Anda di halaman 1dari 15

Jurnal Kesehatan

STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta


Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


SERANGAN JANTUNG BERULANG PADA PASIEN
POST PERCUTANEOUS TRANSLUMINAL
CORONARY ANGIOPLASTY
Rohayati, Ni Luh Widani*
STIK Sint Carolus Jakarta JL.Salemba Raya No 41 Jakarta Pusat 10440
*e-mail: widani24@gmail.com

ABSTRAK

Pasien serangan jantung dilakukan tindakan Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty (PTCA)
dengan pemasangan Stent untuk membuka pembuluh darah jantung yang mengalami oklusi, namun pasca
tindakan ada risiko terjadi oklusi kembali berdampak serangan jantung berulang. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui Faktor – Faktor yang Berhubungan Dengan Risiko Serangan Jantung Pada Pasien Post
Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty Di Rs X. Jenis penelitian kuantitatif, retrospektif.
Sample penelitian adalah data rekam medis pasien yang telah menjalani prosedur PTCA selama bulan
Januari 2019 – Desember 2020 dengan sample sebanyak 112 orang. Analisis data menggunakan uji
statistik Chi-Square. Hasil analisis univariat didapatkan mayoritas responden berusia lansia > 55 tahun
(72%), laki-laki (79,5%), Riwayat Diabetes Melitus (50%), Riwayat Hipertensi (40,2%), Riwayat
Dislipidemia (33,9%), Merokok (66,1%), Riwayat serangan berulang (31,3%). Hasil analisis bivariat
didapatkan secara statistic ada hubungan yang bermakna antara riwayat diabetes melitus (p-value = 0,041;
p<0,05) dengan resiko serangan jantung berulang, tidak ada hubungan yang signifikan antara usia (p-value
= 0,932) jenis kelamin (p-value = 0,682), Riwayat hipertensi (p-value = 0,287), Riwayat dislipidemia (p-
value = 0,554) dan merokok (p-value = 0,100); p>0,05 pada pasien post PCI dengan risiko serangan
jantung berulang. Saran khususnya perawat yang bertugas di unit rawat jalan untuk meningkatkan
pelayanan dan asuhan keperawatan dengan memberikan edukasi mengenai pengaturan pola hidup sehat dan
Kontrol rutin pada pasien post PCI untuk mencegah serangan jantung berulang terutama pada pasien DM.

Kata kunci : Diabetes Mellitus, Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty , Serangan Jantung
berulang.

ABSTRACT

Heart attack patients underwent Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty (PTCA) with the
installation of a stent to open the occluded heart blood vessels, but after the procedure there is a risk of
occlusion again resulting in repeated heart attacks. This study aims to determine the factors associated
with the risk of heart attack in patients with post percutaneous transluminal coronary angioplasty at Rs X.
This type of research is quantitative, retrospective. The research sample is the medical record data of
patients who have undergone the PTCA procedure during January 2019 - December 2020 with a sample
of 112 people. Data analysis used Chi-Square statistical test. The results of univariate analysis showed that
the majority of respondents were elderly > 55 years (72%), male (79.5%), history of diabetes mellitus
(50%), history of hypertension (40.2%), history of dyslipidemia (33.9%) ), Smoking (66.1%), History of
repeated attacks (31.3%). The results of the bivariate analysis showed that there was a statistically
significant relationship between a history of diabetes mellitus (p-value = 0.041; p<0.05) and the risk of
recurrent heart attack, there was no significant relationship between age (p-value = 0.932) and sex ( p-
value = 0.682), History of hypertension (p-value = 0.287), History of dyslipidemia (p-value = 0.554) and
smoking (p-value = 0.100); p>0.05 in post-PCI patients at risk of recurrent heart attacks. Suggestions,
especially for nurses who work in outpatient units to improve services and nursing care by providing
education about healthy lifestyle settings and routine control in post PCI patients to prevent recurrent heart
attacks, especially in DM patients.

Keywords: Diabetes Mellitus, Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty, Recurrent Heart Attack.

25
Jurnal Kesehatan Volume 10 Nomor 1
e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947
Jurnal Kesehatan 26
STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta
Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

PENDAHULUAN PCI (Percutaneus Coronary


Penyakit kardiovaskuler menjadi Intervention) (Lawton et al., 2021).
penyebab kematian pertama di dunia
maupun di Indonesia. Salah satu PCI merupakan pengembangan teknik
penyakit kardiovaskuler yaitu Sindrom angiplasti balon dengan pemasangan
Koroner Akut (SKA). SKA terjadi akibat stent yang berfungsi membuka arteri
rupture plak atherosclerosis pada artery koroner yang menyempit. PCI dengan
coronary yang menyebabkan pemasangan ring/stent dapat mencegah
vasokonstriksi pembuluh darah koroner restenosis (penyempitan kembali
sehingga terjadi iskemia selanjutnya pembuluh darah jantung). Sten sudah
kematian otot jantung (Ignatavicius; digunakan pada 60% sampai 80% dari
Donna D.; Workman; M. Linda; P, pasien yang menjalani PCI di seluruh
2018). Menurut Word Health dunia. Beberapa hasil penelitian
Organization (WHO) tahun 2018 mmebuktikan bahwa angka restenosis
penyakit kardiovaskular telah merenggut setelah angioplasti koroner sederhana
nyawa sebesar 17,9 juta orang setiap tanpa stent adalah 30% sampai 40%,
tahun atau 31% dari semua kematian tetapi angka restenosis berkurang
global di dunia. Prevalensi penyakit sampai 20% bila stent digunakan (Kern
jantung di Indonesia sebesar 1.017.290 M.J. 2017). Intervensi Percutaneous
dan jumlah tertinggi di Jawa Barat Coronary adalah suatu pilihan yang
(Riskesdas, 2018). Berdasarkan data lebih direkomendasikan dari pada terapi
Survei Sample Registration System trombolisis walaupun memiliki manfaat
tahun 2018 angka kematian penyakit yang sama, namun PCI memiliki
jantung koroner sebesar 13,3% (Usman kemungkinan iskemia berulang atau
et al., 2018). SKA merupakan salah satu infark yang lebih rendah serta tingkat
penyakit jantung koroner yang keberhasilan yang baik dalam
menyebabkan tingginya angka revaskularisasi aliran darah koroner.
hospitalisasi dan tingginya angka Prosedur PCI dengan pemasangan STEN
mortalitas dengan komplikasi (PERKI, akan dapat membuka pembuluh darah
2018). Intervensi medis untuk mengatasi jantung yang mengalami sumbatan
penyempitan lumen pembuluh darah (Yudi, 2020).
koroner yang direkomendasikan adalah

Jurnal Kesehatan Volume 10 Nomor 1


e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947
Jurnal Kesehatan 27
STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta
Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

Stenosis pasca PCI dilakukan penelitian rekam medik didapatkan 63 responden


oleh (Wang et al., 2020) terhadap 209 yang mengalami serangan jantung
pasien yang menjalani terapi PCI berulang. Rerata serangan jantung terjadi
mengalami restenosis setelah satu tahun pada 614 hari. Faktor risiko hipertensi
intervensi sebanyak 30,62%. Restenosis sebagai factor risiko tertinggi sebesar
didefinisikan sebagai pengurangan 9,29 kali lebih besar dari pada pasien
diameter lumen setelah intervensi PJK tanda hipertaensi. Penelitian(Cheng
koroner perkutan (PCI), baik dengan et al., 2019) insiden ISR 8,21%.
atau tanpa implantasi stent. Diagnosis Peningkatan kadar hs-CRP dan kadar
secara angiografik lesi In-Stent homosistein setelah PCI, riwayat
Restenosis (ISR) adalah stenosis diabetes, lesi bifurkasi koroner, dan
berulang dengan diameter > 50% di panjang stent yang lebih besar dikaitkan
segmen stent atau sudut sudutnya (5mm dengan risiko ISR yang lebih tinggi PCI
bagian pinggiran stent), dapat terjadi ( p<0,05).
local (panjang lesi ≤10mm) atau difus
(panjang lesi ≥ 10 mm). Dari sudut Peneliti (Wihanda et al., 2015) ingin
pandang klinis, restenosis sering mengetahui faktor-faktor yang
dikaitkan dengan kambuhnya gejala berhubungan dengan In-Stent Restenosis
angina atau sindrom koroner akut, dan (ISR) pada pasien pasca Percutaneous
dapat mendorong dilakukannya Coronary Intervention (PCI dengan
intervensi ulang baik dengan bypass menggunakan rekam medik pasien pasca
arteri koroner atau PCI ulang (Eeckhout PCI bulan Januari tahun 2009 - Maret
E, Serruys PW, Wijns W, dkk, 2012). 2014 di Pelayanan Jantung Terpadu/
RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo.
Pasien yang pernah mengalami serangan Didapat 289 subyek penelitan yang
jantung masih ada risiko mengalami terdiri atas 133(61,3%) mengalami ISR.
serangan berulang akibat adanya Studi Prospektif (Song et al., 2021)
pembuluh darah baru atau restenosis risiko serangan AMI pada Pasien di RS
pada lokasi pemasangan STEN. di Cina terhadap 3387 pasien yang
Penelitan yang dilakukan (Damayanti & dirawat di 53 rumah sakit karena AMI
Wibowo, 2017) di RS Islam Surabaya dan dipulangkan hidup-hidup. Kejadian
data dikumpulkan tahun 2015-2016 dari AMI berulang diklasifikasikan sebagai

Jurnal Kesehatan Volume 10 Nomor 1


e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947
Jurnal Kesehatan 28
STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta
Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

awal (1-30 hari), terlambat (31-180 hari), jadwal olahraga tidak teratur (p < 0,01 ;
dan sangat terlambat (181-365 hari). disesuaikan OR= 9,15; dan riwayat
Tingkat IMA berulang 1 tahun yang merokok (p= 0,02; OR= 4,07.
diamati adalah 2,5% (95% CI 2,00
hingga 3,07) dengan 35,7% kejadian Serangan jantung berulang berdampak
terjadi dalam 30 hari pertama. AMI secara fisik maupun secara psikologis.
berulang dikaitkan dengan kematian 1 Secara fisik berisiko meningkatkan
tahun perama sebesar 25,42 (95% CI morbiditas dan mortalitas. Sedangkan
15,27 hingga 42,34). secara psikologis pasien PJK mengalami
ketakutan terhadap kematian dan juga
Dampak adanya stenosis baru adalah kecemasan terhadap finansial. Kejadian
risiko serangan jantung berulang. serangan jantung berulang diharapkan
Serangan jantung berulang dapat dapat dicegah pada pasien yang memiliki
diakibat beberapa hal antara lain karena faktor risiko yang dapat dimodifikasi
procedural atau adanya oklusi pada (Ignatavicius; Donna D.; Workman; M.
pembuluh darah yang baru. Pasien Linda; P, 2018).
berusia tua dengan stenosis berat pada
RCA 90% dan pasien riwayat DM Data rekam medik RS X Tanggerang
sangat beriko mengalami gangguan Banten pada tahun 2019 didapatkan
sirkulasi pasca pemasangan sten (Yudi, kejadian pasien penderita PJK yang
2020). Penelitian (Aditya et al., 2018) dilakukan tindakan PCI berjumlah 65
yang bertujuan untuk menganalisis orang dan tahun 2020 ada peningkatan
faktor risiko yang berhubungan dengan menjadi 75 orang beberapa pasien
kejadian PJK berulang secara mengalami serangan jantung berulang
observasional di Rumah Sakit Umum yang berdampak pada meningkatnya
Dr. Mohamad Soewandhie, Surabaya kecemasan akan risiko kematian dan
bulan Februari - Juli 2018. terhadap 43 biaya perawatan. RS X memiliki
kasus dan 43 kontrol didapatkan faktor layanan unggulan pada kardiovaskuler
risiko yang paling berpengaruh terhadap mengharapkan dapat memberikan
kekambuhan PJK adalah kontrol Low perawatan yang maksimal pada pasien
Density Lipoprotein Cholesterol (LDL- PJK agar tidak terjadi serangan jantung
C) 100 mg/dL (p= 0,03; OR= 3,35, berulang. Perlunya dilakukan penelitian

Jurnal Kesehatan Volume 10 Nomor 1


e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947
Jurnal Kesehatan 29
STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta
Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

untuk mengetahui Faktor – Faktor yang pencatatan dari data rekam medik pasien.
Berhubungan dengan Serangan Jantung Variabel dependen serangan jantung
Berulang ada Pasien Post Percutaneous berulang pada pasien post PCI
Transluminal Coronary Angioplasty Di dinyatakan serangan jantung apabila
Rs X Tanggerang Banten. pasien mengalami keluhan dua dari tiga
keluhan antara lain angina pectoris,
METODE PENELITIAN adanya perubahan gambaran EKG pada
Metode penelitian ini retrospektif segmen ST atau T dan adanya
dengan desain cross sectional. peningkatan enzim jantung. Analisis
Penelitian ini bertujuan untuk bivariat menggunakan uji statistik Chi
mengidentifikasi variabel independen square pada tingkat kepercayaan 95%
(hubungan antara Usia, Jenis kelamin, dengan 0,05 ( jika p value < 0,05 maka
Diebetes Melitus, Hipertensi, artinya ada hubungan bermakna antar
Dislipidemia, dan Merokok) terhadap variabel, jika p value > 0,05 maka artinya
variabel dependen ( serangan jantung tidak ada hubungan antar variabel.
berulang pada pasien post PCI di RS X).
Populasi dalam penelitian ini adalah HASIL PENELITIAN
pasien serangan jantung yang menjalani Distribusi frekuensi dalam penelitian ini
intervensi PCI yang sedang berobat di menggambarkan distribusi frekuensi dari
Poli Rawat Jalan RS. X pada Januari variabel independen yaitu Usia, Diabetes
2019 – Desember 2020 dengan jumlah Melitus, Hipertensi, Dislipidemia dan
sample sebanyak 112 responden. Data Merokok. Variabel dependen yaitu
dikumpulkan melalui observasi dan serangan jantung berualang

Jurnal Kesehatan Volume 10 Nomor 1


e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947
Jurnal Kesehatan 30
STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta
Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

Tabel 1
Distribusi Frekwensi Karakteristik Responden yang Menjalani Prosedur PCI Di RS X
Tanggerang-Banten

Karakteristik responden frekwensi %


Usia
Dewasa < 55 th 31 27,7
Lansia ≥ 55 th 81 72,3
Jenis kelamin
Laki-laki 89 79,5
Perempuan 23 20,5
Riwayat DM
Ada riwayat DM 56 50
Tidak ada riwayat DM 56 50

Riwayat Hipertensi
Ada riwayat hipertensi 67 59,8
Tidak ada riwayat hipertensi 45 40,2

Riwayat Dislipidemia
Ada riwayat dyslipidemia 74 66,1
Tidak ada riwayat dyslipidemia 38 33,9

Riwayat merokok
Merokok 38 33,9
Tidak merokok 74 66,1

Serangan jantung berulang


Ya 35 31,3
Tidak 77 68,8

Tabel 1 menunjukkan mayoritas responden yang menjalani prosedur PCI adalah berusia
lebih dari 55 tahun (72,3%), berjenis kelamin laki-laki (79,5%), riwayat DM dan tidak
masing-masing 50%, riwayat hipertensi (59,8%), riwayat dyslipidemia (66,1%), riwayat
tidak merokok (66,1%) dan tidak mengalami serangan jantung berulang (68,8%).

Jurnal Kesehatan Volume 10 Nomor 1


e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947
Jurnal Kesehatan 31
STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta
Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

Tabel 2
Analisis Hubungan Antara Karakteristik Responden dengan Serangan Jantung
Berulang yang Menjalani Prosedur PCI Di RS X Tanggerang Banten

Serangan jantung berulang TOTAL p-value


Karakteristik responden YA Tidak
n % n % n %
Usia
Dewasa < 55 th 9 29 22 71 31 100
Lansia ≥ 55 th 26 32,1 55 67,9 81 100 0,932
Total 35 31,3 77 68,8 112 100

Jenis kelamin
Laki-laki 27 30,3 62 69,7 89 100 0,682
Perempuan 8 34,8 15 65,2 23 100
Total 35 31,3 77 68,8 112 100

Riwayat DM 23 41,1 33 58,9 35 100


Ada 12 21,4 44 78,6 77 100 0,041
Tidak 35 31,3 77 68,8 112 100
Total
Riwayat Hipertensi
Ada 24 35,8 43 64,2 67 100 0,287
Tidak 11 24,4 34 75,6 45 100
Total 35 31,3 77 68,8 112 100

Riwayat Dislipidemia
Ada 25 33,8 49 66,2 74 100
Tidak 10 26,3 28 73,7 38 100 0,554
Total 35 31,3 77 68,8 112 100

Riwayat merokok
Merokok 12 31,6 26 68,4 38 100 0,100
Tidak merokok 23 31,1 51 68,9 74 100
Total 35 31,3 77 68,8 112 100

Table 2 menunjukkan dari 35 responden yang mengalami serangan jantung berulang 26


subjek berusia ≥ 55 th, 27 orang laki-laki, 23 orang dengan riwayat DM, 24 orang dengan
riwayat hipertensi, 25 orang dengan riwayat dislipidemia dan mayoritas tidak merokok
23 orang. Secara statistic didapatkan hanya riwayat DM yang berhubungan dengan
kejadian serangan jantung berulang dengan p-value 0,04 (<0,05). Tidak ada hubungan
antara usia ( p-value: 0,932), jenis kelamin (p-value 0,682), riwayat hipertensi (p-value
0,287), riwayat dislipidemia (p-value 0,554) dan riwayat merokok (p-value 0,100) dengan
kejadian serangan jantung berulang dengan.

Jurnal Kesehatan Volume 10 Nomor 1


e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947
Jurnal Kesehatan 32
STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta
Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

PEMBAHASAN oleh (Susanti et al., 2018) usia rata-rata


Etiologi sumbatan pada pembuluh darah 54 ,10 tahun termuda 42 tahun dan tertua
koroner adalah atherosclerosis, 79 tahun yang menjalani PCI berulang
kerentanan terhadap aterosklerosis dan tidak ada hubungan dengan usia p-
koroner meningkat dengan value >0,05.
bertambahnya usia (Ignatavicius; Donna
D.; Workman; M. Linda; P, 2018). Usia Namun penelitian ini tidak didukung
lanjut dikaitkan dengan peningkatan oleh penelitian (Song et al., 2021)
mortalitas pada infark miokard akut. terhadap 3387 pasien di RS di China
Sekitar 80% kematian akibat penyakit dengan rata-rata usia responden yang
jantung terjadi pada orang berusia 65 mengalami serangan jantung berulang
tahun atau lebih (Rathore, 2018). adalah 60,7 tahun dan ada hubungan
antara usia dengan kejadian serangan
Penelitian ini didukung oleh penelitian jantung berulan dengan nilai p-value
(Damayanti & Wibowo, 2017) terhadap <0,001. Demikian juga (Song et al.,
63 pasien yang mengalami serangan 2021) yang menyatakan ada hubungan
jantung berulang didapatkan mayoritas antara usia dengan serangan AMI
berusia lebih dari 55 tahun dan tidak ada berulang dengan p-value 0,001 dengan
hubungan yang bermakna usia dengan rata-rata usia 60,7 tahun
serangan jantung berulang dengan p- Bertambahnya usia tidak otomatis
value 0,823. Demikian juga penelitian meningkatkan serangan jantung
(Susanti et al., 2018) terhadap 70 pasien berulang, namun perubahan gaya hidup
PJK yang menjalani tindakan PCI berperan dalam pencegahan restenosis.
berulang didapatkan berusia rata-rata Pada saat penelitian ini didapatkan
54,10 tahun dan tidak ada hubungan responden dapat menjaga pola hidupnya
antara usia dengan kejadian restenosis. dengan baik, menghindari makanan yang
Demikian juga penelitian (Wihanda et sudah diedukasi oleh dokter seperti
al., 2015) terhadap 289 subjek penelitian junkfood, gorengan, jeroan, daging
didapatkan tdiak ada hubungan usia olahan, seafood, minuman bersoda dan
dengan kejadian stenosis pada lokasi kontrol secara rutin ke RS X Tanggerang
pemasangan sten pasca PCI dengan nilai Banten sehingga keadaan responden
p-value 0,054. Demikian juga penelitian dapat terkontrol dengan baik dan

Jurnal Kesehatan Volume 9 Nomor 1


e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947
Jurnal Kesehatan 33
STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta
Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

menurunkan tingkat kemungkinan memperbaiki pola hidup agar terhindar


terjadinya serangan jantung berulang. dari risiko serangan jantung berulang.

Hubungan Antara Jenis Kelamin Hubungan Antara Riwayat Diabetes


Dengan Serangan Jantung Berulang Melitus Dengan Serangan Jantung
Jenis kelamin pria cenderung mengalami Berulang
serangan jantung lebih awal daripada Diabetes mellitus merupakan faktor
wanita. Tingkat serangan jantung wanita risiko tinggi untuk penyakit
meningkat setelah menopause tetapi kardiovaskular. Diabetes meningkatkan
tidak sama dengan tingkat pria. Meski risiko infark miokard karena
begitu, penyakit jantung adalah meningkatkan laju perkembangan
penyebab utama kematian baik bagi pria aterosklerotik dan mempengaruhi profil
maupun wanita (Rathore, 2018). lipid dan memfasilitasi pembentukan
Penelitian ini didukung oleh (Susanti et plak aterosklerotik. Orang dengan
al., 2018) terhadap 70 pasien yang diabetes mellitus tipe 2 memiliki
menjalani PCI berulang didapatkan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular
mayoritas responden yang menjalani yang lebih tinggi dibandingkan dengan
PCI berulang adalah laki-laki, dan tidak subyek non-diabetes. Diabetes
ada hubungan antara jenis kelamin meningkatkan risiko penyakit jantung
dengan PCI berulang dengan p value koroner (PJK) dua hingga empat kali
0,111. Demikian juga (Wihanda et al., lipat. Pasien dengan diabetes
2015) yang menyatakan tidak ada menanggung risiko lebih besar dari
hubungan jenis kelamin dengan penyakit pembuluh darah aterosklerotik
serangan jantung berulang dengan p- di jantung serta di daerah vaskularisasi
value 0,495. lainnya (Rathore, 2018).

Penelitian ini tidak didukung oleh (Song Penelitian ini didukung oleh (Cheng et
et al., 2021) yang menyatakan ada al., 2019) menyatakan ada hubungan
hubungan antara jenis kelamin dengan bermakna antara DM dengan insiden
serangan AMI berulang dengan p-value ISR (p-<0,05). Diabetes sekarang diakui
0,025. Baik laki-laki dan perempuan sebagai faktor risiko independen untuk
mempunyai kesempatan untuk CAD pada pasien PJK dan juga

Jurnal Kesehatan Volume 9 Nomor 1


e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947
Jurnal Kesehatan 34
STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta
Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

merupakan faktor risiko ISR setelah PCI. Demikian juga (Song et al., 2021) yang
Keadaan hiperkoagulasi jangka panjang, menyatakan ada hubungan antara DM
metabolisme endotel vaskular, dan dengan serangan AMI berulang dengan
disfungsi aliran darah arteri koroner pada p-value 0,007.
pasien diabetes dapat meningkatkan
risiko trombosis. Insulin dapat Penelitian ini tidak didukung oleh
mengaktifkan beberapa faktor (Wihanda et al., 2015) penelitian di
pertumbuhan untuk memicu hiperplasia RSCM yang menyatakan tidak ada
intima, proliferasi dan migrasi sel otot hubungan antara DM dengan kejadian
polos pembuluh darah, dan deposisi restenosis dengan p-value 0,056.
matriks ekstraseluler, dan mempercepat Penelitian lainnya (Damayanti &
pembentukan restenosis (Fujita T, Wibowo, 2017) didapatkan mayoritas
Hemmi S, Kajiwara M et al 2013 dalam responden yang mengalami serangan
(Cheng et al., 2019). Demikian ujia jantung berulang mayoritas tidak ada
didukung oleh (Singh et al., 2014) untuk riwayat DM, tapi secara statistic ada
mengetahui restenosis post angiografi perbedaan, dimana tidak ada pengaruh
terhadap 1312 pasien, didaptkan tingkat DM dengan kejadian serangan jantung
restenosis adalah 28% adanya diabetes berulang p value 0,9723. Demikian juga
mellitus yang diobati memiliki risiko tidak didukung oleh (Susanti et al., 2018)
45% lebih tinggi untuk restenosis yang menyatakan tidak ada hubungan
dibandingkan dengan nondiabetic (p riwayat DM dengan tindakan PCI
0,014). berulang dengan p-value 0,249.

Penelitian (Wang et al., 2020) terhadap Hubungan Antara Riwayat Hipertensi


Pasien yang menjalani angiografi Dengan Resiko Serangan Jantung
koroner 1 tahun setelah PCI di rumah Berulang
sakit dari Januari 2017 hingga Mei 2019 Hipertensi Merupakan faktor risiko
terhadap 209 pasien didapatkan utama penyebab aterosklerosis pada
kejadian ISR setelah PCI adalah 30,62%. pembuluh darah koroner,
Terdapat perbedaan yang signifikan mengakibatkan serangan jantung atau
pada diabetes antara kelompok ISR dan infark miokard. Hipertensi dan infark
pasien tanpa ISR (semua p <0,05). miokard berhubungan erat. Di usia tua,

Jurnal Kesehatan Volume 9 Nomor 1


e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947
Jurnal Kesehatan 35
STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta
Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

hipertensi bahkan lebih buruk bagi Dislipidemia sebagai faktor risiko tinggi
jantung dan bertanggung jawab atas penyakit kardiovaskular, umumnya
setidaknya 70 persen penyakit jantung. didefinisikan sebagai kadar kolesterol
Hipertensi mempercepat efek pada total, LDL, trigliserida, apo B atau Lp (a)
ateroma, meningkatkan tegangan geser di atas persentil ke-90 atau HDL dan
pada plak, memberikan efek fungsional kadar apo A di bawah persentil ke-10
yang merugikan pada sirkulasi koroner, dari populasi umum.
dan merusak fungsi endotel dan kontrol
tonus simpatis (Rathore, 2018). Hasil Peningkatan kadar trigliserida dan padat,
penelitian ini didukung oleh (Wihanda et partikel LDL kecil bertindak sebagai
al., 2015) yang menyatakan tidak ada faktor risiko predisposisi untuk infark
hubungan antara riwayat hipertensi miokard. Tingkat trigliserida tidak puasa
dengan restenosis dengan p-value 0,07. tampaknya menjadi prediktor yang kuat
dan independen dari risiko IMA di masa
Namun, hasil penelitian ini tidak depan, terutama ketika tingkat kolesterol
didukung penelitian (Song et al., 2021) total juga meningkat. Alasan di baliknya
yang menyatakan ada hubungan antara adalah bahwa penurunan kadar HDL-C
riwayat hipertensi dengan serangan AMI dan peningkatan kadar trigliserida
berulang dengan p-value 0,006. menyebabkan gangguan metabolisme
Demikian juga penelitian (Damayanti & dan dengan demikian menyebabkan
Wibowo, 2017) didapatkan mayoritas konsekuensi yang merugikan. Tingginya
responden yang mengalami serangan kadar kolesterol total, LDL dan
jantung berulang mayoritas dengan rendahnya kadar HDL merupakan faktor
riwayat hipertensi namun secara statistic risiko utama aterosklerosis koroner.
ada hubungan antara riwayat hipertresi Koreksi dislipidemia dapat mengurangi
dengan serangan jantung berulang p risiko infark miokard (Rathore, 2018).
0,008 Penelitian ini didukung penelitian
(Damayanti & Wibowo, 2017)
Hubungan Antara Riwayat didapatkan mayoritas responden yang
Dislipidemia Dengan Resiko Serangan mengalami serangan jantung berulang
Jantung Berulang ada riwayat dislipidemia dan tidak ada
pengaruh dislipidemia dengan serangan

Jurnal Kesehatan Volume 9 Nomor 1


e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947
Jurnal Kesehatan 36
STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta
Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

jantung berulang dengan nilai p-value darah sistolik. Peningkatan produk laju-
9,941. Akan tetapi tidak didukung tekanan ini menyebabkan peningkatan
penelitian (Song et al., 2021) yang kebutuhan oksigen miokard.
menyatakan ada hubungan antara Peningkatan aktivitas SNS juga
dyslipidemia dengan serangan AMI menyebabkan vasokonstriksi arteri
berulang dengan p-value 0,01. koroner, menurunkan aliran darah
miokard pada saat kebutuhan oksigen
Hubungan Antara Riwayat Merokok meningkat. Selain meningkatkan
Dengan Resiko Serangan Jantung kebutuhan oksigen miokard dan
Berulang mengurangi aliran darah koroner,
Merokok dianggap sebagai faktor risiko merokok juga menyebabkan
kuat infark miokard, aterosklerosis dini peningkatan kadar karboksihemoglobin
dan kematian jantung mendadak. dalam darah, dengan potensi untuk lebih
Merokok menyebabkan STEMI dini lanjut mengurangi pengiriman oksigen
terutama pada pasien yang lebih sehat. miokard dari oksihemoglobin (Rathore,
Sehubungan dengan aterogenesis, 2018). Penelitian ini tidak didukung oleh
merokok meningkatkan serum LDL- (Singh et al., 2014) untuk mengetahui
kolesterol dan konsentrasi trigliserida restenosis post angiografik terhadap
dan mengurangi serum HDL-kolesterol. 1312 pasien didapatkan Kebiasaan
Selanjutnya, asap rokok meningkatkan perokok secara bermakna risiko
kerusakan radikal bebas pada LDL, yang restenosis dengan p 0,005 memiliki lebih
menyebabkan akumulasi kolesterol LDL sedikit restenosis. Dijelaskan bahwa
teroksidasi di dalam dinding arteri. kandungan dalam rokok menyebabkan
Merokok tampaknya berkontribusi pada vasokonstrikti pembuluh darah kecil dan
karakteristik inflamasi vaskular dari lesi yang menyebabkan tergangunya
aterosklerosis, seperti yang dicerminkan aliran darah koroner. Demikian juga oleh
oleh kadar protein C-reaktif serum yang (Susanti et al., 2018) yang menyatakan
lebih tinggi pada perokok daripada non- fakor risiko terbesar tindakan PCI
perokok. Merokok, terutama melalui berulang adalah riwayat merokok yaitu
kandungan nikotinnya, mengaktifkan pasien yang merokok mempunyai
sistem saraf simpatik (SNS), peluang 13,157 PCI berulang daripada
meningkatkan detak jantung dan tekanan yang tidak merokok dan secara

Jurnal Kesehatan Volume 9 Nomor 1


e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947
Jurnal Kesehatan 37
STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta
Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

bermakna ada hubungan dengan p-value M. A. (2018). Risk Factor Analysis


0,002. Demikian juga (Wihanda et al., of Recurrent Acute Coronary
2015) menyatakan ada hubungan Syndrome. Jurnal Berkala
riwayat merokok dengan restenosis Epidemiologi, 6(3), 192.
dengan p-value 0,008. https://doi.org/10.20473/jbe.v6i32
018.192-199
KESIMPULAN
Cheng, G., Chang, F. J., Wang, Y., You,
Penyakit jantung koroner merupakan
P. H., Chen, H. C., Han, W. Q.,
dengan angka morbiditas dan mortalitas
Wang, J. W., Zhong, N. E., & Min,
yang tinggi akibat adanya oklusi pada
Z. Q. (2019). Factors influencing
pembuluh darah coroner yang
stent restenosis after percutaneous
berdampak mengami henti jantung.
coronary intervention in patients
Tatalaksana oklusi pada pembuluh darah
with coronary heart disease: A
yang umum dipilih adalah dengan
clinical trial based on 1-year
prosedur PCI pemasangan STEN untuk
follow-up. Medical Science
membuka pembuluh darah coroner yang
Monitor, 25, 240–247.
tersumbat. Pasien yang telah mengalami
https://doi.org/10.12659/MSM.90
tindakan PCI berpeluang mengalami
8692
serangan jantung berulang. Beberapa
Eeckhout E, Serruys PW, Wijns W, dkk.
faktor berhubungan dengan kejadian
editor. (2012) Pengobatan
serangan jantung berulang. Dalam
Kardiovaskular Intervensi
penelitian ini faktor risiko yang
Perkutan: PCR - Buku Teks
bermakna terkait dengan serangan
EAPCI. Europa Ed. PCR Publ.,
jantung berulang adalahn adanya riwayat
785-826
diabetes mellitus. Faktor lain seperti
Damayanti, F. P., & Wibowo, A. (2017).
usia, jenis kelamin, riwayat hipertensi,
Analaissi Survival enyakt jantung
riwayat merokok, riwayat dyslipidemia
Koroner Berulang. In Jurnal
secara statistic tidah berhubungan
Biometrika dan Kependudukan:
dengan kejadian serangan jantung
Vol. 6 No.1 (pp. 43–51).
berulang dengan p>0,05.
Ignatavicius; Donna D.; Workman; M.

DAFTAR PUSTAKA Linda; P. (2018). MEDICAL-

Aditya, M., Wahjuni, C. U., & Isfandiari, SURGICAL NURSING Apatient-

Jurnal Kesehatan Volume 9 Nomor 1


e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947
Jurnal Kesehatan 38
STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta
Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

Centered Collaboratiove Care. In 8.76486


Elsevier: Vol. ‫( ق ق ثق ث‬Issue 8). Riskesdas. (2018). Laporan Nasional
Kern M.J. (2017) The Basics of Riset Kesehatan Dasar.
Percutaneous Coronary Kementerian Kesehatan RI, 1–
Interventions. In: The 582.
Interventional Cardiac Singh, M., Gersh, B. J., McClelland, R.
Catheterization Handbook. L., Ho, K. K. L., Willerson, J. T.,
Lawton, J. S., Tamis-Holland, J. E., Penny, W. F., & Holmes, D. R.
Bangalore, S., Bates, E. R., Beckie, (2014). Clinical and angiographic
T. M., Bischoff, J. M., Bittl, J. A., predictors of restenosis after
Cohen, M. G., DiMaio, J. M., Don, percutaneous coronary
C. W., Fremes, S. E., Gaudino, M. intervention: Insights from the
F., Goldberger, Z. D., Grant, M. Prevention of Restenosis with
C., Jaswal, J. B., Kurlansky, P. A., Tranilast and Its Outcomes
Mehran, R., Metkus, T. S., (PRESTO) trial. Circulation,
Nnacheta, L. C., … 109(22), 2727–2731.
Zwischenberger, B. A. (2021). https://doi.org/10.1161/01.CIR.00
2021 ACC/AHA/SCAI Guideline 00131898.18849.65
for Coronary Artery Song, J., Murugiah, K., Hu, S., Gao, Y.,
Revascularization: A Report of the Li, X., Krumholz, H. M., & Zheng,
American College of X. (2021). Incidence, predictors,
Cardiology/American Heart and prognostic impact of recurrent
Association Joint Committee on acute myocardial infarction in
Clinical Practice Guidelines. In China. Heart, 107(4), 313–318.
Circulation. https://doi.org/10.1136/heartjnl-
https://doi.org/10.1161/cir.000000 2020-317165
0000001038 Susanti, D., Nurachmah, E., & Herawati,
Rathore, V. (2018). Risk Factors of T. (2018). Faktor yang
Acute Myocardial Infarction: A menyebabkan kejadian In-Stent
Review. Eurasian Journal of Re-stenosis pada Pasien Penyakit
Medical Investigation, 2(1), 1–7. Jantung Koroner Pendahuluan.
https://doi.org/10.14744/ejmi.201 Stikes Mitra Keluarga, 1–8.

Jurnal Kesehatan Volume 9 Nomor 1


e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947
Jurnal Kesehatan 39
STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta
Homepage: jurnal.stikesbethesda.ac.id

Usman, Y., Iriawan, R. W., Rosita, T.,


Lusiana, M., Kosen, S., Kelly, M.,
Forsyth, S., & Rao, C. (2018).
Indonesia’s sample registration
system in 2018: A work in
progress. Journal of Population
and Social Studies, 27(1), 39–52.
https://doi.org/10.25133/JPSSV27
N1.003
Wang, P., Qiao, H., Wang, R. J., Hou, R.,
& Guo, J. (2020). The
characteristics and risk factors of
in-stent restenosis in patients with
percutaneous coronary
intervention: what can we do.
BMC Cardiovascular Disorders,
20(1), 1–6.
https://doi.org/10.1186/s12872-
020-01798-2
Wihanda, D., Alwi, I., Yamin, M.,
Shatri, H., & Mudjaddid, E.
(2015). Factors Associated with
In-stent Restenosis in Patients
Following Percutaneous Coronary
Intervention. Acta Medica
Indonesiana, 47(3), 209–215.

Jurnal Kesehatan Volume 9 Nomor 1


e-ISSN: 2502-0439
p-ISSN: 2338-7947