psikologis yang perlu diperhatikan oleh perawat, keluarga
maupun petugas kesehatan lainnya. Perubahan psikologis lansia sering
terjadi karena perubahan fisik dan mengakibatkan berbagai masalah
kesehatan jiwa di usia lanjut di antaranya adalah paranoid, gangguan
tingkah laku, gangguan tidur, keluyuran (wandering), lansia mengalami
kecemasan meningkat saat menjelang malam (sundowning), depresi,
demensia, dan sindrom pasca kekuasaan (post power syndrom).
 Gobbens dan Assen, (2014) menyatakan prediksi permasalahan
kehidupan lansia meliputi kelemahan fisik, gangguan psikososial dan
kelemahan dukungan sosial. Beberapa hal yang menjadi sumber stressor
psikososial adalah perubahan fungsional tubuh, hilang peran dalam
hubungannya didalam keluarga. Ketidakmampuan menemukan bentuk
koping ketika terjadi perubahan pada elemen psikososial seperti status
mental, kemampuan pengambilan keputusan, fungsi efektif, konflik dengan
realita dan dukungan sosial turut memberikan andil dari terjadinya
gangguan psikososial pada lansia (Miller, 2012). Penelitian yang dilakukan
oleh Pearson, Vaughan dan Fitzgerald, 2010 dalam Nugroho (2014)
menemukan bahwa 44,3% lansia mempunyai respon psikososial yang
tidak efektif yaitu ketidakmampuan mempertahankan integritas fisik,
psikologis, sosial dan spiritual pada stimulus atau perubahan. Hal ini
membuat gangguan psikososial menjadi penyebab terjadinya penuruan
fungsi psikososial lansia.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep dari gangguan psikososial pada lansia
2. Untuk mengetahui diagnosa mengenai gangguan psikososial yang
terjadi pada lansia
3. Untuk mengetahui intervensi gangguan psikososial pada lansia
Bab 2
Tinjauan Pustaka
2.1 Konsep Lansia
2.1.1 Definisi Lansia
Lansia atau lanjut usia merupakan kelompok penduduk yang
berusia 60 tahun keatas yang merupakan tahap akhir dari
perkembangan hidup manusia. Pada lanjut usia akan terjadi proses
menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau
mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-
lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki
kerusakan yang terjadi. World Health Organization (WHO) telah
mengidentifikasikan lansia sebagai kelompok masyarakat yang mudah
terserang kemunduran fisik dan mental. (Allender et al, 2014).
Menua merupakan proses di mana terjadi perubahan dalam diri
manusia yang mengalami penurunan fungsi baik secara fisik ataupun
mental. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak
hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan
kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupan, yaitu anak, dewasa dan
tua.
2.1.2 Perkembangan Lansia
Lansia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Masa
tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, dimana pada masa
ini seseorang identik dengan berbagai penurunan status kesehatan
terutama status kesehatan fisik ataupun mental. Penuaan merupakan
perubahan kumulatif pada makhluk hidup, termasuk tubuh, jaringan
dan sel, yang mengalami penurunan kapasitas fungsional. Berbagai
teori tentang proses menua menunjukkan hal yang sama. Status
kesehatan lansia yang menurun seiring dengan bertambahnya usia
akan memengaruhi kualitas hidup lansia. Bertambahnya usia akan
diiringi dengan timbulnya berbagai penyakit, masalah mental,
penurunan fungsi tubuh, keseimbangan tubuh dan risiko jatuh.
Menurunnya status kesehatan lansia ini berlawanan dengan keinginan
para lansia agar tetap sehat, mandiri dan dapat beraktivitas seperti
biasa misalnya mandi, berpakaian, berpindah secara mandiri.
Ketidaksesuaian kondisi lansia dengan harapan mereka ini bahkan
dapat menyebabkan lansia mengalami depresi.
2.1.3 Permasalahan Kesehatan Mental pada Lansia di Indonesia
Lansia merupakan salah satu kelompok atau populasi berisiko,
yaitu kumpulan orang-orang yang masalah kesehatannya memiliki
kemungkinan akan berkembang lebih buruk karena adanya faktor-
faktor risiko yang mempengaruhi (Allender et al, 2014). Stanhope dan
Lancaster (2016) mengatakan lansia sebagai populasi berisiko ini
memiliki tiga karakteristik risiko kesehatan yaitu, risiko biologi termasuk
risiko terkait usia, risiko sosial dan lingkungan serta risiko perilaku atau
gaya hidup.
Risiko yang terjadi pada lansia akan mempengaruhi permasalahan
fisik. Hal tersebut apabila dibiarkan akan mengakibatkan timbulnya
permasalahan psikis pada lansia hingga terganggu kesehatan
mentalnya. Berdasarkan data WHO (World Health Organization) tahun
2017, lebih dari 20% orang dewasa berusia 60 tahun ke atas
menderita gangguan mental atau neurologis (tidak termasuk gangguan
sakit kepala). Dengan cukup tingginya prevalensi kejadian depresi
pada lansia di dunia, tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut
juga bisa mempengaruhi kondisi kesehatan mental lansia di Indonesia.
Permasalahan yang berkaitan dengan aspek mental yang sering
terjadi pada lansia yaitu depresi, dengan prevalensi di dunia berkisar
8-15%. Hasil meta analisis dari laporan negara di dunia mendapatkan
prevalensi rata-rata depresi pada lansia adalah 13,5% dengan
perbandingan wanita dan pria adalah 14,1 : 8,6 (Zulkarnain et al,
2015). Maka dari itu, perlu adanya pendampingan bagi para lansia
untuk dapat menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi
tekanan yang normal dalam kehidupan, dan dapat menikmati masa
usianya.
2.2 Lansia dengan Depresi
2.2.1 Definisi
Depresi dan gangguan suasana hati berhubungan dengan
masalah kesehatan terbesar di dunia. Banyaknya tekanan kehidupan,
stres interpersonal dan penolakan sosial, menjadi faktor risiko terbesar
seseorang dapat mengalami depresi. Depresi adalah suatu kondisi
seseorang merasa sedih, kecewa saat mengalami suatu perubahan,
kehilangan, kegagalan dan menjadi patologis ketika tidak mampu
beradaptasi. Depresi merupakan suatu keadaan yang mempengaruhi
seseorang secara afektif, fisiologis, kognitif dan perilaku sehingga
mengubah pola dan respon yang biasa dilakukan. Sehingga seluruh
proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) tersebut dapat
mempengaruhi motivasi untuk beraktivitas dalam kehidupan sehari-
hari maupun pada hubungan interpersonal (Dirgayunita, 2016; Hadi et
al, 2017).
2.2.2 Tanda dan Gejala
Depresi berat secara signifikan mempengaruhi keluarga
seseorang dan hubungan pribadi, pekerjaan atau kehidupan sosial,
tidur, kebiasaan makan, dan kesehatan umum. Seseorang yang
memiliki episode depresi utama biasanya menunjukkan suasana hati
yang sangat rendah, yang melingkupi semua aspek kehidupan, dan
ketidakmampuan untuk mengalami kesenangan dalam kegiatan yang
sebelumnya dinikmati. Orang yang depresi sibuk dengan pikiran dan
perasaan tidak berharga, rasa bersalah atau penyesalan yang terus
menerus merasa tidak pantas, tidak berdaya, putus asa, dan membenci
diri sendiri. Dalam kasus yang parah, depresi memiliki gejala psikosis.
Gejala ini termasuk khayalan biasanya tidak menyenangkan atau
halusinasi. Gejala lain depresi termasuk konsentrasi yang buruk dan
memori (terutama pada mereka dengan melankolis atau psikotik fitur),
penarikan dari kegiatan sosial, penurunan gairah seks, dan pikiran
tentang kematian atau bunuh diri. Insomnia sering terjadi pada kasus
depresi. Dalam polanya yang khas, seseorang bangun sangat awal dan
tidak bisa kembali tidur. Insomnia mempengaruhi 80% dari kasus
depresi, hipersomnia, atau tidur berlebihan, juga dapat terjadi (Hadi et
al, 2017).
2.2.3 Patofisiologi
Patofisiologi depresi dijelaskan dalam beberapa hipotesis. Amina
biogenik merupakan hipotesis yang menyatakan, depresi disebabkan
menurunnya atau berkurangnya jumlah neurotransmitter norepinefrin
(NE), serotonin (5 – HT) dan dopamine (DA) dalam otak. Hipotesis
sensitivitas reseptor yaitu perubahan patologis pada reseptor yang
dikarenakan terlalu kecilnya stimulasi oleh monoamine dapat
menyebabkan depresi. Hipotesis desregulasi, tidak beraturannya
neurotransmitter sehingga terjadi gangguan depresi dan psikiatrik. Teori
ini lebih menekankan pada kegagalan hemeostatik sistem
neurotransmitter, bukan pada penurunan atau peningkatan absolute
aktivitas neurotransmitter. Dalam penelitian biopsikologi, norepinefrin
dan serotonin merupakan dua neurotrasmiter yang paling berperan
dalam patofisiologi gangguan mood. Pada wanita, perubahan hormon
dihubungkan dengan kelahiran anak dan menoupose juga dapat
meningkatkan risiko terjadinya depresi. Penyakit fisik yang
berkepanjangan sehingga menyebabkan stress dan juga dapat
menyebabkan depresi. Sedangkan, seorang yang depresi dengan usia
yang lebih tua memiliki gejala kognitif seperti lupa, dan perlambatan
gerakan (Dirgayunita, 2016).
2.2.4 Klasifikasi Depresi
Depresi diklasifikasikan menjadi tiga menurut (Priastana et al., 2016)
a. Depresi Ringan
Pada depresi ringan ini harus ada sekurang kurangnya dua dari
gejala depresi yang khas, selain itu juga ditambah sekurang-
kurangnya dua dari gejala depresi yang lainnya dan tidak boleh ada
gejala yang berat dalam depresi, biasanya lamanya berlangsung
adalah kurang lebih sekitar dua minggu. Pada umumnya orang
yang mengalami depresi ringan akan mengalami keadaan resah,
serta sukar untuk melakukan pekerjaan dan kegiatan sosial, namun
pada depresi ringan ini seseorang atau individu masih mampu untuk
melakukan kegiatan.
b. Depresi Sedang
Harus ada sekurang-kurangnya dua dari gejala yang khas dari
depresi, kemudian ditambah sekurang-kurangnya tiga dari gejala
depresi lainnya. Beberapa dari gejala depresi sedang ini tampak
terlihat atau menyolok. Lamanya dari depresi sedang ini adalah
minimal dua minggu. Pada penderita depresi sedang biasanya
individu sulit untuk melakukan kegiatan sosial, pekerjaan dan
urusan rumah tangga.
c. Depresi Berat
Pada depresi berat ini biasanya individu mengalami ketegangan
atau kegelisahan yang amat nyata. Kehilangan harga diri dan
perasaan dirinya tidak berguna sangat nyata terlihat, dan bunuh diri
merupakan hal yang sangat nyata dialami oleh penderita depresi
berat ini.
2.2.5 Faktor Penyebab Depresi
Depresi dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya (Hasan,
2017)
1. Faktor Demografi
a. Usia
Usia merupakan salah satu faktor risiko terjadinya depresi.
Semakin tinggi usia maka semakin meningkat risiko terjadinya
depresi. Hal ini dikarenakan pada usia tersebut banyak
mengalami perubahan baik fisik, psikologi, ekonomi dan spiritual
yang dapat mempengaruhi kualitas hidup seorang lansia. Usia
60 – 74 tahun (72,1 %) lebih rentan mengalami depresi
dikarenakan proses menua yang terjadi (Sisi & Ismahudin, 2020).
b. Jenis kelamin
Proporsi kejadian depresi lebih banyak terjadi pada jenis
kelamin perempuan dibandingkan dengan laki-laki, dengan salah
satu kemungkinan diakibatkan oleh adanya pengaruh perubahan
fisiologis, misalnya early onset of menopause atau post-
menopause (Sisi & Ismahudin, 2020). Corpus Callosum pada
laki-laki lebih kecil daripada perempuan, dikarenakan korteks
perempuan berkembang lebih cepat dan dengan adanya ikatan
saraf lebih besar dalam korteks perempuan terjadi hubungan
yang lebih banyak antara hemisfer kiri dan kanan otak, dimana
otak bisa membaca lebih baik dengan menggunakan kedua sisi
otak sekaligus.
Corpus Calosum yang lebih kecil pada laki-laki juga
merupakan alasan laki-laki merasa lebih sulit mengenali emosi
pada wajah orang lain dengan tepat. Semakin banyak bagian
otak yang digunakan, akan semakin baik hasilnya. Demikian juga
dengan komponen yang disebut Commisura Anterior (laki-laki
juga lebih kecil dari perempuan), sehingga laki-laki kurang
sensitif dibandingkan dengan perempuan. Kedua hal tersebut
menyebabkan laki-laki tidak begitu berpengaruh terhadap emosi
dan stressor yang terjadi padanya, laki-laki juga lebih suka
menumpahkan masalah dan emosi dengan kegiatan daripada
memendamnya serta akan merasa malu jika mereka sampai
menangis jika ada masalah, hal ini jelas berkebalikan dengan
sikap perempuan dalam menghadapi masalah yang terjadi di
dalam dirinya (Mulyadi et al., 2016).
2. Faktor Genetika
Pada lansia ketidakseimbangan zat-zat kimia di otak
menyebabkan sel-sel otak tidak berfungsi dengan baik, kemungkinan
faktor keturunan atau genetik dianggap sebagai penyebabnya.
Masalah gangguan fisik menahun (diabetes, penyakit jantung,
tekanan darah tinggi, penyakit hati kronis yang sulit disembuhkan,
asma, stroke, rematik, osteoporosis, kanker, dan lain-lain) serta
gangguan penglihatan maupun pendengaran yang umum terjadi
pada lansia dapat memperberat depresi.
3. Faktor Medis
Pengobatan merupakan salah satu tindakan medis untuk
memulihkan kembali kondisi tubuh. Namun, beberapa obat yang
diberikan dapat menimbulkan gejala depresi pada lansia. Obat
tersebut seperti obat anti hipertensi, obat psikiatri dan analgetik.
4. Faktor Psikososial
a. Hubungan sosial yang kurang baik dan kurangnya dukungan dari
orang yang dapat dipercaya (kehilangan dukungan anak,
menantu, cucu, dan juga teman)
b. Kegagalan seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap
berbagai perubahan dan kehilangan pada saat lanjut usia
c. Perubahan status ekonomi
d. Struktur keluarga yang cepat berubah
e. Berkurangnya interaksi sosial sehingga kesepian
5. Faktor Kejadian dalam hidup (Life Event)
Kejadian dalam hidup menimbulkan stres pada lansia dan jika
berkelanjutan dapat menimbulkan depresi.Kejadian tersebut seperti
kehilangan pekerjaan, bercerai, masalah keuangan dan kematian
orang tercinta. Gejala depresi akan tampak kurang lebih dalam dua
tahun setelah kejadian terjadi. Proporsi kejadian depresi pada lansia
yang memiliki pengalaman stres atau pengalaman hidup kurang
menyenangkan adalah 62,5% (Christianne et al., 2019).
2.2.6 Penatalaksanaan
1. Farmakologis
Penggunaan obat-obatan antidepresan contohnya monoamine
oxidase inhibitors (MAOI), selective serotonin reuptake inhibitors
(SSRIs), dan tricyclic antidepressant (TSA), tetapi penggunaan obat
antidepresan tersebut memiliki efek samping yang merugikan bagi
tubuh diantaranya gangguan pencernaan dan kardiovaskuler. Efek
samping obat anti depresan akan mengakibatkan kondisi yang lebih
buruk pada lansia karena pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi
ginjal dan hepar yang akan berakibat pada peningkatan waktu paruh
obat sehingga pada lanjut usia akan cenderung lebih rentan terhadap
efek samping yang merugikan dari obat.
2. Non Farmakologis
a. Guided Imagery membantu untuk manajemen stres dan untuk
mengurangi gejala yang berhubungan dengan kecemasan,
depresi, stres dan kondisi kesehatan mental lainnya, dengan
menyertakan elemen umum seperti meminta pasien untuk duduk
atau berbaring dalam posisi yang nyaman, menenangkan pikiran,
menghilangkan pikiran dan citra negatif, dan mengingat citra atau
skenario yang jelas yang menenangkan dan membuat rileks.
b. Reminiscence group therapy adalah sebuah metode yang
menggunakan ingatan untuk menjaga kesehatan mental dan
memperbaiki kualitas kehidupan. Reminiscence bukan hanya
untuk mengingat kejadian masa lalu atau pengalaman namun
sebuah proses terstruktur yang sistematik untuk merefleksikan
sebuah kehidupan dengan fokus pada evaluasi ulang,
pemecahan masalah dari masa lalu sehingga menemukan
makna sebuah kehidupan dan akses dalam mengatasi
permasalahan secara adaptif (Sukrillah et al., 2017).
c. Spiritual well-being merupakan yaitu segala sesuatu tentang
kehidupan batin seseorang mencakup hubungan dengan Tuhan
(religious) dan lingkungan termasuk kebahagiaan hidup dan
kepuasan (existential) dengan keuntungan dari segi biaya yang
tidak mahal, mudah untuk diterapkan, dan memberikan manfaat
yang sangat besar bagi peningkatan kesehatan. Spiritual well-
being juga dapat diintegrasikan ke dalam asuhan keperawatan
gerontik, khususnya pada kasus lansia yang mengalami depresi
sehingga asuhan keperawatan gerontik dapat semakin
berkembang dalam upaya mengatasi permasalahan kesehatan
lanjut usia (Priastana et al., 2016).
Bab 3
Asuhan Keperawatan
3.1 Pengakajian Keperawatan

Nama Ny. X
Umur 69 tahun
Alamat RW 05 Kelurahan Sidoagung
Jenis Kelamin Perempuan

Kategori dan Subkategori Data Subjektif dan Objektif

Fisiologis Respirasi DS: -


DO:
 RR 16 x/mnt

Sirkulasi DS: -
DO:
 TD 170/100 mmHg
 Nadi 80 x/mnt

Nutrisi dan DS:


Cairan  Kebiasaan makan dua kali sehari kadang satu
kali saja karena tidak nafsu makan, setiap kali
makan biasanya antara 1-2 centong nasi
dengan lauk sayur dan tahu/tempe
DO:
 Klien nampak kurus dengan kondisi kulit
kering dan keriput.

Eliminasi DS:
 Aktivitas di kamar mandi dibantu sebagian
 Setiap hari klien memakai pampers agar tidak
kesulitan di kamar mandi
DO: -
Aktivitas dan DS:
Istirahat  ADL dibantu sebagian khususnya aktivitas di
kamar mandi dan berpindah dari kursi roda.
Klien masih bisa melakukan kegiatan
memasak atau melipat baju.
 Kebiasaan tidur jam 9 tapi baru terlelap
biasanya jam 10-an malam dan terbangun jam
2 atau jam 3 kemudian tidak bisa tidur lagi.
Tidur siang kadang-kadang hanya satu jam
DO:
 Geriatric Depressoion Scale= 11 (indicate
moderate depression)

Neurosensori DS: -
DO:
 Riwayat stroke 1 tahun lalu

Reproduksi DS: -
dan DO: -
Seksualitas

Psikologis Nyeri dan DS:


Kenyamanan  Keluhan yang paling sering dirasakan adalah
pusing, lemas dan nyeri di tengkuk
DO: -

Integritas Ego DS:


 Klien menangis ketika bercerita mengenai
kehidupannya
 Klien mengatakan sedih dan merasa tidak
berguna karena menyusahkan cucunya, sakit
klien dan kondisi ekonomi mereka yang
kurang membuat cucunya harus berhenti
sekolah dan bekerja. Klien mengatakan
kadang merasa ingin mati saja agar tidak lagi
menyusahkan orang lain
DO: -

Pertumbuhan DS: -
dan DO: -
Perkembangan

Perilaku Kebersihan DS:


Diri  Klien dibantu sebagian oleh keluarga
DO:
 Klien nampak kurus dengan kondisi kulit
kering dan keriput. Kondisi kuku agak panjang
dan kotor.

Penyuluhan DS: -
dan DO: -
Pembelajaran

Rasional Interaksi Sosial DS:


 Klien mengatakan jarang keluar rumah dan
ikut kegiatan posyandu karena takut
menyusahkan orang lain dan tidak enak untuk
bercerita kepada orang yang bukan
keluarganya. Setiap hari setelah masak klien
biasanya tiduran di depan TV, dan kadang
sambil melipat baju. Klien mengatakan sering
melamun karena tidak ada teman mengobrol.
DO: -

Lingkungan Keamanan dan DS: -


proteksi DO: -

3.2 Analisis data

NO Data Etiologi Masalah


Keperawatan

1 DS: Anaknya meninggal,


Berduka
● Klien mengatakan sedih dan Sakit, kondisi ekonomi
merasa tidak berguna karena kurang
menyusahkan cucunya, sakit ↓
klien dan kondisi ekonomi Fungsi sosial menurun:
mereka yang kurang membuat menarik diri
cucunya harus berhenti sekolah ↓
dan bekerja. Depresi (pola koping
● Klien mengatakan mengatakan individu tidak efektif)
“kenapa bukan saya malah ↓
anak saya yang meninggal Kehilangan disfungsional
duluan” ↓
● Klien mengatakan sering Berduka
menangis
DO:
● Kader posyandu lansia
mengatakan bahwa klien
biasanya selalu kelihatan
murung, tidak pernah lagi
keluar rumah dan tidak pernah
datang ke pertemuan warga
baik pengajian maupun
posyandu.
● Saat dilakukan wawancara,
klien menangis ketika bercerita
mengenai kehidupan

2 DS: Gangguan konsep diri:


Keputusasaan
● Klien mengungkapkan Klien mengatakan ingin
keputusasaan berupa berupa mati saja karena tidak
“kapan sakit saya sembuh ya ingin menyusahkan
mbak” dan “kok saya sakit ↓
begini, gak bisa jalan, gak bisa Fungsi sosial menurun:
jualan lagi” menarik diri
● Klien mengatakan kadang ↓
merasa ingin mati saja agar Depresi (pola koping
tidak lagi menyusahkan orang individu tidak efektif)
lain ↓
● Klien mengatakan makan dua Nafsu makan menurun
kali sehari kadang satu kali saja ↓
karena tidak nafsu makan Keputusasaan
DO:
● GDS = 11
● Klien nampak kurus dengan
kondisi kulit kering dan keriput.
Kondisi kuku agak panjang dan
kotor.

3 DS: Frekuensi waktu tidur


Gangguan Pola
● Klien mengatakan kebiasaan awal
Tidur
tidur jam 9 tapi baru terlelap ↓
biasanya jam 10-an malam dan Terbangun di malam hari
terbangun jam 2 atau jam 3 ↓
kemudian tidak bisa tidur lagi. Tidak bisa tidur lagi
Tidur siang kadang-kadang ↓
hanya satu jam. Gangguan pola tidur
DO: -

4 DS: Perubahan
Resiko Jatuh
● Klien berusia 69 tahun fisiologis/biologis tubuh
● Klien memiliki riwayat sakit ↓
stroke 1 tahun yang lalu Penurunan aktifitas
● mengalami kelemahan di kedua ↓
ekstremitas bawah, ADL Penurunan fungsi otot
dibantu sebagian khususnya ↓
aktivitas di kamar mandi dan Risiko jatuh
berpindah dari kursi roda
● Klien mengeluh yang paling
sering dirasakan adalah pusing,
lemas dan nyeri di tengkuk
DO : -
3.3 Pohon masalah
Kematian anggota keluarga Riwayat stroke
(suami, anak, menantu)

Sedih berkepenjangan Kelemahan Menggunakan


ekstremitas bawah alat bantu

Merasa tidak berguna Tidak puas dan


ADL Sebagian dibantu
dan ingin mati tergantung orang lain

Berduka Kuku panjang dan kotor


Depresi (GDS 11)

Gangguan
Sulit tidur Pengasingan Penurunan nafsu makan
Pola Tidur

Pusing, lemas,
nyeri tengkuk

Risiko
Keputusasaan Jatuh
3.4 Diagnosa Keperawatan

1. Berduka bd kematian keluarga dd merasa sedih, bersalah, pola tidur


berubah, merasa tidak berguna.
2. Keputusasaan bd depresi sedang, penurunan kondisi fisiologis serta
pengasingan dd sulit tidur, selera makan menurun.
3. Gangguan Pola Tidur bd depresi sedang dd terbangun di malam hari
dan sulit tidur kembali.
4. Risiko Jatuh bd penurunan fungsi kognitif dd mengalami kelemahan di
kedua ekstremitas bawah, ADL dibantu sebagian, menggunakan alat
bantu kursi roda.
3.5 Intervensi Keperawatan

No Diagnosa 01
Nama D.0081 Berduka
Diagnosa
Definisi : respon psikososial yang ditunjukan oleh klien
sebagai akibat dari kehilangan, baik kehilangan orang, objek,
fungsi, bagian tubuh atau hubungan.
Kriteria Hasil Sesuai kriteria hasil SLKI
L.09094 Tingkat Berduka
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 x 24 jam,
diharapkan tingkat berduka menurun
● Verbalisasi menerima kehilangan menurun (5)
● Verbalisasi harapan menurun (5)
● Verbalisasi perasaan sedih menurun (5)
● Menangis menurun (5)
● Pola tidur membaik (5)
Intervensi I.09274 Dukungan Proses Berduka
 Observasi
1. Identifikasi kehilangan yang dihadapi
2. Identifikasi proses berduka yang dialami
3. Identinikasi sifat keterikatan pada benda yang hilang
atau orang yang meninggal
4. Identifikasi reaksi awal terhadap kehilangan
 Terapuetik
1. Tunjukkan sikap menerima dan empati
2. Motivasi agar mau mengungkapkan perasaan
kehilangan
3. Motivasi untuk menguatkan dukungan keluarga atau
orang terdekat
4. Fasilitasi melakukan kebiasaan sesuai dengan
budaya, agama dan norma sosial
5. Fasilitasi mengekspresikan perasaan dengan cara
yang nyaman (mis. membaca buku.
6. menulis, menggambar atau bermain)
7. Diskusikan strategi koping yang dapat digunakan
 Edukasi
1. Jelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa sikap
mengingkar, marah, tawar menawar,
2. sepresi dan menerima adalah wajar dalam
menghadapi kehilangan
3. Anjurkan mengidentifikasI ketakutan terbesar pada
kehilangan
4. Anjurkan mengekspresikan perasaan tentang
kehilangan
5. Ajarkan melewati proses berduka secara bertahap

I.09268 Dukungan Perasaan Bersalah


 Observasi
1. Identifikasi Identifikasi adanya keyakinan tidak
rasional
 Terapuetik
1. Fasilitasi mengidentilfikasi situasi perasaan muncul
dan respons terhadap situasi
2. Fasilitasi mengidentifikasi refleksi perasaan yang
destruktif
3. Fasitasi memahami rasa bersalah adalah reaksi
umum terhadap trauma.penganiayaan
4. Fasilitasi mengidentifikasi dampak situasi pada
hubungan keluarga
5. berduka, bencana, atau kecelakaan
6. Fasitasi dukungan spiritual, jika perlu
 Edukasi
1. Bimbing untuk mengakui kesalahan diri sendiri
2. Ajarkan mengidentifikasi perasaan bersalah yang
menyakitkan
3. Ajarkan menggunakan teknik menghentikan pikiran
dan substitusi pikiran dengan relaksasi otat saat
pikiran bersalah terus dirasakan
4. Ajarkan mengidentifikasi pilihan untuk mencegah,
mengganti. menebus kesalahan, dan penyelesaian

Evaluasi S: Pasien mengatakan menerima kehilangan


O: Pasien tidak merasa sedih
A: Masalah keperawatan berkurang dan tingkat berduka
pasien menurun
P: Melanjutkan intervensi lanjutan
No Diagnosa 02
Nama D.0088 Keputusasaan bd depresi sedang, penurunan kondisi
Diagnosa fisiologis serta pengasingan dd sulit tidur, selera makan
menurun

Definisi: Kondisi individu yang memandang adanya


keterbatasan atau tidak tersedianya alternatif pemecahan
masalah yang dihadapi.
Kriteria Hasil
L.09082 Penerimaan
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 x 24 jam,
diharapkan penerimaan kejadian lampau meningkat, dengan
kriteria hasil:
 Verbalisasi penerimaan akan kehilangan meningkat (5)
 Perilaku mencari perawatan /pengobatan tidak hanya
saat sakit saja meningkat (5)
 Menyusun perencanaan masa depan meningkat (5)
 Kemampuan menghargai diri sendiri meningkat (5)
 Menarik diri menurun (5)

L.09097 Tingkat Depresi


Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 x 24 jam,
diharapkan tingkat depresi menurun, dengan kriteria hasil:
 Kebersihan diri meningkat (5)
 Perasaan tidak berharga menurun (5)
 Sedih menurun (5)
 Putus asa menurun (5)
 Perasaan bersalah menurun (5)
 Nafsu makan dan pola tidur membaik (5)
Intervensi I.09256 Dukungan Emosional
 Observasi
1. Identifikasi fungsi frustasi bagi pasien
2. Identifikasi hal yang telah emmicu emosio
 Terapuetik
1. Fasilitasi mengungkapkan perasaan cemas, marah
atau sedih
2. Buat pernyataan suportif/empati
3. Lakukan sentuhana untuk memberikan dukungan
(menepuk-nepuk)
4. Kurangi tuntutan berpikir saat sakit/ Lelah
 Edukasi
1. Jelaskan konsekuensi tidak menghadapi rasa bersalah
2. Anjurkan mengungkapkan perasaan bersalah
3. Anjurkan mengungkapkan pengalaman emosional
sebelumnya dan pola respons yang biasa digunakan

I.09320 Terapi Hipnosis


 Observasi
1. Identifikasi riwayat masalah
2. Identifikasi tujuan Teknik hypnosis
3. Identifikasi penerimaan untuk menggunakan hipnosis
 Terapuetik
1. Ciptakan hubungan saling percaya
2. Beri lingkungan nyaman dan aman
3. Gunakan Bahasa yang mudah dipahami
4. Hindari menebak apa yang dipikirkan
5. Berikan umpan balik positif setelah setiap sesi
 Edukasi
1. Anjurkan menarik napas dalam untuk mengintensifkan
relaksasi.

Evaluasi S: Pasien mengatakan menghargai diri sendiri dan paham


dengan anjuran yang diajarkan
O: Pasien melakukan latihan hipnosis rutin sesuai dengan
anjuran
A : Masalah keperawatan berkurang dan tingkat harga diri
pasien meningkat
P : Melanjutkan intervensi lanjutan
No Diagnosa 03
Nama D.0055 Gangguan Pola Tidur bd depresi sedang dd
Diagnosa terbangun di malam hari dan sulit tidur kembali

Definisi : Gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat


faktor eksternal.
Kriteria Hasil Sesuai kriteria hasil SLKI
SLKI :
L.05045 Pola Tidur
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 x 24 jam,
gangguaan pola tidur menurun, dengan kriteria hasil:
 Keluhan sulit tidur menurun (1)
 Keluhan sering terjaga menurun (1)
 Keluhan tidak puas tidur menurun (1)

Keluhan istirahat tidak cukup menurun (1)

Intervensi SIKI :
1.05174 Dukungan Tidur
 Observasi
1. Identifikasi pola aktivitas dan tidur
2. Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan atau
psikologis)
 Terapuetik
1. Modifikasi lingkungan (mis. pencahayaan, kebisingan,
suhu, matras, dan tempat tidur) Batasi waktu tidur
siang, jika perlu
2. Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur
3. Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan
(mis. pijat, pengaturan posisi, terapi akupresur)
 Edukasi
1. Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
2. Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur
3. Anjurkan menghindari makanan/minuman yang
mengganggu tidur
4. Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap
gangguan pola tidur (mis. psikologis, gaya hidup,
sering berubah shift kerja)
5. Ajarkan relaksasi otot autogenik atau cara
nonfarmakologi lainnya.

Evaluasi S: Pasien mengatakan gangguan tidurnya menurun dan


paham dengan anjuran yang diajarkan
O: Pasien melakukan latihan nonfarmakologi untuk
mengurangi gangguan pola tidur sesuai dengan anjuran
A: Masalah keperawatan berkurang dan tingkat gangguan
pola tidurnya menurun
P: Melanjutkan intervensi lanjutan
No Diagnosa 04
Nama D.0143 Resiko Jatuh bd penurunan fungsi kognitif dd
Diagnosa mengalami kelemahan di kedua ekstremitas bawah, ADL
dibantu sebagian, menggunakan alat bantu kursi roda.

Definisi : Berisiko mengalami kerusakan fisik dan gangguan


kesehatan akibat terjatuh
Kriteria Hasil Sesuai kriteria hasil SLKI
SLKI : L.14138 Tingkat Jatuh
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 x 24 jam,
diharapkan derajat jatuh menurun, dengan kriteria hasil :
- Jatuh saat berjalan (1)
- Nyeri saat berjalan (1)
- Kekuatan otot (5)
- Keseimbangan gerakan (5

Intervensi SIKI :
Pencegahan jatuh
 Observasi:
1. Identifikasi faktor resiko jatuh (mis, usia >65 tahun,
penurunan tingkat kesadaran, defisit kognitif, hipotensi
ortostatik, gangguan keseimbangan, gangguan
penglihatan, neuropati )
2. Identifikasi resiko jatuhsetidaknya sekali setiap shift
atau sesuai kebijakan institusi.
3. Identifikasi faktor lingkungan yang meningkatkan resiko
jatuh (mis, lantai licin, penerangan kurang ).
4. Hitung resiko jatuh dengan menggunakan skala (mis,
Fall Morse Scall, Humty Dumty Scall) jika perlu.
5. Monitor kemammpuan berpindah dari tempat tidur ke
kursi roda dan sebaliknya.
 Terapeutik:
1. Orientasikan ruangan pada pasien dan keluarga.
2. Pastikan roda tempat tidur dan kursi roda selalu dalam
kondisi terkunci.
3. Pasang handrail tempat tidur□ Atur tempat tidur
mekanis pada posisi terendah
4. Tempatkan pasien beresiko tinggi jatuh dekat dengan
pemantauan perawat dari nurse station.
5. Dekatkan bell pemanggil dalam jangkauan pasien
 Edukasi:
1. Anjurkan memanggil perawat jika membutuhkan
bantuan un tuk berpindah□ Anjurkan menggunakan
alas kaki yang tidak licin
2. Anjurkan berkonsentrasi untuk menjaga keseimbangan
tubuh
3. Anjurkan melebarkan jarak kedua kaki untuk
meningkatkan keseimbangan saat berdiri.
4. Ajarkan cara menggunakan bell pemanggil untuk
memanggil perawat

Evaluasi S: Pasien mengatakan risiko jatuh berkurang dan paham


dengan anjuran yang diajarkan
O: Pasien melakukan latihan nonfarmakologi untuk
mengurangi risiko jatuh sesuai dengan anjuran
A: Masalah keperawatan berkurang dan tingkat risiko jatuh
menurun
P: Melanjutkan intervensi lanjutan
Bab 4
Penutup
4. 1. Kesimpulan

Permasalahan yang berkaitan dengan aspek mental yang sering terjadi


pada lansia yaitu depresi dimana keadaan yang mempengaruhi seseorang
secara afektif, fisiologis, kognitif dan perilaku sehingga mengubah pola dan
respon yang biasa dilakukan. Pada kasus Ny. X (69 tahun), didapatkan
permasalahan dengan empat diagnosa keperawatan prioritas yaitu
berduka, keputusasaan, gangguan pola tidur serta risiko jatuh. Pada
kondisi permasalahan psikososial ini, dapat diatasi dengan teknik
farmakologis dan non farmakologis, dengan salah satu teknik yaitu guided
imagery sebagai terapi non farmakologis yang dapat membuat Ny.X
menghargai diri sendiri dan mengatasi gangguan tidurnya.
Daftar Pustaka

Allender, J.A., Rector, C., & Warner, K.D. (2014). Community dan public health
nursing promoting the public’s health (8th Ed.). Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins.
Christianne, C., Nababan, M., Ani, L. S., Cintya, P., & Yuliyatni, D. (2019).
Kejadian dan Karakteristik Depresi pada Usia Lanjut di Wilayah Kerja
Puskesmas Manggis II. Jurnal Medika Udayana, 8(7), 1–10.
Dirgayunita, A (2016), ‘Depresi: Ciri, Penyebab dan Penangannya’, Journal An-
nafs: Kajian dan Penelitian Psikologi, Vol. 1, No. 1, hh. 1-14.
Hadi, I et al (2017), 'Gangguan Depresi Mayor: Mini Review', HIJP : Health
Information Jurnal Penelitian. Vol. 9, No. 1, hh. 34-49.
Hasan, M. N. (2017). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Depresi pada Lansia di
Panti Sosial Tresna Wredha Budi Dharma (PSTW) Yogyakarta. Jurnal
Kesehatan Madani Medika, 8(1), 25–30.
Mulyadi, R. R., Mardijana, A., & Nurdian, Y. (2016). Overview of Depression in
The Elderly of UPT Pelayanan Sosial. Journal of Agromedicine and Medical
Sciences, 2(2), 7. https://doi.org/10.19184/ams.v2i2.2778
Priastana, I. K. A., Agustini, I. G. A. R., & Kio, Al. L. (2016). The Correlation
Between Spiritual Well-Being Depression Level in Elderly. NurseLine
Journal, 1(2), 2–7.
Sisi, N., & Ismahudin, R. (2020). Hubungan Usia dan Jenis Kelamin dengan
Tingkat Depresi pada Lansia di Posyandu Lansia Wilayah Kerja
Puskesmas Wonorejo Samarinda. Borneo Student Research, 1(2), 895–
900.
Sukrillah, U. A., Prasetyo, H., Riyadi, S., & Kuhu, M. M. (2017). Penatalaksanaan
Non-Farmakologis Reminiscence Group Therapy sebagai Upaya untuk
Menurunkan Tingkat Depresi pada Lansia. 13(2), 38–44
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
Definisi dan Indikator Diagnostik : Edisi 1. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
Definisi dan Tindakan Keperawatan : Edisi 1. Jakarta: Dewan Pengurus
PPNI
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Luaran Keperawatan Indonesia
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan : Edisi 1. Jakarta: Dewan Pengurus
PPNI

Yuni, A. H. E. R. A. (2017). PENINGKATAN FUNGSI PSIKOSOSIAL LANSIA


MELALUI INTERVENSI KEPERAWATAN LATIHAN JALAN AKTIF. Menara
Ilmu, 11(77).
Zulkarnain, E, Suwandi, T., Wibowo, A. 2015. Indicators of Healthy Practice in
Physical, Mental, Social, and Spiritual Aspects in Elderly. International
Journal of Academic Research Vol. 7 No. 2 March 2015.