Anda di halaman 1dari 24

5

2. DASAR TEORI

2.1. Supply chain management Supply chain management adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk mencapai pengintegrasian yang efisien dari supplier, manufacturer, distributor, retailer, dan customer. Artinya barang diproduksi dalam jumlah yang tepat, pada saat yang tepat, dan pada tempat yang tepat dengan tujuan mencapai cost dari sistem secara keseluruhan yang minimum dan juga mencapai service level yang diinginkan (David Simchi-Levi, Philip Kaminsky, and Edith Simchi-Levi, 2000). Dalam perusahaan, channel yang berhubungan sampai barang ke tangan end customer adalah sebagai berikut:
Supplier Factory End customer Retailer

Gb. 2.1. Rantai aliran barang di perusahaan

Dengan tercapainya koordinasi dari rantai supply perusahaan, maka di tiap channel dari rantai supply perusahaan tidak akan mengalami kekurangan barang juga tidak sampai kelebihan barang terlalu banyak. Tujuan dari supply chain management adalah mencapai biaya yang minimum dan service level yang maksimum. Supply chain management mempertimbangkan semua fasilitas yang berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan dan biaya yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan customer. Supply chain management akan membahas seluruh aktivitas dari suatu perusahaan mulai dari level strategis, level tactical, dan level operasional. Kebijakan yang dihasilkan dari supply chain management nantinya mencakup banyak hal sebagai berikut: a. Kebijakan strategis. Kebijakan yang menyangkut kegiatan jangka panjang dari perusahaan seperti network configuration ( dimana mengambil bahan baku,

dimana membangun pabrik, perlu menambah warehouse atau tidak), kebijakan inventory, kebijakan produksi, dan lain-lain. b. Kebijakan taktis. Kebijakan untuk menentukan parameter-parameter

perusahaan seperti menentukan reorder level, order-up-to-level, dan lain-lain. c. Kebijakan operational. Kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan supply chain sehari-hari seperti pembelian bahan baku, penjadwalan dalam produksi, penjadwalan dari pengiriman barang ke customer, dan lain-lain.

Dua alasan sulitnya terjadi pengintegrasian dari supply chain adalah (David Simchi-Levi, Philip Kaminsky, and Edith Simchi-Levi, 2000): a. Fasilitas yang berbeda dari supply chain dapat memiliki perbedaan dari tujuan yang ingin dicapai dan terdapat konflik dari tujuan tersebut b. Supply chain adalah sistem dinamik yang selalu berubah dari waktu ke waktu.

Hal-hal yang menimbulkan biaya dari supply chain secara umum ada 2 yaitu: a. Aktivitas fisik. Aktivitas fisik dari suatu perusahaan yaitu sourcing, proses produksi, delivery, dan return. b. Market mediation. Bagaimana supply chain bisa menjadi mediasi pasar yaitu penghubung apa yang diinginkan customer dengan yang dilakukan supply chain.

Ada 2 fokus utama dari supply chain yaitu: a. Supply chain yang menginginkan efisiensi yang tinggi (cost efficiency) Dalam melakukan semua aktivitas dari supply chain diusahakan dengan cost yang rendah. Supply chain dengan fokus ini didesign dengan melihat : Economic of scale yang tinggi. Semua aktivitas dilakukan dalam unit yang cukup tinggi. Jumlah fasilitas seperti warehouse dibuat seminimum mungkin Dalam memilih channel yang lain dilihat atau dipilih cost yang paling murah

Semua fasilitas digunakan dengan maksimal sehingga utilitas tinggi Berkaitan dengan inventory diusahakan seminimum mungkin sehingga turnover rate harus tinggi

b. Supply chain yang menginginkan responsiveness yang tinggi Dalam melakukan aktivitas dari supply chain diusahakan semuanya dengan waktu yang singkat (cepat tanggap). Apa yang diinginkan oleh customer harus dipenuhi dengan cepat. Strategi ini tidak melihat cost sama sekali, jadi walaupun cost tinggi tidak apa-apa tetapi mampu memenuhi keinginan pasar dengan cepat. Dalam mendesign yang dilihat adalah: Economic of scale yang tidak terlalu tinggi Jumlah fasilitas dibuat banyak tidak apa-apa, asalkan dapat memenuhi kebutuhan customer dengan cepat Dalam memilih channel yang lain dipilih yang responsive Fasilitas yang ada dapat digunakan secara fleksible, utilitas tidak harus tinggi Berkaitan dengan inventory diusahakan agar inventory tidak kurang, diusahakan service level tinggi

Dalam memilih strategi yang ingin digunakan tergantung pada tipe produk yang diproduksi. Secara umum ada 2 jenis produk yang diproduksi yaitu: a. Produk yang inovatif. Sifatnya adalah sebagai berikut: Life cycle pendek. Hal ini menyebabkan supply chain yang didesign harus banyak melakukan product design. Disini harus memperhatikan berapa kali produk harus diganti karena kalau diganti terlalu sering jadinya biaya tinggi. Variasi banyak. Karena inovatif maka tiap orang maunya tidak sama, yang dilihat bukan fungsinya tapi lebih ke arah fashion. Sulit untuk dilakukan peramalan karena keinginan customer yang berfluktuatif sehingga errornya akan tinggi. Profit margin bisa tinggi karena produk sudah ada tambahan features baru. Hal ini bisa terjadi karena kalau produk dapat memenuhi yang diinginkan oleh customer maka customer tidak apa-apa membayar lebih

karena yang dilihat tidak hanya fungsinya tapi juga modelnya. Disamping itu juga hal ini dilakukan untuk mengganti semua biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi mulai dari error peramalan sampai nanti adanya resiko tidak laku terjual. b. Produk yang standard (functional). Sifatnya adalah sebagai berikut: Life cycle panjang. Produk tidak dilihat modelnya, tapi yang dilihat fungsinya. Supply chain yang didesign tidak harus banyak melakukan product design. Variasi sedikit. Jauh lebih mudah diramalkan. Hal ini karena customer tidak lihat model tetapi lihat fungsinya, jadi jika fungsi terpenuhi maka customer akan senang. Profit margin bisa rendah karena semuanya standard sehingga kalau diberi harga yang mahal bisa saja produk jadinya tidak laku. Customer tidak lihat model, yang dilihat fungsinya. Jadi kalau ada yang lebih murah dan fungsi terpenuhi maka customer akan memilih produk dengan harga yang lebih rendah.

Strategi yang digunakan nantinya sebaiknya disesuaikan dengan tipe dari produk ini. Strategi yang paling baik adalah ada hubungan yang linear antara variasi dari produk dan karakteristik dari supply chain (cost efficiency atau responsiveness).

2.2. Kinerja dari supply chain management Kinerja supply chain management adalah semua aktivitas pemenuhan permintaan customer yang dinyatakan secara kuantitatif. Hasilnya nantinya adalah angka atau prosentase dari aktivitas pemenuhan permintaan perusahaan kepada customer. Tujuan dari pengukuran adalah : Untuk menciptakan proses delivery secara fisik (barang mengalir dengan lancar dan inventory tidak terlalu tinggi) Melakukan stream lining information flow (adanya aliran informasi diantara tiap channel)

Cash flow yang baik pada setiap channel dari supply chain

Untuk pengukuran akan ditujukan pada proses-proses yang terjadi di dalam perusahaan sehari-hari, dan kemudian dengan didasarkan atas kinerja yang telah didapat dari berbagai referensi akan dilakukan penilaian atas proses yang terjadi yang menggambarkan kinerja yang diukur tersebut. Berikut ini adalah jenis kinerja yang diukur yaitu:

Tabel 2.1. Kinerja supply chain management Kinerja 1. Delivery performance to request Definisi Kinerja perusahaan dalam memenuhi permintaan untuk dapat sesuai dengan jumlah yang diminta oleh customer 2. Order fullfilment lead time Waktu yang diperlukan perusahaan untuk memenuhi permintaan customer

3. Perfect order

Tingkat keakuratan perusahaan dalam melakukan pemenuhan permintaan dari customer

4. Order fill rate

Kemampuan

perusahaan

untuk

memenuhi kebutuhan customer pada kedatangan pertama kali 5. Performance to promise Keadaan perusahaan berkaitan dengan pemenuhan janji yang diberikan oleh perusahaan jika terjadi kekurangan atau jika terjadi kekosongan dari barang yang diminta 6. Upside production flexibility Fleksibilitas dari supplier perusahaan dalam perusahaan memenuhi permintaan

10

Tabel 2.1. (Sambungan) Kinerja 7. Fixed production Definisi Stabilitas produksi yang dilakukan oleh perusahaan 8. Total supply management cost: Order manufacturing cost Biaya order dari perusahaan

Equipment related to production as a % of revenue

Besarnya pembelian perlengkapan yang diperlukan perusahaan Biaya simpan dari inventory Besarnya investasi dari inventory

Inventory carrying cost Inventory investment as % of sales

% of raw material, purchased component, product compare to total inventory investment

Jumlah

bahan

baku

yang

dibeli

perusahaan

13. Measure of excess/ obsolete inventory 14. Projected nventory turns

Adanya

inventory

yang

kelebihan/menjadi tidak tergunakan Perpindahan inventory yang diinginkan perusahaan di masa depan

15. Inventory accuracy

Ketepatan

penggunaan

dari

jumlah

inventory yang disimpan 16. Value of slow moving product Jumlah dari barang dalam inventory yang lama perpindahannya 17. Forecast accuracy: Unit of forecast accuracy Ketepatan dilakukan dari peramalan yang

Dollar of forecast accuracy

Ketepatan

dari

peramalan

yang

dilakukan dilihat dari besarnya nilai yang harus disediakan

11

Tabel 2.1. (Sambungan) Kinerja 18. Transportation: Freight cost per unit shipped Outbound freight cost as percentage of net sales Inbound freight cost as percentage of purchases Biaya angkut dari pengiriman per unit Biaya kirim yang dibandingkan Definisi

terhadap penjualan Biaya angkut yang terjadi di dalam perusahaan pembelian dibandingkan terhadap

Claims as % of freight costs

Biaya

klaim

yang

dibandingkan

terhadap biaya angkut Accecorials as percent of total freight Percent of truckload capacity utilized Mode selection vs optimal Truck turn around time Cara pengiriman yang paling optimal Lama waktu untuk mengisi kendaraan yang datang Shipment visibility / traceability percent Kemampuan melihat kinerja pengiriman dari ekspedisi yang digunakan Penggunaan ruang dalam kendaraan Biaya tambahan dalam mengirim

perusahaan Number of carriers per mode Jumlah ekspedisi yang menggunakan cara pengangkutan yang sama dengan perusahaan On time pickups Ketepatan waktu pengambilan dari

ekspedisi ke perusahaan 19. Return: Return processing cost as % of product revenue Biaya memproses barang yang

dikembalikan dibandingkan terhadap penerimaan produk yang sejenis yang dikirim

12

Tabel 2.1. (Sambungan) Kinerja 19. Return: Return processing cost as % of product revenue Biaya memproses barang yang Definisi

dikembalikan dibandingkan terhadap penerimaan produk yang sejenis yang dikirim

Return inventory status

Jumlah inventory dari barang yang dikembalikan

Return cycle time: - Cycle times to process excess product return to resale Waktu untuk memproses barang yang dikembalikan untuk dijual kembali Waktu untuk memproses barang yang dikembalikan yang sudah habis masa expired Waktu untuk memperbaiki barang yang dikembalikan untuk digunakan kembali Waktu yang direncanakan dibandingkan waktu aktual yang dilakukan berkaitan dengan return Jumlah yang diperbaiki dibandingkan terhadap jumlah yang dikirim Jumlah yang diperbaiki oleh perusahaan sendiri dibandingkan terhadap jumlah total perbaikan yang harus dilakukan Jumlah yang diperbaiki oleh pihak luar dari perusahaan

Cycle time to process obsolete & end of life product return disposal

Cycle time to repair of refurbish return for use

Percent actual achievement versus published service agreement cycle time

# of repairs performed as % of total units shipped annualy

# of repairs performed internally as a % of total # repairs performed

# of repairs performed externally ( by third party ) as a % of total # repairs performed

13

Tabel 2.1. (Sambungan) Kinerja Cost of units repaired/refurbished internally as a % of total Cost of units repaired/refurbished externally as a % of total defect free order to total order Jumlah pemenuhan permintaan yang tanpa return Biaya perbaikan yang dilakukan oleh pihak luar dari perusahaan Biaya Definisi memperbaiki barang yang

dikembalikan

Sumber : dari berbagai referensi (telah diolah kembali)

2.2.1. Objective Matrix Objective Matrix adalah suatu metode untuk mengukur produktivitas dari suatu proses yang dilakukan dalam beberapa periode. Setelah dilakukan pengukuran pada 2 periode yang berbeda kemudian akan dibandingkan untuk mengetahui terjadi peningkatan atau penurunan. Model pengukurannya adalah sebagai berikut:

14

Tabel 2.2. Pengukuran dengan Objective Matrix


Dan seterusnya Dan seterusnya Nilai kinerja 4 Nilai kinerja 3 Nilai kinerja 2 # Performance Kinerja 4 Kinerja 3 Kinerja 2 Kinerja 1 Supply chain normalizing score

Max

Max

10 9

8 7 6 5 4 3 2

Min

Min

8 (#) A

Score (1) Weight (2) Value (1 x 2)

Performance indicator:

Current

Previous

Index

Keterangan: # = nilai dari kinerja 1; a = kepentingan dari kinerja 1 Langkah pengisian matrix adalah sebagai berikut: a. Menentukan kriteria yang diukur Hal yang harus diperhatikan dalam menentukan kriteria yang diukur adalah: Tiap kinerja yang harus diukur harus independent. Karena jika tidak independent, akan terjadi replikasi pengukuran yang berarti hal itu sudah diukur sebelumnya atau terjadi pengukuran dua kali. Mengukur yang satu sebaiknya sudah cukup, tidak perlu mengukur yang lain (dalam hal ini berarti yang lain itu dapat diketahui dari yang diukur tadi). Kriteria-kriteria itu kalau dijumlahkan menjadi satu penilaian kriteria. Oleh karena yang diukur adalah kinerja supply chain management, maka berarti keseluruhan sudah tercakup dalam pengukuran yang dilakukan dimana

15

dalam supply chain berarti seluruh proses dalam memenuhi permintaan sudah diukur. b. Penentuan elemen matrix Score yaitu nilai dari kriteria pada berbagai kondisi. Angka yang digunakan sebagai acuan dalam pengukuran yaitu: 1 untuk kondisi terjelek dari hal yang diukur 5 untuk kondisi normal dari hal yang diukur 10 untuk kondisi terbaik dari hal yang diukur

Untuk score lainnya didapat dari interpolasi antara score yang digunakan sebagai acuan tadi dengan rumus: (selisih dari periode acuan dimana yang ingin diukur terdapat diantara dua periode tersebut) = (jarak dari dua periode acuan tersebut) Kemudian angka untuk periode yang ingin dicari: angka i = + score dari period acuan di bawahnya (2.2) (2.1.)

Weight yaitu bobot yang digunakan dalam melakukan penilaian nantinya Value yaitu nilai akhir dari setiap kriteria yang diukur

c. Melakukan penilaian untuk tiap kinerja Dari pengukuran yang dilakukan diletakkan di performance. Kemudian dicocokkan dengan angka yang ada di score, maka untuk kriteria itu akan didapatkan score sesuai dengan yang score yang terdapat di nilai itu. Setelah didapatkan score, kemudian dikalikan dengan weight akan didapatkan value dari kriteria yang diukur tadi. Kemudian value yang didapatkan dijumlahkan semua, maka akan didapat nilai untuk kriteria yang diukur secara keseluruhan.

Dari pengukuran di atas, jika didasarkan atas nilai saat ini maka nilai akhir diletakkan di current dan jika didasarkan atas masa lalu maka nilai akhir diletakkan di previous. Kemudian dilakukan lagi (jika yang sebelumnya dari masa

16

lalu maka dilakukan lagi untuk kondisi sekarang) lalu dibandingkan antara current dan previous untuk mengetahui terjadinya peningkatan atau penurunan.

2.3. Kebijakan inventory Inventory adalah barang yang diproduksi untuk disimpan untuk digunakan di masa mendatang baik itu bahan baku, barang jadi, atau barang jadi. Biaya untuk meletakkan inventory ini akan tergantikan dengan berkurangnya kemungkinan terjadi keterlambatan di perusahaan dalam memenuhi permintaan di masa mendatang. Adanya penyimpanan bahan baku menyebabkan produksi tidak sampai terhambat jika suatu saat terjadi keterlambatan pengiriman dari supplier atau terjadi peningkatan permintaan yang cukup signifikan. Dalam perusahaan adalah penting untuk mengatur inventory yang ada. Tujuannya adalah agar inventory tidak terlalu berlebihan dan juga tidak kekurangan saat dibutuhkan. Dengan diaturnya inventory ini akan dapat mencapai service level yang tinggi jika permintaan customer banyak yang tidak dapat dipenuhi jika hanya dengan produksi dan sebaliknya, jika inventory tidak cukup maka dapat dibantu dengan produksi dimana kegiatan produksi dapat direncanakan dengan tersedianya inventory tadi. Disamping service level tadi juga berkaitan dengan biaya dari inventory itu sendiri. Jika inventory yang ada tidak terlalu banyak maka biaya inventory juga tidak terlalu tinggi. Kebijakan inventory dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut (David Simchi-Levi, Philip Kaminsky, and Edith Simchi-Levi, 2000): Permintaan dari customer. Karena permintaan dari customer yang berubahubah maka perlu diramalkan untuk memperkirakan berapa yang sebaiknya disediakan. Peramalan nantinya dilihat dari data historis dan juga dengan mempertimbangkan variasi yang ada dari permintaan customer tersebut. Hal yang penting dari pemintaan adalah jenis dari permintaan (apakah suatu item independent atau dependent terhadap item yang lain) yang akan

mempengaruhi pemilihan metode dalam perencanaan inventory yang dilakukan nantinya.

17

Replenishment lead time. Hal ini perlu dipertimbangkan untuk mencegah jika terjadi keterlambatan atau hal lain karena adanya ketidakpastian pada replenishment lead time.

Jumlah produk jenis lain yang disimpan di warehouse Lama dari jangka waktu perencanaan yang dibuat Biaya order dan biaya simpan. Biaya order terdiri dari cost dari produk dan biaya transportasi. Biaya simpan terdiri dari biaya pajak dan biaya asuransi, biaya pengaturan barang, biaya penggunaan ruang dalam gudang (atau jika gudang disewakan kepada orang lain), obsolescence cost (resiko produk menjadi turun nilainya yang disebabkan adanya perubahan di pasar atau karena teknologi menjadi tidak tergunakan), cost of capital ( biaya untuk pembelian material, tenaga kerja, dan overhead cost untuk jumlah inventory yang disimpan)

Service level requirement. Tingkat inventory nantinya dipengaruhi oleh service level yang ditetapkan.

Fungsi dari pengaturan inventory adalah: a. Perencanaan inventory. Untuk menentukan berapa yang harus disimpan dan kapan harus melakukan penyimpanan itu. b. Pengendalian inventory. Untuk menentukan jumlah yang sesuai dimana barang harus dipesan kembali atau diproduksi kembali, jumlah persediaan pengaman, dan pendataan tingkat dan kondisi dari inventory.

Dua hal yang penting dalam pengaturan inventory adalah demand forecasting dan perhitungan order quantity (David Simchi-Levi, Philip Kaminsky, and Edith Simchi-Levi, 2000). Karena demand dari customer yang tidak pasti, maka perlu diatur apakah order quantity nantinya sama dengan forecasting, lebih besar, atau lebih kecil. Jika order quantity lebih besar dari forecasting apa resikonya, demikian juga jika order quantity lebih kecil dari forecasting. Order quantity ini nantinya akan mempengaruhi kebijakan inventory yang dilakukan. Metode yang dapat digunakan untuk mengatur kebijakan inventory salah satunya adalah order point.

18

2.3.1. Order point Order point atau stastitical inventory control atau stock replenishment adalah sekumpulan data, prosedur, dan keputusan yang digunakan untuk memastikan adanya pengadaan barang secara kontinu, walaupun permintaan tidak dapat diperkirakan dan dilakukan untuk semua item yang disimpan (George W. Plossl, 1994). Dalam menentukan order point digunakan asumsi : a. Demand bersifat independent b. Adanya cadangan pengaman c. Variasi permintaan tidak besar

Dengan order point, jumlah inventory yang ada dipantau dan jika mencapai suatu titik tertentu ((re)order point) dilakukan pengisian kembali (George W. Plossl, 1994). Hal ini dilakukan untuk semua item yang berada di inventory dengan besarnya adalah permintaan selama lead time untuk memperoleh produk tersebut ditambah dengan adanya safety stock. Rumusnya adalah sebagai berikut (George W. Plossl, 1994): Order point = Demand during lead time + safety stock (2.1)

Dengan digunakannya order point ini dapat membantu ketika terjadi forecast errors dan hal-hal lain yang tidak diperkirakan dengan menambahkan inventory tambahan yaitu safety stock. Safety stock yang disebut juga cadangan dan stock penyangga, adalah inventory yang ditambahkan dalam perencanaan kebutuhan untuk memenuhi permintaan yang tidak diperkirakan (George W. Plossl, 1994). Dalam menentukan safety stock digunakan tabel z distribusi normal dan didasarkan atas service level yang ingin dicapai oleh perusahaan. Langkahnya adalah sebagai berikut: Menentukan service level yang diinginkan Melihat tabel z distribusi normal sesuai service level yang telah ditentukan di atas

19

Kemudian hasil dari tabel z tadi dikalikan dengan standard deviasi dari permintaan yang ada Rumusnya adalah sebagai berikut: SS = std dev x z (tabel distribusi normal) (2.2)

Setelah ditentukan order point, kemudian diatur jumlah yang akan dipesan. Konsep dari stock replenishment memiliki perbedaan tujuan dengan 3 tujuan dasar manajemen yaitu (George W. Plossl, 1994): Customer service yang tinggi untuk penerimaan yang tinggi Jumlah inventory yang sedikit untuk return on investment yang tinggi Biaya yang rendah untuk profit yang tinggi

Dengan adanya stock replenishment, inventory dari suatu barang diusahakan untuk ada setiap kali diperlukan. Hal ini adalah kondisi yang paling baik dimana inventory ada setiap kali diperlukan, tidak terlalu cepat dan tidak terlambat. Metode yang disebut dengan time-phased order point (TPOP)

meningkatkan kemampuan dari order point dalam mengatur inventory untuk barang dengan permintaan yang independent (George W. Plossl, 1994). Timephased order point melihat kemungkinan di masa mendatang dari keberadaan suatu inventory untuk menentukan pemesanan yang harus dilakukan. Time-phased order point tidak tergantung pada keadaan aktual ketika dilakukan pengamatan untuk melakukan pemesanan dan alternatif yang baik untuk melakukan pengisian ketika jumlah inventory mencapai order point karena alasan sebagai berikut (George W. Plossl, 1994): Dengan time-phased order point dapat terlihat rencana pemesanan yang akan dilakukan di masa mendatang. Mengijinkan adanya perencanaan ulang dari kebutuhan. Tersedianya hubungan antara perencanaan yang dilakukan untuk barang dengan permintaan yang independent dan barang dengan permintaan yang dependent.

20

Time-phased order point mengijinkan adanya perencanaan dari kekurangan yang dapat terjadi dari permintaan di masa mendatang.

Ciri-ciri dari time-phased order point lainnya adalah: Beberapa replenishment orders dapat direncanakan. Jika hasil peramalan, on-hand inventory, on-order inventory, dan parameter lainnya berubah, planned dan released orders yang dilakukan dapat diubah. Perencanaan dengan time-phased order point dapat dijadwalkan kembali secara backward atau forward sesuai dengan perubahan dari hasil peramalan.

2.3.2. Peramalan Peramalan adalah tindakan untuk memperkirakan besarnya permintaan di masa datang. Sebelum meramalkan perlu dilihat pola dari data yang akan diramalkan, dan pemakaian metode peramalan nantinya akan disesuaikan dengan pola dari data tersebut. Data dapat berpola: a. Trend. Data menunjukkan kenaikan atau penurunan dan terlihat dengan jelas dengan kenaikan atau penurunan tersebut. b. Acak. Data tidak menunjukkan kecenderungan apapun, tidak berpola sama sekali. c. Seasonal. Data menunjukkan kecenderungan berulang dalam suatu periode yang berbeda. d. Cycle. Data menunjukkan adanya pola seasonal tapi dalam periode yang lebih panjang.

Terdapat banyak metode peramalan dan penggunaan nantinya akan disesuaikan dengan pola dari data yang ada. Beberapa metode peramalan adalah: a. Moving Average. Metode ini meramalkan dengan menarik rata-rata dari data dengan periode rata-rata yang disesuaikan dengan kecenderungan seasonal pada data. Metode ini digunakan untuk data dengan pola data acak, stabil, dan

21

seasonal. Kurang baik jika digunakan untuk meramalkan data yang mengandung trend. b. Single Exponential Smoothing. Metode ini meramalkan dengan menggunakan konstanta pemulusan tertentu sesuai dengan jumlah data yang akan diramalkan. Metode Single Exponential Smoothing ini digunakan untuk data dengan pola acak, stabil, dan ada seasonal. c. Double Exponential Smoothing. Metode ini memuluskan kembali hasil peramalan dari Single Exponential Smoothing. Digunakan untuk pola data acak dan trend. d. Metode Holt Winter. Metode ini disebut juga dengan metode Double Exponential Smoothing dengan 2 parameter. Digunakan untuk data dengan pola acak dan trend. e. Dekomposisi multiplikatif. Metode ini digunakan untuk meramalkan data yang mengandung pola trend, seasonal, acak, dan cycle. Digunakan multifplikatif karena adanya variasi seasonal dari data. f. Metode Winters (Winters multiplikatif). Metode ini digunakan untuk meramalkan data dengan pola trend dan ada variasi seasonal. 2.4. Simulasi kebijakan yang dihasilkan Di dalam tugas akhir ini akan dilakukan simulasi untuk melihat apakah kebijakan yang dihasilkan untuk tiap kinerja yang telah diukur dapat digunakan, dengan memperhatikan semua kemungkinan yang dapat terjadi di masa mendatang. Dengan memberikan suatu kebijakan, dilihat apa yang terjadi terhadap kinerja supply chain yang diukur. Simulasi yang digunakan adalah sistem dinamik. Dari hasil simulasi akan dilihat apakah yang harus dilakukan dengan supply chain yang ada untuk dapat meningkatkan kinerja dari supply chain tersebut, dan juga untuk melihat dampak dari suatu kebijakan terhadap biaya atau kepuasan customer yang dicapai dari supply chain yang ada.

22

2.4.1. Sistem dinamik Sistem dinamik adalah suatu metode yang digunakan untuk

mendeskripsikan, memodelkan, dan mensimulasikan suatu sistem yang dinamis (dari waktu ke waktu terus berubah). Didalam sistem dinamik diajarkan bagaimana berpikir secara sistem. Artinya adalah dalam menyelesaikan suatu masalah tidak dilihat pada satu pokok bagian saja, tetapi dilihat semua pengaruhnya terhadap semua yang berhubungan dengan masalah tersebut. Langkah-langkah yang digunakan untuk menyelesaikan masalah secara sistem dinamis adalah dengan menggunakan system approach yaitu: Mengidentifikasi masalah Tentukan tujuan yang ingin dicapai Tentukan kriteria untuk masing-masing tujuan tadi Membangun model dari masalah yang dihadapi. Kemudian tentukan alternatifalternatif perbaikan yang ada Analisa alternatif yang telah ditentukan tadi Dilihat hasil dari alternatif tadi bagaimana dan kemudian dibandingkan hasil yang didapat dengan 2 cara yaitu: Verifikasi. Untuk melihat apakah model yang dibuat sudah menggambarkan masalah sesungguhnya dengan benar dengan bertanya kepada orang yang ahli berkaitan dengan masalah yang dimodelkan. Validasi. Untuk melihat apakah model yang dibuat sudah sesuai dengan kenyataan atau tidak. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memasukkan nilai yang ekstrem pada model yang dibuat tadi. Jika pada model hasilnya berbeda dengan kenyataan maka model harus dilihat lagi. Terapkan alternatif pada masalah Monitor dan evaluasi hasilnya

Dalam membuat model simulasi dari sistem dinamis dilakukan langkahlangkah sebagai berikut: a. Membuat meta model dari suatu sistem. Didalam menghadapi suatu masalah sebaiknya tidak berpikir secara lokal. Hal ini akan membuat pola pikir yang ada menjadi berorientasi pada sebab akibat dan tidak akan menemukan solusi

23

yang terbaik. Solusi yang terbaik tidak akan didapatkan karena semuanya selalu ada sebabnya dan dari sebab itu lalu akibat lagi, demikian seterusnya. Dengan sistem dinamis, orientasi sebab akibat sebisa mungkin dihilangkan. Dalam memodelkan suatu masalah dilihat peta hubungannya, struktur dari sistem tersebut nantinya dilihat dari hubungannya. Dengan cara ini akan didapatkan suatu feedback yang tertutup (loop). Loop ini dinamakan causal loop diagram. b. Dari causal loop yang telah dibuat tadi kemudian dibuat model simulasinya. Dalam membuat model simulasi dikembangkan dari causal loop yang telah dibuat. Dalam sistem dinamik dilihat pola perilaku dari masing-masing komponen yang ada dalam causal loop yang telah dibuat tadi. Pola perilaku adalah perubahan kinerja dari komponen yang diukur. Misalkan: yang ingin diukur kelulusan mahasiswa, kinerja adalah jumlah mahasiswa. Maka pola perilakunya adalah perubahan jumlah mahasiswa.

Karakteristik perilaku dari sistem dalam sistem dinamis adalah: a. Exponential. Karakteristik ini menunjukkan adanya kenaikan atau penurunan dari suatu sistem, tidak menuju ke suatu nilai tertentu. b. Goal seeking. Karakteristik ini menunjukkan adanya kenaikan atau penurunan dan mengarah ke suatu nilai. Semakin baik jika mendekati nilai yang diinginkan. c. Oscillation. Karakteristik ini menunjukkan perilaku yang berubah-ubah dari sistem. d. S-shaped. Karakteristik ini menunjukkan perubahan dari suatu perilaku dimana perubahan mula-mula lambat lalu menjadi cepat dan akhirnya mencapai kondisi stagnant. e. Kombinasi dari karakteristik di atas. Misalkan exponential dan oscillation, goal seeking dan oscillation, s-shaped dan oscilation.

Dari feedback loop yang telah dibuat tadi kemudian dilihat hubungan antar komponen yang ada didalamnya. Hubungannya positif jika kenaikan yang satu menyebabkan kenaikan yang lain. Hubungannya negatif jika kenaikan yang satu

24

menyebabkan turunnya yang lain. Kemudian dilihat jika jumlah hubungan yang negatif genap maka causal loop tersebut adalah causal loop yang positif (reinforcing feedback loop) dan jika jumlah hubungan yang negatif ganjil maka causal loop tersebut adalah causal loop yang negatif (balance feedback loop). Untuk causal loop yang negatif, hasil pengukuran dari perubahan perilakunya nanti adalah goal seeking atau oscillation. Sedangkan untuk causal loop yang positif, hasil pengukuran dari perubahan perilakunya akan berupa exponential atau S-shaped. Setelah membuat causal loop diagram, kemudian membuat modelnya. Dalam membuat model digunakan software Vensim PLE. Variabel yang digunakan dalam model adalah sebagai berikut: a. Stock/level. Variabel yang dapat diketahui jumlahnya pada saat tertentu. Misal: hari itu, tahun itu. Stock ini merupakan akumulasi dari rate/flow. Stock akan menunjukkan suatu nilai tertentu pada saat simulasi dihentikan. b. Rate/flow. Variabel yang dapat diketahui jumlahnya pada periode waktu tertentu. Misalnya: dari tahun ini sampai tahun ini. Pada saat simulasi dihentikan, rate akan bernilai nol atau nilai awal yang telah ditentukan. c. Variabel tambahan yang disebut auxiliary variables. Jika variabel tidak konstan maka ditulis dengan huruf kecil semua (kecuali untuk kasus tertentu), jika variabel adalah fungsi yang ditentukan pada waktu tertentu maka tiga huruf awal ditulis dengan huruf besar dan selebihnya dengan huruf kecil.

2.4.1.1.Memodelkan System Dynamic dalam Supply Chain Management Tujuan memodelkan system dynamic dalam supply chain management adalah: a. Menentukan kebijakan inventory. b. Pengembangan dari kebijakan yang sudah ditetapkan. c. Mengantisipasi adanya pembesaran permintaan yang signifikan. d. Pengurangan waktu. e. Melakukan perubahan design dari supply chain dan jika dilakukan pengintegrasian apa yang akan terjadi.

25

Sudut pandang yang digunakan dalam system dynamic adalah information feed back dan delays. Dua hal ini dimaksudkan untuk melihat perilaku dinamis dari suatu bentuk fisik, biologis, dan sosial dari suatu system. Feedback dan delay ini sendiri juga menyebabkan perilaku dari suatu sistem. Penerapan system dynamic dalam supply chain pertama kali berasal dari konsep industrial dynamic yang diperkenalkan oleh Jay W. Forrester. Industrial Dynamic adalah . suatu penelitian tentang karakter dari information feedback suatu aktivitas industri untuk menunjukkan bagaimana perilaku organisasi yang terjadi, perbesaran yang terjadi (berkaitan dengan kebijakan), dan adanya delay (dalam keputusan atau tindakan) yang saling berinteraksi untuk mempengaruhi suksesnya suatu perusahaan. Industrial dynamic memperlakukan interaksi dari aliran informasi, uang, orders, materials, personnel, dan capital equipment dalam suatu perusahaan, industry, atau national economy. Suatu model productiondistribution system yang dikenal dengan nama Forrester model,

menggambarkan adanya 6 aliran yang saling berinteraksi dalam suatu sistem yaitu aliran dari informasi, uang, material, permintaan, man power, dan capital equipment. Dengan menggunakan Forrester model sebagai contoh, Forrester mendeskripsikan bahwa dalam proses memodelkan suatu permasalahan, adalah penting untuk memperhatikan adanya information feedback dalam metode system dynamic yang digunakan. Di dalam Forrester model, terdapat hal yang penting dalam supply chain dynamics yaitu demand amplification. Forrester menemukan aturan dasar untuk merancang design dari supply chain yang efektif yaitu untuk mengatasi adanya demand amplification harus dilakukan pengurangan dan penghilangan dari delay dan membuat adanya feedback loop yang cocok (Towill 1996b). Beberapa hal yang dibahas dalam memodelkan system dynamic pada suppy chain adalah sebagai berikut: a. Inventory management. Dengan meningkatnya persaingan dari pasar sekarang, menyebabkan dikembangkannya system respon yang cepat dalam memenuhi permintaan. System ini bertujuan untuk memberikan respon yang cepat terhadap permintaan yang berubah dan mencapai inventory level yang tidak terlalu tinggi.

26

b. Demand amplification. Suatu perbesaran permintaan yang terjadi, dan ketika hal ini terjadi dilihat apa yang terjadi dengan performance atau kinerja suatu perusahaan. Hasilnya adalah berapa performance setelah terjadi perbesaran permintaan, lead time apakah harus berubah atau tidak, dan lain-lain yang berhubungan dengan respon terhadap demand amplification. c. Supply chain re-engineering. Respon yang berulang-ulang, efektif, dan efisien terhadap perubahan di pasar adalah tantangan utama dalam supply chain modern (Towill 1996b). Maka untuk menghadapi tantangan ini harus dilakukan pengurangan waktu. Adanya pengurangan waktu ini dapat memprediksikan peningkatan dari supply chain performance (Towill 1996b). Dengan menggunakan Forrester model sebagai kerangka kerja untuk meningkatkan performance dari system, Towill menyediakan beberapa urutan dari strategi supply chain re-engineering. Suatu performance metric yang diperkenalkan oleh Johansson et al. (1993) yang digunakan untuk melakukan benchmarking dari supply chain adalah sebagai berikut: Quality * customer_service_level PI = Total_ cost * lead_time (2.3)

Berdasarkan Towill 1996b, adanya pengurangan dari lead time mempunyai pengaruh yang positif terhadap 3 komponen lainnya. Karena lead time mempunyai pengaruh yang penting terhadap stabilitas dari supply chain, keuntungan dari pengurangan waktu adalah peningkatan dari peramalan permintaan, mendeteksi adanya defect lebih cepat lagi, barang lebih cepat ke pasar, dan dapat menyediakan barang lebih cepat dari permintaan customer. Dengan melihat hasil dari simulasi, Towill (1996b) menyarankan penggunaan strategi re-engineering sebagai berikut: Pengurangan semua lead time (material, informasi, dan cash flow) Eliminasi waktu tunggu dalam pengambilan keputusan Penyediaan informasi yang telah dipercaya di semua pengambil keputusan di arah hulu dari supply chain

27

2.4.1.2.Menyelidiki Pengaruh dari Model Fidelities pada Perubahan dari Supply Chain Dua hal yang menjadi tujuan dalam memodelkan supply chain adalah (Jayendran Venkateswaran, Young-Jun Son, dan Boonserm Kulvatunyou ,2002): a. Untuk menganalisa perubahan dari supply chain yang ada dan menentukan strategi untuk meminimumkan perubahan tersebut. b. Untuk mengetahui pengaruh yang signifikan dari keandalan suatu model yang mewakili keadaan supply chain sesungguhnya.

Setelah didapatkan model yang dapat menggambarkan keadaan supply chain, hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana menentukan strategi yang paling efektif untuk dapat meningkatkan performance dari supply chain yang ada. (apakah strategi yang dihasilkan dari simulasi jika diterapkan keadaan supply chain sesungguhnya tetap efektif atau tidak). Karena dalam simulasi dilihat pengaruh dari suatu strategi sebelum diterapkan pada keadaan sesungguhnya, maka kedekatan model dengan keadaan nyata perlu diperhatikan. Beberapa peneliti telah menggunakan model simulasi untuk menganalisa beberapa aspek yang terdapat pada supply chain seperti instabilitiy dari supply chain (Bhaskaran 1998), performance effects dari operational factors (Beamon and Chen 2001), demand amplification effects (Wikner, Towill, and Naim 1991), dan masih banyak lagi lainnya. Tujuan dari memodelkan dan menganalisa supply chain yang ada adalah untuk mencapai tujuan yang terukur dan tidak terukur. Tujuan yang terukur seperti biaya minimum, output yang meningkat, biaya per unit yang lebih rendah, pengurangan lead time, menurunkan system dynamic yang ada, dan lain-lain (Ayers 2001). Tujuan yang tidak terukur seperti mensinkronisasikan kebutuhan dari customer melalui aliran barang dari supplier, meningkatkan service level dari customer, membangun competitive advantage dari supply chain yang ada, dan lain-lain (Cooper, Lambert and Pagh 1997).

28

Ada beberapa strategi yang dapat digunakan untuk mengurangi efek dari demand amplification pada supply chain sebagai berikut: a. Penentuan inventory levels. Strategi ini digunakan untuk menganalisa stabilitas dari permintaan yang ada. Tingkat inventory yang paling minimum untuk tiap channel telah ditentukan sebelumnya. Tujuan yang dipilih adalah meminimumkan permintaan maksimum dari manufacturer. Dengan

menggunakan cara ini meskipun perubahan dari supply chain yang ada telah diminimumkan sampai yang paling minimum yang bisa dicapai, inventory levels yang ada tidak selalu dengan biaya yang minimum. Cara lain dapat ditempuh dengan tujuan mengoptimalkan model supply chain yang ada dengan biaya yang minimum dan dengan persyaratan perubahan yang ada dijaga pada tingkat yang paling minimum pada setiap simulasi yang dilakukan. b. Pengurangan lead time. Strategi ini digunakan untuk melihat pengaruh dari berkurangnya lead time pada supply chain yang ada, dan dilakukan dengan menggunakan desired inventory levels yang telah dihasilkan dari strategi 1 di atas.