Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

SKIZOAFEKTIF TIPE DEPRESIF

DISUSUN OLEH :

Melda Khairunnisa

Nurjamilatunnisa

PEMBIMBING :

Dr. Agung Frijanto. Sp.KJ

KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN JIWA


RUMAH SAKIT JIWA ISLAM KLENDER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2015

0
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT karena hanya dengan kekuasaan dan kehendak-Nya
tugas laporan kasus ini dapat terlaksana dan terselesaikan pada waktunya. Shalawat serta
salam juga penulis haturkan ke junjungan besar Nabi Muhammad SAW yang telah membawa
umat manusia dari zaman Jahilliyah menuju zaman yang penuh cahaya bagi umat yang
bertaqwa kepada-Nya.

Tugas Presentasi kasus yang berjudul “Skizoafektif tipe depresi” ini saya buat dengan
tujuan untuk memenuhi tugas kepaniteraan di stase Psikiatri di RS Jiwa Klender. Dan juga
agar dapat secara utuh tercipta hubungan yang harmonis antara antara ilmu teoritis yang saya
dapat dengan aplikasi nyata dalam praktek klinis kehidupan sehari-hari.

Rasa terima kasih yang begitu dalam ingin saya sampaikan kepada pembimbing
kami, Dr. Agung Frijanto. Sp.KJ, yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk
memberikan bimbingan selama kami bertugas di RSIJ Klender. Selain itu, karena telah
memberikan tauladan serta nasehat moral yang begitu berharga kepada kami selama ini.

Saya menyadari ketidaksempurnaan Tugas Laporan kasus ini.. Untuk itu saya sangat
mengharapkan saran, kritik, dan koreksi untuk perbaikan. Semoga Laporan kasus ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, September 2015

Penulis

1
BAB I

STATUS PSIKIATRI

I. IDENTITAS
 Nama : Ny.UA
 Usia : 40 tahun
 Jenis kelamin : Perempuan
 Agama : Islam
 Alamat : Pondok Labu, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
 Masuk RS : 15 September 2015
 Dokter : dr. H.M.Muadz, Sp.KJ
 Status : Menikah

II. ANAMNESIS

Berdasarkan:

– Autoanamnesis: Tanggal 17 September 2015

– Alloanamnesis: Tanggal 17 September 2015 ( tante pasien)

← Keluhan utama: Pasien sering berbicara sendiri sejak 2 hari yang lalu.

Riwayat Psikiatri

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke Poli Jiwa RS Jiwa Islam Bunga Rampai diantar oleh tante
pasien dengan keluhan sering berbicara sendiri sejak 2 hari yang lalu SMRS. Menurut
keterangan tantenya pasien mengalami perubahan sikap menjadi banyak bicara,
bicaranya menjadi kacau, pasien gelisah, menangis sendiri, terlihat kebingungan dan
sering mengurung diri di kamar.

Menurut keterangan pasien, sejak 2 minggu SMRS sering merasa sedih dan murung.
Pasien mengatakan bahwa ia merasa kehilangan kontak dengan adik kandung nya no. 3
yang berada di luar negri . Pasien sering melihat adiknya berada dirumah . pasien
terkadang juga sering mendengar adiknya berbisik sesuatu ke kupingnya, tetapi bisikan

1
tersebut tidak mentyuruh pasien untuk melakukan apapun. Pasien juga kadang sering
melihat kursi bergerak sendri dan seperti ada tulisan Allah di kursi tersebut. Pasien juga
merasa bahwa dirinya bisa membaca pikiran orang lain dan orang lain bisa membaca
pikiran nya. Pasien juga mengatakan sulit tidur.

Pada saat dilakukan wawancara pasien terlihat tenang dan pasien mengatakan sudah
tidak lagi melihat bayangan adiknya di sekitarnya. Bisikan-bisikan sudah jarang didengar
oleh pasien . Pasien dapat menjawab pertanyaan dengan baik dan menjawab pertanyaan
sesuai dengan apa yang ditanyakan. Pada saat wawancara pasien terlihat tenang. Pada saat
wawancara pasien lebih sering bercerita tentang adiknya dan menceritakan tentang kuliah
nya yang tidak selesai dikarenakan pasien sakit.

← Riwayat Penyakit Dahulu :

← Pasien pernah masuk rumah sakit jiwa, tahun 2014. Pasien mengatakan
adiknya sedang pergi keluar kota tetapi pasien sering mellihat adiknya berada di
rumah. Pasien merasa kehilangan kontak dengan adiknya. Pasien juga suka merasa
sedih dan murung.

← Keluarga pasien mengatakan, pasien pernah kuliah di FKG tahun 1998


kemudian di DO karena sering berbicara sendiri. Dan akhirnya pasien pindah ke
UNAS jurusan sastra inggri, tetapi pasien tidak selsai kuliah karena bicara nya
semakin kacau. Pasien juga sering mengurung diri dan mendengar bisikan-bisikan.
Kemudian keluarga pasien membawa ke rumah sakit jiwa.

← sejak saat itu, pasien tidak pernah kontrol lagi ke rumah sakit jiwa .
dan pasien terlihat berbicara sendiri dan sering mengurung diri.

Riwayat Pribadi

o Masa Prenatal
Pasien merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Lahir cukup bulan, lahir di bidan,
tidak ada masalah saat persalinannya.
o Masa kanak-kanak dini (0-3 tahun)
Menurut pasien, saat usia ini pasien seperti anak seusianya. Tidak pernah ada riwayat
kejang ataupun sakit sampai dirawat. Makan teratur, pasien diberikan ASI sampai usia

2
1 tahun. Bicara lancar saat usianya mencapai 1,5 tahun, tidak cadel. Senang bermain
dengan mainan yang baru. Tidak pernah merusak mainannya.
o Masa kanak-kanak pertengahan (4-11 tahun)
Pasien mulai masuk sekolah dasar saat usianya7 tahun. Pasien mengaku menyelesaikan
sekolah nya sebisanya saja.
o Masa pubertas
o Hubungan sosial
Hubungan pasien dengan kedua orangtua dan saudara nya cukup baik.

o Riwayat pendidikan
Pasien melakukan pendidikan formal dari mulai SD. Pasien hanya tamatan SD dan
tidak melanjutkan ke SMP karena masalah biaya. Pasien anak yang biasa biasa saja
tidak terlalu berprestasi dalam pendidikan formal. Pasien pernah mengikuti
pendidikan non formal seperti sekolah mengaji.
o Perkembangan kognitif dan motorik
Pasien tidak pernah mengalami hambatan dalam melakukan aktifitas gerak maupun
dalam pendidikan formal pasien tidak pernah tinggal kelas.
o Riwayat psikoseksual
Pasien tidak pernah memiliki gangguan dalam riwayat psikoseksual
o Masa Dewasa
o Riwayat Pekerjaaan
pasien pernah bekerja sebagai guru bahasa inggris di sebuah yayasan sd swasta.
o Riwayat perkawinan
Pasien menikah pada usia 20 tahun, dan cerai pada tahun 2007. Pasien memiliki 1
anak perempuan yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah dasar.
o Agama
Pasien beragama islam dengan pendidikan agama pasien yang didapat dari pendidikan
formal dan non formal seperti sekolah mengaji Sikap pasien terhadap agama baik
dengan selalu menjalankan sholat 5 waktu.
o Aktivitas sosial
Pasien mengajar bahasa inggris di sekolah dasar dan pasieb juga mengikuti kegiatan
pengajian di dekat rumah.
o Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum.

A. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak ke 1 dari 6 bersaudara. Ada riwayat gangguan jiwa dalam
keluarga yaitu anak laki-laki dari adik perempuan ayah pasien. Pasien tinggal bersama
tante nya dan anak laki-laki yang duduk di bangku SMP. Kedua orang tuanya sudah
meninggal.

3
III. PEMERIKSAAN MENTAL
Gambaran Umum
 Penampilan
Pasien adalah perempuan 46 tahun dengan tinggi badan sekitar 155 cm dan berat
badan sekitar 45 kg. Pasien berambut pendek, hitam , lurus dan terlihat cukup
rapih. Kulit sawo matang. Pasien terlihat sesuai dengan usianya. Pada saat
diwawancara pasien menggunakan kaos berlengan pendek berwarna pink dengan
celana panjang berwana coklat , tidak berdandan, namun tampak merawat diri.

 Perilaku dan aktivitas psikomotor


Selama wawancara pasien duduk di kursi dan berhadapan dengan pemeriksa.
Selama wawancara pasien hanya duduk saja, pasien tidak nampak tegang pada
saat wawancara, pasien tampak tenang, tatapan kontak mata dengan pemeriksa
baik. Pasien dapat menjawab pertanyaan dengan baik, dan menjawab sesuai
dengan apa yang ditanyakan.
Mood dan Afek
← Mood : hipotomik
← Afek : luas
← Keserasian : tidak serasi
Bicara
← Volume : jelas
← Irama : Monoton
← Kelancaran : lancar
Kecepatan : baik
Gangguan Persepsi
← Halusinasi :
– Auditorik: “mendengar bisikan dari adik kandungnya yang sedang belajar di
luar negri”
– Visual: “terkadang pasien melihat adik kandung nya berada disekitar rumah.
Pasien merasa tidak bisa keluar apabila pasien dirumah, dikarenakan pasien
merasa pintu rumah selalu tertutup”
– Taktil: Tidak ada
– Olfaktorik: Tidak ada
← Ilusi : ada “ melihat kursi seperti ada tulisan allah”
← Depersonalisasi: Tidak ada

4
← Derealisasi : Tidak ada
Pikiran
← Produktivitas: Normal
← Kontinuitas
– Flight of ideas: Tidak ada
– Blocking : Tidak ada
– Asosiasi longgar: Tidak ada
– Inkoherensi: Tidak ada
– Word salad: Tidak ada
– Neologisme: Tidak ada
– Sirkumstansial: Tidak ada
– Tangensialitas: Tidak ada
← Isi pikiran
– Ide rekuren tentang bunuh diri dan pembunuhan (+)
– Gangguan isi pikir
← Waham
– Waham sistematik : Tidak ada
– Waham Bizzare: Tidak ada
– Waham nihilistic:tidak ada
– Waham paranoid : waham kejar dan waham rujukan
– Waham Dikendalikan : tidak ada
– Waham cemburu : pernah ada
← Obsesi : tidak ada
← Kompulsi : tidak ada
← Fobia : tidak ada

Sensorium dan Kognitif

← Kesadaran : Compos mentis


← Orientasi
– Waktu : baik (Dapat menyebutkan hari dan tanggal, mengetahui waktu
wawancara dilakukan siang hari)
– Tempat : Baik (Pasien mengetahui bahwa dirinya berada di RS Jiwa
Klender, dan pasien mengetahui jalan pulang ke rumahnya. Pasien juga
mengetahui kamar bangsalnya, kamar perawat dan kamar mandi)
– Orang : Baik (Pasien mengetahui bahwa pemeriksa adalah dokter muda, dan
mampu menyebut orang yang ditunjuk, seperti suster, serta pasien sekitarnya)


← Daya ingat
– Jangka pendek: Baik (Pasiendapat mengingat 3 benda dan dapat
mengulangnya kembali setelah 5 menit diajak bicara)

5
– Jangka panjang: Baik (Pasien mengingat nama bapak, ibu, serta saudaranya)
– Segera : Baik
← Konsentrasi : terganggu
← Visospasial : Baik ( Pasien dapat menggambar bangunan segi lima yang diberikan)
← Pikiran abstrak: Baik (mengetahui persamaan apel dan jeruk)
Daya Nilai
← Penilaian Sosial : Cukup baik (Pasien jika pasien bertamu kerumah seseorang pasien
harus mengetuk pintu dan mengucapkan salam sebelum masuk kerumah)
← Uji Daya Nilai : Baik (Pasien ditanya apa respon yang akan dilakukan jika
menemukan dompet di pinggir jalan ? Pasien akan mengembalikannya)
← Tilikan : Tilikan 4 (Pasien menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan
namuntidak memahami penyebabnya)
← Taraf dapat dipercaya: Kurang dapat dipercaya

IV. STATUS FISIK


1. Status Internis
 Keadaan umum : Baik
 Nadi : 86 x/menit
 Suhu : Afebris
 Tekanan darah : 120/70 mmHg
 Tinggi badan : 155 cm
 Sistem Kardiovaskuler : tidak ada kelainan
 Sistem urogenital : tidak ada kelainan
 Kelainan khusus : tidak terdapat kelainan
2. Status Neurologis
- Gangguan rangsang meningeal : Negatif
- Mata
o Gerakan : Baik ke segala arah
o Persepsi : Tidak ada
o Bentuk pupil : Bulat, isokor, letak sentral
o Rangsang cahaya : Positif +/+
- Motorik
o Tonus : Baik
o Turgor : Kembali cepat
o Kekuatan : Normal
o Koordinator : Baik

V. DIAGNOSIS
Aksis I :
Berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna tersebut maka kasus ini digolongkan ke
dalam Gangguan Jiwa karena ditemukan adanya distress yang menyebabkan adanya

6
disfungsi dari kehidupan pasien. Gangguan kejiwaan ini di kelompokkan sebagai
Gangguan Mental dan Perilaku. Maka menurut PPDGJ 3, Gangguan Mental dan
Perilaku ini tidak dapat digolongkan menjadi gangguan mental organik karena tidak
ditemukan adanya kelainan dari fisik seperti kejang, riwayat trauma capitis. Pada pasien
ini juga tidak terdapat adanya riwayat penyalahgunaan Napza. Kasus ini dapat di
golongkan ke dalam Skizofrenia afektif tipe depresif (F25.1) sesuai dengan kriteria
diagnosis sebagai berikut:
 Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia (adanya waham dan halusinasi
yang onset nya lebih dari 1 bulan).
 Sebagai tambahan (halusinasi dan/atau waham harus menonjol):
o Pasien mendengar bisikan-bisikan dari adiknya yang berada diluar negri
o Pasien melihat adiknya berada di sekitar rumah
o Pasien sering melihat kursi seperti ada tulisan allah
o Pasien merasa bisa membaca pikiran orang
← Aksis II : gangguan kepribadian skizoid
← Aksis III : tidak ditemukan
← Aksis IV : Berkaitan dengan masalah keluarga yaitu ibu pasien yang terkena
kanker.
← Aksis V : GAF scale 60– 51.GAF scale 1 tahun terakhir 70 – 61.

VI. TERAPI
Psikofarmaka
 Trihexsifenydil 1 x 0,5 mg tab
 Risperidone 1 x 0,5 mg tab
 Depicot 1 x 250 mg

Psikoterapi
 Motivasi pasien untuk banyak ibadah.
 Menasehati pasien untuk lebih bersabar dalammengendalikan emosi.
 Terapi kerja.
 Member tahu keluarga agar dapat memotivasi pasien.

VII. PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam.
Quo ad functionam : dubia ad bonam.
Quo ad sanactionam : dubia ad malam.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Gangguan Skizoafektif mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun gangguan


afektif. Gangguan skizoafektif memiliki gejala khas skizofrenia yang jelas dan pada saat
bersamaan juga memiliki gejala gangguan afektif yang menonjol. Gangguan skizoafektif
terbagi dua yaitu, tipe manik dan tipe depresif.1,3

Sejarah

Di tahun 1913 George H. Kirby dan pada tahun 1921 August Hoch keduanya
menggambarkan pasien dengan ciri campuran skizofrenia dan gangguan afektif (mood).
Karena pasiennya tidak mengalami perjalanan demensia prekoks yang memburuk, Kirby dan
Hoch mengklasifikasikan mereka di dalam kelompok psikosis manic-depresif Emil
Kraepelin. Di tahun 1933 Jacob Kasanin memperkenalkan istilah “gangguan skizoafektif”
untuk suatu gangguan dengan gejala skizofrenik dan gejala gangguan mood yang bermakna.
Pasien dengan gangguan ini juga ditandai oleh onset gejala yang tiba-tiba, seringkali pada
masa remajanya. Pasien cenderung memiliki tingkat fungsi premorbid yang baik, dan
seringkali suatu stressor yang spesifik mendahului onset gejala. Riwayat keluarga pasien
sering kali terdapat suatu gangguan mood. Kasanin percaya bahwa pasien memiliki suatu
jenis skizofrenia. Dari 1933 sampai kira-kira tahun 1970, pasien yang gejalanya mirip dengan
gejala pasien-pasien Kasanin secara bervariasi diklarifikasi menderita gangguan skizoafektif,
skizofrenia atipikal, skizofrenia dalam remisi, dan psikosis sikloid.4

Epidemiologi

Prevalensi seumur hidup dari gangguan skizoafektif adalah kurang dari 1 persen,
kemungkinan dalam rentang 0,5 sampai 0,8 persen. Namun, angka tersebut adalah angka
perkiraan, karena di dalam praktik klinis diagnosis gangguan skizoafektif sering kali
digunakan jika klinisi tidak yakin akan diagnosis. Prevalensi gangguan telah dilaporkan lebih
rendah pada laki-laki dibandingkan para wanita; khususnya wanita yang menikah; usia onset
untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia untuk laki-laki seperti juga pada skizofrenia.
Laki-laki dengan gangguan skizoafektif kemungkinan menunjukkan perilaku antisosial dan
memiliki pendataran atau ketidaksesuaian afek yang nyata.

8
Etiologi

Sulit untuk menentukan penyebab penyakit yang telah berubah begitu banyak dari
waktu ke waktu. Dugaan saat ini bahwa penyebab gangguan skizoafektif mungkin mirip
dengan etiologi skizofrenia. Oleh karena itu teori etiologi mengenai gangguan skizoafektif
juga mencakup kausa genetik dan lingkungan.

Penyebab gangguan skizoafektif adalah tidak diketahui, tetapi empat model


konseptual telah diajukan.

1. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe skizofrenia atau suatu tipe
gangguan mood.
2. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama-sama dari skizofrenia
dan gangguan mood.
3. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe psikosis ketiga yang berbeda,
tipe yang tidak berhubungan dengan skizofrenia maupun suatu gangguan mood.
4. Kemungkinan terbesar adalah bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok
gangguan yang heterogen yang meliputi semua tiga kemungkinan pertama. Sebagian
besar penelitian telah menganggap pasien dengan gangguan skizoafektif sebagai suatu
kelompok heterogen.

Tanda dan Gejala

Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala gangguan
mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit yang sama, baik
secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila gejala skizofrenik dan
manik menonjol pada episode penyakit yang sama, gangguan disebut gangguan skizoafektif
tipe manik. Dan pada gangguan skizoafektif tipe depresif, gejala depresif yang menonjol.2
Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi, perubahan dalam
berpikir, perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala gangguan suasana perasaan baik itu
manik maupun depresif.2,3
Gejala klinis berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa
(PPDGJ-III):3 Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a) “thought echo” = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda ; atau “thought insertion or withdrawal” = isi yang asing dan

9
luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh
sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan “thought broadcasting”= isi pikirannya
tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya;
b) “delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan
tertentu dari luar; atau “delusion of passivitiy” = waham tentang dirinya tidak
berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang ”dirinya” = secara
jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau
penginderaan khusus). “delusional perception” = pengalaman indrawi yang tidak
wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau
mukjizat.
c) Halusinasi Auditorik: Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus
terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien pasein di antara
mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau jenis suara
halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap
tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau
politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya
mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan
dunia lain).
e) Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas)
yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau
berbulan-bulan terus menerus.
f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation),
yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme.
g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.
h) Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan
penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus
jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi
neuroleptika.

10
Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu
bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal). Harus ada suatu
perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan
beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat,
hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed
attitude) dan penarikan diri secara sosial.

Diagnosis
Konsep gangguan skizoafektif melibatkan konsep diagnostik baik skizofrenia maupun
gangguan mood, beberapa evolusi dalam kriteria diagnostik untuk gangguan skizoafektif
mencerminkan perubahan yang telah terjadi di dalam kriteria diagnostik untuk kedua kondisi
lain.

Kriteria diagnostik utama untuk gangguan skizoafektif (Tabel 1) adalah bahwa pasien
telah memenuhi kriteria diagnostik untuk episode depresif berat atau episode manik yang
bersama-sama dengan ditemukannya kriteria diagnostik untuk fase aktif dari skizofrenia.
Disamping itu, pasien harus memiliki waham atau halusinasi selama sekurangnya dua
minggu tanpa adanya gejala gangguan mood yang menonjol. Gejala gangguan mood juga
harus ditemukan untuk sebagian besar periode psikotik aktif dan residual. Pada intinya,
kriteria dituliskan untuk membantu klinisi menghindari mendiagnosis suatu gangguan mood
dengan ciri psikotik sebagai suatu gangguan skizoafektif.

Tabel 1. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Skizoafektif (DSM-IV)

Kriteria Diagnostik Untuk Gangguan Skizoafektif

A. Suatu periode penyakit yang tidak terputus selama mana, pada suatu waktu.

Terdapat baik episode depresif berat, episode manik, atau suatu episode campuran
dengan

gejala yang memenuhi kriteria A untuk skizofrenia.

Catatan: Episode depresif berat harus termasuk kriteria A1: mood terdepresi.

B. Selama periode penyakit yang sama, terdapat waham atau halusinasi selama

sekurangnya 2 minggu tanpa adanya gejala mood yang menonjol.

C. Gejala yang memenuhi kriteria untuk episode mood ditemukan untuk sebagian

bermakna dari lama total periode aktif dan residual dari penyakit.

11
D. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat

yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum.

Sebutkan tipe:

Tipe bipolar: jika gangguan termasuk suatu episode manik atau campuran (atau
suatu manik

suatu episode campuran dan episode depresif berat)

Tipe depresif: jika gangguan hanya termasuk episode depresif berat.

Tabel dari DSM-IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Ed. 4.

DSM-IV juga membantu klinisi untuk menentukan apakah pasien menderita


gangguan skizoafektif, tipe bipolar, atau gangguan skizoafektif, tipe depresif. Seorang pasien
diklasifikasikan menderita tipe bipolar jika episode yang ada adalah dari tipe manik atau
suatu episode campuran dan episode depresif berat. Selain itu, pasien diklasifikasikan
menderita tipe depresif.5

Pada PPDGJ-III, gangguan skizoafektif diberikan kategori yang terpisah karena cukup
sering dijumpai sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja. Kondisi-kondisi lain dengan
gejala-gejala afektif saling bertumpang tindih dengan atau membentuk sebagian penyakit
skizofrenik yang sudah ada, atau di mana gejala-gejala itu berada bersama-sama atau secara
bergantian dengan gangguan-gangguan waham menetap jenis lain, diklasifikasikan dalam
kategori yang sesuai dalam F20-F29. Waham atau halusinasi yang tak serasi dengan suasana
perasaan (mood) pada gangguan afektif tidak dengan sendirinya menyokong diagnosis
gangguan skizoafektif.

Tabel 2. Pedoman Diagnostik Gangguan Skizoafektif berdasarkan PPDGJ-III

 Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala


definitif adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan
afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously),
atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode
penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode
penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik
atau depresif.
 Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia
dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyaki yang berbeda.
 Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah

12
mengalami suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi
Pasca-skizofrenia). Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif
berulang, baik berjenis manik (F25.0) maupun depresif (F25.1) atau
campuran dari keduanya (F25.2). Pasien lain mengalami satu atau dua
episode manik atau depresif (F30-F33)

Diagnosis Banding

Semua kondisi yang dituliskan di dalam diagnosis banding skizofrenia dan gangguan
mood perlu dipertimbangkan di dalam diagnosis banding gangguan skizoafektif. Pasien yang
diobati dengan steroid, penyalahgunaan amfetamin dan phencyclidine (PCP), dan beberapa
pasien dengan epilepsi lobus temporalis secara khusus kemungkinan datang dengan gejala
skizofrenik dan gangguan mood yang bersama-sama. Diagnosis banding psikiatrik juga
termasuk semua kemungkinan yang biasanya dipertimbangkan untuk skizofrenia dan
gangguan mood. Di dalam praktik klinis, psikosis pada saat datang mungkin mengganggu
deteksi gejala gangguan mood pada masa tersebut atau masa lalu. Dengan demikian, klinisi
boleh menunda diagnosis psikiatrik akhir sampai gejala psikosis yang paling akut telah
terkendali.1,3

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai prognosis


di pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan prognosis pasien dengan
gangguan mood. Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif memiliki
prognosis yang jauh lebih buruk daripada pasien dengan gangguan depresif, memiliki
prognosis yang lebih buruk daripada pasien dengan gangguan bipolar, dan memiliki
prognosis yang lebih baik daripada pasien dengan skizofrenia. Generalitas tersebut telah
didukung oleh beberapa penelitian yang mengikuti pasien selama dua sampai lima tahun
setelah episode yang ditunjuk dan yang menilai fungsi sosial dan pekerjaan, dan juga
perjalanan gangguan itu sendiri.

Data menyatakan bahwa pasien dengan gangguan skizoafketif, tipe bipolar,


mempunyai prognosis yang mirip dengan prognosis pasien dengan gangguan bipolar I dan
bahwa pasien dengan premorbid yang buruk; onset yang perlahan-lahan; tidak ada faktor
pencetus; menonjolnya gejala pskotik, khususnya gejala defisit atau gejala negatif; onset yang
awal; perjalanan yang tidak mengalami remisi; dan riwayat keluarga adanya skizofrenia.
Lawan dari masing-masing karakeristik tersebut mengarah pada hasil akhir yang baik.
Adanya atau tidak adanya gejala urutan pertama dari Schneider tampaknya tidak meramalkan
perjalanan penyakit.

Walaupun tampaknya tidak terdapat perbedaan yang berhubungan dengan jenis


kelamin pada hasil akhir gangguan skizoafektif, beberapa data menyatakan bahwa perilaku

13
bunuh diri mungkin lebih sering pada wanita dengan gangguan skizoafektif daripada laki-laki
dengan gangguan tersebut. Insidensi bunuh diri di antara pasien dengan gangguan
skizoafektif diperkirakan sekurangnya 10 persen.

Penatalaksanaan
Modalitas terapi yang utama untuk gangguan skizoafektif adalah perawatan
di rumah sakit, medikasi, dan intervensi psikososial.

• Terapi kognitif (Cognitive Behavioral Therapy) dengan megembangkan


cara berpikir alternatid, fleksibel, dan positif serta melatih kembalirespon
kognitif dan pikiran yang baru.
• Psikoedukasi terhadap pasien jika kondisi sudah membaik:
- Pengenalan terhadap penyakit, manfaat pengobatan, cara pengobotan, efek
samping pengobatan.
- Memotivasi pasien agar minum obat secara teratur dan rajin kontrol setelah
pulang dari perawatan.
- Menggali kemampuan pasien yang bisa dikembangkan.

A. Pengobatan Psikososial
Pasien dapat terbantu dengan kombinasi terapi keluarga, latihan
keterampilan sosial, dan rehabilitasi kognitif. Oleh karena bidang psikiatri sulit
memutuskan diagnosis dan prognosis gangguan skizoafektif yang sebenarnya,
ketidakpastian tersebut harus dijelaskan kepada pasien. Kisaran gejala mungkin
sangat luas, karena pasien mengalamaikeadaan psikosis dan variasi kondisi
mood yang terus berlangsung. Anggota keluarga dapat mengalami kesulitan
untuk menghadapi perubahan sifat dan kebutuhan pasien tersebut. 1

B. Pengobatan Farmakoterapi
Prinsip dasar yang mendasari farmakoterapi untuk gangguan skizoafektif
adalah dengan pemberian antipsikotik disertai dengan pemberian antimanik atau
antidepresan. Pemberian obat antipsikotik diberikan jika perlu dan untuk
pengendalian jangka pendek.
Pasien dengan gangguan skizoafektif tipe manik dapat diberikan
farmakoterapi berupa lithium carbonate, carbamazepine (tegretol), valproate
(Depakene), ataupun kombinasi dari obat anti mania jika satu obat saja tidak
efektif. Sedangkan pasien dengan gannguan skizoafektif tipe depresif dapat
diberikan antidepresan. Pemilihan obat antidepresan memperhatikan kegagalan
atau keberhasilan antidepresan sebelumnya. Inhibitor reuptake serotonin selektif
(SSRI) sering digunakan sebagai agen lini pertama, namun pasien teragitasi atau
insomnia dapat disembuhkan dengan antidepresan trisiklik. Apabila pengobatan
dengan antidepresan tidak efektif dapat dicoba dengan terapi elektrokonvulsif.
Pemantauan laboratorium terhadap konsentrasi obat dalam plasma dan tes
fungsi ginjal, tiroid, dan fungsi hematologik harus dilakukan secara berkala.

14
BAB III
KESIMPULAN

Gangguan skizoafektif merupakan suatu gangguan jiwa yang gejala skizofrenia dan
gejala afektif terjadi bersamaan dan sama-sama menonjol. Prevalensi gangguan telah
dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan para wanita; khususnya wanita yang
menikah; usia onset untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia untuk laki-laki seperti juga
pada skizofrenia. Teori etiologi mengenai gangguan skizoafektif mencakup kausa genetik dan
lingkungan. Tanda dan gejala klinis gangguan skizoafektif adalah termasuk semua tanda dan
gejala skizofrenia, episode manik, dan gangguan depresif. Diagnosis gangguan skizoafektif
hanya dibuat apabila gejala2 definitif adanya skizofrenia dan gangguan afektif bersama-sama
menonjol pada saat yang bersamaan, atau dalam beberapa hari sesudah yang lain, dalam
episode yang sama. Sebagian diantara pasien gangguan skizoafektif mengalami episode
skizoafektif berulang, baik yang tipe manik, depresif atau campuran keduanya. Terapi
dilakukan dengan melibatkan keluarga, pengembangan skill sosial dan berfokus pada
rehabilitasi kognitif. Pada farmakoterapi, digunakan kombinasi anti psikotik dengan anti
depresan bila memenuhi kriteria diagnostik gangguan skizoafektif tipe depresif. Sedangkan
apabila gangguan skizoafektif tipe manik terapi kombinasi yang diberikan adalah antara anti
psokotik dengan mood stabilizer. Prognosis bisa diperkirakan dengan melihat seberapa jauh
menonjolnya gejala skizofrenianya, atau gejala gangguan afektifnya. Semakin menonjol dan
persisten gejala skizofrenianya maka pronosisnya buruk, dan sebaliknya semakin persisten
gejala-gejala gangguan afektifnya, prognosis diperkirakan akan lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

15
1. Maramis, W.S. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Presss : Surabaya.
1994.
2. Kaplan, I. H. and Sadock, J. B. Sinopsis Psikiatri Ilmu Perilaku Psikiatri Klinis, Edisi
Ketujuh. Binarupa Aksara Publisher: Jakarta.
3. Stuart, G. W. dan Sundeen, S. J. Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 1998.
4. Olfson, Mark. Treatment Patterns for Schizoaffective Disorder and Schizophrenia
Among Medicaid Patients. Diakses melalui: www.psychiatryonline.org/data/Journals/
5. American Psychiatric Association. Diagnosis dan Statistical Manual of Mental disorders
(DSM IV TM). American Psychological Association (APA): Washington DC. 1996.

16

Anda mungkin juga menyukai