Anda di halaman 1dari 46

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah Listrik saat ini telah menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi manusia. Hampir sebagian besar aktivitas manusia membutuhkan energi listrik seperti sistem penerangan, komputer, televisi, dan alat elektronik lainnya. Peralatan elektronik sangat bergantung pada keberadaan dan keberlangsungan listrik ini. Namun hidup dalam kondisi krisis energi seperti sekarang ini menyebabkan tidak adanya jaminan ketersediaan listrik secara kontinyu. Uninterruptible Power Supply (UPS) merupakan sistem penyedia daya listrik yang sangat penting dan diperlukan sekaligus dijadikan sebagai benteng dari kegagalan daya serta kerusakan peralatan elektronik. UPS akan menjadi sistem yang sangat penting dan sangat diperlukan pada banyak perusahaan penyedia jasa telekomunikasi, jasa informasi, penyedia jasa internet dan banyak lagi. Dapat dibayangkan berapa besar kerugian yang timbul akibat kegagalan daya listrik jika sistem tersebut tidak dilindungi dengan UPS? Mengingat pentingnya alat ini, muncul pemikiran untuk membuat inovasi baru terhadap UPS yang telah ada selama ini. Pembuatan alat ini diharapkan dapat

berguna di masyarakat dan dapat meningkatkan kreatifitas mahasiswa. Oleh sebab itu penulis mencoba mengangkat masalah ini sebagai bahan penulisan tugas akhir.

I.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari penulisan tugas akhir ini adalah:
1. Bagaimana merancang alat kontrol antara baterai dan sumber utama

(sumber tegangan jala-jala) agar dapat bekerja bergantian saat sumber utama mengalami gangguan?
2. Bagaimana membuat sistem kontrol pengisian dan pengosongan

baterai dengan menggunakan mikrokontroller?

I.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah:
1. Dapat merancang alat kontrol antara baterai dan sumber utama (sumber

tegangan jala-jala) agar dapat bekerja bergantian saat sumber utama mengalami gangguan.
2. Dapat membuat sistem kontrol pengisian dan pengosongan baterai

dengan menggunakan mikrokontroller?

I.4 Batasan Masalah Dalam penyelesaian tugas akhir ini, permasalahan dibatasi pada: 1. Sumber cadangan yang digunakan adalah baterai basah.
2

2.

Daya yang digunakan kami batasi hanya berada pada daya 2200

Watt ke bawah. 3. Untuk komponen yang digunakan adalah Kontaktor, Relay, Op

Amp (IC LM 741) dan mikrokontroller. 4. Untuk inverter yang di gunakan di batasi pada inverter yang sudah

tersedia di pasaran
5.

Untuk mikrokontrollernya kami menggunkan bahasa pemrograman

C dengan kompiler CodeVision AVR.

I.5 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan tugas akhir ini dibagi dalam lima bab dengan pembagian sebagai berikut: BAB I Merupakan bagian pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, dan sistematika penulisan. BAB II Merupakan bab yang berisi teori dasar yang relevan untuk bahan penelitian. BAB III BAB IV BAB V Merupakan bab yang berisi tentang metode penelitian. Merupakan bab yang berisi tentang hasil dan pembahasan. Merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran mengenai isi pembahasan pada bab-bab sebelumnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 UPS (Uninterruptible Power Supply) UPS (Uninterruptible Power Supply) adalah sebuah peralatan elektronik yang berfungsi memberikan catu sementara ketika listrik dari sumber utama padam. Gambar II.1 menunjukkan bagan sebuah UPS. Ada dua jenis UPS, yaitu UPS non kotinyu dan UPS kontinyu. Pada UPS non kontinyu inverter hanya bekerja bila tidak ada AC input, sedangkan bila ada AC input, output UPS akan dihubungkan langsung dengan AC input tersebut. Pemindahan output UPS dari AC input ke inverter, menggunakan sakelar elektronik dengan waktu transfer sekitar 4 ms. Pada UPS kontinyu, inverter bekerja terus menerus baik ada atau tidak ada AC input, jadi pada output UPS tidak ada transfer pensakelaran atau

dapat dikatakan waktu transfer adalah 0 detik. UPS terdiri dari tiga komponen utama, yaitu:

Gambar II.1 Blok diagram UPS

II.1.1 Rectifier- Charger Rectifier- charger merupakan rangkaian yang dipakai untuk penyerahan dan pengisian baterai. Rangkaian blok rectifier-charger ini akan mensuplai daya yang dibutuhkan oleh inverter dalam kondisi beban penuh dan pada saat itu juga dapat mempertahankan muatan di dalam baterai. Selain itu blok ini harus mempunyai kemampuan mengalirkan daya output sebesar 125-130%.

Karakteristik baterai juga perlu diperhitungkan dalam desain rangkaian chargernya karena jika sebuah baterai diisi ulang dengan arus yang melebihi batasan kemampuannya akan dapat memperpendek umur baterai tersebut. Biasanya untuk arus pengisian sebuah baterai pada UPS ini sebesar 80% dari kondisi arus yang dikeluarkan oleh baterai pada saat beban penuh. Batasan sebuah sistem UPS yang baik menurut standar NEMA (National Electical Manufacturer Association) adalah dapat memberikan daya 100% terus-menerus (continous load)

dan 2 jam pada beban 125% tanpa terjadi penurunan kinerja (kerusakan). Baterai masih dapat dikategorikan sebagai kondisi layak pakai apabila masih mampu memberikan daya 100% selama 1 jam jika lama pengisiannya selama 8 jam (ditentukan oleh manufaktur baterai). II.1.2 Inverter Kualitas inverter merupakan penentu dari kualitas daya yang dihasilkan oleh suatu sistem UPS. Inverter berfungsi merubah tegangan DC dari rangkaian rectifier-charger menjadi tegangan AC yang berupa sinyal sinus setelah melalui pembentukan gelombang dan rangkaian filter. Tegangan output yang dihasilkan harus stabil baik amplitudo tegangan maupun frekuensinya, distorsi yang rendah, tidak terdapat tegangan transien. Selain itu, sistem inverter perlu adanya rangkaian umpan-balik (feedback) dan rangkaian regulator untuk menjaga agar didapatkan tegangan konstan. II.1.3 Sakelar Pemindah (Transfer switches) Sakelar pemindah dibedakan menjadi dua jenis, yaitu elektromekanikal dan statik. Sakelar elektromekanikal menggunakan relay-relay yang salah satu terminal mendapatkan suplai tegangan dan yang lain dari sistem UPS. Sistem sakelar statis menggunakan komponen semikonduktor, seperti SCR. Penggunaan SCR akan lebih baik karena operasi pemindahan yang dilakukan dengan SCR yang hanya membutuhkan waktu 3 sampai 4 ms, sedangkan pada sakelar elektromekanikal sekitar 50 sampai 100 ms. Gambar II.2 menunjukkan blok diagram pemasangan UPS.

Gambar II.2 Blok diagram pemasangan UPS

II.2 Akumulator / Baterai Aki atau akumulator adalah baterai yang merupakan suatu sumber energi listrik yang paling popular yang dapat digunakan dimana-mana untuk keperluan yang bermacam-macam. Dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat dengan jelas dimana banyak digunakan pada mobil, sepeda motor, traktor, penggerak tape recorder, sumber energi listrik pada pedesaan yang belum mendapat pasokan listrik dan lain-lain. Aki diberi energi listrik aliran searah (DC), selanjutnya energi listrik aliran searah (DC) yang masuk ke dalam aki atau baterai mengerjakan suatu proses kimia sehingga energi listrik arus searah yang berasal dari luar aki diubah menjadi energi kimia dan selanjutnya disimpan dalam aki. Setelah aki terisi penuh suatu alat pemakai aliran listrik, energi listrik akan keluar dari aki atau baterai berupa aliran listrik maka terjadilah proses kimia di dalam aki tersebut. Memakai atau menggunakan aki adalah berarti mengeluarkan aliran-aliran listriknya dari baterai, dalam hal ini mengosongkan aki atau baterai. II.2.1 Susunan dan Konstruksi Baterai atau Akumulator.

Gambar II.3 menunjukkan suatu susunan akumulator dalam keadaan kosong (belum terisi dengan energi listrik). Aki biasanya terdiri dari sebuah bak gelas atau ebonit yang didalamnya terisi oleh cairan asam sulfat (H2SO4).

Gambar II.3 Konstruksi baterai

II.2.1.1 Kotak baterai (Rangka) Kotak baterai tersusun dari penutup bahan penahan asam (karet keras atau plastik). Kotak baterai modern mengganjal tepi-tepi sekeliling dasar kotak bagian luar untuk tujuan pengganjalan. Didalam kotak baterai, sisa-sisa elemen mengalir sepanjang memenuhi lantai kotak dan kaki batas dasar pelat yang ada. Ruangan antara sisa elemen terbentuk dikenal dengan ruang endapan, tempat partikel padat yaitu kerak pada pelat selama pengoperasian dan jatuh ke dasar kotak. Lapisan kerak ini, yang terdiri dari timah menyentuh ujung terbawah pada pelat yang dapat menyebabkan hubungan pendek. Kotak baterai ditambahkan dengan penyekat dalam masing-masing sel. Contoh : 6 sel dalam 12 Volt baterai dan 3 sel
8

dalam 6 Volt baterai. Sel-sel itu terkumpul rapat dalam konstruksi baterai penyimpanan. Di dalamnya ditempatkan elemen-elemen (muatan sel), demikian juga penempatan pelat positif dan negatif dengan separator / pemisah. II.2.1.2 Elemen-Elemen Elemen terdiri atas pelat positif dan negatif dipasang bersamaan dengan pemisah/separator antara masing-masing pasangan pelat. Nomor dan ukuran pelat-pelat itu adalah faktor-faktor yang ditentukan dengan nominal ampere-jam kapasitas sel-sel. Pelat-pelat itu biasa disebut pelat kisi disusun dari kisi-kisi timah (penyokongan rangka untuk bahan aktif) dan bahan aktif itu sendiri yang dilalui pada kisi-kisi. Seperti disebutkan diatas, bahan aktif pelat bermuatan positif berisi timah peroksida (PbO2) warna cokelat gelap dan bahan aktif pada pelat muatan negatif berisi timah murni dalam bentuk timah karang (Pb, warna abu-abu metalik), lubang-lubang bahan aktif menyediakan daerah luas permukaan yang efektif. Masing-masing kelompok pelat positif dan masing-masing kelompok pelat negatif tersambung (bergandengan) secara bersama-sama oleh sabuk pengikat pelat sendiri dimana pelat berada. Masing-masing biasanya mempunyai satu lebih banyak pelat negatif daripada pelat positif, jadi dua pelat bagian luar biasanya negatif. Susunan elemen-elemen berupa pelat positif dan pelat negatif ditunjukkan pada gambar II.4.

Gambar II.4 Elemen dengan pelat positif dan pelat negatif

II.2.1.3 Penyekat / Separator Pada baterai terdapat dua macam pelat, yaitu pelat positif dan pelat negatif. Pelat-pelat positif dan negatif ini dipasangkan secara berselang seling yang dibatasi oleh separator dan fiberglass. Jadi, satu kesatuan pelat separator dan fiberglass disebut elemen baterai. Dengan penyusunan pelat-pelat seperti itu, luas singgung antara bahan aktif dengan elektrolit menjadi lebih besar, sehingga kapasitas listrik dari baterai menjadi besar. II.2.1.4 Penghubung sel Masing-masing sela dalam baterai dihubungkan dalam hubungan seri. Hubungan ini dipakai penghubung sel, dalam rangka mengurangi bagian dalam dan berat. Penghubung sel langsung digunakan dalam baterai modern. Disini pengikat sabuk secara langsung melalui sekat sel, ini juga mengurangi bahaya hubungan pendek dari pengaruh luar. II.2.1.5 Terminal
10

Pengikat pelat menggabungkan pelat positif dalam sel pertama yang dihubungkan dengan terminal positif (+) pada baterai dan juga sabuk pelat menghubungkan pelat negatif dalam sel terakhir yang dihubungkan dengan terminal positif dan negatif pada baterai, tegangan maksimum berada antara dua terminal 6 Volt atau 12 Volt. II.2.2 Prinsip Kerja Baterai Bila kondisi sel baterai tidak dibebani, maka setiap molekul cairan elektrolit asam sulfat (H2SO4) dalam sel baterai tersebut pecah menjadi dua ion hidrogen yang bermuatan positif (2H+) dan ion sulfat yang bermuatan negatif (SO4--). Kemudian sel baterai tersebut dibebani, maka tiap ion-negatif sulfat (SO4--) akan bereaksi dengan pelat timah-murni (Pb) sebagai katoda menjadi timah-sulfat (PbSO4) sambil melepaskan dua elektron. Sedangkan sepasang ionhidrogen (2H+) akan bereaksi dengan pelat timah-peroxida (PbO2) sebagai anoda menjadi timah-sulfat (PbSO4) sambil mengambil dua elektron dan bersenyawa dengan satu atom oksigen untuk membentuk molekul air (H2O). Pengambilan dan pemberian elektron dalam proses kimia ini akan menyebabkan timbulnya beda potensial listrik antara kutub-kutub sel baterai tersebut. Proses kimia diatas terjadi secara simultan, yang reaksinya dapat dinyatakan sebagai berikut: PbO2 + Pb
Timahperoksid a (pelat positif)

2H2SO4

PbSO4 + PbSO4 +
Timahsulfat (pelat positif) Timahsulfat (pelat negatif)

2H2O
Molekul air

Timahmurni (pelat negatif)

Asamsulfat (elektrolit)

11

Sebelum pengosongan

Setelah pengosongan

PbO2

Pb

Gambar II. 5 Susunan sel saat baterai full

Dari reaksi ditunjukan bahwa terbentuknya timah-sulfat (PbSO4) pada pelat positif dan negatif selama pengosongan (discharge). Keadaan ini akan mengurangi reaktifitas dari cairan elektrolit karena asamnya menjadi lemah, sehingga tegangan baterai antara kutub-kutubnya menjadi lemah pula. Kemudian baterai dapat dikembalikan kekeadaan semula dengan memberikan arus listrik yang arahnya berlawanan dengan arus yang terjadi pada saat pengosongan. Pada proses ini setiap molekul air terurai dan tiap pasang ion-hidrogen (2H+) yang dekat dengan pelat-negatif untuk membentuk molekul asam-sulfat. Sedangkan ion-oksigen yang bebas bersatu dengan tiap atom Pb pada pelat-positif membentuk timah-peroxida (PbO2).

12

Reaksi kimia yang terjadi pada proses pengisian (charging), adalah sebagai berikut: PbSO4
Timahsulfat (pelat positif)

PbSO4
Timahsulfat (pelat negatif)

+ 2H2O

PbO2 + Pb + 2H2SO4
Timahperoksida (pelat positif) Timahmurni (pelat negatif) Asamsulfat (elektrolit)

Molekul air

Sebelum pengisian

Setelah pengisian

PbSO4

PbSO4

Gambar II.6 Susunan sel saat baterai kosong

Pada gambar II.7 diperlihatkan tegangan baterai per sel pada saat pengisian dan pengosongan.

13

Gambar II.7 Kurva tegangan baterai saat pengisian & pengosongan

II.2.3 Katakteristik dan Konsep Teknik Baterai II.2.3.1 Kapasitas Ampere-Jam (Ah) Kapasitas suatu baterai menyatakan berapa lama kemampuannya untuk memberikan aliran listrik, pada tegangan tertentu yang dinyatakan dalam Ampere Jam (Ah). Q = I x t Keterangan : Q = Kapasitas baterai I = arus (ampere). t = waktu (jam). Kapasitas Ah baterai bukan parameter konstan, tetapi tergantung pada: 1) Arus magnet pengaliran muatan Rumus (1)

14

2) Berat jenis dan temperatur elektrolit 3) Pengaliran muatan alamiah dengan kesesuaian waktu (kapasitas lebih besar ketika baterai mengalirkan muatan secara selang-seling, dengan berhenti antara waktu pengaliran, daripada jika baterai mengalirkan terusmenerus. 4) Usia baterai, kapasitas berkurang menuju akhir penggunaan baterai karena bahan-bahan hilang dari pelat. II.2.3.2 Tegangan Pemuatan Baterai Tegangan pemuatan baterai bergantung keberadaan muatan, arus pemuatan, dan temperatur elektrolit. Tegangan ini selalu lebih tinggi dari tegangan hubungan terbuka. Tegangan pemuatan rata-rata adalah tegangan ratarata selama pemuatan keseluruhan. Tegangan pemuatan akhir adalah tegangan diakhir proses pemuatan, ketika baterai menerima muatan penuh, sebelum arus pemuatan diputus. II.2.3.3 Arus Pemuatan Baterai Arus pengisian muatan adalah tingkat arus(A) dimana baterai diisi jika pengisi baterai digunakan. Hal itu tidak bergantung arus tetap selama pengisian muatan, mungkin untuk membedakan antara arus pengisian muatan dan arus pengisian akhir. II.2.3.4 Tegangan Hubungan Terbuka

15

Tegangan hubungan terbuka adalah tegangan diukur antara terminal baterai (tanpa beban) ketika nilai akhir (kondisi tetap) persamaan konsentrasi elektrolit antar pelat dicapai sesudah arus pengisian atau pengaliran muatan dipadamkan. Hal itu penting untuk menunggu niali akhir konsentrasi elektrolit, karena terlalu tinggi tegangan yang akan diukur sesudah pengaliran muatan pendek pada arus tinggi. Nilai tegangan hubungan terbuka dapat tergantung berat jenis elektrolit (larutan asam sulfur). Contoh : Dengan berat jenis elektrolit 1,38 kg/liter (baterai pengisi) tegangan hubungan pembuka baterai adalah 1.28 + 0,84 = 2,12 Volt. II.2.3.5 Berat Jenis Elektrolit a. Berat jenis dan status pengisian Berat jenis elektrolit adalah ukuran utama keberadaan muatan pada baterai penyimpanan. Dalam prakteknya berat jenis elektrolit diukur untuk membedakan kelanjutan baterai yang diberi muatan.

Gambar II.8 Kurva variasi berat jenis dan voltase pembatas

16

Gambar II.8 menunjukkan variasi berat jenis dan voltase pembatas selama pengisian dan pengaliran muatan pada baterai. Table II.1 memberi nilai numerik untuk berat jenis elektrolit baterai pada beberapa keberadaan muatan.

Tabel II.1 Beberapa berat jenis elektrolit pada keberadaan muatan

Tempat muatan Baterai muatan penuh

Kondisi iklim Normal Tropis Normal

Berat jenis 20oC (kg/liter) 1,28 1,23 1,20 1.16 1,12 1,06

Baterai muatan setengah penuh Tropis Normal Baterai kosong Tropis

b. Berat jenis dan temperatur pengoperasian Temperatur tinggi mengakibatkan kecepatan reaksi kimia naik dalam baterai. Sebagai konsekuensinya tidak hanya tenaga sistem penghidupan dan kapasitas Ah baterai ditingkatkan, tetapi pelat juga dapat digunakan untuk meningkatkan aliran kimia dan mekanik (kehilangan bahan aktif, karat/korosi). Sebagai tambahan, pengaliran muatan sendiri akan berkembang. Oleh sebab itu, sedikit konsentrasi dan sedikit agresivitas elektrolit (berat jenias 1,23kg/liter -1,28 kg/liter) digunakan dalam baterai di daerah atau negara beriklim tropis.

17

c. Pengukuran berat jenis Alat untuk mengukur berat jenis suatu larutan disebut hidrometer. Cara menggunakan hidrometer adalah dengan mencelupkan ujung pipa kacanya ke dalam larutan yang akan diukur berat jenisnya, kemudian dengan menekan bola karet dan kemudian melepaskannya, maka sejumlah larutan akan masuk ke dalam pipa kaca. Dengan demikian pelampung akan melayang dalam cairan dan besarnya berat jenis larutan tersebut sama dengan angka yang tepat terlihat pada permukaan larutan. Konstruksi dari hidrometer dapat dilihat pada gambar II.9

Gambar II.9 Cara penggunaan hidrometer

Dalam baterai muatan penuh, elektrolit mempunyai berat jenis 1,28 kg/liter pada temperatur 20oC hingga 27oC. Pengurangan atau peningkatan temperatur sekitar 15oC menyebabkan penurunan atau peningkatan berat jenis 0,01 kg/liter. II.2.3.6 Pengaliran muatan sendiri Selama perjalanan waktu, timah muatan baterai secara bertingkat kehilangan muatannya, walaupun hubungan listrik eksternal tidak tertutup,

18

walaupun baterai tidak dibebani. Hal ini dinamakan self discharge atau pengisian sendiri dan ini disebabkan oleh: a. Proses kimia dalam baterai Akibat deposisi antimoni pada pelat negatif, beberapa tempat sangat kecil hubungan pendek bentuk pasangan antara antimoni dan bahan aktif dalam pelat negatif pada baterai tua dan mengurangi muatan pelat. Sebagai tambahan ketidakmurnian elektrolit berakibat dalam pengaliran muatan dalam pelat positif dan negatif.
b. Arus bocor

Jika baterai tidak menerima perawatan dengan baik, asap asam berkembang selama pemuatan bersama dengan partikel-partikel kotor dapat membentuk lapisan konduksi secara elektrik diatas permukaan kotak baterai sehingga menyebabkan kebocoran. Arus antara batas positif dan negatif baterai mengakibatkan pengaliran muatan sendiri secara perlahan dalam baterai lebih lanjut, dibawah pelat positif dan negatif pada dasar baterai (melintas endapan timah). Baterai diproduksi dari bahan-bahan yang bagus, pengaliran muatan sendiri dapat bervariasi dari 0,2% hingga 1% kapasitas Ah baterai perhari tergantung umur baterai, pengaliran muatan sendiri berkembang dengan temperatur, dan peningkatan dalam berat jenis elektrolit juga mempunyai efek sama.

19

Dalam rangka menjaga minimum pengaliran muatan sendiri, timah yang baik pada tingkat kemurnian tertinggi digunakan untuk bahan aktif dalam baterai, lebih lanjut antimoni terdapat kisi-kisi piringan dalam kemasan kecil. Jika baterai tidak digunakan atau disimpan dengan muatan penuh maka harus diisi secara terus-menerus dengan arus kecil yang sesuai untuk mengganti pengaliran muatan sendiri, jenis muatan ini dinamakan trickle charge.

II.2.3.7 Pembentukan sulfat (Penyulfatan) Salah satu penyakit baterai yang sangat sukar diperbaiki adalah penyakit sulfat atau penyulfatan. Dalam keadaan kosong, teoritis pelat terdiri atas sulfat timah (PbSO4). Karena baterai tidak pernah kosong, sebenarnya sulfat timah tersebut tidak pernah terdapat didalam baterai yang masih baik. Akan tetapi, jika sebuah baterai telah mengalami penyulfatan dan penyulfatan tersebut terdapat pada pelat-pelat positif dan negatif berupa kristal putih yang keras dan sukar dapat mempengaruhi proses-proses kimia dalam baterai. Dengan adanya sulfat yang telah mengkristal dan melekat kepada pelatpelat dan menutupi lubang-lubang, maka ion-ion H2 dan O tidak dapat berhubungan dengan bahan aktif sebagaimana mestinya. Untuk akumulator yang memakai bak gelas, maka sulfat-sulfat ini dapat terlihat dari luar. Pelat-pelat positif dan negatif tampak diselubungi dengan bahan-bahan putih seperti garam.

20

Akan tetapi bagi baterai yang mempergunakan bak dari ebonit berarti bahwa penyulfatan tadi tidak dapat dilihat dari luar, ini dapat juga diketahui pada saat pengisian. Adapun tandanya adalah saat awal pengisian, cairan elektrolit akan mulai mendidih, seakan-akan pengisian telah selesai. Apabila pada kutup-kutup baterai ini diukur besarnya potensial menunjukkan 2,7 Volt 2,75 Volt. Ini menunjukkan bahwa baterai telah terisi penuh. Namun saat aliran pengisian diputuskan sekaligus turun mencapai harga 1,83 Volt atau bahkan lebih rendah. Dari kenyataan ini aki tidak mampu menyalakan lampu listrik yang kecil (daya kecil). Baterai yang sudah terlalu banyak mengandung kristal sulfat tidak dapat digunakan lagi, karena tidak dapat diisi dengan sempurna. Ada 4 hal yang menyebabkan timbulnya penyakit sulfat ini adalah : 1. Baterai tersebut telah beberapa kali dikosongkan sampai dibawah 1,83 Vol per sel. 2. Baterai telah beberapa kali dipaksa mengeluarkan aliran pengosong yang lebih besar daripada yang diperbolehkan. 3. Baterai ditinggalkan dalam keadaan kosong dalam jangka waktu yang lama. 4. Berat kadar elektrolitnya terlalu tinggi. II.2.3.8 Tingkat Efisiensi Dalam perbedaan tingkat efisiensi baterai, kita mulai dengan baterai muatan penuh yang dialirkan dan diisi ulang. Karena kehilangan dalam baterai

21

(peningkatan panas dan penguraian air), tidak semua energi. Diketahui bahwa dalam baterai pemuaian dapat dicapai selama pengaliran. 1. Tingkat efisiensi Ah Tingkat efisiensi Ah diberikan oleh rumus sebagai berikut : IE x tE = IL x tL x 100 % Rumus (2)

keterangan : IE = arus pengaliran muatan (A) IL = arus pengisian muatan (A) tE = waktu pengaliran muatan (h) tL = waktu pengisian muatan (h) Ini berarti tingkat efisiensi Ah berhubungan dengan sejumlah arus ditarik dari baterai selama pengaliran muatan ke sejumlah arus yang harus dimasukkan kedalam baterai untuk membawanya kembali ke tempat semula. Tingkat efisiensi ini sekitar 90% untuk 20 jam pengaliran muatan 27oC. Batasan tingkat efisiensi Ah adalah hubungan sejumlah arus yang diperlukan untuk muatan penuh sejumlah arus yang lebih dulu ditarik dari baterai. 2. Tingkat efisiensi energi

22

Berbeda dengan efisiensi Ah, tingkat efisiensi energi tergantung variasi voltase selama pengisian dan pengaliran muatan : PE x t E = PL x t L x 100% Rumus (3)

keterangan : PE = Daya pengaliran (W) PL = Daya pengisian (W) tE = waktu pengaliran (h) tL = waktu pengisian (h) Untuk 20 jam ukuran pengaliran muatan berlangsung pada 27 oC, tingkat efisiensi sekitar 75%. Perbedaan dalam dua tingkatan efisiensi (tingkat efisiensi Ah dan energi) bertahan dari kenyataan bahwa voltase pemuatan baterai selalu lebih tinggi dari voltase pengaliran muatan. II.2.4 Kerusakan Baterai Kerusakan pada baterai dapat disebabkan karena : II.2.4.1 Akibat pemakaian Selama baterai mengeluarkan daya (saat pengosongan), bahan aktif pada pelat positif dan pelat negatif berubah menjadi timah sulfat (PbSO4) dan

23

berwarna putih. Timah sulfat ini dapat berubah lagi menjadi bahan aktif jika baterai diisi ulang. Yang terjadi pada pelat selama proses pengisian dan pengosongan baterai yaitu sebagai berikut : Pelat negatif (sisi luar) terjadi konsentrasi bahan aktif sehingga ada bagian bagian pada pelat yang menggelembung.
Pelat negatif (sisi dalam) terjadi bintik-bintik putih akibat reaksi dan

mudah terlepas dari pelat dan mengandung elektrolit yang akhirnya bergerombol seperti pohon di bagian atas pelat negatif dan memungkinkan terjadinya hubungan singkat dengan pelat positif.
Pelat positif: karena pengaruh reaksi akan bersifat sangat rapuh dan

lembek. Keadaan ini menyebabkan bahan aktif terlepas dari pelat dan jika terjadi dalam jumlah yang banyak akan mengendap pada bagian bawah baterai sehingga memungkinkan terjadinya hubung singkat antara pelat positif dan negatif. II.2.4.2 Akibat pembentukan sulfat Jika baterai dibiarkan terlalu lama dan tidak diisi kembali maka akan terjadi reaksi dengan sendirinya (self discharge), mula-mula pada pelatnya timbul kristal timah sulfat halus dan lama-kelamaan akan mengeras dan disebut kristal sulfat. Peristiwa tersebut disebut penyulfatan. Penyulfatan dapat menghambat terjadinya proses reaksi karena proses penyulfatan membuat pelatpelat cenderung bengkok dan kisi-kisi cenderung patah, penyulfatan juga akan

24

mengubah warna pelat positif menjadi putih susu dan pelat negatif menjadi putih abu-abu. Tanda- tanda terjadinya penyulfatan : a.Penurunan kapasitas baterai karena dengan adanya sulfat keras akan mengakibatkan luas permukaan bahan aktif pada pelat-pelat yang bereaksi dengan elektrolit menjadi berkurang.
b.

Terjadi panas yang berlebihan. Proses reaksi kimia pada baterai

akan menimbulkan panas dalam ruang baterai dan ini memerlukan pendinginan. Namun, proses pendinginan yang terhalang oleh kristal sulfat sementara proses reaksi berjalan terus akan menyebabkan ruang baterai menjadi panas yang berlebihan.
c.

Pembentukan gas yang cepat saat diberi arus pengisian yang besar.

Gas terbentuk sebagai akibat dari adanya reaksi kimia dalam baterai. Dengan adanya pengisian berarti akan mempercepat bahan-bahan aktif baterai untuk bereaksi. Semakin besar arus yang diberikan selama pengisian berarti semakin mempercepat proses reaksi kimia dan semakin cepat pula terbentuk gas. Untuk menghindari penyulfatan maka dilakukan hal berikut : a.Pelat-pelat harus selalu terendam pada cairan elektrolit. b. Pengisian baterai yang teratur meskipun tidak sedang dipakai

antara 1-2 bulan sekali dengan cara :

25

Pengisian normal ( arus pengisian sebesar 10% dari nila

kapasitasnya). Pengisian terus-menerus (arus pengisian sebesar 1-2% dari nilai

kapasitasnya) II.2.4.3 Pengisian dengan arus berlebihan Pengisian dengan terus berlebihan dapat mengkibatkan rusaknya baterai akibat suhu yang tinggi. Suhu yang tinggi membuat pelat positif mengembang (berubah bentuk) dan oksigen bebas masuk. Hal ini mengakibatkan PbSO4 seluruhnya berubah menjadi PbSO2. Apabila keadaan ini berlangsung terus, O2 akan masuk pada kisi-kisi pelat sehingga PbSO2 memerlukan ruangan lagi. Akibatnya ruangan pada baterai terbatas, pelat-pelat akan melengkung dan mendesak ke atas sehingga mampu mengangkat kutup sel. Disamping itu, pengisian berlebihan akan merusak separator akibat suhu dan reaksi kimia, dan juga pelat negatif rusak akibat bahan aktif yang bersifat menyerap mengalami kenaikan suhu dan arus yang besar. Untuk menghindari rusaknya baterai akibat pengisian berlebihan maka : a.Atur tegangan regulator b. Tidak mengisi baterai lemah dengan pengisian secara cepat.

c.Mengisi baterai sesuai dengan kapasitasnya dengan pengisian lambat atau normal.

26

Akibat kerusakan baterai : a.Tegangan rendah sehingga tidak mampu menyuplai beban
b.

Pengosongan sendiri (self discharge). Reaksi ini menyebabkan

berat jenis baterai semakin lama menurun dan daya yang disimpan juga menurun. Penurunannya dapat mencapai 1% dari nilai kapasitas per harinya. c.Elektrolit cepat habis. Dengan cepat habisnya elektrolit maka berakibat tenaga listrik yang dihasilkan baterai berkurang dari ketentuannya dan mengakibatkan pula daya baterai menjadi rendah. Faktor penyebabnya adalah baterai bocor dan akibat pengisian yang berlebihan.

II.3 Mikrokontroller Dalam pembuatan kontrolnya digunakan mikrokontroler AVR.

Mikrokontroler AVR memiliki arsitektur RISC 8 bit, dimana semua instruksi dikemas dalam kode 16 bit (16 bits words) dan sebagian besar instruksi dieksekusi dalam 1 (satu) siklus clock,berbeda dengan instruksi MCS51 yang membutuhkan 12 siklus clock. Tentu saja itu terjadi karena kedua jenis mikrokontroler tersebut memiliki arsitektur yang berbeda. AVR berteknologi RISC (Reduced Instruction Set Computing), sedangkan seri MCS51 berteknologi CISC (Complex Instruction Set Computing). Secara umum, AVR dapat dikelompokkan menjadi 4 kelas, yaitu keluarga ATtiny, keluarga AT90Sxx, keluarga ATMega, dan AT86RFxx. Pada

27

dasarnya yang membedakan masing-masing kelas adalah memori, peripheral, dan fungsinya. Dari segi arsitektur dan instruksi yang digunakan, mereka bisa dikatakan hampir sama. II.3.1 Arsitektur ATMega8535

Gambar II. 10 Arsitektur ATMega 8535

28

Dari gambar II.10 dapat dilihat bahwa ATMega8535 memilki bagian sebagai berikut: Saluran I/O sebanyak 32 buah, yaitu Port A, Port B, Port C, dan Port D. a. ADC 10 bit sebanyak 8 saluran.
b. Tiga buah Timer/Counter dengan kemampuan pembandingan.

c. CPU yang terdiri ata 32 buah register. d. Watchdog Timer dengan osilator internal. e. SRAM sebanyak 512 byter f. Memori Flash sebesar 8kb dengan kemampuan Real While Write. g. Unit intrupsi internal dan eksternal. h. Port anatarmuka SPI i. EEPROM sebesar 512 byte yang dapat deprogram saat operasi. j. Antarmuka komparator analog. k. Port USART untuk komunikasi serial.

II.3.2 Fitur ATMega8535 Kapabilitas detail dari ATMega8535 adalah sebagai berikut: a. Sistem mikroprosesor 8 bit berbasis RISC dengan kecepatan maksimal 16 MHz.

29

b. Kapabilitas memori flash 8 kb, SRAM 512 byte, dan EEPROM sebesar 512 byte. c. ADC internal dengan fidelitas 10 bit sebanyak 8 channel. d. Portal komunikasi serial (USART) dengan kecepatan maksimal 2,5 Mbps.
e. Enam pilihan mode sleep menghemat penggunaan daya listrik.

II.3.3 Konfigurasi Pin ATMega8535 Konfigurasi pin ATMega8535 pada gambar II.11. Dari gambar tersebut dapat dijelaskan secara fungsional konfigurasi pin ATMega8535 sebagai berikut: a. daya. b. c. GND merupakan pin ground. Port A (PA0..PA7) merupakan pin I/O dua arah dan pin VCC merupakan pin yang berfungsi sebagai pin masukan catu

masukan ADC. d. Port B(PB0..PB7) merupakan pin I/O dua arah dan pin fungsi

khusus, yaitu Timer/Counter, kompatator analog, dan SPI. e. Port C(PC0..PC17) merupakan pin I/O dua arah dan pin fungsi

khusus, yaitu TWI, komparator analog dan Timer Oscilator.

30

f.

Port D(PD0..PD7) merupakan pin I/O dua arah dan pin fungsi

khusus, yaitu komparator analog, interupsi eksternal, dan komunikasi serial. g. RESET merupakan pin yang digunakan untuk mereset

mikrokontroler h. i. j. XTAL1 dan XTAL2 merupakan pin masukan clock eksternal. AVCC merupakan pin masukan tegangan untuk ADC. AREF merupakan pin masukan tegangan referensi ADC.

Gambar II.11 Konfigurasi Pin ATMega8535 II.3.4 Peta Memori

31

AVR ATMega8535 memiliki ruang pengalamatan memori data dan memori program yang terpisah. Memori data terbagi menjadi 3 bagian, yaitu 32 buah register umum, 64 buah register I/O, dan 512 byte SRAM internal. Register keperluan umum menempati space data pada alamat terbawah, yaitu $100 sampai $1F. Sementara itu, register khusus untuk menangani I/O dan control terhadap mikrokontroler menempati 64 alamat berikutnya, yaitu $20 hingga $5F. Register tersebut merupakan register yang khusus digunakan untuk mengatur fungsi terhadap berbagai peripheral mikrokontroler, seperti control register, timer/counter, fungsi-fungsi I/O, dan sebagainya. Alamat memori berikutnya digunakan untuk SRAM 512 byte, yaitu lokasi $60 sampai dengan $25F. Konfigurasi memori data yang ditunjukkan pada gambar II.12.

Gambar II.12 Peta Memori Data ATMega8535

32

Memori program yang terletak dalam Flash PEROM tersusun dalam word atau 2 byte setiap instruksi memiliki lebar 16 bit atau 32 bit. AVR ATMega8535 memiliki 4Kbyter x 16 bit Flash PEROM dengan alamat mulai dari $000 sampai $FFF. AVR tersebut memiliki 12 bit program counter sehingga mampu mengalamati isi Flash. Gambar memori program ATMega 8535 ditunjukkan pada gambar II.13

Gambar II.13 Memori Program ATMega8535

33

BAB III METODE PENELITIAN

III.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan a. Waktu Pelaksanaan b. Tempat pelaksanaan : : 25 Januari 8 April 2010 Laboratorium Instalasi dan Distribusi, Teknik Elektro, Universitas Hasanuddin III.2 Tahap Pelaksanaan a. Pembuatan Hardware

Sumber jalajala

Kontaktor

Load

Charger

Baterai

Inverter

Sensor Arus

Mikrokontroll er

LCD IC Buffer

Relay 34

Gambar III.1 Blok Diagram Perancangan Hardware

Alat ini dirancang agar dapat berfungsi sebagai UPS (Uninterruptible Power Supply) yang dapat menjadi sumber cadangan di rumah saat suplai dari sumber tegangan jala-jala putus. Sistem ini terdiri dari baterai sebagai suplai cadangan yang dikontrol menggunakan mikrokontroller. Saat sumber tegangan jala-jala tidak menyuplai beban perannya akan digantikan oleh baterai dengan bantuan kontaktor. Sistem pengisian baterai dikontrol menggunkan

mikrokontroller. Alur pembuatan hardware ini diawali dengan perancangan sistem suplai yang terdiri atas sumber tegangan jala-jala dan baterai dimana baterai diapit oleh sebuah konverter AC DC (sebagai charger) dan inverter DC AC. Setelah itu pembuatan rangkaian sistem ATS (Automatic Transfer switch) antara sumber tegangan jala-jala dan baterai. Alat ini berupa kontaktor dimana kontak NO

35

(Normally Open) terhubung dengan sumber tegangan jala-jala dan kontak NC (Normally close) terhubung dengan baterai. Bagian terakhir adalah perancangan sistem control yaitu dengan menggunakan mikrokontroller ( IC ATMega 8535) dengan input besar tegangan dari sensor arus yang berfungsi mendeteksi keadaan baterai full atau kosong saat pengisian dan besar tegangan baterai saat pengosongan yang kemudian dibaca oleh ADC dalam mikrokontroller dan output relai serta tampilan displai LCD. Setelah itu ketiga bagian itu diintegrasikan menjadi satu.

Alat- alat yang digunakan Alat-alat yang digunakan antara lain : 1. Sistem Sumber Cadangan
-

Konverter AC DC (Charger baterai) Baterai 100 Ah Inverter 12/220 Volt, 500 Watt

2. Sistem ATS (Automatic Transfer Switch)

Kontaktor

3. Sistem Kontrol Pengisian dan Pengosongan Baterai

36

Sensor arus ( Rangkaian Comparator) Mikrokontroller ATMega 8535 Relai LCD

Pemilihan alat yang digunakan : 1. Konverter Penggunaan transforamator 220/15 Volt, 10 Ampere agar arus pengisian baterai kurang dari 10 Ampere.
-

Dioda Bridge 15 Ampere memiliki kelebihan dibanding dioda penyearah lainnya. Dioda bridge memiliki tegangan output yang sama dengan tegangan input dan rugi daya yang lebih kecil.

Pemilihan kapasitor berdasarkan besar tegangan output dan daya trafo. Tegangan kapasitor sama atau lebih besar dari tegangan yang akan

diberikan. Besar kapasitasnya bergantung pada besar daya alat yang digunakan. Kapasitor yang digunakan adalah kapasitor 16 Volt, 10.000 F Fuse 10 Ampere berfungsi melindungi trafo sehingga kemampuan arusnya harus disesuaikan dengan besar arus trafo.
2. Baterai yang digunakan adalah baterai 12 Volt, 100 Ah sesuai yang telah

tersedia.
37

3. Inverter yang digunakan adalah inverter 12 Volt, 500 Watt. Inverter yang digunakan disesuaikan dengan besar tegangan dari beterai dan besar daya beban. 4. Kontaktor 220 V digunakan karena mampu bekerja pada tegangan jalajala. 5. Mikrokontroller ATMega 8535 memiliki fitur yang lebih lengkap sehingga lebih mudah dan efisien dalam membuat sitem yang cukup kompleks. 6. Penyaklaran pada proses pengisian dan pengosongan baterai dibutuhkan alat yang mampu bekerja sesuai besar arusnya. Oleh sebab itu digunakan relay 12 Volt, 10A 7. Sensor arus dengan menggunakan rangkaian komparator dimana terdiri dari resistor dan IC LM 741.

Sumber tegangan jala-jala

Coil kontaktor

Sumber tegangan jala-jala

(a)
NO kontaktor

~
AC /DC

Load 38 NC kontaktor DC / AC

NC relai Baterai

NC relai

Konverter AC/DC (b)

Inverter DC/AC

Gambar III.2 (a) Rangkaian coil kontaktor, (b) Rangkaian daya

Sebuah coil kontaktor seperti pada gambar III.2 (a) di hubungkan dengan sumber jala-jala. Saat sumber jala-jala on maka coil kontaktor akan energize sehingga membuat kontak-kontaknya akan berubah keadaan. Peran kontaktor adalah agar sumber jala-jala terhubung secara interlock dengan baterai. Pada gambar III.2 (b) sumber jala-jala terhubung langsung dengan charger baterai dimana pada charger tegangan diturunkan sesuai besar tegangan baterai. Charger terhubung dengan baterai melalui sebuah kontak normally close (NC) relai. Kontak NC ini berfungsi mengatur proses pengisian baterai. Baterai terhubung sebuah inverter melalui sebuah kontak normally close (NC) relai. Kontak NC ini berfungsi memutuskan supali baterai saat baterai kosong. Inverter terhubung dengan beban melalui kontak NC kontaktor dan sumber jala-jala terhubung dengan beban melalui kontak NO kontaktor.

39

Gambar III.3 Rangkaian Dalam Konverter AC/DC

Konverter AC/DC berfungsi sebagai charger baterai. Tegangan suplai 220 V diturunkan menjadi 15 Volt. Setelah itu tegangan AC diubah menjadi DC melalui dioda penyearah jembatan atau dioda bridge. Output dari dioda penyearah dilewatkan mealalui sebuah kapasitor sehingga diperoleh tegangan DC murni. Penggunaan fuse adalah untuk menjaga trafo dan komponen lainnya dari arus lebih.

40

Gambar III.4 Rangkaian kontrol pengisian dan pengosongan baterai

START

PLN on Inisialisasi Inisialisasi Gambar III.5 Rangkaian Sensor Arus Pin Pin Mikrokontro Mikrokontro Gambar III.5 memperlihatkan sebuah rangkaian sensor arus. Rangkaian ini ller ller

terdiri dariADC (Pin pembagi tegangan dan op amp.ADC (Pin Baca rangkaian Baca Prinsip dari rangkaian ini adalah mengkonversi besaran arus menjadi besaran tegangan. b. Pembuatan Perangkat Lunak
ADC < 5 Port C.5 = 0 ADC < 200 Port C.7 = 0 0) 7)

Port C.5 = 1

Port C.7 = 1

Lowbet segera di charge

41

Tidak

Ya

Tidak

Tidak

Ya

Ya

Gambar III.6 Flowchart perancangan software

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

42

IV.1 Karakteristik Komponen yang Digunakan IV.1.1 Sensor Terhadap Sumber Tegangan Jala-Jala

Sumber tegangan jala-jala akan dibaca melalui ada tidaknya tegangan yang membuat coil (kumparan) dari kontaktor menjadi energize (aktif). Dimana jika coil kontaktor aktif maka semua kontak pada kontaktor akan berubah keadaan dari keadaan awal terbuka (Normaly Close) menjadi tertutup, dan dari keadaan tertutup (Normaly Close) menjadi terbuka. Pada alat ini sumber tegangan jala-jala dihubungkan dengan kontak NO(Normaly Open). Sedangkan baterai dihubungkan dengan kontak NC(Normaly Close). Sehingga jika coil energize kedua kontak ini akan berubah keadaan, hal ini juga diharuskan agar kedua suplai tidak aktif secara bersama-sama atau lebih sering disebut dengan keadaan interlock. IV.1.2 Sensor akan Kondisi Baterai Sebenarnya ini bukanlah sebuah sensor elektronika layaknya IC akan tetapi hanya merupakan sebuah rangkaian pembagi tegangan yang nantinya tegangan ini akan di bandingkan ke dalam bahasa pemrograman dalam IC ATMega 8535. Program ini dinamakan ADC dimana prinsipnya yakni perbandingan tegangan dari rangkaian kontrol akan di konversi ke dalam sebuah nilai, yang nilai inilah akan menjadi acuan nilai batas minimal yang menandakan bahwa keadaan baterai telah berada pada posisi nilai yang sudah tidak cukup lagi. Sebagai contoh dalam alat kontrol ini, tegangan 12 Volt DC di bandingkan ke dalam angka 255 di dalam bahasa program IC Atemega 8535 dan dikatakan kritis
43

(low battery) pada nilai 234 atau setara denga tegangan 10.98 Volt DC. Penentuan batas minimal ini merupakan kewenangan dari programer. Baiknya jika melihat aspek dari kapasitas dan spesifikasi dari baterai yang digunakan. IV.1.3 Sensor Arus Sensor arus disini adalah sebuah rangkaian comparator yang terdiri atas Op Amp (IC LM 741) dan rangkaian pembagi tegangan. Rangkaian ini mengkonversi nilai arus menjadi nilai tegangan yang kemudian dibaca oleh ADC. Sensor ini berfungsi mendeteksi besar arus pengisian baterai. Saat kondisi baterai tidak full, besar arus pengisian baterai cukup tinggi sehingga relai deenergize dan baterai mengalami proses pengisian. Sebaliknya saat baterai dalam keadaan full, besar arus pengisian akan mendekati nol sehingga relay energize dan proses pengisian akan terhenti. Dengan demikian proses pengisian baterai akan bekerja secara otomatis. II.1.4 Integrasi Sensor dalam Alat Kontrol Dalam alat ini semua komponen yang digunakan akan terintegrasi dalam sebuah perintah pemrograman yang tujuannya telah disebutkan pada bab pertama, sehingga alat kontrol ini dapat digunakan sebagaimana mestinya.

IV.2 Analisa Kondisi Suplai


a. Sumber tegangan jala-jala ON, baterai OFF

44

Saat sumber tegangan jala-jala ada (on), kontaktor akan energize sehingga kontak-kontak dari kontaktor akan berubah keadaan dari normaly open (NO) menjadi tertutup dan normaly close (NC) menjadi terbuka. Sumber tegangan jala-jala yang terhubung dengan kontak normaly open akan menyuplai beban sedangkan baterai yang terhubung dengan kontak normaly close terputus.
b. Sumber tegangan jala-jala ON, baterai kosong

Saat sensor membaca keadaan baterai dalam keadaan kosong maka mikrokontroller akan membuat relai bekerja. Oleh sebab itu selain menyuplai beban sumber jala-jala, juga akan mengisi baterai. Setelah terisi penuh relai akan memutuskan rangkaian sehingga proses pengisian baterai akan berhenti secara otomatis.
c. Sumber tegangan jala-jala, baterai ON

Saat sumber tegangan jala-jala mengalami gangguan dalam hal ini tidak mampu menyuplai beban, coil kontaktor akan deenergize sehingga kontak-kontak dari kontaktor akan kembali ke keadaan normalnya. Dengan demikian baterai akan menyuplai beban.

45

BAB V PENUTUP

V.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan, yaitu:


1. Rangkaian konverter, baterai, dan inverter membentuk suatu sistem

sumber cadangan listrik menggantikan sumber utama saat mengalami gangguan. Sakelar pemindah daya dengan meggunakan kontaktor. Sumber utama dan sumber cadangan listrik bekerja secara interlock.
2. Pengontrolan sistem pengisian dan pengosongan baterai merupakan

gabungan rangkaian hardware dan software . Proses pengisian terjadi saat sensor arus mendeteksi akan terhenti kekosongan saat baterai sedangkan yang proses terukur pengosongan tegangan baterai

menunjukkan jika baterai dalam keadaan kosong. V.2 Saran


1. Keterbatasan alat dan komponen di laboratorium menjadi kendala

besar dalam proses penelitian dan pembuatan alat ini sehingga diharapkan kedepannya alat ini dapat dikembangkan fasilitas yang lebih baik.
2. Sistem sumber cadangan listrik seperti UPS merupakan salah satu

dengan

alat penting. Alat ini membutuhkan penelitian dan pengembangan lebih lanjut sehingga diharapkan dapat menutupi kekurangan UPS yang telah ada selama ini.

46