Anda di halaman 1dari 13

HUKUM KEKELUARGAAN 1.

KETURUNAN Keturunan adalah ketunggalan leluhur, artinya ada perhubungan darah antara orang yang seorang dan orang yang lain. Dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan darah, jadi yang tunggal leluhur, adalah keturunan yang seorang dari yang lain. Apakah keturunan ini mempunyai akibat-akibat kemasyarakatar? Ya, pada umumnya kita melihat adanya hubungan Hukum yang didasarkan kepada hubungan kekeluargaan antara orang tua dengan anak-anaknya. Juga kita melihat bahwa pada umumnya ada akibat-akibat hukum yang berhubungan dengan keturunan, bergandengan dengan ketunggalan leluhur; akibat-akibat hukum ini tidak semua sama di seluruh daerah Keturunan dapat bersifat: a. Lurus, apabila orang yang satu itu merupakan langsung keturunan Yang lain, misalnya antara bapak dan anak, antara kakek, bapak dan anak. b. Menyimpang atau bercabang, apabila antara kedua orang atau lebih itu terdapat adanya ketunggalan leluhur, misalnya bapak ibunya sama (saudara sekandung), atau se-kakek-nenek dan lain sebagainya. Selain keturunan itu dapat bersifat lurus atau menyimpang, keturunan ada tingkatan-tingkatan atau derajat-derajatnya. Tiap kelahiran merupakan satu tingkatan, atau derajat, jadi misalnya seorang anak merupakan keturunan tingkat 1 dari bapaknya, cucu merupakan keturunan tingkat 2 dari kakeknya, aku dengan saudaraku sekandung merupakan hubungan kekeluargaan tingkat 2 dan lain sebagainya Dan hubungan kekeluargaan ini merupakan faktor yang sangat penting dalam: a. Masalah perkawinan, yaitu untuk meyakinkan apakah ada hubungan kekeluargaan yang merupakan larangan untuk menjadi suami-isteri. (misalnya terlalu dekat, adik-kakak-sekandung dan lain sebagainya). b. Masalah waris; hubungan kekeluargaan merupakan dasar pembagian harta peninggalan. 2. HUBUNGAN ANAK DAN ORANG TUANYA Anak kandung memiliki kedudukan, yang terpenting dalam tiap somah masyarakat adat. Kecuali oleh orang-tuanya anak itu dilihat sebagai penerus generasinya, anak itu dipandang pula sebagai wadah di mana semua harapan orang-tuanya di kelak kemudian hari wajib ditumpahkan, pula dipandang sebagai pelindung orang tuanya kelak bila orang tua itu sudah tidak mampu lagi secara fisik untuk mencari

nafkah sendiri. Oleh karenanya, maka sejak anak itu masih dalam kandungan hingga is dilahirkan, bahkan kemudian dalam pertumbuhan selanjutnya, dalam masyarakat adat dapat banyak upacara-upacara adat yang sifatnya religio-magis Kalau misalnya daerah Jawa-Barat diambil sebagai contoh, maka upacaraupacara demikian ini dalam masyarakat adat Priangan secara kronologis adalah sebagai berikut: a. Anak masih dalam kandungan: pada bulan ke-3, bulan ke-5, ke-7 dan ke-9 diadakan upacara adat khusus yang dilakukan pada bulan ke-7 itu disebut "tingkeb". b. Pada saat lahir: upacara penanaman "bali" atau kalau tidak ditanam, dilakukan upacara "penghanyutan"-nya ke arch laut. c. Pada saat "tali ari" putus: diadakan "sesajen"; "tali ari" yang putus disimpan ibunya dalam "gonggorekan"-nya (kantong-obat) serta pada saat itu lazimnya bayi diberi nama. d. Setelah anak berumur 40 hari: upacara "cukur" yang diteruskan dengan upacara "nurunkeun" (= untuk pertama kalinya kaki anak disentuhkan tanah). a. Anak lahir di luar perkawinan: Bagaimanakah hubungan si anak ini dengan wanita yang melahirkannya? Dan bagaimana dengan pria yang bersangkutan? Dalam hal ini tidak semua daerah mempunyai pandangan yang sama. Di Mentawai, Timor, Minahasa dan Ambon misalnya, wanita yang melahirkan anak itu dianggap sebagai ibu anak yang bersangkutan; jadi biasa seperti kejadian normal seorang wanita melahirkan anak dalam perkawinannya yang sah. b. Anak lahir karena hubungan zinah: Apabila seorang isteri melahirkan anak karena hubungan gelap dengan seorang pria lain bukan suaminya, maka menurut hukum adat, suaminya itu menjadi bapak anak yang dilahirkan tersebut, kecuali apabila sang suami ini berdasarkan alasan-alasan yang dapat diterima, dapat menolak menjadi bapak anak yang dilahirkan oleh isterinya karena zinah ini. c. Anak lahir setelah perceraian: Anak yang dilahirkan setelah bercerai, menurut adat mempunyai bapak bekas suami wanita yang melahirkan itu, apabila kelahirannya terjadi masih dalam betas-bates waktu mengandung. Pada waktu yang lalu masih banyak dijumpai seorang laki-laki yang memelihara selir di samping isterinya sendiri. Hubungan anak dengan orang tua (anak bapak atau anak ibu) ini

menimbulkan akibat-akibat hukum yang berikut: a) Larangan kawin antara anak-bapak atau anak-ibu. b) Saling berkewajiban memelihara dan memberi nafkah Menurut hukum adat di Jawa yang bersifat parental, kewajiban untuk membiayai penghidupan dan pendidikan seorang anak yang belum dewasa tidak semata-mata dibebankan hanya kepada ayah anak tersebut, tetapi kewajiban itu juga ditugaskan kepada ibunya.) 3. HUBUNGAN ANAK DENGAN KELUARGA Pada umumnya hubungan anak dengan, keluarga ini sangat tergantung dari keadaan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Seperti telah diketahui, maka di Indonesia ini terdapat persekutuanpersekutuan yang susunannya berlandaskan tiga macam garis keturunan, yaitu garis keturunan ibu, garis keturunan bapak dan garis keturunan bapak-ibu. Dalam persekutuan yang menganut garis keturunan bapak-ibu misalnya, maka hubungan anak dengan keluarga dari pihak bapak ataupun dengan keluarga dari pihak ibu adalah sama eratnya ataupun derajatnya. Lain halnya dalam persekutuan yang sifat susunan kekeluargaannya adalah unilateral, yaitu patrilineal (menurut garis keturunan bapak) atau matrilineal, (menurut garis keturunan ibu). 4. MEMELIHARA ANAK PIATU Apabila dalam suatu keluarga, salah satu dari orang tuanya, bapak atau ibunya, tidak ada lagi, maka kalau masih ada anak-anak yang belum dewasa, dalam susunan keturunan pihak bapak-ibu orang tua yang masih hidup yang memelihara anak-anak tersebut lebih lanjut. Jika kedua-dua orang tua sudah tidak ada lagi, maka yang memelihara anak-anak yang ditinggalkan adalah salah satu dari keluarga pihak bapak atau pihak ibu yang terdekat serta biasanya juga yang keadaannya yang paling memungkinkan untuk keperluan itu. 5. MENGANGKAT ANAK (ADOPSI) Mengangkat anak (adopsi) adalah suatu perbuatan pengambilan anak orang lain ke dalam keluarga sendiri demikian rupa, sehingga antara orang yang memungut anak dan anak yang dipungut itu timbul suatu hubungan kekeluargaan yang sama seperti yang ada antara orang tua dengan anak kandung sendiri. Perbuatan mengangkat anak demikian ini adalah merupakan gejala yang umum dalam negara Indonesia. Dilihat dari sudut anak yang dipungut, maka dapat dicatat adanya

pengangkatan-pengangkatan anak yang berikut: a. Mengangkat anak bukan warga keluarga Anak itu diambil dari lingkungan asalnya dan dimasukkan dalam keluarga orang yang mengangkat ia menjadi anak angkat. Lazimnya tindakan ini disertai dengan penyerahan baring-barang magis atau sejumlah uang kepada keluarga anak semula. Alasan adopsi adalah pada umumnya "takut tidak ada keturunan. Adopsi harus terang, artinya wajib dilakukan dengan upacara adat serta dengan bantuan kepada adat. Adopsi demikian ini terdapat di daerah-daerah Gayo, Lampung, Pulau Nias dan Kalimantan b. Mengangkat anak dari kalangan keluarga Di Bali perbuatan ini disebut "nyentanayung". Anak lazimnya diambil dari salah suatu dan yang ada hubungan tradisionalnya, yaitu yang disebut purusa, tetapi akhir-akhir ini dapat pula anak diambil dari luar dan itu. Bahkan di beberapa desa dapat pula diambil anak dari lingkungan keluarga isteri (pradana). Prosedur pengambilan anak di Bali ini adalah seperti berikut: Orang (laki-laki) yang ingin mengangkat anak itu lebih dahulu wajib mernbicarakan kehendaknya dengan keluarganya secara matang. Anak yang akan diangkat hubungan kekeluargaan dengan ibunya dan dengan keluarganya secara adat harus diputuskan, yaitu dengan jalan membakar benang (hubungan anak dengan keluarganya putus) dan membayar menurut adat seribu kepeng disertai pakaian wanita lengkap (hubungan anak dengan ibu menjadi putus). Anak kemudian dimasukkan dalam hubungan kekeluargaan dari keluarga yang memungutnya; istilahnya diperas. Pengumuman kepada warga desa (siar); untuk siar ini pada jaman kerajaan dahulu dibutuhkan izin raja, sebab pegawai kerajaan untuk keperluan adopsi ini membuat "surat peras" (akta). c. Mengangkat anak dari kalangan keponakan-keponakan Perbuatan ini banyak terdapat di Jawa, Sulawesi dan beberapa daerah lainnya. Sebab-sebab untuk mengangkat keponakan sebagai anak angkat ini adalah: Pertama - Karena tidak Kedua Ketiga mempunyai anak sendiri, sehingga memungut keponakan tersebut, merupakan jalan untuk mendapat keturunan. - Karena belum dikurnia anak, sehingga dengan memungut keponakan ini diharapkan akan mempercepat kemungkinan mendapat anak. - Terdorong oleh rasa kasihan terhadap keponakan yang bersangkutan,

misalnya karena hidupnya kurang terurus dan lain sebagainya.

HUKUM PERKAWINAN

1. ARTI PERKAWINAN Perkawinan adalah salah suatu peristiwa yang sangat penting dalam penghidupan masyarakat kita; sebab perkawinan itu tidak hanya menyangkut wanita dan pria bakal mempelai saja, tetapi juga orang tua kedua belah pihak, saudara-saudaranya, bahkan keluarga-keluarga mereka masing-masing. malahan dalam hukum adat perkawinan itu bukan hanya merupakan peristiwa penting bagi mereka yang masih hidup saja, tetapi perkawinan juga merupakan peristiwa yang sangat berarti serta yang sepenuhnya mendapat perhatian dan diikuti.oleh arwah-arwah para leluhur kedua belah pihak. Oleh karena perkawinan mempunyai arti yang demikian pentingnya, maka pelaksanaannya senantiasa dimulai dan seterusnya disertai dengan berbagai-bagai upacara lengkap dengan "sesajen-sesajennya ". Bahwa setelah perkawinan suami-isteri itu merupakan satu ketunggalan adalah terbukti antara lain karena: a. Menurut adat kebiasaan yang belum hilang sama sekali kedua mempelai itu pada saat perkawinan melepaskan nama yang mereka masing-masing pakai hingga saat itu (nama kecil) serta kemudian memperoleh nama baru (nama tua) yang selanjutnya mereka pakai bersama. Kalau Sarimin kawin dengan Tukinem, maka sesudah kawin diganti nama mereka dengan - misalkan Kromorejo: mulai saat itu Sarimin dipanggil "Pak Kromorejo" dan Tukinem dipanggil "mBok Kromorejo' b. Sesebutan yang dipakai untuk menggambarkan hubungan suami isteri, yaitu "garwa" (Jawa). Istilah ini berasal dari kata-kata "sigaraning nyawa" (artinya adalah belahan jiwa). Jadi jelas dari sesebutan tersebut di atas, nyata sekali pandangan orang Jawa bahwa suami isteri itu merupakan satu ketunggalan. c. Adanya ketunggalan harta-benda dalam perkawinan yang disebut harta-gini. 2. PERTUNANGAN Pertunangan adalah merupakan suatu stadium (keadaan) yang bersifat khusus yang di Indonesia ini biasanya mendahului dilangsungkannya suatu perkawinan. Stadium pertunangan ini timbul setelah ada persetujuan antara kedua belah-pihak (pihak keluarga bakal suami dan pihak keluarga bakal isteri) untuk mengadakan perkawinan. Dan persetujuan ini dicapai oleh kedua belah pihak setelah lebih dahulu ada suatu lamaran, yaitu suatu permintaan atau pertimbangan yang dikemukakan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Apakah yang menjadi dasar alasan motief pertunangan ini? Dasar alasan pertunangan ini adalah tidak sama di semua daerah; lazimnya

adalah: a) Karena ingin menjamin perkawinan yang dikehendaki itu dapat sudah dilangsungkan dalam waktu dekat. b) Khususnya di daerah-daerah yang ada pergaulan sangat bebas antara mudamudi, sekedar untuk membatasi pergaulan kedua belah pihak yang telah diikat oleh pertunangan itu. c) Memberi kesempatan kepada kedua belah pihak untuk saling lebih mengenal, sehingga mereka kelak sebagai suami-isteri dapat diharapkan menjadi suatu pasangan yang harmonis. Pertunangan ini masih mungkin dibatalkan dalam hal-hal yang berikut: a) Kalau pembatalan itu memang menjadi kehendak kedua belah piha yang baru timbal setelah pertunangan berjalan beberapa waktu lamanya. b) Kalau salah satu pihak tidak memenuhi janjinya; kalau yang menerima tanda tunangan tidak memenuhi janjinya, maka tanda itu harus dikembalikan sejumlah atau berlipat dari yang diterima, sedangkan kalau pihak yang lain yang tidak memenuhi janjinya, maka tanda tunangan tidak perlu dikembalikan. 3. PERKAWINAN PERTUNANGAN Ada beberapa corak perkawinan yang tidak didahului oleh lamaran dan pertunangan. Corak perkawinan yang demikian ini kebanyakan diketemukan dalam persekutuan yang bersifat patrilineal, tetapi dalan persekutuan yang matrilineal dan parental (garis bapak-ibu) meskipul agak lebih kurang toh terdapat juga. Daerah-daerah yang mengenal perkawinan demikian ini adalah antara lain: a. Lampung: Bakal suami dan isteri bersama-sama melarikan diri dengan biasanya meninggalkan surat atau sesuatu barang, bahkan kadang-kadang sejumlah uang di rumah bakal isteri. b. Kalimantan Bakal suami dan isteri yang sudah terikat pada seorang laki-laki lain oleh pertunangan bahkan kadang-kadang oleh perkawinan, bersama-sama melarikan diri. c. Bali dan Lampung: Bakal suami melarikan bakal isteri dengan paksa, artinya bertentangan dengan kehendak wanita yang bersangkutan. Jadi merupakan semacam TANPA LAMARAN DAN TANPA

penculikan. Perkawinan yang didahului oleh semacam penculikan demikian ini disebut juga "kawin rangkat". Ter Haar memakai istilah : schaakhuwelijk. 4. PERKAWINAN KEKELUARGAAN Antara perkawinan dan sifat susunan kekeluargaan terdapat hubungan yang erat sekali. Bahkan dapat dikatakan, bahwa suatu peraturan hukum perkawinan sukar untuk dapat dipahami tanpa dibarengi dengan peninjauan hukum kekeluargaan yang bersangkutan. Seperti telah diketahui, maka di Indonesia ini terdapat tiga macam sifat susunan kekeluargaan, yaitu patritineal, matrilineal dan parental. a. Dalam sifat susunan kekeluargaan patrilineal. Corak utama dari perkawinan dalam persekutuan yang sifat susunan kekeluargaannya patrilineal adalah perkawinan dengan 'jujur". Pemberian jujur oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan ini adalah sebagai lambang diputuskannya hubungan kekeluargaan si isteri dengan orang tuanya, nenek moyangnya, saudara-saudara sekandungnya, ya pendek kata dengan kerabatnya dan persekutuannya. Jujur ini di daerah Tapanuli disebut juga jujuran, perunjuk, unjung, sinantot, pangoli, boli, tuhor. Di daerah lain dipergunakan istilah-istilah lain seperti berikut: beuli-niha di pulau Nias sebelah selatan. unjuk di tanah Gayo seroh di Lampung kule di Flasernah wilin atau beli di Maluku belis di Timor patukun-luh di pulau Bali. b. Dalam sifat susunan kekeluargaan matrilineal Dalam keluarga matrilineal tidak ada pembayaran jujur. Setelah kawin suami tetap masuk pada keluarganya sendiri, akan tetapi dapat bergaul dengan keluarga isterinya sebagai "urang sumando". Pada saat perkawinan ia (mempelai laki-laki dijemput dari rumahnya dengan sekedar upacara (dijapuig) untuk kemudian dibawa ke rumah bakal isterinya. Upacara pada penjemputan ini disebut "alas melepas mempelai". Suami seterusnya turut berdiam di rumah isterinya atau keluarganya. uami sendiri tidak masuk keluarga si isteri seperti di atas telah ditegaskan (tetap masuk keluarganya sendiri), tetapi anak-anak keturunannya masuk DALAM PELBAGAI SIFAT

keluarga isterinya, masuk warga kerabat isterinya, masuk dan isterinya dan si ayah pada hakikatnya tidak mempunyai kekuasaan terhadap anak-anaknya. Rumah tangga suami isteri dan anak-anak keturunannya dibiayai dari milik kerabat si isteri. c. Dalam sifat susunan kekeluargaan parental Setelah perkawinan di sini si suami menjadi anggota keluarga isterinya dan sebaliknya si isteri juga menjadi anggota keluarga suaminya. Dengan demikian dalam susunan kekeluargaan parental ini, sebagai akibat perkawinan adalah, bahwa suami dan isteri masing-masing menjadi mempunyai dua kekeluargaan, yaitu kerabat suami di satu pihak dan kerabat isteri di lain pihak. Begitu seterusnya untuk anak-anak keturunannya. Dlam susunan kekeluargaan parental terdapat juga kebiasaan pemberian-pemberian oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur hadiah perkawinan demikian ini disebut "tukon", tetapi tidak dalam arti uang untuk membeli si isteri, melainkan sebagai sumbangan biaya perkawinan dari pihak laki-laki. 5. SISTEM PERKAWINAN Kita mengenal 3 macam sistem perkawinan yaitu endogami, exogami dan eleutherogami. a. Sistem endogami Dalam sistem ini orang hanya diperbolehkan kawin dengan seorang dari suku keluarganya sendiri. Sistem perkawinan ini kini jarang sekali terdapat di Indonesia. b. Sistem exogami Dalam sistem ini orang diharuskan kawin dengan orang di luar suku keluarganya. Sistem demikian ini terdapat misalnya di daerah Gayo, Alas, Tapanuli, Minangkabau, Sumatera Selatan, Buru dan Seram. c. Sistem eleutherogami Sistem ini tidak mengenal larangan-larangan atau keharusan-keharusan seperti halnya dalam sistem endogami ataupun exogami. Larangan-larangan yang terdapat dalam sistem ini adalah laranganlarangan yang bertalian dengan ikatan kekeluargaan. 6. PERKAWINAN ANAK-ANAK Kecuali di beberapa daerah, yaitu daerah Kerinci, di Roti darn pada suku Toraja, maka adat tidaklah melarang perkawinan antara orangorang yang masih

kanak-kanak. Khususnya di pulau Bali perkawinan gadis yang belum dewasa itu merupakan suatu perbuatan yang dapat dijatuhi hukuman. Tetapi meskipun di kebanyakan daerah perkawinan anak-anak itu diperkenankan di dalam kenyataan, hiasanya tidak akan terjadi, bahwa orang tua atau wali dari anak-anak itu akan memberi izin mereka kawin sebelum mereka masing-masing mencapai umur yang pantas, yaitu 15 atau 16 tahun bagi orang perempuan dan umur 18 atau 19 tahun bagi orang laki-laki. Apabila terjadi seorang anak perempuan yang umurnya masih kurang dari 15 tahun dikawinkan dengan seorang anak laki-laki berumur kurang dari 18 tahun ataupun lebih, maka biasanya setelah nikah, hidup bersama antara dua mempelai sebagai suami isteri ditangguhkan sampai mereka sudah mencapai umur yang pantas.

7. PENGARUH AGAMA

ISLAM DAN

AGAMA

KRISTEN

TERHADAP PERKAWINAN ADAT Bila sesuatu masyarakat memeluk agama Islam ataupun Kristen, maka terlihat adanya pengaruh agama yang bersangkutan terhadap ketentuan-ketentuan tentang perkawinan adat. Perkawinan secara Islam ataupun Kristen tidak memberikan kewenangan turut campur yang begitu jauh dan menentukan pada keluarga, kerabat dan persekutuan seperti dalam adat. Dalam perkembangan jaman proses pengaruh ini jalan terus dan akhirnya ternyata, bahwa: a) Bagi yang beragama Islam, nikah menurut Islam itu menjadi satu bagian dari perkawinan adat keseluruhannya. b) Bagi yang beragama Kristen, hanya unsur-unsur dalam perkawinan adat yang betul-betul secara positif dapat digabungkan dengan agama Kristen saja yang masih dapat diturut. 8. ACARA NIKAH Nikah secara Islam ini yang dilaksanakan menurut hukum fiqh adalah merupakan bagian vang sangat menentukan dari keseluruhan acara perkawinan adat. Nikah merupakan juga hal yang amat penting baik bagi yang bersangkutan, yaitu suami isteri, maupun bagi masyarakat pada umumnya; ialah merupakan penentuan, mulai saat manakah dapat dan harus dikatakan, bahwa ada suatu perkawinan selaku suatu kejadian hukum dengan segala akibat hukumhukumnya. Nikah ini adalah suatu perjanjian, suatu kontrak ataupun suatu akad antara mempelai laki-laki di satu pihak dan wali dari mempelai perempuan di lain pihak.

Perjanjian ini terjadi dengan suatu -ijab- dilakukan oleh wakil bakal isteri yang kemudian diikuti dengan suatu "kabul" dari bakal suami dengan disaksikan oleh sekurang-kurangnya dua orang muslim laki-laki, yang merdeka, sudah dewasa, sehat pikirannya serta baik adat kebiasaannya. 9. UPACARA-UPACARA PERKAWINAN ADAT Upacara-upacara adat pada sesuatu perkawinan ini adalah berakar pada adat-istiadat serta kepercayaan yang sejak dahulu kala, sebelum agama Islam masuk di Indonesia, telah diturut dan senantiasa dilakukan. Upacara-upacara adat ini sudah mulai dilakukan pada hari-hari sebelum pernikahan serta berlangsung sampai hari-hari sesudah upacara nikah. Upacara ini di pelbagai daerah di Indonesia adalah tidak sama sebab dilangsungkan menurut adat kebiasaan di tempat masing-masing. a. Upacara-upacara adat pada perkawinan di daerah Pasundan. Setelah pembicaraan yang pertama kali ("neundeun omong") antara pihak laki-laki dan pihak perempuan, di mana disampaikan lamaran dari pihak laki-laki, dilakukan, maka apabila semua ini berjalan lancar tidak lama kernudian diadakan upacara pemberian 'panyangcang dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Pada saat pemberian panyangcang itu, biasanya ditetapkan sekali oleh kedua belah pihak hari serta waktunya pernikahan. Beberapa waktu kemudian, apabila hari pernikahan hampir tiba, bakal mempelai laki-laki dengan diantar oleh kerabatnya dalam semawam pawai yang meriah dibawa ke rumah bakal istrinya serta disana oleh salah satu sesepuh kerabatnya yang khusus dibertugas untuk itu, dengan pidato yang khidmat diserahkan kepada bakal mertuanya. Selanjutnya bakal mempelai laki-laki ini tetap tinggal di tempat bakal mertuanya sampai saat pernikahan. b. Upacara-upacara adat pada perkawian di Jawa-Tengah Seperti telah dijelaskan di muka, maka upacara adat pada perkawinan di daerah Jawa Tengah ini dalam garis besarnya tidak berbeda dengan di daerah Pasundan, hanya istilah-istilahnya adalah barang tentu lain serta pelaksanaannya agak berbeda. Juga di daerah ini, setelah upacara lamaran, pemberian paningset serta pertunangan, menjelang hari pernikahan terdapat upacaraupacara adat. Menjelang hari pernikahan, bakal mempelai laki-laki dengan diawali oleh satu perutusan yang mewakili orang-tua dan kerabatnya menuju ke rumah bakal mertua untuk menjalani apa yang disebut "nyantri", yaitu menunggu sampai tiba saat nikah, berdiarn di tempat yang khusus ditunjuk oleh bakal mertua.

10. PERCERAIAN Perceraian adalah menurut adat merupakan peristiwa luar biasa, merupakan problems sosial dan yuridis yang penting dalam kebanyakan daerah. Menurut Profesor Djojodiguno, perceraian ini di kalangan orang Jawa adalah suatu hal yang tidak disukai. Cita-cita orang Jawa ialah berjodoan sekali untuk seumur hidup, bilamana mungkin sampai kaken-kaken-ninen-ninen, artinya sampai si suami menjadi kaki (kakek) dan si isteri menjadi nini (nenek), yaitu orang tua-tua yang sudah bercucu-cicit. Apa yang dikemukakan oleh Profesor Djojodiguno tersebut di atas, pada umumnya sudah menjadi pandangan hidup seluruh bangsa Indonesia, jadi tidak terbatas pada suku Jawa saja. Bangsa Indonesia memandang perceraian itu sebagai sesuatu perbuatan yang sedapat-dapatnya wajib dihindari. Sebab-sebab yang oleh hukum adat dibenarkan untuk melakukan perceraian adalah: a) Istri berzinah. Perceraian yang disebabkan karena isteri berzinah sudah barang tentu membawa akibat-akibat yang merugikan bagi isteri. Apabila ia tertangkap basah dan dibunuh, maka suaminya tidak usah membayar uang bangun. b) Kemandulan isteri Isteri tidak dapat mempunyai anak, sedangkan salah satu tujuan melakukan perkawinan itu adalah untuk memperoleh keturunan. c) Impotensi suami Suami tidak dapat memenuhi kehidupan bersama sebagai suami dan isteri, sehingga keturunan tidak akan diperoleh dari perkawinan tersebut. d) Suami meninggalkan isteri sangat lama ataupun isteri berkelakuan tidak sopan Kedua-duanya disebabkan karena rasa saling mencintai antara suami-isteri itu memang sudah agak lama lenyap. e) Adanya keinginan bersama dari kedua belah pihak, adanya persetujuan antara suami dan isteri, untuk bercerai, Ini sangat jarang terjadi, sebab kehendak bersama demikian ini pada umumnya oieh masing-masing keluarganya tidak dapat dibenarkan kecuali apabila hal itu disebabkan karena alasan-alasan yang lebih penting seperti kemandulan, impotensi dan lain sebagainya.

11. AKIBAT-AKIBAT PERCERAIAN Setelah bercerai bekas suami isteri tersebut masing-masing dapat kawin lagi. Menurut hukum adat dan hukum Islam, bekas isteri tidak dapat menuntut

nafkah dari bekas suaminya, sedangkan menurut hukum Kristen ini dapat Berta diatur dalam pasal 62 ordonansi tanggal 25 Pebruari 1933 Staaablad Nomor 74.