Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Segala puji atas segala nikmat yang telah diberikan tuhan kepada kita semua termasuk
terselesaikannya Riset Mini Industri Keurupuk Jangek. Sebagai amanat yang diberikan
kepada saya didalam memenuhi tugas mata kuliah Geografi Industri.

Sebuah penghargaan bagi saya atas diberikannya tugas ini, karena dengan begitu kita
dapat mengkaji mengenai industri kerupuk jangek di desa tembung yang akan dibahas yaitu
dampak positif dan negatif dari home industri ini yang pasti akan bermanfaat menambah
ilmu dan pengetahuan kita semua

Dalam kesempatan ini perkenankan saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga
kepada Dosen Pengampu mata kuliah Geografi Industri yang telah membimbing saya.
Begitu pun saya menyadari bahwa Riset Mini ini jauh dari sempurna, untuk sumbang saran
maupun masukan sangat saya harapkan.

Atas segala kekurangan tersebut, saya mohon dibukakan pintu maaf seluas-luasnya.
Demikian dari saya, semoga segala tujuan baik dengan hadirnya makalah ini dapat tercapai.
Amin.

Medan, 25 Mei 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................................................ 2
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Tinjauan Pustaka ........................................................................................................ 3

2.2 Metode Penelitian ...................................................................................................... 4

2.3 Lokasi Penelitian ...................................................................................................... 4

2.4 Hasil Dan Pembahasan .............................................................................................. 4

2.4.1 Hasil ............................................................................................................ 4

2.4.2 Pembahasan ................................................................................................ 4

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 10

3.2 Saran .................................................................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 11

LAMPIRAN .................................................................................................................... 12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kerupuk merupakan makanan ringan yang biasa kita gunakan sebagai cemilan atau
makanan pelengkap lauk pauk. Konon sejarah dari krupuk diambil dari kisah nyata tentang
keluarga miskin yang memiliki banyak anak. Sehingga untuk bertahan hidup mereka rela
makan nasi dengan lauk sawut (ketela pohon yang diserut/diparut). Nah,,,,awal pembuatan
sawut, yaitu pertama-tama ketela pohon diparut kemudian diberi air. setelah itu, parutan
ketela pohon yang tercampur air diperas dan diambil sarinya. lalu diendapkan. kemudian
endapan tersebut dijemur dan jadilah tepung tapioka. lalu tepung tersebut diolah menjadi
kerupuk.
Di Indonesia, industri pangan sering dipandang sebelah mata. Beberapa makanan
tradisional yang dikerjakan oleh pengusaha-pengusaha kecil banyak yang hanya sekedar
mengemas dan melupakan fungsi-fungsi dari sebuah kemasan dalam persaingan pasar saat
ini. Padahal di era global ini, pesaingan dagang semakin ketat dengan masuknya produk-
produk asing dengan kemasan yang menarik dengan harga bersaing, membuat produk
indonesia kalah bersaing dalam mendapatakan kepercayaan dari konsumen akan kualitas
produk.
Kerupuk adalah salah satu makanan khas Indonesia yang sangat diminati banyak
orang baik dari golongan menengah kebawah hingga menengah ke atas, mulai dari anak kecil
hingga orang dewasa. Kerupuk dibuat dari bahan-bahan sederhana tapi membuat setiap
makanan terasa lengkap. Sebenarnya kerupuk adalah makanan ringan, tapi ternyata peluang
berbisnis kerupuk sangat besar. Tidak heran sampai saat ini bisnis kerupuk masih banyak
diproduksi dan peminatnya semakin banyak. Kerupuk jangek adalah makanan olahan warisan
nenek moyang asli Indonesia, umumnya kerupuk ini kebanyakan hanya dikenal oleh
masyarakat sumatera dan jawa, dengan perkembangannya yang begitu pesat kini kerupuk
jangek bisa kita temukan dimana saja. Melihat dari kebiasaan konsumsi masyarakat Indonesia
yang menggunakan kerupuk sebagai pelengkap makanan, menjadikan suatu gagasan awal
dalam menciptakan suatu kegiatan usaha terhadap kerupuk.
Pada umumnya, kulit merupakan bagian dari hewan yang kurang di manfaatkan oleh
masyarakat Indonesia sebagai bahan baku pangan, namun kulit dapat diolah kembali menjadi
makanan sehingga menjadikan suatu kesempatan untuk melakukan kegiatan usaha dalam
pembuatan kerupuk jangek dan berpeluang besar untuk memasuki perdagangan dipasar.
Dengan melihat berbagai tingkah laku konsumen yang berbeda – beda khusus mengenai
1
kualitas dan rasa menjadikan dasar pemikiran dalam melakukan diversifikasi pada kerupuk
jangek. Hal tersebut diramalkan dapat menaikan nilai keuntungan yang optimal dari
penjualan kulit sebelumnya. Disini saya akan membahas lebih lanjut mengenai industri
kerupuk jangek yang ada di desa tembung.

1.2 Rumusan Masalah


masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana sejarah industri kerupuk jangek di desa tembung ?
2. Bagaimana pembuatan kerupuk jangek ?
3. Bagaimana pemasaran dan pendapatan yang di peroleh dari industri kerupuk jangek di
desa tembung ?
4. Bagaimana Dampak positif dan negatif dari industri kerupuk jangek di desa
tembung ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini yaitu :
1. Mengetahui sejarah industri kerupuk jangek di desa tembung
2. Mengetahui perkembangan industri kerupuk jangek di desa tembung
3. Mengetahui pembuatan kerupuk jangek
4. Mengetahui pemasaran dan pendapatan yang di peroleh dari industri kerupuk jangek
di desa tembung
5. Mengetahui Dampak positif dan negatif dari industri kerupuk jangek di desa tembung

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat dari penelitian ini yaitu :
1. Bagi penulis menambah wawasan berfikir tentang Industri Kerupuk Jangek di Desa
Tembung.
2. Sebagai bahan masukan kepada pembaca dan peneliti yang akan meneliti lebih lanjut.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Pustaka


Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang
setengah jadi atau barang jadi menjadi barang yang bermutu tinggi dalam penggunaannya,
termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri. Dengan demikian, industri
merupakan bagian dari proses produksi. Bahan-bahan industri diambil secara langsung
maupun tidak langsung, kemudian diolah, sehingga menghasilkan barang yang bernilai lebih
bagi masyarakat. Kegiatan proses produksi dalam industri itu disebut dengan perindustrian.
Klasifikasi Industri Berdasarkan Tenaga Kerja.
1.      Industri rumah tangga, yaitu industri yang menggunakan tenaga kerja kurang dari empat
orang. Ciri industri ini memiliki modal yang sangat terbatas, tenaga kerja berasal dari
anggota keluarga, dan pemilik atau pengelola industri biasanya kepala rumah tangga itu
sendiri atau anggota keluarganya. Misalnya: industri anyaman, industri kerajinan, industri
tempe/ tahu, dan industri makanan ringan.
2.      Industri kecil, yaitu industri yang tenaga kerjanya berjumlah sekitar 5 sampai 19 orang,
Ciri industri kecil adalah memiliki modal yang relative kecil, tenaga kerjanya berasal dari
lingkungan sekitar atau masih ada hubungan saudara. Misalnya: industri genteng, industri
batubata, dan industri pengolahan rotan.
3.      Industri sedang, yaitu industri yang menggunakan tenaga kerja sekitar 20 sampai 99
orang. Ciri industri sedang adalah memiliki modal yang cukup besar, tenaga kerja
memiliki keterampilan tertentu, dan pimpinan perusahaan memiliki kemapuan manajerial
tertentu. Misalnya: industri konveksi, industri bordir, dan industri keramik.
4.      Industri besar, yaitu industri dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 100 orang. Ciri
industri besar adalah memiliki modal besar yang dihimpun secara kolektif dalam bentuk
pemilikan saham, tenaga kerja harus memiliki keterampilan khusus, dan pimpinan
perusahaan dipilih.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Industri
a.       Proses produksi.
Produksi dalam arti ekonomi mempunyai pengertian semua kegiatan yang meningkatkan
nilai kegunaan atau faedah (utility) suatu benda. Ini dapat berupa kegiatan yang
meningkatkan kegunaan dengan mengubah bentuk atau menghasilkan barang baru (utility
of form). Dapat pula meningkatnya kegunaan suatu benda itu karena adanya kegiatan
3
yang mengakibatkan dapat berpindahnya pemilikan suatu benda dari tangan seseorang
ketangan orang lain.
b.      Bahan Baku.
Menurut Ahyani bahan baku atau bahan mentah merupakan bahan yang digunakan untuk
keperluan proses produksi. Hal-hal yang berkaitan dengan bahan baku selama satu
periode.
c.       Modal.
Modal adalah sesutu yang sangat dibutuhkan di dalam sebuah perusaan, salah satu yang
utama di dalam perusahaan adalah ini. modal itu banyak macam macamnya.
d.      Pemasaran.
Pemasaran (Marketing) adalah proses penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan
untuk memberikan informasi mengenai barang atau jasa dalam kaitanya dengan
memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia
e.       Teknologi
Teknologi berkaitan erat dengan peralatan dan cara-cara yang digunakan dalam proses
produksi suatu industri. Proses produksi pada pembuatan pakaian jadi di Desa Tembok
Kidul yaitu dengan setrika, mesin jahit, mesin obras.
f.       Tenaga kerja.
Tenaga kerja adalah kekuatan dan atau suatu kemampuan yang dimiliki oleh suatu
manusia untuk melakukan kerja. Kerja merupakan suatu kegiatan yang secara sadar
dilakukan untuk memenuhi suatu kebutuhan hidup.

2.2 Metode Penelitian


 Wawancara, yaitu mengambil data-data dengan mendatangi pemilik dari usaha untuk
mendapat informasi yang jelas secara langsung.
 Obrservasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya
mengukur sikap dari responden (wawancara atau pun kuesioner) namun juga dapat
digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi dan kondisi).
Observasi dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan dalam rangka cek
ricek terhadap objek yang dikaji atau diteliti.

4
2.3 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini diadakan di desa tembung tepatnya Jalan Datuk Kabu, Desa Tembung,
Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.

2.4 Hasil Dan Pembahasan


Makanan merupakan hasil dari proses pengolahan bahan pangan (tumbuhan atau
hewan) yang dimakan oleh makhluk hidup untuk memberi tenaga dan nutrisi. Pada umumnya
bahan makanan mengandung beberapa unsur atau senyawa seperti air, karbohidrat, protein,
lemak, vitamin dan lain-lain. Setiap makanan mempunyai kandungan gizi yang berbeda-beda,
setiap gizi mengandung fungsi yang berbeda pula. Dapat dipastikan bahwa di setiap negara
mempunyai makanan khas masing-masing. Contohnya di Indonesia salah satu makanan khas
yang paling diminati adalah kerupuk. Kerupuk banyak di konsumsi sebagai teman saat makan
nasi. Salah satu contoh kerupuk yang sering dikonsumsi yaitu kerupuk jangek.
Kerupuk jangek adalah makanan ringan yang dibuat dari kulit kerbau atau sapi yang
diolah secara tradisional dengan resep khas tanpa menggunakan bahan kimia. Kulit adalah
bahan baku utama dalam pembuatan kerupuk jangek. Kerupuk jangek yang baik di tentukan
dari kualitas kulit yang baik pula. Sebagai seorang pengusaha kerupuk jangek, membedakan
kualitas kulit yang akan di olah adalah hal yang multlak dimiliki. Umum nya kulit yang
sering digunakan untuk pembuatan kerupuk adalah kulit sapi dan kulit kerbau.
Krupuk yang berbentuk kotak-kotak kubus dengan rongga yang besar dalamnya
sangat akrab di lidah masyarakat Indonesia terutama daerah jawa dan Sumatera. Di
Yogyakarta, tanpa gule krecek (krupuk kulit) yang pedas rasanya sayur gudeg kurang
lengkap. Di Daerah Sumatera Krupuk Jangek menjadi menu favorit di warung padang.
Krupuk ini bisa dijadikan Gule Kerupuk Jangek.

2.4.1 Hasil
a. Nama usaha :
“Usaha Kerupuk Jangek Pak Ali”
b. Alamat :
Jalan Datuk Kabu, Desa Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli
Serdang.
c. Bidang usaha :
Usaha rumahan di bidang makanan

5
d. Pemilik :
Keluarga Bapak Ali
e. Sejarah berdiri usaha :
Kerupuk jangek menjadi pilihan Bapak Ali berusia 45 tahun dan Ibu Mira berusia 42
tahun sejak tahun 2000, sebelum menjadi seorang pengusaha kerupuk pak Matahari
adalah seorang kayawan di salah satu perusahaan yaitu perusahaan indofood dan ibu
Melati adalah seorang ibu rumah tangga. Pada tahun 2000 pak ali dipecat dari
perusahaan tempat ia bekerja, ia mempunyai keluarga di bukit tinggi yang mempunyai
usaha industri kerupuk jangek. Akhirnya pak ali pun ikut nasehat dari keluarganya
untuk membuka industri kerupuk jangek di desa tembung. Awal pertama kali pa kali
membuka industri ini dengan modal 2.000.000 dan bahannya hanya dari kulit sapi
untuk membuat kerupuk jangek.

2.4.2 Pembahasan
a. Pembuatan kerupuk jangek
Tahap-tahap proses pembuatan kerupuk jangek:
1. Kulit sapi dicuci dahulu agar bersih kemudian dipotong menjadi 4-6 bagian agar lebih
mudah dalam pembersihan bulu. 
2. Kemudian kulit direbus dengan air yang tidak begitu panas ±30ºC dan diaduk-aduk
dan dibolak-balik  sampai rambut dari kulit sapi mudah dikerok.
3. Kulit dikerok dengan pisau sampai bersih kemudian dipotong-potong berukuran kecil-
kecil (1 cm x 5 cm atau sesuai selera).

4. Kulit yang sudah dipotong-potong ukuran kecil di cuci bersih dan di beri garam
secukupnya.

6
5. Kulit yang sudah dipotong-potong kemudian dijemur sampai kering. Jika cuaca cukup
panas, maka waktu penjemuran cukup membutuhkan waktu 3 hari. Salah satu tanda
kulit sudah cukup kering adalah  kulit sudah sangat keras.
6. Kulit yang sudah kering tersebut disebut kerupuk jangek mentah.
7. Setelah kulit kering segera dilakukan penggorengan. Proses penggorengan Kerupuk
Jangek ini dilakukan 2 (dua) kali untuk dapat dikonsumsi. Penggorengan awal dengan
cara merendam dalam minyak goreng  dengan api kompor kecil, setelah beberapa
waktu dan kerupuk mulai mengembang, api kompor dapat di besarkan untuk
memercepat kerupuk mengembang. Kerupuk yang telah mengembang dapat di angkat
dan di tiriskan, kerupuk akan kembali mengecil. Langkah selanjutnya adalah
menggoreng kerupuk untuk dapat dikonsumsi, penggorengan ke-2 ini dapat dilakukan
seperti menggoreng kerupuk pada umumnya.
8. Kerupuk jangek yang sudah di goreng bisa di kemas atau dapat juga langsung
dikonsumsi.

b. Waktu operasi :
Proses pembuatan kerupuk dari bahan mentah hingga menjadi kerupuk siap jual dan
konsumsi. Waktu operasional dari senin sampai sabtu, mulai pukul 07.30 – 17.00 WIB
mengolah bahan baku berupa kulit sehingga menjadi kerupuk siap goreng, Pukul 14.00 WIB
menggoreng kerupuk hingga siap di kemas, dan malam hari dilakukan proses pengemasan
kerupuk. Kegiatan produksi sangat dipengaruhi oleh cuaca, ketika cuaca tidak bersahabat
maka proses penjemuran kulit akan terganggu dan memerlukan waktu lama. Karena
penjemuran kerupuk ini menggunakan panas dari sinar matahari langsung.

c. Pemasaran dan Pendapatan


Industri kerupuk rumahan, dalam hal ini jenis kerupuk yang sedikit diproduksi adalah
kerupuk jangek. Kerupuk ini dibuat dari kulit kerbau atau sapi dan diproses dalam waktu
yang tidak terlalu lama tapi memiliki nilai jual yang lumayan dan diminati banyak orang.
Kerupuk jangek ini di distribusikan di pasar-pasar yang ada di jalan datuk kabu, apalagi jalan
ini terdapat pasar pagi, rumah makan, dan warung-warung, pak ali banyak memasukkan
kerupuk jangeknya ke warung-warung di jalan datuk kabu.
Harga dari kerupuk jangek ini lumayan terjangkau satu bungkusnya ada 5 kotak-kotak
kerupuk dengan harga 1.000 rupiah sampai dengan 3.000 rupiah per bungkusnya. Dalam satu
bulan pendapatan dari industri kerupuk jangek ini bisa mencapai 5.000.000, dari pendapatan
7
ini pak ali bisa membeli lahan yang lebih luas di jalan datuk kabu untuk produksi usahanya
yang lebih besar.

d. Dampak positif dan negatif industri kerupuk jangek


Dampak positif :
1. Menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat di desa tembung
Industri kerupuk jangek ini membantu dalam menyerap tenaga kerja di desa tembung.
Industri ini terdapat 15 orang pegawai dalam pembuatan kerupuk jangek, dan terdapat
10 orang agen kerupuk jangek yang mengantar ke warung-warung yang ada di desa
tembung.

2. Masyarakat tidak perlu pergi jauh untuk membeli kerupuk, karena produsennya dekat
dan terdapat pada warung-warung.
Hasil produksi kerupuk yang dipasarkan di warung-warung yang ada di desa
tembung. Kerupuk jangek ini merupakan makanan yang mudah untuk didapat.
Dengan harga yang terjangkau antara 1.000 rupiah sampai 3.000 rupiah. Selain itu
pembuatannya menggunakan bahan-bahan alami yaitu dari kulit sapi dan kulit kerbau,
atau tidak ada campuran zat kimia yang dapat membahayakan kesehatan. Oleh sebab
itu masyarakat sekitar menjadikan kerupuk sebagai cemilan dan lauk untuk makan.

3. Meningkatkan taraf hidup masyarakat yang bekerja dan sebagi pemilik industri
kerupuk.
Industri kerupuk milik pak Nurdin ini sangat membantunya dalam hal ekonomi
keluarga. Industri ini meningkatkan pendapatan pak ali dan ibu mira dan
meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

8
Dampak Negatif
Dari industri kerupuk jangek ini juga terdapat dampak negatif yaitu :
Pencemaran air
Pencemaran air adalah pencemaran yang disebabkan oleh masuknya partikel-partikel
ke dalam air sehingga mempengaruhi pH normal pada air.Penyebab-penyebab pencemaran
air di sekitar pabrik tahu tersebut antara lain:
Penyebab Utama yaitu limbah cair dari pencucian kulit sapi dan kulit kerbau

Penyebab lain :
1. Limbah dari rumah tangga seperti pencucian piring atau pun alat memasak yang di
pakai di sekitar industri kerupuk jangek tersebut
2. Banyak masyarakat yang membuang sampah rumah tangga ke parit-parit di sekitaran
industri.

Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh adanya pencemaran air di parit-parit antara lain :
1. Keadaan air parit yang tidak mengalir dengan lancar.
2. Menimbulkan bau yang tidak sedap sehingga mengganggu pernapasan warga di
sekitarnya.
3. Menyebabkan banjir ketika musim hujan.

Dari dampak negatif yang diakibat dari industri kerupuk jangek di desa tembung ini harusnya
pemilik industri lebih peduli dan lebih memerhatikan lingkungan sekitar.

9
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Industri kerupuk jangek di desa tembung merupakan industri rumah tangga yang
berkembang. Pemilik industri ini yaitu bapak ali,dalam memulai usaha ini tidaklah begitu
sulit. Diperlukan modal yang juga tidak banyak dan keuntungan yang diperoleh juga besar,
pak ali dalam usaha ini mendapatkan keuntungan sekitar 5.000.000 perbulannya.
Berkembangnya industri ini pengaruhi oleh :
a. Proses produksi.
Proses pembuatan dari kerupuk yang mudah dan tidak membutuhkan alat-alat canggih
seperti mesin-mesin. Proses penjemurannya juga alami yaitu memakai sinar panas
matahari langsung.
b. Bahan Baku.
Bahan baku industri kerupuk jangek ini mudah di dapat yaitu kulit sapid an kulit
kerbau.
c. Modal.
Modal yang diperlukan juga tidak banyak. Pak ali hanya memerlukan modal
2.000.000 untuk memulai usaha ini.
d. Pemasaran.
Pemasaran kerupuk jangek ini juga mudah bisa di pasar, di rumah makan dan di
warung-warung yang dekat dengan industri ini.
e. Tenaga kerja
Tenaga kerja yang ada di industri ini langsung di ambil dari masyarakat yang dekat
dengan industri ini yaitu masyarakat di desa tembung.

3.2 Saran
Saran saya terhadap industri ini ialah harusnya industri kerupuk jangek ini lebih
memperhatikan limbah airnya. Air nya yang kotor brcampur dengan bulu-bulu sapi dan
kerbau menjadi mencemari air, dan air limbah dari pencucian alat-alat yang dipakai dalam
industri ini juga harus lebih diperhatikan, tidak di buang sembarangan.

10
DAFTAR PUSTAKA

Wijandi,et al. 1975.Pengelolaan Kerupuk. Kerjasama Aneka Industridan Kerajinan dengan


Departemen Teknologi Hasil Pertanian. FATAMATA-IPB : Bogor
Winarno, F.G. Jenie B.S.L.1983.Kerusakan Bahan Pangan.GhaliaIndonesia: Jakarta

11
LAMPIRAN

12