Anda di halaman 1dari 28

1

3. Hasil Analisis Infrensial

Analisis infrensial dalam penelitian ini dengan menggunakan model

persamaan struktural (structural equation model/SEM) dengan confirmatory

factor analysis (CFA) ogram AMOS 24.0 (Analysis of Moment Structure,

Arbukle, 1997). Kekuatan prediksi variabel observasi baik pada tingkat

individual maupun pada tingkat konstruk dilihat melalui critical ratio (CR).

Apabila critical ratio tersebut signifikan maka dimensi-dimensi tersebut akan

dikatakan bermanfaat untuk memprediksi konstruk atau variabel laten.

Variabel laten (construct) penelitian ini terdiri dari budaya organisasi islami,

kepemimpinan islami, motivasi kerja islami, kepuasan kerja, dan kinerja.

Dengan menggunakan model persamaan struktural dari AMOS akan

diperoleh indikator-indikator model yang fit. Tolok ukur yang digunakan dalam

menguji masing-masing hipotesis adalah nilai critical ratio (CR) pada

regression weight dengan nilai minimum 2,0 secara absolut.

Kriteria yang digunakan adalah untuk menguji apakah model yang

diusulkan memiliki kesesuaian dengan data atau tidak. Adapun kriteria model

fit terdiri dari: 1) derajat bebas (degree of freedom) harus positif dan 2) non

signifikan Chi-square yang disyaratkan (p ≥ 0,05) dan di atas konservatif yang

diterima (p = 0,10) (Hair et al., 2006), 3) incremental fit di atas 0,90 yaitu GFI

(goodness of fit indix), Adjusted GFI (AGFI), tucker lewis index (TLI), the

minimum sample discrepancy function (CMIN) dibagi dengan degree of


2

freedomnya (DF) dan comparative fit index (CFI), dan 4) RMSEA (Root

Mean Square Error of Aproximation) yang rendah.

Confimatory factor analysis digunakan untuk meneliti variabel-variabel

yang mendefinisikan sebuah konstruk yang tidak dapat diukur secara

langsung. Analisis atas indikator-indikator yang digunakan itu memberi

makna atas label yang diberikan pada variabel-variabel laten atau konstruk-

konstruk lain yang dikonfirmasikan. Sebelum dilakukan analisis data dengan

model persamaan struktural, beberapa persyaratan harus dipenuhi yang

duraikan sebagai beriku.

Sebelum melakukan analisis data, maka langkah-langkah permodelan

dan analisis persamaan struktural dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Pengembangan Model Berbasis Teori

Pengembangan model berbasis teori merupakan langkah pertama

dalam permodelan structural equation modeling (SEM) yang bersumber dari

telaah pustaka. Kontribusi budaya organisasi islami, kepemimpinan islami,

motivasi kerja islami dalam mendukung kepuasan dan kinerja telah dijelaskan

berdasarkan teori dan penelitian yang mendukung sebagaimana yang

dijelaskan pada hubungan variabel pada pembahasan pada Bab. II.


3

2) Pengembangan Diagram Path

Diagram path diperlukan untuk menjelaskan hubungan antar variabel

penelitian demikian pula indikator, yang dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3. Pengembangan Diagram Path

Dari pengembangan diagram path selanjutnya dikonversi diagram path

ke persamaan struktural dan spesifikasi model pengukuran dikonversi

kedalam persamaan struktural dan persamaan pengukuran one step sebagai

berikut:

Pengaruh Langsung:
Y1 = γ1X1 + γ2X2 + γ3X3 + eY1 (1)
Y2 = β1Y1 + γ4X1 + γ5X2 + γ6X3 + eY2 (2)
Pengaruh Tidak Langsung:
Y2 = γ1X1.β1Y1 + β1Y1 + eY2 (4)
Y2 = γ2X2.β1Y1 + β1Y1 + eY2 (5)
4

Y2 = γ3X3.β1Y1 + β1Y1 + eY2 (6)

Dimana :
X1 = Budaya Organisasi Islami
X2 = Kepemimpinan Islami
X3 = Motivasi Kerja Islami
Y1 = kepuasan Kerja
Y1 = Kinerja
γ1 = Koefisien Pengaruh X1 ke Y1
γ2 = Koefisien Pengaruh X2 ke Y1
γ3 = Koefisien Pengaruh X3 ke Y1
γ4 = Koefisien Pengaruh X1 ke Y2
γ5 = Koefisien Pengaruh X2 ke Y2
γ6 = Koefisien Pengaruh X3 ke Y2
β1 = Koefisien Pengaruh Y1 ke Y2
e = Standar error

3) Evaluasi Kriteria Goodness-of-Fit.

Evaluasi terhadap ketepatan model pada dasarnya telah dilakukan

pada waktu model diestimasi oleh AMOS. Secara lengkap evaluasi terhadap

model ini dapat dilakukan sebagai berikut:

a) Evaluasi atas Dipenuhinya Asumsi Normalitas dalam Data

Normalitas univariat dan multivariat terhadap data yang digunakan

dalam analisis ini, diuji dengan menggunakan AMOS 24. Hasil analisis

terlampir dalam Lampiran 1 Hasil anlisis AMOS 24 tentang asessment of

normality. Ukuran kritis untuk menguji normalitas adalah c.r. yang di dalam

perhitungannya dipengaruhi oleh ukuran sampel dan skewnessnya. Dengan

merujuk nilai pada kolom c.r pada Lampiran 1, maka jika pada kolom c.r
5

terdapat skor yang lebih besar dari 2.58 atau lebih kecil dari -2.58

(normalitas distribusi pada alpha 1 persen) terdapat bukti bahwa distribusi

data tersebut tidak normal. Sebaliknya bila nilai c.r di bawah 2.58 atau lebih

besar dari – 2.58 maka data terdistribusi normal.

Dengan menggunakan kriteria di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

dari sebanyak 25 indikator terdapat 12 indikator yang berdistribusi tidak

normal, yang nilai c.r nya lebih besar dari 2.58 dan sisanya sebanyak 13

indikator berdistribusi normal. Namun pada dasarnya asumsi normalitas

untuk menggunakan analisis SEM tidak terlalu kritis bila data observasi

mencapai 100 atau lebih karena berdasarkan dalil limit pusat (central limit

theorem) dari sampel yang besar dapat dihasilkan statistik sampel yang

mendekati distribusi normal (Solimun, 2002:79). Karena penelitian ini secara

total menggunakan 267 data observasi (Lampiran 1), maka dengan demikian

data dapat diasumsikan normal.

b) Evaluasi atas Outliers

Evaluasi atas outliers univariat dan outliers multivariat diuraikan berikut

ini:

(1) Univariate Outliers

Dengan menggunakan dasar bahwa kasus-kasus atau observasi-

observasi yang mempunyai z-score 3.0 akan dikategorikan sebagai outliers,


6

dan untuk sampel besar di atas 80 observasi, pedoman evaluasi adalah nilai

ambang batas dari z-score itu berada pada rentang 3 sampai dengan 4

(Augusty, 2005). Oleh karena dalam penelitian ini dapat dikategorikan

sebagai penelitian dengan sampel besar yakni 267 responden yang berarti

jauh di atas 80 observasi, maka outliers terjadi jika z-score 4.0; berdasar

tabel deskriptif statistik (Lampiran 1) bahwa semua nilai yang telah

distandardisir dalam bentuk z-score mempunyai rata-rata sama dengan nol

dengan standar deviasi sebesar satu, sebagaimana diteorikan (Augusty,

2005). Dari hasil komputasi tersebut diketahui bahwa data yang digunakan

dalam penelitian ini adalah bebas dari univariate outliers (Lampiran

…………..), sebab tidak ada variabel yang mempunyai z-score di atas angka

batas tersebut. Batas minimum z-score -4,79588 (Zscore Y2.4) dan batas

maksimum z-score 2,57713 (Zscore Y2.5).

(2) Multivariate Outliers

Untuk menentukan apakah sebuah kasus (berbagai jawaban seorang

responden) memunculkan outlier multivariat, adalah dengan menghitung nilai

batas berdasarkan pada nilai chi-square pada derajat bebas sebesar jumlah

variabel pada tingkat signifikansi 0,001 atau 2 (25: 0,001). Kasus

multivariate outliers terjadi jika nilai mahalanobis distance lebih besar

daripada nilai chi-square hitung (Augusty, 2005).


7

Berdasarkan nilai chi square pada derajat bebas 25 (jumlah variabel)

pada tingkat siginifikansi 0,001 atau 2 (25;0.001) = 52.62 (Gujarati,1997).

Tampak dari hasil perhitungan dengan menggunakan AMOS diperoleh nilai

mahalanobis distance-squared minimal 25.352 dan nilai maksimal sebesar

137.257 (Lampiran 1), maka dapat disimpulkan ada indikasi terjadinya

multivariate pada 7 observasi yakni responden 193,157, 26, 252, 246, 75,

dan 196, namun pada dasarnya outliers tidak dapat dibuang apabila data

outliers tersebut menggambarkan kondisi data (bukan kesalahan dalam imput

data; Ghozali).

4) Hasil Pengukuran Setiap Konstruk atau Variabel Laten

Setelah dilakukan uji asumsi dan tindakan seperlunya terhadap

pelanggaran yang terjadi berikutnya akan dilakukan analisis model fit dengan

kriteria model fit seperti GFI (goodness of fit index), adjusted GFI (AGFI),

tucker lewis index (TLI), CFI (comparative of fit index), dan RMSEA (root

mean square error of approximation) baik untuk model individual maupun

model lengkap. Hasil pengukuran terhadap dimensi-dimensi atau indikator

variabel yang dapat membentuk suatu konstruk atau variabel laten (latent

variable) dengan confirmatory factor analysis secara berturut-turut dijelaskan

sebagai berikut:

a) Budaya Organisasi Islami.


8

Hasil uji CFA variabel budaya organisasi islami terhadap model secara

keseluruhan (overall) (Lampiran 2). Lebih lanjut, hasil uji konstruk variabel

budaya organisasi islami dievaluasi berdasarkan goodness of fit indices pada

Tabel 15 yang dengan disajikan kriteria model serta nilai kritisnya. Dari

evaluasi model yang diajukan menunjukkan bahwa evaluasi terhadap

konstruk secara keseluruhan menghasilkan nilai di atas kritis yang

menunjukkan bahwa model telah sesuai dengan data, sehingga dapat

dilakukan uji kesesuaian model selanjutnya.

Tabel 15. Evaluasi Kriteria GFI Variabel Budaya Organisasi Islami


Goodness of fit
index Cut-off Value Hasil Model* Keterangan

2 – Chi-square Diharapkan
6.404 Baik
kecil
Probability 0.05 0.041 Marginal
CMIN/DF 2.00 3.202 Marginal
RMSEA 0.08 0.091 Marginal
GFI 0.90 0.988 Baik
AGFI 0.90 0.938 Baik
TLI 0.95 0.966 Baik
CFI 0.95 0.989 Baik
Sumber : Olah Data 2021 (Lampiran 2)

Tabel 15 menunjukkan bahwa model pengukuran budaya organisasi

islami dengan hasil bahwa kriteria model telah menunjukkan adanya model fit

atau kesesuaian antara data dengan model. Hal ini dibuktikan dari delapan

criteria fix yang ada, hanya 3 yang belum memenuhi kriteria, namun sudah

masuk kategori marginal yaitu ketika nilai indikator Goodness of fit index
9

mendekati nilai baik berdasarkan kriteria dan bisa titerima (Tabachnick, B., &

Fidell, L. 2010). Dengan demikian model di atas menunjukkan tingkat

penerimaan yang baik oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa model dapat

diterima. Dengan demikian model di atas menunjukkan tingkat penerimaan

yang baik oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa model dapat diterima.

Selanjutnya untuk mengetahui indikator yang dapat digunakan sebagai

indikator dari variabel budaya organisasi islami dapat diamati dari nilai

loading faktor atau koefisien lambda (λ) dan tingkat signifikansinya, yang

mencerminkan masing-masing variabel tampak pada tabel berikut.

Tabel 16. Loading Faktor (λ) Pengukuran faktor Budaya Organisasi Islami

Indikator Loading Critical Probability


Keterangan
Variabel Factor (λ) Ratio (p)
X1.1 0.706 Fix < 0,001 Signifikan
X1.2 0.734 10.918 < 0,001 Signifikan
X1.3 0.906 11.859 < 0,001 Signifikan
X1.4 0.569 8.560 < 0,001 Signifikan

b) Kepemimpinan Islami

Hasil uji CFA variabel kepemimpinan islami terhadap model secara

keseluruhan (overall) (Lampiran 2). Lebih lanjut, hasil uji konstruk variabel

kepemimpinan islami dievaluasi berdasarkan goodness of fit indices pada

Tabel 16 yang dengan disajikan kriteria model serta nilai kritisnya. Dari

evaluasi model yang diajukan menunjukkan bahwa evaluasi terhadap


10

konstruk secara keseluruhan menghasilkan nilai di atas kritis yang

menunjukkan bahwa model telah sesuai dengan data, sehingga dapat

dilakukan uji kesesuaian model selanjutnya.

Tabel 15. Evaluasi Kriteria GFI Variabel Kepemimpinan Islami


Goodness of fit
index Cut-off Value Hasil Model* Keterangan

2 – Chi-square Diharapkan
2.950 Baik
kecil
Probability 0.05 0.229 Baik
CMIN/DF 2.00 1.475 Baik
RMSEA 0.08 0.042 Baik
GFI 0.90 0.994 Baik
AGFI 0.90 0.972 Baik
TLI 0.95 0.997 Baik
CFI 0.95 0.999 Baik
Sumber : Olah Data 2021 (Lampiran 2)

Tabel 15 menunjukkan bahwa model pengukuran variabel

kepemimpinan islami dengan hasil bahwa kriteria model telah menunjukkan

adanya model fit atau kesesuaian antara data dengan model. Hal ini

dibuktikan dari delapan criteria fix yang ada semuanya memenuhi kriteria.

Dengan demikian model di atas menunjukkan tingkat penerimaan yang baik

oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa model dapat diterima.

Selanjutnya untuk mengetahui indikator yang dapat digunakan sebagai

indikator dari variabel kepemimpinan islami dapat diamati dari nilai loading

faktor atau koefisien lambda (λ) dan tingkat signifikansinya, yang

mencerminkan masing-masing variabel tampak pada tabel berikut.


11

Tabel 16. Loading Faktor (λ) Pengukuran Faktor Kepemimpinan Islami

Indikator Loading Critical Probability


Keterangan
Variabel Factor (λ) Ratio (p)
X2.1 0.842 Fix < 0,001 Signifikan
X2.2 0.911 20.241 < 0,001 Signifikan
X2.3 0.950 21.919 < 0,001 Signifikan
X2.4 0.941 21.539 < 0,001 Signifikan

c) Motivasi Kerja Islami

Hasil uji CFA variabel motivasi kerja islami terhadap model secara

keseluruhan (overall) (Lampiran 2). Lebih lanjut, hasil uji konstruk variabel

motivasi kerja islami dievaluasi berdasarkan goodness of fit indices pada

Tabel 17 yang dengan disajikan kriteria model serta nilai kritisnya. Dari

evaluasi model yang diajukan menunjukkan bahwa evaluasi terhadap

konstruk secara keseluruhan menghasilkan nilai di atas kritis yang

menunjukkan bahwa model telah sesuai dengan data, sehingga dapat

dilakukan uji kesesuaian model selanjutnya.

Tabel 15. Evaluasi Kriteria GFI Variabel Motivasi Kerja Islami


Goodness of fit
index Cut-off Value Hasil Model* Keterangan
12

2 – Chi-square Diharapkan
2.899 Baik
kecil
Probability 0.05 0.235 Baik
CMIN/DF 2.00 1.449 Baik
RMSEA 0.08 0.041 Baik
GFI 0.90 0.993 Baik
AGFI 0.90 0.968 Baik
TLI 0.95 0.993 Baik
CFI 0.95 0.999 Baik
Sumber : Olah Data 2021 (Lampiran 2)

Tabel 18 menunjukkan bahwa model pengukuran variabel motivasi

islami dengan hasil bahwa kriteria model telah menunjukkan adanya model fit

atau kesesuaian antara data dengan model. Hal ini dibuktikan dari delapan

criteria fix yang ada semuanya memenuhi kriteria. Dengan demikian model di

atas menunjukkan tingkat penerimaan yang baik oleh karena itu dapat

disimpulkan bahwa model dapat diterima.

Selanjutnya untuk mengetahui indikator yang dapat digunakan sebagai

indikator dari variabel motivasi kerja islami dapat diamati dari nilai loading

faktor atau koefisien lambda (λ) dan tingkat signifikansinya, yang

mencerminkan masing-masing variabel tampak pada tabel berikut.

Tabel 18. Loading Faktor (λ) Pengukuran Faktor Motivasi Kerja Islami

Indikator Loading Critical Probability Keterangan


13

Variabel Factor (λ) Ratio (p)


X3.1 0.869 Fix < 0,001 Signifikan
X3.2 0.923 14.143 < 0,001 Signifikan
X3.3 0.493 8.218 < 0,001 Signifikan
X3.4 0.568 9.713 < 0,001 Signifikan
X3.5 0.495 8.249 < 0,001 Signifikan

d) Kepuasan Kerja

Hasil uji CFA variabel kepuasan kerja terhadap model secara

keseluruhan (overall) (Lampiran 2). Lebih lanjut, hasil uji konstruk variabel

kepuasan kerja dievaluasi berdasarkan goodness of fit indices pada Tabel 19

yang dengan disajikan kriteria model serta nilai kritisnya. Dari evaluasi model

yang diajukan menunjukkan bahwa evaluasi terhadap konstruk secara

keseluruhan menghasilkan nilai di atas kritis yang menunjukkan bahwa model

telah sesuai dengan data, sehingga dapat dilakukan uji kesesuaian model

selanjutnya.

Tabel 19. Evaluasi Kriteria GFI Variabel Kepuasan Kerja


Goodness of fit
index Cut-off Value Hasil Model* Keterangan

2 – Chi-square Diharapkan
12.453 Baik
kecil
Probability 0.05 0.053 Baik
CMIN/DF 2.00 2.075 Marginal
RMSEA 0.08 0.064 Baik
GFI 0.90 0.993 Baik
AGFI 0.90 0.950 Baik
TLI 0.95 0.982 Baik
CFI 0.95 0.993 Baik
Sumber : Olah Data 2021 (Lampiran 2)
14

Tabel 18 menunjukkan bahwa model pengukuran variabel kepuasan

kerja dengan hasil bahwa kriteria model telah menunjukkan adanya model fit

atau kesesuaian antara data dengan model. Hal ini dibuktikan dari delapan

criteria fix yang ada terdapat 7 yang memenuhi kriteria. Dengan demikian

model di atas menunjukkan tingkat penerimaan yang baik oleh karena itu

dapat disimpulkan bahwa model dapat diterima.

Selanjutnya untuk mengetahui indikator yang dapat digunakan sebagai

indikator dari variabel kepuasan kerja dapat diamati dari nilai loading faktor

atau koefisien lambda (λ) dan tingkat signifikansinya, yang mencerminkan

masing-masing variabel tampak pada tabel berikut.

Tabel 19. Loading Faktor (λ) Pengukuran Faktor Kepuasan Kerja

Indikator Loading Critical Probability


Keterangan
Variabel Factor (λ) Ratio (p)
Y1.1 0.783 Fix < 0,001 Signifikan
Y1.2 0.942 16.012 < 0,001 Signifikan
Y1.3 0.723 12.473 < 0,001 Signifikan
Y1.4 0.452 7.303 < 0,001 Signifikan
Y1.5 0.654 11.044 < 0,001 Signifikan
Y1.6 0.72 12.535 < 0,001 Signifikan

e) Kinerja

Hasil uji CFA variabel kinerja terhadap model secara keseluruhan

(overall) (Lampiran 2). Lebih lanjut, hasil uji konstruk variabel kinerja
15

dievaluasi berdasarkan goodness of fit indices pada Tabel 20 yang dengan

disajikan kriteria model serta nilai kritisnya. Dari evaluasi model yang

diajukan menunjukkan bahwa evaluasi terhadap konstruk secara keseluruhan

menghasilkan nilai di atas kritis yang menunjukkan bahwa model telah sesuai

dengan data, sehingga dapat dilakukan uji kesesuaian model selanjutnya.

Tabel 20. Evaluasi Kriteria GFI Variabel Kinerja


Goodness of fit
index Cut-off Value Hasil Model* Keterangan

2 – Chi-square Diharapkan
10.257 Baik
kecil
Probability 0.05 0.068 Baik
CMIN/DF 2.00 2.051 Marginal
RMSEA 0.08 0.063 Baik
GFI 0.90 0.985 Baik
AGFI 0.90 0.954 Baik
TLI 0.95 0.987 Baik
CFI 0.95 0.994 Baik
Sumber : Olah Data 2021 (Lampiran 2)

Tabel 20 menunjukkan bahwa model pengukuran variabel kinerja

dengan hasil bahwa kriteria model telah menunjukkan adanya model fit atau

kesesuaian antara data dengan model. Hal ini dibuktikan dari delapan criteria

fix yang ada terdapat 7 yang memenuhi kriteria. Dengan demikian model di

atas menunjukkan tingkat penerimaan yang baik oleh karena itu dapat

disimpulkan bahwa model dapat diterima.

Selanjutnya untuk mengetahui indikator yang dapat digunakan sebagai

indikator dari variabel kinerja dapat diamati dari nilai loading faktor atau
16

koefisien lambda (λ) dan tingkat signifikansinya, yang mencerminkan masing-

masing variabel tampak pada tabel berikut.

Tabel 18. Loading Faktor (λ) Pengukuran Faktor Kinerja

Indikator Loading Critical Probability


Keterangan
Variabel Factor (λ) Ratio (p)
Y2.1 0.802 9.713 < 0,001 Signifikan
Y2.2 0.578 11.046 < 0,001 Signifikan
Y2.3 0.836 9.139 < 0,001 Signifikan
Y2.4 0.918 6.133 < 0,001 Signifikan
Y2.5 0.821 9.425 < 0,001 Signifikan

5) Hasil Pengukuran Model Awal

Berdasarkan cara penentuan nilai dalam model, maka variabel

pengujian model pertama ini dikelompokkan menjadi variabel eksogen

(exogenous variabel) dan variabel endogen (endogenous variable). Variabel

eksogen adalah variabel yang nilainya ditentukan di luar model. Sedangkan

variabel endogen adalah variabel yang nilainya ditentukan melalui

persamaan atau dari model hubungan yang dibentuk. Termasuk dalam

kelompok variabel eksogen adalah pengukuran budaya organisasi islami,

kepemimpinan islami, dan motivasi kerja islami. Sedangkan yang tergolong

variabel endogen adalah kepuasan kerja dan kinerja. Model dikatakan baik

bilamana pengembangan model hipotetik secara teoritis didukung oleh data


17

empirik. Hasil analisis SEM secara lengkap dapat dilihat pada gambar

berikut.

Gambar 4. Pengukuran Model Awal Hubungan Variabel

Hasil uji model disajikan pada gambar 4 diatas dievaluasi berdasarkan

goodness of fit indices pada Tabel 21. dengan menyajikan kriteria model

serta nilai kritis yang memiliki kesesuaian data berdasarkan Hair (2006).

Tabel 21. Evaluasi kriteria Goodness of Fit Indices Overall Model

Goodness of fit Cut-off Value Hasil Model* Keterangan


18

index
2 – Chi-square Diharapkan 898.704 Kurang Baik
kecil
Probability 0.05 0.000 Kurang Baik
CMIN/DF 2.00 898.70 Kurang Baik
RMSEA 0.08 0.101 Kurang Baik
GFI 0.90 0.745 Kurang Baik
AGFI 0.90 0.684 Kurang Baik
TLI 0.95 0.857 Kurang Baik
CFI 0.95 0.875 Kurang Baik
Sumber : Olah Data 2021 (Lampiran 3)

Dari evaluasi model menunjukkan dari delapan kriteria goodness of fit

indices terlihat belum ada yang memenuhi criteria, olehnya itu maka perlu

ada pembuktian apakah terdapat kesesuaian antara model dengan data

melalui pemenuhan nilai kriteria goodness of fit indices sehingga dilakukan

modifikasi model dengan melakukan eliminasi error konstruk sesuai dengan

petunjuk dari modification indices dengan syarat modifikasi dilakukan tanpa

merubah makna hubungan antar variabel. Hasil analisis setelah model akhir

yang didapatkan adalah sebagai berikut:


19

Gambar 5. Pengukuran Model Akhir Hubungan Variabel

Hasil uji model disajikan pada gambar 5 diatas dievaluasi berdasarkan

goodness of fit indices pada Tabel 21 dengan menyajikan kriteria model

serta nilai kritisnya yang memiliki kesesuaian data.

Tabel 20. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indices Overall Model

Goodness of fit
index Cut-off Value Hasil Model* Keterangan

2 – Chi-square Diharapkan 47.135 Baik


kecil
Probability 0.05 0.066 Baik
CMIN/DF 2.00 1.386 Baik
RMSEA 0.08 0.038 Baik
GFI 0.90 0.969 Baik
AGFI 0.90 0.940 Baik
20

TLI 0.92 0.989 Baik


CFI 0.92 0.993 Baik
Sumber : Olah Data 2021 (Lampiran 4)

Dari evaluasi model menunjukkan dari delapan kriteria goodness of

semuanya memenuhi kriteria. Dengan demikian model di atas menunjukkan

tingkat penerimaan yang baik oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa

model dapat diterima, sehingga model secara keseluruhan dapat dikatakan

telah sesuai dengan data dan dapat di analisis lebih lanjut.

4. Pengujian Hipotesis

Berdasarkan model empirik yang diajukan, maka dilakukan pengujian

hipotesis melalui pengujian koefisien jalur pada model persamaan struktural.

Tabel 23. Pengujian Hipotesis

Hip Variabel Effect


Inde Inter Tidak p.Value Ket
Dependen Langsung Total
Penden vening Langsung
1 Budaya - Kepuasan 0.537 0.537 <0.001 S
Organisasi Kerja
Islami
2 Budaya - Kinerja 0.310 0.310 0.002 S
Organisasi
Islami
3 Budaya Kepuasan Kinerja 0.310 0.282 0.592 0.0004 S
Organisasi Kerja
Islami
4 Kepemimpinan - Kepuasan 0.077 0.077 0.390 TS
Islami Kerja
5 Kepemimpinan - Kinerja 0.011 0.011 0.901 TS
Islami
6 Kepemimpinan Kepuasan Kinerja 0.011 0.040 0.051 0.405 TS
Islami Kerja
7 Motivasi Kerja - Kepuasan 0.362 0.362 <0.001 S
Islami Kerja
8 Motivasi Kerja Kinerja 0.005 0.005 0.967 TS
21

Islami
9 Motivasi Kerja Kepuasan Kinerja 0.005 0.189 0.194 0.009 S
Islami Kerja
10 Kepuasan Kerja Kinerja 0.524 0.524 <0.001 S
Keterangan : (S: Signifikan; TS: Tidak Signifikan).
Sumber : Olah Data 2021 (Lampiran 4)

Tabel 21 merupakan pengujian hipotesis dengan melihat nilai p value,

jika nilai p value lebih kecil dari 0.05 maka pengaruh antara variabel

signifikan. Dari keseluruhan model, terdapat tujuh jalur lansung dan tiga jalur

tidak langsung yang dihipotesiskan dengan hasil bahwa terdapat empat jalur

langsung yang signifikan, tiga jalur langsung tidak signifikan, dan tiga jalur

tidak langsung semuanya signifikan. Adapun interpretasi dijelaskan sebagai

berikut.

1. Nilai koefisien variabel budaya organisasi islami terhadap kepuasan kerja

sebesar 0.537 dengan P = 0.000 < 0.05. Data tersebut menunjukkan

bahwa budaya organisasi islami berpengaruh positif signifikan terhadap

kepuasan kerja, hal tersebut dapat dijelaskan bahwa implementasi

budaya organisasi islami yang baik akan membuat kepuasan kerja

semakin baik. Dengan demikian, maka hipotesis pertanya yang berbunyi

“Budaya organisai islami berpengaruh positif dan signifikan terhadap

kepuasan kerja dosen pada Universitas Muhammadiah di Sulsel”

Diterima.

2. Nilai koefisien variabel budaya organisasi islami terhadap kinerja sebesar

0.310 dengan P = 0.002 < 0.05. Data tersebut menunjukkan bahwa


22

budaya organisasi islami berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja

dosen, hal tersebut dapat dijelaskan bahwa implementasi budaya

organisasi islami yang baik akan berpengaruh terhadap peningkatan

kinerja dosen yang semakin baik pula. Dengan demikian, maka hipotesis

kedua yang berbunyi “Budaya organisasi islami berpengaruh positif dan

signifikan terhadap kinerja dosen pada Universitas Muhammadiah di

Sulsel” Diterima.

3. Nilai koefisien variabel budaya organisasi islami terhadap kinerja melalui

kepuasan kerja sebesar 0.592 dengan P = 0.0004 < 0.05. Data tersebut

menunjukkan bahwa budaya organisasi islami berpengaruh positif

signifikan terhadap kinerja dosen melaui kinerja dosen, hal tersebut dapat

dijelaskan bahwa budaya organisasi islami yang baik akan mendorong

kepuasan kerja akan berdampak pada kinerja dosen yang semakin baik,

maka hipotesis ketiga yang berbunyi “Budaya organisai islami

berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja dosen melalui

kepuasan kerja pada Universitas Muhammadiah di Sulsel” Diterima

4. Nilai koefisien variabel kepemimpinan islami terhadap kepuasan kerja

sebesar 0.077 dengan P = 0.390 > 0.05. Data tersebut menunjukkan

bahwa kepemimpinan islami berpengaruh positif tidak signifikan terhadap

kepuasan kerja, hal tersebut dapat dijelaskan bahwa implementasi

kepemimpinan islami belum mampu meningkatkan kepuasan kerja.


23

Dengan demikian, maka hipotesis keempat yang berbunyi

“Kepemimpinan Islami berpengaruh positif dan signifikan terhadap

kepuasan kerja dosen pada Universitas Muhammadiah di Sulsel” Ditolak.

5. Nilai koefisien variabel kepemimpinan islami terhadap kinerja sebesar

0.011 dengan P = 0.901 > 0.05. Data tersebut menunjukkan bahwa

kepemimpinan islami berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kinerja,

hal tersebut dapat dijelaskan bahwa implementasi kepemimpinan islami

belum mampu meningkatkan kinerja. Dengan demikian, maka hipotesis

kelima yang berbunyi “Kepemimpinan Islami berpengaruh positif dan

signifikan terhadap kinerja dosen pada Universitas Muhammadiah di

Sulsel” Ditolak.

6. Nilai koefisien variabel kepemimpinan islami terhadap kinerja melalui

kepuasan kerja sebesar 0.051 dengan P = 0.405 > 0.05. Data tersebut

menunjukkan bahwa kepemimpinan islami berpengaruh positif tidak

signifikan terhadap kinerja dosen melaui kepuasan kerja, hal tersebut

dapat dijelaskan bahwa kepemimpinan islami belum mampu

meningkatkan kepuasan kerja sehingga berdampak pada kinerja dosen

maka hipotesis kenam yang berbunyi “Kepemimpinan Islami berpengaruh

positif dan signifikan terhadap kinerja dosen melalui kepuasan kerja

dosen pada Universitas Muhammadiah di Sulsel” Ditolak.


24

7. Nilai koefisien variabel motivasi kerja islami terhadap kepuasan kerja

sebesar 0.362 dengan P = 0.000 < 0.05. Data tersebut menunjukkan

bahwa motivasi kerja islami berpengaruh positif signifikan terhadap

kepuasan kerja, hal tersebut dapat dijelaskan bahwa dengan motivasi

kerja islami yang dimiliki dosen mampu meningkatkan kepuasan kerja.

Dengan demikian, maka hipotesis tujuh yang berbunyi “Motivasi kerja

Islami berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja dosen

pada Universitas Muhammadiah di Sulsel” Diterima.

8. Nilai koefisien variabel motivasi kerja islami terhadap kinerja sebesar

0.005 dengan P = 0.967 > 0.05. Data tersebut menunjukkan bahwa

motivasi kerja islami berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kinerja,

hal tersebut dapat dijelaskan bahwa motivasi kerja islami yang dimiliki

dosen belum mampu meningkatkan kinerja dosen. Dengan demikian,

maka hipotesis delapan yang berbunyi “Motivasi kerja Islami berpengaruh

positif dan signifikan terhadap kinerja dosen pada Universitas

Muhammadiah di Sulsel” Ditolak.

9. Nilai koefisien variabel motivasi kerja islami terhadap kinerja melalui

kepuasan kerja sebesar 0.194 dengan P = 0.009 < 0.05. Data tersebut

menunjukkan bahwa motivasi kerja islami yang baik dimiliki dosen akan

mendorong kepuasan kerja dosen sehingga berdampak pada kinerja

dosen, hal tersebut dapat dijelaskan bahwa motivasi kerja islami yang
25

baik berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja dosen melaui

kepuasan kerja dosen, maka hipotesis kesembilan yang berbunyi “

Motivasi kerja Islami berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja

dosen melalui kepuasan kerja dosen pada Universitas Muhammadiah di

Sulsel Diterima.

10. Nilai koefisien variabel kepuasan kerja terhadap kinerja sebesar 0.524

dengan P = 0.000 < 0.05. Data tersebut menunjukkan bahwa kepuasan

kerja berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja, hal tersebut dapat

dijelaskan bahwa dengan kepuasan kerja yang dimiliki dosen mampu

meningkatkan kinerja. Dengan demikian, maka hipotesis kesepuluh yang

berbunyi “Kepuasan kerja dosen berpengaruh positif dan signifikan

terhadap kinerja dosen pada Universitas Muhammadiah di Sulsel”

Diterima.

Dari Tabel 23 dapat diketahui bahwa terdapat jalur yang berkontribusi

signifikan dan tidak signifikan. Dengan demikian, hipotesis penelitian:

H1 : Budaya organisai islami berpengaruh positif dan signifikan terhadap

kepuasan kerja dosen pada Universitas Muhammadiah di Sulsel

H2 : Budaya organisasi islami berpengaruh positif dan signifikan terhadap

kinerja dosen pada Universitas Muhammadiah di Sulsel


26

H3 : Budaya organisai islami berpengaruh positif dan signifikan terhadap

kinerja dosen melalui kepuasan kerja pada Universitas Muhammadiah di

Sulsel

H7 : Motivasi kerja Islami berpengaruh positif dan signifikan terhadap

kepuasan kerja dosen pada Universitas Muhammadiah di Sulsel

H9 : Motivasi kerja Islami berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja

dosen melalui kepuasan kerja dosen pada Universitas Muhammadiah di

Sulsel

H10 : Kepuasan kerja dosen berpengaruh positif dan signifikan terhadap

kinerja dosen pada Universitas Muhammadiah di Sulsel

Terdukung data empiris dan diterima.

Sedangkan untuk hipotesis :

H4 : Kepemimpinan Islami berpengaruh positif dan signifikan terhadap

kepuasan kerja dosen pada Universitas Muhammadiah di Sulsel

H5 : Kepemimpinan Islami berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja

dosen pada Universitas Muhammadiah di Sulsel

H6 : Kepemimpinan Islami berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja

dosen melalui kepuasan kerja dosen pada Universitas Muhammadiah di

Sulsel

H8 : Motivasi kerja Islami berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja

dosen pada Universitas Muhammadiah di Sulsel


27

Tidak terdukung data empiris dan ditolak.

Viksualisasi hasil pengujian hipotesis dalam penelitian ini dapat

dijelaskan pada gambar berikut:

NANTI SY ISI

Gambar 6. Viksualisasi Hasil Pengujian Hipotesis

Hasil persamaan Pengaruh Langsung :


Y1 = 0,537X1 + 0.077X2 + 0.362X3 (1)
Y2 =0.524Y1 + 0,310X1 + 0.011X2 + 0.005X3 (2)
Hasil persamaan Pengaruh Tidak Langsung :
Y2 = 0,282 β1.Y1+ 0.524 Y1 (3)
Y2 = 0,040 β1.Y1+ 0.524 Y1 (4)
Y2 = 0,189 β1.Y1+ 0.524 Y1 (5)

Selanjutnya untuk mengetahui besar pengaruh dari variabel dependen

ke variabel independen, diurakan pada tabel berikut.

Tabel 22. Dekomposisi Besar Pengaruh Antar variabel

Pengaruh Tidak Total Besar


No Langsung
Variabel Langsung Pengaruh
1 X1 Ke Y1 0,537 (53.7 %) - 53.7 %
2 X1 Ke Y2 0,310 (31%) 0,282 (28,2%) 59,2%
3 X2 Ke Y1 0.077 (7,7)% - 7,7%
28

4 X2 Ke Y2 0.011 (1,1%) 0.040 (4%) 5,1%


5 X3 Ke Y1 0.362 (36,2%) - 36,2%
6 X3 Ke Y2 0.005 (0,5%) 0,189(18,9%) 19,4%
7 Y1 Ke Y2 0.524 (52,4%) - 52,4%
Sumber : Olah Data 2021 (Lampiran …)