Anda di halaman 1dari 24

KEBUTUHAN AKTIVITAS DAN LATIHAN

I. KONSEP KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


A. Definsi
Aktivitas adalah keadaan bergerak dimana manusia memerlukannya
untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemampuan seseorang untuk
melakukan suatu aktivitas seperti berdiri, berjalan dan bekerja merupakan
salah satu dari tanda kesehatan individu tersebut dimana kemampuan
aktivitas seseorang tidak terlepas dari keadekuatan sistem persarafan dan
muskuloskeletal (Rohayati, 2019).
Mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara
bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan guna
mempertahankan kesehatannya. Kehilangan kemampuan untuk bergerak
menyebabkan ketergantungan dan ini membutuhkan tindakan keperawatan.
Mobilisasi diperlukan untuk meningkatkan kemandirian diri, meningkatkan
kesehatan dan memperlambat proses penyakit, khususnya proses degeneratif
dan untuk aktualisasi diri (harga diri dan citra tubuh) (Rohayati, 2019).
B. Jenis Aktivitas (Mobilitas)
1. Mobilitas aktif merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara
penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan
menjalankan peran sehari-hari.
2. Mobilitas Pasif merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik
dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan
(Kasiati & Rosmalawati, 2016).
C. Manfaat Aktivitas Dan Latihan
Manfaat dari aktivitas fisik dan latihan (Kasiati & Rosmalawati, 2016)
1. Manajemen berat badan
2. Mencegah keterbatasan fungsional
3. Menjaga kesehatan otak
4. Peningkatan fungsi kognitif
5. Meningkatkan kualitas hidup
6. Mencegah kecemasan
7. Mencegah depresi
8. Kualitas tidur
9. Mengurngi resiko kanker
D. Mekanika Tubuh
Mekanika tubuh (body mechanic) adalah penggunaan organ secara
efisien dan efektif sesuai dengan fungsinya. Pergerakan merupakan
rangkaian aktivitas yang terintegrasi antara system musculoskeletal dan
system persarafan didalam tubuh. Komponen system musculoskeletal
melibatkan tulang, otot, tendon, ligamen, kartilago, dan sendi (Kasiati &
Rosmalawati, 2016).
Tulang merupakan jaringan dinamis, salah satu fungsinya menunjang
jaringan tubuh dan membantu pergerakan. Sedang otot berfungsi untuk
kontraksi dan membantu menghasilkan gerakan, mempertahankan postur
tubuh, dan menghasilkan panas. Otot dipersarafi oleh saraf yang terdiri atas
serabut motoris dari medulla spinal. Medula otak seperti korteks cerebri
kanan mengatur otot-otot anggota gerak kiri dan sebaliknya(Kasiati &
Rosmalawati, 2016).
E. Pengaturan Gerakan
Koordinasi gerakan tubuh bagian dari fungsi yang terintegrasi dari
sistem skeletal, otot skelet dan sistem safaf (Wahyuningsih & Kusmiyati,
2017).
1. Sistem skeletal
Skeletal adalah rangka pendukung tubuh terdiri dari 4 tipe tulang:
a. Tulang penjang
Membentuk tinggi tubuh ( femur, fibula, tibia pada kaki) dan panjang
(misalnya tulang pada jari tangan dan jari kaki).
b. Tulang pendek
Ada dalam bentuk dalam berkelompok dan ketika di kombinasikan
dengan ligamen dan kartilago, akan menghasilkan gerakan pasa
ekstremitas. contoh : tulang karpal di kaki dan tulang di lutut
c. Tulang pipi

3
Mendukung struktur bentuk, seperti tulang di tengkorak dan tulang
di rusukv, seperti mandibula .
d. Tulang ireguler
Membentuk kolumna vertebra dan bebrapa tulang
tengkorak,seperti mandibula.
2. Karakteristik tulang.
Meliputi: kekokohan, kekakuan, dan elastisistas. Kekokohan tulang,
merupakan hasil dari adanya garam anor—ganik seperti kalsium dan
fosfat, yang tersebar dalam matrik tulang. Kekokohan berhubungan
dengan kekakuan tulang, yang penting untuk mempertahankan tulang
panjang tetap lurus, dan membuat tulang dapat menyangga berat badan
sendiri.Selain itu, tulang mempunyai tingkat elastisitas dan fleksibilitas
skelet yang dapat berubah sesuai dengan usia. Misalnya: bayi baru lahir
tidak mampu menopang berat badan.
3. Sendi
Sendi adalah hubungan diantara tulang.setiap sendi diklasifikasikan
sesuai dengan struktur dengan tingkat mobilisasinya. Sendi kartilago,
gonus, fibrosa, dan sinovial.
a. Sendi senostatik
Mengacu pada ikatan tulang dengan tulang.Tidak ada pergerakan
pada sendi ini dan jaringan tulang yang dibentuk diantara tulang
mendukung kekuatan dan stabilitas.Contoh klasik tipe sendi ini adalah
sakrum,pada sendi vertebra.
b. Sendi kartilagus atau sendi sinkondrodial
Memiliki sedikit pergerakan, tetapi elastis dan menggunakan
kartilago untuk menyatukan permukaannya. Sendi kartilago dapat
ditemukan ketika tulang mengalami penekanan yang konstan, seperti
sendi, kost-osternal antara sternum dan iga.

c. Sendi fibrosa atau sendi sisdosmodia

4
Adalah sendi tempat kedua permukaan tulang disatukan dengan
ligamen atau membran.serat atau legamennya fleksibel dan dapat
diregangkan,dapat bergerak dengan jumlah terbatas. Misalnya,
sepasang tulang pada kaki bawah (tibia ,dan fibula) adalah sendi
sindesmotik.
d. Sendi sinoval
Atau sendi yang sebenarnya adalah sendi yang dapat digerakkan
secara bebas karena permukaan tulang yang berdekatan dilapisi
dengan kartilago artikular dan dihubungkan oleh ligamen sejajar
dengan membran sinovial. Humerus, radius, dan ulna dihubungkan
oleh kartilago dan ligamen membentuk sendi poutar. Tipe lain, sendi
sinovial adalah sendi ball-and-socket seperti sendi pinggul dan sendi
hinge seperti sendi interfalang pada jari.
4. Ligamen
Ligamen adalah ikatan jaringan fibrosa berwarna putih, mengkilat,
fleksibel mengikat sendi menjadi satu dan menghubungkan tulang
dengan kartilago. Ligamen bersifat elastis sehingga membantu
fleksibilatas sendi dan mendukung sendi, selain itu beberapa ; ligamen
memiliki fungsi prortektif. Misalnya ligamen antar vetebrata, ligamen
nonelastis, dan ligamentum flafum mencegah kerusakan medula spinalis
(tulang belakang) saat punggung bergerak.
5. Tendon
Tendo adalah jaringan ikat fibrosa berwarna putih,mengkilat,yang
menghubungkan otot dan tulang. Tendon bersifat kuat, fleksibe, dan
tidak elastis serta mempunyai panjang dan kekebaan yang berfariasi.
Tendon achiles (tendon kalkanius) adalah tendon yang paling k-uat dan
paling tebal didalam tubuh.permulaan tendon ini berada dipertahankan
posterior kaki dan mengikat otot gastroknemius dan soleus ditulang
kalkaneus pada kaki bagian belakang.

6. Kartilago

5
Kartilago adalah jaringan penyambung yang tidak mempunyai
vaskuler, yang terletak terutama di sendi dan toraks, trakea, laring,
hidung, dan telinga.
7. Otot skelet
Gerakan tulang dan sendi merupakan proses aktif yang harus
terintegrasi secara hati-hati untuk mencapai koordinasi. Otot skelet,
karna kemampuannya untuk berkontraksi, merupakan elemen kerja dari
pergerakan. Elemen kontraksi otot skelet di capai oleh struktur anatomis
dan ikatannya pada seklet.
Kontraksi otot dirangsang oleh implus elektrokimia yang berjalan
pada saraf ke otot, melalui sambungan meuneorial. Implus elektrokimia
menyebabkan aktin tipis yang mengandung filamen menjadi
memendek,kemudian otot berkontraksi,adanya stimulus menghasilkan
otot relaksasi.
Ada dua tipe kontraksi otot :
a. Isotonik
b. Isometrik
Pada kontraksi isotonik,peningkatan tekanan otot, mengakibatkan
otot memendek. Kontraksi isometik menyebabkan peningkatan tekanan
otot atau kerja otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari
otot, misalnya menganjurkan klien latihan kuedrisep. Gerakan volunter
adalah kombinasi dari isotonik dan isometrik, misalnya ketika perawat
mengangkat klien di atas tempat tidur, berat klien menyebabkan
peningkatan tekanan otot di lengan perawat sampai tegangan tersebut
sama (isometrik) dengan beban diangkat dan beban lengan bawah. Ketika
keseimbangan di capai stimulasi berlanjut sehoingga otot memendek
(isoonik) dan menekuk siku (gerakan aktif),dan kemudian klien
terangkat dari tempat tidur.
Meskipun kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot memendek
tetapi pemakaian energi meningkat. Tipe kerja otot ini dapat
dibandingkan dengan kerja mengendarai mobil yang menahan

6
percepatan mobil dan pada perlombaan motor. Pengemudi itu tetap
duduk tapi mengeluarkan banyak energi.Perawat harus mengetahui
penggunanaan energi (peningkatan frekuensi pernapasan, fluktasi irama
jantung tekanan darah) yang dikaitkan dengan latihan isometrik, karena
hal ini menjadi kontra indikasi pada klien engan penyakit tertentu (misal,
penyakit infark miokard atau penyakit paru obstruksi menahun).
F. Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas atau Mobilisasi
Apabila seseorang terjadi patah tulang, menderita penyakit atau
cacat, dan lain-lain. Seseorang tersebut akan mengalami masalah
gangguan pergerakan (immobilisasi), apa lagi sampai klien tersebut
selalu bedrest dalam waktu lama, hal ini bisa menyebabkan (Kasiati &
Rosmalawati, 2016).
1. Klien mengalami atropi otot, dimana keadaan otot menjadi mengecil
karena tidak tepakai dan pada akhirnya serabut otot diinfiltrasi dan
diganti jaringan fibrosa dan lemak. Maka sebelum perawat membantu
klien memenuhi kebutuhan aktivitas seperti ganti posisi atau berjalan,
perawat harus mengkaji kekuatan otot. Langkah ini diambil untuk
menurunkan risiko cedera tubuh.
2. Nekrosis (jaringan mati), terjadi trauma atau iskemia di mana proses
regenerasi otot sangat minim.
3. Kontraktur sehingga body mechanic terganggu.
4. Beberapa faktor lain yang harus saudara ketahui antara lain:
a. Tingkat perkembangan tubuh: Usia seseorang mempengaruhi
system muskuloskeletal dan persarafan, Untuk itu, dalam
melakukan tindakan keperawatan untuk membantu memenuhi
kebutuhan aktivitas, perawat harus memperhatikan aspek tumbuh
kembang klien sesuai kebutuhan.
b. Kesehatan fisik: Seseorang dengan penyakit (gangguan
musculoskeletal, gangguan kardiovaskuler, gangguan sistem
respirasi), cacat tubuh dan imobilisasi akan dapat menggangu
pergerakan tubuh.

7
c. Keadaan nutrisi: Seseorang dengan nutrisi kurang, hal ini
menyebabkan kelemahan dan kelelahan otot yang berdampak pada
penurunan aktivitas dan pergerakan. Sebaliknya, hal yang sama
terjadi pada kondisi nutrisi lebih (obesitas).
d. Status mental: Seseorang mengalami gangguan mental cenderung
tidak antusias dalam mengikuti aktivitas, bahkan kehilangan energi
untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene.
e. Gaya hidup: Seseorang dalam melalukan pola aktivitas sehari-hari
dengan baik tidak akan mengalami hambatan dalam pergerakan,
demikian juga sebaliknya.
II. ASPEK KODE ETIK KEPERAWATAN
A. Pengertian Etika Keperawatan
Menurut PPNI 2003 dalam (N. Utami, Agustine, & Happy, 2016), Kode
Etik Perawat adalah suatu pernyataan atau keyakinan yang mengungkapkan
kepedulian moral, nilai dan tujuan keperawatan. Kode Etik Keperawatan
adalah pernyataan standar profesional yang digunakan sebagai pedoman
perilaku perawat dan menjadi kerangka kerja untuk membuat
keputusan.Aturan yang berlaku untuk seorang perawat Indonesia dalam
melaksanakan tugas/fungsi perawat adalah kode etik perawat nasional
Indonesia, dimana seorang perawat selalu berpegang teguh terhadap kode
etik sehingga kejadian pelanggaran etik dapat dihindarkan
Dengan adanya kode etik, diharapkan para profesional perawat dapat
memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pasien. Adanya kode etik akan
melindungi perbuatan yang tidak profesional. Kode etik keperawatan
disusun oleh organisasi profesi, dalam hal ini di Indonesia adalah Persatuan
Perawat Nasional Indonesia (PPNI) (N. W. Utami, Agustine, & Happy,
2016).

B. Tujuan Etika Keperawatan

8
Kode etik bertujuan untuk memberikan alasan/dasar terhadap keputusan
yang menyangkut masalah etika dengan menggunakan model-model
moralitas yang konsekuen dan absolut (N. W. Utami et al., 2016).
Menurut (N. W. Utami et al., 2016) pada dasarnya, tujuan kode etik
keperawatan adalah upaya agar perawat, dalam menjalankan setiap tugas
dan fungsinya, dapat menghargai dan menghormati martabat manusia.
Tujuan kode etik keperawatan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Merupakan dasar dalam mengatur hubungan antar perawat, klien atau
pasien, teman sebaya, masyarakat, dan unsur profesi, baik dalam profesi
keperawatan maupun dengan profesi lain di luar profesi keperawatan.
2. Merupakan standar untuk mengatasi masalah yang dilakukan oleh
praktisi keperawatan yang tidak mengindahkan dedikasi moral dalam
pelaksanaan tugasnya.
3. Untuk mendukung profesi perawat yang dalam menjalankan tugasnya
diperlakukan secara tidak adil oleh institusi maupun masyarakat
4. Merupakan dasar dalam menyusun kurikulum pendidikan keperawatan
agar dapat menghasilkan lulusan yang berorientasi pada sikap profesional
keperawatan
5. Untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat pengguna jasa
pelayanan keperawatan akan pentingnya sikap profesional dalam
melaksanakan tugas praktek keperawatan.
C. Fungsi Etika Keperawatan
Etika keperawatan juga memiliki fungsi penting bagi perawat dan
seluruh individu yang menikmati pelayanan keperawatan. Fungsi-fungsi
tersebut adalah (N. W. Utami et al., 2016):
1. Menunjukkan sikap kepemimpinan dan bertanggung jawab dalam
mengelola asuhan keperawatan
2. Mendorong para perawat di seluruh Indonesia agar dapat berperan serta
dalam kegiatan penelitian dalam bidang keperawatan dan menggunakan
hasil penelitian serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

9
untuk meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan atau asuhan
keperawatan
3. Mendorong para perawat agar dapat berperan serta secara aktif dalam
mendidik dan melatih pasien dalam kemandirian untuk hidup sehat, tidak
hanya di rumah sakit tetapi di luar rumah sakit. d. Mendorong para
perawat agar bisa mengembangkan diri secara terus menerus untuk
meningkatkan kemampuan profesional, integritas dan loyalitasnya bagi
masyarakat luas
4. Mendorong para perawat agar dapat memelihara dan mengembangkan
kepribadian serta sikap yang sesuai dengan etika keperawatan dalam
melaksanakan profesinya
5. Mendorong para perawat menjadi anggota masyarakat yang responsif,
produktif, terbuka untuk menerima perubahan serta berorientasi ke masa
depan sesuai dengan perannya.
D. Prinsi Etik Keperawatan
1. Otonomi (Autonomy)
Prinsip ini didasarkan pada keyakinan bahwa setiap individu
memiliki kemampuan berpikir logis dan membuat keputusan sendiri.
Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang
menuntut pembedaan diri. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek
terhadap seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa
dan bertindak secara rasional. Orang dewasa dianggap kompeten dan
memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai
keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip
otonomi direfleksikan dalam sebuah praktek profesional ketika perawat
menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan
dirinya.
2. Berbuat baik, mendatangkan manfaat (Beneficial)
Beneficial artinya mendatangkan manfaat atau kebaikan. Kebaikan
memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan
kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang

10
lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik
antara prinsip ini dengan otonomi. Prinsip kemurahan hati adalah :
a. menghilangkan kondisi-kondisi yang sangat merugikan,
b. Mencegah kerugian/kerusakan/ kesalahan.
c. Berbuat baik.
3. Keadilan (Justice)
Prinsip ini dibutuhkan untuk tercapainya keadilan terhadap orang
lain dengan tetap menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan
kemanusiaan. Nilai ini refleksikan dalam praktek profesional ketika
perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai dengan hukum, standar
praktik dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan
kesehatan
4. Tidak merugikan (Nonmaleficience)
Prinsip ini mengindikasikan bahwa individu secara moral diharuskan
untuk menghindari sesuatu yang dapat merugikan orang lain (tindakan
menghindarkan kerusakan/kerugian/ kejahatan). Prinsip ini berarti tidak
menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien.
5. Kejujuran (Veracity)
Veracity berarti penuh dengan kebenaran. Pemberi pelayanan
kesehatan harus menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan
memastikan bahwa klien sangat mengerti dengan situasi yang dihadapi.
Dengan kata lain prinsip ini berkaitan dengan kemampuan seseorang
untuk mengatakan kebenaran Informasi yang disampaikan harus akurat,
komprehensif, dan obyektif sehingga pasien mendapatkan pemahaman
yang baik mengenai keadaan dirinya selama menjalani perawatan.
Kebenaran merupakan dasar dalam membangun hubungan saling
percaya.
6. Kesetiaan, menepati janji (Fidelity)
Prinsip ini berarti bahwa tenaga kesehatan wajib menepati janji,
menjaga komitmennya dan menyimpan rahasia klien. kesetiaan perawat
menggambarkan kepatuhan perawat terhadap kode etik yang menyatakan

11
bahwa tanggung jawab dasar Seorang perawat adalah meningkatkan
kesehatan mencegah penyakit memulihkan kesehatan dan meminimalkan
penderitaan
7. kerahasiaan (confidentiality)
Prinsip ini menggariskan bahwa informasi tentang klien harus dijaga
kerahasiaannya. segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan
kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. tidak
ada seorangpun dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika
diizinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. diskusi tentang klien
dengan tenaga kesehatan lain di luar area pelayanan, menyampaikan pada
teman atau keluarga pasien tentang klien harus dihindari
8. Akuntabilitas (accountability)
Akuntabilitas adalah mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan, di
mana "tindakan" yang dilakukan merupakan satu aturan profesional.
Oleh karena itu pertanggungjawaban atas hasil asuhan keperawatan
mengarah langsung kepada praktis itu sendiri (Hastim & Prasetyo, 2019)
III. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Riwayat Keperawatan
1) Riwayat aktivitas dan olah raga
2) Toleransi aktivitas
3) Jenis dan frekuensi olah raga
4) Faktor yang mempengaruhi mobilitas
5) Pengaruh imobilitas
b. Pemeriksaan Fisik : Data Focus
1) Kesejajaran tubuh
Mengidentifikasi perubahan postur tubuh akibat pertumbuhan dan
perkembangan normal. Pemeriksaan dilakukan dengan cara
inspeksi pasien dari lateral, anterior, dan posterior guna mengamati:
a) bahu dan pinggul sejajar
b) jari - jari kaki mengarah kedepan

12
c) tulang belakang lurus, tidak melengkung kesisi yang lain
2) Cara berjalan
Dilakukan untuk mengidentifikasi mobilitas klien dan risiko cedera
akibat jatuh.
a) Kepela tegak, pandangan lurus, dan tulang belakang lurus
b) Tumit menyentuh tanah terlebih dahulu daripada jari kaki
c) Lengan mengayun kedepan bersamaan dengan ayunan kaki di
sisi yang berlawanan
d) Gaya berjalan halus, terkoordinasi
3) Penampilan dan pergerakan sendi
Pemeriksaan ini meliputi inspeksi, palpasi, serta pengkajian
rentang gerak aktif atau rentang gerak pasif. Hal-hal yang dikaji
yaitu :
a) Adanya kemerahan / pembengkakan sendi
b) Deformitas
c) Adanya nyeri tekan
d) Krepitasi
e) Peningkatan temperature di sekitar sendi
f) Perkembangan otot yang terkait dengan masing – masing sendi
g) Derajat gerak sendi
4) Kemampuan dan keterbatasan gerak
Hal-hal yang perlu dikaji antara lain :
a) Bagaimana penyakit klien mempengaruhi kemampuan klien
untuk bergerak
b) Adanya hambatan dalam bergerak ( terpasang infus, gips )
c) Keseimbangan dan koordinasi klien
d) Adanya hipotensi ortostatik
e) Kenyamanan klien

13
5) Kekuatan dan massa otot
Mengkaji kekuatan dan kemampuan klien untuk bergerak,
langkah ini diambil untuk menurunkan risiko tegang otot dan cedera
tubuh baik pada klien maupun perawat.
Tingkatan kekuatan otot :
Skala Kekuatan (%) Ciri-ciri
0 0 Paralisis total
1 10 Tidak ada gerakan, teraba/terlihat adanya
kontraksi
2 25 Gerakan otot penuh menentang gravitasi, dengan
sokongan
3 50 Gerakan normal menentang gravitasi
4 75 Gerakan normal penuh menentang gravitasi
dengan sedikit tahanan
5 100 Gerakan normal penuh menentang gravitasi
dengan tahana penuh

B. Diagnosa
1. Gangguan Mobilitas Fisik
a. Definisi
Gangguan mobilitas fisik merupakan keterbatasan dalam gerakan
fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri.
b. Penyebab
1) Kerusakan integritas struktur tulang
2) Perubahan metabolisme
3) Ketidakbugaran fisik
4) Penentuan kendali otot
5) Penurunan massa otot
6) Penurunan kekuatan otot
7) Keterlambatan perkembangan
8) Kekuatan sendi

14
9) Kontraktur
10) Malnutrisi
11) Gangguan muskuloskeletal
12) Gangguan neuromuskuler
13) Indeks massa tubuh diatas persentil ke-75 sesuai usia
14) Efek agen farmakologis
15) Program pembatasan gerak
16) Nyeri
17) Kurang terpapar informasi tentang aktivitas fisik
18) Kecemasan
19) Gangguan kognitif
20) Keengganan melakukan pergerakan
21) Gangguan sensoripersepsi
c. Gejala dan tanda mayor
1) Subjektif : Mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas
2) Objektif :
a) Kekuatan otot menurun
b) Rentan gerak (ROM) menurun
d. Gejala dan tanda minor
1) Subjektif :
a) Nyeri saat bergerak
b) Enggan melakukan pergerakan
c) Merasa cemas saat bergerak
2) Objektif :
a) Sendi kaku
b) Gerakan tidak terkordinasi
c) Gerakan terbatas
d) Fisik lemah

2. Gangguan pola tidur

15
a. Definisi
Gangguan kualitas waktu tidur akibat faktoreksternal.
b. Penyebab
1) Hambatan lingkungan
2) Kurang kontrol tidur
3) Kurang privasi
4) Restrein fisik
5) Ketiadaan teman tidur
6) Tidak familiar dengan peralatan tidur
c. Gejala dan tanda mayor
1) Subjektif :
a) Mengeluh sulit tidur
b) Mengeluh sering terjaga
c) Mengeluh tidak puas tidur
d) Mengeluh pola tidur berubah
e) Mengeluh istrahat tidak cukup
2) Objektif : -
d. Gejala dan tanda minor
1) Subjektif : mengeluh kemampuan beraktifitas menurun
2) Objektif : -
3. Intoleransi aktifitas
a. Definisi
Ketidakcukupan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
b. Penyebab
1) Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
2) Tirah baring
3) Kelemahan
4) Imobilitas
5) Gaya hidup menonton

c. Gejala dan tanda

16
1) Mayor
a) Subjektif : Frekuensi jantung meningkat > 20% dari kondisi
istirahat.
b) Objektif : Mengeluh lelah
2) Minor
a) Subjektif :
1))Dipsnea saat atau setelah aktivitas
2))Merasa tidak nyaman setelah beraktivitas
3))merasa lemah
b) Objektif :
1))Tekanan darah berubah > 20% dari kondisi istirahat
2))Gambar aneka g menunjukkan aritmia saat atau setelah
aktivitas.
3))Gambar raikage menunjukkan iskemia
4))Sianosis
4. Keletihan
a. Definisi
Definisi penurunan kapasitas kerja fisik dan mental yang tidak pulih
dengan istirahat.
b. Penyebab
1) Gangguan tidur
2) Gaya hidup menonton
3) Kondisi fisiologis
4) Program perawatan atau pengobatan jangka panjang
5) Peristiwa hidup negatif
6) Stres berlebihan
7) Depresi

c. Gelaja dan tanda

17
1) Mayor
a) Subjektif :
1))Merasa energi tidak pulih walaupun telah tidur
2)) merasa kurang tenaga
3)) mengeluh lelah
b) Objektif : Tidak mampu mempertahankan aktivitas rutin tampak
lesuh
2) Minor
a) Subjektif :
1)) Merasa bersalah akibat tidak mampu menjalankan
tanggung jawab
2)) Libido menurun
b) Objektif : Kebutuhan istirahat meningkat
(Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
C. Intervensi
1. Kekuatan/kelemahan dan dapat memberikan informasi Dukungan
mobilisasi
a. Observasi
1) Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
Rasional: Untuk mengetahui lokasi serta skala nyeri atau keluhan
fisik dari pasien.
2) Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan
Rasional: Mengidentifikasi mengenai pemulihan.
3) Monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi
Rasional: Mengetahui kecenderungan tingkat kesadaran dan
potensial peningkatan tekanan darah.
b. Teraupetik
1) Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu
Rasional: Membantu dalam peningkatan aktifitas dengan
menggunkan alat bantu.
2) Fasilitasi melakukan pergerakan

18
Rasional: Meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi,
mencegah terjadinya kontraktur.
3) Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam
Rasional: Mengajarkan ke keluarga agar dapat membantu
melakukan aktivitas pasien.
c. Edukasi
1) Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
Rasional: Memberikan pemahaman mengenai manfaat tindakan
yang didahulukan.
2) Anjurkan melakukan mobilisasi dini
Rasional: Meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi,
mencegah terjadinya kontraktur.
3) Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan seperti duduk
ditempat tidur duduk di sisi tempat tidur pindah dari tempat tidur
ke kursi
Rasional: Membantu kembali jaras saraf, meningkatkan respon
propioseptif dan motorik.
2. Dukungan tidur
a. Observasi
1) Identifikasi pola aktivitas dan tidur
Rasional: mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensi yang
tepat.
2) Identifikasi faktor pengganggu tidur
Rasional: membantu dalam mengidentifikasi maslah yang dapat
mengganggu tidur.
3) Identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu tidur
Rasional: membantu dalam peningkatan kenyamanan tidur.
b. Teraupetik
1) Modifikasi lingkungan
Rasional: Menciptakan lingkungan nyaman bagi pasien
2) Batas waktu tidur siang

19
Rasional: membantu dalam penggunaan energi untuk beraktivitas.
3) Tetapkan jadwal tidur rutin
Rasional: membantu mengefektifkan tidur pasien
c. Edukasi
1) Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
Rasional: memberikan pemahaman pada pasien mengenai
pentingnya istirahat/tidur.
2) Anjurkan menempati kebiasaan waktu tidur
Rasional: membantu dalam pengaturan penggunaan energi untuk
beraktivitas.
3) Anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur
Rasional: mengurangi faktor yang dapat mengganggu proses
istirahat/tidur.
3. Manajemen energi
a. Observasi
1) Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan
kelelahan
Rasional: mengetahui suber kelelahan
2) Monitor pola dan jam tidur
Rasional: menghindari kelelahan akibat kurang istrahat
3) Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas.
Rasional: mengetahui faktor penyebab ketidaknyamanan
b. Teraupetik
1) Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus
Rasional: meningkatkan kenyamanan
2) Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan
Rasional: meningkatkan kenyamanan
3) Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur jika tidak dapat berpindah
atau berjalan
Rasional: mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan
c. Kolaborasi

20
1) Anjurkan tirah baring
Rasional: meminimalkan fungsi semua sistem organ
2) Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
Rasional: mengurangi kelelahan
3) Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan
Rasional: mengenali kondisi kelelahan
(Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
D. Implementasi
Implementasi atau tidakan adalah mengelolaaan dan perwujudan dari
rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Reni
Asmara Ariga, S.Kp., 2020).
E. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap yang menetukan apakah tujuan dapat
tercapai sesuai yang ditetapkan dalam tujuan dan rencana keperawatan
(Reni Asmara Ariga, S.Kp., 2020) .

21
PATOFISIOLOGI KEPERAWATAN

Non infeksi (Ca mamma)

Massa Tumor

Nyeri Pos operasi

Tersumbatnya pembuluh darah


vena dan getah bening

Rongga pleura gagal


memindahkan cairan

Akumulasi cairan di rongga


pleura

Efusi Pleura Indikasi Tindakan

Pola Napas Tidak Chest Tube


Ekspansi Paru menurun WSD
Efektif

Napas pendek dengan usaha Imobilisasi


kuat

Intoleransi Aktivitas Kelelahan Gangguan


Mobilitas Fisik

Gangguan Pola Tidur

22
Mind Mapping
DAFTAR PUSTAKA

Hastim, M., & Prasetyo, J. (2019). Buku Panduan Etika Keperawatan. Jawa
Tengah: Desa Pustaka Indonesia.
Kasiati, & Rosmalawati, N. W. D. (2016). Kebutuhan Dasar Manusia I (1st ed.).
Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
PPNI, Tim Pokja SDKI DPP. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
PPNI, Tim Pokja SIKI DPP. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
Defenisi dan Tindakan Keperawatan. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Reni Asmara Ariga, S.Kp., M. A. R. . J. (2020). Buku Ajar Implementasi
Manajemen Pelayanan Kesehatan Dalam Keperawatan. In SELL Journal
(Vol. 5).
Rohayati, E. (2019). Keperawatan Dasar I. Cirebon: LovRinz Publishing.
S.Sulistyowati, L. (2017). Ayo Bergerak Lawan Obesitas. In Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia (p. 37). Retrieved from
http://p2ptm.kemkes.go.id
Utami, N., Agustine, U., & Happy, R. E. (2016). Etika Keperawatan Profesional
(1st ed.). Jakarta Selatan: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Utami, N. W., Agustine, U., & Happy, R. E. (2016). Etika Keperawatan dan
Keperawatan Profesional. Jakarta Selatan: Pusat Pendidikan Sumber Daya
Manusia Kesehatan.
Wahyuningsih, H. P., & Kusmiyati, Y. (2017). Anatomi Fisiologi (1st ed.).
Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai