Anda di halaman 1dari 7

Dari diskusi yang sudah dilakukan sebelumnya, kelompok kami memberikan review secara keseluruhan dari pertemuan diskusi

kasus tentang Coca Cola Company. Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan faktor eksternal yang sangat berpengaruh dalam perusahaan Coca Cola, posisi Coca Cola dalam siklus hidup industri, serta kualitas produk minuman di Coca Cola di semua wilayah yang tercakup dalam daerah pemasarannya. Untuk mengawali review kami, kami akan mencoba menelaah lebih lanjut tentang Coca Cola Company. Coca-Cola Company merupakan salah satu perusahaan penghasil minuman non alkohol (minuman berkarbonat) terkemuka di dunia. Perusahaan ini memiliki pangsa pasar yang luas dan menjangkau seluruh dunia, termasuk Indonesia. Produk dari Coca-Cola Company terdiri dari berbagai merk minuman antara lain : Coca-Cola, Sprite, Fanta. Beberapa tahun terakhir Coca-Cola Company mulai menghasilkan produk minuman seperti Diet Coke, Coca-Cola Zero, dan variasi lain dari ke tiga produk utama Coca-Cola Company dalam upaya kepedulian dari Coca-Cola terhadap kesehatan konsumennya. Dengan begitu, para konsumen produk Coca-Cola Company tetap dapat menikmati produk tersebut tanpa ada kekhawatiran kesehatan mereka akan terganggu. Sehingga produk Coca-Cola Company dapat menjadi pilihan utama para konsumen setianya. Produk Coca-Cola Company biasanya di pasarkan melalui supermarket, swalayan, restoran, hingga warung kecil. Coca-Cola Company yang ada di Indonesia hanya merupakan perusahaan bottling saja dimana produk yang dihasilkan juga memiliki komposisi konsentrat dan bahan baku yang sama dari perusahaan pusat. Sehingga cita rasa produk Coca-Cola Company memiliki rasa dan kualitas yang hampir sama di seluruh dunia. Yang dihasilkan oleh Coca-Cola Company Indonesia adalah produk Frestea. Frestea merupakan minuman teh dalam kemasan yang tersedia dalam beberapa variasi rasa yang mana di produksi oleh Coca-Cola Company Indonesia untuk dapat menyaingi produsen teh dalam botol yang terdapat di Indonesia seperti Teh Botol. Hal ini dilakukan oleh Coca-Cola Company Indonesia karena melihat pangsa pasar minuman berkarbonat lebih kecil daripada teh dalam kemasan. Dilihat dari kenyataan bahwa teh menjadi minuman sehari-hari masyarakat Indonesia dari segala kalangan dan usia. Saat ini, Indonesia mencatat tingkat konsumsi produk-produk Coca-Cola terendah (hanya 13 porsi saji seukuran 236 ml per orang per tahun), dibandingkan dengan Malaysia (33), Filipina (122) dan Singapura (141). Karena minuman ringan merupakan barang yang permintaannya elastis terhadap harga, berbagai upaya dilakukan agar harga produk-produk minuman ringan tetap terjangkau. Elastisitas harga minuman ringan terhadap permintaan adalah -1.19 yang berarti bahwa saat terjadi kenaikan harga, volume penjualan akan berkurang dengan prosentase yang lebih besar daripada prosentase kenaikan harga tersebut. Coca-Cola Company di lihat dari aspek internal memiliki beberapa kelebihan dibanding produk yang lain, salah satunya yaitu Coca-Cola Company memiliki brand loyalty yang besar serta kesetiaan dara para pelanggannya. Selain itu Coca-Cola Company memiliki pangsa pasar yang luas dan merupakan industri minuman terbesar di dunia. Tetapi Coca-Cola Company juga memiliki kelemahan yaitu Coca-Cola Company tidak cepat dalam melakukan inovasi produk dan hanya berfokus pada produk lama yang notabene telah memiliki brand loyalty yang tinggi. Serta adanya indikasi bahwa produk soft drink seperti yang dihasilkan oleh Coca-Cola Company cenderung mengganggu kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan. Banyak sekali ditemui berbagai ancaman dan peluang yang dapat mempengaruhi kinerja CocaCola Company antara lain dari : Lingkungan jauh, Lingkungan industri, dan lingkungan organisasional. Coca-Cola Company juga memiliki pesaing tetap yaitu Pepsi.Co. kedua perusahaan ini sama-sama menghasilkan minuman non alkohol. Perbedaannya, Coca-Cola

Company merupakan perusahaan yang hanya terfokus menghasilkan produk minuman, sesdangkan PepsiCo selain menghasilkan minuman juga menghasilkan berbagai jenis makanan ringan lain (deferensiasi berhubungan). Year Ended December 31,

2008

2007

2006

2005

Net operating $31,944.00 $28,857.00 $24,088.00 $23,104.00 revenues Gross prfoit 20570 18451 15924 14909 Operating 8446 7252 6308 6085 income Interest 333 236 193 235 income Net income $5,807.00 $5,981.00 $5,080.00 $4,872.00 Average shares 2315 2313 2348 2392 outstanding Total assets 40519 43269 29963 16355 Long-term 2781 3277 1314 1154 debt Shareowners 20472 21744 16920 29427 equity (In millions except per share data) Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa kondisi keuangan Coca Cola company cenderung stabil dari tahun ke tahun, walaupun kita ketahui bahwa di tahun 2008 krisis ekonomi global melada perekonomian dunia. Kestabilan ini dikarenakan keterfokusan coca cola company pada bidang usahanya yakni di produk minuman. Berbeda dengan pepsi yang menggunakan strategi diferensiasi produk dengan melakukan deversifikasi produk pada usahanya. Dengan adanya krisis ekonomi global tersebut kondisi keuangan pepsi menjadi tidak stabil. Terkait dengan siklus industri sebuah perusahaan, untuk Coca Cola Company sendiri berada pada tahap Mature, yakni posisi suatu perusahaan yang berada di titik puncak siklus hidup industri. Hal itu terkait dengan kinerja keuangan dan non keuangan yang dicapai oleh Coca Cola Company sampai saat ini. Namun, di sisi lain, Coca Cola Company juga masih terbentur dengan masalah-masalah internal maupun eksternal perusahaan. Masalah yang kerap kali ditemui oleh Coca cola adalah strategi pemasaran Coca Cola dinilai kuno, dengan inovasi dan ekspansi yang lambat dalam mengatasi pesaing dan memenuhi keinginan pasar serta terjadinya pemboikotan di kalangan masyarakat terkait dengan kandungan zat yang ada di minuman tersebut dan adanya budaya masyarakat yang Anti-Barat ( idealisme tinggi ) di beberapa negara Asia. Hal itu perlu mendapat perhatian khusus bagi pihak coca cola untuk dapat mengatasi masalah tersebut. Menurut kelompok kami, strategi yang hendaknya dilakukan oleh Coca cola company adalah strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk. Karena masalah inovasi dan respon terhadap permintaan pasar merupakan masalah utama yang sering dihadapi oleh coca cola. Diharapkan

setelah menerapkan strategi tersebut, coca cola company dapat lebih bersaing dan mampu mengimbangi pesaing lainnya.

2.

telah melakukan presentasi yang mendebarkan bikin dag dig dug, maka presentator (Kelompok H) membuka sesi petanyaan yang pertama, dengan maksimal 3 pertanyaan yang berasal dari teman-teman semuanya. Berikut adalah penjabarannya. Dari 3 faktor eksternal analisis lingkungan, yang paling besar menimbulkan ancaman adalah analisis lingkungan industri: ancaman Pepsi Co dan Cadburry. Coca-Cola Company mempunyai dua pesaing utama yaitu: PepsiCo dan Cadbury Schweppes PLC. PepsiCo mempunyai jumlah karyawan dua kali lebih banyak dari Coca-Cola Company. Sedangkan Cadbury Schweppes PLC mempunyai diversifikasi produk yang mana tidak dimiliki oleh dua pesaingnya. Diversifikasi itu meliputi: industri minuman, coklat dan permen karet. Sedangkan yang paling besar menimbulkan peluang adalah analisis lingkungan jauh: meningkatnya pendapatan disposable. Semakin meningkatnya pendapatan disposabel, penjualan Coca-Cola akan meningkat. Pendapatan disposable adalah sisa pendapatan perseorangan yang meliputi pembayaran transfer setelah pembayaran semua pajak langsung dan sumbangan asuransi nasional. Pendapatan disposable merupakan faktor penentu tingkat pengeluaran untuk konsumsi dan tabungan dalam suatu perekonomian. Pada hakikatnya pendapatan disposable digunakan oleh para penerimanya yaitu semua rumah tangga yang ada dalam perekonomian, untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa yang mereka ingini. Hal ini menjadi peluang bagi perusahaan Coca-cola. Politik-hukum : pemboikotan, pelarangan terhadap penjualan Coca-Cola karena diduga mengandung 30x lebih banyak zat antitoksin. Pemboikotan yang terjadi karena adanya invasi AS ke Irak dan disepakati oleh negara AntiAmerika, dalam konteks ini India bukan merupakan salah satu negara yang anti-Amerika melainkan di Parlemen India itu sendiri sempat melakukan pelarangan penjualan Coca-cola dan juga Pepsi pada tahun 2003 karena hasil test yang membuktikan adanya zat-zat toksin 30 kali lebih banyak dari standar yang diperbolehkan Uni Eropa di dalam kedua produk minuman tersebut. Zat-zat berbahaya dan mematikan tersebut adalah pestisida dan insektisida seperti lindane, DDT, malathion, dan chloropyrifos, yang terkonsentrasi tinggi. Ada anggapan bahwa masuknya produk Coca-Cola dari luar negeri yang memiliki rasa yang berbeda dari produk Coca-Cola yang dihasilkan di Indonesia adalah hasil selundupan karena letak kedua negara yang berdekatan, contohnya Kalimantan (Indonesia) dengan Serawak (Malaysia). Namun hal tersebut tidak masuk akal karena produk impor tersebut diperjualbelikan di supermarket-supermarket besar. Lagipula, jika masuk secara illegal maka akan merugikan

pihak Coca-Cola itu sendiri. Masalah tersebut dapat dijawab karena sesungguhnya Coca-Cola Bottling Indonesia merupakan salah satu produsen dan distributor minuman ringan terkemuka di Indonesia. Perusahaan ini memproduksi dan mendistribusikan produk-produk berlisensi dari The Coca-Cola Company. Coca-Cola Bottling Indonesia merupakan nama dagang yang terdiri dari perusahaan-perusahaan patungan (joint venture) antara perusahaan-perusahaan lokal yang dimiliki oleh pengusahapengusaha independen dan Coca-Cola Amatil Limited, yang merupakan salah satu produsen dan distributor terbesar produk-produk Coca-Cola di dunia. Pada saat ini Coca-Cola Company sedang mengalami siklus dewasa karena selalu melakukan inovasi pada produknya. Ada beberapa strategi yang sudah dijalankan oleh Coca-Cola Company, yaitu: 1. Integrasi ke depan, yaitu mencari kepemilikan atau meningkatkan kontrol atas distributor atau pengecer. 2. Integrasi ke belakang, yaitu mencari kepemilikan atau meningkatkan kontrol atas pemasok perusahaan. Misalnya pada perusahaan sirup jagung berkadar fruktosa tinggi, aspartam yang merupakan bahan utama pembuat minuman ini. 3. Integrasi horizontal, yaitu mencari kepemilikan atau meningkatkan control atas pesaing. Seperti halnya mengakuisisi merek air minum local, Ades, melalui PT Coca-cola Company. 4. Penetrasi pasar, yaitu meningkatkan pangsa pasar untuk produk saat ini di pasar melalui upaya pemasaran yang lebih besar. Sedangkan strategi yang belum diterapkan, namun tidak ada salahnya bahkan lebih baik jika diterapkan oleh Coca-Cola Company, yaitu: 1. Pengembangkan pasar, yaitu memperkenalkan produk saat ini ke area geografis yang baru. 2. Pengembangan produk, yaitu meningkatkan penjualan melalui perbaikan produk saat ini atau mengembangkan produk baru. 3. Diversifikasi konsentrik, yaitu menambahkan produk yang masih berkaitan dengan produk lama. 4. Kepemimpinan harga Identifikasi Permasalahan Perusahaan 1. Coca-cola Company tidak menghasilkan produk organik

Di Amerika sedang mengembangkan produk organik, dan perkembangannya telah mencapai 70%. Dan sampai saat ini pun produk organik semakin popular. Sedangkan Coca-cola Company tidak mengadakan inovasi dalam hal produk organik, padahal hal ini dapat dijadikan peluang bisnis yang potensial. 2. Sebagian pengecer mempunyai kontrak ekslusif dengan PepsiCo. Sebagian perusahaan beverage seperti Pepsi Co. telah melakukan kontrak ekslusif dengan restoran-restoran misalnya saja KFC, Mac D, dan lainnya. Sehingga Coca Cola tidak bisa masuk ke area tersebut. 3. Soft drinks tidak baik untuk kesehatan Soft drinks tidak punya nilai gizi (dalam hal vitamin dan mineral). Mereka punya kandungan gula lebih tinggi, lebih asam, dan banyak zat aditif seperti pengawet dan pewarna. Sementara orang suka meminum soft drink dingin setelah makan, Akibatnya, Tubuh kita mempunyai suhu optimum 37 supaya enzim pencernaan berfungsi. Suhu dari soft drink dingin jauh di bawah 37, terkadang mendekati 0. Hal ini mengurangi keefektivan dari enzim dan memberi tekanan pada sistem pencernaan kita, mencerna lebih sedikit makanan. Bahkan makanan tersebut difermentasi. Makanan yang difermentasi menghasilkan bau, gas, sisa busuk dan racun, yang diserap oleh usus, di edarkan oleh darah ke seluruh tubuh. Penyebaran racun ini mengakibatkan pembentukan macam-macam penyakit. Frekuensi konsumsi teh botol di Indonesia 3kali lebih besar daripada minuman bersoda meskipun pangsa pasar sedikit. Belakangan ini dominasi Sosro mulai digoyang oleh masuknya pemain baru di bisnis minuman teh dengan nama besar bahkan mendunia. PT Coca Cola Bottling Indonesia meluncurkan produk teh dalam kemasan botol dengan nama Freshtea. Untuk menjangkau segmen konsumen yang lebih besar lagi, di akhir tahun 2002 Coca-Cola menyediakan Freshtea dalam kemasan kotak yang diistilahkan sebagai kemasan santai. Mengutip ucapan dari Sanjay Guha, Managing Director PT Coca-Cola Bottling Indonesia, pasar minuman siap saji khususnya teh di Indonesia belum berkembang. Pihaknya melihat ini merupakan potensi besar yang dapat dikembangkan. Teh adalah minuman yang sangat populer dan sudah menjadi tradisi bagi bangsa Indonesia. Kami memiliki komitmen untuk mempersembahkan kepada konsumen minuman teh siap saji yang berkualitas dengan cita rasa terbaik, katanya. Apalagi sebutnya, konsumsi produk Coca-Cola di Indonesia baru mencapai jumlah 19 porsi saji per kapita per tahun dan termasuk yang paling rendah di Asia. Dia berharap, kehadiran Freshtea dapat meningkatkan konsumsi tersebut dan pada gilirannya meningkatkan revenue perusahaan. Di tempat terpisah, Bambang Chriswanto, National Corporate Affairs Manager PT Coca-Cola Bottling Indonesia mengatakan, tujuan pihaknya menyediakan Freshtea dalam kemasan santai tak lain ingin memberikan alternatif pilihan bagi konsumen terutama konsumen yang memiliki karakteristik aktif dan kerap melakukan perjalanan.Awalnya kita memang hanya menyediakan Freshtea dalam kemasan isi ulang atau botol.

Namun seiring dinamika kebutuhan konsumen yang memiliki karakteristik seperti disebutkan di atas, kami melihat bahwa konsumen perlu diberi alternatif, katanya. Ditambahkan, gaya hidup konsumen dalam menikmati teh ternyata telah berubah. Di sela-sela kegiatan aktifnya seperti berwisata konsumen masih ingin menikmati teh. Oleh karena itu Freshtea melihat ini sebagai peluang yang tidak cocok dimasuki Freshtea kemasan isi ulang yang relatif ada kekurangannya dari segi kepraktisan. Pola distribusi tiap negara berbeda. Sebagian besar produk-produk Coca-Cola Botling Indonesia didistribusikan melalui lebih dari 120 pusat penjualan yang tersebar di seluruh Indonesia. Produk-produk tersebut diangkut ke pusat-pusat penjualan tersebut oleh armada truk berukuran besar dan kemudian didistribusikan ke pedagang-pedagang eceran oleh kendaraan distribusi yang lebih kecil. Apabila truk-truk penjualan ditempatkan berderet, maka akan bisa sepanjang lebih kurang 17 km. Hal inilah yang membuat perusahaan Coca-Cola Botling Indonesia sebagai salah satu perusahaan distribusi terbesar di Indonesia. Diperkirakan lebih dari 80% produk-produk Coca-Cola dijual melalui para pengecer dan grosir dimana 90% diantaranya termasuk dalam kategori pengusaha usaha kecil, dan mereka mempekerjakan kurang dari lima karyawan dengan omset penjualan per tahun kurang dari Rp. 1 milyar. Tim penjualan yang sangat besar tidak saja menjual produk-produk Coca-Cola kepada para pelanggan, tetapi mereka juga memberikan saran bagaimana sebaiknya mereka menjual produkproduk tersbut. Supervisor penjualan juga teratur mengunjungi para pelanggan dan memberikan bimbingan, serta menampung masukan yang disampaikan para pelanggan. Kebijakan penjualan dan distribusi secara menyeluruh diarahkan oleh National Office di Cibitung, Bekasi, namun penerapan kebijakan tersebut dilaksanakan oleh para manajer operasional dan regional yang handal dan berpengalaman beserta staf mereka. Coca-Cola Company berada di tahap mature dalam siklus hidup industri karena mengadakan perluasan produk dengan diversifikasi dan melakukan inovasi. Inovasi adalah salah satu kunci keberhasilan yang menjadikan Coca-Cola Indonesia semakin besar, dikenal luas, serta memberikan kontribusi bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Melalui riset dan pengembangan (Research & Development), Coca-Cola terus berinovasi untuk menciptakan produk, kemasan, strategi pemasaran, serta perlengkapan penjualan baru yang lebih berkualitas, kreatif, serta mempunyai ciri khas tersendiri. Dengan memahami kebutuhan dan perilaku konsumen, serta potensi kekayaan alam Indonesia, Coca-Cola berinovasi dengan menciptakan produk-produk baru yang menjadikan produk minuman cepat saji Coca-Cola mempunyai rasa dan pilihan yang beragam. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen secara lebih spesifik, pada tahun 2002 Coca-Cola meluncurkan AQUARIUS, minuman isotonik yang diperuntukkan bagi mereka yang aktif dan gemar berolahraga. Pada tahun yang sama, Coca-Cola Indonesia meluncurkan Frestea, teh dalam

kemasan botol dengan aroma bunga melati yang khas. Pada tahun 2003, Fanta menghadirkan campuran dua rasa buah, orange dan mango, yang disebut Fanta Oranggo, setelah pada tahun sebelumnya sukses meluncurkan Fanta Nanas. Pada tahun ini pula, Coca-Cola Indonesia meluncurkan Sunfill - produk minuman Sirup dan Serbuk instan rasa buah. Dengan inovasi, Coca-Cola yakin bahwa produk-produk yang ditawarkan akan mampu memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia. Selain berinovasi pada produk-produk baru, Coca-Cola juga mencoba mengembangkan desain kemasan minuman, serta meningkatkan kualitasnya. Setelah meluncurkan Frestea dalam kemasan botol, pada akhir tahun 2002, Coca-Cola Indonesia meluncurkan Frestea dalam kemasan Tetra Wedge yang lebih mudah dan praktis untuk dibawa. Pada akhir 2003, Coca-Cola, Sprite, dan Fanta hadir dalam kemasan kaleng ramping baru yang unik. Pada tahun 2004 ini, Coca-Cola hadir dengan inovasi terbaru yaitu botol gelas berbobot lebih ringan 30 % dengan desain mungil, imut, tapi kuat. Inovasi kemasan produk akan terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan teknologi terbaru. Strategi pemasaran Coca-Cola mempunyai ciri khas tersendiri, yang unik dan kreatif. Berbagai program promosi diadakan sesuai dengan event yang sedang berlangsung, baik melalui konser musik, pameran, promo penukaran tutup botol, hadiah kejutan, maupun iklan TV. Pada tahun 2004 ini, iklan Coca-Cola versi Kabayan dinobatkan sebagai iklan paling efektif dalam bulan Pebruari dan Maret versi survey TV Ad Monitor MRI. Promo Coca-Cola juga memanfaatkan momentum tertentu, misalnya: Demam Piala EURO 2004. Dengan memanfaatkan event berskala nasional maupun internasional, Coca-Cola mencoba tampil dengan strategi pemasaran baru yang menarik masyarakat. Selain berinovasi dalam produk, kemasan, dan strategi pemasaran; perlengkapan penjualan baru juga dikembangkan ke arah yang lebih baik. Berkaitan dengan inovasi ini, Coca-Cola Indonesia menciptakan jenis krat baru yang lebih ringan, dibuat dari bahan yang ramah lingkungan. Kunci sukses inovasi tersebut adalah kolaborasi yang baik antara Coca-Cola Bottling Indonesia dan Coca-Cola Company, pengembangan varian minuman cepat saji dengan rasa baru, serta keinginan untuk menjadikan Coca-Cola Indonesia sebagai perusahaan minuman cepat saji yang lengkap.