Anda di halaman 1dari 14

Pelaksanaan Pendapatan Negara

1. Definini APBN menurut UUD 1945, UU No. 17 Tahun 2003, dan UU No. 1 Tahun 2004. UUD 1945 Pasal 23 ayat (1) APBN sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan UU dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pasal 23 ayat (2) RUU APBN diajukan oleh presiden untuk dibahas bersama DPR dengan memperhatikan DPD. Pasal 23 ayat (3) Apabila DPR tidak menyetujui RAPBN yang diusulkan oleh Presiden, Pemerintah menjalankan APBN tahun yang lalu. UU 17 2003 pasal 11 (1) APBN merupakan wujud pengelolaan keuangan negara yang ditetapkan tiap tahun dengan undang-undang. (2) APBN terdiri atas anggaran pendapatan, anggaran belanja, dan pembiayaan. UU No 1 2004 pasal 12 APBN dalam satu tahun anggaran meliputi: a. hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih; b. kewajiban pemerintah pusat yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih; c. penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. 2. Struktur dan siklus APBN. APBN terdiri atas anggaran pendapatan, anggaran belanja, dan pembiayaan. Pendapatan negara terdiri atas penerimaan pajak, penerimaan bukan pajak, dan hibah. Belanja negara dipergunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintahan pusat dan pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Belanja negara dirinci menurut organisasi, fungsi, dan jenis belanja. Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.

saputririzki

APBN dibuat dalam bentuk Staffel, yaitu catatan penerimaan negara dan pengeluarannya disatukan dalam satu kolom. Catatan penerimaan ditempatkan di bagian atas, sedangkan catatan belanja negara ditempatkan di bawahnya. Dengan demikian format ini dapat memperlihatkan adanya surplus atau defisit anggaran, dan kemudian dilanjutkan dengan pembiayaannya baik dari sumber dalam negeri maupun luar negeri. Bentuk ini kemudian dikenal dengan istilah I-Account Struktur APBN dengan menggunakan I-account
A. Pendapatan Negara dan Hibah I Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan 2. Pnerimaan Negara Bukan Pajak II Penerimaan Hibah B. Belanja Negara I Belanja Pemerintah Pusat II Belanja Untuk Daerah 1. Dana Perimbangan 2. Dana Otonomi Khusus & Penyesuaian C. Keseimbangan Primer D. Surplus/Defisit Anggaran E. Pembiayaan

Siklus APBN
Tahap Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN/Perhitungan Anggaran Negara Tahap Penyusunan APBN (Perencanaan Anggaran)

Tahap Pengawasan Pelaksanaan APBN

Tahap pembahasan dan Penetapan APBN

Tahap Pelaksanaan APBN

saputririzki

Tahap Penyusunan dan Penetapan 1. Pemerintah sampaikan pokok-pokok kebijakan fiskal & kerangka ekonomi kpd DPR (bulan Mei) 2. Pemerintah pusat & DPR bahas kebijaksanaan umum dan prioritas anggaran sbg acuan bagi K/L dalam penyusunan anggaran 3. Menteri/Pimp. Lembaga menyusun RKA-KL dan dibahas dgn DPR, hasilnya disampaikan ke Menkeu sbg bahan rancangan UU APBN tahun berikutnya. 4. Pemerintah Pusat sampaikan RUU APBN + Nota Keuangan kpd DPR untuk dibahas (bulan Agustus) 5. DPR menyetujui RUU APBN selambat-lambatnya 2 bulan sebelum TA ybs berakhir Tahap Pelaksanaan 1. Setelah UU APBN ditetapkan, rincian pelaksanaannya dituangkan dlm Perpres tent. Rincian APBN 2. Menkeu beritahu K/L agar sampaikan dokumen Pelaksanaan anggaran berdasarkan alokasi anggaran dlm Perpres tent.Rincian APBN (termasuk RBA BLU) 3. Menkeu mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran dan disampaikan kpd menteri/pimpinan lembaga, BPK, Gubernur, Direktur Jenderal Anggaran, Direktur Jenderal Perbendaharaan, Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan terkait, Kuasa Bendahara Umum Negara (KPPN) terkait, dan Kuasa Pengguna Anggaran. 4. Penanggung jawab Keg. mengajukan dana dgn menerbitkan SPM kpd kuasa BUN 5. Pemerintah susun lap. realisasi semester I APBN & prognosis dan disampaikan ke DPR selambat-lambatnya akhir Juli TA Ybs. 6. Jika ada penyesuaian pemerintah pusat ajukan RUU perubahan APBN Tahap Pengawasan Pelaksanaan APBN 1. Pengawasan dilakukan atasan kepala kantor/satker K/L 2. Inspektorat Jenderal melakukan pengawasan atas pelaksanaan APBN 3. Pengawasan oleh DPR Tahap Pertanggungjawaban 1. Menteri/pimpinan lembaga membuat laporan keuangan : Laporan Realisasi Anggaran Neraca Catatan atas Lap. Keuangan (termasuk Lap. Keuangan BLU) 2. LK disampaikan ke Menkeu paling lambat 2 bulan setelah TA berakhir. 3. Menkeu menyusun rekapitulasi LK dan disampaikan ke Presiden 4. Presiden sampaikan LK ke BPK utk diaudit 5. LK (audited) disampaikan Presiden ke DPR sbg RUU Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN.

saputririzki

3. Prinsip umum pengelolaan pendapatan negara, dapat dilampaui, disetor ke kas negara. UU 17 TH 2003 pasal 3 Keuangan Negara dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. UU 1 th 2004 pasal 16 Setiap kementerian negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah yang mempunyai sumber pendapatan wajib mengintensifkan perolehan pendapatan yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya. UU 1 th 2004 pasal 69 (3)Pendapatan dan belanja Badan Layanan Umum dalam rencana kerja dan anggaran tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dikonsolidasikan dalam rencana kerja dan anggaran Kementerian Negara/Lembaga/pemerintah daerah yang bersangkutan. (4) Pendapatan yang diperoleh Badan Layanan Umum sehubungan dengan jasa layanan yang diberikan merupakan Pendapatan Negara/Daerah. (5) Badan Layanan Umum dapat memperoleh hibah atau sumbangan dari masyarakat atau badan lain. (6) Pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat digunakan langsung untuk membiayai belanja Badan Layanan Umum yang bersangkutan. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum diatur dalam Peraturan Pemerintah. Intinya, pada mekanisme penyetoran penerimaan/pendapatan negara langsung disetor ke RKUN melalui: Pajak: Bendahara pengeluaran, KPPN, Bank persepsi, Pos Persepsi. PNBP: Bendahara Penerimaan, Bendahara Pengeluaran, Wajib Bayar. Kecuali BLU yang pendapatannya dapat langsung digunakan untuk membiayai belanja BLU yang bersangkutan. Ini yang dimaksud dapat dilampaui. 4. Definisi, jenis subjek, objek/bukan objek sumber-sumber pendapatan negara: PPh (Pasal 21-22), PNBP Terutan, Cukai, PBB, BPHTB. PPh Pasal 21: Pajak Penghasilan sehubungan dg pekerjaan, jasa, dan kegiatan, yg dilakukan oleh WP orang pribadi Subyek Pajak Dalam Negeri, yg merupakan pajak atas penghasilan: gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dg nama & dalam bentuk apapun sehubungan dg pekerjaan atau jabatan, jasa, kegiatan yg dilakukan. Pasal 22, adalah pajak atas semua transaksi pengadaan barang dg nilai di atas Rp.1.000.000,- / transaksi.

saputririzki

(objek 21) Pegawai Penerima uang pesangon, pensiun, THT, termasuk ahli warisnya. Bukan pegawai, tetapi penerima penghasilan sehubungan dg pekerjaan, jasa, atau kegiatan yg dilakukan Peserta kegiatan yg menerima penghasilan/imbalan, a.l: PNBP: Penerimaan Negara Bukan Pajak Cukai: Pajak atas kenikmatan yang diperoleh, diberlakukan pada barang yang ingin dibatasi pemakaiannya PBB: Pajak Bumi Bangunan BPHTB: Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan 5. Tarif/Perhitungan PPh pasal 21 (final), PPh pasal 22, PPN, PTKP buruh harian. (PPh 21) Penghasilan yg diterima s.d. Rp.150.000,- sehari tidak dikenakan PPh Penghasilan bruto yg diterima tidak melebihi Rp.1,320.000,- sebulan utk pembayaran yg dibayarkan secara bulanan, tidak dikenakan PPh PTKP peg harian, mingguan, yg dibayar harian = Rp.150.000,-/hari PTKP peg, harian yg dibayar secara bulanan = Rp.1.320.000,- / bulan. Final: Golongan I dan II dikenakan pajak 0%, golongan III 5%, golongan IV 15%. Dipungut atas honor (tambahan selain gaji, berapapun jumlahnya). (PPh 22) =sebesar 1,5 % x DPP. DPP = Bruto-PPN Transaksi harus diatas 1 juta. (PPN) 10%. Misal harga 3.300.000, PPN= 100/110 x 3.300.000=300.000 DPP = 3.300.000-300.000=3.000.000 6. Ketentuan-ketentuan umum dalam UU No. 17 Tahun 2003: Keuangan Negara, Penerimaan negara, Pendapatan negara, belanja negara, APBN. Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Penerimaan negara adalah uang yang masuk ke kas negara. Pendapatan negara adalah hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih.

saputririzki

Belanja negara adalah kewajiban pemerintah pusat yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, selanjutnya disebut APBN, adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. 7. Lembaga/Badan Pemungut pajak. KPPN ( Kuasa BUN), terhadap setiap transaksi pembayaran yg dibayarkan melalui KPPN berkenaan ( dalam wilayah kerja yg ditetapkan) Bendahara Pengeluaran pada Satker, terhadap semua transaksi yg mengakibatkan pajak terutang, yg pembayarannya dilakukan secara tunai atas beban Uang Persediaan (UP) yg dikelola Bendahara Pengeluaran. Pemberi Kerja yg melakukan kegiatan, yg membayar gaji, upah, honorarium dalam bentuk apapun sbg imbalan pemberian pekerjaan. Penyelenggara kegiatan, termasuk badan pemerintah, organisasi, penyelenggara kegiatan, yg membayarkan honorarium, hadiah, atau penghargaan dlm bentuk apapun kpd WP. 8. Definisi DIPA. DIPA : dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh menteri/pimpinan lembaga serta disahkan oleh Dirjen Perbendaharaan atas nama MenKeu dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan serta dokumen pendukung kegiatan akuntansi pemerintahan 9. Pengelolaan keuangan satker (pejabat perbendaharaan) yang tercantum pada DIPA: KPA, Bendahara Pengeluaran, PPSM. Pejabat Kuasa Pengguna Anggaran Pembagian kewenangan delam pengelolaan keuangan Negara sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003, bahwa Presiden telah mendelegasikan kewenangan penggunaan anggaran kepada menteri/pimpinan lembaga untuk melaksanakan anggaran di lingkungan kementrian Negara/lembaga yang dipimpinnya. Pengguna Anggaran bertanggungjawab penuh atas pelaksanaan anggaran bagi kementrian Negara/lembaga termasuk satuan kerja/kantor yang berada dalam lingkungan kementrian Negara/lembaga bersangkutan. Untuk melaksanakan kewenangan sebagaimana tersebut di atas, Pengguna Anggaran mengangkat dan menetapkan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) untuk melaksanakan anggaran di lingkungan kantor/satuan kerja bersangkutan. KPA memiliki kewenangan menggunakan anggaran bagi kantor/satuan kerja yang dipimpinnya dan bertanggungjawab penuh atas pelaksanaan anggaran yang menjadi tanggungjawabnya. Oleh karena itu kewenangan

saputririzki

KPA adalah melakukan tindakan-tindakan yang dapt mengakibatkan pengeluaran belanja Negara. Bendahara Pengeluaran Bendahara Pengeluaran adalah pejabat fungsional, yang diangkat oleh menteri/pimpinan lembaga untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementrian Negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah. Tugas Bendahara Pengeluaran sebagaimana tersebut di atas adalah untuk menerima, menyimpan, membayarkan, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja Negara dalam rangka pelaksanaan APBN. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003, bahwa setiap orang yang diberi tugas menerima, menyimpan, membayar, dan/atau menyerahkan uang atau surat berharga atau barang-barang Negara adalah bendahara yang wajib menyampaikan laporan pertanggungjawabannya kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dan bendahara dimaksud bertanggungjawab secara pribadi atas kerugian keuangan Negara yang berada dalam pengurusannya. Pasal 21 Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004, menyatakan bahwa Bendahara Pengeluaran diberi kewenangan untuk mengelola Uang Persediaan (UP) yang diberikan kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran untuk kelancaran pelaksanaan tugas kementrian Negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah, dan Bendahara Pengeluaran melaksanakan pembayaran dari uang persediaan setinggitingginya sebesar Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah ), yang berada dalam pengelolanya, setelah : a. meneliti kelengkapan persyaratan administrative, dan/atau kelengkapan dokumen pendukung yang dipersyaratkan dalam perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran / Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA). b. menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran,dan kebenaran perhitungan yang menjadi dokumen pendukung permintaan pembayaran sesuai dengan sahnya suatu tagihan. c. menguji ketersediaan dana yang membebani anggaran/akun belanja bersangkutan. d. menandatangani kuitansi pembayaran sepanjang permintaan pembayaran/kuitansi/bukti-bukti tahihan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan ( setelah dilakukan pengujian dan dinyatakan setuju untuk dibayarkan atas beban Uang Persediaan). Dalam ayat berikutnya ditegaskan pula bahwa Bendahara Pengeluaran wajib menolak perintah bayar dari Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran apabila persyaratan sebagaimana ditentukan tersebut di atas tidak terpenuhi, dan Bendahara Pengeluaran bertanggungjawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya.

saputririzki

Pejabat Penerbit SPM; Pengguna Anggaran, sebagai pejabat yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan angggaran di kementrian Negara/lembaga yang dipimpinnya, berwenang menetapkan dan mengangkat pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan pengujian terhadap tagihan yang membebankan anggaran belanja, yang sekaligus menerbitkan surat perintah membayar atas beban anggaran dimaksud yang disampaikan ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). Pejabat Penguji Tagihan, Penerbit Surat Perintah Membayar, yang selanjutnya disebut PPSPM, diangkat dan ditetapkan untuk setiap kantor/satuan kerja, sehingga dalam setiap satuan kerja hanya terdapat seorang KPA, seorang PPSPM, dan seorang Bendahara Pengeluaran. Penetapan dan pengangkatan PPSPM telah dituangkan dalam Undang- Undang Nomor 1 tahun 2004 pasal 4 ayat (2) dan Perdirjen Perbendaharaan Nomor PER-66/PB/2005 Pasal 2 ayat (2b) sebagaimana tersebut diatas. PPSPM sangat bertanggungjawab atas pengeluaran belanja satuan kerja, karena PPSPM merupakan pejabat terakhir di lingkungan satuan kerja yang melakukan penelitian dan pengujian tagihan pihak ketiga ( yang berhak menerima pembayaran ). PPSPM dapat menolak dan/atau melanjutkan permintaan pembayaran pihak ketiga, sesuai dengan ketentuan yang dipersyaratkan. Permintaan pembayaran diteruskan dengan menerbitkan SPM sepanjang ketentuan yang persyaratkan telah terpenuhi. Akan tetapi PPSPM dapat menolak bahkan wajib menolak setiap permintaan pembayaran yang diajukan KPA apabila ketentuan yang dipersyaratkan tidak atau kurang terpenuhi menurut ketentuan yang dipersyaratkan. Dalam hal ini seorang PPSPM tidak boleh ragu dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya, sehingga dapat menimbulkan conflic of interest , mengingat yang mengajukan permintaan pembayaran adalah KPA/P2K yang secara structural adalah atasan langsungnya sendiri. 10. Sifat dan jenis PNBP. Sifat PNBP 1. PNBP yang bersifat Umum, artinya PNBP yang terdapat pada semua kantor/satuan kerja di lingkungan kementrian negara/lembaga. Contohnya : a. Penerimaan sewa - beli rumah dinas, b. Penerimaan penjualan aset, c. Penerimaan Jasa Giro. d. Penerimaan hasil penggandaan dokumen lelang e. Penerimaan denda keterlamabatan penyerahan barang/jasa kepada pemerintah f. dan sebagainya.

saputririzki

2. PNBP yang bersifat Fungsional, artinya PNBP yang hanya terdapat pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementrian negara/lembaga tertentu saja, yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi satuan kerja/kantor bersangkutan. Contohnya, antara lain: a. Penerimaan Ongkos Naik Haji (ONH) dan biaya Nikah, Talak dan Rujuk (NTR) hanya terdapat pada Departemen Agama. b. Penerimaan Kejaksaan, hanya terdapat pada Kejaksaan Negeri. c. Penerimaan Peradilan, hanya terdapat pada Departemen Hukum dan Perundang-undangan. d. Penerimaan Jasa pelabuhan dan kesyahbandaran , hanya terdapat pada Departemen Perhubungan. e. Penerimaan Jasa Tenaga Kerja, hanya terdapat pada Departemen Tenaga Kerja. f. Penerimaan Hasil Hutan, hanya terdapat pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan. g. dan penerimaan fungsional lainnya JENIS PNBP Kode Uraian Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
42 Penerimaan Negara Bukan Pajak 421 Penerimaan Sumber Daya Alam 4212 Pendapatan Gas Alam 4213 Pendapatan Pertambangan Umum 4214 Pendapatan Kehutanan 42141 Pendapatan Dana Reboisasi 42142 Pendapatan Provisi Sumber Daya Hutan 42143 Pendapatan IIUPH (IHPH) 4215 Pendapatan Perikanan 42151 Pendapatan Perikanan 4216 Pendapatan Pertambangan Panas Bumi 42161 Pendapatan Pertambangan panas Bumi 422 Pendapatan Bagian Laba BUMN 4221 Pendapatan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN 42211 Pendapatan Laba BUMN Perbankan 42212 Pendapatan Laba BUMN Non-Perbankan 423 Pendapatan PNBP Lainnya 4231 Pendapatan Penjualan dan Sewa 42311 Pendapatan Penjualan Hasil Produksi/Sitaan 42312 Pendapatan Penjualan Aset 42313 Pendapatan Penjualan dari Kegiatan Hulu Migas 42314 Pendapatan Sewa 4232 Pendapatan Jasa 42321 Pendapatan Jasa I 42322 Pendapatan Jasa II 42323 Pendapatan Jasa Dari Luar Negeri 42329 Pendapatan Jasa Lainnya 4233 Pendapatan Bunga 42331 Pendapatan Bunga 42332 Pendapatan Gain on Bond Redemption 42333 Pendapatan Premium atas Obligasi Negara 4234 Pendapatan Kejaksaan dan Peradilan 42341 Pendapatan Kejaksaan dan Peradilan 4235 Pendapatan Pendidikan 42351 Pendapatan Pendidikan 4236 Pendapatan Gratifikasi dan Uang Sitaan Hasil Korupsi 42361 Pendapatan Gratifikasi dan Uang Sitaan Hasil Korupsi 4237 Pendapatan Iuran dan Denda 42371 Pendapatan Iuran Badan Usaha 42372 Pendapatan Dana Pengamanan Hutan 42373 Pendapatan dari Perlindungan Hutan dan Konsevasi Alam 42374 Pendapatan Penerimaan Dana kompensasi Pelestarian SDA

saputririzki

Kelautan 42411 Pendapatan Penyediaan Barang dan Jasa 42375 Pendapatan Denda Kepada Masyarakat 4239 Pendapatan Lain-lain 42412 Pendapatan dari Pengelolaan Wilayah/Kawasan 42391 Pendapatan dari Penerimaan Kembali Tahun Tertentu Anggaran Yang Lalu 42413 Pengelolaan Dana Khusus untuk Masyarakat 42392 Pendapatan Pelunasan Piutang 4242 Pendapatan Hibah Badan Layanan Umum 42399 Pendapatan Lain-lain 42421 Pendapatan Hibah Terikat 424 Pendapatan BLU 42422 Pendapatan Hibah Tidak Terikat 4241 Pendapatan Jasa Layanan Umum 4243 Pendapatan Hasil Kerja Sama BLU 42431 Pendapatan Hasil Kerja Sama BLU

11. Wajib bayar, wajib pungut, institusi penatausahaan PNBP. 12. Prosedur penyetoran dan penatausahaan PNBP. Penyetoran PNBP adalah penyerahan PNBP terutang ke rekening Kas Negara melalui bank umum yang ditetapkan sebagai bank persepsi ataupun kantor pos persepsi, yang ditetapkan oleh menteri Keuangan. Penyetoran PNBP dapat dilakukan oleh : 1). Bendahara penerimaan 2). Bendahara pengeluaran 3). Wajib Bayar Penyetoran PNBP dapat dilakukan oleh para wajib setor ke rekening Kas Negara melalui Bank Persepsi yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan dengan menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP). Sebagaimana yang dilakukan atas penerimaan setoran pajak dari wajib pajak, setiap wajib setor akan menerima NTB, NTP atau NTPN dari bank persepsi/devisa persepsi. Kemudian Bank Persepsi melakukan penatausahaan penerimaan negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan menyampaikan laporan penerimaan negara setiap hari kepada KPPN selaku Kuasa Bendahara Umum Negara, sesuai dengan batas kewenangan yang diberikan Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN). Laporan tersebut dibuat dalam bentuk Laporan Harian Penerimaan (LHP) yang dilengkapi dengan dokumen pendukungnya berupa SSBP, atau SSPB, disertai arsip data komputer (ADK). Dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004 pasal 16 ayat (1), bahwa setiap kementrian Negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah yang mempunyai sumber pendapatan wajib mengintensifkan perolehan pendapatan yang menjadi wewenang dan tanggungjawabnya, ayat (2), bahwa penerimaan harus disetorkan seluruhnya ke Kas Negara/Daerah pada waktunya yang selanjutnya diatur dalam peraturan pemerintah, ayat (3), bahwa penerimaan kementrian Negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah tidak boleh digunakan langsung untuk membiayai pengeluaran, Dengan penjelasan tersebut diatas disimpulkan bahwa setiap penerimaan Negara yang merupakan pendapatan Negara harus segera disetorkan ke

saputririzki

rekening kas negara dan tidak boleh digunakan untuk keperluan apapun juga. Hal ini senada dengan bunyi yang tersirat dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 1997 tentang PNBP. Bendahara Penerimaan dilarang menerima langsung PNBP dari Wajib Setor , kecuali untuk penerimaan tertentu yang diatur secara khusus dan telah mendapat persetujuan Menteri Keuangan. Dalam hal Bendahara Penerimaan menerima langsung dari Wajib Setor, maka Bendahara Penerimaan wajib : 1). membuat dan menyampaikan Surat Bukti Setoran (SBS) lembar ke-1 kepada penyetor, dan lembar ke-2 sebagai bukti pembukuan bendahara; 2). menyetorkan seluruh penerimaannya ke Kas Negara selambat-lambatnya dalam waktu 1 (satu) hari kerja, kecuali untuk jenis penerimaan tertentu yang berdasarkan ketentuan perundang-undangan diatur secara berkala; 3). dalam hal penyetoran dilakukan secara berkala, Bendahara Penerimaan wajib menyimpan uang yang diterimanya dalam rekening atas nama jabatannya pada bank umum/kantor pos sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penatausahaan PNBP Semua PNBP baik yang bersifat umum atau fungsional harus ditatausahakan dengan baik dan benar. Penatausahaan PNBP dilakukan oleh : 1). Kantor/satuan kerja penerima PNBP yang dilaksanakan oleh Bendahara Penerimaan, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 114 a /KMK.03/1997 tentang Penatausahaan PNBP pada Instansi Pengguna dan Paraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor PER-02/PB/2007 tentang Penatausahaan Piutang PNBP, atau Bendahara Pengeluaran (jika tidak terdapat PNBP Fungsional ) ke dalam Buku Kas Umum dan bukubuku pembantu lainnya sebagaimana diatur menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 73/PMK.05/2008 tentang Tata Cara Penatausahaan dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara Kementrian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja dan Perdirjen Perbendaharaan Nomor PER-47/PB/2009. Kegiatan penatausahaan oleh Bendahara Penerimaan meliputi : a). Semua PNBP yang diterima kantor/satuan kerja wajib ditatausahakan oleh Bendahara Penerimaan, kecuali yang tidak memiliki PNBP fungsional dapat dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran. b). Data PNBP diperoleh dari potongan SPM, Nota Kredit/Nota Debet, kuitansi, karcs, SSBP/STS/SBS.. c). Penataushaan dilaksanakan dengan mencatatkan ke dalam Buku Kas Umum atau dokumen pencatatan lain yang dibutuhkan. d). Bendahara penerimaan menyusun laporan bulanan kepada Biro Keuangan kementrian Negara/lembaga yang bersangkutan dengan tembusan kepada Inspektorat

saputririzki

Jenderal/lembaga pengawas fungsional bersangkutan dan kanwil Ditjen Perbendaharaan setempat. e). Laporan memuat semua jumlah penerimaan dan penyetoran ke rekening Kas Negara melalui Bank Persepsi/Pos Persepsi. Tata Cara Penatausahaan oleh Bendahara Penerimaan dapat dilakukan dengan cara manual tulisan tangan ataupun dengan cara komputeris yang setiap bulan dilakukan back up data dan print out laporan bulanan. Hal serupa dilakukan juga oleh Bendahara Pengeluaran yang berkaitan dengan pelaksanaan belanja Negara. Ketentuan tersebut merupakan penggantian tata cara penatausahaan oleh bendahara penerimaan atau bendahara pengeluaran yang selama bertahuntahun digunakan secara manual berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 332/M/K/V/9/1968 tentang Buku Kas Umum dan Tata Cara Mengerjakannya, yang dengan lahirnya Perdirjen Nomor PER-47/PB/2009, dinyatakan tidak berlaku lagi. Bentuk buku yang digunakan pun lebih sederhana dalam bentuk cash balance atau stafel yang tidak memerlukan tutup buku pada setiap akhir bulan, kan tetapi cukup membuat Berita Acara Pemeriksaan Kas dan Rekonsiliasi.

13. Contoh-contoh kasus penerimaan/pendapatan negara. PPh pasal 21 (final) PPh pasal 22, PNBP. Contoh 1 Wajib Pungut : KPPN Diterima SPM-LS yg diterbitkan oleh KPA senilai Rp.13.200.000,- utk pengadaan ATK yg dibayarkan kpd Toko. Buana Perhitungan pungutan pajak: PPN = 10 % x DPP PPh psl 22 = 1,5 % x DPP Mencari DPP = 100/110 x Nilai bruto = 100/110 x Rp.13.200.000,= 10/11 x Rp.13.200.000,= 132.000.000/11 = Rp.12.000.000,PPN = 10 % x DPP = 10/100 x Rp.12.000.000 ,- =Rp.1.200.000,PPh 22 = 1,5 % x DPP = 15/1000 x Rp.12.000.000,- = Rp.180.000,Contoh 2 Wajib Pungut : Bendahara Pengeluaran Dibayarkan transaksi pengadaan ATK kpd Toko Seruni sebesar Rp.3.300.000,Perhitungan pungutan pajak : Dipungut PPN 10 % = 10/110 X Bruto = 1/11 x Rp.3.300.000,- = Rp.300.000,saputririzki

Dipungut PPh 22 = 1,5 % x (Bruto-PPN) = 15/1000 x Rp.3.000.000,- = Rp.45.000,Contoh 3 Wajib Pungut : Bendahara Pengeluaran Dibayarkan transaksi pekerjaan jasa untuk perbaikan 5 unit komputer senilai Rp. 750.000,Dipungut PPh 23 sebesar 2 % x bruto PPh 23 = 2/100 x Rp.750.000,- = Rp.15.000,(terhadap transaksi ini tidak dipungut PPN, krn transaksi tidak melampaui Rp.1.000.000,-) Contoh 4 Wajib Pungut : Bendahara Pengeluaran Dibayarkan transaksi perbaikan kendaraan dinas sebesar Rp.1.500.000,- dg rincian di dalam kuitansi pembayaran sbb : a. penggantian spart-spart = Rp.1.100.000,b. ongkos kerja (tukang) = Rp. 400.000,Pajak yg dipungut : PPn = 10/11 x Rp.1.100.000,- = Rp.100.000,PPh 22 = 1,5% x (Bruto-PPn) = 15/1000 x Rp.1000.000,- = Rp.15.000,PPh 23 = 2% x Ongkos kerja = 2/100 x Rp.400.000,- = Rp. 8.000,Contoh 5 Wajib Pungut : Bendahara Pengeluaran Dibayarkan honor KPA sebesar Rp.600.000,- PPK sebesar Rp.400.000,- dan Bendahara Pengeluaran sebesar Rp.300.000,Pajak yg dipungut : a. KPA dipungut PPh 21 sebesar 15 % x penghasilan bruto 15/100 x Rp.600.000,- = Rp.90.000,b. PPK dipungut PPh 21 sebesar 15/100 x Rp.400.000,- = Rp.60.000,c. Bend.pengeluaran dipungut PPh 21 sebesar 15/100 x Rp.300.000,- = Rp.45.000,Contoh 6 Pemungut Pajak : Pemberi Kerja (Outsoursing)

saputririzki

Transaksi pembayaran kepada Adang, seorang Cleaning Servise sebesar Rp.1.500.000, /bulan dan Oman sebesar Rp.1.200.000,-/bulan. Pungutan pajak : a. Dipungut PPh 21 = 5% x Penghasilan di atas PTKP = 5/100 x (Rp.1500.000,- - Rp.1.320.000,- ) = 5/100 x Rp.180.000,- = Rp.9.000,b. Tidak dipungut pajak krn penghasilan di bawah PTKP PTKP peg.harian yg dibayar bulanan : a. Rp.150.000,-/ hari b. Rp.1.320.000,-/bulan

saputririzki