Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

Ganja adalah narkoba yang paling sering disalahgunakan di dunia. Ganja mendominasi 65% narkoba yang disita dan menempati urutan tertinggi penggunaannya di dunia dibanding narkoba lain. (World Drug Report (UNODC, 2008))

Di Indonesia, sekitar satu dari sepuluh pelajar mengaku pernah menggunakan atau mengisap ganja setidaknya satu kali dalam hidup. Bahkan, separuh dari yang mencoba, mengisap ganja setiap hari atau menjadi penyalahguna tetap.1 Data Kasus Tindak Pidana Narkoba di Indonesia sebagaimana dilaporkan Badan Narkotika Nasional (BNN) Tahun 2006 menyebutkan bahwa antara Tahun 2001 sampai dengan Tahun 2005 telah terjadi peningkatan yaitu kasus narkotika dari 1.907 tahun 2001 meningkat menjadi 8.171 tahun 2005, kasus psikotropika dari 1.648 tahun 2001 meningkat menjadi 6.733 tahun 2005, dan kasus bahan adiktif dari 62 tahun 2001 meningkat menjadi 1.348 tahun 2005 (BNN, 2006) karena berdasarkan Laporan Statistik Diskriptif Quiz BNN 2003, jenis NAPZA yang menjadi masalah utama di masyarakat yang pertama adalah heroin (putaw) sebesar 29%, kedua minuman keras (miras) sebesar 18,2%, dan ketiga adalah ganja sebesar 17,6% (BNN, 2003). 13,14

Suatu penelitian tentang ganja dan kesehatan jiwa menyebutkan bahwa penggunaan narkoba meningkatkan risiko timbulnya sakit jiwa hingga lebih dari 40 persen.Para dokter, sebagaimana meminta pihak-pihak yang berwenang untuk masalah kesehatan, mengingatkan kaum muda tentang risiko ganja terhadap pikiran.Kesimpulan tersebut berdasarkan tinjauan terhadap 35 penelitian yang meneliti frekwensi sizofrenia, khayalan, halusinasi, kekacauan pikiran dan sakit kejiwaan lainnya yang dialami para pemakai ganja.Pengguna ganja ternyata 41 persen lebih mungkin mengalami hal-hal tersebut dibanding mereka yang tidak pernah merokok.Risikonya relatif bertambah seiring banyaknya pemakaian.Studi itu juga mengamati risiko depresi, kegelisahan dan kondisi emosional lainnya, namun belum ada bukti yang pasti untuk mengaitkannya dengan ganja.

Di Inggris, 40 persen orang dewasa muda dan remaja pernah memakai ganja, sekitar 14 persen kasus kejiwaan kaum muda di Inggris dapat dihindari jika tidak ada pemakaian ganja.Penelitian itu dipimpin Theresa Moore dari University of Bristol, dan Stanley Zammit dari Cardiff University.2 Dalam sebuah penelitian terbaru, ganja menjadi alat yang dapat menyebabkan peningkatan risiko halusinasi, delusi dan psikosis. Intinya akan membuat penyakit jiwa, atau gila. Peneliti Australia hampir melibatkan 3.100 orang dewasa muda yang rata-rata usianya sekitar 20 tahun-- yang menggunakan marijuana.Mereka menemukan bahwa hampir 18 persen telah menggunakan obat selama tiga tahun atau kurang, sekitar 16 persen selama empat hingga lima tahun, dan hanya lebih dari 14 persen selama enam tahun atau lebih. Di antara para peserta, 65 telah didiagnosa dengan "non-psikosis afektif" seperti skizofrenia, semacam penyakit kejiwaan. Sedang 233 memiliki setidaknya satu item positif untuk diagnostik halusinasi pada wawancara yang dilakukan untuk penelitian. Para peneliti menemukan ada hubungan antara penggunaan marijuana secara panjang dan kesehatan mental. "Dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah menggunakan ganja," tulis Dr. John McGrath, dari Queensland Centre for Mental Health Research, Taman Pusat Kesehatan Mental di Wacol, dan kolega. Namun dalam catatan peneliti, menemukan bahwa hubungan antara psikosis dan penggunaan ganja tidak sederhana. Mereka menemukan bahwa orang yang sudah berpengalaman sebelumnya dalam halusinasi juga lebih mungkin menggunakan marijuana lebih lama dan menggunakannya lebih sering.3 Selain itu, Ilmuwan dari Bristol, Cambridge dan London School of Hygene and Tropical Medicine mengambil informasi terbaru dari sejumlah pemakai ganja, resiko muncul dan berkembangnya schizoprenia, dan resiko bahwa pemakaian ganja dapat menimbulkan schizoprenia untuk memperkirakan seberapa banyak pemakai ganja yang harus berhenti untuk mencegah satu kasus schizoprenia.4 Tahun lalu pemerintah Inggris mengklasifikasikan ulang ganja dari kelas C ke obatobatan kelas B, sebagian kecil dari kekhawatiran bahwa ganja, terutama varietas yang lebih kuat, dapat meningkatkan resiko schizoprenia pada anak-anak muda. Namun bukti akan adanya hubungan antara ganja dan schizoprenia atau psikosis tetap menjadi kontroversial.

Sebuah studi yang baru telah menyatakan bahwa mungkin perlu untuk menghentikan ribuan pengguna ganja hanya dalam rangka mencegah satu kasus schizoprenia.5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. ETIOLOGI Ganja (Cannabis sativa syn. Cannabis indica) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya, tetrahidrokanabinol (THC, tetra-hydro-cannabinol) yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana. Tanaman semusim ini tingginya dapat mencapai 2 meter. Berdaun menjari dengan bunga jantan dan betina ada di tanaman berbeda (berumah dua). Bunganya kecil-kecil dalam dompolan di ujung ranting. Ganja hanya tumbuh di pegunungan tropis dengan elevasi di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Ganja adalah nama pohon yang didalam ilmu tumbutumbuhan disebut cannabis sativa. Pohon ini dibedakan menjadi 2 jenis yaitu ganja jantan dan ganja betina. Ganja jantan tidak berbunga maupun berbuah sehingga tidak dapat diambil hasilnya kecuali seratnya digunakan untuk tali. Sedangkan ganja betina berbunga dan berbuah (Sudiro, 2003). Ganja merupakan tanaman yang dapat tumbuh hampir di seluruh dunia. Hal ini dapat dilihat dari adanya sebutan yang berbeda di satu negara dengan negara lainnya. Ketika tanaman telah tumbuh dengan sempurna maka seluruh bagiannya mengandung zat psikoaktif yang secara keseluruhan dikenal sebagai cannabinoids. Lebih dari 50 zat yang terkandung dalam ganja, namun yang terpenting adalah delta-9 tetrahydrocannabinol (THC). Kandungan THC akan tergantung pada bagian dari tumbuhan, kondisi lingkungan terutama iklim dimana tanaman ganja tumbuh. Dalam perkembangannya dengan teknologi hidroponik dan pemilihan tanaman ganja yang tepat dapat menghasilkan kandungan THC yang sangat tinggi (20-30%) (Ghodse, 2002).

Kandungan THC dalam ganja menjadi pembagi bentuk ganja menjadi tiga yaitu marijuana (bhang, ganja, ganga, sinsemilla), hashish (charas, cannabis resin), dan hash oil (liquid cannabis). Marijuana merupakan hasil dari pengeringan pucuk bunga dan daun ganja. Kandungan THC tertinggi ada dalam pucuk bunga, kemudian menurun pada pucuk daun dan menurun lagi pada daun yang dibawahnya. Kandungan THC untuk marijuana berkisar antara 0.5 sampai 5% namun untuk sinsemilla berkisar antara 7 sampai 14%. Sedangkan hashish kandungan THC berkisar antara 2 sampai 8% dan hashish oil antara 15 sampai 50% (Diaz, 1997;,Hall., Louise & Michael, 2001; Ghodse, 2002). Pemakaian ganja/cannabis paling sering dilakukan dengan cara merokok dalam bentuk seperti sigaret dan sering disebut joint. Tembakau sering juga ditambahkan untuk memudahkan dalam membakarnya. Pemakaian hashish juga sering dicampur dengan tembakau dan dengan cara merokok seperti juga cigaret, namun lebih banyak yang menggunakan pipa air yang lebih dikenal dengan bong. Hashish juga dimakan dalam makanan yang sudah dimasak. Efek psikoaktif THC akan lebih cepat dengan cara dihisap daripada dimakan.THC tidak dapat dilarutkan dalam air sehingga tidak memungkinkan dengan cara menyuntikan. Dalam bentuk joint tertentu biasanya berisi antara 0.5 sampai 1.0 gram material tanaman ganja dan antara 5 sampai 150 mg THC. THC yang bereaksi dengan aliran darah hanya 5 sampai 24% ketika ganja dirokok. Bagi pemakai yang sifatnya occasional 2 sampai 3 mg THC sudah cukup untuk mengasilkan efek yang diinginkan sehingga satu joint cukup untuk digunakan 2 sampai 3 pemakai. Namun demikian pemakai ganja yang sudah kronis memerlukan lima atau lebih lebihjoint setiap harinya (Hall., Louise & Michael, 2001). Ganja menjadi simbol budaya hippies yang pernah populer di Amerika Serikat. Hal ini biasanya dilambangkan dengan daun ganja yang berbentuk khas. Selain itu ganja dan opium juga didengungkan sebagai simbol perlawanan terhadap arus globalisme yang dipaksakan negara kapitalis terhadap negara berkembang. Di India, sebagian Sadhu yang menyembah dewa Shiva menggunakan produk derivatif ganja untuk melakukan ritual penyembahan dengan cara menghisap Hashish melalui pipa Chilam/Chillum, dan dengan meminum Bhang.

Berdasarkan penelitian terakhir, hal ini (lonjakan kreatifitas), juga di pengaruhi oleh jenis ganja yang digunakan. Salah satu jenis ganja yang dianggap membantu kreatifitas adalah hasil silangan modern "Cannabis indica" yang berasal dari India dengan "Cannabis sativa" dari Barat, jenis Marijuana silangan inilah yang merupakan tipe yang tumbuh di Indonesia. 6 Tanaman ini ditemukan hampir disetiap negara tropis. Bahkan beberapa negara beriklim dingin pun sudah mulai membudidayakannya dalam rumah kaca.Di Indonesia, ganja dibudidayakan secara ilegal di Provinsi Aceh. Biasanya ganja ditanam pada awal musim penghujan, menjelang kemarau sudah bisa dipanen hasilnya.Hasil panen ganja berupa daun beriut ranting dan bunga serta buahnya berupa biji-biji kecil. Campuran daun, ranting, bunga, dan buah yang telah dikeringkan inilah yang biasa dilinting menjadi rokok mariyuana. Kalau bunga betinanya diekstrak, akan dihasilkan damar pekat yang disebut hasyis. Sebutan lain ganja adalah marijuana (bahasa Inggris), tampee (bahasa Inggris Jamaika), pot, maui wowie, weed, dope atau green stuff (slang bahasa Inggris), cimeng, baks, skab, atau gele (slang bahasa Indonesia).7 Menurut riset, mereka yang menghisap "skunk" - sejenis daun ganja yang berefek kuat-memiliki kemungkinan tujuh kali lebih besar mengidap penyakit psikotik seperti schizophrenia daripada mereka yang menghisap "ekstrak ganja" atau getah ganja. Ilmuwan dari institut psikiatri Kings College London mengatakan studi mereka kali pertama yang mengamati skunk secara khusus, daripada mengamati daun ganja umumnya, dan menemukan tingkat tretrahidrocannabinol atau THC, yang patut disalahkan sebagai efek negatif obat-obatan pada kesehatan mental.11 B.JENIS-JENIS GANJA

Pada penelitian terakhir tentang ganja, ditemukan ada 3 (tiga) jenis tanaman ganja yaitu Cannabis Sativa, Cannabis Indica, dan Cannabis Ruderalis. Ketiga jenis tanaman ganja itu semuanya memiliki kandungan THC (Tetra Hydro Cannabinol) yang berbeda - beda tingkat kadarnya untuk setiap jenisnya. Jenis Cannabis Indica mengandung THC paling banyak, disusul jenis Cannabis Sativa, dan jenis Cannabis Ruderalis mengandung THC paling sedikit. THC sendiri adalah zat psikoaktif yang berefek halusinasi dan ini terdapat dalam keseluruhan

pada bagian tanaman ganja, baik daunnya, rantingnya, ataupun bijinya. Karena kandungan THC inilah, maka setiap orang yang menyalahgunakan ganja akan terkena efek psikoaktif yang sangat membahayakan.7

C.PATOFISIOLOGI Ketika seseorang merokok ganja,THC dengan sangat cepat masuk aliran darah melalui paru yang mana membawa zat-zat kimia ke seluruh organ tubuh termasuk otak. Didalam otak THC terhubungan dengan tempat spesifik yang dinamakan cannabinoid receptor pada sel-sel saraf dan akhirnya mempengaruhi aktifitas sel-sel tersebut. Beberapa bagian dari otak memiliki banyak cannabinoid receptor, sebagian sedikit dan sebagian lainnya tidak memiliki sama sekali. Cannabinoid receptor paling banyak yang terdapat pada bagian otak berhubungan dengan fungsi koordinasi gerak tubuh (Cerebellum), fungsi daya tangkap dan ingatan (hippocampus), fungsi-fungsi kognitif lebih tinggi (Cerebral cortex terutama cingulated, frontal danparietal), fungsi reward (Nucleus accumbens) dan fungsi kontrol gerakan (Basal ganglia). Disamping itu dalam konsentrasi moderatcannabinoid receptor terdapat pada Hypothalamus, Amygdala, Spinal cord, Brain stem, Cenral gray, dan Nucleus of the solitary tract (NIDA, 2005) .Efek psikologis dan kesehatan yang segera setelah seseorang mengkonsumsi ganja adalah euphoria, relaksasi, perubahan persepsi, dan intensifikasi dari pengalaman pancaindra yang luarbiasa, seperti makan, melihat film, dan mendengarkan musik. Efek kognitifnya meliputi berkurangnya memori jangka pendek dan kehilangan hubungan. ketrampilan dan reaksi motoriknya juga mengalami kemunduran. Efek tidak nyaman yang biasa terjadi dari ganja adalah gelisah, panik, dan perasaan tertekan. Pengaruh ini hanya terjadi pada mereka yang belum terbiasa dengan ganja dan pasien yang diberikan THC untuk tujuan pengobatan. Bagi mereka yang telah terbiasa dengan ganja maka mereka akan menginginkan harapan-harapan yang lebih tinggi lagi dengan konsumsi yang lebih banyak sehingga menimbulkan efek delusi dan halusinasi.9 THC akan meningkatkan denyut jantung antara 20% sampai 50% setelah beberapa menit sampai seperempat jam setelah seseorang merokok atau menelan ganja. Hal ini akaberlangsung sampai 3 jam. Tekanan darah akan naik ketika orang duduk dan akan turun

ketika berdiri. Efek kardiovaskuler akan lebih dirasakan pada pasien dengan penyakit jantung.10 Keracunan secara cepat pada pengguna ganja sangat rendah dan tidak ditemukan kasus yang fatal dari keracunan akibat penyalahgunaan ganja pada manusia. Tentu saja ini juga dipengaruhi oleh cara penggunaan dengan merokok dan ditelan yang mengakibatkan lambatnya reaksi dalam tubuh, disamping juga ditentukan oleh kandungan THC dari ganja yang dikonsumsi.

D.GEJALA DAN TANDA

Sedemikian berbahayanya unsur THC dalam ganja itu, sehingga untuk orang yang baru pertama kali menyalahgunakan ganja saja, akan segera mengalami intoksikasi (keracunan) ganja yang secara fisik yaitu : jantung berdebar (denyut jantung menjadi bertambah cepat 50% dari sebelumnya), bola mata memerah (disebabkan pelebaran pembuluh darah kapiler pada bola mata), mulut kering (karena kandungan THC mengganggu sistem syaraf otonom yang mengendalikan kelenjar air liur), nafsu makan bertambah (karena kandungan THC merangsang pusat nafsu makan di otak), dan tertidur (setelah bangun dari tidur,dampak fisik akan menghilang)

Secara psikis, penyalahgunaan ganja juga menyebabkan dampak yang cukup berbahaya seperti timbulnya rasa kuatir (ansieitas) selama 10 - 30 menit, timbulnya perasaan tertekan dan takut mati, gelisah, bersikap hiperaktif (aktifitas motorik mengalami peningkatan secara berlebihan), mengalami halusinasi penglihatan (dalam bentuk kilatan sinar, warna warni cemerlang, amorfiaq, bentuk - bentuk geometris, dan wajah - wajah para tokoh. Juga bisa dalam bentuk tanggapan pancaindera visual dan pendengaran tanpa adanya rangsangan, seperti melihat orang lewat padahal tidak ada orang lewat, mendengar suara padahal tidak ada suara), mengalami perubahan persepsi tentang waktu dan ruang (misalnya, satu meter dipersepsi sepuluh meter, sepuluh menit dipersepsi satu jam), mengalami euphoric (rasa gembira berlebihan), tertawa terbahak - bahak tanpa sebab (tanpa rangsangan yang patut membuat orang tertawa), banyak bicara (merasa pembicaraannya hebat), merasa ringan pada seluruh tungkai badan, mudah terpengaruh, merasa curiga (tapi tidak menimbulkan rasa takut,

bahkan cenderung menyepelekan dan menertawakannya), merasa lebih menikmati musik, mengalami percaya diri berlebihan (merasa penampilan dirinya paling hebat walau kenyataannya sebaliknya), mengalami sinestesia (misalnya, melihat warna kuning setiap kali mendengar nada tertentu), dan mengantuk lalu tertidur nyenyak tanpa mimpi setelah mengalami halusinasi penglihatan selama sekitar 2 (dua) jam. Bagi penyalahgunaan ganja dalam dosis rendah dan sedang. Dampaknya juga sama berbahayanya, seperti mengalami hilaritas (berbuat gaduh), mengalami oquacous euphoria (euphoria terbahak - bahak tanpa henti), mengalami perubahan persepsi ruang dan waktu, berkurangnya kemampuan koordinasi, pertimbangan, dan daya ingat, mengalami peningkatan kepekaan visual dan pendengaran (tapi lebih ke arah halusinasi), mengalami conjunctivitis (radang pada saluran pernafasan), dan mengalami bronchitis (radang pada paru - paru).

Pada penyalahgunaan ganja dengan dosis tinggi, dampak yang diakibatkan adalah seorang penyalahguna ganja akan mengalami ilusi (khayalan), mengalami delusi (terlalu menekankan pada keyakinan yang tidak nyata), mengalami depresi (mental mengalami tekanan), kebingungan, mengalami alienasi (keterasingan), dan halusinasi (terkadang, juga disertai gejala psikotik seperti rasa ketakutan dan agresifitas).8,9

Di Forti dan para kolega, yang karyanya telah dipublikasikan di British Journal of Psychiatry, mengamati 280 pasien yang mengalami episode psikotik pertama dan 174 orang sehat dari area London dimana riset mereka diadakan."Risiko psikosis pada pengguna rutin daun ganja jauh lebih besar, terutama mereka yang menggunakan skunk, dibandingkan pengguna tidak rutin ekstrak ganja tradisional," kata Marta di Forti, psikiater yang memimpin studi.11 Peneliti menemukan bahwa mereka yang didiagnosa menderita psikosis cukup serius sampai seminggu dan mendapatkan surat pengantar agar dirawat di rumah sakit memiliki kemungkinan dua kali lipat sebagai pengguna ganja selama lebih dari lima tahun dan berisiko lebih dari enam kali lipat bagi mereka yang menggunakannya setiap hari. Dan diantara pengguna ganja - baik dari kelompok sehat maupun psikotik - yang mengalami psikosis memiliki kemungkinan hampir tujuh kali lipat sebagai pengguna skunk, penemuan yang dideskripsikan sebagai "terlihat jelas" oleh para ilmuwan.Studi sebelumnya

menyatakan bahwa menghisap daun ganja dapat menggandakan risiko mengidap psikosis, lanjut Di Forti, namun dia yang kali pertama mengamati skunk-psikotropika yang menurutnya telah mengambil alih getah ganja di perdagangan pasar gelap di banyak negara.11

E.DIAGNOSIS Bila pasien tidak menyebutkan Napza yang digunakannya,maka lakukan pemeriksaan urinalisis.Zat aktifnya delta-9 Tetrahidrokarbinol dan diekskresi dalam bentuk Karboksilat, yang kemudian terkonjugasi dengan asam glukoronat. Hasil pemeriksaan urine masih positif sampai 2-3 minggu.Pada pemakaian ganja yang kronis,boleh berbulan-bulan masih positif dalam urine. Hendaknya dalam wawancara kita harus betul-betul yakin dengan data yang diperoleh mengingat perilaku pencandu ganja yang sering manipulative.

F.PENATALAKSANAAN

Pada penyalahgunaan ganja yang mengalami putus zat, akan mendapatkan symptom seperti influenza,gelisah,mudah tersinggung,gangguan tidur,nafsu makan berkurang,berkeringat,tremor,mual,muntah,diare.Umumnya keadaan ini ringan dan tak perlu rawat inap. Bila ada waham maka pasien ditenangkan dan jika perlu berikan Diazepam atau anti psikotik dosis rendah contohnya Haloperidol 0,5mg-2,5mg. Dalam keadaan intoksikasi,ajak pasien bicara untuk menenangkannya.Kalau gelisah beri Diazepam,Clobazam 10-30mg.

Perbaikan factor psikososial,setelah sindrom putus zat teratasi,maka perlu dilanjutkan dengan terapi terhadap gangguan jiwa lainnya.psikopatologi yang terdapat bersamaam dengan gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif yaitu dengan psikoterapi individual,psikoterapi kelompok,psikoterapi keluarga,psikoterapi komunitas dan terapi tingkah laku.

G. (KOMPLIKASI) DAMPAK KESEHATAN DAN SOSIAL PENYALAHGUNAAN GANJA

Bahaya penyalahgunaan ganja secara teratur dan berkepanjangan juga berakibat fatal berupa gangguan fisik dan gangguan psikis. Gangguan fisiknya antara lain : mengalami radang paru - paru, mengalami iritasi dan pembengkakan saluran nafas, mengalami kerusakan pada aliran darah koroner dan beresiko menimbulkan serangan nyeri dada, beresiko terkena kanker lebih tinggi (karena daya karsinogenik yang terdapat pada ganja jauh lebih tinggi dari pada tembakau), menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit (karena penyalahgunaan ganja menekan produksi leukosit), serta menurunnya kadar hormon pertumbuhan baik hormon tiroksin (hormon kelenjar gondok) dan maupun hormon kelamin pada laki - laki dan perempuan. Selain itu, gangguan fisik yang ditimbulkan juga menyebabkan pengurangan produksi sperma pada laki - laki dan gangguan menstruasi dan aborsi pada perempuan.

Sedangkan, gangguan psikis akibat penyalahgunaan ganja secara teratur dan berkepanjangan menyebabkan : menurunnya kemampuan berpikir, membaca, berbicara, berhitung, dan bergaul, terganggunya fungsi psikomotor (gerakan tubuh menjadi lamban), kecenderungan menghindari kesulitan dan menganggap ringan masalah, tidak memikirkan masa depan, dan terjadinya syndrom amotivasional (tidak memiliki semangat juang). 8,9 Beberapa penelitian sampai saat ini masih lebih banyak menunjukkan betapa penggunaan ganja dalam kehidupan manusia tetap merugikan. Herning dan Cadet (2001) bersama National Institute on Drug Abuse (NIDA) melaporkan hasil penelitiannya dimana bukti-bukti awal menunjukkan bahwa penyalahgunaan ganja yang kronis dapat menghambat aliran darah ke otak dan meningkatkan resiko terkena stroke pria dengan usia 18 sampai 30 tahun. Penelitian juga menemukan bahwa aliran darah dalam otak orang dewasa muda yang menyalahgunakan ganja sebanding dengan orang tua berumur 60 tahun yang tidak menyalahgunakan ganja (NIDA, 2002).

Penelitian kohort tentang penggunaan ganja dan kesehatan mental pada remaja menemukan bahwa konsumsi ganja secara reguler terutama pada remaja perempuan kemungkinan mengalami depresi dan anxiety pada dewasa muda 4 kali lebih besar daripada yang tidak mengkonsumsi ganja. Konsumsi ganja secara reguler mingguan terutama pada remaja perempuan kemungkinan mengalami depresi dananxiety pada dewasa muda 2 kali

lebih besar daripada yang tidak mengkonsumsi ganja. Sebaliknya Depresi dan anxiety pada remaja tidak dapat untuk meramalkan penggunaan ganja pada dewasa muda (Patton, George J., et al., 2002). Selain itu penggunaan ganja 1-3 kali setiap bulan berhubungan dengan peningkatan perilaku merokok harian, peningkatan konsumsi alkohol reguler, peningkatan keluhan fisik, peningkatan tekanan psikososial dan pada wanita dengan berkurangnya sikap hidup positif. Penggunaan ganja bulanan dapat sebagai suatu indikator meningkatnya tekanan biopsikososial (Brodbeck, Jeannete., Monika Matter, and Franz Moggi, 2005) Dalam kaitannya dengan kehidupan remaja, hasil penelitian yang dilakukan oleh National Survey on Drug Use and Health (NSDUH) menemukan adanya hubungan antara frekuensi penggunaan ganja pada remaja dengan masalah-masalah perilaku. Peningkatanperilaku kenakalan remaja berhubungan dengan meningkatnya frekuensi penyalahgunaan ganja pada remaja (NSDUH, 2004). Hasil ini sesuai dengan kesimpulan dari beberapa penelitian serta kajian tentang penggunaan ganja dan performa remaja yang menyatakan bahwa ganja adalah zat adiktif yang dikonsumsi secara luas pada remaja dan banyak diantara mereka mempersepsikan resiko yang kecil dari perilaku ini. Penyalahgunaan ganja berhubungan dengan rendahnya prestasi akademik dan meningkatkan drop out sekolah. Perilaku ini juga berhubungan dengan perilaku beresiko tinggi pada remaja seperti kriminalitas, kekerasan, perilaku seks tak aman, dan kecelakaan lalulintas. Beberapa remaja memiliki kelakuan yang tidak sehat, ADHD, dan sulit untuk menerima pelajaran. Bukti- bukti menunjukkan bahwa penyalahgunaan ganja merupakan penyebab penyalahgunaan zat yang lebih berat seperti heroin dan kokain (Malhorta & Parthasarathy, 2006). Studi jangka panjang yang pernah dilakukan di Amerika Serikat menemukan pemakaian ganja berdosis tinggi dapat menyebabkan gangguan jiwa (psikosis) dan kelainan saraf. Gejala yang ditimbulkan termasuk hilangnya persepsi atau pikiran wajar bahkan sampai ke tingkat skizofrenia. Ganja lebih bersifat karsinogenik (bisa mendorong/menyebabkan kanker) jika dibandingkan dengan rokok karena zat aktif THC dalam ganja mengandung zat penyebab kanker. Sebuah studi kanker yang dipublikasikan di New England lourval of Medicine menemukan wanita dan anak-anak yang menggunakan ganja mempunyai risiko 11 kali lebih tinggi untuk terkena leukemia.Kadar ganja dalam darah dapat dideteksi hingga beberapa minggii setelah penggunaan terakhir dan jejaknya tidak akan pernah hilang dalam tes DNA.

Itu yang menyebabkan pecandu berat ganja mempunyai ingatan jangka pendek sehingga sulit mengingat hal-hal yang terjadi, bahkan yang terjadi beberapa menit sebelumnya.Studi jangka panjang yang pernah dilakukan di Amerika Serikat menemukan pemakaian ganja be rdosis tinggi dapat menyebabkan gangguan jiwa (psikosis) dan kelainan saraf. Sebuah studi kanker yang dipublikasikan di New England lourval of Medicine menemukan wanita dan anak-anak yang menggunakan ganja mempunyai risiko 11 kali lebih tinggi untuk terkena leukemia.Kadar ganja dalam darah dapat dideteksi hingga beberapa minggii setelah penggunaan terakhir dan jejaknya tidak akan pernah hilang dalam tes DNA.

BAB III KESIMPULAN

Dalam perkembangannya potensi masalah penyalahgunaan ganja saat sudah lebih erat lagi daripada 30 tahun yang lalu (NIDA, 2002). Kualitas ganja yang semakin tinggi merupakan tantangan karena akan membawa perubahan yang dalam berbagai hal. Fakta di lapangan menunjukkan semakin meningkatnya jumlah ganja dengan kandungan THC yang semakin tinggi. Menurut World Drug Report (2006) ada tiga alasan yang mengkhawatirkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat: Pertama, pertumbuhan dari periode kesehatan akut (the growth of acute health episodes). Kandungan THC yang tinggi tentunya membawa

konsekuensi yang berbeda dengan pengguna ganja dengan THC yang rendah. Meskipun secara teoritis konsumsi bisa saja dikurangi untuk mendapatkan efek yang sama, namun dalam kenyataannya sangat sulit untuk dilakukan. Alasan kedua, pertumbuhan kebutuhan tempat rehabilitasi. Peningkatan kadar THC akan berakibat semakin banyaknya pengguna ganja yang kemungkinan menjadi adiksi dan ketergantungan yang pada akhirnya memerlukan tempat untuk rehabilitasi. Sedangkan alasan ketiga adalah terjadinya perubahan pemahaman tentang dampak kesehatan dari konsumsi ganja. Beberapa opini masyarakat saat ini telah mengalami perubahan dimana mengkonsumsi ganja hanya sedikit bahayanya. Opini ini sesungguhnya cukup beralasan karena banyak ilmuwan menemukan kenyataan bahwa bahaya tembakau dan alkohol jauh lebih besar dari bahaya ganja Pandangan di atas tentu saja tidak sepenuhnya benar karena posisi ganja dengan tembakau dan alkohol adalah berbeda, sehingga kita belum bisa memprediksi jika kemudahan mendapatkan ganja ini menjadi semudah mendapatkan tembakau maka bagaimana dampaknya terhadap kesehatan masyarakat .Walaupun ada pandangan yang baru, namun World Drug Report (2006) masih tetap dengan keyakinan bahwa ganja adalah tidak baik untuk kesehatan.