LAPORAN PBL SKENARIO D BLOK 17

Disusun oleh : Kelompok 8 (L8)
Rizki Nanda Sari Sulbahri Ika Putri Yusmarita Richard Togi Lumban Tobing Evi Fitriana Syarifah Nurlaila R.A. Gita Tanelvi Widya Agustini Iskandar Idha Yulfiwanti Juliyanita Fatimatuzzahrah Yurika Erliani 04081001009 04081001019 04081001030 04081001031 04081001050 04081001051 04081001052 04081001068 04081001079 04081001086 04081001090

Pembimbing: dr. Irawan S. SpOG

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2011

1

I.

SKENARIO D BLOK 17 :

Mrs. Oneng, 30 years old, a housewife is come to the Community Health center with chief complain vaginal bleeding. The mother also complains abdominal cramping. She missed her periode for about 8 weeks. The mother also feels nauseous, sometime have vomiting and breast tenderness. Since 6 months ago he complains about vaginal discharge with bad odor. She already has 3 children before and the youngest child is 4 years old. She use hormonal contraception. In the examination findings: Height = 155 cm; Weight 50 kg; Blood pressure = 100/60 mmHg; Pulse = 90 x/m; RR = 20 x/m. Palpebral conjunctival looked pale, hyperpigmented breasts. Internal examination: Speculum examination: portio livide, external os Close with blood come out from external os, there are no tissue at external os, there are no cervical erotion, laceration or polyp. Bimanual examination: cervix is soft, the external os open, there are no tissue palpable at external os, cervical motion tenderness, uterine size about 6 weeks gestation, there is mass palpable at right adnexa, left adnexa and parametrium within normal limit. Hb 8 g/dL; WBC 20.000/mm3; ESR 18 mm/hour; Peripheral Blood Image: WNL Urine: Leucocyte full Ultrasound: Uterine size smaller than gestational age, there are no gestational sack intrauterine, there was hypoechoic mass at right adnexa with diameter 25 mm, fetal pulsation (+). there was minimally intraperitoneal fluid. You act as the doctor in the Community Health center and be pleased to analyse this case.
1. How to perform examination in First trimester pregnancy

2. What are the possible signs of pregnancy 3. Pathophysiology bleeding in early pregnancy 4. Differential diagnosis bleeding in early pregnancy

2

5. How is the Management of this case 6. What are the possible complications 7. Prognosis of this case.

II.

KLARIFIKASI ISTILAH:

1. Vaginal bleeding 2. Abdominal cramping 3. Nauseous 4. Vomiting 5. Breast tenderness bad odor 7. Hormonal contraception 8. Hyperpigmented breast 9. Portio livide 10. Cervical tenderness 11. Adnexa 12. Hypoechoic

: Perdarahan per vaginam : Kontraksi muskular spasmodik yang nyeri di daerah abdomen : Berkenaan dengan atau menimbulkan mual : Semburan dengan paksa isi lambung melalui mulut : Nyeri tekan pada payudara dan berbau tidak sedap : Kontrasepsi hormonal : Peningkatan pigmentasi di areola : Portio yang berwarna biru keunguan karena adanya

6. Vaginal discharge with : Ekskresi atau bahan yang dikeluarkan melalui vagina

hipervaskularisasi motion : Nyeri goyang pada cervix : Umbaian atau bagian tambahan : Mengeluarkan sedikit gema; digunakan untuk jaringan atau struktur yang memantulkan gelombang suara ultra yang relatif sedikit yang ditujukan padanya : Cairan pada rongga intraperitoneal : Denyutan atau detakan berirama yang berasal dari fetus

13.

Intraperitoneal fluid

14. Fetal pulsation

III.

IDENTIFIKASI MASALAH:

1. Ny. Oneng, 30 tahun, IRT, datang ke Puskesmas dengan keluhan perdarahan per vaginam.

3

2. Keluhan tambahan: kram perut, telat menstruasi selama 8 minggu, mual dan muntah, nyeri tekan payudara. 3. 6 bulan yang lalu: mengeluh discharge pada vagina dengan bau tak sedap. 4. Ny. Oneng memiliki 3 anak, anak yang paling kecil berumur 4 tahun. 5. Oneng menggunakan kontrasepsi hormonal. 6. Pemeriksaan fisik: − Height = 155 cm; Weight 50 kg; Blood pressure = 100/60 mmHg; Pulse = 90 x/m; RR = 20 x/m. Palpebral conjunctival looked pale, hyperpigmented breasts. − Speculum examination: portio livide, external os Close with blood come out from external os, there are no tissue at external os, there are no cervical erotion, laceration or polyp. − Bimanual examination: cervix is soft, the external os open, there are no tissue palpable at external os, cervical motion tenderness, uterine size about 6 weeks gestation, there is mass palpable at right adnexa, left adnexa and parametrium within normal limit. 7. Pemeriksaan laboratorium dan USG:

Hb 8 g/dL; WBC 20.000/mm3; ESR 18 mm/hour; Peripheral Blood Image: WNL

− Urine: Leucocyte full − Ultrasound: Uterine size smaller than gestational age, there are no gestational sack intrauterine, there was hypoechoic mass at right adnexa with diameter 25 mm, fetal pulsation (+). there was minimally intraperitoneal fluid.

IV.

ANALISIS MASALAH:

4

nyeri tekan payudara? 5. HIPOTESIS: 5 . Bagaimana penegakan diagnosis kasus ini dan apa diagnosis kerjanya? 14. Bagaimana penatalaksanaan kasus ini? 17. Bagaimana patofisiologi: Kram abdomen. Apa kompetensi dokter umum dalam menangani kasus ini? V. Bagaimana prognosis dan apa komplikasi pada kasus ini? 18.1. Apa etiologi dan faktor resiko serta epidemiologi kasus ini? 15. Apa diagnosis banding kasus ini? 12. Apa interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium dan USG? 13. Bagaimana patofisiologi perdarahan pervaginam? 4. Bagaimana hubungna status multipara dengan kasus? 8. Apa saja kemungkinan penyebab dan mekanisme sekret vagina yang berbau tidak sedap serta bagaimana hubungan adanya sekret vagina ini dengan perdarahan per vaginam? 7. vomitting. Apa interpretasi hasil pemeriksaan fisik umum dan khusus eksternal? 10. Bagaimana fisiologi kehamnilan trimester pertama kehamilan (tanda-tanda kehamilan terutama pada kehamilan usia 8 minggu)? 3. Apa saja kemungkinan penyebab perdarahan per vaginam pada awal kehamilan? 6. Apa saja jenis dan bagaimana pengaruh kontrasepsi hormonal pada kasus? 9. Bagaimana patogenesis dan apa manifestasi klinis kasus ini? 16. Bagaimana anatomi dan fisiologi sistem reproduksi perempuan? 2. Apa interpretasi pemeriksaan fisik khusus internal dan bimanual? 11. nausea.

SINTESIS: I. Oneng.” VI. Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita 6 .“Ny. mengalami KET disebabkan oleh infeksi. 30 tahun.

1. orificium urethrae externum. hymen. pertumbuhan fetus. labia mayora menyatu (pada commisura posterior).Organ genitalia femina terbagi menjadi 2. c. Genitalia Eksterna a. fertilisasi ovum. pigmen dan sebagainya. clitoris. kelenjar-kelenjar pada dinding vagina. Vulva Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum). yaitu: genitalia femina external dan genitalia femina interna yang sebagian besar terletak di rongga panggul. terdiri dari mons pubis. Mons pubis / mons veneris Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis. labia mayora. kulit daerah tertentu. Homolog embriologik dengan skrotum pada pria. 7 . Selain itu terdapat organ ekstragonad/ekstragenital yang juga dipengaruhi oleh siklus reproduksi : payudara. banyak mengandung pleksus vena. b. − Internal : fungsi ovulasi. − Eksternal (sampai vagina) : fungsi kopulasi Fungsi sistem reproduksi wanita dikendalikan atau dipengaruhi oleh hormon-hormon gondaotropin atau steroid dari poros hormonal thalamus – hipothalamus – hipofisis – adrenal – ovarium. vestibulum. kelahiran. transportasi blastocyst. Di bagian bawah perineum. Labia mayora Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang. implantasi. labia minora. Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut pubis. Ligamentum rotundum uteri berakhir pada batas atas labia mayora.

ductus glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri. sangat sensitif. f. Banyak pembuluh darah dan ujung serabut saraf. Terdapat 6 lubang/orificium.cribiformis. otot polos dan ujung serabut saraf. yaitu orificium urethrae externum.constrictor urethra). Perineum meregang pada persalinan. batas lateral labia minora. introitus vaginae. dan corpus clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior vagina. bulat. m. hymen dapat robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk fimbriae). Antara fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis. batas bawah fourchet.d.perinealis transversus profunda. oval. Akibat coitus atau trauma lain. Perineal body adalah raphe median m. dapat berbentuk bulan sabit. Berasal dari sinus urogenital. e. tidak mempunyai folikel rambut. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis bermukosa yaitu selaput dara / hymen. Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris. Internal 8 . h. antara anus dan vagina. Banyak terdapat pembuluh darah.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.levator ani. 2. Homolog embriologik dengan penis pada pria. Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi. Introitus / orificium vagina Terletak di bagian bawah vestibulum.levator ani. m. Perineum Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. utuh tanpa robekan. Vestibulum Daerah dengan batas atas clitoris. g. septum atau fimbriae. Clitoris Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva. kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur. Labia minor Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora. Batas otot-otot diafragma pelvis (m.

infundibulopelvicum yang dilalui arteri dan vena dan pembuluh limfe dari sisi dinding pelvis.a. obturatorius.v. latum oleh mesovarium.v. Ovarium Ovarium berbentuk buah almond dengan panjang 4 cm (1. dilekatkan pada bagian belakang lig.infundibulopelvicum. Semua struktur di atas masuk ke ovarium melalui lig. renalis sinistra di sisi kiri. Ovarium memiliki dua perlekatan yaitu lig. − Vena ovarica di sisi kanan mengalirkan darah ke vena cava inferior dan v. Hubungan Ovarium umumnya dijelaskan terletak di sisi dinding pelvis pada fossa ovarica dibatasi oleh a. renalis. ovarii proprium yang berjalan ke cornu uteri.v. − Aliran limfe berjalan ke nodus limfatikus aorticus pada tingkat a. ovarica yang berasal dari aorta pada tingkat a. dan lig. iliaca externa di depannya dan ureter serta a. iliaca interna di belakang dan juga mengandung n.5 inci). Perdarahan − Suplai darah dari a. renalis. mengikuti aturan umum bahwa aliran limfe menyertai aliran vena dari suatu organ. − Suplai saraf berasal dari plexus aorticus (T-10). 9 .

Tuba Fallopi Tuba uterina berukuran kira-kira 10 cm (4 inci). Bagian interstitialis: bagian yang menembus dinding uterus. berdinding tipis dan berlekuk. b. Infundibulum: berupa ekstremitas berbentuk tonjolan di luar lig. latum dan membuka ke cornu uteri. pembuluh darah dan saraf) dan cortex (bagian tepi. mengandung epitel germinal/cikal bakal ovum dan berisi sel-sel folikel dalam beberapa tingkat pertumbuhan). 3. Tuba uterina terbagi menjadi 4 bagian: 1. latum dan membuka ke cavitas peritonealis melalui ostium. lapisan serosa berakhir pada perlekatan mesovarium. corpus luteum dan corpus albicans.Struktur Ovarium memiliki dua (2) lapis jaringan yaitu medulla (dibagian tengah. berdinding tipis dan lurus. Perlekatan ini berisi jaringan ikat stroma mengandung folikel dengan variasi tingkat fase perkembangan. Ovarium tidak memiliki selubung peritoneum. 10 . Mulut infundibulum berbentuk fimbriae dan berada di atas ovarium dimana satu fimbria panjang melekat pada ovarium (fimbria ovarica). mengandung jaringan ikat. Ampulla: lebar. folikel De Graaf. Isthmus: sempit. 2. 4. terletak pada pinggir bebas lig.

bersilia dan terletak pada lipatan-lipatan longitudinal. Ligaments Dua pasang ligamenta yang perlekatannya dari uterus: 11 . Lapisan mukosa dibentuk oleh sel-sel kolumner. yaitu tempat selain endometrium pada corpus uteri. atau juga menyebabkan tuba uterina ruptur ke dalam cavitas peritonealis dan sangat jarang dapat terjadi ruptur dalam lig. Di bawahnya terdapat lapisan otot polos serabut longitudinal pada lapisan luar dan serabut sirkuler pada lapisan dalam. c. ampullaris.Struktur Mulai dari bagian interstitial. dapat mengalami abortus ke dalam cavitas peritonealis. latum. Aspek Klinis − Canalis genitalis pada wanita adalah satu-satunya hubungan langsung peritoneum dari dunia luar dan potensial menjadi jalur untuk terjadinya infeksi misalnya pada infeksi gonorrhea. − Ovum yang telah difertilisasi dapat bernidasi (menempel) pada tempat yang bukan semestinya (ektopik). atau interstitialis. Jika embrio ektopik membesar. Jika terjadi di tuba uterina maka disebut sesuai tempatnya misalnya fimbrialis. Ovum digerakkan menuju cavitas uteri sepanjang tuba uterina dengan gerakan peristaltik dan sebagian oleh kerja silia. isthmik. Nidasi ektopik tersering terjadi pada ampulla dan sangat jarang terjadi di bagian interstitialis. tuba uterina diselubungi peritoneum.

Lig. uterina dan cabang-cabang a. latum kemudian menyilang dasar pelvis dan membagi menjadi bagian anterior yang berisi vesica urinaria. latum mengandung: − Tuba uterina pada ujung bebasnya − Ovarium. ovarii proprium ekuivalen dengan gubernaculum testis pada pria dan diperkirakan sebagai jalur gonad wanita. tetapi pada kenyataannya tidak ada desensus ke labia majora (homolog dengan scrotum pada pria). excavatio vesicouterina. Lig. Uterus dan lig.1. Uterus 12 . broad) merupakan lipatan peritoneum yang menghubungkan batas lateral uterus dengan sisi dinding pelvis pada masingmasing sisi. merupakan pita fibromuskular berjalan dari sudut lateral uterus dalam lapisan lig.v. 2. teres uteri bersama dengan lig. kemudian melintasi canalis inguinalis menuju labia majora. ovarica − Pembuluh limfe dan serabut-serabut saraf Ureter berjalan ke depan menuju vesica urinaria menuju ke ligamentum ini dan ke lateral menuju fornix lateral vagina. ovarii proprium. dan bagian posterior yang berisi rectum (kantung Dauglas=excavatio rectouterina). Ligamentum latum (lig. Wolfian Vestiges − Gartner’s duct − Epoophoron (vesicular appendages of epoophoron) − Paroophoron e. dilekatkan oleh mesovarium menuju aspek posterior − Lig. d. menyilang dari ovarium menuju cornu uteri − a. Ligamentum teres uteri. teres uteri (round ligament) − Lig.v. latum menuju anulus inguinalis profunda.

Pada masa kehidupan fetal cervix lebih besar dari corpus. perlekatan ini membatasi bagian supravaginalis dan cervix bagian vagina (cervix vaginalis). 13 . pada masa kanak-kanak (uterus infantile) cervix masih memiliki ukuran dua kali ukuran corpus tetapi selama pubertas uterus membesar sebesar ukuran dewasa dan proporsinya berkembang sesuai perkembangan tubuh. Cavitas uteri berhubungan melalui ostium uteri internum dengan canalis cervicis uteri yang kemudian membuka ke vagina melalui ostium uteri externum. menandakan perbedaan dengan corpus uteri tetapi secara histologi mucosanya sama dengan endometrium. Cervix wanita tidak hamil memiliki konsistensi lubang hidung. Isthmus adalah bagian uterus yang menjadi segmen bawah saat kehamilan. Corpus uteri menyempit pada bagian ‘pinggang’ disebut isthmus. corpus dan cervix. terdiri atas fundus.5 mm. Luas isthmus 1. pada saat hamil konsistensi bibir.Uterus berbentuk buah pir. panjang 7. Pada wanita nullipara. berlanjut menjadi cervix yang dicakup kira-kira setengah cervix oleh vagina. Hubungan − Anterior: corpus berhubungan dengan excavatio vesicouterina dan terletak di permukaan superior vesica urinaria atau dapat juga di atas intestinum tenue. ostium externum berbentuk sirkuler tetapi setelah melahirkan menjadi celah transversal dengan labium anterius dan posterius. Kedua tuba uterina (Salpinx.5 cm (3 inci). Fallopian) masuk pada sudut superolateral (cornu) fundus.

Struktur Corpus uteri ditutupi oleh peritoneum kecuali di anterior di atas vesica urinaria pada isthmus uteri dan di lateral pada lig. ovarica. latum (lig. Hubungan terdekat ureter pada fornix lateral dapat digunakan sebagai cara pemeriksaan batu ureter karena dapat dipalpasi pada pemeriksaan vagina. − Posterior: terdapat excavatio rectouterina (kantung Douglas) dengan intestinum di dalamnya. − Lateral : lig.Cervix pada bagian atas vagina (portio supravaginalis cervicis) berhubungan langsung dengan vesica urinaria. Pada tempat ini ureter terletak sedikit di atas tingkat fornix lateralis. massa fibroid. iliaca interna. Arteri uterina juga memberi cabang descendens ke cervix dan cabang ke bagian atas vagina. broad) dan isinya. ureter terletak 12 mm lateral terhadap portio supravaginalis cervicis.v. Otot dinding uterus tebal dan serabutnya otot polosnya saling silang bercampur dengan jaringan ikat fibroelastis. Perdarahan Arteri uterina (berasal dari a. kemudian naik dan membelit uterus. Aspek Klinis Satu hal terpenting yang banyak berhubungan dengan klinis pada regio ini yaitu ureter pada portio supravaginalis cervicis. iliaca interna) berjalan dalam dasar ligamentum latum dan melintas di atas serta tepat menekuk pada ureter untuk menuju uterus setinggi ostium internum. Vena-vena berjalan bersama-sama arteri dan mengalirkan ke v. Cervix pada bagian bawah vagina (portio vaginalis cervicis) terdapat fornix anterior dan bagian-bagian di depannya. uterina dalam ligamentum latum. ureter akan tertekan.v uterina. ureter melintas di bawah a. dan beranastomosis dengan a. mensuplai corpus. khususnya ketika anatomi pelvis telah berubah karena operasi sebelumnya. ureter dapat dipisahkan saat melakukan klem a. Pada tindakan hysterectomy. dapat terjadi hydronefrosis bilateral sehingga menimbulkan uremia. latum. hanya dipisahkan oleh jaringan ikat. infeksi atau infiltrasi keganasan. Jika uterus membesar ke lateral. 14 . tetapi juga berhubungan dengan plexus vena pelvis yaitu plexus venosus vaginalis dan plexus venosus vesicalis.

rectalis media (rami 15 . lapisan epitel squamous stratified yang membentuk rugae. rectum dan kemudian peritoneum kantong Douglas menutupi seper-empat bagian atas dinding posterior vagina. − Lateral : m. levator ani. otot polos.Lapisan mukosa langsung melekat pada lapisan otot tanpa ada lapisan submukosa. uterina (rami vaginales). Terdiri dari 3 lapisan: lapisan terluar. Tidak memiliki kelenjar tapi selalu lembab oleh sekresi servix uteri. berupa jaringan areolar. Sekret cervix bersifat mukus alkali yang membentuk plak serviks (cervical plug) bersifat protektif yang mengisi canalis cervicis. Epitel pada canalis cervicis adalah sel-sel kolumner yang membentuk suatu rangkaian percabangan glandula yang rumit.9 sampai 3. fascia pelvis dan ureter yang terletak dekat dengan fornix lateralis. vaginalis. Perdarahan Suplai arteri berasal dari a. lapisan tengah. a. Pada masa pubertas sampai menopause terdapat bakteri Lactobacillus acidophilus yang memproduksi asam laktat untuk menjaga agar keasaman tetap pada pH 4. f. Mukosa corpus uteri adalah endometrium yang terdiri atas satu lapisan sel-sel kubus bersilia membentuk glandula tubular sederhana yang tenggelam ke dalam lapisan otot.5 sehingga mikroba patogen tidak masuk ke vagina. pudenda interna dan a. Di bawah epitel ini terdapat stroma jaringan ikat mengandung pembuluh darah dan sel stroma. lapisan dalam (dekat introitus). iliaca interna melalui cabang-cabang yaitu a. a. Hubungan − Anterior : dasar vesica urinaria dan urethra (melekat pada dinding anterior vagina) − Posterior : dari bawah kemudian naik mulai dari canalis analis (diantaranya terdapat corpus perinealis). Vagina Vagina menyelubungi cervix uteri kemudian berjalan ke bawah dan ke depan sepanjang dasar pelvis untuk membuka ke vestibulum.

5. dapat menyebabkan zigot tidak sampai pada cavum uteri. 2. 8. Pleksus vena-vena mengalirkan darah melalui v. 7. Spindle dari pembelahan mitosis pertaman. 3.5 hari) . 1. II. Stadium pronuclei pria dan wanitai. iliaca interna. Faktor faktor yang mempengaruhi sampainya zigot pada lumen uterus: − Fakor tuba Silia pada tuba berperan penting dalam pergerakan zigot ke cavum uteri − Abnormalitas zigot Zigot yang tumbuh terlalu cepat. 6. Morula yang terus membelah memasuki lumen uterus (usia sekitar 4 hari). 1. sekitar 12-24 jam setelah ovulasi. Stadium dua sel (usia sekitar 30 jam)). Stadium blastokist awal (usia sekitar 4. 4. Morula berisi 12-16 blastomere (usia sekitar3 hari). 2. Tahap awal implantasi (blastokit berusia sekitar 6 hari).11 peristiwa selama minggu pertama perkembangan janin. Ovulasi dan Nidasi Figure 2.vaginales). Fertilisasi. Oosit sesaat setelah ovulasi. Anatomi dan fisiologi kehamilan 8 minggu: 16 . vaginalis menuju v. Zona pellucida telah menghilang 9.

Tanda-tanda pasti kehamilan: Pemeriksaan obstetri 17 .− Ukuran mencapai seukuran buah anggur – diameter sekitar 2. Tanda-tanda terduga hamil berupa perubahan anatomi dan fisiologi selain dari tanda-tanda presumtif. kadang-kadang terlihat adanya pangkal hidung. − Jari-jari sudah semakin panjang dan terpisah satu sama lain. Sudah berbentuk manusia.5 cm. a. − Genitalia eksterna sudah terbentuk Fisiologi: − Sirkulasi melalui tali pusat di mulai − Penyatuan vili chorealis belum terlalu dalam. dll). 3. − Tungkai dan lengan sudah terbentuk secara lengkap. − Telah terjadi pembentukan kelopak mata dan telinga. Tanda-tanda pasti kehamilan adalah kondisi yang mengindikasikan adanya janin yang diketahui melalui pemeriksaan dan direkam pemeriksa (denyut jantung janin. Diagnosis kehamilan Penentuan dan dugaan terhadap kehamilan terkait dengan pengetahuan mengenai fisiologi awal kehamilan meliputi tanda-tanda presumtif yaitu perubahan fisiologik pada seorang perempuan yang telah mengindikasikan bahwa ia telah hamil. gerakan janin.

Pembesaran perut 18 . 3. Ballotemen. perubahan konsistensi serviks dibandingkan dengan konsistensi kenyal saat tidak hamil. Mendengar denyut jantung fetus − Normal 140 – 160 / menit. 2. sporadik. Tanda Piskacek. Tanda Goedel. kontraksi yang terjadi akibat peregangan miometrium akibat perbesaran uterus. Tanda-tanda kemungkinan hamil: 1. Tanda Hegar. timbul sejak kehamilan 6 minggu. menekan tubuh janin melalui dinding abdomen yang kemudian terdorong melalui cairan ketuban dan memantul balik ke dinding abdomen atau tangan pemeriksa. tanpa rasa nyeri. − − − − − Bising tali pusat Bising rahim Bising usus Bising aorta Bunyi gerakan fetus 2. tidak terdeteksi pada pemeriksaan bimanual pelvik. perbesaran uterus asimetris pada awal kehamilan 5.1. bermula pada usia kehamilan 12 minggu. bila dengan doppler mulai umur kehamilan 10 – 12 minggu. Kontraksi bersifat nonritmik. pelunakan dan kompresibilitas ismus serviks sehingga ujung-ujung jari seakan dapat ditemukan bila ismus ditekan dari arah berlawanan. Mulai kehamilan 17 – 19 minggu dengan fetoskop. Melihat dan meraba gerakan fetus. Kontraksi Braxton Hicks. 6. Pemeriksaan elektrokardiografi dan Pemeriksaan USG b. 4.

Keluhan ibu: 1. 2. Perubahan selaput lendir vagina 4. Kontrasepsi Implant. Uji endokrin c. Ibu merasa ada gerakan fetus 3. Tanda-tanda dugaan hamil: 1. Kontrasepsi Hormonal 1. Gangguan kencing 4.7. Pengertian Kontrasepsi hormonal adalah alat atau obat kontrasepsi yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kehamilan dimana bahan bakunya mengandung preparat estrogen dan progesterone. Jenis Kontrasepsi Berdasarkan jenis dan cara pemakaiannya dikenal tiga macam kontrasepsi hormonal yaitu: Kontrasepsi Suntikan. Mudah capai III. Mual dengan atau tanpa muntah 2. Stria dan hiperpigmentasi d. Perubahan pada mammae 3. Amenorrhea 2. 19 . Kontrasepsi Oral (Pil).

20 . Pil mini. pil ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan urutan hormon yang dikeluarkan ovariun pada tiap siklus. Mekanisme kerja kontrasepsi suntikan − Menghalangi pengeluaran FSH dan LH sehingga tidak terjadi pelepasan ovum untuk terjadinya ovulasi dengan jalan menekan pembentukan releasing faktor dari hipotalamus. − Merubah suasana endometrium sehingga menjadi tidak sempurna untuk implantasi dari hasil konsepsi.a. merupakan pil hormon yang hanya mengandung progestrone dalam dosis mini (kurang dari 0.5 mg) yang harus diminum setiap hari termasuk pada saat haid. Kontrasepsi oral terdiri atas lima macam yaitu: 1. Pil kombinasi. − Norethindrone enanthate (Noresterat) 200 mg yang mengandung derivate testosteron. 3. Kontrasepsi Suntikan − Depo provera yang mengandung medroxyprogestin acetate 50 Mg. − Cyclofem yang mengandung medroxyprogesteron acetate dan estrogen. Maka berdasarkan urutan hormon tersebut. 2. dalam satu pil terdapat estrogen dan progestrone sintetik yang diminum 3 kali seminggu. mengandung hormon estrogen dan progestrone yang digunakan untuk mencegah hamil. Pil sekunseal. Kontrasepsi Oral (Pil) Kontrasepsi oral adalah kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk tablet. − Mengentalkan lender serviks sehingga sulit untuk ditembus oleh spermatozoa. estrogen hanya diberikan selama 14 – 16 hari pertama di ikuti oleh kombinasi progestrone dan estrogen selama 5 – 7 hari terakhir. b.

Ini adalah periode dimana ovum tertahan di ampula dan 21 . Pada telaah terhadap data-data penelitian yang ada. melalui perubahan-perubahan dalam sintesis prostaglandin. c. Hubungan dengan Kasus: Pil yang mengandung hormon progesteron meningkatkan kehamilan ektopik karena pil progesteron dapat mengganggu pergerakan sel rambut silia di saluran tuba yang membawa sel telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi ke dalam rahim. Morning after pil. seperti kasus pemerkosaan dan kondom bocor. pil hormon yang mengandung estrogen yang ” Long acting ” yaitu biasanya pil ini terutama diberikan untuk wanita yang mempunyai Biological Half Life panjang. dan melalui pengaruh langsung pada myosalping Peningkatan aktivitas kontraksi dipercayai merupakan proses mediasi E2. dimana P4 diperkirakan mempunyai pengaruh tersembunyi pada otot-otot tuba. dan kepekaan. mempengaruhi setiap aspek pertumbuhan. diferensiasi dan fungsi. Steroid ovarium yang berperan menonjol adalah estradiol (E2) dan progesteron (P4). Once a moth pil. Perubahan pada siklus endokrin yang mempengaruhi tuba fallopii dapat menyebabkan aberasi dalam transportasi ovum.4. Karena itu. 5. Kontrasepsi implant mekanisme kerjanya adalah menekan ovulasi membuat getah serviks menjadi kental dan membuat endometrium tidak sempat menerima hasil konsepsi. merupakan pil hormon yang mengandung estrogen dosis tinggi yang hanya diberikan untuk keadan darurat saja. Kontrasepsi Implant. degradasi. perubahan siklik dalam kadar hormon membawa kepada peningkatan tonus ismika saat terjadi ovulasi dan selama 1 – 2 hari berikutnya. yang akan membawa pada proses pengeraman dan implantasi blastokis di tuba. kedua hormon ini berpengaruh kuat pada tuba fallopii. Jansen menyimpulkan bahwa hormon steroid ovarium mempengaruhi otot-otot polos tuba melalui perubahan-perubahan pada aktivitas adrenergik dan kepekaan.

Selama fase luteal. kadar E2 cukup tinggi selama keseluruhan stadium siklus menstruasi manusia untuk mempertahankan sel-sel silia. Progesteron eksogen. Silia akan menghilang dan myosalping boleh jadi tidak bergerak. Perbedaan sel-sel silia dari tuba falopii. Tidaklah mengherankan. dapat mengurangi resistensi tuba falopii terhadap implantasi ektopik melalui berbagai mekanisme. Penelitian dengan menggunakan transmisi mikroskopik elektron (TEM) telah mencatat bahwa siliogenesis mengambil tempat selama fase proliferasi. terjadi peningkatan yang kritis dalam ampula dan isthmus dan tergantung pada adanya P4 dalam lingkungan E2 yang tinggi. sekresi tubal anionik. dan sel-sel silia matur hanya tampak pada pertengahan siklus. merupakan proses E2dependent yang berlawanan dengan P4. dimana implantasi normal yang seharusnya terjadi. Bersama-sama Desiliasi dan atrofi. P4 dapat memblok pengaruh E2. peningkatan P4 postovulasi. 22 . sel-sel ini memperlihatkan regenerasi silial. Sesungguhnya. meskipun. Verhage dkk. menyimpulkan bahwa siliogenesis adalah satu proses yang sensitif terhadap kadar E2 rendah. tidak ditemukan dari tuba. Sebagai tambahan. transportasi ovum ditingkatkan melalui mekanisme siliar.tertunda untuk memasuki isthmus. Setelah ovulasi. Paparan yang lebih lama terhadap efek antagonis dari P4 diluar periode transport kemungkinan disebabkan regresi silia.. Pada mukosa tuba manusia. Sebagai contoh. Pengaruh P4 menjadi berkembang pada awal fase luteal. yang dihantarkan melalui oral atau melalui alat kontrasepsi dalam rahim. Selama fase folikuler berikutnya. dimana 10% sampai 20% dari sel-sel mengalami kehilangan silianya. Perubahan dari lingkungan hormonal yang didominasi E2 ke lingkungan yang di dominasi P4 secara temporer membawa kepada perubahan-perubahan ultrastruktural yang menghasilkan peningkatan frekuensi denyut silia dalam hubungan dengan transportasi ovum. dan fase penyembuhan (recovery) memerlukan P4 withdrawal. frekuensi denyut silia meningkat 18% selama fase luteal. termasuk siliogenesis. bahwa perubahan utama dari kadar E2 dan P4 preovulasi diharapkan akan memisahkan mekanisme transportasi ovum kompleks dan berpotensi menunda transit ovum. insiden yang tinggi dari kehamilan tuba telah dilaporkan terjadi selama hiperstimulasi ovarium oleh gonadotropin eksogen dan selama pemberian progesteron dosis rendah. dan pergerakan blastokis menuju ke dalam kavum uteri. yang dapat memiliki fungsi lubrikasi bagi transpor ovum sama baiknya dengan kualitas implantationresisting lainnya.

yaitu tanda Chardwick-terjadinya perubahan warna menjadi merah keunguan pada External os closed with blood come out from external os porsio akibat adanya bendungan vaskuler.hiperpigmentasi kulit di daerah areolar akibat peningkatan estrogen dan progesteron yang berlebihan yang memicu kepada perlepasan MSH (melanosit stimulating hormon) yang merangsang keluarnya melanosform. Interpretasi Hasil Pemeriksaan 1. Weight-50kg BP 100/60mmHg (Normal: 120/80mmHg) HR 90x/m (N: 60-100x/m) RR 20 x/minute (N: 16-24) Palpebral conjunctival looked pale Hyperpigmentation areolar of breast Interpretasi BMI sebelum lahir = ± 18. mola hidatidosa. subinvolusio uteri. menunjukkan tanda kehamilan Normal Abdominal flat and souffle. Beberapa kondisi yang mungkin: KET. Fisik Umum dan Gynecology External Hasil pemeriksaan fisik Height-155cm. symmetric.7 (Normal) Normal. Tidak normal pada kehamilan. cenderung rendah (fisiologis pada kehamilan) Normal Normal Anemia ringan Linea nigra . Polip endometrium. mioma uteri. Tidak ada jaringan pada external os 23 . Interpretasi Tanda kehamilan. kariokarsinoma. Fisik Internal (Speculum dan Bimanual) Kasus Speculum Portio livide. sarcoma No tissue at external ostium. no pain tenderness Suspicious free fluid sign Kecurigaan adanya cairan di rongga abdomen 2.IV. abortus (dengan berbagai jenis). uteri. there is no mass. uterine fundal not palpable. karsinoma korporis uteri.

lebih besar. dan getah dari forniks posterior untuk pemeriksaan trikomonoasis dan kandidiasis. Untuk pemeriksaan spekulum mutlak diperlukan lampu penerangan yang cukup. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yang tidak dikehendaki dapat pula dikeluarkan. Normal. Uterine size about 6 weeks gestation. seperti usap vagina dan usap serviks untuk pemeriksaan sitologi. Ketika servik digerakkan ke tiap sisi. Cervix pada ibu hamil lebih lembut. The external os open. peradangan. erosio. Tanda kehamilan. Lalu spekulum dibuka melalui mekanik pada tangkainya. Waktu spekulum dibuka daun depan tidak menyentuh porsio karena agak lebih pendek dari daun belakang. Dengan demikian spekulum diperiksa dinding vagina (rugea vaginales. Bimanual Cervix is soft. Selain itu spekulum juga bisa dilakukan untuk pemeriksaan pelengkap. karsinoma. terutama karsinoma). Dengan demikian dinding vagina depan terpisah dari yang belakang dan porsio akan tampak jelas dan dibersihkan dari lendir atau getah vagina. menyingkirkan Mola Hidatidosa Kehamilan ektopik tuba kanan Normal Prosedur Pemeriksaan speculum: Pemasangan spekulum cocor bebek dilakukan dalam keadaan tertutup. polip. kemudian spekulum dimasukkan kedalam introitus vagina dengan sedikit miring. Mass palpable at right adnexa Left adnexa and parametrium within normal limit. tumor atau ulkus. 24 . getah kanalis servikalis untuk pemeriksaan gonorea. kemudian diputar kembali menjadi melintang dalam vagina dan didorong masuk lebih dalam kearah forniks posterior sampai puncak vagina. terbelah melintang. diarahkan keporsio. Multipara konsepsi yang tertinggal No tissue palpable at external os Menandakan tidak ada sisa jaringan dari hasil Cervical motion tenderness. mudah berdarah. flour albus) dan porsio vaginalis servisis utri (bulat.No cervical erotion. sebaiknya lampu sorot yang ditempatkan dibelakang pemeriksa agak kesamping. laceration or polyp. menimbulkan rasa nyeri atau ketidaknyamanan  pada KET Lebih kecil dari usia kehamilan (8 minggu).

2 jari / 1 jari dimasukkan kedlm vagina. Pemeriksaan bimanual untuk meraba: Vulva dan perineum. lantas dua jari yang lain dimasukkan ke dalam vagina. untuk dapat mengetahui bentuk atau besar ukuran. Korpus uteri. Contoh. Serviks. yakni dengan menggunakan sarung tangan. atau 1 jari ke dlm rectum dan tangan lainnya diletakkan di dinding perut. bagian depan kemaluan dibersihkan terlebih dahulu. 25 . dan pergerakan rahim. kemudian bibir kemaluan dibuka dengan jari tangan. Prosedurnya. Tentu saja kebersihan dokter/petugas medis harus terjamin. Cara bimanual ini lebih untuk menentukan ada tidaknya kelainan lewat perabaan mengingat pemeriksaan ini tidak bisa dilakukan lagi dengan cara visual. Vagina dan dasar panggul. ada tidaknya infeksi dan apakah ada pembesaran atau tumor di bagian kanan-kiri saluran indung telur. Hasil pemeriksaan bimanual pada kehamilan: Cerviks lunak & Ukuran uterus membesar. Parametrium dan adneksum.Prosedur Pemeriksaan Bimanual: Pemeriksaan bimanual adalah pemeriksaan interna dgn kedua tangan (bimanual).

Laboratorium Hasil pemeriksaan Hb : 8 g/dl Interpretasi Menurun (Anemia sedang)  karena perdarahan Nilai normal Hb 11 gr% : Tidak anemia Hb 9-10 gr% : Anemia ringan Hb 7 – 8 gr%: Anemia sedang Leukosit : 20. 26 . menandakan kehamilan ektopik.000/mm3 Hb < 7 gr% : Anemia berat Meningkat  Adanya infeksi pada pasien Nilai normal : 6.000-10. Ultrasonografi Hasil Pemeriksaan Uterine size smaller than gestational age No gestational sack intrauterine Intepretasi Implantasi terjadi di tuba bukan di uterus Tidak ditemukan kantong gestasi pada intrauterin.3.000/mm3 ESR: 18 mm/hour Darah tepi Urine: leukosit full Meningkat  Adanya infeksi Nilai normal : 0-15 mm/hour Normal Infeksi 4.

(5) perdarahan per vaginam. Jenis konveks memiliki lapang pandang yang lebih luas. (2) penentuan adanya denyut jantung mudigah atau janin. (8) terduga kehamilan mola. Komponen yang diperiksa pada trimester pertama: − Letak kandong gestasi − Indentifikasi mudigah − Panjang kepala-bokong − Gerakan jantung janin − Jumlah janin − Evaluasi uterus dan adneksa V. seperti pengambilan jaringan vili koriales. (7) nyeri pelvik. Beberapa indikasi pemeriksaan USG pada kehamilan trimester I. Pemeriksaan USG suatu metode diagnostik dengan menggunakan gelombang ultrasonik untuk mempelajari morfologi dan fungsi suatu organ berdasarkan gambaran eko dari gelombang ultrasonik yang dipantulkan oleh organ.There was hypoechoic mass at right adnexa with diameter 25mm Fetal pulsation (+) There was minimally intraperitoneal fluid Ada masa yang memantulkan gema di daerah adneksa kanan dengan diameter 25 mm Janin sudah memiliki denyut jantung Belum terjadi abortus Ada cairan di peritoneum karena tuba sudah ruptur dan ada penembusan vili korealis dalam lapisan muskularis yuba ke peritoneum. misalnya (1) penentuan adanya kehamilan intrauterin. dan (10) membantu tindakan invasif. Diagnosis Banding 27 . (9) adanya tumor pelvik atau kelainan uterus. Sebelum dilakukan pemeriksaan dinding abdomen dilumuri jel/gel untuk lubrikasi dan menghilngkan udara di antara permukaan transduser dan dinding abdomen. (6) terduga kehamilan ektopik. pengangkatan IUD. Transducer (probe) yang digunakan untuk pemeriksaan USG-TA adalah jenis linear atau konveks. Pemeriksaan USG obstetri dapat dikerjakan melalui cara transabdominal (USG-TA) atau transvaginal (USG-TV). (4) penentuan kehamilan kembar. (3) penentuan usia kehamilan.

Penegakan Diagnosis Kehamilan ektopik yang belum terganggu a. Perut kembung (adanya cairan bebas abdomen) dan nyeri tekan e. Nyeri perut bawah yang makin hebat apabila tubuh digerakkan f.Gejala Perdarahan pervaginam Kram lower abdomen Nausea Muntah Breast tenderness Vaginal discharge with bad odor Mass adnexa Nyeri goyang Pain tenderness Kehamilan ektopik + + (continuous) + + + + + + Abortus iminens + + (intermiten) + + + - Penyakit radang panggul + + +/+/+ + + + Kista ovarium + + + + + + VI. perbesaran payudara. pelunakan serviks. Kehamilan ektopik yang terganggu Selain gejala kehamilan muda dan abortus imminens. perdarahan bercak berulang) b. Kesadaran menurun dan lemah c. Syok hipovolemik sehingga isi dan tekanan denyut nadi berkurang serta menigkatnya frekuensi nadi > 112/menit d. juga ditemui kondisi gawat darurat dan abdominal akut seperti: a. muntah. mual. dan garis tengah perut. porsio lividae. peningkatan rasa ingin berkemih. hiperpigmentasi areola. Pucat/anemis b. Tanda-tanda tidak umum dari hasil pemeriksaan bimanual pada tahapan ini adalah: − Adanya masa lunak di adneksa (hati-hati dalam melakukan pemeriksaan karena dapat terjadi ruptur atau salah duga dengan ovarium atau kista kecil) − Nyeri goyang porsio. Ditemukan gejala-gejala kehamilan muda atau abortus imminens (terlambat haid. Nyeri goyang porsio 28 .

Tanda-tanda akut abdomen: nyeri tekan hebat. d. mutah. anemia? f. Adanya massa tumor di daerah adneksa. tanda-tanda anemia b. mual. Kavum uteri sering berisi cairan eksudat yang diproduksi oleh sel-sel desidua. yang pada pemeriksaan terlihat sebagai struktur cincin anekoik yang disebut kantong gestasi palsu. HR dan RR dapat meningkat bila terjadi perdarahan. tensi rendah. Pervaginam keluar desidual cast? c. Anamnesis a. bila perdarahan hebat dapat terjadi syok. nadi kecil dan halus. Nyeri bahu: karena perangsangan diafragma 2. Pemeriksaan Umum  TD menurun. Perasaan nyeri dan sakit yang tiba-tiba di perut seperti di iris-iris dengan pisau bahkan sampai pingsan? e. Pada KET: − Abortus tuba  gejala tidak begitu berat hanya rasa sakit di perut dan perdarahan pervaginam? − Ruptur tuba  gejala akan lebih hebat dan membahayakan ibu? d.1. Pemeriksaan ginekologik : − Nyeri ayun porsio − Kavum Dauglasi menonjol dan nyeri pada perabaan oleh karena terisi darah. Pemeriksaan fisik a. c. yang gambarannya sangat bervariasi. Adanya tanda-tanda kehamilan? b. Pemeriksaan penunjang 29 . 3.

dan di sekitarnya didapati cairan bebas (gambaran darah intraabdominal) 30 . Jumlah leukosit yang melebihi 20.a. − Gambaran uterus yang tidak ada kantong gestasi. dan ligament latum. tuba. abortus). b.000 biasanya menunjuk pada keadaan terakhir. Pemeriksaan laboratorium − Hb. ada tidaknya gangguan kehamilan (rupture. kavum douglasi. ovarium. dan Ht di periksa setiap 1 jam selama 3 kali berturut-turut (terutama bila ada tanda-tanda perdarahan intraabdomen) − Lekositosis meningkat pada perhitngan leukosit secara berturut  menunjukkan adanya perdarahan. Dengan cara diagnostik laparoskopi Untuk menilai alat kandungan bagian dalam (keadaan uterus. tapi didapatkan bagunan massa hiperekoik yang tidak beraturan. Kuldosentesis (Douglass Pungsi): − Untuk mengetahui adakah darah dalam kavum Douglasi − Bila keluar darah merah tua berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku atau hanya bekuan kecil maka ini dikatakan positif (fibrinasi) dan menunjukkan adanya hematoma retrourina − Bila darah segar berwarna merah dan beberapa menit membeku maka hasilnya negatif karena darah berasal dari arteri atau vena yang tertusuk c. serta banyak dan lamanya perdarahan intraabdomen. jumlah SDM. Dengan cara ultrasonografi Sangat bervariasi tergantung pada usia kehamilan. − Bila sudah terganggu (rupture)  bagunan kantong gestasi sudah tidak jelas. d. − Kantong gestasi yang berisi mudigah terdapat di luar uterus. tidak berbatas tegas.

VII. Diagnosis Kerja Kehamilan Ektopik Terganggu Definisi Suatu kehamilan disebut kehamilan ektopik bila zigot atau hasil konsepsi terimplantasi di lokasi-lokasi selain kavum uteri. Lokasi yang umum untuk terjadinya suatu kehamilan ektopik yaitu : ampulla tuba falopii (95%). tuba. Hal ini terutama terjadi kalau hasil konsepsi berimplantasi di daerah ampula tuba. bahkan rongga abdomen. ovarium (sekitar 1%). daerah cornual (diantara otot uterus) (2. Abortus Tuba Terjadi karena hasil konsepsi bertambah besar menembus endosalping (selaput lendir tuba). Di sini biasanya hasil konsepsi tertanam kolumner karena lipatan-lipatan selaput lendir tinggi dan banyak. serviks. Kehamilan ektopik disebut juga ectopic pregnancy. rongga tuba agak besar sehingga hasil konsepsi mudah tumbuh ke arah rongga tuba dan lebih mudah menembus desidua kapsularis yang tipis dari lapisan 31 . abdomen (1-2%). ectopic gestation dan eccecyesis. masuk ke lumen tuba dan dikeluarkan ke arah infundibulum.5%). seperti di ovarium. atau servik (kurang dari 1%). Lagipula disini. Istilah kehamilan ektopik terganggu (KET) merujuk pada keadaan di mana timbul gangguan pada kehamilan tersebut sehingga terjadi abortus maupun ruptur yang menyebabkan penurunan keadaan umum pasien.

32 . Ruptura Tuba Hasil konsepsi menembus lapisan otot tuba ke arah kavum peritoneum. jadi besar kemungkinan implantasi interkolumner. Hal ini terutama terjadi kalau implantasi hasil konsepsi dalam isthmus tuba. Pada peristiwa ini. Abortus terjadi kira-kira antara minggu ke 6-12. Ruptur pada isthmus tuba terjadi sebelum minggu ke-12 karena dinding tuba disini tipis. Pembentukan “tubal blood mole”. 4. Absorbsi lengkap secara spontan. hasil konsepsi menembus dinding tuba ke arah rongga perut atau peritoneum. yang disebut hematosalping. Trofoblas cepat sampai ke lapisan otot tuba dan kemungkinan pertumbuhan ke arah rongga tuba kecil karena rongga tuba sempit. Absorbsi lengkap secara spontan melalui ostium tubae menunju cavum peritoneum. Terjadi pada 65% kasus. tetapi ruptur pada pars interstisialis terjadi lambat kadang-kadang baru pada bulan ke-4 karena disini otot tebal. Oleh karena itu. Peradarahan yang timbul karena abortus keluar dari ujung tuba dan mengisi kavum douglasi.otot tuba. Perjalanan selanjutnya adalah: 1. 3. lipatanlipatan selaput lendir tidak seberapa. Abosrbsi sebagian sehingga terdapat konsepsi yang terbungkus bekuan darah yang menyebabkan distensi tuba. terjadilah hematokel retrouterin. Ada kalanya ujung tuba tertutup karena perlekatan-perlekatan hingga darah terkumpul di dalam tuba dan mengembungkan tuba. 2.

5. Gejala kehamilan ektopik terganggu yang dini tidak jelas. ruptura dapat terjadi pada usia kehamilan yang lebih “tua” dan menyebabkan perdarahan yang jauh lebih banyak. seluruh telur dapat melalui robekan dan masuk ke dalam kavum peritoneum. Bila hanya janin yang melalui robekan dan plasenta tetap melekat pada dasarnya. 3. misalnya karena periksa dalam. 2. Bila ruptur terjadi pada sisi mesenterik tuba maka dapat terjadi hematoma ligamentum latum. Pada keadaan ini trofoblast menembus lebih dalam dan seringkali merusak lapisan serosa tuba. koitus.Ruptur bisa terjadi spontan ataupun karena trauma. 4. Di rumah sakit Dr. Sebagian besar wanita yang mengalami 33 . Pada kehamilan ektopik pars interstitisialis. namun ruptura pada pars isthmica dapat berlangsung pada usia kehamilan yang lebih awal. ruptura dapat berlangsung secara akut atau gradual. Tidak semua kehamilan ektopik berakhir dengan abortus dalam tuba atau ruptur tuba. Perjalanan lebih lanjut dari ruptura tuba: 1. sehingga sulit terdiagnosa. hasil konsepsi yang keluar dari tuba itu sudah mati. atau 1 di antara 26 persalinan. Terjadi pada 35% kasus dan seringkali terjadi pada kasus kehamilan ektopik dengan implantasi didaerah isthmus.Cipto Mangunkusomo pada tahun 1987 terdapat 153 kehamilan ektopik diantara 4007 persalinan. Ruptura pars ampularis umumnya terjadi pada kehamilan 6 – 10 minggu . Pada ruptur tuba. Epidemiologi Frekuensi kehamilan ektopik yang sebenarnya sukar ditentukan. kehamilan dapat berlangsung terus dan berkembang sebagai kehamilan abdominal. defekasi.

kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Setiap gangguan transportasi hasil konsepsi mengakibatkan implantasi pada tuba falopii yang merupakan penyebab utama kehamilan ektopik. Kehamilan ektopik merupakan penyebab tersering kematian ibu hamil pada trimester pertama kehamilan. tetapi sebagian besar penyebabnya tidak diketahui. − Bakteri khusus yang menyebabkan gangguan tuba falopii adalah Chlamydia trachomatis yang menimbulkan penyempitan lumen tuba. dan dalam perjalanan ke uterus teluryang telah dibuahi mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masih di tuba atau nidasinya di tuba dipermudah. Terdapat desakan dari luar tuba − Kista ovarium atau mioma subserosa sehingga pada bagian tertentu. sebagian besar kehamilan ektopik terjadi pada tuba falopii. lumen tuba falopii menyempit. Frekuensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan antara 0-14. akibatnya hasil konsepsi tidak dapat lewat sehingga tumbuh dan berkembang setempat. − Infeksi asenden akibat pemakaian IUD. antara lain: 1. yaitu sekitar 10% dari angka kematian maternal. Operasi pada tuba falopii 34 . 3. insiden kehamilan ektopik pada tahun 1992 yaitu 19. khususnya tuba falopii − Infeksi Sexual Transmitted Disease (STD) akibat makin bebasnya hubungan seksual pranikah. Di Amerika Serikat. 2. − Endometriosis. menimbulkan perlekatan dengan sekitarnya sehingga terjadi penyempitan lumen tuba falopi. Seperti diketahui.7 tiap 1000 persalinan. Etiologi Etiologi kehamilan ektopik telah banyak diselidiki. Infeksi alat genitalia interna. Tiap kehamilan dimulai dengan pembuahan telur di bagian ampulla tuba.6%.

Chlamydia dan Gonorrhea adalah kuman yang mampu tumbuh dalam 35 . falopii bilateral yang diikuti dengan kehamilan yang tidak diharapkan akibat kegagalan ligasi atau adanya rekontruksi kembali pada tuba khususnya apabila dilakukan pada wanita usia di bawah 30 tahun. jika ada riwayat operasi dalam rongga panggul. 5. maka dapat meningkatkan resiko terjadinya kehamilan ektopik. seperti miomektomi. Kelainan kogenital alat reproduksi interna − Tuba falopii memanjang sehingga dalam perjalanan blastula terpaksa melakukan implantasi dan menimbulkan kehamilan ektopik. Kelambatan implantasi Keterlambatan implantasi hasil konsepsi menyebabkan implantasi terjadi di bagian bawah kavum uteri dalam bentuk plasenta previa dan kehamilan servikalis. Jika ligasi tuba lipat untuk mengalami kehamilan ektopik kembali.− Operasi rekontruksi tuba falopii. 6. − Rekanalisasi spontan dari sterilisasi tuba. Faktor Risiko 1. tetapi lumennya tidak selebar semula sehingga hasil konsepsi tersangkut dan tumbuh kembang di dalamnya. 3. Pelvic Inflammatory Disease (PID) dapat merusak tuba falopii. Riwayat infeksi pelvis. Terjadi migrasi intraperitonel spermatozoa atau ovum − Terjadi kehamilan ektopik pada uterus rudimenter. maka akan memiliki risiko 10 kali Riwayat operasi tuba atau operasi dalam rongga panggul. − Terdapat divertikulum dalam tuba falopii sehingga hasil konsepsi dapat melakukan implantasi dan menimbulkan kehamilan ektopik. 2. Akibatnya. − Terjadi kehamilan pada ovarium. Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya. Begitu pula. 4. hasil konsepsi tersangkut dan terjadi kehamilan ektopik. dengan pembukaan lumen yang tidak sempurna dan terjadi penyempitan.

selama AKDR terpasang dengan benar. Inflamasi pada struktur tuba dapat mengakibatkan adhesi akibat jaringan parut. cukup protektif mencegah kehamilan ektopik. Selain itu. Riwayat menggunakan AKDR. Pergerakan otot-otot pada tuba falopii di pengaruhi oleh aktivitas mioelektrik. Sehingga AKDR yang mengandung progesteron dapat meningkatkan implantasi pada tuba karena hasil konsepsi tidak dapat mencapai cavum uterus. yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan halnya di kavum uteri. 4. Estrogen dapat meningkatkan aktivitas tonus sebaliknya progesteron menurunkan aktivitas tonus otot-otot pada tuba falopii. Penggunaan AKDR adalah salah satu faktor risiko untuk terjadinya kehamilan ektopik. sehingga resiko terjadinya kehamilan ektopik meningkat. Patologi Proses implantasi ovum yang dibuahi. kecuali AKDR yang mengandung progesteron. Keseimbangan estrogen dan progeteron adalah faktor utama yang mempengaruhi aktivitas mioelektrik. Namun suatu studi kasus melaporkan bahwa lebih dari 327 wanita yang terpapar DES lebih dari 2 kali akan mengalami abnormalitas pada cavum abnormal. Kerusakan kavum uterus akan membatasi kemampuan hasil konsepsi untuk berimplantasi. Hal ini menyebabkan wanita wanita tersebut 13% lebih rentan mengalami kehamilan ektopik dibandingkan wanita dengan uterus normal. 5. mekanisme ini belum jelas. Riwayat uterus terpapar DES (diethylstilbestrol) misalnya pada pengobatan endometriosis dapat menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik. Ovum yang telah dibuahi di tuba bernidasi secara kolumner atau interkolumner. aglutinasi lipatan mukosa tuba dan adhesi perituba akibat pembentukan jaringan parut. Riwayat inflamasi pelvis (akibat endometriosis. AKDR progestasert melepaskan sekitar 65 ng progesteron tiap hari. Pada yang pertama hasil konsepsi berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. penggunaan AKDR juga dapat dikaitkan dengan kejadian infeksi dalam kavum uteri dan tuba falopi. Perkembangan hasil konsepsi selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya hasil konsepsi mati secara dini dan kemudian 36 . Sebenarnya. benda asing). aktivitas mioelektrik ini menyebabkan gerakan zigot menuju cavum uterus.tuba falopii dan mengakibatkan kerusakan berat pada endosalping. 6. semua AKDR. Penggunaan AKDR jenis ini dapat meningkatkan risiko 2 kali lipat untuk terjadinya kehamilan ektopik.

Mengenai nasib kehamilan dalam tuba terdapat beberapa kemungkinan. Namun pada kondisi-kondisi tertentu. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10 minggu. Patogenesis 1. endometrium dapat berubah pula menjadi desidua. Karena pembentukan desidua di tuba tidak sempurna. dengan mudah vili korialis menembus endosalping dan masuk ke dalam lapisan otot-otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. dan kadang-kadang ditemukan mitosis. Sebab-sebab perdarahan bukan haid: − Sebab-sebab organic 37 . Perdarahan yang dijumpai pada kehamilan ektopik terganggu berasal dari uterus dan disebabkan oleh pelepasan desidua degeneratif. Setelah janin mati. Sitoplasma sel dapat berlubang-lubang. hiperkromatik. perdarahan ini menjadi tanda suatu patologis. tidak mungkin janin bertumbuh secara utuh seperti dalam uterus. khususnya kehamilan. desidua dalam uterus mengalami degenerasi dan kemudian dikeluarkan berkeping-keping. Berakhirnya kehamilan tuba ada 2 cara. Setelah tempat nidasi tertutup. Dapat pula ditemukan perubahan pada endometrium yang disebut fenomena Arias-Stella. Perdarahan pervaginam Kehamilan ektopik  terjadi ruptur  perdarahan per vaginam Perdarahan pervaginam pada seorang wanita adalah suatu yang fisiologis (disebut menstruasi atau haid).direabsorbsi. Pada nidasi secara interkolumner hasil konsepsi bernidasi antar 2 jonjot endosalping. maka hasil konsepsi dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan dinamakan pseudokapsularis. Karena tuba bukan tempat untuk pertumbuhan hasil konsepsi. uterus menjadi besar dan lembek. dimana sel epitel membesar dengan intinya hipertrofik. yaitu abortus tuba dan ruptur tuba. tetapi kadangkadang dikeluarkan secara utuh. lobuler dan berbentuk tak teratur. Di bawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron dari korpus luteum graviditatum dan trofoblas.

abortus imminens. tumor ovarium. abortussedang berlangsung. kariokarsinoma. erosion porsionis uteri. subinvolusio uteri. radang tuba. (tereksklusi oleh pemeriksaan BP pasien yg normal) ∗ Persisten korpus luteum : menyebabkan pelepasan endometrium yang tidak regular (irregular bleeding) Pada kasus ini Ny. Akibatnya. karsinoma servisisi uteri Korpus uteri : Polip endometrium. abortus inkompletus mola hidatidosa. − − − − 2. ulkus pada porsio uteri. karsinoma korporis uteri. mioma uteri ∗ ∗ − ∗ Tuba fallopii : KET. Perdarahan pada kehamilan muda bisa disebabkan oleh: − Abortus: Ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan pada saat kehamilan < 20 minggu atau berat janin < 500 gram. tumor tuba. Sebab-sebab fungsional Metropatia hemoragika : perdarahan karena persistensi folikel yang tidak pecah sehingga tidak terjadi ovulasi dan pembentukan korpus luteum. Misscarriage Early pregnancy loss Kehamilan ektopik terganggu Mola hydatidosa Kram abdomen 38 . sarcoma uteri. terjadilah hyperplasia endometrium karena stimulasi estrogen yang berlebihan dan terus-menerus. ∗ ∗ Insufisiensi korpus luteum : kurangnya produksi progesterone akibat gangguan LH releasing factor Apopleksia uteri : pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya pembuluh darah dalam uterus.∗ ∗ Serviks : Polipus servisiso uteri. Ovarium : radang ovarium.Oneng sedang dalam keadaan hamil muda.

namun kemungkinan kehamilan lebih berperan dalam menimbulkan amenorea ini). 3. − Gangguan asupan oksigen ke rahim sehingga aliran darah pun menjadi tidak lancar. 3. tidak menstruasi ini belum bisa dikategorikan sebagai amenorea (karena syarat amenorea adalah tidak haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut) namun lebih ke oligomenorea. ectopic pregnancy. dll). Pasien dalam kondisi infeksi dengan terjadinya perdarahan pervaginam oleh sebab-sebab organic (diperkuat oleh leukositositosis dan limfositosis. lanjut) Pasien dalam pemakaian obat-obat tertentu (amenorea iatrogenik) dengan terjadinya perdarahan oleh sebab-sebab organic (perlu anamnesis lebih 39 . − Kekurangan Ca  diatas umur sekitar 20 tahun biasanya kadar kalsium dalam tubuh kita jadi berkurang. Penjelasan yang mungkin pada pasien adalah: 1. Mekanisme Abdominal cramping: terjadi inflamsi dibawah abdomen  abdominal cramping. Tidak menstruasi selama 8 minggu Pada kasus. abortus. Kondisi kram perut yang timbul dengan disertai perdarahan pervaginam pada kehamilan merupakan tanda warning dari kemungkinan adanya berbagai macam gangguan pada kehamilan (solusio plasenta. Kemungkinan karena adanya pertumbuhan dan pembesaran dari rahim dimana otot dan ligament merenggang untuk menyokong rahim. 2. Pasien dalam masa kehamilan dengan terjadinya perdarahan pervaginam oleh sebab-sebab organic.Etiologi − Reaksi fisiologis dari rahim secara periodic karena rahim sedang berisi (sejak trimester kedua kehamilan). − Asupan gizi ibu hamil yang kurang bagus.

kondisi ini juga tidak dapat dikategorikan sebagai tanda pasti kehamilan karena berbagai penyebab metabolik lain dapat pula menimbulkan gejala yang serupa. Walaupun demikian.Mekanisme: Adanya Kehamilan → dinding dalam uterus (endometrium) tidak luruh → amenore → tidak menstruasi selama 8 minggu. menekan lambung (mencetuskan Relaksasi relatif pada otot saluran pencernaan (yang menyebabkan pertama. payudara. Perubahan fisik tersebut antara lain: − − − Peningkatan hormon HCG dan estrogen dalam darah pada trimester Peregangan pada otot uterus. − Hal lain yang terkait dengan perubahan hormonal dan dikaitkan dengan tanda kehamilan adalah rasa mual dan muntah yang berlebihan atau hiperemesis. − Chorionic somatotropin dan kedua hormon ini menyebabkan pembesaran payudara yang disertai dengan rasa penuh atau tegang dan sensitif terhadap sentuhan (dalam dua bulan pertama kehamilan). Perubahan fisik selama kehamilan dipercaya menyebabkan overstimulasi pada kontrol neurologis mual dan muntah yang berada di batang otak. bokong dan paha. Vomiting. pembesaran puting susu dan pengeluaran kolostrum (mulai terlihat atau dapat diekspresikan sejak kehamilan memasuki usia 12 minggu). Nausea. − Walaupun tidak diketahui secara pasti tetapi pigmentasi kulit terjadi akibat efek stimulasi melanosit yang dipicu oleh peningkatan hormon estrogen dan progesteron. perasaan penuh) dan usus (yang menyebabkan pencernaan kurang efisien) pencernaan kurang efisien) 40 . Bagian kulit yang paling sering mengalami hiperpigmentasi adalah puting susu dan areola disekitarnya serta umumnya pada linea mediana abdomen. Hiperemesis pada kehamilan digolongkan normal apabila terjadinya tidak lebih dari trimester pertama. pigmentasi kulit dan pembesaran uterus. Nyeri tekan payudara − Konsentrasi tinggi estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh plasenta menimbulkan perubahan pada payudara (tegang dan membesar). 4.

seringkali kental dan berbau. disini secret dengan epitel dan leukosit yang jarang.− Peningkatan asam lambung yang disebabkan lambung kosong atau makan makanan yang salah. serta meningkatkan produksi zat-zat kasein. Radang vulva. Leukorea fisiologik terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa mucus S Hiperplasia sistem banyak leukosit. P hC ↑ G Estrogen ↑ 5. Breast Tenderness − Akibat pengaruh estrogen terjadi hiperplasia sistem duktus dan jaringan interstisial payudara. sel-sel lemak. duktus Penyebab paling banyak dari leukorea patologik adalah infeksi. − Hormon laktogenik plasenta (diantaranya somatomammotropin) menyebabkan hipertrofi dan pertambahan sel-sel asinus payudara. laktoalbumin. laktoglobulin. terutama daerah areola dan papilla akibat pengaruh melanofor. − Terjadi hiperpigmentasi kulit serta hipertrofi kelenjar Montgomery. vagina. sedangkan pada leukorea patologik terdapat vagina mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau. serviks dan cavum uteri dapat menyebabkan leukorea patologik. Vaginal discharge with bad odor Secret vagina berupa leukorea merupakan cairan yang dikeluarkan alat genital yang tidak berupa darah. Dapat dibedakan antara leukorea fisiologik dan yang patologik. Nipple m ene 41 . kolostrum. Leukorea juga dapat ditemukan pada Hip jar.

yaitu: 1. yang merupakan faktor predisposisi terjadinya kehamilan ektopik. Tanda yang harus ada pada penyakit radang panggul. WBC Kultur N gonorrhea atau Chlamidia trachomatis (+) 2. Oneng sudah mengeluarkan secret vagina yang berbau selama 6 bulan. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit radang panggul antara lain: 1. CRP. Multisexual-partner (sexual transmitted disease) Usia <25 tahun Penggunaan AKDR 42 . salpingitis kronis dan salpingitis ismika nodosa dapat menyebabkan kerusakan tuba. Pada kasus. Inflamasi akut.neoplasma jinak atau ganas apabila tumor tersebut memasuki lumen saluran alat genitalia. Ny. 4. Adanya nyeri tekan pada lower abdomen Nyeri tekan pada adnexa Nyeri goyang serviks Criteria tambahan lain yaitu: 1. Penyebab terbanyak penyakit radang panggul yaitu infeksi oleh gonorrhea dan chlamidia. 2. 2.3oC Abdominal cervical/ vaginal discharge Peningkatan LED. 3. Ini berarti infeksi yang dialaminya sudah berlangsung kronik. 3. 3. Temperature > 38.

derajat perdarahan yang terjadi dan keadaan umum penderita sebelum hamil. Perdarahan pervaginam merupakan tanda penting kedua pada kehamilan ektopik terganggu. dari perdarahan yang banyak yang tiba-tiba dalam rongga perut sampai terdapatnya gejala yang tidak jelas sehingga sukar membuat diagnosanya. Hal ini menunjukkan kematian janin. tuanya kehamilan. dari yang klasik dengan gejala perdarahan mendadak dalam rongga perut dan ditandai oleh abdomen akut sampai gejala-gejala yang samar-samar sehingga sulit untuk membuat diagnosanya. abortus atau ruptur tuba. Kehamilan ektopik terganggu sangat bervariasi.Manifestasi klinis Gejala dan tanda kehamilan ektopik terganggu sangat berbeda-beda. 43 . Gejala dan tanda tergantung pada lamanya kehamilan ektopik terganggu.

berikan autotransfusion berikut ini: ∗ Pastikan darah yang dihisap dari rongga abdomen telah melalui alat penghisap dan wadah penampung yang steril.Penatalaksanaan Penanganan umum: − Ingat: kehamilan muda yang disertai gejala-gejala yang tidak umum pada daerah abdomen. − Perdarahan yang terjadi dapat mencapai jumlah yang sangat banyak sehingga diperlukan penyediaan darah pengganti. − Ketersediaan darah pengganti bukan menjadi syarat untuk melakukan tindakan operatif karena sumber perdarahan harus segera dihentikan. 44 . − Kehamilan ektopik (belum atau sudah terganggu) memerlukan penanganan segera di fasilitas kesehatan yang mempunyai sarana lengkap. Penanganan: − Setelah diagnosis ditegakkan. − Bila darah pengganti belum tersedia. − Jenis tindakan pada tempat implantasi tergantung dari upaya penyelamatan jiwa dan konservasi reproduksi. hendaknya dipikirkan kehamilan ektopik sebagai salah satu diagnosis banding. − Upaya stabilisasi dilakukan dengan merestorasi cairan tubuh dengan larutan kristaloid NS atau RL (500ml dalam 15 menit pertama) atau 2L dalam 2 jam pertama (termasuk selama tindakan berlangsung). segera dilakukan persiapan untuk tindakan operatif gawat darurat. − Upayakan untuk dapat menegakkan diagnosis karena gejala hamil ektopik sangat variatif berkaitan dengan tahap perkembangan penyakit.

∗ Ampicilin 2gr I. Apabila kantung darah tidak tersedia. Bisa terjadi rekurensi − Mengingat kehamilan ektopik berkaitan dengan gangguan fungsi transportasi tuba yang disebabkan oleh proses infeksi maka sebaiknya pasien diberi antibiotik kombinasi atau spektrum luas.5 Gr/Oral500 Mg 4xsehari Selama 7-10 Hari Probenecid 1 Gr/Hari : Baik Pada Alternatif I Dan II Doksisiklin 100 Mg 2 X Sehari Selama 10 Hari Catatan : Pasangan Dalam Hal Ini Juga Ikut Diobati. ∗ Salpiongostomi.V Kemudian Dilanjutkan 1gr Setiap 6 Jam + Gentamisin 5mg/Kgbb I. masukkan dalam botol bekas infus (yang baru terpakai dan bersih) dengan diberikan larutan sodium sitrat 10 ml setiap 90 ml darah. − Tindakan pada tuba dapat berupa: ∗ Parsial salpingektomi yaitu mengeksisi bagian tuba yang mengandung konsepsi. ∗ Transfusikan darah melalui selang transfusi yang mempunyai saringan pada bagian tabung tetesan.∗ Saring darah yang tertampung dengan kain steril dan masukkan ke dalam kantung darah (blood bag).V Dosis Tunggal/Hari Dan Metronidazol 500 Mg I. ∗ ∗ ∗ − Untuk kendali nyeri pasca tindakan dapat diberikan: ∗ ∗ ∗ Ketoprofen 100mg supositoria Tramadol 200mg IV Pethidin 50mg IV (siapkan antidotum terhadap reaksi hipersensitivitas) 45 . Lanjutkan Sampai Tidak Panas Selama 24 Jam Pilihan Lain : ∗ Ampicilin 3.V Setiap 8 Jam.

Anemia 3. Kehamilan ektopik berulang 2. Syok 46 .− Atasi anemia dengan tablet besi (SF) 600 mg per hari − Konseling pasca tindakan: ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Kelanjutan fungsi reproduksi Resiko hamil ektopik ulangan Kontrasepsi yang sesuai Asuhan mandiri selama di rumah Jadwal kunjungan ulang Penanganan di tingkat puskesmas: − Kehamilan ektopik belum terganggu ∗ ∗ Diagnosis Segera rujuk − Kehamilan ektopik terganggu ∗ ∗ ∗ Diagnosis Stabilisasi kondisi pasien Segera rujuk Prognosis: dubia ad bonam apabila penatalaksanaan adekuat Komplikasi 1.

Hal.4. M. Arif M. Jakarta: 2006 Anthonius Budi. Jilid 1. Sinopsis Obstetri. MPH. Jakarta 2001.226-235. Kematian Kompetensi Dokter Umum: 2 VII. EGC. dkk. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2009. Jakarta: PT Bina Pustaka Prawirohardjo. Sarwono. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. DAFTAR PUSTAKA: Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29 Buku Acuan Nasional: Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Ilmu Kebidanan Bab 1 Fisiologi.Palembang: FK Unsri Obstetri Williams Edisi 21. Kapita Selekta Kedokteran. 47 . Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2001. Sarwono. Rustam. 267-271 Prof. Hal. Jakarta: 2009 Prawirohardjo. Ilmu Kebidanan. Ilmu Kandungan. 2009. Media Aesculapius. 2008. M.1985. Jakarta: PT Bina Pustaka Supono. 2008. Kehamilan Ektopik.PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. Dr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful