Anda di halaman 1dari 14

BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)

UAS TAKE HOME EXAM (THE)


SEMESTER 2021/22.1 (2022.1)

Nama Mahasiswa : Fara Dina Rob’atul A’ida

Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 041814985

Tanggal Lahir : 18 Januari 2000

Kode/Nama Mata Kuliah : EKSI4204 / Analisis Informasi Keuangan

Kode/Nama Program Studi : 83 / Akuntansi

Kode/Nama UPBJJ : 74 / Malang

Hari/Tanggal UASTHE : Rabu / 22 Juni 2022

Tanda Tangan Peserta Ujian

Petunjuk
1. Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halaman ini.
2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuran akademik.
3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulis tangan.
4. Jawaban diunggah disertai dengan cover BJU dan surat pernyataan kejujuran akademik.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN


TEKNOLOGI
UNIVERSITAS TERBUKA
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA

Surat Pernyataan Mahasiswa


Kejujuran Akademik

Yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama Mahasiswa : Fara Dina Rob’atul A’ida
NIM : 041814985
Kode/Nama Mata Kuliah : EKSI4204/ Analisis Informasi Keuangan
Fakultas : Ekonomi
Program Studi : Akuntansi
UPBJJ-UT : Malang

1. Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE
pada laman https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun.
3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam
pengerjaan soal ujian UAS THE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya
sebagai pekerjaan saya).
5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai
dengan aturan akademik yang berlaku di Universitas Terbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan
tidak melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui
media apapun, serta tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan
akademik Universitas Terbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila dikemudian hari
terdapat pelanggaran atas pernyataan diatas, saya bersedia bertanggung jawab dan
menanggung sanksi akademik yang ditetapkan oleh Universitas Terbuka.

Pasuruan, 22 Juni 2022


Yang Membuat Pernyataan

Fara Dina Rob’atul A’ida


1. Berikut ini adalah komponen-komponen akun di dalam Laporan Perubahan
Modal PT. Merak Jingga Tahun 2019:
1. Modal Awal pada Tanggal 1 Januari 2019 berasal dari investasi awal yaitu
sejumlah Rp 5.000.000.000
2. Perusahaan menyetor modal tambahan sebesar Rp 1.000.000.000
3. Laba Bersih perusahaan sebesar Rp 1.500.000.000
4. Perusahaan membagikan dividen kepada pemegang saham sebesar Rp
500.000.000

Berdasarkan data tersebut di atas, maka:


a. Susunlah Laporan Perubahan Modal per 31 Desember 2019

PT. Merak Jingga


Laporan Perubahan Modal
Untuk periode yang berakhir 31 Desember 2019
Modal Awal Rp. 5.000.000.000
Tambahan : Modal tambahan Rp. 1.000.000.000
Laba bersih Rp. 1.500.000.000
Penambahan modal Rp. 2.500.000.000
Total Rp. 7.500.000.000

Dividen (Rp. 500.000.000)


Modal Akhir 31 Desember 2019 Rp. 7.000.000.000

SUMBER : BMP EKSI4204 (Analisis Informasi Keuangan Edisi 2) Modul 1


Halaman 1.37

b. Jelaskan perbedaan yang biasanya terdapat di Laporan Perubahan Modal


pada perusahaan perorangan dan perusahaan perseroan ?

Seperti namanya, perusahaan perseorangan dimiliki oleh pihak individu. Pada


laporan perubahan modal perusahaan perseorangan, komponen yang
menyusun modal akhir adalah modal awal, tambahan modal oleh pemilik, laba atau
rugi bersih ,dan prive, sedangkan pada

laporan perubahan modal perusahaan perseroan terbatas mempunyai sedikit


perbedaan komponen penyusun, komponen yang menyusun modal akhir
adalah modal awal, saham biasa, agio saham, saham preferen, saham treasuri,
dividen, laba rugi

SUMBER : https://www.modalrakyat.id/blog/laporan-perubahan-modal
2. Berikut ini adalah kondisi neraca PT. A dan PT. B yang sudah dimasukkan ke
dalam persentase :

a) Berdasarkan angka persentase neraca kedua perusahaan tersebut, perusahaan


manakah yang dapat disebut berada dalam kondisi aman dan perusahaan
mana yang berada dalam kondisi tidak aman?

Berdasarkan angka persentase neraca kedua perusahaan tersebut, perusahaan yang


berada dalam kondisi aman adalah PT. A.
Alasan :
 Aktiva lancar lebih tinggi daripada aktiva tetap, karena aktiva tetap sulit
dicairkan
 Persentase dasar modal tinggi
 Kewajiban jangka panjang dan pendek sedikit
 Tingkat pengembalian rendah

Perusahaan yang berada pada kondisi tidak aman adalah PT. B.


Alasan :
 Aktiva tetap (Aktiva jangka panjang / aktiva yang sulit dicairkan) lebih tinggi
angka persentasenya dibanding aktiva lancar
 Persentase dasar modal kecil
 Pertumbuhan yang tinggi
 Kewajiban jangka panjang tinggi

SUMBER : BMP EKSI4204 (Analisis Informasi Keuangan Edisi 2) Modul 4


Halaman 4.14 – 4.15

b) Jelaskan kriteria suatu perusahaan dikatakan berada dalam kondisi aman dan
tidak aman

Untuk kondisi perusahaan yang aman, dapat dilihat dari komposisi masing-masing
aktiva, utang, dan modalnya. Untuk kondisi aman, komposisinya sebagai berikut.
Agar suatu perusahaan dikatakan dalam kondisi yang aman, perusahaan tersebut
harus menunjukkan
1) tingkat pengembalian yang rendah;
2) dasar modal yang besar;
3) Pertumbuhan yang lambat;
4) utang dan aktiva jangka pendek sedikit.

Kondisi perusahaan yang berisiko (tidak aman) sebagai berikut.

Sementara itu, kriteria suatu perusahaan dikatakan dalam kondisi tidak aman:
1) tingkat pencairan aktiva yang tinggi (aktiva sulit dicairkan nilainya);
2) aktiva jangka panjang tinggi;
3) dana dari luar lebih dari 50% bisnis;
4) dasar modal kecil;
5) pertumbuhan yang tinggi;
6) pendapatan sangat fluktuatif.

Sebagai catatan, rasio tersebut tergantung dari jenis usahanya atau bidang usaha
masing-masing. Hal ini disebabkan setiap jenis usaha, misalnya antara perusahaan
jasa dan perusahaan nonjasa, biasanya terdapat perbedaan dalam komposisi
keuangannya karena masing-masing perusahaan memiliki karakteristik tersendiri.

SUMBER : BMP EKSI4204 (Analisis Informasi Keuangan Edisi 2) Modul 4


Halaman 4.14 – 4.15

3. Berdasarkan laporan keuangan tersebut, hitunglah rasio-rasio berikut untuk


tahun 2018 dan 2019 beserta interpretasi/analisisnya:
a) Rasio Likuiditas: Current Ratio (CR), Quick Ratio (QR)
Current Ratio (CR)

Rumus untuk mencari rasio lancar atau current rasio yang dapat digunakan sebagai
berikut.

Current Ratio = Aktiva Lancar (Current Assets) _


Utang Lancar (Current Liabilities

Berdasarkan laporan CV. Samudera Biru

Untuk tahun 2018 :

Current Ratio = Rp. 86.542.916 = 1,401 kali (dibulatkan 1,4)


Rp. 61.734.197

Artinya jumlah aktiva lancar sebanyak 1,4 kali utang lancar atau setiap 1 rupiah
utang lancar dijamin oleh 1,4 rupiah harta lancar atau 1,4 : 1 antara aktiva lancar
dengan utang lancar.

Untuk tahun 2019 :

Current Ratio = Rp. 98.088.530 = 1,732 kali (dibulatkan 1,7)


Rp. 56.604.822

Artinya, jumlah aktiva lancar sebanyak 1,7 kali utang lancar, setiap 1 rupiah utang
lancar dijamin oleh Rp1,7 harta lancar, atau 1,7 : 1 antara aktiva lancar dan utang
lancar. Jika rata-rata industri untuk current ratio adalah dua kali, keadaan perusahaan
untuk tahun 2018 dan 2019 berada dalam kondisinya kurang baik jika dibandingkan
dengan perusahaan lain karena rasionya masih di bawah rata-rata industri.

Quick Ratio (QR)

Untuk mencari quick ratio, diukur dari total aktiva lancar, kemudian dikurangi
dengan nilai sediaan. Terkadang perusahaan juga memasukkan biaya yang dibayar di
muka jika memang ada dan dibandingkan dengan seluruh utang lancar.

Rumus untuk mencari rasio cepat (quick ratio) dapat digunakan sebagai berikut :

Quick Ratio (Acid Test Ratio) = Current Assets – Inventory


Current Liabilities

Berdasarkan laporan CV. Samudera Biru

Untuk tahun 2018 :

Quick Ratio (Acid Test Ratio) = Rp. 86.542.916 – Rp. 26.627.729 = 0,97 Kali
Rp. 61.734.197

Untuk tahun 2019 :


Quick Ratio (Acid Test Ratio) = Rp. 98.088.530 – Rp. 30.672.422 = 1,19 Kali
Rp. 56.604.822

Jika rata-rata industri untuk quick ratio adalah 1,5 kali, keadaan perusahaan lebih
baik dari perusahaan lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak harus
menjual sediaan apabila hendak melunasi utang lancar, tetapi dapat menjual surat
berharga atau penagihan piutang.

Demikian pula sebaliknya, jika rasio perusahaan di bawah rata-rata industri, keadaan
perusahaan lebih buruk dari perusahaan lain. Hal ini menyebabkan perusahaan harus
menjual sediaannya untuk melunasi pembayaran utang lancar. Padahal, menjual
sediaan untuk harga yang normal relatif sulit, kecuali perusahaan menjual di bawah
harga pasar yang tentunya, bagi perusahaan, jelas menambah kerugian.

Dari hasil perhitungan diatas dapat disimpulkan bahwa rasio perusahaan di bawah
rata-rata industri, keadaan perusahaan lebih buruk dari perusahaan lain. Hal ini
dikarenakan pada tahun 2018 dan tahun 2019 hasil perhitungan quick ratio kurang
dari 1,5 kali yaitu pada tahun 2018 sebesar 0,97 kali dan 2019 sebesar 1,19 kali.

SUMBER : BMP EKSI4204 (Analisis Informasi Keuangan Edisi 2) Modul 4


Halaman 4.20 – 4.23

b) Rasio Leverage: Debt Ratio (DR)

Debt to asset ratio (debt ratio)

Debt ratio merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan
antara total utang dan total aktiva. Dengan kata lain, seberapa besar aktiva
perusahaan dibiayai oleh utang atau seberapa besar utang perusahaan berpengaruh
terhadap pengelolaan aktiva.

Dari hasil pengukuran, apabila rasionya tinggi (artinya pendanaan dengan utang
semakin banyak), semakin sulit bagi perusahaan untuk memperoleh tambahan
pinjaman karena dikhawatirkan perusahaan tidak mampu menutupi utang-utangnya
dengan aktiva yang dimilikinya. Demikian pula apabila rasionya rendah, semakin
kecil perusahaan dibiayai dengan utang. Standar pengukuran untuk menilai baik
tidaknya rasio perusahaan digunakan rasio rata-rata industri yang sejenis. Rumus
untuk mencari debt ratio sebagai berikut.

Debt to Assets Ratio = Total Debt _


Total Assets

Untuk tahun 2018 :

Debt to Assets Ratio = Rp. 146.150.440 = 0,262 atau 26%


Rp. 557.762.382

Rasio ini menunjukkan bahwa 26% pendanaan perusahaan dibiayai dengan utang
untuk tahun 2018. Artinya, setiap Rp100,00 pendanaan perusahaan, sebesar Rp26,00
dibiayai dengan utang dan sebesar Rp74,00 disediakan oleh pemegang saham.

Untuk tahun 2019 :

Debt to Assets Ratio = Rp. 110.890.719 = 0,20 atau 20%


Rp. 551.793.922

Rasio ini menunjukkan bahwa sekitar 20% pendanaan perusahaan dibiayai dengan
utang untuk tahun 2019. Artinya, setiap Rp100,00 pendanaan perusahaan, sebesar
Rp20,00 dibiayai dengan utang dan sebesar Rp80,00 disediakan oleh pemegang
saham.

Jika rata-rata industri 35%, yang artinya maksimal pendanaan perusahaan dibiayai
oleh hutang 35%, maka perusahaan diatas masih tergolong bagus karena perusahaan
hanya dibiayai oleh hutang sebesar 26% pada tahun 2018 dan 20% pada tahun 2019.
debt to asset ratio perusahaan masih di atas rata-rata industri.

SUMBER : BMP EKSI4204 (Analisis Informasi Keuangan Edisi 2) Modul 4


Halaman 4.31 – 4.32

c) Rasio Aktivitas : Inventory Turnover (ITO) dan Total Asset Turn Over
(TATO)

Inventory Turnover (ITO)

Perputaran sediaan merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali
dana yang ditanam dalam sediaan (inventory) ini berputar dalam suatu periode.
Rasio ini dikenal dengan nama rasio perputaran sediaan (inventory turn over). Dapat
diartikan pula bahwa perputaran sediaan merupakan rasio yang menunjukkan berapa
kali jumlah barang sediaan diganti dalam satu tahun. Semakin kecil rasio ini maka
semakin buruk, demikian pula sebaliknya.

Cara menghitung rasio perputaran sediaan dilakukan dengan dua cara. Pertama,
membandingkan antara harga pokok barang yang dijual dan nilai sediaan. Kedua,
membandingkan antara penjualan dan nilai sediaan. Apabila rasio yang diperoleh
tinggi, ini menunjukkan perusahaan bekerja secara efisien dan likuid persediaan
semakin baik. Demikian pula apabila perputaran sediaan rendah, itu berarti
perusahaan bekerja secara tidak efisien atau tidak produktif dan banyak barang
sediaan yang menumpuk. Hal ini akan mengakibatkan investasi dalam tingkat
pengembalian yang rendah.

Rumusan untuk mencari inventory turn over dapat digunakan dengan dua cara
berikut.

Menurut James C.Van Horne

Inventory turn over = Harga pokok barang yang dijual


Sediaan

Menurut J. Fred Weston

Inventory turn over = Penjualan


Sediaan

Untuk tahun 2018 :

Menurut Menurut James C.Van Horne

Inventory turn over = Rp. 429.335.102 = 16,12 kali atau 16 kali


Rp. 26.627.729

Menurut J. Fred Weston

Inventory turn over = Rp. 833.065.620 = 31,28 kali atau 31 kali


Rp. 26.627.729

Menurut J. Fred Weston rasio ini menunjukkan 31 kali sediaan barang dagangan
diganti dalam satu tahun. Apabila rata-rata industri untuk inventory turn over adalah
20 kali, ini berarti inventory turn over lebih baik. Perusahaan tidak menahan sediaan
dalam jumlah yang berlebihan (tidak produktif).

Kemudian, untuk mengetahui berapa hari rata-rata sediaan tersimpan dalam gudang,
dapat dicari dengan cara membagikan jumlah hari dalam satu tahun dibagi
perputaran sediaan seperti berikut.

360 = 11,6 atau 12 hari


31

Perputaran sediaan dalam hari dari rata-rata industri dapat dicari 365/20, yaitu 18,2
atau sama dengan 19 hari. Ini berarti terdapat kecepatan perubahan sediaan menjadi
piutang satu hari.

Untuk tahun 2019 :

Menurut Menurut James C.Van Horne

Inventory turn over = Rp. 394.741.717 = 12,86 kali atau 13 kali


Rp. 30.672.422

Menurut J. Fred Weston

Inventory turn over = Rp. 798.060.616 = 26,01 kali atau 26 kali


Rp. 30.672.422

Menurut J. Fred Weston rasio ini menunjukkan 26 kali sediaan barang dagangan
diganti dalam satu tahun. Apabila rata-rata industri untuk inventory turn over adalah
20 kali, ini berarti inventory turn over lebih baik. Perusahaan tidak menahan sediaan
dalam jumlah yang berlebihan (tidak produktif).

Kemudian, untuk mengetahui berapa hari rata-rata tersimpan dalam gudang, dapat
dicari dengan cara membagikan jumlah hari dalam satu tahun dibagi perputaran
sediaan seperti berikut.

360 = 13,84 atau 14 hari


26

Perputaran sediaan dalam hari dari rata-rata industri dapat diperoleh dari 365/20.
Hasilnya adalah 18,2 hari atau sama dengan 19 hari. Ini berarti terdapat kecepatan
perubahan sediaan menjadi piutang satu hari.

Asset Turn Over (TATO)

Total asset turn over merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran
semua aktiva yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang
diperolah dari tiap rupiah aktiva.

Rumus untuk mencari total asset turn over sebagai berikut.

Total assets turn over = Penjualan (sales) _


Total Aktiva (Total Assets)

Untuk tahun 2018 :

Total assets turn over = Rp. 833.065.620 = 1,493 kali dibulatkan 1,49 kali
Rp. 557.762.382

Perputaran total aktiva tahun 2018 sebanyak 1,49 kali. Artinya, setiap Rp1,00 aktiva
tetap dapat menghasilkan Rp1,49 penjualan.

Untuk tahun 2019 :

Total assets turn over = Rp. 798.060.616 = 1,446 kali dibulatkan 1,45 kali
Rp. 551.793.922

Perputaran total aktiva tahun 2019 sebanyak 1,45 kali. Artinya, setiap Rp1,00 aktiva
tetap dapat menghasilkan Rp1,45 penjualan.

Kondisi perusahaan sangat tidak menggembirakan karena terjadi penurunan rasio


dari tahun 2018 ke tahun 2019. Kemudian, jika dibandingkan dengan rata-rata
industri untuk total asset turn over, yaitu dua kali, ini berarti perusahaan belum
mampu memaksimalkan aktiva yang dimiliki. Perusahaan diharapkan meningkatkan
lagi penjualannya atau mengurangi sebagian aktiva yang kurang produktif.

SUMBER : BMP EKSI4204 (Analisis Informasi Keuangan Edisi 2) Modul 4


Halaman 4.67 – 4.76
d) Rasio Profitabilitas : Profit Margin (PM), Return on Assets (ROA) dan Return
on Equity (ROE)

Profit margin on sales (PM)

Profit margin on sales atau ratio profit margin atau margin laba atas penjualan
merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur margin laba atas
penjualan. Cara pengukuran rasio ini adalah membandingkan laba bersih setelah
pajak dengan penjualan bersih. Rasio ini juga dikenal dengan nama profit margin.
Terdapat dua rumus untuk mencari profit margin sebagai berikut.

1) Margin laba kotor

Profit margin sales = Penjualan (sales) – HPP


Penjualan (sales)

Margin laba kotor menunjukkan laba yang relatif terhadap perusahaan, dengan
cara penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan. Rasio ini merupakan cara
untuk penetapan harga pokok penjualan.

Untuk tahun 2018 :

Profit Margin on Sales = Rp. 833.065.620 – Rp. 429.335.102 = 0,484 atau 48%
Rp. 833.065.620

Untuk tahun 2019 :

Profit Margin on Sales = Rp. 798.060.616 – Rp. 394.741.717 = 0,505 atau 51%
Rp. 798.060.616

Jika rata-rata industri untuk profit margin adalah 30%, margin laba perusahaan
tahun 2018 dan tahun 2019 dikatakan baik karena berada di atas rata-rata
industri.

2) Margin laba bersih

Net profit margin on sales = Earning After Interest and Tax (EAIT)
Penjualan (Sales)

Margin laba bersih merupakan ukuran keuntungan dengan membandingkan


antara laba setelah bunga dan pajak dibandingkan dengan penjualan. Rasio ini
menunjukkan pendapatan bersih perusahaan atas penjualan.

Untuk tahun 2018 :

Net Profit Margin = Rp. 94.941.535 = 0,113 atau 11,3%


Rp. 833.065.620
Untuk tahun 2019 :

Net Profit Margin = Rp. 69.973.064 = 0,0876 atau 8,76%


Rp. 798.060.616

Jika rata-rata industri untuk net profit margin adalah 20%, margin laba
perusahaan tahun 2018 sebesar 11,3% dan tahun 2019 sebesar 8,76% dikatakan
kurang baik karena masih di bawah rata-rata industri. Ini juga dapat berarti
bahwa harga barang-barang perusahaan ini relatif rendah, biaya-biayanya relatif
tinggi, atau keduanya. Hasil kedua tahun ini juga menunjukkan adanya
penurunan rasio yang cukup besar dari tahun 2018 ke tahun 2019, yaitu 2,54%,
dan hal ini perlu dicari tahu penyebabnya karena sangat membahayakan
perusahaan.

Dari hasil analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa margin laba kotor dalam
keadaan baik meskipun mengalami penurunan, sedangkan margin laba bersih
dalam keadaan tidak baik dan justru turun sangat drastis. Hal ini berarti
kemungkinan meningkatnya biaya tidak langsung yang relatif tinggi terhadap
penjualan atau mungkin karena beban pajak yang juga tinggi untuk periode
tersebut.

Return on Assets (ROA)

Analisis ROA mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan


menggunakan total aset (kekayaan) yang dipunyai perusahaan setelah disesuaikan
dengan biaya-biaya mendanai aset tersebut. Variasi dalam perhitungan ROA, di
samping perhitungan seperti dibicarakan pada bab sebelumya, adalah memasukkan
biaya pendanaan. Biaya-biaya pendanaan yang dimaksud adalah bunga yang
merupakan biaya pendanaan dengan utang. Dividen yang merupakan biaya
pendanaan dengan saham dalam analisis ROA tidak diperhitungkan. Biaya bunga
ditambahkan ke laba yang diperoleh perusahaan. ROA bisa diinterpretasikan sebagai
hasil dari serangkaian kebijakan perusahaan (strategi) dan pengaruh dari faktor-
faktor lingkungan (environmental factors). Analisis difokuskan pada profitabilitas
aset dan dengan demikian tidak memperhitungkan cara-cara untuk mendanai aset
tersebut.

Formula ROA bisa dihitung sebagai berikut (dengan memasukkan pendanaan).

ROA = Laba setelah Pajak


Total Asset

Untuk tahun 2018

ROA = Rp. 94.941.535 = 0,170 atau 17%


Rp. 557.762.382

Untuk tahun 2019

ROA = Rp. 69.973.064 = 0,216 atau 21,6%


Rp. 551.793.922

Dari perhitungan menggunakan rumus ROA di atas, bisa terlihat tahun 2018 kalah
efisien ketimbang tahun 2019. ROA pada tahun 2018 sebesar 17 persen sementara
tahun 2019 sebesar 21,6 persen.

Return on Equity (ROE)

Hasil pengembalian ekuitas, return on equity, atau rentabilitas modal merupakan


rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini
menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini, semakin
baik. Artinya, posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian pula sebaliknya.
Rumus untuk mencari return on equity sebagai berikut.

Return on Equity (ROE) = Earning After Interest and Tax (EAIT)


Equity

Untuk tahun 2018 :

Return on Equity (ROE) = Rp. 94.941.535 = 0,230 atau 23%


Rp. 411.611.941

Untuk tahun 2019 :

Return on Equity (ROE) = Rp. 69.973.064 = 0,160 atau 16%


Rp. 435.903.203

Perhitungan ROE tahun 2018 menunjukkan bahwa tingkat pengembalian ekuitas


yang diperolehnya sebesar 23%. Kemudian, tahun 2019 turun menjadi hanya sebesar
16%. Artinya, hasil pengembalian ekuitas berkurang sebesar 8% dan ini
menunjukkan ketidakmampuan manajemen memperoleh ROE seiring dengan
menurunnya ROI. Rata-rata industri untuk ROE adalah 40%, berarti kondisi
perusahaan tidak baik karena keduanya masih di bawah rata-rata industri.

SUMBER : BMP EKSI4204 (Analisis Informasi Keuangan Edisi 2) Modul 4


Halaman 4.41 – 4.62

4. Tingkat likuiditas berdasarkan Current Ratio pada 31 Desember 2019 adalah 0,99
kali. Perusahaan akan melunasi utang kepada supplier sebesar Rp 150.000.000
perusahaan membayar utang tersebut dengan uang kas sebesar 45.000.000, dan
sisanya berasal dari sumber di luar perusahaan. Berikut ini merupakan alternatif-
alternatif untuk meningkatkan likuiditas PT. Kencana Ungu:

Alternatif 1 : Perusahaan memperoleh kredit sebesar 105 000.000 dari bank dalam
Jangka waktu 6 bulan untuk kemudian dibayarkan ke supplier
Alternatif 2 : Perusahaan mendapatkan setoran modal dari pemilik sebesar
105.000.000 dan langsung dibayarkan ke supplier

Menurut Saudara, alternatif manakah yang akan membuat likuiditas PT. Kencana
Ungu menjadi lebih baik? Jelaskan

Jawab :

Current Ratio = Aktiva Lancar (Current Assets) _


Utang Lancar (Current Liabilities

Jika menggunakan Alternatif ke 1, kita dapat menghitung ulang Current Rationya


berikut ini :

Current Ratio = Rp. 2.505.000.000 – Rp. 45.000.000 = 0,99 kali


Rp. 2.515.000.000 + Rp. 105.000.000 – Rp. 150.000.000

Jika menggunakan Alternatif ke 2, kita dapat menghitung ulang Current Rationya


berikut ini :

Current Ratio = Rp. 2.505.000.000 – Rp. 45.000.000 = 1,04 kali


Rp. 2.515.000.000 – Rp. 150.000.000

Dari perhitungan ulang rasio likuiditas (current Ratio) ketika menggunakan pilihan
alternatif ke 1 dan ke 2, dapat diketahui bahwa likuiditas PT. Kencana Ungu menjadi
lebih baik apabila menggunakan Alternatif ke 2. Hal ini karena alternatif pertama
menurut saya sama saja dengan hanya mengurangi utang usaha kemudian diganti dengan
utang jangka pendek. Namun apabila menggunakan alternatif kedua hutang usaha akan
semakin berkurang tanpa menambah hutang lagi karena ada tambahan modal dari
pemilik untuk melunasi hutang tersebut. Sehingga rasio likuiditas akan menjadi lebih
baik.

SUMBER : BMP EKSI4204 (Analisis Informasi Keuangan Edisi 2) Modul 4 Halaman


4.15 – 4.29