Anda di halaman 1dari 20

Bab

PENDATAAN

Pada bab ini akan diuraikan mengenai kegiatan pendataan yang dilakukan dalam kepentingan Pajak Bumi dan Bangunan. Kegiatan pendataan dalam PBB meliputi pengadaan data atribut dan data spasial (peta). Dalam pengadaan data atribut dilakukan secara pasif dan aktif sedangkan dalam pengadaan data spasial hanya dilakukan secara aktif, artinya fiskus dalam hal ini Direktorat PBB dan BPHTB yang melaksanakan kegiatan pendataan. Kegiatan pendataan PBB tidak dapat dilepaskan dari bidang pemetaan atau lebih dikenal dengan ke-geodesi-an. Standar umum dari perpetaan dan pemetaan merupakan bidang kajian geodesi. Dalam kegiatan ini diperlukan pengetahuan dasar-dasar geodesi untuk diterapkan dalam pengadaan data spasial PBB yang antara lain meliputi metode pengukuran, pengolahan data, plotting/representasi data spasial dan teknologi pemetaan.

Direktorat PBB dan BPHTB dalam mendukung kegiatan pendataan ini melakukan langkah-langkah strategis diantaranya: 1. Pembangunan dan pengembangan sistem informasi geografis yang dahulu bernama SIIG PBB, SIG PBB dan terakhir menjadi smart map PBB. 2. Peningkatan kualitas dan kuantitas data spasial melalui digitalisasi peta blok PBB, pemanfaatan citra satelit dan pemetaan digital. 3. Pengembangan dan penambahan sarana pendukung pemetaan dengan pengadaan peralatan pemetaan diantaranya receiver GPS, laser meter untuk mengukur jarak, dan sebagainya. 4. Integrasi data spasial nasional melalui digital transformation.

52

Bab 4: Pendataan

5. Peningkatan sumber daya melalui Program Tugas Belajar tingkat S-1 Teknik Geodesi, S-2 Geomatika di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada dan Program Tugas Belajar tingkat S-2 Manajemen Administrasi Pertanahan dan S-3 Manajemen Informasi Fiskal dan Kadaster di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung. Secara garis besar uraian dalam bab ini terbagi dalam 3 bagian yaitu pengadaan data atribut, pengadaan data spasial, metode dan teknologi pemetaan PBB, pemanfaatan citra satelit untuk PBB, dan Digitalisasi Peta Blok PBB.

Pendaftaran, Pendataan dan Penilaian Objek dan Subjek PBB dalam Rangka Pembentukan dan Pemeliharaan Basis Data SISMIOP
Pendaftaran, Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP), Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) dan Surat Ketetapan Pajak (SKP) diatur dalam Pasal 9, yang isinya adalah: 1. Dalam rangka pendataan subjek pajak wajib mendaftarkan objek pajaknya dengan mengisi Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP). 2. SPOP sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus diisi dengan jelas, benar, dan lengkap serta ditandatangani dan disampaikan kepada Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi letak Objek Pajak, selambatlambatnya 30 hari setelah tanggal diterimanya SPOP oleh Subjek Pajak. Melihat pasal ini prinsip self asesment dapat kita lihat pada saat pendaftaran dan pendataan, yang atas kemauan Subjek Pajak melaksanakan apa yang ada dalam Pasal tersebut. Kemudian selanjutnya dalam pelaksanaan administrasi mengingat tingkat kemampuan masyarakat dari Sabang sampai Merauke sangat berjenjang, pendaftaran dan pendataan Wajib Pajak/Subjek Pajak yang mempunyai kriteria pengetahuan, maka perlu dibantu dan dipermudah dengan melaksanakan Pasal 9 ayat (3) yang menyatakan bahwa pelaksanaan dan tata cara Objek Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan. Untuk itu Menteri Keuangan telah menerbitkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No.1008/KMK.04/1985 tentang Tata Cara Penyampaian Laporan dan Pemberian Keterangan dari Pejabat yang dalam jabatannya berkaitan langsung/ada hubungannya dengan objek PBB, dan Keputusan Menteri Keuangan No.817/KMK.04/1991 tentang Tata Cara Pendaftaran dan Pendataan Objek dan Subjek PBB dan dituangkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. 04/PJ.06/1998 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaran, Pendataan dan Penilaian Objek dan Subjek PBB dalam rangka Pembentukan dan Pemeliharaan Basis Data SISMIOP. Kemudian Surat Keputusan ini diubah dengan menerbitkan Surat Keputusann Direktur Jenderal Pajak No.KEP-533/PJ/2000 terakhir telah diubah dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak KEP-115/PJ/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaran, Pendataan dan Penilaian Objek dan Subjek PBB dalam rangka Pembentukan dan Pemeliharaan Basis Data SISMIOP yang berlaku hingga sekarang. Dalam perjalanan pelaksanaan PBB Surat Keputusan Menteri Keuangan ini kemudian terakhir telah disampaikan dengan terbitnya surat edaran Direktur

Pajak Bumi dan Bangunan

53

Jenderal Pajak No.SE-60/PJ/2001 tanggal 25 Januari 2001 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaran, Pendataan dan Penilaian Objek dan Subjek PBB dalam rangka Pembentukan dan Pemeliharaan Basis Data SISMIOP sebagaimana Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. KEP-533/PJ/2000 sebagaimana telah diubah terakhir dengan KEP-115/PJ/2002 tanggal 24 Maret 2002 adalah sebagai berikut: Beberapa hal penting yang harus diperhatikan pada Surat Edaran ini adalah: 1. Alternatif kegiatan pembentukan dan atau pemeliharaan basis data; 2. Bentuk dan struktur organisasi serta uraian tugas dan tanggung jawabnya; 3. Petunjuk pelaksanaan kegiatan penilaian; 4. Prosedur penyampaian laporan kegiatan; 5. Standar biaya kegiatan pembentukan dan atau pemeliharaan basis data (yang dituangkan sebagai lampiran dari petunjuk pelaksanaan tsb). 6. Estimasi perhitungan biaya alternatif kegiatan Pendataan dalam rangka pembentukan dan atau pemeliharaan basis data SISMIOP per-Objek Pajak; 7. Kegiatan pembentukan basis data SISMIOP pada suatu Daerah/Wilayah dapat dilaksanakan satu kali dan selanjutnya merupakan kegiatan pemeliharaan basis data. Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. KEP- 533/PJ/2000 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaraan, Pendataan dan Penilaian Objek dan Subjek PBB dalam rangka Pembentukan dan atau Pemeliharaan Basis Data SISMIOP antara lain menyatakan : Pelaksanaan Basis Data SISMIOP PBB sebagaimana diatur dalam Pasal 1 dilakukan melalui kegiatan: a. Pendaftaran Objek dan Subjek PBB b. Pendataan Objek dan Subjek PBB c. Penilaian Objek dan Subjek PBB (seharusnya penilaian objek saja, tidak ada penilaian Subjek Pajak). Pendaftaran dan Subjek Pajak dilaksanakan melalui : 1. Pendaftaran Objek PBB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a dilakukan oleh Subjek Pajak dengan cara mengisi SPOP; 2. Wajib Pajak yang memiliki NPWP mencantumkan NPWP dalam kolom yang tersedia dalam SPOP; 3. SPOP diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani dan disampaikan ke KPPBB yang wilayah kerjanya meliputi letak objek pajak, selambat-lambatnya 30 hari setelah tanggal diterimanya SPOP oleh Subjek Pajak atau kuasanya; 4. Formulir SPOP disediakan dan dapat diperoleh dengan cuma-cuma di KPPBB atau ditempat lain yang ditunjuk. Pendataan Objek dan Subjek Pajak dilakukan dengan: 1. Pendataan Objek dan Subjek PBB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf b dilakukan oleh KPPBB dengan menuangkan hasilnya dalam formulir SPOP; 2. Pendataan dilakukan dengan alternatif:

54

Bab 4: Pendataan

a. Penyampaian dan Pemantauan Pengembalian SPOP; b. Identifikasi Objek Pajak; c. Verifikasi Data Objek Pajak; d. Pengukuran Bidang Objek Pajak. Agar dapat dilakukan perhitungan pengenaan pajaknya Objek Pajak perlu dinilai dengan cara: 1. Penilaian Objek Pajak PBB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf c dilakukan oleh KPPBB baik secara massal maupun secara individual dengan menggunakan pendekatan penilaian yang telah ditentukan. 2. Hasil penilaian Objek Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digunakan sebagai dasar penentuan NJOP. Khusus hasil penilaian objek bumi, sebelum ditetapkan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak perlu dikonfirmasikan terlebih dulu kepada Pemerintah Daerah untuk mendapatkan pertimbangan. Hasil dari pendataan dan pendaftaran dikelola dengan menggunakan suatu sistem guna memelihara basis data Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP) dilakukan dengan cara: a. PASIF, yaitu kegiatan pemeliharaan basis data yang dilakukan oleh petugas KPPBB berdasarkan laporan yang diterima dari Wajib Pajak dan atau Pejabat/Instansi terkait pelaksanaanya sesuai prosedur Pelayanan Satu Tempat (PST); b. AKTIF, yaitu kegiatan pemeliharaan basis data yang dilakukan oleh KPPBB dengan cara mencocokkan dan menyesuaikan data objek dan subjek pajak yang ada dengan keadaan sebenarnya di lapangan atau mencocokkan dan menyesuaikan NJOP dengan rata-rata nilai pasar yang terjadi di lapangan. Lampiran Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-533/PJ/2000 ini dalam pendahuluannya mengemukakan tentang latar belakang, maksud dan tujuan serta istilah dan pengertian yang seharusnya dikuasai oleh setiap pegawai Direktorat Jenderal Pajak, dan khususnya bagi para siswa yang mempelajari pelaksanaan PBB maka juga diharuskan menguasai keputusan ini. Pendataan Objek dan Subjek PBB dilaksanakan oleh KPPBB atau pihak lain yang ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Pajak, dan selalu diikuti dengan kegiatan penilaian. Pendataan dilakukan dengan menggunakan formulir SPOP dan dilakukan sekurang-kurangnya untuk satu wilayah administrasi Desa/Kelurahan dengan menggunakan/memilih salah satu dari empat alternatif sebagai berikut: a. Penyampaian dan Pemantauan Pengembalian SPOP 1) Perorangan 2) Kolektif b. Identifikasi Objek Pajak Pendataan dengan alternatif ini dapat dilaksanakan pada daerah/wilayah yang sudah mempunyai peta garis/peta foto yang dapat menentukan posisi relatif objek pajak tetapi tidak mempunyai data administrasi pembukuan PBB. Data tersebut merupakan hasil pendataan secara lengkap tiga tahun terakhir. c. Verifikasi Data Objek Pajak

Pajak Bumi dan Bangunan

55

Alternatif ini dapat dilaksanakan pada daerah/wilayah yang sudah mempunyai peta garis/foto dan sudah mempunyai data administrasi pembukuan PBB hasil pendataan tiga tahun terakhir secara lengkap. d. Pengukuran Bidang Objek Pajak Alternatif ini dapat dilaksanakan pada daerah/wilayah yang hanya mempunyai sket peta desa/kelurahan (misalnya dari Biro Pusat Statistik atau Instansi lain) dan atau peta garis/foto tetapi belum dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif Objek Pajak. Hasil dari pendataan yang telah diperoleh dan dicatat dalam administrasi Direktorat PBB & BPHTB harus dikelola dengan baik dan harus selalu dipelihara dengan baik agar bila diperlukan sewaktu-waktu dapat diperoleh informasi/data yang benar, cepat dan akurat. Pemeliharaan data serta pengadaan data siap saji tersebut dilaksanakan dengan menggunakan Sistem Informasi Manajemen Objek Pajak (SISMIOP).

Basis Data yang telah Terbentuk


Basis Data seluruh Objek Pajak dan Subjek Pajak PBB yang telah diberi Nomor Objek Pajak (NOP), kode Zona Nilai Tanah (ZNT), dan Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB) dalam suatu wilayah administrasi pemerintahan tertentu yang disimpan dalam media komputer, perlu dipelihara dan disesuaikan dengan keadaan sebenarnya di lapangan. Pemeliharaan basis data tersebut didasarkan kepada informasi/laporan baik yang diterima langsung dari Wajib Pajak bersangkutan, laporan petugas Direktorat Jenderal Pajak, maupun laporan pejabat lain sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 21 Undang-Undang PBB.

Maksud dan Tujuan SISMIOP


Untuk menciptakan suatu basis data yang akurat dan up to date dengan mengintegrasikan semua aktivitas administrasi PBB dalam suatu wadah, sehingga pelaksanaannya dapat lebih seragam, sederhana, cepat, dan efisien harus dikelola melalui suatu sistem yang selanjutnya disusun dan terkenal dengan sebutan SISMIOP. Lebih lanjut SISMIOP dijangka merupakan suatu langkah kegiatan agar pendataan berhasil guna dan berdaya guna dengan pengertian sebagai berikut: SISMIOP terdiri atas 5 unsur dan beberapa sub sistem. Unsur SISMIOP: 1. Nomor Objek Pajak (NOP) : Penomoran Objek Pajak merupakan salah satu elemen kunci dalam pelaksanaan pemungutan PBB dalam arti luas. Spesifikasi NOP dirancang sebagai berikut: Penomoran NOP merupakan elemen kunci dalam pelaksanaan pemungutan PBB dalam arti luas, yaitu : a.) Unik, artinya satu objek PBB memperoleh satu NOP dan berbeda dengan NOP untuk objek PBB lainnya. b.) Tetap,artinya NOP diberikan pada satu objek PBB tidak berubah dalam jangka waktu yang relatif lama.

56

Bab 4: Pendataan

c.) Standar, artinya hanya ada satu sistem pemberian NOP yang berlaku secara nasional. Contoh : NOP ditetapkan 18 digit atas nama objek pajak tanah dan bangunan yang dikuasai oleh Ibu Manana Endarto, beralamat di Real Estate Perumahan Taman Kencana Jl Kencana Raya Blok C1/5, Jakarta Barat 11730. Kode Wilayah Kode Bidang

10

11

12

13

14

15

16

17

18

3 1 Kode wilayah menggunakan standar BPS 0 7 4 0 2 0 0 0 6 0


Nomor Urut Objek dibuat secara urut per blok

Satu Blok terdiri dari kurang lebih 200 Objek Pajak Tanda Khusus - Kode 9 untuk objek yang dimanfaatkan secara bersama-sama - Kode 0 untuk objek yang dimanfaatkan oleh satu orang Wajib Pajak

2. Peta Blok : Blok ditetapkan menjadi areal pengelompokan bidang tanah terkecil untuk digunakan sebagai petunjuk lokasi objek pajak yang unik dan permanen. Blok merupakan komponen utama untuk identifikasi objek pajak dan untuk menjaga kestabilan dan batas suatu blok harus ditentukan berdasarkan suatu karakteristik fisik yang tidak berubah dalam jangka waktu yang lama. Batas blok harus memanfaatkan karakteristik batas geografis permanen yang ada, jalan, rel kereta api, sungai dan lain-lain. Perlu diingat bahwa batas blok tidak diperbolehkan melampaui batas desa/kelurahan atau dusun. Satu blok dirancang untuk dapat menampung lebih kurang 200 objek pajak atau luas sekitar 15 Ha, hal ini untuk memudahkan kontrol dan pekerjaan pendataan di lapangan dan administrasi data. 3. Zona Nilai Tanah (ZNT) : Secara teknis penentuan batas ZNT mengacu pada batas penguasaan/pemilikan atas bidang objek pajak. Persyaratan lain yang perlu diperhatikan adalah perbedaan nilai tanah antar zona, misalnya sekitar 10 %, namun penentuan ZNT dapat didasarkan pada tersedianya data pendukung (Data Pasar) yang dianggap layak untuk dapat mewakili nilai tanah atas objek pajak yang ada pada ZNT yang bersangkutan. Informasi yang berkaitan dengan letak geografis diwujudkan dalam bentuk peta atau sket serta diberikan kode untuk setiap ZNT dengan menggunakan kombinasi dua huruf dimulai dengan AA sampai dengan ZZ. Aturan pemberian kode pada peta ZNT mengikuti pemberian Nomor blok pada peta desa/kelurahan atau NOP pada peta blok secara spiral.

Pajak Bumi dan Bangunan

57

4. Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB) : Khusus untuk bangunan nilai jual harus ditentukan dengan melalui pendekatan dan metode yang telah ditetapkan dalam pasal 1 angka 3 UU No. 12 Tahun 1985 Yo UU No.12 Tahun 1994, yaitu dengan pendekatan Biaya/Cost Approach atau Nilai Jual Pengganti. NJOP dihitung berdasarkan biaya pembuatan baru untuk bangunan dan dikurangi dengan penyusutan. Untuk mempermudah penghitungan NJOP harus disusun DBKB yang terdiri dari tiga komponen yaitu: a.) Komponen Utama b.) Komponen Material c.) Komponen Fasilitas. DBKB berlaku untuk setiap Daerah Kabupaten/Kota dan dapat disesuaikan dengan perkembangan harga dan upah yang berlaku. Dalam pelaksanaannya agar dapat dilaksanakan dengan mudah dan mendekati benar maka disusunlah petunjuk aplikasi DBKB Nasional yang merupakan pengembangan dari pendataan dan penilaian untuk pengenaan PBB. Aplikasi DBKB 2000 Nasional ini merupakan implementasi dari SE62/PJ.6/1999 tentang Otomatisasi Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB) dan penyempurnaan dari hasil sosialisasi pada bulan November 1999. Aplikasi ini memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Mampu melakukan updating harga material secara otomatis, 2. Mampu menghitung nilai DBKB secara otomatis seperti perhitungan DBKB Standar SISMIOP yang telah dikembangkan sebelumnya, sehingga tabel-tabel perhitungan sudah dapat di-print out secara otomatis, 3. Mampu melakukan perhitungan:

Nilai bangunan Nilai bangunan per m2 Nilai konversi per m2 berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No.
523/KMK.04/1998

Nilai bangunan konversi.


4. Mampu memampilkan perhitungan analisis harga satuan dan proses analisis BOW untuk setiap jenis wilayah. Dalam pemeliharaan Basis data ini Direktorat Jenderal Pajak khususnya Direktorat PBB telah menggunakan alat bantu berupa komputer, hal ini mengingat bahwa tugas yang diemban dalam mewujudkan realisasi penerimaan dan mengatur atas tertib administrasi di bidang perpajakan atas tanah yang saat ini telah sampai pada jumlah Objek dan Subjek Pajak puluhan juta, pada era sekarang ini kita memerlukan alat bantu berupa satelit dan komputer.

Pendataan Untuk Kepentingan PBB


Pendataan untuk kepentingan PBB pada dasarnya merupakan kegiatan pengadaan data yang meliputi data atribut dan data spasial yang akan digunakan dalam pengoperasian SISMIOP. Pada uraian sebelumnya (termasuk bagian A pada bab ini dan bab sebelumnya), telah dijelaskan tentang kegiatan pengadaan

58

Bab 4: Pendataan

data atribut. Bagaimana dengan data spasial yang diperlukan pula dalam menjalankan SIG PBB yang sekarang lebih dikenal dengan smart map PBB. Pengadaan data spasial ditujukan untuk keperluan : 1. Pengadaan peta-peta wilayah atau ikhtisar yang akan digunakan dalam kebijakan kegiatan pendataan dan penilaian. 2. Pengadaan informasi spasial tiap objek pajak yang ditunjukkan dengan letak relatif objek pajak dan luas bidang objek pajak. 3. Analisis spasial yang digunakan dalam aplikasi smart map PBB. Data spasial yang digunakan dalam keperluan PBB pada awalnya terbatas pada pemenuhan kebutuhan luas objek pajak baik tanah dan bangunan serta kepentingan letak relatif dari objek pajak untuk kepentingan penilaian. Akan tetapi kebutuhan dan kepentingan ini berkembang pada integrasi data spasial secara nasional. Oleh karena itu dibutuhkan sarana untuk menyatukan data spasial yang terpecah-pecah ini dengan cara merepresentasikan data spasial dalam referensi yang sama. Data spasial PBB yang digunakan meliputi: 1. Peta Ikhtisar yang terdiri dari peta Kabupaten, dan Peta Kecamatan dalam skala 1 : 5.000 s.d 1 : 10.000; 2. Peta Desa/kelurahan dengan skala 1 : 5.000 3. Peta Blok dengan skala 1 : 500 untuk wilayah padat di perkotaan sampai dengan skala 1 : 1.000 untuk wilayah pedesaan. Peta Ikhtisar atau peta wilayah digunakan dalam pengambilan kebijakan di bidang pendataan dan penilaian, sedangkan peta blok digunakan dalam rangka penetapan luas bidang tanah dan letak relatif dari objek pajak. Untuk melengkapi ketentuan di bidang pendataan disusun ketentuan dalam bentuk Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-33/PJ.6/1993 tentang Petunjuk Teknis Pemetaan PBB, SE-38/PJ.6/1993 tentang Identifikasi Bidang Objek PBB, dan SE-28/PJ.6/1993 tentang Petunjuk Teknis Penomoran Bidang Objek PBB. Ketentuan ini melengkapi Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor KEP-533/PJ./2000 tentang Pendaftaran, Pendataan dan Penilaian Objek dan Subjek PBB dalam Rangka Pembentukan dan Pemeliharaan Basis Data SISMIOP Register Peta Blok dan Peta Kelurahan sebagaimana telah disempurnakan dengan KEP-115/PJ./2002. Dalam ketentuan tersebut diatur secara teknis mengenai : 1. Metode pengukuran, peralatan dan pengolahan data dalam rangka pembuatan peta untuk kepentingan PBB; 2. Penomoran bidang objek PBB; 3. Tata cara penentuan luas dan identifikasi bidang objek PBB. Dalam ketentuan tersebut belum diatur mengenai referensi peta untuk kepentingan penyatuan peta secara nasional. Referensi secara nasional baru dibahas dalam ketentuan tentang SIIG PBB pada tahun 1997 dan diatur kembali dalam KEP-533/PJ/2000. Sehingga dapat disusun sebuah matrik mengenai ketentuan di bidang pendataan PBB sebagaimana tabel berikut: Tabel 4.1

Pajak Bumi dan Bangunan

59

Ketentuan dan Peraturan Bidang Pendataan PBB


No 1 Ketentuan SE-33/PJ.6/1993 Petunjuk Teknis Pemetaan PBB Isi - Metode Pengukuran Terestrial - Pengolahan Data Pengukuran - Plotting Peta - Pengukuran Luas 2 SE-38/PJ.6/1993 Identifikasi Bidang PBB - Pengukuran Bidang PBB - Penentuan Luas Bidang PBB Data spasial analog (peta garis) Keterangan Data spasial analog (peta garis)

SE-28/PJ.6/1993 Penomoran Bidang (NOP)

- Penomoran Bidang PBB (NOP) - Jumlah bidang dalam 1 zona - Pelaksanaan dan Manajemen Pengadaan Data untuk kepentingan SISMIOP - Digitalisasi Peta Blok - Pemanfaatan Citra - Pengukuran dengan Total Station

Data spasial analog (peta garis) Data spasial digital

KEP-533/PJ./2000 Pendaftaran, Pendataan dan Penilaian Objek PBB dalam rangka SISMIOP

KEP-115/PJ./2002 Pendaftaran, Pendataan dan Penilaian Objek PBB dalam rangka SISMIOP

Sama dengan KEP-533/PJ.2000 ditambah dengan ketentuan mengani standar biaya untuk keperluan SIN (Single Identity Number)

Data spasial digital

Sumber : (Cahyono Adi, 2006)

Dari ketentuan dalam tabel tersebut, dapat dirumuskan kegiatan pendataan PBB meliputi: 1. Pengadaan Data Atribut 2. Pengadaan Data Spasial Analog (Peta Ikhtisar dan Peta Blok) 3. Pengadaan Data Spasial Digital (dengan proyeksi UTM (Universal Tranverse Mercator) dan koordinat WGS 84 (World Geodetic Sistems 1984) ) 4. Digitalisasi Peta Blok PBB (coordinate transformation)

Metode dan Teknologi Pemetaan PBB


Metode Pemetaan PBB. Metode pemetaan PBB sama dengan metode pemetaan pada umumnya. Metode pemetaan diklasifikasikan menjadi yaitu: 1. Metode Terestris 2. Metode Ekstraterestris 3. Metode Fotogrametris 4. Metode Penginderajaan Jauh Metode terestris merupakan metode pemetaan yang dilakukan diatas permukaan bumi langsung/topografi. Metode ekstraterestris merupakan metode pemetaan dengan melibatkan peralatan/benda di luar permukaan topografi, benda ini misalnya bintang/quasar/satelit. Metode fotogrametris merupakan metode pemetaan dengan menggunakan kamera udara yang dipasang di pesawat udara dengan ketinggian tertentu. Metode penginderaan jauh merupakan metode pemetaan tanpa adanya kontak langsung dengan objek/wilayah yang dipetakan. Berikut ini adalah uraian dari masing-masing metode dan contohnya.

60

Bab 4: Pendataan

Metode Terestris Metode terestris atau metode terestrial merupakan metode pemetaan yang dilakukan di atas permukaan bumi atau di atas bidang topografi. Pada metode ini seluruh wilayah yang dipetakan dipasang alat pengukuran untuk membidik objekobjek yang dipetakan.

Teodholite Bidang tanah

Rambu ukur

Teodholite

Batas desa Titik kerangka Peta

pengikata n Titik Kontrol Peta Nasional : JKHN Bakosurtanal TDTN BPN Titik Triangulasi

Gambar 4.1 Metode Terestris

Metode terestris hanya melibatkan titik atau detil di atas permukaan bumi saja (bidang topografi), tidak melibatkan objek atau referensi selain di atas bidang topografi. Pengukuran dengan peralatan teodholite (T0, T1, T2) serta pengukuran dengan TS (total station) merupakan metode terestris. Termasuk pula pengukuran jarak/panjang dengan pita ukur, pengukuran panjang dengan lasermeter termasuk pada kategori ini. Metode terestris digunakan pada pengukuran wilayah-wilayah yang tidak terlalu lebar. Misalnya pada kegiatan pembuatan peta desa/kelurahan dengan peralatan teodolite maupun total station. Pemakaian metode ini untuk kepentingan PBB adalah untuk pengukuran titik-titik kerangka peta desa/kelurahan dan kepentingan pengikatan titik titik kerangka tersebut ke titiktitik yang telah berkoordinat misal JKHN Orde 1. Metode Ekstraterestris

Pajak Bumi dan Bangunan

61

Metode ekstraterestris merupakan metode pengukuran dengan melibatkan bendabenda di luar angkasa (di luar bidang topografi) misalnya bintang, satelit, dan benda luar angkasa lainnya. Pada permulaannya metode terestris ini meliputi pengamatan bintang untuk koreksi pengukuran terestris, pengamatan bintang untuk koreksi azimut dan pengamatan-pengamatan lain. Sekarang ini metode ekstraterestris sudah mulai ditinggalkan, digantikan dengan metode ekstraterestris menggunakan satelit diantaranya satelit Doppler, dan satelit GPS.

Satelit 2 XYZ 2 Satelit 1 XYZ 1

Satelit 3 XYZ 3

Garis Orbit Satelit

Satelit 4 XYZ 4

Receiver GPS XYZ ?

Gambar 4.2: Metode Ekstraterestris (Survey GPS)

Metode Fotogrametris Metode ini merupakan metode pengukuran dengan memanfaatkan kamera udara yang dipasang di pesawat terbang. Prinsip dari pemetaan ini adalah mengumpulkan data objek di muka bumi melalui sinar yang dipantulkan dan ditangkap oleh kamera udara. Sinar-sinar ini dikategorikan sebagai sinar-sinar tampak yang akan ditangkap oleh lensa kamera udara dan direkam dalam negatif film. Produk dari kegiatan ini adalah peta foto. Penggunaan peta foto paling banyak digunakan untuk keperluan pemetaan perkebunan dan kehutanan oleh Departemen Kehutanan. Hasil pemotretan diolah melalui tahapan pada fotografi lainnya kemudian dibentuk mozaik yaitu penggabungan dari foto-foto yang dicetak dan merupakan rekaman wilayah yang berdampingan.

62

Bab 4: Pendataan

Arah terbang

pesawat Proyeksi foto

cakupan foto topograf

Gambar 4.3: Metode Fotogrametris

Metode Penginderajaan Jauh Merupakan metode pemetaan yang tidak ada kontak langsung antara perlatan pengukuran dengan objek yang diukur. Pada mulanya hanya diguankan untuk memantau kondisi vegetasi dan biota di bumi, namun berkat kemajuan teknologi scanner maka dapat dibuat hasil scanning satelit yang cukup teliti. Sampai saat ini sampai dengan fraksi 0,8 meter.

Gambar 4. 4 Metode Penginderajaan Jauh (Inderaja)

Teknologi Pemetaan PBB

Pajak Bumi dan Bangunan

63

Teknologi pemetaan sangat berkaitan dengan metode pemetaan. Peralatan pemetaan berkembang seiring dengan metode pemetaan. Sebagai contoh peralatan pengukur jarak dengan alat sederhana hanya dapat menentukan jarak dengan panjang terbatas. Dengan ditemukannya alat pengukur sudut maka metode pemetaan terestris memungkinkan dengan pengukuran sudut. Penemuan pengukuran jarak secara elektronik dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik memungkinkan pengukuran jarak dengan jangkauan lebih jauh. Dilihat dari perkembangan peralatan pemetaan dapat diuraikan sebagaimana tabel berikut: Tabel 4.3 Perkembangan Peralatan Pemetaan
No 1 2 Peralatan Pengukur Panjang Sederhana Teodolite Besaran Diukur Panjang & Jarak (terbatas) - Poligon - Pemotongan ke Muka - Pemotongan ke Belakang - Triangulasi - Quadrilateral - Sudut - Jarak Elektronik Metode

- Sudut - Jarak Optis

3 4 5 6

EDM (Elektronic Data Measurement) Total Station Kamera Satelit & Receiver

- Jarak Lengkung - Jarak Lengkung - Sudut - Obyek yang dapat memantul cahaya - Jarak - Waktu Tempuh Gelombang Elektromagnetik - Objek dengan kriteria tertentu

- Pengikatan ke Belakang

Penyiam (Scanner )

Kebijakan pemetaan PBB diarahkan kepada kegiatan yang bertahap, terintegrasi dan murah artinya kebijakan pemetaan PBB merupakan kegiatan yang terus-menerus dari tahapan-tahapan dan tetap pada satu referensi dan biaya yang optimal. Kegiatan pemetaan PBB sebaiknya dilaksanakan dengan platform sebagai berikut (Cahyono Adi, 2004): 1. Untuk wilayah yang sudah dipetakan, dilanjutkan dengan kegiatan digitalisasi melalui scanning peta blok dengan titik-titik sekutu (common points) dari pengukuran GPS.

64

Bab 4: Pendataan

2. Untuk wilayah yang belum dipetakan, dilakukan kegiatan pemetaan dengan cakupan lokal dengan metode polygon tertutup untuk setiap wilayah kelurahan, sehingga peta masih berkoordinat lokal. 3. Penyatuan secara nasional, dilakukan dengan cara pengukuran GPS untuk satu titik di satu kelurahan

Pemanfaatan Citra Satelit untuk PBB


Pembentukan data spasial yang bereferensi ke bumi melalui pekerjaan pengukuran menggunakan alat bantu pemetaan Global Positioning Sistem (GPS), Total Station, memanfaatkan penggunaan Citra Satelit Ikonos, OrbView dan Quickbirds. Saat ini penginderaan jarak jauh berkembang dengan pesat seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi satelit dan sensor yang berkembang khususnya dalam membedakan objek yang dituju dan ukuran objek yang semakin kecil atau resolusi spasialnya. Kalau dulu sebelum Ikonos dan Quickbirds dikenal sensor Thematic Mapper (Pembuat Peta Tematik) yang dipasang pada satelit Landsat dengan resolusi Spasial 30 meter, maka sensor yang dipasang sekarang ini adalah High Resolution Visible (HRV) pankrornatik yang dipasang pada satelit SPOT dengan resolusi spasial 10 meter ( Jensen 1986) dan yang dipasang pada Ikonos memiliki sensor dengan kemampuan resolusi spasial hingga 1 meter. Satelit Ikonos yang diluncurkan pada tanggal 24 September 1999 dibuat dan dipelihara oleh Space Imaging Inc. Sebuah perusahaan swasta Amerika Serikat di Denver Colorado dan konstruksinya oleh Lockheed Martin di Sunnyvale, California dengan ukuran 1.8 X 1.6 meter dengan berat 817 kg. Satelit mengorbit bumi pada ketinggian 681 km di atas bumi dengan kemampuan membedakan citra yang dihasilkan memotret data bumi secara piktorial yang sangat baik hampir sebaik foto udara pada ketinggian rendah. Masalahnya agar peta dapat digunakan sebagai peta yang berkualitas maka citra tersebut harus sudah terbebas dari distorsi geometrik yang dipastikan selalu ada dalam setiap penginderaan jauh. Namun demikian Ikonos dapat mengatasi hal ini dengan menempatkan satelit pada sudut tertentu yang direktifasikan dengan sejumlah titik kontrol tanah yang diharapkan dapat mencapai Optik Ikonos yang diluncurkan dengan pesawat ulang-alik Athena II memiliki sun-synchronice dengan sudut inklinasi sebesar 98,1 derajat, tinggi orbitnya 423 mil laut (nautical miles) atau 681 km dan didesain agar dapat beroperasi selama 7 tahun. Sedangkan sumber energinya dilengkapi dengan tiga buah solar array (lihat gambar peragaan pada laptop ) yang menghasilkan daya sebesar 1100 watt. Memori Ikonos adalah sebesar 64 gigabyte yang dapat disimpan dan ditransfer ke Stasiun penerima di bumi dengan kemampuan transfer data sebesar 320 megabyte per detik, dan memiliki kemampuan perekaman ulang (resolusi temporal) 1 hingga 3 hari sesuai kebutuhan. Sensor Satelit Ikonos berupa sistem kamera digital yang dibuat oleh Eastman Kodak Company dengan kemampuan menghasilkan citra pankromatik maupun multispektral. resolusi spasial kamera adalah 1 meter untuk band pankromatik dan 4 meter untuk band multispektral. Agar lebih jelas dapat kami paparkan tabel hand band spektral sensor Ikonos sebagaimana tersebut di bawah ini:

Pajak Bumi dan Bangunan

65

Spectral Band pada Sensor Ikonos


Tipe Pankromatik Multispektral Band 1 1 (Biru) 2 (Hijau) 3 (Merah) 4 (Near IR) Spectral Range (LM) 0,45 0,45 0,52 0,64 0,77 0,90 0,53 0,61 0,72 0,88 Resolusi Spasial (m) 1 4 4 4 4

Sumber : Subdit Pendataan Direktorat PBB dan BPHTB 2003

Satelit Ikonos memiliki resolusi radiometrik 11 bit yang mengakibatkan citra Ikonos sangat kaya dengan corak warna untuk multispektral dan corak keabuan untuk pankromatik dengan variasi hingga 2048 perbedaan. Satelit Ikonos memiliki sistem operasional yang berbeda dengan satelit yang lain misalnya Landsat. Landsat mengambil gambar secara kontinyu sedangkan Ikonos mengambil gambar sesuai dengan kebutuhan yang diatur oleh Operator Satelit yang dalam hal ini adalah Space 98.3 per menit. Sensor melakukan scanning terhadap permukaan bumi dengan lebar sapuan (swath width) sebesar 11 kilometer, dengan arah orbit dari utara ke selatan, dan pengambilan data maksimum hingga 100 kilometer sesuai kebutuhan.

Gambar 4.5: Urutan Pemotretan Peta yang akan Dijadikan Peta Digital. Gambar 4.6: Peta Jakarta Pusat dari Satelit Program Ikonos, Monumen Nasional

11-Aug-05

EndartosTransp.

21

66

Bab 4: Pendataan

Gambar 4.7: Peta Kecamatan Menteng dengan Peta Blok 001 Bunderan Hotel Indonesia.

KEBON MELATI

Gambar 4.8: Hasil Pemotretan Permukaan Bumi dari Satelit Bunderan Hotel Indonesia.

Gambar 4.9: Peta Blok 001 Kelurahan Menteng

Pajak Bumi dan Bangunan

67

Dari hasil pemotretan melalui satelit tadi dapat dibuat peta rektifikasi untuk dijadikan gambar tangan yang merupakan data rinci atas objek yang dipetakan. Selanjutnya dari peta tadi dapat disusun informasi rinci yang dalam satu lembar tampilan dapat menyajikan informasi lengkap baik objek maupun subjek dan harta tetap, info kendaraan yang dimiliki, pembayaran air, telepon dan data keluarga.

Gambar 4.10: Informasi Rinci Hotel Mandarin

Gambar-gambar di atas menunjukkan bahwa Program Ikonos yang telah dibuat dan memotret bumi wilayah DKI Jakarta diterjemahkan dalam peta gambar tangan Jakarta yang berkoordinat, kemudian dipecah menjadi peta Jakarta Pusat, Kecamatan Menteng, Kelurahan Menteng dan terakhir Peta Blok 001 Kelurahan Menteng. Pada Peta Blok tersebut telah disiapkan data tentang objek pajak yang akan kita maksud, yaitu Hotel Mandarin. Di samping SIG PBB dapat dimanfaatkan untuk pengembangan informasi rinci objek pajak perumahan dan non perumahan, juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan informasi objek pajak PBB untuk sektor P5 (Perkebunan, Perhutanan, Perikanan, Peternakan dan Pertambangan), yaitu dengan mengkombinasikan pengolahan citra satelit Ikonos, Landsat, SPOT dengan pengolahan keakurasian alat GPS (Global Positioning Sistem) seperti yang ditunjukkan dalam gambar-gambar di bawah ini. Gambar tersebut di atas menunjukkan identifikasi wilayah perkebunan dan jenis umur tanaman melalui citra Landsat digabung dengan penggunaan GPS untuk akurasi titik ikat bumi. Degradasi warna dalam citra Landsat menunjukkan umur tanaman dan juga merupakan kombinasi analisis antara citra landsat dengan hasil pengukuran lapangan GPS pada tahun 2000.

68

C itra L a n d s a t

Bab 4: Pendataan

Gambar Citra Landsat yang Menggambarkan Kandungan Material Bumi.

Pemanfaatan Citra Ikonos juga dapat dilakukan untuk wilayah perhutanan dan perkebunan seperti dalam gambar berikut di bawah ini.

Gambar : Pemanfaatan Citra Ikonos untuk Wilayah Perhutanan dan Perkebunan.

Gambar Pendeteksian Jumlah Pohon dengan Foto dari Satelit Ikonos.

Pajak Bumi dan Bangunan

69

Hasil citra satelit umumnya yang dikirim oleh agen pemotretannya sudah dalam koordinat bumi maka penentuan luas secara geometris dapat dilakukan oleh komputer secara mudah, tanpa kita terjun langsung ke lapangan. Jumlah pohon dapat ditentukan dan dihitung secara mudah dengan bantuan ikonos dan program pengolah raster to vector, jika luas diketahui secara kasar dan jumlah pohon diketahui secara cepat maka standar kerapatan pohon dapat diketahui. Studi kasus pengamatan detail di salah kebun dapat dimanfaatkan untuk benchmarking bagi penilaian area kebun yang lain seperti yang diilustrasikan dalam gambar tersebut di atas. Berdasarkan fungsi strategis Basis Data PBB seperti yang diuraikan di atas, Kelemahan Instansi lain dalam pengelolaan data pertanahan karena kekurangan dalam beberapa hal, kiranya dapat dicukupi dari fungsi strategis data Direktorat PBB, BPHTB, dan tidak hanya bagi penjaringan Wajib Pajak Negara tetapi juga dapat dipergunakan untuk pengelolaan administrasi pertanahan. Dengan penerapan Sistem Informasi Geografis (SIG), Basis Data PBB telah dapat dikembangkan dan menghasilkan Informasi Rinci Objek Pajak (bentuk integrasi data spasial, atributik dan image) dalam berbagai bentuk antara lain: 1) Informasi Rinci Pajak Perumahan, dapat menggambarkan informasi mengenai pertanahan berupa pemilik atau penguasa hak Perolehan beserta nomor sertifikat hak atas tanah, bangunan dibangun tahun berapa dan ijin membuat bangunan dari Pemerintah setempat, daftar keluarga berupa kartu keluarga nomor berapa dan berapa jumlah keluarganya beserta namanamanya, jumlah kendaraan yang beralamat pada bidang tanah/bangunan tersebut beserta merknya, tagihan telepon per bulan, tagihan listrik per bulan, dan daftar Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) PPh sudah ada atau belum, dan juga keterangan tentang pajak-pajak yang berkaitan dengan data orang tersebut beserta keluarganya sebagaimana dijelaskan dalam gambar berikut:
Data Objek dan Wajib Pajak Foto Bangunan Peta Lokasi Objek Pajak

Informasi Pertanahan

Informasi Kendaraan

Informasi Keluarga Wajib Informasi Bangunan Pajak

Informasi Tagihan Telepon Daftar NPWP Informasi Tagihan Listrik Keluarga

Anggota

Gambar Info Rinci Objek Pajak Perumahan

70

Bab 4: Pendataan

2) Informasi Rinci Objek Pajak non perumahan, dapat menggambarkan informasi mengenai data pemegang saham, dewan komisaris, dewan direksi, profil perusahaan, laporan keuangan, pajak masukan dan keluaran, omset, produksi dan penghasilan, lawan transaksi dan informasi yang dapat disusun dan disajikan dalam satu lembar gambar sebagaimana dijelaskan dalam gambar berikut:

Gambar Info Rinci Objek Pajak Non Perumahan dengan Kelengkapan Informasi yang Tersedia, Informasi Rinci Objek Pajak Perumahan dan Non-Perumahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan (multipurposes) perpajakan bahkan untuk administrasi pertanahan beserta ikutannya.

-o0o-