Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

A. PERMASALAHAN Sebelum ditemukan virus hepatitis C (HCV), dunia medis mengenal 2 jenis virus sebagai sebab hepatitis, yaitu : virus hepatitis A (HAV) dan virus hepatitis B (HBV). Namun terdapat juga peradangan hati yang tidak disebabkan oleh kedua virus ini dan tidak dikenal pada saat itu sehingga dinamakan hepatitis Non-A, Non-B. Pencarian penyebab hepatitis itu kemudian dilakukan oleh banyak institusi sampai kemudian Choo dan kawan-kawan dengan cara amplifikasi dan identifikasi genetik berhasil mendapatkan virus penyebab hepatitis baru ini yang disebut virus hepatitis C (Gani, 2007). HCV merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia yang amat serius. Infeksi HCV menjadi pandemi atau wabah global. Orang yang terkena virus ini jauh lebih banyak daripada seluruh manusia yang terinfeksi Human immunodefidency Virus (HIV). Menurut angka Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO), sedikitnya 170 juta umat manusia terinfeksi HCV. Angka ini meliputi 3% dari seluruh populasi manusia di Bumi. Tiga sampai empat juta manusia mendapatkan infeksi baru setiap tahun. Angka prevalensi HCV ini bervariasi di antara negara-negara di dunia. Di beberapa negara termasuk Indonesia, angka pasti prevalensi belum diketahui. Afrika, Mediterania Timur, Asia Tenggara dan kawasan Pasifik Barat memiliki prevalensi infeksi HCV lebih tinggi dibandingkan Eropa Barat dan AmerikaUtara.

B.

TUJUAN PENULISAN Untuk mengetahui apakah hepatitis C itu dan bagaimana proses terjadinya penyakit ini sehingga sebagai tenaga medis dapat mengarahkan pemikiran tindakan yang tepat dalam mendiagnosa dan memberikan terapi yang efektif dan efisien. BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Hepatitis C merupakan penyakit yang menyerang organ hati yang disebabkan oleh infeksi virus. Organ hati akan membengkak dan berhenti fungsinya. Hepatitis C ialah penyakit hati yang disebabkan infeksi virus Hepatitis C (HCV) yang terdapat dalam darah seseorang yang menderita penyakit tersebut. Hepatitis C yang awalnya dikenal sebagai Hepatitis non A non B , disebabkan oleh virus hepatitis C yang merupakan virus single stranded RNA berenvelop dari family Flaviviridae dengan diameter sekitar 55 nm. Terdapat enam genotipe VHC yakni genotype 1 - 6 . Setiap genotype mempunyai subtype ditulis dengan huruf a, b, dst . Sehingga genotype VHC : 1a, 1b, 2a.2b dan seterusnya. Jenis genotipe dapat menentukan respons terapi (Anggraeni, 2009). 15% dari kasus infeksi Hepatitis C adalah akut, artinya secara otomatis tubuh membersihkannya dan tidak ada konsekwensinya. Sayangnya 85% dari kasus, infeksi Hepatitis C menjadi kronis dan secara perlahan merusak hati bertahun-tahun. Dalam waktu tersebut, hati bisa rusak menjadi sirosis (pengerasan hati), stadium akhir penyakit hati dan kanker hati. B. Cara Penularan Penularan Hepatitis C biasanya melalui kontak langsung dengan darah atau produknya dan jarum atau alat tajam lainnya yang terkontaminasi. Dalam kegiatan seharihari banyak resiko terinfeksi Hepatitis C seperti berdarah karena terpotong atau mimisan, atau darah menstruasi. Perlengkapan pribadi yang terkena kontak oleh penderita dapat menularkan virus Hepatitis C (seperti sikat gigi, alat cukur atau alat manicure). Resiko terinfeksi Hepatitis C melalui hubungan seksual lebih tinggi pada orang yang mempunyai lebih dari satu pasangan (Anonim, 2009).

Penularan Hepatitis C jarang terjadi dari ibu yang terinfeksi Hepatitis C ke bayi yang baru lahir atau anggota keluarga lainnya. Walaupun demikian, jika sang ibu juga penderita HIV positif, resiko menularkan Hepatitis C sangat lebih memungkinkan. Menyusui tidak menularkan Hepatitis C. Orang yang memiliki resiko tinggi penularan adalah :

1) Pengguna narkoba suntik. 2) Bayi yang dilahirkan oleh wanita yang menderita hepatitis C. 3) Pasien Hemodialisa. 4) Petugas Kesehatan. 5) Orang yang menggunakan tattoo atau menindik tubuh dirumah dengan alat yang tidak steril. A. Patogenesis

Target utama HVC ini adalah sel-sel hati, setelah berada dalam sitoplasma hati VHC akan melepaskan selubung virusnya dan RNA virus siap untuk melakukan translasi protein dan kemudian replikasi RNA. Kecepatan replikasi VHC sangat besar, melebihi HIV maupun VHB. Reaksi cytotoxic T-cell (CTL) spesifik diperlukan untuk terjadinya eleminasi meyeluruh HCV pada infeksi akut. Pada infeksi kronik, reaksi CTL yang relatif lemah masih mampu merusak sel-sel hati dan melibatkan respon inflamasi hati tetapi tidak bias menghilangkan virus maupun menekan revolusi genetic HCV sehingga kerusakan sel hati berjalan terus menerus. Reaksi inflamasi yang dilibatkan melalui sitokin-sitokin pro-inflamasi seperti TNF-, TGF-1, akan menyebabkan rekrutmen sel-sel inflamasi lainnya dan menyebabkan aktivitas sel-sel stelata diruang disse hati. Sel-sel yang khas ini mula-mula dalam keadaan tenang (quiscent) kemudian berproliferasi dan aktif menjadi sel-sel miofibroblas yang dapat menghasilkan matriks kolagen sehingga terjadi fibrosis dan berperan aktif dalam menghasilkan sitokin-sitokin pro-inflamasi (Gani, 2007).

Virus hepatitis C memiliki angka mutasi atau perubahan genetik yang tinggi sehingga sering muncul virus mutan yang dapat menghindari antibodi tubuh. Belum lagi ditambah dengan tingginya produksi virus hepatitis C (mencapai 10 triliun kopi virus perhari) sehingga memunculkan generasi virus yang beraneka ragam dan memungkinkan meloloskan diri dari sergapan sistem kekebalan tubuh dan akibatnya adalah belum ditemukannya vaksin yang berhasil dibuat untuk mencegah infeksi virus hepatitis C (Anonim, 2007). B. Manifestasi Klinis Beberapa referensi ( membagi manifestasi klinis Hepatitis C menjadi 3 (tiga) stadium, yaitu : 1. Stadium praikterik berlangsung selama 4-7 hari. Pasien mengeluh sakit kepala, lemah, anoreksia, mual, muntah, demam, nyeri otot, dan nyeri diperut kanan atas. Urin menjadi lebih coklat. 2. Stadium ikterik yang berlangsung selama 3-6 minggu. Ikterus mula-mula terlihat pada sclera, kemudian pada kulir seluruh tubuh. Keluhan-keluhan berkurang, tetapi pasien masih lemas, anoreksia, dan muntah. Tinja mungkin berwarna kelabu atau kuning muda. Hati membesar dan nyeri tekan. 3. Stadium pascaikterik (rekonvalesensi). Ikterus mereda, warna urin dan tinja menjadi normal lagi. Penyembuhan pada anak-anak lebih cepat dari dewasa, yaitu pada akhir bulan kedua, karena penyebab yang biasa berbeda. Umumnya infeksi akut HCV tidak memberi gejala atau hanya bergejala minimal. Hanya 20-30% kasus saja yang menunjukan tanda-tanda hepatitis akut 7-8 minggu setelah terjadi paparan. Dari beberapa laporan yang berhasil mengidentifikasi pasien dengan infeksi hepatitis C akut, didapatkan adanya gejala malaise, mual-mual dan ikterus seperti halnya hepatitis akut akibat infeksi virus-virus hepatitis lainnya. ALT meninggi sampai beberapa kali diatas batas normal tetapi umunya tidak sampai lebih dari 1000 U/L. Umumnya, berdasarkan gejala klinis dan laboratorik saja tidak dapat dibedakan antara infeksi oleh virus hepatitis A, B maupun C (Gani, 2007). A. Komplikasi

Infeksi HCV merupakan masalah besar karena sebagian besar kasus menjadi hepatitis kronik yang dapat membawa pasien pada sirosis hati dan kanker hati (Gani, 2007). B. Diagnosa Tes darah termasuk Antibodi terhadap virus C (menunjukkan bahwa orang tersebut telah terekspos pada virus ini sebelumnya, tetapi tidak menunjukkan apakah virus ini masih ada di dalam darah bayi yang dilahirkan oleh wanita yang pernah menderita hepatitis C dapat mempunyai antibodi dari ibunya pada kurang lebih tahun pertama hidupnya, tetapi ini tidak berarti bahwa bayi tersebut terinfeksi) Tes asam nukleik, misalnya PCR (menunjukkan bahwa virus ini ada di dalam darah) Tes jumlah virus (menunjukkan berapa banyak virus ada di dalam darah) Tes genotipe (menujukkan jenis mana virus ada di dalam darah yang dapat membantu dalam merencanakan perawatan) Tes fungsi hati, yang mungkin menunjukkan kerusakan hati pada saat ini. Biopsi hati (di mana sedikit hati diambil dan diperiksa dengan mikroskop) menunjukkan jenis dan parahnya kerusakan hati dan mungkin membantu dalam merencanakan perawatan (Anonim, 2007). Beberapa jenis pemeriksaan utama yang biasa dilakukan untuk mendiagnosa dan memantau infeksi hepatitis C yaitu uji ELISA anti-HCV, HCV kualitatif, tes genotif, dan tes kesehatan hati. Telah digunakan suatu pemeriksaan imun enzim untuk mendeteksi antibodi terhadap HCV (anti-HCV), namun pemeriksaan ini banyak menghasilkan negatif-palsu, sehingga digunakan juga pemeriksaan rekombinan suplemental (recombinant assay, RIBA). Pemeriksaan ini diperkenalkan pada bulan Mei 1990 sebagai suatu tes donor darah, dan telah menurunkan secara bermakna angka HCV yang berkaitan dengan transfuse. Setelah virus hepatitis C dapat diklon, maka selayaknya vaksin untuk hepatitis ini menjadi tujuan praktis (Lindseth, 2006). C. Pengobatan

Langkah pertama dalam mengobati HCV adalah untuk menentukan jenis HCV. Ada enam jenis HCV yang diketahui, yang disebut "genotipe". Sebagian besar orang terinfeksi dengan genotipe 1. Beberapa orang terinfeksi genotipe 2 atau 3. Genotipe 1 lebih sulit diobati dibandingkan genotipe 2 atau 3. Pengobatan umum untuk HCV adalah kombinasi obat interferon dan ribavirin. Interferon harus disuntikkan di bawah kulit tiga kali seminggu, dan ribavirin adalah pil yang dipakai dua kali sehari. Obat ini mempunyai efek samping yang parah, termasuk gejala serupa flu, lekas marah, depresi, dan kadar rendah sel darah merah (anemia) atau sel darah putih. Pada 2001, bentuk interferon baru yang disebut "pegylated interferon" disetujui untuk mengobati HCV. Jenis obat ini bertahan lebih lama dalam darah. Hanya satu suntikan dibutuhkan setiap minggu. Pegylated interferon tampaknya lebih kuat dari bentuk asli. Obat ini juga dipakai dalam kombinasi dengan ribavirin. Perhimpunan Penelitian Hati Indonesia atau PPHI memberikan rekomendasi terapi hepatitis C kronik , standar emas terapi saat ini yakni kombinasi pegylated interferon alfa dan ribavirin (Jamil, 2009). Pengobatan HCV biasanya berjalan selama 6-12 bulan, tergantung genotipe HCV. Setelah pengobatan, kurang-lebih 40% pasien dengan HCV genotipe 1 dan 80 persen pasien dengan genotipe 2 atau 3 mempunyai viral load HCV yang tidak dapat dideteksi. Ini berarti jumlah HCV dalam darahnya terlalu rendah untuk dideteksikan. Persentase ini berlaku untuk orang dengan HCV, tidak untuk orang yang juga terinfeksi HIV. Angka untuk Odha lebih rendah. Orang dengan viral load HCV yang masih dapat dideteksi setelah pengobatan mungkin perlu terus memakai interferon pada dosis lebih rendah, disebut "terapi pemeliharaan." Beberapa unsur mempengaruhi keberhasilan pengobatan HCV. Anda akan lebih baik menanggapi pengobatan jika: Mempunyai HCV genotipe 2 atau 3 Mulai dengan viral load HCV yang lebih rendah Mulai sebelum HCV merusak hati Perempuan

Di bawah usia 40 tahun Tidak minum minuman beralkohol (Anonim, 2007)

Efek samping dari pengobatan Hepatitis C Efek samping dari interferon meliputi gejala flu yang parah, iritasi, depresi, kurang konsentrasi dan insomnia. Ribavirin dapat menyebabkan anemia, gout dan mempengaruhi persalinan. Kedua obat tersebut dapat menyebabkan iritasi kulit dan kelelahan. Sejumlah kecil orang yang menggunakan obat kombinasi ini akan mengalami psikosis dan keinginan bunuh diri. Untuk alasan tersebut, pengobatan dengan interferon tidak direkomendasikan untuk penderita dengan riwayat depresi mayor tak tekontrol. Anda juga bukan penderita yang tepat untuk obat ini jika anda menderita penyakit tiroid yang belum diobati, penyakit sel darah rendah atau autoimun, atau anda pecandu alcohol atau obat yang tidak ingin berhenti. Efek samping dari kombinasi obat ini biasanya menjadi parah pada minggu pertama pengobatan Hepatitis C, tetapi dapat dibantu dengan obat anti sakit dan antidepresan. Walaupun demikian, beberapa orang perlu menurunkan dosis interferon karena efek samping yang berat, bahkan harus menghentikannya. Transplantasi hati Pengobatan Hepatitis C terbaik pada penderita tingkat akhir adalah transplantasi hati. Walaupun demikian, jumlah orang yang menunggu untuk tranplantasi hati jauh lebih banyak daripada orang yang mendonasikan hatinya (Anonim, 2006).

A. Pencegahan

Belum ada vaksin untuk HCV. Cara terbaik untuk mencegah infeksi HCV adalah menghindari terkena darah yang terinfeksi HCV, misalnya tidak memakai peralatan suntik narkoba bergantian. Kita dapat mencegah penularan Hepatitis C. Cara penyebaran yang paling efesien Hepatitis C adalah melalui suntikan yang terkontaminasi oleh darah, misalnya di saat memakai obat suntik. Jarum suntik dan alat suntik sebelum digunakan harus steril dengan demikian menghentikan penyebaran penyakit Hepatitis C di antara pengguna obat suntik. Meskipun resiko penularan melalui hubungan seksual kecil, anda seharusnya menjalankan kehidupan seks yang aman. Penderita Hepatitis C yang memiliki lebih dari satu pasangan atau berhubungan dengan orang banyak harus memproteksi diri (misalnya dengan kondom) untuk mencegah penyebaran Hepatitis C. Jangan pernah berbagi alat seperti jarum, alat cukur, sikat gigi, dan gunting kuku, dimana dapat menjadi tempat potensial penyebaran virus Hepatitis C. Bila melakukan manicure, tato dan tindik tubuh pastikan alat yang dipakai steril dan tempat usahanya resmi. Orang yang terpapar darah dalam pekerjaannya, seperti pekerja kesehatan, teknisi laboratorium, dokter gigi, dokter bedah, perawat, pekerja ruang emergensi, polisi, pemadam kebakaran, paramedis, tentara atau siapapun yang hidup dengan orang yang terinfeksi, seharusnya sangat berhati-hati agar tidak terpapar darah yang terkontaminasi (Anonim, 2009).

BAB III SIMPULAN

Sampai saat ini vaksin hepatitis C belum ditemukan oleh karena itu langkah terbaik untuk menanggulanginya adalah dengan langkah pencegahan. Kita dapat mencegah penularan hepatitis C. Cara penyebaran yang paling efesien Hepatitis C adalah melalui suntikan yang terkontaminasi oleh darah, misalnya disaat memakai obat suntik atau transfusi darah. Jarum suntik dan alat suntik sebelum digunakan harus steril dengan demikian menghentikan penyebaran penyakit Hepatitis C diantara pengguna obat suntik. Meskipun penularan melalui hubungan seksual kecil, anda seharusnya menjalani kehidupan seks yang aman. Penderita hepatitis C yang memiliki lebih dari satu pasangan

atau berhubungan dengan orang banyak harus memproteksi diri (misal dengan kondom) untuk mencegah penyebaran Hepatitis C.

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2006. Pengobatan Hepatitis C. apotik.medicastore.com Anonim, 2009. Pencegahan Penularan Hepatitis C. www.medicastore.com Gani, R.A., 2007. Hepatitis C dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan FKUI Jamil, 2009. Waspadai Virus Hepatitis C. www.e-medicine.com Lindseth, G.N., 2006. Gangguan Hati, Kandung Empedu, dan Pankreas dalam Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit edisi 6. Jakarta : EGC Mansjoer, A., 2007. Kapita Selekta Kedokteran / editor. Jakarta : Media Aesculapius

www.medicastore.com