Anda di halaman 1dari 17

METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

(Research and Development / R&D) A. Pengertian Metode penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa Inggrisnya Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Untuk menghasilkan produk tertentu digunakan penelitian yang bersifat analisis kebutuhan dan untuk menguji keefektifan produk tersebut supaya berfungsi di masyarakat luas, maka diperlukan penelitian untuk menguji keefektifan produk tersebut. Jadi penelitian dan pengembangan bersifat longitudinal (bertahap bisa multi years). Metode penelitian dan pengembangan telah banyak digunakan pada bidangbidang Ilmu Alam dan Teknik. Hamper semua produk teknologi diproduk dan dikembangkan melalui penelitian dan pengembangan. Namun demikian metode penelitian dan pengembangan bisa juga digunakan dalam bidang ilmu-ilmu social seperti psikologi, sosiologi, pendidikan, manajemen, dan lain-lain. Penelitian dan pengembangan (research and development) pada industry merupakan ujung tombak dari suatu industry dalam menghasilkan produk-produk baru yang dibutuhkan oleh pasar. Namun dalam bidang social dan pendidikan peranan research and development masih sangat kecil. Penelitian dan pengembangan yang menghasilkan produk tertentu untuk bidang administrasi, pendidikan dan social lainnya masih rendah. Padahal banyak produk tertentu dalam bidang pendidikan dan social yang perlu dihasilkan melalui research and development. B. Langkah-Langkah Penelitian dan Pengembangan 1. Potensi dan Masalah Penelitian dapat berangkat dari adanya potensi atau masalah. Potensi adalah segala sesuatu yang bila didayagunakan akan memiliki nilai tambah. Sebagai contoh, di
1

pantai Selatan Pulau Jawa, terdapat potensi angin dan sinar matahari, kedua potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi energy mekanik yang dapat digunakan untuk menggerakkan sesuatu, misalnya untuk generator pembangkit tenaga listrik atau untuk turbin air. Dalam bidang social dan pendidikan, misalnya kita punya potensi penduduk usia kerja yang cukup banyak, sehingga melalui model pendidikan tertentu dapat diberdayakan sebagai tenaga kerja pertanian atau industry yang berbasis bahan mentah alam Indonesia. Dalam bidang budaya/kultur, kita memiliki budaya patenalistik. Budaya tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun bangsa kalau kita mempunyai pemimpin yang kuat yang dapat menjadi teladan dalam semua perilaku. Berdasarkan budaya paternalistic tersebut selanjutnya dapat dikembangkan model kepemimpinan yang efektif untuk Indonesia. Semua potensi akan berkembang menjadi masalah bila kita tidak dapat mendayagunakan potensi-potensi tersebut. Namun demikian, masalah juga dapat dijadikan potensi, apabila kita dapat mendayagunakannya. Masalah, seperti telah dikemukakan adalah penyimpangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi. Masalah ini dapat diatasi melalui R&D dengan cara meneliti sehingga dapat ditemukan suatu model, pola atau system penanganan terpadu yang efektif yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Model, pola, dan system ini akan ditemukan dan diaplikasikan secara efektif kalau dilakukan penelitian dan pengembangan. Tahap pertama adalah melakukan penelitian untuk menghasilkan informasi. Metode penelitian yang dapat digunakan adalah metode survey atau kualitatif. Berdasarkan data yang diperoleh selanjutnya dapat dirancang model penanganan yang efektif. Untuk mengetahui efektivitas model tersebut, maka perlu diuji. Pengujian dapat menggunakan metode eksperimen. Setelah model teruji, maka dapat diaplikasikan untuk mengatasi masalah. Potensi dan masalah yang dikemukakan dalam penelitian harus ditunjukkan dengan data empiric. Data tentang potensi dan masalah tidak harus dicari sendiri, tetapi bisa berdasarkanlaporan penelitian orang lain, atau dokumentasi laporan kegiatan dari perorangan atau instansi tertentu yang masih up to date.

2. Mengumpulkan Informasi Setelah potensi dan maslah dapat ditunjukkan secara factual dan uptodate, maka selanjutnya perlu dikumpulkan berbagai informasi yang dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk tertentu yang diharapkan dapat mengatasi masalaha tersebut. Disini diperlukan metode penelitian tersendiri. Metode apa yang akan digunakan untuk penelitian tergantung permasalahan dan ketelitian tujuan yang ingin dicapai. 3. Desain Produk Produk yang dihasilkan dalam penelitian Research and Development bermacammacam. Dalam bidang teknologi, orientasi produk teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan manusia adalah produk yang berkualitas, hemat energy, menarik, harga murah, bobot ringan, ergonomis, dan bermanfaat ganda. Dalam bidang pendidikan, produk-produk yang dihasilkan melalui penelitian R&D diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pendidikan, yaitu lulusan yang jumlahnya banyak, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan. Hasil akhir dari kegiatan penelitian dan pengembangan adalah berupa desain produk baru, yang lengkap dengan spesifikasinya. Desain produk harus diwujudkan dalam bagan atau bagan, sehingga dapat digunakan sebagai pegangan untuk menilai dan membuatnya. Dalam bidang teknik, desain produk harus dilengkapi dengan penjelasan mengenai bahan-bahan yang digunakan untuk membuat setiap komponen pada produk tersebut, ukuran dan toleransinya, alat yang digunakan untuk mengerjakan, serta prosedur kerja. Dalam produk yang beerupa system perlu dijelaskan mekanisme penggunaan system tersebut, cara kerja, berikut kelebihan dan kekurangannya. Pada produk pendidikan, hasil akhir dari kegiatan ini adalah berupa desain metode yaitu rancangan metode pembelajaran baru. Deasin metode ini masih bersifat hipotetik. Dikatakan gipotetik karena efektivitasnya belum terbukti, dan akan dapat diketahui setelah melalui pengujian-pengujian. Setiap desain produk perlu ditunjukkan dalam gambar kerja, bagan, atau uraian ringkas, sehingga akan memudahkan fihak lain untuk

memahaminya.

Efektivitas

metode

mengajar

baru

bisa

diukur

dari

mudah

diimplementasikan, suasana belajar menjadi kondusif dan hasil pembelajaran meningkat. 4. Validasi Desain Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan produk, dalam hal ini metode mengajar baru secara rasional akan lebih efektif dari yang lama atau tidak. Dikatakan secara rasional, karena validasi disini masih bersifat penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum fakta lapangan. Validasi produk dapat dilakukan dengan cara menghadirkan beberapa pakar atau tenaga ahli yang sudah berpengalaman untuk menilai produk baru yang dirancang tersebut, sehingga selanjutnya dapat diketahui kelemahan dan kekuatannya. Validasi desain dapat dilakukan dalam forum diskusi. Sebelum diskusi peneliti mempresentasikan proses penelitian sampai ditemukan desain tersebut, berikut keunggulannya. 5. Perbaikan Desain Setelah desain produk, divalidasi melalui diskusi dengan pakar dan para ahli lainnya, maka kan dapat diketahui kelemahannya. Kelemahan tersebut selanjutnya dicoba untuk dikurangi dengan cara memperbaiki desain. Yang bertugas memperbaiki desain adalah peneliti yang mau menghasilkan produk tersebut. 6. Uji Coba Produk Dalam bidang teknik, desain produk yang telah dibuat tidak bisa langsung diuji coba dulu, tetapi harus dibuat terlebih dulu menjadi barang, dan barang tersebut yang diujicoba. Dalam bidang pendidikan, desain produk seperti metode mengajar baru dapat langsung diujicoba, setelah divalidasi dan revisi. Uji coba tahap awal dilakukan dengan simulasi penggunaan metode mengajar tersebut. Setelah disimulasikan, maka dapat diujicobakan pada kelompok yang terbatas. Untuk itu pengujian dapat dilakukan dengan eksperimen, yaitu membandingkan efektivitas metode mengajar lama dengan yang baru. Indikatornya efektivitas mengajar

baru adalah, kecepatan pemahaman murid pada pelajaran lebih tinggi, murid bertambah kreatif dan hasil belajar meningkat. Eksperimen dapat dilakukan dengan cara membandingkan dengan keadaan sebelum dan sesudah memakai metode mengajar baru (before-after) atau dengan membandingkan dengan kelompok yang tetap menggunakan metode mengajar lama. Dalam hal ini ada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

O1

O2

Gambar 16.2a. Desain eksperimen (before-after). O1 nilai sebelum treatment dan O2 nilai sesudah treatment Berdasarkan gambar 16.2a tersebut dapat diberikan penjelasan sebagai berikut. Eksperimen dilakukan dengan membandingkan hasil observasi O1 dan O2. O1 adalah nilai kecepatan pemahaman, kreativitas dan hasil belajar sebelum diajar dengan metode mengajar baru, sedangkan O2 adalah nilai kecepatan pemahaman, kreativitas dan hasil belajar murid setelah diajar dengan metode mengajar baru, Evektivitas metode mengajar baru diukur dengan cara membandingkan antara nilai O2 dengan O1. Bila nilai O2 lebih besar daripada O1, maka metode mengajar tersebut efektif. Metode eksperimen yang ke dua ditunjukkan pada gambar 16.2b sebagai berikut.

R R

O1 O3
group desain)

O2 O4

Gambar 16.2b. Desain eksperimen dengan kelompok kontrol. (Pretest-postest control

Berdasarkan gambar 16.2b tersebut dapat diberikan penjelasan sebagai berikut. Sebelum metode mengajar baru dicobakan, maka dipilih kelompok atau kelas tertentu yang akan diajar dengan metode mengajar baru tersebut. Bila kelompok dalam kelas tersebut jumlah muridnya banyak, maka eksperimen dilakukan pada sampel yang dipilih secara random. Kelompok pertama yang akan diajar dengan metode mengajar baru disebut kelompok eksperimen, sedangkan kelompok yang tetap menggunakan metode mengajar lama disebut kelompok kontrol. R berarti pengambilan kelompok eksperimen dan kontrol dilakukan secara random. Kedua kelompok tersebut selanjutnya diberi pretest atau melalui pengamatan untuk mengetahui posisi awal (kecepatan pemahaman, kreativitas dan hasil belajar) ke dua kelompok tersebut. Bila ke dua kelompok tersebut posisinyan sama atau tidak berbeda secara signifikan, maka kelompok tersebut sudah sesuai dengan kelompok yang akan digunakan untuk eksperimen. Bila posisi kemampuan ke dua kelompok tersebut berbeda secara signifikan, maka pengambilan kelompok perlu diulang sampai diperoleh posisi kemampuan awalnya tidak berbeda secara signifikan. Jadi O1 adalah nilai awal kelompok eksperimen, dan O3 adalah nilai awalkelompok kontrol. Setelah posisi ke dua kelompok tersebut seimbang (O1 tidak berbeda dengan O3), maka kelompok eksperimen diberi treatment/perlakuqn untuk diajar dengan metode mengajar baru, dan kelompok kontrol diajar dengan metode mengajar yang lama. Eksperimen dilakukan beberapa bulan sampai posisi kelompok eksperimen terbiasa diajar dengan menggunakan metode mengajar baru tersebut. Setelah itu maka kecepatan pemahaman murid terhadap pelajaran, perubahan kreativitas dan hasil belajar pada kedua kelompok tersebut diukur. Kecepatan pemahaman murid pada pelajaran, perubahan kreativitas murid, dan hasil belajar kerja, diukur dengan instrumen sehingga diperoleh data kuantitatif. Dalam pengujian ini, O2 berarti prestasi kelompok eksperimen setelah diajar dengan metode mangajar baru, dan O4 adalah prestasi kelompok kontrol yang diajar dengan menggunakan metode kerja lama. Bila nilai O2 secara signifikan lebih tinggi dari O4, maka metode mengajar baru tersebut lebih efektif dan bila dibandingkan dengan metode mengajar yang lama.
6

Pengujian signikansi efektivitas metode mengajar baru, bila data berbentuk interval dan dilakukan pada dua kelompok maka dapat menggunakan t-test berpasangan (related), sedangkan bila dilakukan pada lebih dari dua kelompok dapat menggunakan Analisis Varians (Anava). Berikut ini diberikan contoh pengujian signifikansi efektivitas dan efisiensi metode mengajar baru melalui eksperimen model (before-after). Dalam eksperimen digunakan 10 orang murid yang diambil secara random (penelitian yang sebenarnya tidak hanya 10 murid). Selanjutnya 10 orang murid tersebut diminta untuk menilai kecepatan pemahaman terhadap pelajaran, kreativitas, dan hasil belajar sebelum diajar dengan menggunakan metode baru dan sesudah menggunakan metode baru. Data sebelum diajar dengan menggunakan metode mengajar baru ditunjukkan pada tabel 16.2 dan sesudah menggunanakn metode mengajar baru ditunjukkan pada tabel16.3. Instrumen penelitian untuk menguji metode mengajar baru ditunjukkan pada tebel 16.1 berikut (hanya dengan 3 indikator). Instrumen tersebut selanjutnya diberikan kepada 10 murid yang telah diajar dengan menggunakan metode lama dan baru. Berdasarkan instrumen tersebut, mohon diberikan nilai efektivitas metode mengajar lama dan baru berdasarkan kecepatan pemahaman terhadap pelajaran, perubahan kreativitas, dan hasil belajar. rentang skor setiap indikator adalah sebagai berikut, Kecepatan pemahaman: sangat cepat (4), cepat (3), agak cepat (2), lambat (1). Kreatifitas sangat tinggi (4), tinggi (3), agak tinggi (2), rendah (1). TABEL 16.1 INSTRUMEN UNTUK MENGUKUR EFEKTIVITAS METODE MENGAJAR BARU Metode mengajar lama 1 1 1 2 2 2 3 3 3 4 4 4 Aspek-aspek Kinerja Sistem Kecepatan Pemahaman thd pelajaran Kreativitas Hasil belajar Metode Mengajar Baru 1 1 1 2 2 2 3 3 3 4 4 4

Data penilaian dari 10 responden/murid terhadap efektivitas metode mengajar lama ditunjukkan pada tabel 16.2 dan metode baru ditunjukkan pada tabel 16.3 berikut. Untuk menghitung rata-rata efektivitas metode lama dan baru pertama-tama harus ditentukan skor kriterium/ideal untuk sistem kerja tersebut. Skor ideal = 4 x 3 x 10 = 120, (4 = skor jawaban tertinggi, 3 = tiga butir instrumen; 10 = jumlah responden). Selanjutnya skor ideal untuk setiap butir instrumen = 4 x 10 = 40 (4 skor tertinggi; 10 jumlah responden). Berdasarkan tabel 16.2 diperoleh jumlah data = 44. Dengan demikian efektifitas metode mengajar lama secara keseluruhan = 44 : 120 = 0,36 atau 36% dari kriteria yang diharapkan. Bila dilihat efektivitas metode mengajar berdasarkan kecepatan pemahaman terhadap pelajaran = 15 : 40 = 0,375 atau 37,5% dari kriteria yang diharapkan. Selanjutnya bila dilihat dari aspek kreativitas = 18 : 40 = 0,45 atau 45% dari kriteria yang diharapkan. Bila dilihat dari aspek hasil belajar = 11 : 40 = 0,275 atau 27,5% dari kriteria yang diharapkan. Jadi efektivitas metode mengajar lama terendah pada aspek hasil belajar murid, baru mencapai 27,5% dari yang diharapkan. Selanjutnya untuk menghitung efektivitas metode mengajar baru, cara menghitung seperti menghitung efektivitas metode mengajar yang lama. Skor ideal untuk seluruh sistem = 4 x 3 x 10 =120. Skor setiap butir = 4 x 10 = 40.
TABEL 16.2 KINERJA SISTEM KERJA LAMA

No. Responden 1. 2. 3. 4. 5. 6. a 1 2 1 2 1 1

Skor untuk butir no: b 2 2 2 2 1 2 c 1 1 1 2 1 1

Jumlah 4 5 4 6 3 4

7. 8. 9. 10. Jumlah
Keterangan: a b c = = =

2 2 1 2 15

1 2 2 2 18

1 1 1 1 11

4 5 4 5 44

kecepatan pemahaman terhadap pelajaran kreativitas hasil belajar

Berdasarkan ketentuan tersebut, maka efektivitas metode mengajar baru secara keseluruhan_= 97 : 120 = 0,808 atau 80,8% dari kriteria yang diharapkan. Dari perhitungan sudah terlihat adanya perbedaan efektivitas antara metode mengajar lama dengan baru, dimana efektivitas metode mengajar lama = 36% dari yang diharapkan, dan metode mengajar baru = 80,8% dari yang diharapkan. Selanjutnya bila dilihat pada aspek kecepatan pemahaman murid terhadap pelajaran = 37 : 40 = 0,925 atau 92,5% dari yang diharapkan. Kreativitas murid = 24 : 40 = 0,60 atau 60% dari yang diharapkan. Hasil belajar = 36 : 40 = 0,90 atau 90% dari yang diharapkan. Untuk efektivitas metode mengajar baru yang terendah adalah pada aspek kreativitas murid, yaitu baru mencapai 60% dari yang diharapkan.
TABEL 16.3 KINERJA SISTEM KERJA LAMA No. Responden 1. 2. 3. 4. 5. 6. a 3 4 3 4 3 4 3 3 3 2 2 2 Skor untuk butir no: b c 4 3 3 4 4 4 10 10 9 10 9 10 9 Jumlah

7. 8. 9. 10. Jumlah

4 4 4 4 37

2 3 2 2 24

4 3 3 4 36

10 10 9 10 97

Perbandingan kinerja sistem lama dan baru ditunjukkan pada tabel 16.4 berikut
TABEL 16.4 PERBANDINGAN SISTEM KERJA LAMA DAN BARU

Metode Mengajar lama 37,5%

Aspek-aspek Kinerja Sistem Kecepatan pemahaman murid thd pelajaran

Metode mengajar baru 92,5%

45,0% 27,5% 36,0%

Kreativitas murid Hail belajar Rata-rata

60,0% 90,0% 80,8%

. Berdasarkan tabel 16.4 tersebut terlihat bahwa efektivitas metode mengajar baru jauh lebih tinggi dari sistem lama. Rata-rata efektivitas metode mengajar sistem lama = 36,0% dan metode mengajar baru 80,8%. Kecepatan pemahaman murid terhadap pelajaran dengan metode lama = 37,5% dan metode baru 92,5%. Kreativitas murid yang diajar dengan metode lama = 45% dan metode baru 60%. Hasil belajar murid yang diajar dengan metode mengajar lama 27,5% dan metode baru 90%. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa metode mengajar baru dapat meningkatkan kecepatan pemahaman murid terhadap pelajaran dari 37,5% manjdi 92,5%; kreativitas murid dari 45% menjadi 60% dan hasil belajar murid dari 27,5% menjadi 90%. Kesimpulannya metode mengajar baru lebih efektif dari metode mengajar lama. Untuk membuktikan signifikansi perbedaan sistem kerja lama dan baru tersebut, perlu diuji secara statistik dengan t-test berkorelasi (related). Rumus yang digunakan ditunjukkan pada rumus 16.1.
10

Rumus 16.1

Dimana : X1 X2
S1 S2 S12 S22 r

: :
: : : : :

Rata-rata sampel 1 (sistem kerja lama) Rata-rata sampel 2 (sistem kerja baru) Simpangan baku sampel 1 (sistem kerja baru) Simpangan baku sampel 2 (sistem kerja baru) Varians sampel 1 Varians sampel 2 Korelasi antara data dua kelompok

Untuk dapat menggunakan rumus tersebut, maka perlu dicari terlebih dulu korelasi nilai efektivitas metode mengajar lama dan baru, rata-rata, simpangan baku dan varians. Yang dikorelasikan adalah nilai total (nilai kolom paling kanan tabel 16.2 dan 16.3). Nilai efektivitas meode mengajar lama dan baru ditunjukkan pada tabel 16.5 berikut. Perhitungan menggunakan SPSS sehingga dapat ditemuku harga-harga yang diperlukan untuk menghitung t.
TABEL 16.5 NILAI-NILAI KINERJA SISTEM YANG DIKORELASIKAN No. 1.

X1
4 5 4 6

X2
10 10 9 10 9 10 10 10 9 11

2. 3.
4. 5. 6. 7. 8. 9.

3
4 4 5 4

10.
X

5 44 4,4 0,84 0,711 0,6

10 97 9,7 0,48 0,23 0,6

X S

S2
r

Dalam penelitian ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut Ho : Efektivitas metode kerja baru baru lebih kecil atau sama dengan sistem kerja lama Ha Ho Ha : Efektivitas metode mengajar baru lebih baik dari dari metode kerja lama : 1 2 : 1 2

Pengujian dengan menggunakan t-test berkorelasi uji fihak kanan. Menggunakan uji fihak kanan karena, hipotesis alternatf (Ha) berbunyi "lebih baik" 



Untuk membuat keputusan, apakah perbedaan itu signifikan atau tidak, maka harga t hitung tersebut perlu dibandingkan dengan harga t tabel dengan dk n-2 = 8. Berdasarkan lampiran tabel II dalam Nilai-nilai dalam distribusi t, bila dk 8, untuk uji satu fihak dengan taraf kesalahan 5%, maka harga t tabel =1,86. Bila harga t hitung jatuh pada daerah penerimaan Ha, maka Ha yang menyatakan bahwa sistem kerja baru lebih baik dari sistem kerja lama diterima. Berdasarkan perhitungan ternyata t hitung
12

-24,832 jatuh pada penerimaan Ha atau penolakan Ho. (lihat gambar 16.3) dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (dapat digeneralisasikan) efektivitas metode mengajar baru dan lama, di mana metode mengajar baru lebih efektif dari metode yang lama, baik pada aspek kecepatan pemahaman mur id terhadap pelajaran, kreativitas, dan hasil belajar siswa. Daerah Pener imaan Ha

-24, 83

1,8

Dengan terujinya produk yang berupa metode mengajar tersebut, maka Tangkah pengujian produk untuk tahap terbatas ini dinyatakan selesai, langkah selanjutnya adalah revisi produk. 7. Revisi Produk Pengujian evektivitas metode mengajar baru pada sampel yang terbatas tersebut menunjukkan bahwa metode mengajar baru ternyata lebih efektif dari metode lama. Perbedaan sangat signifikan, sehingga metode mengajar baru tersebut dapat diberlakukan pada kelas yang lebih luas dimana sampel tersebut diambil. Namun dari hasil pengujian terlihat bahwa kreativitas murid baru mendapatkan nilai 60% dari yang diharapkan. Untuk itu maka desain metode mengajar perlu direvisi agar kreativitas murid dalam belajar dapat meningkat pada gradasi yang tinggi. Setelah direvisi, maka perlu diujicobakan lagi kelas yang lebih luas. Cara pengujian seperti contoh di atas. Setelah metode mengajar baru diterapkanselama setengah tahun atau satu tahun maka perlu dicek kembali, mungkin ada kelemahannya, kalau ada perlu segera diperbaiki lagi. Setelah diperbaiki maka dapat diproduksi masal, atau digunakan pada lembaga pendidikan yang lebih luas. Pengujian metode mengajar dengan pengumpulan data melalui kuesioner ini dipandang kurang akurat, maka dalam kenyataan pengujian kecepatan pemahaman terhadap pelajaran diukur dengan waktu yang seswungguhnya (satuan menit) dan hasil
13

belajar tidak diukur dengan menggunakan kuesioner, tetapi melalui test dengan instrumen yang valid dan reliabel. Bila pengujian produk dalam hal ini metode mengajar baru menggunakan desain pretest posttes control group design ( ada kelompok eksperimen dan kontrol), maka untuk mencari efektivitas dan sefisiensi sistem kerja baru, dilakukan dengan cara menguji signifikansi antara kelompok yang diajar dengan metode mengajar baru dengan kelompok yang tetap diajar dengan metode lama. Dalam hal ini adalah menguji signifikansi O2 dan O4 pada gambar 16.1b dia atas.

8. Uji Coba Pemakaian Setelah pengujian terhadap produk berhasil, dan mungkin ada revisi yang tidak terlalu penting, maka selanjutnya produk yang berupa metode mengajar baru tersebut diterapkan dalam lingkup lembaga pendidikan yang luas. Dalam operasinya, metode baru tersebut, tetap harus dinilai kekurangan atau hambatan yang muncul guna untuk perbaikan lebih lanjut.

9. Revisi Produk Revisi produk dilakukan, apabila dalam pemakaian dalam lembaga pendidikan yang lebih luas terdapat kekurangan dan kelemahan. Dalam uji pemakaian, sebaiknya pembuat produk selalu mengevaluasi bagaimana kinerja produk dalam hal ini adalah metode mengajar. Perusahaan kendaraan bermotor, pesawat terbang dan teknologiyang lain selalu mengevaluasi kinerja produknya di lapangan, untuk mengetahui kelemahankelemahan yang ada, sehingga dapat digunakan untuk penyempurnaan dan pembuatan produk baru lagi.

10. Pembuatan Produk Masal Bila produk yang berupa metode mengajar baru tersebut telah dinyatakan efektif dalam beberapa kali pengujian, maka metode mengajar baru tersebut dapat diterapkan pada setiap lembaga pendidikan. Pada produk teknologi telah dapat dibuat produk masal. Pembuatan produk masal ini dilakukan apabila produk yang telah diuji coba dinyatakan efektif dan layak untuk
14

diproduksi masal. Sebagai contoh pembuatan mesin untuk mengubah sampah untuk menjadi bahan yang bermanfaat, akan diproduksi masal apabila berdasarkan studi kelayakan baik dari aspek teknologi, ekonomi dan lingkungan memenuhi. Untuk dapat memproduksi masal, maka peneliti perlu bekerja sama dengan perusahaan.

C.

Laporan Penelitian R&D Seperti telah dikemukakan bahwa metode penelitian dan pengembangan (Research and Development / R&D) adalah merupakan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti sehingga menghasilkan produk baru, dan selanjutnya menguji keefektifan produk tersebut. Dengan demikian laporan penelitian yang dibuat harus selalu dilampiri dengan produk yang dihasilkan berikut spesifikasi dan penjelasannya. Lampiran berupa produk yang dihasilkan tersebut, dibuat dalam buku tersendiri, dan diberikan penjelasan tentang kehebatan produk tersebut berdasarkan hasil uji coba, serta cara menggunakan produk tersebut. Sistematika laporan adalah seperti berikut.

15

SISTEMATIKA LAPORAN PENELITIAN R&D

HALAMAN JUDUL ABSTRAK PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan masalah C. Tujuan D. Manfaat

BAB II

LANDASAN HIPOTESIS

TEORI,

KERANGKA

BERFIKIR

DAN

PENGAJUAN

A. Deskripsi Teori B. Kerangka berpikir C. Hipotesis (Produk yang akan dihasilkan) BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Langkah-langkah penelitian B. Metode Penelitian Tahap I 1. Populasi sampel sumber data 2. Teknik Pengumpulan Data 3. Instrumen Penelitian 4. Analisis Data 5. Perencanaan Desain Produk 6. Validasi Desain C. Metode Penelitian Tahap II 1. Model Rancangan Eksperimen Untuk Menguji Produk yang telah dirancang
16

2. Populasi dan Sampel 3. Teknik Pengumpulan Data 4. Instrumen Penelitian 5. Teknik Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Desain Awal Produk (gambar dan penjelasan) B. Hasil pengujian pertama C. Revisi Produk (gambar setelah direvisi dan penjelasannya) D. Hasil Pengujian Tahap ke II E. Revisi Produk (gambar setelah direvisi dan penjelasannya) F. Pengujian Tahap ke III (bila perlu) G. Penyempurnaan Produk (gambar terakhir dan penjelasannya) H. Pembahasan Produk BAB V KESIMPULAN DAN SARAN PENGGUNAANNYA A. Kesimpulan B. Saran Penggunaan DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN INSTRUMEN LAMPIRAN DATA LAMPIRAN PRODUK YANG DIHASILKAN BERIKUT BUKU PENJELASANNYA

17