Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN HASIL DISKUSI TUTORIAL BLOK 1.

6 MODUL 2 BUAH HATIKU

Kelompok 16 C Ketua: Syafrida Yulia Rosa Sekretaris: Eka Putri Anggota: Doppy Andhika Aufa Azri Dany Andini Achiar Mellyana Ningsih Putri AZ Anas Zakaria Navasilan A/L Karuppiah Winda Fatwinata Rifki YS (1010312047) (1010312075) (1010312103) (1010313021) (1010313056) (1010314016) (1010313122) (1010313094) (1010312019)

(1010312016)

Tutor:

Drs. Endrinaldi, MS

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2010

SKENARIO 2 BUAH HATIKU

Ny.Baby, 34 tahun, sangat bahagia dengan kelahiran anak pertamanya, laki-laki di rumah bidan tempat dia selalu kontrol kehamilan, bayi ini sangat ditunggu-tunggunya karena ia sudah 4 tahun menikah dan sudah 3 kali mengalami keguguran. Tetapi kebahagiannya terusik karena bidan mengatakan bahwa anaknya harus dirujuk ke rumah sakit karena berat badan lahirnya rendah 2100 gram, saat ini sesak nafas dan merintih. Ny.Baby berpikir kenapa ia susah sekali mendapatkan buah hati, sedangkan tetangganya yang saat ini dalam penjara hamil diluar nikah, dan pada saat lahir anaknya sehat dan langsung dicekik sehingga meninggal. Di rumah sakit dokter melakukan anamnesis pada bidan serta keluarga yang mengantar. Pada pemeriksaan fisik didapatkan sianosis, nafas cuping hidung, takipneu, dan hipotermia, selain itu juga ditemukan undesensus testis. Bayi ini dirawat di inkubator, diberi oksigen dan dipasang infus. Kemudian petugas rumah sakit berpesan supaya ASI-nya dapat dikirimkan. Ny.Baby memang berniat untuk memberikan ASI ekslusif pada bayinya supaya bayinya dapat mencapai tumbuh-kembang yang optimal. Ny.baby berjanji dia harus kuat supaya selama di rumah sakit dapat ikut merawat bayinya dan bisa memberikan ASI langsung, agar tidak menjadi kuning seperti bayi yang sama-sama dirawat atau mengalami kejang seperti bayi yang lain. Ny.Baby sering berkonsultasi dengan bidan dan dokter yang merawat bayinya, apa yang harus ia lakukan agar anaknya sembuh dan kalau pulang nanti apa yang harus ia kontrol. Bagaimana anda menjelaskan apa yang terjadi pada bayi Ny.Baby?

I.

TERMINOLOGI
a. Bidan : profesi yang teribat dalam mengurus masalah khamilan dan kelahiran. b. Sianosis : kebiruan pada kulitkarena jaringan kekurangan oksigen atau banyak hemoglobin tereduksi dan juga kerena kerusakan jantung. c. Nafas cuping hidung: nafas yang disertai kembang kempis cuping hidung sebagai upaya untuk mempermudah proses pernafasan. d. Takipneu : frekwensi nafas yan cepat (>60 x / menit). e. Hipotermia :suhu badan turunrendah. f. Undesensus testis: tidak terjadi penurunan testis ke skrotum. g. Incubator : tempat pemanasan anak yang suhunya dapat diatur dan menggunakan listrik. h. Kejang : reflex berlebihan dari tonus otot karena eksitasi yang berlebihan oleh saraf. i. ASI : Air Susu Ibu, berisi nutrisi yang sangat baik untuk bayi.

II.

IDENTIFIKASI MASALAH
1. Mengapa bisa terjadi keguguran? 2. Mangapa bayi Ny Baby mengalami BBLR, sesak nafas dan merintih? 3. Mengapa bayi Ny Baby mengalami sianosis, nafas cuping hidung, takipneu, hipotermia, dan undesensus testis? 4. Mengapa bayi Ny Baby harus diinkubator diberi oksigen dan infuse? 5. Apa tujuan pemberian ASI? 6. Bagaimana pengaruh ASI terhadap bayi yang kuning? 7. Bagaimana cara penanggulangan bayi hingga normal dan control apa saja yang diberikan pada bayi? 8. Bagaimana cirri bayi yang lahir normal?

III. ANALISIS MASALAH


1.

Banyak factor yang dapat menyebabkan kegugran. Bisa yang disebabkan dari ibu atau juga bisa disebabkan karena bayi itu sendiri. a. Adanya kelainan pada janin yang disebabkan kelainan kromosom, yang terjadi saat berlangsungnya proses pembuahan. Akibatnya, embrio yang terbentuk cacat dan dikeluarkan tubuh. b. Adanya kelainan pada ibu, seperti kelainan pada sisterm hormonal [bisa hormon prolaktin yang terlalu tinggi atau progesteron yang terlalu rendah], sistem kekebalan tubuh, infeksi menahun , dan penyakit berat yang diderita si ibu hamil. c. Adanya kelainan pada rahim. Kelainan yang paling umum terjadi adalah adanya miom [tumor jaringan otot] yang dapat mengganggu pertumbuhan embrio. kelainan lain yaitu rahim terlalu lemah sehingga tidak mampu menahan berat janin yang sedang berkembang. Kehamilan dalam rahim yang terlalu lemah biasanya hanya mampu bertahan hingga akhir trimester pertama. d. Penyebab lain adalah infeksi, seperti terkena virus TORCH, HIV, Hepatitis, dll. e. Keguguran juga dapat diakibatkan oleh gaya hidup. Wanita yang cenderung merokok, mengkonsumsi minuman keras, obesitas atau berat badan kurang dapat memiliki gangguan hormon yang berakibat gangguan kehamilan. Berat Bayi Lahir Rendah Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR (1) Faktor ibu

2.

a. Penyakit Seperti malaria, anaemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain b. Komplikasi pada kehamilan. Komplikasi yang tejadi pada kehamilan ibu seperti perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan kelahiran preterm. c. Usia Ibu dan paritas Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia <20, dan >30 d. Faktor kebiasaan ibu Faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu perokok, ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika. (2) Faktor Janin Prematur, hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan kromosom. (3) Faktor Lingkungan Yang dapat berpengaruh antara lain; tempat tinggal di daratan tinggi, radiasi, sosio-ekonomi dan paparan zat-zat racun Sesak nafas dan merintih disebabkan kerena jaringan yang kekurangan oksigen karena bayi mengalami asfiksia ataupun hipoksia.
3.

- Sianosis kebiru pada kuli yang disebabkan kaena jaringan yang kekurngan atau tidak mendapatkan oksigen. Biasanya diikuti dengan takipneu sebagai kompensasi, tapi bila sianosis tidak diikuti takipneu, diinduksi mengalami kelainan pada jantug. -hipotermia terjadi pada bayi karena berat perandiangan berat bayi lebih kecil dari luas permukaan, sehingga panas bayi mudah mengalami evaporasi, radiasi, konveksi ataupun konduksi. Hipotermia juga disebabkan karena osmoreseptor atau pusat pengaturan suhu dihipotalamus yang belum berkambang sempurna. -Takipneu terjadi cepat nafas sebagai kompensasi tubuh untuk menambah suplai oksigen ke jaringan dan juga untuk menormalkan sianosis, asidosis dan juga hipotermia -Nafas cuping hidung membantu pernafasan yang maksimal Bayi harus di incubator agar bayi yang hipotermiai dapat menormaka suhu nya kembali dengan pengaturan suhu yang baik untuk bayi. Pemberian oksigen diberikan karena bayi tidak dapat menyuplai oksigen yang cukup, sehingga membutuhkan bantuan oksigen tambahan. Infu juga digunakan untuk memerikan nutrisi ataupu elektrolit pada bayi yang mengalai kelainan.

4.

5.

ASI sebagai makanan bayi mempunyai kebaikan/sifat sebagai berikut: a. ASI merupakan makanan alamiah yang baik untuk bayi, praktis, ekonomis,mudah dicerna untuk memiliki komposisi, zat gizi yang ideal sesuai dengankebutuhan dan kemampuan pencernaan bayi. b. ASI mengadung laktosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu buatan. Didalam usus laktosa akan dipermentasi menjadi asam laktatc. ASI mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 5-6 bulan pertama, seperti: Immunoglobin, Lysozyme, Complemen C3 dan C4, Antistapiloccocus, lactobacillus, Bifidus, Lactoferrin. d. ASI tidak mengandung beta-lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada bayi. e. Proses pemberian ASI dapat menjalin hubungan psikologis antara ibu dan bayi. Hubungan yang lebih erat karena secara alamiah terjadi kontak kulit yang erat, bagi perkembangan psikis dan emosional antara ibu dan anak. f. Dengan menyusui bagi rahim ibu akan berkontraksi yang dapat menyebabkan pengembalian keukuran sebelum hamil

6.

Ikhterus pada bayi biasa terjadi dan termasuk fisiologis apa bila terjadi > 24 jam. Dengan pemberina SAI dapat menggurangi kadar bilirubin indirek dalam tubuh bayi dangan meningkatkan enzim glukoronil transferase.

7.

Cara menanggulangi bayi agar kembali normal yaitu dengan cara menghilangkan segala penyulit atau penyakit yang dapat membahayakan nyawanya, seperti jalan nafas, denyut jantung. Apa bila terjada halangan, maka beikan bantuan, seperti memberikan oksigen. Tempatkan bayi di tempat yang terbaik untuk kondisinya, seperti incubator. Lalu control setiap perkembangan bayi, seperti fisik, pencernaan, pernafasan, jantung dengan berkala. Cirri bayi normal: a. Berat badan 2500-4000gr. b. Panjang badan48-52 cm c. Lingkar dada 40-48 cm d. Lingkar kepala32-35 cm e. Nadi 120-180 kali/ menit f. Nafas 60 kali/ menit g. Kulit kemerahan

8.

IV. SISTEMATIKA

Kehamilan

Neonates

Abortus

Kelainan

Normal

BBLR

Hipotermia

Hipoglikemia

Ikhterus

Sianosis

Takipneu

Perawatan

Control

ASI

Tabung O2

Incubator

Infuse

V.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Mahasiswa mampu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Menjelaskan mengenai pemerksaan pada neonates Menjelaskan tentang ASI dan management laktasi Menjelaskan mengenai BBLR Menelaskan tentang kelainan-kelainan pada neonates. Menjelaska tenang infeksi pada neonates Menjelaskan tentang tumbuh kembang neonates Menjelaskan tentang infanticide

VI. MENGUMPULKAN INFORMASI VII. ANALISIS TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Pemeriksaan Neonatus
Memeriksa Kepala dan Muka sangat penting karena menjadi perhatian utama : Tanda trauma kaput sesudaneum, moulding, laserasi, sefal hematom Adakah tanda parese syaraf ke 7 Telinga adakah low set ear Mulut adakah gigi, gusi, ukuran dan besar lidah palatum apakah normal Mata Sembab kelopak mata sering didapat, mata sulit dibuka Adakah tanda perdarahan konjungtiva, ukuran bola mata Adakah sekret mata, kemungkinan saluran nasolakrimalis belum terbuka sempurna Bila sekret berlebihan ingat infeksi gonokokus Sistem Pernafasan Pemeriksaan terbaik adalah melakukan observasi y Frekwensi nafas (normal 30-50 kali/menit), iramanya, tipe nafas utama pada bayi baru lahir abdominal y y y y y y Obsrvasi warna kulit sekitar mulut dan mukosa Tanda tanda adanya gangguan nafas: Frekwensi nafas cepat 60 per menit Tampak sianosis Perhatikan bentuk dada Bernafas mempergunakan otot otot dada (retraksi interkostal, dada)

Pemeriksaan Kardiovaskuler Pemeriksaan kardiovaskuler juga harus diperhatikan bentuk dada, apek (lokasi di ICS ke 4 & ke 5) 2. Palpasi pulsasi arteri brakhialis dan femoralis 3. Memeriksa suara jantung S1,S2, kadang terdengar S3 4. Frekwensi jantung biasanya 100 140/ menit (normal) 5. Adakah murmur, biasanya dilakukan pemeriksaan di sepanjang batas sternal kiri. Dianjurkan pemeriksaan diulang setelah penderita berumur 3 6 minggu

Abdomen Observasi bentuk abdomen apakah distended. Pernafasan abdominal adalah normal Perhatikan umbilikus, apakah ada tanda inflamasi, bau Yakinkan ibu bahwa umbilikus akan lepas (hari ke 4 5) Meraba Hepar Meraba Lien Meraba Ginjal Meraba Buli Buli

Genitalia Wanita Labia warna kemerahan. Pada preterm labia mayor tidak menutup labia minor Perdarahan vagina dapat terjadi (newborn period) Memar dapat terjadi pada persalinan letak bokong Laki laki Apakah bentuk dan ukuran penis normal Adakah hipospadia dan epispadi Apakah testis teraba, bila tidak teraba biasanya di inguinal Adakah hidrocele, pemeriksaan dengan transiluminasi

Ventral Suspensi Bayi dipegang dengan kedua tangan dan ditengkurapkan Respon bayi : punggung ekstensi, lengan, kaki fleksi dan kepala akan terangkat Bayi posisi terlentang biasanya panggul fleksi dan sedikit Abduksi. Bila abduksi total berarti terdapat hipotoni otot Pemeriksaan harus diulang 24 jam kemudian

Reflek primitif Tanda kardinal Merangsang pipi dan kulit sekitar mulut, maka akan respon mulut bayi terbuka dan kepala menoleh kearah lateral

Grasp dan traction response (reflek menggegam) Tangan bayi diberi jari tangan atau pensil, maka jari akan menggegam dan bahu akan terangkat lebih kurang 2- 3 cm

Moro reflek Bayi diletakkan terlentang dengan satu tangan menahan badan bayi, tangan lain menyangga kepala. Bila kepala bayi diturunkan beberapa cm, lengan atas abduksi,ekstensi dan fleksi bergantian bila bergerak.

APGAR SCORE Merupakan alat untuk mengkaji kondisi bayi sesaat setelah lahir meliputi 5 variabel (pernafasan, frek. Jantung, warna, tonus otot & iritabilitas reflek) Ditemukan oleh Dr. Virginia Apgar (1950)

Dilakukan pada :

1 menit kelahiran yaitu untuk memberi kesempatan pd bayi untuk memulai perubahan Menit ke-5 Menit ke-10 penilaian dapat dilakukan lebih sering jika ada nilai yg rendah & perlu tindakan resusitasi. Penilaian menit ke-10 memberikan indikasi morbiditas pada masa mendatang, nilai yg rendah berhubungan dg kondisi neurologis SKOR APGAR TANDA Appearance 0 Biru,pucat 1 Badan pucat,tungkai biru Pulse Grimace Activity Tidak teraba Tidak ada Lemas/lumpuh < 100 Lambat Gerakan sedikit/fleksi tungkai Respiratory Tidak ada Lambat, tidak teratur > 100 Menangis kuat Aktif/fleksi baik/reaksi melawan Baik, menangis kuat tungkai 2 Semuanya muda merah

Preosedur penilaian APGAR Pastikan pencahayaan baik Catat waktu kelahiran, nilai APGAR pada 1 menit pertama dg cepat & simultan. Jumlahkan hasilnya Lakukan tindakan dg cepat & tepat sesuai dg hasilnya Ulangi pada menit kelima Ulangi pada menit kesepuluh Dokumentasikan hasil & lakukan tindakan yg sesuai

Penilaian Setiap variabel dinilai : 0, 1 dan 2 Nilai tertinggi adalah 10 Nilai 7-10 menunjukkan bahwa by dlm keadaan baik Nilai 4 - 6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang & membutuhkan tindakan resusitasi Nilai 0 3 menunjukkan bayi mengalami depresi serius & membutuhkan resusitasi

segera sampai ventilasi 2. ASI dan Manajemen Laktasi


ASI (Air Susu Ibu) merupakan cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara wanita melalui proses laktasi. ASI terdiri dari berbagai komponen gizi dan non gizi. Komposisi ASI tidak sama selama periode menyusui, pada akhir menyusui kadar lemak 4-5 kali dan kadar protein 1,5 kali lebih tinggi daripada awal menyusui. Juga terjadi variasi dari hari ke hari selama periode laktasi. Keberhasilan laktasi dipengaruhi oleh kondisi sebelum dan saat kehamilan. Kondisi sebelum kehamilan ditentukan oleh perkembangan payudara saat lahir dan saat pubertas. Pada saat kehamilan yaitu trimester II payudara mengalami pembesaran karena pertumbuhan dan difrensiasi dari lobuloalveolar dan sel epitel payudara. Pada saat pembesaran payudara ini hormon prolaktin dan laktogen placenta aktif bekerja yang berperan dalam produksi ASI Sekresi ASI diatur oleh hormon prolaktin dan oksitosin. Prolaktin menghasilkan ASI dalam alveolar dan bekerjanya prolaktin ini dipengaruhi oleh lama dan frekuensi pengisapan ( suckling). Hormon oksitosin disekresi oleh kelenjar pituitary sebagai respon adanya suckling yang akan menstimulasi sel-sel mioepitel untuk mengeluarkan ( ejection) ASI. Hal ini dikenal dengan milk ejection reflex atau let down reflex yaitu mengalirnya ASI dari simpanan alveoli ke lacteal sinuses sehingga dapat dihisap bayi melalui puting susu. Terdapat tiga bentuk ASI dengan karakteristik dan komposisi berbeda yaitu kolostrum, ASI transisi, dan ASI matang (mature). Kolostrum adalah cairan yang dihasilkan oleh kelenjar payudara setelah melahirkan (4-7 hari) yang berbeda karakteristik fisik dan komposisinya dengan ASI matang dengan volume 150 300 ml/hari. ASI transisi adalah ASI yang dihasilkan setelah kolostrum (8-20 hari) dimana kadar lemak dan laktosa lebih tinggi dan kadar protein, mineral lebih rendah. ASI matang adalah ASI yang dihasilkan 21 hari setelah melahirkan dengan volume bervariasi yaitu 300 850 ml/hari tergantung pada besarnya stimulasi saat laktasi. Volume ASI pada tahun pertama adalah 400 700 ml/24 jam, tahun kedua 200 400 ml/24 jam, dan sesudahnya 200 ml/24 jam. Dinegara industri rata-rata volume ASI pada bayi dibawah usia 6 bulan adalah 750 gr/hari dengan kisaran 450 1200 gr/hari (ACC/SCN, 1991). Pada studi Nasution.A (2003) volume ASI bayi usia 4 bulan adalah 500 800 gr/hari, bayi usia 5 bulan adalah 400 600 gr/hari, dan bayi usia 6 bulan adalah 350 500 gr/hari.

Produksi ASI dapat meningkat atau menurun tergantung pada stimulasi pada kelenjar payudara terutama pada minggu pertama laktasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI antara lain : 1. Frekuensi Penyusuan Untuk bayi premature Produksi ASI akan optimal dengan pemompaan ASI lebih dari 5 kali per hari selama bulan pertama setelah melahirkan. Pemompaan dilakukan karena bayi prematur belum dapat menyusu. Frekuensi penyusuan 10 3 kali perhari selama 2 minggu pertama setelah melahirkan berhubungan dengan produksi ASI yang cukup Frekuensi penyusuan ini berkaitan dengan kemampuan stimulasi hormon dalam kelenjar payudara. 2. Berat Lahir Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah dibanding bayi yang berat lahir normal (> 2500 gr). Kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah ini meliputi frekuensi dan lama penyusuan yang lebih rendah dibanding bayi berat lahir normal yang akan mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI. 3. Umur Kehamilan saat Melahirkan Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi intik ASI. Hal ini disebabkan bayi yang lahir prematur (umur kehamilan kurang dari 34 minggu) sangat lemah dan tidak mampu mengisap secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah daripada bayi yang lahir tidak prematur. Lemahnya kemampuan mengisap pada bayi prematur dapat disebabkan berat badan yang rendah dan belum sempurnanya fungsi organ. 4. Umur dan Paritas Umur dan paritas tidak berhubungan atau kecil hubungannya dengan produksi ASI yang diukur sebagai intik bayi terhadap ASI ibu menyusui usia remaja dengan gizi baik, intik ASI mencukupi berdasarkan pengukuran pertumbuhan 22 bayi dari 25 bayi. Pada ibu yang melahirkan lebih dari satu kali, produksi ASI pada hari keempat setelah melahirkan lebih tinggi dibanding ibu yang melahirkan pertama kali 5. Stres dan Penyakit Akut Ibu yang cemas dan stres dapat mengganggu laktasi sehingga mempengaruhi produksi ASI karena menghambat pengeluaran ASI. Pengeluaran ASI akan berlangsung baik pada ibu yang merasa rileks dan nyaman. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengkaji dampak dari berbagai tipe stres ibu khususnya kecemasan dan tekanan darah terhadap produksi ASI. Penyakit infeksi baik yang kronik maupun akut yang mengganggu proses laktasi dapat mempengaruhi produksi ASI. 6. Konsumsi Rokok

Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan mengganggu hormon prolaktin dan oksitosin untuk produksi ASI. Merokok akan menstimulasi pelepasan adrenalin dimana adrenalin akan menghambat pelepasan oksitosin. Ibu yang merokok lebih dari 15 batang rokok/hari mempunyai prolaktin 30-50% lebih rendah pada hari pertama dan hari ke 21 setelah melahirkan dibanding dengan yang tidak merokok. 7. Konsumsi Alkohol Meskipun minuman alkohol dosis rendah disatu sisi dapat membuat ibu merasa lebih rileks sehingga membantu proses pengeluaran ASI namun disisi lain etanol dapat menghambat produksi oksitosin. Kontraksi rahim saat penyusuan merupakan indikator produksi oksitosin. Pada dosis etanol 0,5-0,8 gr/kg berat badan ibu mengakibatkan kontraksi rahim hanya 62% dari normal, dan dosis 0,9-1,1 gr/kg mengakibatkan kontraksi rahim 32% dari normal 8. Pil Kontrasepsi Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi estrogen dan progestin berkaitan dengan penurunan volume dan durasi ASI, sebaliknya bila pil hanya mengandung progestin maka tidak ada dampak terhadap volume ASI . Aspek gizi ibu yang dapat berdampak terhadap komposisi ASI adalah intik pangan aktual, cadangan gizi, dan gangguan dalam penggunaan zat gizi. Perubahan status gizi ibu yang mengubah komposisi ASI dapat berdampak positif, netral, atau negatif terhadap bayi yang disusui. Bila asupan gizi ibu berkurang tetapi kadar zat gizi dalam ASI dan volume ASI tidak berubah maka zat gizi untuk sintesis ASI diambil dari cadangan ibu atau jaringan ibu. Komposisi ASI tidak konstan dan beberapa faktor fisiologi dan faktor non fisiologi berperan secara langsung dan tidak langsung. Faktor fisiologi meliputi umur penyusuan, waktu penyusuan, status gizi ibu, penyakit akut, dan pil kontrasepsi. Faktor non fisiologi meliputi aspek lingkungan, konsumsi rokok dan alkohol Manajemen laktasi merupakan segala daya upaya yang dilakukan untuk membantu ibu mencapai keberhasilan dalam menyusui bayinya. Usaha ini dilakukan terhadap ibu dalam 3 tahap,yakni pada masa kehamilan (antenatal), sewaktu ibu dalam persalinan sampai keluar rumah sakit (perinatal), dan pada masa menyusui selanjutnya sampai anak berumur 2 tahun (postnatal). Bagaimana mengelola ketiga periode penting ini dengan baik? Berikut langkah-langkah yang dikemukakan Spesialis Kebidanan Dr Harini Susiana SpOG: Periode Antenatal: 1. Meyakinkan diri sendiri akan keberhasilan menyusui dan bahwa ASI adalah amanah Ilahi. 2. Makan dengan teratur, penuh gizi dan seimbang. 3. Mengikuti bimbingan persiapan menyusui yang terdapat di setiap klinik laktasi di rumah sakit. 4. Melaksanakan pemeriksaan kehamilan secara teratur. 5. Menjaga kebersihan diri, kesehatan, dan cukup istirahat. 6. Mengikuti senam hamil.

Periode Perinatal: 1. Bersihkan puting susu sebelum anak lahir. 2. Susuilah bayi sesegera mungkin, jangan lebih dari 30 menit pertama setelah lahir (inisiasi dini). 3. Lakukan rawat gabung, yakni bayi selalu di samping ibu selama 24 jam penuh setiap hari. 4. Jangan berikan makanan atau minuman selain ASI. 5. Bila dalam 2 hari pertama ASI belum keluar, berikan bayi air putih masak dengan menggunakan sendok. 6. Jangan memberikan dot maupun kempengan karena bayi akan susah menyusui, di samping mengganggu pertumbuhan gigi. 7. Susuilah bayi kapan saja dia membutuhkan, jangan dijadwal. Susuilah juga bila payudara ibu terasa penuh. Ingatlah bahwa makin sering menyusui, makin lancar produksi dan pengeluaran ASI. 8. Setiap kali menyusui,gunakanlah kedua payudara secara bergantian. Yakinkan bahwa payudara telah kosong atau bayi tidak lagi mau mengisap. 9. Mintalah petunjuk kepada petugas rawat gabung, bagaimana cara menyusui yang baik dan benar. Periode Postnatal: 1. Berikan ASI saja sampai bayi berumur 6 bulan atau penyusuan eksklusif dan teruskan pemberian ASI sampai bayi berumur 2 tahun. 2. Berikan makanan pendamping ASI saat bayi mulai berumur 6 bulan.

3. Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa
memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosioekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR (3). (1) Faktor ibu a. Penyakit Seperti malaria, anaemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain

b. Komplikasi pada kehamilan. Komplikasi yang tejadi pada kehamilan ibu seperti perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan kelahiran preterm. c. Usia Ibu dan paritas Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia <> d. Faktor kebiasaan ibu Faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu perokok, ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika. (2) Faktor Janin Prematur, hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan kromosom. (3) Faktor Lingkungan Yang dapat berpengaruh antara lain; tempat tinggal di daratan tinggi, radiasi, sosio-ekonomi dan paparan zat-zat racun . Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara lain : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Hipotermia Hipoglikemia Gangguan cairan dan elektrolit Hiperbilirubinemia Sindroma gawat nafas Paten duktus arteriosus Infeksi Perdarahan intraventrikuler Apnea of Prematurity Anemia Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi-bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) antara lain a) Gangguan perkembangan

b) c) d) e) f) g)

Gangguan pertumbuhan Gangguan penglihatan (Retinopati) Gangguan pendengaran Penyakit paru kronis Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit Kenaikan frekuensi kelainan bawaan

4. Kelainan pada neonates a. Hiperbilirubin


Hiperbilirubinemia adalah peningkatan kadar plasma bilirubin 2 standar deviasi atau lebih dari kadar yang diharapkan berdasarkan umur bayi atau lebih dari persentil 90. Sedangkan ikterus neonatorum adalah keadaan klinis pada bayi yang ditandai oleh pewarnaan ikterus pada kulit dan sklera akibat akumulasi bilirubin tak terkonjugasi yang berlebih. Ikterus secara klinis akan mulai tampak pada bayi baru lahir bila kadar bilirubin darah 5-7 mg/dl. Kadar bilirubin tak terkonjugasi bayi baru lahir (BBL) pada minggu pertama >2mg/dL. Pada bayi cukup bulan yang mendapat susu formula, kadar bilirubin akan mencapai puncaknya sekitar 6-8 mg/dL pada hari ke-3 kehidupan dan kemudian akan menurun cepat selama 2-3 hari diikuti dengan penurunan yang lambat sebesar 1 mg/dL selama 1 sampai 2 minggu. Sedangkan pada BBL yang mendapat ASI, kadar bilirubin puncak akan mencapai kadar lebih tinggi (7-14 mg/dL) dan penurunan terjadi lebih lambat. Pada bayi kurang bulan yang mendapat susu formula juga akan mengalami peningkatan dengan puncak lebih tinggi dan lebih lama, demikian juga penurunannya jika tidak diberikan fototerapi. Peningkatan sampai 10-12 mg/dL masih dalam kisaran fisiologis, bahkan sampai 15 mg/dL tanpa disertai kelainan metabolisme bilirubin. Ikterus non fisiologis merujuk kepada keadaan sebagai berikut ; 1. 2. 3. 4. Ikterus terjadi sebelum umur 24 jam Setiap peningkatan kadar bilirubin serum yang memerlukan fototerapi Peningkatan kadar bilirubin serum > 0,5 mg/dL/jam Adanya tanda-tanda penyakit yang mendasari (muntah, letargis, malas menetek, penurunan BB yang cepat, apnea, takipnea, atau suhu yang tidak stabil) 5. Ikterus bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan atau setelah 14 hari pada bayi kurang bulan

Bilirubin adalah pigmen kristal berwarna jingga ikterus yang merupakan bentuk akhir dari pemecahan katabolisme heme melalui proses oksidasi-reduksi. Langkah oksidasi yang pertama adalah biliverdin yang dibentuk dari heme dengan bantuan enzim heme oksigenase yaitu suatu enzim yang sebagian besar terdapat dalam sel hati dan organ lain. Pada reaksi tersebut, terbentuk besi yang digunakan kembali untuk pembentukan hemoglobin. Biliverdin kemudian akan direduksi menjadi bilirubin oleh enzim biliverdin reduktase. Biliverdin bersifat larut dalam air dan secara cepat akan diubah menjadi bilirubin melalui reaksi bilirubin reduktase. Berbeda dengan biliverdin, bilirubin bersifat lipofilik dan terikat dengan hidrogen serta pada pH normal bersifat larut. Pada bayi baru lahir, sekitar 75% produksi bilirubin berasal dari katabolisme heme hemeglobin dari eritrosit. Satu gram hemoglobin akan menghasilkan 34 mg bilirubin dan sisanya (25%) disebut early labelled didalam sumsum tulang, jaringan yang mengandung protein heme (mioglobin, sitokrom, katalase, peroksidase), dan heme bebas. Bayi baru lahir akan memproduksi bilirubin 8-10 mgg/kgBB/hari, sedangkan otang dewasa sekitar 3-4 mg/kgBB/hari. Peningkatan produksi bilirubin pada BBL disebabkan masa hidup eritrosit lebih pendek (70-90 hari) dibandingkan dengan orang dewasa (120 hari), peningkatan degenerasi heme, turn over sitokrom yang meningkat dan juga reabsorbsi bilirubin dari usus yang meningkat. Pembentukan bilirubin yang terjadi di RES, selanjutnya dilepaskan ke sirkulasi akan berikatan dengan albumin. Bayi baru lahir mempunyai kapasitas ikatan plasma yang rendah terhadap bilirubin karena konsentrasi albumin yang rendah dan kapasitas ikatan molar yang kurang. Bilirubin yang terikat pada albumin serum ini merupakan zat polar dan tidak larut dalam air dan kemudian akan ditransportasi ke sel hepar. Bilirubin yang terikat dengan albumin tidak dapat memasuki susunan saraf pusat dan bersifat non toksik. Pada bayi kecil bulan, ikatan bilirubin akan lebih lemah yang umumnya merupakan komplikasi dari hipoalbumin, hipoksia, hipoglikemia, asidosis, hipotermia, hemolisis, dan septikemia. Hal tersebut tentunya akan mengakibatkan peningkatan jumlah bilirubin bebas dan beresiko terjadinya neurotoksisitas. Bilirubin tak terkonjugasi dikonversikan ke bentuk bilirubin konjugasi yang larut dalam air di retikulum endolaplasma dengan bantuan enzim uridine diphosphate glucoronosyl transferase (UDPGT). Katalisa oleh enzim ini akan merubah formasi menjadi bilirubin monoglukoronida yang selanjutnya akan dikonjugasi menjadi bilirubin diglukoronida. Bilirubin kemudian diekskresikan ke dalam kanalikulus empedu. Pada bayi baru lahir didapatkan defisiensi aktifitas enzim, tetapi setelah 24 jam kehidupan, aktifitas enzim ini meningkat melebihi bilirubin yang masuk ke hati sehingga konsentrasi bilirubin serum akan menurun. Setelah mengalami proses konjugasi, bilirubin akan diekskresikan kedalam kandung empedu, kemudian memasuki saluran cerna dan diekskresikan melalui feses. Setelah berada di usus halus, bilirubin yang terkonjugasi tidak dapat langsung diresorbsi, kecuali jika dikonversikan kembali menjadi bentuk tidak terkonjugasi oleh enzim beta-glukoronidase yang terdapat dalam usus. Resorbsi kembali bilirubin dari saluran cerna dan kembali ke hati untuk dikonjugasi kembali disebut sirkulasi enterohepatik.

Mukosa usus halus dan feses bayi baru lahir mengandung enzim -glukoronidase yang dapat menghidrolisis menjadi bilirubin yang tak terkonjugasi yang selanjutnya dapat diabsorbsi kembali. Selain itu pada bayi baru lahir, lumen usus halusnya steril sehingga bilirubin konjugasi tidak dapat dirubah menjadi sterkobilin. Bayi baru lahir mempunyai konsentrasi bilirubin tak terkonjugasi yang relatif tinggi didalam usus yang berasal dari produksi bilirubin yang meningkat, hidrolisis bilirubin glukoronida yang berlebih dan konsetrasi bilirubin yang tinggi ditemukan didalam mekonium. BBL relatif kekurangan flora bakteri untuk mengurangi bilirubin menjadi urobilinogen yang akan meningkatkan pool bilirubin usus. Peningkatan hidrolisis bilirubin konjugasi pada bayi baru lahir diperkuat oleh aktifitas -glukoronidase mukosa yang tinggi dan ekskresi monoglukorinida terkonjugasi. Pada ikterus fisiologis, peningkatan kadar bilirubin tak terkonjugasi dalam sirkulasi disebabkan oleh kombinasi peningkatan ketersediaan bilirubin dan penurunan clearance bilirubin. Peningkatan ketersediaan bilirubin merupakan hasil dari produksi bilirubin dan early bilirubin yang lebih besar serta penurunan usia sel darah merah. Resirkulasi aktif bilirubin di enterohepatik, yang meningkatkan kadar bilirubin serum, disebabkan oleh penurunan bakteri flora normal, aktifitas -glukoronidase yang tinggi dan penurunan motilitas usus halus.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan ikterus fisiologis

Dasar Peningkatan bilirubin yang tersedia y Peningkatan produksi bilirubin

Penyebab

Peningkatan sel darah merah Penurunan umur sel darah merah Peningkatan early bilirubin y Peningkatan resirkulasi melalui Peningkatan aktifitas -glukoronidase Kurangnya adanya flora bakteri enterohepatik shunt Pengeluaran mekonium yang terlambat Penurunan bilirubin clearance y Penurunan clearance dari Defisiensi protein karier plasma y Penurunan metabolisme hepatik Penurunan aktifitas UDPGT
Pada bayi yang mendapat ASI terdapat dua bentuk neonatal jaundice yaitu early dan late. Bentuk early onset diyakini berhubungan dengan proses pemberian minum, sedangkan bentuk late onset berhubungan dengan kandungan ASI yang mempengaruhi proses konjugasi dan ekskresi. Pengaruh late onset berhubungan dengan adanya faktor spesifik dari ASI yaitu 2 -20 -pregnandiol yang mempengaruhi aktifitas UDPGT atau pelepasan bilirubin konjugasi dari hepatosit; peningkatan aktifitas lipoprotein lipase yang kemudian melepaskan asam lemak bebas ke dalam usus halus; penghambatan konjuhagi akibat peningkatan asam lemak unsaturated, atau -glukoronidase atau adanya faktor lain yang meningkatkan jalur enterohepatik. Faktor etiologi yag berhubungan dengan hiperbilirubinemia pada bayi yang mendapat ASI; a. Asupan cairan y Kelaparan y Frekuensi menyusui y Kehilangan berat badan/dehidrasi b. Hambatan ekskresi bilirubin hepatik y Pregnandiol y Lipase-free fatty acid y Unidentified inhibitor c. Intestinal reabsorbtion of bilirubin y Pasase mekonium terlambat y Pembentukan urobilinoid bakteri y Beta-glukoronidase y Hidrolisis alkaline y Asam empedu Penyebab neonatal hiperbilirubinemia indirek

Dasar Peningkatan produksi bilirubin

Penyebab Incompabilitas darah fetomaternal (Rh,

ABO) Peningkatan penghancuran hemoglobin y Defisiensi enzim kongenital (G6PD, galaktosemia) y Sepsis Peningkatan jumlah hemoglobin y Polisitemia (twin-to-twin transfusion, SGA) y Keterlambatan klem tali pusat Peningkatan sirkulasi enterohepatik y Keterlambatan pasase mekonium, ileus mekonium, meconium plug syndrome y Puasa atau keterlambatan minum y Atresia atau stenosis intestinal Perubahan clearance bilirubin hati Imaturitas Perubahan produksi atau aktifitas y Gangguan metabolik/endokrine uridine diphosphoglucoronyl transferase Perubahan fungsi dan perfusi hati y Asfiksia, hipoksia, hipotermi, hipoglikemi y Sepsis y Obat-obatan dan hormon Obstruksi hepatik y Anomali kongenital (atresia biliaris, fibrosis kistik) y Statis biliaris (hepatits, sepsis) y Bilirubin load berlebihan

b. Hipotermia
Klasifikasi hipotermia :  Sedang (32-36,4C) Ggn nafas, HR < 100 Letargi, malas minum  Berat < 32C Kulit keras Nafas pelan & dalam  Suhu tidak stabil (36-39C) Sepsis Carapencegahan: a. Ruangan hangat, hindari benda dingin b. Transportasi dlm keadaan hangat c. Selalu diselimuti (resusitasi, IV line)

d. Pemancar panas e. Ganti popok f. Jangan sentuh dg tangan dingin g. Monitor suhu (1-2 X/hr) Perawatan dengan incubator: 35C 34 33 32

<1500

1-10 hr

11 hr-3mg

3-5mgg

> 5mg

15002000

1-10 hr

11 hr-4mg

> 4mg

21002500 > 2500

1-2 hr

3hr-3mg

>3mg

1-2 hr

>2hr

c. Hipoglikemia
Glukosa :sumber utama energi bagi organ Neonatus : utk otak + 90 % Sangat rentan thd hipoglikemia BBL : Mempunyai cukup cadangan glukosa +24-48 jam A. Berhubungan dengan perubahan metabolisme ibu - Mendapat glukosa intrapartum - Obat: terbutalin, propanolol, obat hipoglikemik oral - Ibu diabetes B. Berhubungan dengan masalah pada bayi - Gagal beradaptasi - Perinatal hipoksia iskemik - Infeksi - Hipotermi - Hiperviskositas - Erytroblastosis fetalis - Lain: iatrogenic, kelainan jantung bawaan

C. Pertumbuhan dalam rahim terhambat D. Hiperinsulinemia E. Kelainan endokrin F. Inborn error of metabolism

5. Infeksi Pada Neonatus


Infeksi pada neonatus lebih sering ditemukan pada BBLR. Infeksi lebih sering ditemukan pada bayi yang lahir di rumah sakit dibandingkan dengan bayi yang lahir di luar rumah sakit. Infeksi pada neonatus dapat melalui beberapa cara. Blanc membaginya dalam 3 golongan, yaitu : 1. Infeksi Antenatal Kuman mencapai janin melalui sirkulasi ibu ke plasenta. Di sini kuman itu melalui batas plasenta dan menyebabkan intervilositis. Selanjutnya infeksi melalui sirkulasi umbilikus dan masuk ke janin. Kuman yang dapat menyerang janin melalui jalan ini ialah : (a). Virus, yaitu rubella, polyomyelitis, covsackie, variola, vaccinia, cytomegalic inclusion ; (b). Spirokaeta, yaitu treponema palidum ( lues ) ; (c). Bakteri jarang sekali dapat melalui plasenta kecuali E. Coli dan listeria monocytogenes. Tuberkulosis kongenital dapat terjadi melalui infeksi plasenta. Fokus pada plasenta pecah ke cairan amnion dan akibatnya janin mendapat tuberkulosis melalui inhalasi cairan amnion tersebut. 2. Infeksi Intranatal Infeksi melalui jalan ini lebih sering terjadi daripada cara yang lain. Mikroorganisme dari vagina naik dan masuk ke dalam rongga amnion setelah ketuban pecah. Ketubah pecah lama ( jarak waktu antara pecahnya ketuban dan lahirnya bayi lebih dari 12 jam ), mempunyai peranan penting terhadap timbulnya plasentisitas dan amnionitik. Infeksi dapat pula terjadi walaupun ketuban masih utuh misalnya pada partus lama dan seringkali dilakukan manipulasi vagina. Infeksi janin terjadi dengan inhalasi likuor yang septik sehingga terjadi pneumonia kongenital selain itu infeksi dapat

menyebabkan septisemia. Infeksi intranatal dapat juga melalui kontak langsung dengan kuman yang berasal dari vagina misalnya blenorea dan oral trush . 3. Infeksi Pascanatal Infeksi ini terjadi setelah bayi lahir lengkap. Sebagian besar infeksi yang berakibat fatal terjadi sesudah lahir sebagai akibat kontaminasi pada saat penggunaan alat atau akibat perawatan yang tidak steril atau sebagai akibat infeksi silang. Infeksi pasacanatal ini sebetulnya sebagian besar dapat dicegah. Hal ini penting sekali karena mortalitas sekali karena mortalitas infeksi pascanatal ini sangat tinggi. Seringkali bayi mendapat infeksi dengan kuman yang sudah tahan terhadap semua antibiotika sehingga pengobatannya sulit. Infeksi pada neonatus dapat dibagi menurut berat ringannya dalam dua golongan besar, yaitu berat dan infeksi ringan. 1. Infeksi berat ( major in fections ) : sepsis neonatal, meningitis, pneumonia, diare epidemik, plelonefritis, osteitis akut, tetanus neonaturum. 2. Infeksi ringan ( minor infection ) : infeksi pada kulit, oftalmia neonaturum, infeksi umbilikus ( omfalitis ), moniliasis.

Sepsis Neonatal Gejala sespis pada neonantus telah diterangkan pada diagnosis infeksi perinatal. Dengan menemukan gejala tersebut, apalagi dari anamnesis diketahui terdapat kemungkinan adanya infeksi antenatal atau infeksi maka tindakan yang dilakukan ialah : 1. Memberikan antibiotika spektrum luas sambil menunggu biakan darah dan uji resistensi. 2. Pemeriksaan laboratorium rutin. 3. Biakan darah 2 uji resistensi. 4. Fungsi lumbal dan biakan cairan serebrospinalis dan uji resistensi. 5. Bila ada indikasi, dapat dilakukan biakan tinja dan urin.

Pencegahan Infeksi Pencegahan infeksi adalah bagian penting setiap komponen perawatan pada bayi baru lahir. Bayi baru lahir lebih rentan terhadap infeksi karena sistem imun mereka imatur, oleh karena itu, akibat kegagalan mengikuti prinsip pencegahan infeksi terutama sangat membahayakan. Praktik pencegahan infeksi yang penting diringkas di bawah ini. Prinsip Umum Pencegahan Infeksi Dengan mengamati praktik pencegahan infeksi di bawah akan melindungi bayi, ibu dan pemberi perawatan kesehatan dari infeksi. Hal itu juga akan membantu mencegah penyebaran infeksi : Berikan perawatan rutin kepada bayi baru lahir. Pertimbangkan setiap orang ( termasuk bayi dan staf ) berpotensi menularkan infeksi. Cuci tangan atau gunakan pembersih tangan beralkohol. Pakai pakaian pelindung dan sarung tangan. Gunakan teknik aseptik. Pegang instrumen tajam dengan hati hati dan bersihkan dan jika perlu sterilkan atau desinfeksi instrumen dan peralatan.
o o

o o o o o o

Bersihkan unit perawatan khusus bayi baru lahir secara rutin dan buang sampah. Pisahkan bayi yang menderita infeksi untuk mencegah infeksi nosokomial.

Asuhan Neonatus Pencegahan Infeksi Berikan perawatan rutin bayi baru lahir :
o

Setelah enam jam pertama kehidupan atau setelah suhu tubuh bayi stabil, gunakan kain katun yang direndam dalam air hangat untuk membersihkan darah dan cairan tubuh lain ( misal: dari kelahiran ) dari kulit bayi, kemudian keringkan kulit. Tunda memandikan bayi kecil ( kurang dari 2,5 kg pada saat lahir atau sebelum usia gestasi 37 minggu ) sampai minimal hari kedua kehidupan.

Bersihkan bokong dan area perineum bayi setiap kali mengganti popok bayi, atau sesering yang dibutuhan dengan menggunakan kapas yang direndam dalam air hangat bersabun, kemudian keringkan area tersebut secara cermat.

Pastikan bahwa ibu mengetahui peraturan posisi penempatan yang benar untuk meyusui untuk mencegah mastitis dan kerusakan puting.

6. Tumbuh kebang neonates


Tumbuh kembang neonates sangat rentan karena pada saat itu neonates melalui masa-masa transisi atau peralihan dari intra uterin ke lingkungan. Dibutuhkan adaptasi yang maksimal agar bay dapat bertahan hidup

7. Infanticide
Infanticide pembunuhan bayi yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri segera atau beberapa

saat setelah dilahirkan, karena takut diketahui ia telah melahirkan anak.

PASAL-PASAL dalam KUHP yg mengancam kejahatan ini : pasal 341 KUHP : pembunuhan anak sendiri tanpa rencana ( maksimum 7 tahun penjara ) pasal 342 KUHP : pembunuhan anak sendiri dengan rencana ( maksimum 9 tahun penjara ) pasal 343 KUHP : orang lain yang melakukannya / turut melakukan ( pembunuhan biasa ) pasal 305 KUHP : membuang (menelantarkan) anak dibawah usia 7 tahun ( maksimum 5 tahun 6 bulan) pasal 306 KUHP : bila berakibat luka berat atau mati (maksimum 7 tahun s/d 9 tahun )

pasal 307 KUHP : bila pelaku pada pasal 305 KUHP adalah ayah / ibu ditambah sepertiganya pasal 308 KUHP : ibu membuang anaknya yang baru lahir ( seperdua dari pasal 305 & 306 KUHP )

pasal 181 KUHP : menyembunyikan kelahiran / kematian ( 9 bulan )

Beberapa pengertian dalam unsur PAS 1. Pengertian PEMBUNUHAN harus membuktikan : a. Lahir hidup b. Kekerasan c. Sebab kematian akibat 2 .Pengertian BARU LAHIR harus ada penilaian :

a. Cukup bulan atau belum, dan berapa usia b. Berapa usia pasca lahir c. Laik hidup (viable) atau belum (non-viable) 3. Pengertian TAKUT DIKETAHUI diasosiasikan : a. Belum timbul kasih sayang di ibu kepada anak b. Belum tampak tanda-tanda perawatan

kehamilan

Anggapan ini ingin mengatakan bahwa adanya perawatan menunjukan telah timbul kasih sayang ibu kepada anaknya sehingga dapat diartikan rasa takut diketahui telah melahirkan hilang 4. Pengertian SI-IBU MEMBUNUH ANAKNYA SENDIRI mengharuskan kita dapat membuktikan apakah mayat anak yang diperiksa adalah anak dari tersangka ibu yang diajukan