Anda di halaman 1dari 17

TAWURAN ANTAR PELAJAR

Disusun oleh
Cecep andini
Dila ayu Nuraini w
Dalfian

PEMERINTAH PROVINSI
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMA NEGERI 1 WATUBANGGA
2022
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT karena atas taufik dan
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam
senantiasa kita sanjungkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW,
keluarga, sahabat, serta semua umatnya hingga kini. Dan Semoga kita termasuk
dari golongan yang kelak mendapatkan syafaatnya.
Dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah berkenan membantu pada tahap penyusunan hingga
selesainya makalah ini. Harapan kami semoga makalah yang telah tersusun ini
dapat bermanfaat sebagai salah satu rujukan maupun pedoman bagi para pembaca,
menambah wawasan serta pengalaman, sehingga nantinya saya dapat
memperbaiki bentuk ataupun isi makalah ini menjadi lebih baik lagi.
Kami sadar bahwa kami ini tentunya tidak lepas dari banyaknya
kekurangan, baik dari aspek kualitas maupun kuantitas dari bahan penelitian yang
dipaparkan. Semua ini murni didasari oleh keterbatasan yang dimiliki kami. Oleh
sebab itu, kami membutuhkan kritik dan saran kepada segenap pembaca yang
bersifat membangun untuk lebih meningkatkan kualitas di kemudian hari.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Tawuran............................................................................... 3
B. Faktor-faktor Penyebab Tawuran antar Pelajar..................................... 5
C. Penyebab Terjadinya Tawuran antar Pelajar......................................... 7
D. Dampak Tawuran antar Pelajar............................................................. 8
E. Penanggulangan Tawuran antar Pelajar................................................. 10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan............................................................................................ 12
B. Saran...................................................................................................... 12
C.Lampiran

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Hal
ini terbukti dengan peristiwa-peristiwa tawuran para pelajar yang saat ini
sedang maraknya terjadi. Tawuran sudah tidak lagi menjadi pemberitaan yang
asing lagi ditelinga kita. Banyaknya tawuran antar pelajar yang terjadi di kota-
kota besar di Indonesia merupakan sebuah fenomena yang menarik untuk di
bahas. Perilaku pelajar yang anarkis berasal dari banyak faktor yang
mempengaruhi baik faktor internal ataupun eksternal. Tawuran pelajar bukan
hanya mengakibatkan kerugian harta benda atau korban cedera tetapi bisa
sampai merenggut nyawa orang lain. Di mata mereka nyawa tidak ada
harganya, bahkan mereka merasa bangga jika berhasil membunuh pelajar
sekolah lain yang mereka anggap musuh mereka. Kekerasan dianggap sebagai
solusi yang paling tepat untuk menyelesaikan suatu masalah tanpa
memikirkan akibat-akibat buruk yang ditimbulkan.
Tawuran antar pelajar semakin menjadi semenjak terciptanya geng-
geng, perilaku anarki ini selalu dipertontonkan di tengah-tengah masyarakat,
mereka sudah tidak merasa kalau perbuatan mereka itu sangat tidak terpuji dan
mengganggu ketenangan masyarakat, sebaliknya mereka merasa bangga jika
masyarakat itu takut dengan geng atau kelompoknya, padahal seorang pelajar
seharusnya tidak melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti itu.
Pada saat bersamaan masyarakat hanya bisa menyaksikan kekerasan
demi kekerasan terjadi antara mereka dan sering kali mencaci perbuatan
mereka tanpa berusaha mencari solusi yang bijak akan permasalahan tersebut.
Memojokkan mereka dari sudut pandang negatif yang ada, seolah-olah seperti
seorang terdakwa yang telah mendapat vonis hukum, yang dipastikan sebentar
lagi akan masuk penjara. Padahal sebenarnya tidak bisa dikatakan sepenuhnya
bahwa kesalahan itu berasal dari dalam diri atau faktor internal pelajar itu
sendiri.

1
2

Masyarakat yang peduli terhadap lingkungan remaja menjadi sangat


penting untuk menciptakan suasana yang bersahabat dengan mereka.
Masyarakat sering tidak peka terhadap respons yang ditimbulkan remaja.
Sehingga tidak sedikit remaja mengalami semacam gejolak jiwa yang berupa
agresi guna menunjukkan keberadaan mereka dalam suatu lingkungan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian tawuran?
2. Apa saja faktor-faktor penyebab tawuran antar pelajar?
3. Apa penyebab terjadinya tawuran antar pelajar?
4. Bagaimana dampak tawuran?
5. Bagaimana penanggulangan tawuran antar pelajar?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tawuran
Dalam kamus bahasa Indonesia “tawuran” dapat diartikan sebagai
perkelahian yang meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah seorang
manusia yang belajar. Dan “kelompok” adalah sekumpulan orang yang
mengidentifikasi satu sama lain dan merasa bahwa mereka saling memiliki.
Suatu kelompok ketika dua atau lebih orang berinteraksi selama lebih dari
beberapa saat, saling mempengaruhi satu sama lain melalui beberapa cara, dan
memikirkan diri mereka sebagai “kita”. Sehingga pengertian tawuran pelajar
adalah perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana
perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang sedang belajar.
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja
digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency).
Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis
delinkuensi yaitu situasional dan sistematik.
1. Delinkuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang
“mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul
akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat.
2. Delinkuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di
dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan
kebiasaan tertentu yang harus diikuti anggotanya, termasuk berkelahi.
Sebagai anggota, tumbuh kebanggaan apabila dapat melakukan apa yang
diharapkan oleh kelompoknya. Seperti yang kita ketahui bahwa pada masa
remaja seorang remaja akan cenderung membuat sebuah geng yang mana
dari pembentukan geng inilah para remaja bebas melakukan apa saja tanpa
adanya peraturan-peraturan yang harus dipatuhi karena ia berada dilingkup
kelompok teman sebayanya.
Tawuran merupakan salah satu bentuk kenakalan remaja, yaitu
kecenderungan remaja untuk melakukan tindakan yang melanggar aturan yang

3
4

dapat mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri


maupun orang lain yang umumnya dilakukan remaja di bawah umur 17 tahun.
Aspek kecenderungan kenakalan remaja terdiri dari (1) aspek perilaku yang
melanggar aturan atau status, (2) perilaku yang membahayakan diri sendiri
dan orang lain, (3) perilaku yang mengakibatkan korban materi, dan (4)
perilaku yang mengakibatkan korban fisik.
Menurut Ridwan tawuran pelajar didefinisikan sebagai perkelahian
massal yang dilakukan oleh sekelompok siswa terhadap sekelompok siswa
lainnya dari sekolah yang berbeda. Tawuran terbagi dalam tiga bentuk: (1)
tawuran pelajar yang telah memiliki rasa permusuhan secara turun temurun,
(2) tawuran satu sekolah melawan satu perguruan yang di dalamnya terdapat
beberapa jenis sekolah dan (3) tawuran pelajar yang sifatnya insidental yang
dipicu oleh situasi dan kondisi tertentu. Tawuran juga dapat didefinisikan
sebagai perkelahian massal yang adalah perilaku kekerasan antar kelompok
pelajar laki-laki yang ditujukan kepada kelompok pelajar dari sekolah lain.
Tawuran pelajar adalah fenomena sosial yang sudah dianggap lumrah
oleh masyarakat di Indonesia. Bahkan ada sebuah pendapat yang menganggap
bahwa tawuran adalah salah satu kegiatan rutin dari pelajar yang menginjak
usia remaja. Tawuran pelajar sering terjadi di kota-kota besar yang seharusnya
memiliki masyarakat dengan peradaban yang lebih maju. Para pelajar remaja
yang sering melakukan aksi tawuran tersebut lebih senang melakukan
perkelahian di luar sekolah daripada masuk kelas pada kegiatan belajar
mengajar.
Dari konflik ini dapat kita analisis dengan teori konflik Ibn Khaldun, ia
membaginya menjadi tiga perspektif. Pertama, perspektif psikologis yang
merupakan dasar sentimen dan ide yang membangun hubungan sosial di
antara berbagai kelompok manusia (keluarga, suku, dan lainnya). Kedua,
fenomena politik yang berhubungan dengan perjuangan memperebutkan
kekuasaan dan kedaulatan yang melahirkan imperium, dinasti, dan negara.
Ketiga, fenomena ekonomi yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan
ekonomi baik pada tingkat individu, keluarga, masyarakat maupun keluarga.
5

Dengan teori ini kita dapat berpacu bahwa tawuran dapat terjadi karena
hubungan keluarga yang kurang dan lebih memilih untuk berhubungan dengan
teman yang dapat membuatnya lebih nyaman sehingga timbullah rasa
solidaritas pada dirinya terhadap kelompoknya dan kemudian adanya
keinginan penguasaan wilayah yang diperjuangkan dengan melakukan
kekerasan antar pelajar sekolah.

B. Faktor-faktor Penyebab Tawuran antar Pelajar


1. Faktor internal
Faktor internal ini terjadi di dalam diri individu itu sendiri yang
berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru dalam
menyelesaikan permasalahan di sekitarnya dan semua pengaruh yang
datang dari luar. Remaja yang melakukan perkelahian biasanya tidak
mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks.
Maksudnya, ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan keanekaragaman
pandangan, ekonomi, budaya dan berbagai keberagaman lainnya yang
semakin lama semakin bermacam-macam.
Para remaja yang mengalami hal ini akan lebih tergesa-gesa dalam
memecahkan segala masalahnya tanpa berpikir terlebih dahulu apakah
akibat yang akan ditimbulkan. Selain itu, ketidakstabilan emosi para
remaja juga memiliki andil dalam terjadinya perkelahian. Mereka biasanya
mudah frustrasi, tidak mudah mengendalikan diri, tidak peka terhadap
orang-orang di sekitarnya. Seorang remaja biasanya membutuhkan
pengakuan kehadiran dirinya ditengah-tengah orang-orang sekelilingnya.
2. Faktor eksternal
a. Faktor keluarga
Keluarga adalah tempat di mana pendidikan pertama dari orang
tua diterapkan. Jika seorang anak terbiasa melihat kekerasan yang
dilakukan di dalam keluarganya maka setelah ia tumbuh menjadi
remaja maka ia akan terbiasa melakukan kekerasan karena inilah
kebiasaan yang datang dari keluarganya. Selain itu ketidakharmonisan
6

keluarga juga bisa menjadi penyebab kekerasan yang dilakukan oleh


pelajar. Suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman dan
tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat
menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa
remaja.
Menurut Hirschi berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa
salah satu penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya
orang tua sebagai figur teladan yang baik bagi anak. Berdasarkan hasil
penelitian ditemukan bahwa salah satu penyebab kenakalan remaja
dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figur teladan yang
baik bagi anak. Jadi di sinilah peran orang tua sebagai penunjuk jalan
anaknya untuk selalu berperilaku baik.
b. Faktor sekolah
Sekolah tidak hanya untuk menjadikan para siswa pandai
secara akademik namun juga pandai secara akhlaknya. Sekolah
merupakan wadah untuk para siswa mengembangkan diri menjadi
lebih baik. Namun sekolah juga bisa menjadi wadah untuk siswa
menjadi tidak baik, hal ini dikarenakan hilangnya kualitas pengajaran
yang bermutu. Contohnya disekolah tidak jarang ditemukan ada
seorang guru yang tidak memiliki cukup kesabaran dalam mendidik
anak muridnya akhirnya guru tersebut menunjukkan kemarahannya
melalui kekerasan. Hal ini bisa saja ditiru oleh para siswanya. Lalu di
sinilah peran guru dituntut untuk menjadi seorang pendidik yang
memiliki kepribadian yang baik.
c. Faktor lingkungan
Lingkungan rumah dan lingkungan sekolah dapat
mempengaruhi perilaku remaja. Seorang remaja yang tinggal
dilingkungan rumah yang tidak baik akan menjadikan remaja tersebut
ikut menjadi tidak baik. Kekerasan yang sering remaja lihat akan
membentuk pola kekerasan di pikiran para remaja. Hal ini membuat
remaja bereaksi anarkis. Tidak adanya kegiatan yang dilakukan untuk
7

mengisi waktu senggang oleh para pelajar di sekitar rumahnya juga


bisa mengakibatkan tawuran.
d. Faktor pacar
Masalah pacar seperti berebut pacar, saing-saingan pacar, ada
yang menggoda pacar satu sekolah, juga acapkali menimbulkan
tawuran yang kemudian bereskalasi menjadi tawuran antar sekolah
yang melibatkan massa yang besar karena solidaritas atas sesama.
e. Faktor geng
Hampir setiap sekolah terutama sekolah negeri memiliki geng
yang didirikan oleh kakak-kakak kelas, yang kemudian diwariskan
kepada adik-adiknya di sekolah. Proses pewarisan geng ini kepada
adik kelas sekaligus menanamkan budaya geng yang harus ditaati dan
dilaksanakan telah menjadikan sekolah sebagai pusat tawuran dan
bullying. Mereka yang sudah telanjur menjadi anggota geng, tidak
berani mengundurkan diri, karena takut mendapat perlakukan kasar
dan membahayakan jiwa mereka. Pengaruh alumni dari geng suatu
sekolah sangat kuat, sehingga kekerasan seolah menjadi budaya yang
sulit dihapus.
f. Faktor ekonomi
Masalah ekonomi juga acapkali menjadi faktor yang
menyebabkan terjadinya tawuran. Kesenjangan ekonomi antar pelajar,
dan persaingan antar sesama, menyebabkan sering terjadi tawuran di
kalangan pelajar dan masyarakat.

C. Penyebab Terjadinya Tawuran antar Pelajar


Tawuran antar pelajar bisa terjadi antar pelajar sesama satu sekolah, ini
biasanya dipicu permasalahan kelompok, cenderung akibat pola berkelompok
yang menyebabkan pengelompokan berdasarkan hal-hal tertentu. Misalnya,
kelompok anak-anak nakal, kelompok kutu buku, kelompok anak-anak kantin,
pengelompokan tersebut lebih akrab dengan sebutan geng. Namun, ada juga
tawuran antar pelajar yang terjadi antara dua kelompok.
8

Contoh kasus dalam tawuran antar pelajar dapat disebabkan oleh


banyak faktor, beberapa contoh di antaranya, yaitu:
1. Tawuran antar pelajar bisa terjadi karena tersinggungnya salah satu kawan,
yang ditanggapi dengan rasa setiakawan yang berlebihan.
2. Permasalahan yang sudah mengakar dalam artian ada sejarah yang
menyebabkan pelajar-pelajar dua sekolah saling bermusuhan.
3. Jiwa permanisme yang tumbuh dalam jiwa pelajar.
Rasa setia kawan atau lebih dikenal dengan sebutan rasa solidaritas
adalah hal yang lumrah atau biasa kita temukan dalam kehidupan, misalkan
dalam persahabatan rasa setiakawan akan menjadi alasan mengapa
persahabatan bisa menjadi kuat. Ia bisa menjadi indah ketika ditempatkan
dalam porsi yang pas dan seimbang. Namun, rasa setia kawan yang berlebihan
akan menyebabkan hal yang buruk, salah satunya adalah mengakibatkan
tawuran antar pelajar. Mungkin dari kita pernah mendengar tawuran antar
pelajar yang dipicu karena tersinggungnya seorang siswa yang tersenggol oleh
pelajar sekolah lain saat berpapasan di terminal, atau masalah kompleks
lainnya. Misalkan, permasalahan pribadi, rebutan perempuan, dipalak dan lain
sebagainya.

D. Dampak Tawuran antar Pelajar


Tawuran antar pelajar yang ada di Indonesia saat ini sudah menjadi
agenda rutin dan sepertinya sudah membudaya dalam kalangan mereka.
Banyak tawuran yang terjadi antar sekolah hanya karena dendam dari alumni
yang tidak terbalas dan akhirnya menjadi budaya turun temurun yang susah
untuk dihapuskan atau dihilangkan dari sekolah tersebut. Apabila tawuran
tetap ditumbuh kembangkan di kalangan pelajar maka akan menimbulkan
dampak negatif berupa kerugian. Tidak hanya bagi mereka para pelajar dan
sekolah yang bersangkutan, namun juga masyarakat sekitar. Kerugian tersebut
antara lain:
9

1. Kerusakan tempat tawuran/material


Dalam kerusakan di tempat mereka melakukan aksi tersebut
kebanyakan dari para pelaku tawuran tidak mau bertanggung jawab atas
kerusakan yang mereka timbulkan. Biasanya mereka hanya lari setelah
puas melakukan tawuran. Contohnya pecahnya kaca pada mobil,
perusakan fasilitas umum, pembakaran ban ataupun kendaraan bermotor,
dsb.
2. Rusaknya citra baik sekolah
Pencitraan yang baik yang telah dibangun oleh para perangkat
sekolah, baik itu kepala sekolah, jajaran guru dan karyawan, serta prestasi
yang diraih oleh murid yang lain akan pudar dan sirna apabila murid-
murid yang lain masih mempertahankan tradisi tawuran. Akibatnya di
tahun ajaran berikutnya, peminat calon murid baru akan berkurang.
3. Adanya korban jiwa
Tawuran antar pelajar selain merugikan secara material juga
mengakibatkan adanya korban jiwa. Misalnya tawuran antar pelajar yang
menggunakan senjata tajam seperti batu, celurit, dan senjata tajam lainnya
menyebabkan adanya korban luka baik korban luka ringan maupun berat,
dan bisa juga ada korban meninggal.
4. Dampak psikis
Contohnya keresahan masyarakat dan traumatis. Keresahan
masyarakat ini akan menimbulkan rasa tidak percaya terhadap generasi
muda yang seharusnya menjadi agen perubahan bangsa. Selain keresahan
itu, traumatis bisa dialami oleh masyarakat yang ada di lokasi saat terjadi
tawuran. Masyarakat akan menjadi takut dan tidak berani lagi berhadapan
dengan kelompok pelajar.
5. Rasa malu orang tua dan pihak sekolah atas ketidakberhasilan mendidik
anak didiknya.
6. Proses pembelajaran yang tertunda, dikarenakan skorsing ataupun di
keluarkan dari sekolah.
7. Dipenjarakan.
10

8. Menurunnya moralitas para pelajar.


Yang paling dikhawatirkan oleh para pendidik adalah berkurangnya
penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang
lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif
untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan
apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki
konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di
Indonesia.

E. Penanggulangan Tawuran antar Pelajar


1. Dengan memandang masa remaja merupakan periode storm and drang
period (topan dan badai) di mana gejala emosi dan tekanan jiwa, sehingga
perilaku mereka mudah menyimpang. Maka pelajar sendiri perlu mengisi
waktu luangnya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti mengikuti
kegiatan kursus, berolahraga, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dll.
2. Lingkungan keluarga juga dapat melakukan pencegahan terjadinya
tawuran, dengan cara:
a. Mengasuh anak dengan baik.
1) Penuh kasih sayang.
2) Penanaman disiplin yang baik.
3) Ajarkan membedakan yang baik dan buruk.
4) Mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan bertanggung
jawab.
5) Mengembangkan harga diri anak, menghargai jika berbuat baik
atau mencapai prestasi tertentu.
b. Ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat: hal ini membuat anak
rindu untuk pulang ke rumah.
c. Meluangkan waktu untuk kebersamaan orang tua menjadi contoh yang
baik dengan tidak menunjukkan perilaku agresif, seperti: memukul,
menghina dan mencemooh.
11

d. Memperkuat kehidupan beragama yang diutamakan bukan hanya ritual


keagamaan, melainkan memperkuat nilai moral yang terkandung
dalam agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
e. Melakukan pembatasan dalam menonton adegan film yang terdapat
tindakan kekerasannya dan melakukan pemilahan permainan video
game yang cocok dengan usianya.
f. Orang tua menciptakan suasana demokratis dalam keluarga, sehingga
anak memiliki keterampilan sosial yang baik. Karena kegagalan remaja
dalam menguasai keterampilan sosial akan menyebabkan ia sulit
menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Sehingga timbul rasa
rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku normatif
(misalnya, asosial ataupun anti-sosial).bahkan lebih ekstrem biasa
menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan
kriminal, tindakan kekerasan, dsb.
3. Sekolah juga memiliki peran dalam mengatasi pencegahan tawuran, di
antaranya:
a. Menyelenggarakan kurikulum pendidikan yang baik adalah yang bisa
mengembangkan secara seimbang tiga potensi, yaitu berpikir,
berestetika, dan berkeyakinan kepada tuhan.
b. Pendirian suatu sekolah baru perlu dipersyaratkan adanya ruang untuk
kegiatan olahraga, karena tempat tersebut perlu untuk penyaluran
agresivitas remaja.
c. Sekolah yang siswanya terlibat tawuran perlu menjalin komunikasi dan
koordinasi yang terpadu untuk bersama-sama mengembangkan pola
penanggulangan dan penanganan kasus. Ada baiknya diadakan
pertandingan atau acara kesenian bersama di antara sekolah-sekolah
yang secara "tradisional bermusuhan" itu.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Permasalahan yang timbul seperti Tawuran antar pelajar memang
bukanlah masalah sepele, dikarenakan makin banyaknya peristiwa serupa
yang terjadi belakangan ini, hal ini sangat disayangkan karena tindakan
tersebut sangatlah tidak terpuji, dan eksistensi diri para pelajarlah sebagai
pemicu terjadinya bentrok antar pelajar.
Kita harus semakin prihatin akan peristiwa yang terjadi di sekitar kita,
karena banyak faktor yang melatar belakanginya, antara lain faktor internal,
yaitu pribadi atau individu dan faktor eksternal, seperti: orang tua, sekolah,
dan lingkungan sekitar, dalam hal ini orang tua sangat memiliki peranan
penting dalam mendidik anak, karena teladan dan contoh yang baik bisa
membuat seorang anak menjadi baik, begitu pula sebaiknya, dan peran serta
sekolah serta lingkungan juga sangat diharapkan, di mana kondisi yang
kondusif bisa berdampak pada keadaan sekitar.
Perkelahian terjadi karena adanya situasi yang mengharuskan mereka
untuk berkelahi. Biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk
memecahkan masalah secara cepat kekerasan makin mewabah di mana-mana.
Wajah-wajah beringas para remaja kita telah menjadi momok tersendiri di
tengah-tengah masyarakat yang makin tak karuan ini. Karena para remaja
nantinya akan jadi generasi akan menjadi penerus bangsa ini dan mampu
menjadi pemimpin keluarga masa kelak mendatang. Banyak hal yang bisa
dipelajari dari peristiwa ini, selain dari dampak yang tentunya sangat-sangat
merugikan diri sendiri dan juga orang lain, serta cara-cara yang bisa
diterapkan untuk menghindari terjadinya tawuran.

B. Saran
Kami menyarankan untuk para pembaca untuk mencari informasi lebih
banyak lagi agar menambah pengetahuan dan wawasan tentang tawuran antar

12
13

pelajar. Karena dalam tawuran pelajar sangat tidak baik bagi generasi bangsa,
lebih tepatnya merugikan diri sendiri dan orang lain. Dampak yang terjadinya
tawuran antar pelajar pun akan mengakibatkan korban jiwa dan merusak

.
fasilitas-fasilitas yang ada di sekitarnya. .

C.Lampiran
DAFTAR PUSTAKA

Myers, G. David. 2012. Psikologi Sosial Edisi 2. Jakarta Selatan: Salemba


Humanika.

Jurdi, Syarifuddin. 2013. Sosiologi Nusantara. Jakarta: Kencana.

http://awaludinramdan1.blogspot.co.id/2011/12/faktor-internal-dan-external-
tawuran.html

http://boedioetomo145.blogspot.co.id/2014/01/pengertian-tawuran.html

https://najmyanna.wordpress.com/penyebab-terjadinya-tawuran-antar-pelajar

14

Anda mungkin juga menyukai