Anda di halaman 1dari 10

QaidahSulbahdariZilal

TfTOkt 2010

QAIDAH SULBAH DARI ZILAL


(Muqaddimah Surah Taubah)

Awal Mula Harakah Islamiyyah


Harakah Islamiah lahir di Mekah dalam suasana Mekah yang penuh konflik. Masyarakat jahiliyyah yang diwakili oleh Quraisy saat itu belum merasakan dakwah yang menyeru kepada 'tiada nah selain Allah'. Kesaksian (syahadat) ini akan menggugat setiap penguasa dunia yang tidak mengambil sumber hukum kekuasaannya dari hukum Allah. Juga akan menyatakan taak pisah l kepada setiap penguasa thaghut di muka bumi dan mengajak agar setiap manusia bersegera menuju Allah sebagai sebuah ancaman serius. Adanya tajammukharaki baru yang dibentuk oleh dakwah di bawah pimpinan Rasulullah juga belum mereka rasakan sebagai sebuah ancaman serius. Padahal, tajammuk ini berprinsip sejak awal hanya menyatakan ketundukannya kepada Allah dan Rasul Nya. Juga akan keluar dari kepemimpinan jahiliyyah yang saat itu diwakili oleh pemerintah Quraisy serta akan keluar dari segala tradisi yang sudah lazim dilakukan di masyarakat jahiliyyah. Jahiliyyah yang diwakili Quraisy saat itu belum merasakan bahaya ini sampai mereka melancarkan perang brutal terhadap dakwah baru, tajammuk masyarakat baru, kepemimpinan baru. Mereka juga melakukan apa saja dalam rangka membantai, membuatmakar, melancarkan fitnah, dan membuat tipu muslihat terhadap dakwah baru ini. Masyarakat jahiliyyah tergerak untuk membela diri dengan segala ma cam upaya melawan bahaya yang mengancam eksistensi mereka, seolah-olah mereka membela diri dari kematian yang mengancam diri mereka. Inilah kondisi alamiah yang tidak mungkin dihindari di saat dakwah yang menyatakan bahwaAllah adalah Tuhan sekalian alam sudah dideklarasikan di tengah -tengah masyarakatjahiliyyah yang tegak di atas prinsip penyembahan hamba kepada hamba. Setiap dakwah baru yang hadir mewakili sebuah tajammuk haraki yang baru, akan memuncul kan dalam gerakan itu tokoh pemimpin yang baru pula. Juga akan berhadap-hadapan secara nyata dengan tajammukjahiliyyah lama. Saat itulah setiap pribadi yang berada dalam tajammu Islam yang baru akan menuai sakit, dan akan merasakan fitnah dengan berbagai maeam modelnya, bahkan sering sampai ke tingkat pem bunuhan. Pada kondisi seperti itu tidak ada yang berani untuk mengikrarkan syahadat "La ilaha illallah" dan "Muhammad Rasulullah". Tidak ada yang berani bergabung ke dalam tajammu Islam yang baru lahir dan tunduk kepada pemimpin yang baru, kecuali orang yang memang menazarkan hidupnya untuk Allah, siap menanggung risiko hidup, menerima fitnah, menahan lapar, keterasingan, penyiksaan, dan kematian dalam bentuk yang mungkin paling mengganaskan.

Mula terbentuk Qaidah Sulbah Muhajirin dan Ansar


Dengan ujian seperti itu, terbentuklah qaidah sulbahdalam masyarakatArab. Sedangkan, kelompok yang tidak mampu menanggung tekanan seperti itu, ketika difitnah dan dis iksa, mereka kembali kepada kejahiliyyahan mereka. Kelompok yang tegar seperti ini adalah minoritas. Masalah ini sejak awal sudah diketahui dan tersingkap. Tidak ada yang berani sejak awalberpindah dari jahiliyyah ke Islam, menempuh jalan yang penuh duri, bahaya dan menakutkan kecuali orang-orang pilihan, istimewa, dan unggul dalam pembentukannya. Demikianlah Allah memilih para pioner orang-orang Muhajirin dari unsur yang istimewa dan langka, agar mereka menjadi qaidah sulbah yang kokoh untuk agama ini di Mekah. Kemudian juga menjadi qaidah sulbah yang kokoh setelah hijrah ke Madinah, bersama dengan para pioner Anshar. Meskipun para pioner Anshar tidak lebih senior dari Muhajirin, tetapi janji setia (baiat) mereka untuk Rasulullah (Baiat Aqabah) menunjukkan bahwa kelompok Anshar memiliki tabiat murni yang sesuai Page 1 of 10

QaidahSulbahdariZilal

TfTOkt 2010

dengan tabiat agama ini. Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, "Muhammad bin Ka'ab al Qurdzi dan lain-nya mengatakan bahwa Abdullah bin Rawahah berkata kepada Rasulullah (pada malam Aqabah), 'Mintalah syarat buatTuhanmu dan dirimu sesuka hatimu.' Rasulullah berkata,"Aku minta syarat untuk Tuhanku agar kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Aku minta syarat untuk diriku agar kalian membela diriku sebagaimana kalian membela diri dan harta kalian.' Mereka berkata, 'Apa yang dapat kami dapatkan jika kami melakukan hal itu?' Nabi berkata, 'Surga.' Mereka berkata, 'Perdagangan yang menguntungkan, kami tidak akan membatalkan dan tidak akan minta untuk dibatalkan transaksi ini." Mereka yang melakukan janji setia dengan Rasulullah dengan poin baiat tersebut; mereka yang tidak mengharapkan iming-iming di balik baiat tersebut kecuali surga; mereka yang memperteguh baiat ini dengan menyatakan bahwa mereka tidak akan mundur dari baiat tersebut dan tidak pula Rasulullah, maka sesungguhnya mereka sadar bahwa mereka tidak berbaiat dalam urusan yang ringan. Tetapi, mereka sangat yakin bahwa Quraisy akan menguntit mereka, masyarakat akan meneampakkan mereka, dan mereka tidak akan hidup secara damai setelah itu dengan jahiliyyah yang akan memukul mereka di Jazirah, dan jahiliyyah yang ada di hadapan mereka di Madinah.

Kesah Baiah Aqabah


Dalam kitab al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir mengatakan bahwa Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdurrazzak, dari Ma'mar bin Khaitsam, dari Abi Zubair, dari Jabir bahwa ia berkata, "Rasulullah tinggal di Mekah selama sepuluh tahun. Beliau mendatangi rumah-rumah mereka dalam musim-musim tertentu dengan mengatakan, 'Siapa yang akan melindungiku? Siapa yang akan membelaku? Sehingga, aku dapat menyampaikan risalah Tuhanku. Orang yang melindungi dan membelaku, maka baginya adalah surga.' Beliau tidak mendapatkan seorang pun yang mau melindungi dan membelanya. Sampai-sampai ada orang yang keluar dari Yaman atau dari Mesir untuk menemui kaumnya atau kerabat dekatnya. Mereka berpesan, 'Berhati-hatilah dengan seorang anak Quraisy supaya tidak memperdayakanmu.' Beliau lewat di tengah-tengah orang-orang tersebut dan mereka memberikan isyarat kepada Nabi dengan jari-jari mereka. Hal tersebut terus berlangsung hingga Allah mengutus kami kepadanya dari Yatsrib. Kami berikan kepada mereka perlindungan, dan kami mempercayainya. Jika seseorang dari kami keluar, dia akan beriman kepada Muhammad. Dibacakan kepadanya Al Qur' an, lalu ia pulang kepada keluarganya. Akhirnya, keluarganya masuk Islam karena Islamnya orang tersebut. Sehingga, tidak ada satu rumah pun di kalangan Anshar kecuali ada tajammuk muslim yang menampakkan keislaman mereka. Kemudian mereka semuanya bermusyawarah. Kami berkata, 'Sampai kapan kita membiar kan Rasulullah berkeliling dan diusir dari pegunungan Mekah serta berada dalam ketakutan?' Akhirnya, tujuh puluh dua orang dari kami berangkat hendak menemui beliau, dan bertemu dengan beliau pada musim haji. Kami membuat janji dengan beliau untuk bertemu di bukitAqabah. Kami berkumpul di bukit tersebut dengan cara berjalan sendiri-sendiri atau berdua, sehingga jumlah kami sempurna. Kami berkata, Wahai Rasulullah? baiat apa yang akan kami berikan kepadamu?' Beliau berkata, 'Kalian membaiatku untuk selalu mendengar dan taat, baik dalam kondisi senang maupun terpuruk; berinfak dalam kondisi susah maupun mudah; melakukan amar ma'ruf nahi munkar, mengatakan kebenaran tentang Allah dengan tidak takut akan celaan orangyang mencela; dan agar kalian membantu dan membelaku jika aku pindah ke tempat kalian sebagaimana pembelaan kalian terhadap diri, istri, dan anak-anak kalian. Jika kalian melakukan semua itu, niscaya kalian mendapatkan surga.' Kami pun bangkit menuju beliau. As'ad bin Zurarah yang merupakan anggota rombongan paling junior mengambil tangan Rasulullah. Dia berkata, 'Jangan gegabah wahai penduduk Yatsrib, sesungguhnya kita tidak menuntut ilmu kepadanya kecuali karena kita tahu bahwa beliau adalah Rasulullah. Mengeluarkan beliau pada saat sekarang berarti mengumumkan permusuhan kepada seluruh orang Arab, membunuh pilihan kalian, dan pedang pun siap memangsa kalian. Opsinya, jika Page 2 of 10

QaidahSulbahdariZilal

TfTOkt 2010

kalian mampu dan sabar menerima kenyataan itu semua, silakan bawa beliau, dan semoga Allah melindungi kalian. Atau, opsi kedua, jika kalian adalah manusia pengecut, maka tinggalkanlah dia, lalu jelaskan hal itu. Kalian, dalam hal itu, lebih dimaklumi oleh Allah.' Mereka berkata, 'Mundurlah engkau wahai As'ad. Demi Allah, kami tidak akan meninggalkan baiat ini, dan kami tidak akan mencabutnya untuk selama-lamanya.' Maka, kami bangun mendekati beliau dan membaiat beliau .. Beliau menerima dan menentukan syarat. Dan sebagai gantinya, beliau memberikan kepada kami surga." (Kisah ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Baihaqi dari jalur Daud bin Abdirrahman alAththar. Imam Baihaqi menambahkan dalam riwayat Hakim dengan sanadnya dari Yahya bin Sulaim, dan keduanya mengambil dari Utsman bin Khaitsam dari Abi Idris juga seperti itu. Sanad ini bagus menurut syarah Imam Muslim, tetapi mereka tidak mengeluarkannya. Al-Bazzar mengatakan bahwa kisah ini diriwayatkan oleh banyak orang selain Ibnu Khaitsam. Dan, kami tidak mengetahui kisah ini diriwayatkan dari Jabir kecuali dari jalan ini.) Orang-orang Anshar mengetahui dengan kesada ran sempurna beban yang akan ditanggung dengan baiat tersebut. Mereka tahu bahwa mereka tidak diiming-imingi dengan beban yang diemban itu kenikmatan apa pun dari kehidupan dunia, meskipun sifatnya pembelaan dan pemenangan. Mereka tidak dijanjikan kecuali dengan surga. Kemudian kesadaran mereka yang tinggi dengan baiat dan perhatian mereka yang serius terhadapnya me-mastikan mereka masuk dalamjajaran qaidah sulbah utama yang kokoh pada periode awal dakwah di Madinah bersama dengan orang-orang Muhajirin senior yang memang dipersiapkan untuk menjadi qaidah sulbah dakwah. Tetapi masyarakat Anshar belum murni betul.

Ancaman di Madinah
Islam memang sudah muncul dan tersebar di Madinah, tetapi banyak yang terpaksa -terutama orang-orang yang memiliki posisi di kaumnya. Mereka berpura-pura baik dengan kaumnya demi menjaga posisi mereka di mata kaumnya hingga tibanya Perang Badar. Pembesar mereka, Abdullah bin Ubay bin Salul, akhirnya pura-pura menyatakan diri masuk Islam. Dan yang pasti, kebanyakan penduduk akan mengikuti arus yang banyak, mereka pun masuk Islam karena ikut ikutan-meskipun mereka tidak masuk kelompok munafik. Tetapi, mereka belum memahami ajaran Islam dan belum tersibghah dengan ajaran Islam. Hal inilah yang menjadi bibit kerapuhan bangunan masyarakat Madinah, munculnya bangunan masyarakat dari level keimanan yang sangat mencolok. Karena faktor itulah, Al-Qur'anmenerapkan sistem tarbiah yang sangat unik, di bawah komando Rasulullah. Beliau bekerja melakukan penanganan kelompok baru ini, dan bekerja untuk mengem balikan koordinasi dan melakukan sinergi di antara masyarakat yang berbeda tingkat akidah, akhlak, dan tingkah lakunya dalam tubuh masyarakat yang baru lahir. Di saat kami merujuk surah-surah Madaniah-dengan pendekatan urutan perkiraan masa turunnya-kami menemukan ada kerja keras yang di-fokuskan untuk mengawinkan masyarakat muslim yang sangat plural tersebut, meskipun sikap Quraisy yang sangat keras menentang dan membuat , sekutu dengan kabilah-kabilah Arab. Demikian juga dengan sikap dari orang -orang Yahudi yang brutal dan upaya mereka untuk membuat sekutu dengan kelompok -kelompok yang memusuhi agama baru dan tajammuk yang baru ini. Karena itu, kegiatan asimilasi dan koordinasi dirasakan terus menjadi kebutuhan rutin dan tidak terputus meskipun sekejap.

Kelemahan yang perlu di perbetulkan

berterusan di mana-mana

Meskipun usaha keras telah dilakukan, kadang -kadang masih muncul-terutama pada saat-saat genting, kelemahan-kelemahan, kemunafikan dan keragu-raguan kebakhilan terhadap diri dan harta, dan gentar menghadapi marabahaya. Khususnya, masalah ketidakjelasan akidah yang membuat kata Page 3 of 10

QaidahSulbahdariZilal

TfTOkt 2010

putus tentang hubungan antara muslim dan kerabatnya yang masih jahiliyyah. Nas-nas Al-Qur'an dalam beberapa surah secara berturut-turut menyingkap kepada kita fenomena-fenomena lahir ini disertai dengan datangnya manhaj Al-Qur 'an untuk mencari solusinya dengan metode Rabbani yang unik. Kami sebutkan beberapa contoh tersebut. Mengenai keengganan sebagian sahabat untuk pergi ke peperangan Badardan pertolongan Allah kepada kaum muslimin disinggung dalam firman-Nya, "Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolaholah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka me/ihat (sebab -sebab kematian itu). Dan (ingatlah), ketikaAllah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu. Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayatayatNya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya." (alAnfaal: 5-8) Kemudian Allah berfirman mengenai beberapa sikap orang terhadap ayat-ayat-Nya, ''Dialah yang menurunkanAI-Kitab (Al-Qyr'an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isiAI~Qyr' an, dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ebagian s ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencaricari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. ' Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang -orang yang berakal. (Mereka berdoa), Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesu dah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia). ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya. ' Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. "(All Imran: 7-9) Orang-orang munafik tidak menepati janjinya terhadap orang Yahudi sebagaimana yang disebut-kan dalam firman Allah, "Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata keparia saudara saudara mereka yang kafir di antara Ahli Kitah, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu. Kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu. ' Allah menyaksikan hahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka. Dan, sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tiada akan menolongnya. Sesungguhnya jika mereka menolongn a, y niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiaria akan mendapat per tolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. }(zng demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiaria mengerti. '" (al-Hasyr: 11-13) Kemudian Allah menyinggung bantuan-Nya kepada kaum muslimin dalam peperangan Ahzab, "Hai orang-orang yang heriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah diknruniaknn) kepadamu ketikn datang kepadamu tentara -tentara. Lalu, Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari alas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap Zagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampa ke tenggorokan dan i kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam -macam purbasangka. Di situlah diuji orangPage 4 of 10

QaidahSulbahdariZilal

TfTOkt 2010

orang mukmin dan diguncangkan (hatinya) dengan guncangan yang sang at. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orangorang yang berpenyakit da lam hatinya berkata, 'Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya. 'Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata, 'Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.' Sebagian darimereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada pen-jaga). 'Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya. Mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. "(alAhzah: 9-14) Mengenai kewajiban siap siaga terhadap musuh, Allah berfirman, ''Hai orang-orangyang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompokkelompok, atau majulah bersama-sama! Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambatlambat (ke medan pertempuran). Maka, jika kamu ditimpa musibah, ia berkata, 'Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena tidak ikut berperang bersama mereka. ' Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu d ngan dia, e 'Wahai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula). ", (an-Nisaa"': 71-73) Kemudian diungkap sikap orang-orang munafik dalam menghadapi peperangan' 'Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, '1l1hanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!' Setelah diwajibkan kepada mereka. berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi1, Katakanlah, 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orangorang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun. Di mana saja kamu berada, kematian alam mendo,patkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.]ika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, 'lni adalah dari sisi Allah. ' Dan, kalau mereka ditimpa sesuatu bencana, mereka mengatakan, 'lni (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad). ' Katakanlah, 'Semuanya (datang) dari sisi Allah. ' Maka, mengapa orang-orang itu (orang munafik) hamPir-hamPir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?" (an-Nisaa"': 77-78) Dorongan untuk berinfak dinyatakan Allah dalam firman-Nya, ''Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta hartamu. ]ika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya), niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu. Ingatlah, kamu ini orang -orang yang diajak untuk menafko,hkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka, di antara kamu ada orangyang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allahlah Yang Mahakaya sedangkan kamulah orangorangyang membutuhkan(Nya).]ika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)." (Muhammad: 36-38) Allah melarang berteman dengan orang-orang yang memusuhi Islam, sebagaimana firmanNya, 'Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Page 5 of 10

QaidahSulbahdariZilal

TfTOkt 2010

Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedangkan mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah. Karena itu, mereka mendapat azab yang menghinakan. Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkanAllah, lalu mereka bersumpahkepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah bahwa sesungguhnya merekalah orang -orang pendusta. Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, me reka itulah golongan setan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi. Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasulnya, mereka termasuk orang orang yang sangat hina. Allah telah menetapkan, 'Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang -orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada Nya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap {limpahan rahmat) -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. "(al-Mujaadalah: 14-22) Dalam firman-Nya, Allah pun melarang berternan akrab dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Larangan ini disertai akibat jika melang-garnya. ''Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambilorang -orang Yilhudi dan Nasrani menjadi pemimPin-pemimPin(mu). Sebagian mereka adalah pemimPin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadiPemimPin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka, kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang -orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yilhudi dan Nasrani), seraya berkata, 'Kami takut akan mendapat bencana. 'Mudah-mudahanAllah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul- Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri nereka. Orang-orang yang beriman akan mengatakan, 'lnilah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwa mereka benar benar beserta kamu?' Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang -orang yang merugi. '" (al-Maa'idah: 51-53) Allah juga melarang menjadikan seseorang dari golongan musuh sebagai ternan setia, sebagaimana tercantum dalam firman-Nya, ''Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh Ku dan musuhmu menjadi temanteman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita -beritaMuhammad), karena rasa kasih sayang. Padahal, sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepadaAllah, Tuhanmu.Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan- Ku dan mencari keridhaanKu, (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah merekij kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. Karib kerabat dan anak Page 6 of 10

QaidahSulbahdariZilal

TfTOkt 2010

anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orangorang yang bersama dengan dia ketika mereka berkata kepa a d kaum mereka, 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu pmnusuhan dan kebeneian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah ~aja. ' Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, 'Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.' (Ibrahim berkata), 'Yil Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal, hanya kepada Engkaula kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah h kami kembali. "" (al-Mumtahanah: 1-4) Kami cukupkan menyebut sepuluh contoh dari berbagai surah, untuk menunjukkan fenomena sesaat yang tampak pada masyarakat muslim sebagai hasil yang alami dan pasti dari masuknya unsur-unsur baru dalam Inasyarakat yang bersifat terus-menerus. Tetapi secara umum, fondasi masyarakat muslim di Madinah tetap sehat karena didukung penuh oleh qaidah sulbah ikhlas dari kelompok Muhajirin maupun Anshar. Kebersamaan dan soloditas mereka sangat baik dalam menghadapi seluruh gelagat tidak baik dan instabilitas yang kad angkadang muncul. Mereka mampu menghadapi setiap ancaman yang berasal dari un surun sur yang belum matang keislamannya, belum kuat kebersamaan dan koordinasinya. Secara perlahan, unsur-unsur tersebut akhirnya menyatu, bersih, dan memiliki koordinasi yang baik dengan qaidah sulbah. Jumlah pembangkang dari orang-orang yang masih lemah imannya dan orangorang munafik menciut. Demikian juga jumlah orang-orang yang masih ragu-ragu dan takuttakut. Juga orang-orang yang belum utuh pemahaman mereka tentang kejel san akidah yang a menjadi landasan mereka untuk membangun hubungan dengan pihak lain. Sampai menjelangFathu Mekah, koordinasi masyarakat Islam dengan kader -qaidah sulbah yang ikhlas mendekati kesempurnaan. Secara umum, ia merupakan contoh yang paling dekat dengan tujuan yang diemban oleh sistem tarbiah Rabbaniah yang unik.

Kehebatan yang tidak sama


Diakui bahwa dalam masyarakat ini masih terdapat pemuliaan yang tidak sama antara anggotanya sebagai konsekuensi yang muncul dari gerakan akidah itu sendiri. O rang-orang mukmin sendiri memiliki tingkat pemuliaan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya berdasarkan besar kecilnya prestasi mereka, lama tidaknya kebersamaan mereka, dan kokoh kendornya komitmen mereka. Orang-orang Muhajirin dan Anshar yang senior memperoleh keistimewaan, sahabat yang ikut Perang Badar memiliki keistimewaan, sahabat yang ikut dalam bai'atur Ridwan di Hudaibiyyah memiliki keistimewaan, dan secara umum, sahabatsahabat yang berinfak dan ikut berjuang sebelum Fathu Mekah memiliki keistimewaan. Baik nashnash Al-Qur an, hadits-hadits, maupun fakta lapangan menegaskan adanya perbedaan tingkat pemuliaan tersebut yang berasal dari gerakan yang bersumber dari akidah dan mendapatkan legitimasi dari nash. "Orang-orangyang terdahulu lagi yangpertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surgasurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. " (at-Taubah: 100) ''Barangkali Allah telah mengetahui (apa yang akan dilakukan) ahli Badar. Beliau berkata, 'Perbuatlah semau' kalian, karena surga telah menjadi ketetapan untuk kalian. "" (HR BUkhari) (Hadits ini merupakan penolakan Rasulullah terhadap permintaan Umar yang meminta izin kepada Rasulullah agar menebas leher Hatib bin Abi Balta'ah di saat ia didera oleh detik-detik

Page 7 of 10

QaidahSulbahdariZilal

TfTOkt 2010

penurunan iman. Pada saat itu ia mengirim utusan kepada Quraisy secara sembunyi-sembunyi untuk memberitahukan kepada mereka tentang persiapan Rasulullah untuk menyerang Mekah). "Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang -orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta haria rampasan yang banyak yang dapat mereka ambit. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagiMahabijaksana. "(alFat-h: 18-19) 'Tidak sama di antara kamu orangyang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang -orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. DanAllahMahaMengetahui apa yang kamu kerjakan " (al-Hadiid: 10) . Tenanglah engkau hai Khalid! Janganlah engkau menyakiti sahabatku! Demi Allah, jika engkau memiliki emas sebanyak gunung Uhud, kemudian engkau infakkan itu semua di jalan Allah, kamu tidak akan dapat menyusul pahala berangkat pagi dan petangnya sahabatku di jalan Allah." (Hadits ini dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma 'ad. Hadits ini merupakan penolakan Rasulullah atas sikap Khalid ibnul-Walid yang ber-seteru dengan Abdurrahman bin 'Auf. Khalid adalah si pedang Allah, tetapi Abdurrahman bin 'Auf adalah generasi awal para sahabat. Rasulullah ber-kata kepada Khalid, "J anganlah engkau menyakiti sahabatku." Ini artinya tingkatan gene rasi awal sahabat memiliki kedudukan khusus dan istimewa dalam masyarakat Islam di Madinah.)

Menjelang Fathu Mekah


Tetapi, keistimewaan level ini dengan kadar keimanannya, tidak menjadi penghalang saling mendekatnya semua level keimanan dan saling terjalinnya hubungan mereka dalam masyarakat Madinah menjelang Fathu Mekah. Hal ini menyebabkan tenggelamnya banyak fenomena kerapuhan barisan kaum muslimin. Demikian juga fenomena kelemahan dan keragu-raguan, kebakhilan terhadap diri dan harta, dan ketidakjelasan akidah, dan kemunafikan. Kondisi tersebut dapat dikatakan bahwa masyarakat Madinah secara umum adalah qaidah sulbah utama agama Islam. Namun, dengan terjadinya Fathu Mekah tahun ke H, dan dilanjutkan dengan menyerahnya -8 Hawazin dan Tsaqif di Thait yang merupakan dua kekuatan terbesar di Jazirah setelah Quraisy, kejadian di atas berulang kembali. Masyarakat muslim dibanjiri oleh gelombang baru masyarakat yang baru masuk Islam dengan level keimanan yang berbeda-beda. Di antara mereka ada yang tidak senang dan pura-pura masuk Islam. Di antara mereka ada yang digiring kepada Islam oleh tampakan luar, dan di antara mereka ada yang hatinya masih lemah. Jiwa mereka belum terpola dengan hakikat dan ajaran Islam yang sebenarnya. Sikap pembangkangan panjang Quraisy sebelumnya menjadi sandungan besar penyebaran Islam di Jazirah Arabia. Quraisy dahulunya adalah pemegang otoritas tertinggi dalam urusan agama di Jazirah Arabia-di samping mereka juga memiliki pengaruh ekonomi, politik, dan sastra. Sikap pembangkangan mereka terhadap agama baru yang seperti itu dianggap sebagai faktor pemicu enggan-nya masyarakat Arab untuk masuk Islam, atau paling minimal faktor pemicu keraguan dan sikap wait and see 'menunggu sambil melihat keadaan' hingga akhirnya meletus peperangan antara Quraisy dan Nabi Muhammad yang juga anak Quraisy! Ketika Quraisy tunduk di Fathu Mekah, dan se-telahnya tunduk juga Hawazin dan Tsaqif di Thait; dan tiga kabilah besar Yahudi di Madinah juga sudah kehilangan taringnya; bani Qainuqa' dan Bani Nadhir diusir ke Syam, dan suku Quraizah dibinasakan, serta menyerahnya Khaibar maka masuklah manusia ke agama Allah dengan berbon dong-bondong. Semua itu menjadi faktor masuknya Islam ke seluruh Jazirah dalam waktu satu tahun. Tetapi, perluasan vertikal kawasan Islam ini mengulang kembali seluruh fenomena yang pernah muncul dalam masyarakat pascakemenangan Pe rang Badar-meskipun dalam skala yang lebihluas. Page 8 of 10

QaidahSulbahdariZilal

TfTOkt 2010

Padahal, sebelumnya masyarakat hampir stern dari fenomena -fenomena negatif tersebut karena dampak positif dari tarbiah yang panjang dan berkesinambungan selama tujuh tahun setelah Perang Badar. Seandainya masyarakat Madinah secara umum belum berubah menjadi qaidah sulbah yang ikhlas dengan akidah Islam, dan belum menjadi penopang utama masyarakat Madinah, pasti perluasan wilayah yang cepat ini berubah menjadi ancaman besar di Jazirah Arabia. Tetapi, Allahlah yang merekayasa dan memelihara ini semua. Dialah yang mempersiapkan kader-qaidah sulbah yang terdiri dari sahabat-sahabat senior baik dari Muhajirin maupun Anshar, agar mereka menjadi kader yang dapat mengemban amanah agama ini setelah terjadinya perluasan nisbi pasca kemenangan Badar; Sebagaimana Allah juga telah mempersiapkan masyarakat Madinah secara umum untuk menjadi kader yang dapat mengemban amanah agama setelah terjadi perluasan besar -besaran dan cepat setelah Fathu Mekah. Allah Maha Mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.

Ujian di Hunain
Fenomena pertama yang muncul setelah Fathu Mekah itu terj di pada peristiwa Hunain yang a diceritakan di dalam firman-Nya, "Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai kaum mukminin) di medan peperangan yang ban yak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknyajumlahmu, maka jumlah yang ban yak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa semPit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. KemudianAllah menurunkan ketenangan kepada Rasul Nya dan kepada orang-orang yang beriman. Allah menurunkan bala ten tara yang kamu tiada melihatnya. Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir dan demikianlah pembalasan kepada orang -orang yang kafir. "(at-Taubah: 25-26) Di antara sebab yang tampak dari kekalahan ini di putaran awalnya adalah karena 2000 "tulaqa orang yang dibebaskan" (muslimin baru) yang masuk Islam pada hari Fathu Mekah, juga keluar bersama dengan ribuan tentara Madinah yang dulunya menaklukkan Mekah. Keberadaan dua ribu orang ini bersama dengaan sepuluh ribu orang adalah di antara sebab rusaknya keseimbangan dalam barisan, ditambah dengan faktor kejutan dari Hawazin. Rusaknya keseimbangan itu karena pasukan tidak seluruhnya berasal dari qaidah sulbah yang ikhlas yang telah matang tarbiah dan koordinasinya dalampembinaan panjang sejak Badar hingga Fathu Mekah. Fenomena seperti ini juga tampak di tengah-tengah PerangTabuk, sebuah fenomena menyakitkan yang muncul sebagai buah yang pasti diterima dari perluasan wilayah secara cepat, dan masuknya manusia ke dalam Islam secara berbondong-bondong, dengan level keimanan yang bervariasi dan garis struktural yang rapuh. Fenomena-fenomena inilah yang diceritakan oleh surah at-Taubah, dan yang dimaksud oleh ayat-ayat yang panjang, rinci, dan dengan teknikyang bervariasi, yang telahkami sebutkan dalam kutipan-kutipan yang mewakili setiap bagian surah.

Riddah selepas kewafatan

kegoncangan dan ujian lagi

Kami beralih di sini untuk melakujejak langkah fakta historis masyarakat muslim dua tahun setelah Fathu Mekah, di saat Rasulullah meninggal dunia. Saat itu Jazirah Arabia secara keseluruhan murtad, tidak ada yang tersisa kecuali masyarakat Madinah yang merusakan qaidah sulbah yang ikhlas. Fenomena ini sangat mudah diinterorientasikan. Sesungguhnya dua tahun yang berlalu sejak Fathu Mekah tidak cukup untuk menjadikan Islam berdomisili secara permanen di dalam jiwa-jiwa orang yang masuk Islam secara massal dengan level keimanan mereka yang rapuh. Ketika Rasulullah wafat, Jazirah Arabia yang rapuh itu goncang, dan qaidah sulbah tetap dalam komitmennya. Qaidah Sulbah dengan kesolidan, keikhlasan, dan koordinasinya yang rapi mampu menghadapi arus itu. Mereka mengembalikannya ke salurannya semula, dan mengembalikan saudara -saudara mereka kepada Islam sekali lagi.

Page 9 of 10

QaidahSulbahdariZilal

TfTOkt 2010

Sesungguhnya memandang fakta historis dengan metode seperti ini sudah sangat memadai untuk memperlihatkan kepada kita rekayasa Allah Yang Mahabijak dalam ujian panjang y dialami ang oleh dakwah di Mekah ketika muncul pertama kali. Cara pandang seperti inijuga mampu untuk melihat hikmah kenapa Allah menjadikan kaum musyrikin yang zalim berkuasa di atas kaum muslimin, menyiksa mereka, memfitnah, menumpahkan darah, dan mempe rlakukan kaum muslimin sesuka mereka? Allah sudah tahu bahwa inilah metode yang benar untuk mentarbiah generasi pertama kaum muslimin, dan membentuk kader-qaidah sulbah yang akan memperjuangkan akidah ini. Tanpa ujian panjang, maka penyangga akidah ini tidak kokoh dan tidak tahan terhadap tekanan. Tanpanya pula tidak lahir kualitas akidah yang kokoh, ikhlas, totalitas, pantang menyerah, dan tidak mundur dalam menapaki jalan Allah karena disakiti, disiksa, dibunuh, dihukum, diusir, dilapari, sedikitnya jumlah, dan tidak adanya pembela dunia. Sesungguhnya generasi yang berkualitas seperti ini saja yang layak menjadi kader orisinilyang tegar menghadapi segala kemungkinan sejak awal perjalanan. Qaidah sulbah dari generasi awal Muhajirin inilah yang menjadi tempat bergabungnya generasi awal Anshar, agar mereka menjadi qaidah sulbah utama di Madinah sebelum Badar; Juga agar menjadi pengawal yang kuat dan tegas pada periode terjadinya instabilitas Madinah pasca-Badar karena adanya perluasan wilayah dan masuk Islamnya orang-orang baru yang belum matang keislamannya, dan belum ber-sinergi dengan qaidah sulbah utama dalam level keimanan dan strukturalnya. Dan terakhir, qaidah sulbah yangdimensinya meluas menjelang Fathu Mekah, sehingga meliputi masyarakat Madinah secara umum, merekalah yang mengawal Islam dan memeliharanya dari goncangan yang terjadi pasca Fathu Mekah. Kemudian memeliharanya dari kegon cangan hesar pasca kematian Rasulullah, dan murtadnya sebagianJazirahArabia dari Islam. Hakikat ini di samping memperlihatkankepada kita rekayasa Allah Yang Mahabijak dalam ujian panjang yang dialami dakwah di Mekah, dan kesulitan yang dialami oleh masyarakat m uslimin di Madinah sampai adanya perjanjian Hudaibiyah, ia juga menjelaskan kepada kita karakter dari manhaj haraki Islam yang aktual di segala waktu dan tempat. Sebuah pergerakan, pertama-tama wajib mengarahkan perhatiannya secara serius dan total untuk membentuk kader-qaidah sulbah dari orang-orang mukmin yang ikhlas yang selalu berteman dengan ujian hidup dan mereka tegar menghadapinya Pergerakan harus memberikan perhatian . penuh kepada kader ini dengan tarbiah imaniah yang mendalam agar menambah soliditas, kekuatan, dan kesadaran mereka Di samping itu, pergerakan harus sangat hati hati melakukan ekspansi-tausi sebelum merasa tenang dengan telah terbentuknya kaderqaidah sulbah yang ikhlas, kritis, dan tercerahkan. Melakukan ekspansi sebelum terbentuknya qaidah sulbah adalah bahaya serius yang dapat melenyapkan eksistensi setiap harakah (pergerakan). Di samping tidak mengikuti jalan dakwah yang dibangun Rasulullah, ia juga tidak memperhatikan karakter manhaj haraki RabbanidanNabawi yangdititi oleh jamaah dakwah generasi pertama, Allahlah yang akan menjamin pergerakan dakwah yang menitijalan ini. Di saat Dia menginginkan sebuah pergerakan berjalan di atas reI yang benar, Dia akan menurunkan kepada para pelopornya ujian yang panjang; memperlambat kemenangannya, memperkecil jumlah nya, dan menjadikan manusia lambat menjawab ajakan mereka. Sehingga, Allah mengetahui bahwa mereka telah sabar dan teguh, dan telah siap serta layak untuk menjadi kader-qaidah sulbah yang ikhlas, kritis dan amanah. Kemudian Dia pindahkan langkah-Iangkah berikutnya ke tangan-Nya, dan adalah Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. ***
Teks ini adalah dari terjemahan asal Bahasa Indonesia, di melayukan semampunya dan beberapa perkataan di Arabkan kembali mengikut asalnya demi menjaga ruh Zilal. Jzklh diusahakan oleh A.T dll sempena TfT Kita Okt 2010.

Page 10 of 10