Anda di halaman 1dari 7

TUGAS MEET THE EXPERT

ORGAN OF GASTROINTESTINAL SYSTEM ACUT APPENDICITIS

disusun oleh: KELOMPOK TUTORIAL C Ketua: Ilham Rizky Ernawan Anggota: Novanty Alida Ivan Budiarto Moch. F. Afif Mochyadin Asep Tami Arif Ilhami Resta Yuniar Astri Restuastuti M. Muhammad Rizky Purwanto Nyayu Sania Dwi Putri C. Putri Karlina Wulandari Indariiani Puspitasari (10100104050) (10100105001) (10100105012) (10100105013) (10100105015) (10100105017) (10100105020) (10100105033) (10100105037) (10100105039) (10100105008)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG BANDUNG 2006

SISTEM PENCERNAAN
Sistem pencernaan terdiri dari saluran pencernaan (alimentar), yaitu tuba muskular panjang yang merentang dari mulut sampai anus, dan organorgan aksesoris, seperti gigi, lidah, kelenjar saliva, hati, kandung empedu, dan pancreas. Saluran pencernaan yang terletak di bawah area diafragma disebut saluran gastrointestinal (GI).

A. Fungsi System Pencernaan. Fungsi utama system ini adalah untuk menyediakan makanan, air, dan elektrolit bagi tubuh dari nutrient yang dicerna sehingga siap diabsorpsi. Pencernaan berlangsung secara mekanik dan kimia, dan meliputi prosesproses berikut: 1. Ingesti: masuknya makanan ke dalam mulut. 2. Sekresi: pengeluaran air, asam, buffer, dan enzim ke dalam lumen dari GI track.

3. Pencampuran

dan

pendorongan:

mengaduk,

melumatkan,

dan

mendorong makanan menuju GI track. 4. Digesti: penguraian makanan secara mekanik dan kimia sehingga absorpsi dapat berlangsung. 5. Absorpsi: pergerakan produk akhir pencernaan dari lumen GI track ke dalam sirkulasi darah dan limfatik sehingga dapat digunakan oleh sel tubuh. 6. Defekasi: proses eliminasi zat-zat sisa metabolisme atau zat-zat sisa yang tidak tercerna, juga bakteri, dalam bentuk feses dari GI track. B. Lapisan Saluran Pencernaan Dinding saluran pencernaan tersusun dari 4 lapisan jaringan dasar dari lumen (rongga sentral) ke arah luar. Komponen lapisan pada setiap regia bervariasi sesuai fungsi regia.

1. a. b.

Mukosa (membran mukus) tersusun dari tiga lapisan. Epitelium yang melapisi berfungsi untuk perlindungan, Lamina propia adalah jaringan ikat areolar yang sekresi, dan absorpsi. menopang epitelium. Lamina ini mengandung pembuluh darah, limfatik, nodulus limfe, dan bebrapa jenis kelenjar. c. Muskularis mukosa terdiri dari sirkular dalam yang tipis dan lapisan otot polos longitudinal luar.

2.

Submukosa terdiri dari jaringan ikat areolar yang mengandung

pembuluh darah, pembuluh limfatik, beberapa kelenjar submukosal, dan pleksus serabut saraf, serta sel-sel ganglion yang disebut pleksus Meissner ( pleksus submukosal). Submukosa mengikat mukosa ke muskularis eksterna. 3. Muskularis eksterna terdiri atas dua lapisan otot yaitu lapisan sirkular dalam dan lapisan longitudinal luar. Kontraksi dari kedua otot ini mengakibatkan gelombang peristaltik yang menggerakan isi saluran ke arah depan. 4. Serosa (adventisia), lapisan keempat dan paling luar juga disebut peritonium viseral.

APENDISITIS AKUT
Apendiks merupakan evaginasi caecum yang ditandai oleh lumen yang relatif kecil, sempat, dan iregular akibat adanya folikel-folikel limfoid dalam dindingnya. Stryktur umumnya sama seprti struktur usus besar. Akan tetapi, ia mengandung lebih sedikit dan lebih pendek kelenjar-kelenjar intestinal dan tidak mempunyai teniae coli. Apendisitis akut merupakan salah satu penyakit saluran pencernaan yang paling umum ditemukan dan yang paling sering memberikan keluhan abdomen yang akut (acut abdomen). Pria sedikit lebih sering mendeita apendisitis daripada perempuan. ETIOLOGI mungkin untuk DAN PATOGENESIS. Sebab yang paling menjelaskan kejadian ini adalah penyumbatan lumen apendiks oleh fekalit (tinja yang mengeras), meskipun ada juga sebab-sebab lain yang tidak umum (seperti mukus apendiks apendiks Kemungkinan dinding tumor, yang cacing). Dengan oleh adanya sumbatan itu maka aliran disekresikan terhalang menjadi selanjutnya teregang. ini ia

peregangan sehingga

mempengaruhi aliran darah pada apendiks menjadi mudah diserang oleh flora normal yang asalnya tidak patogen. Pada kasus di mana tidak ditemukan sumbatan lumen yang jelas, keadaan ini mungkin disebabkan oleh penekukan apendiks, hiperpelasi limfoid yang disebabkan oleh virus, dengan bertambahnya usia terjadi striktura oleh jaringan ikat. MORFOLOGI. Pada permulaan apendisitis akut, ditemukan sedikit eksudat neutrofilik pada lapisan mukosa, submukosa, dan muskularis. Pembuluh darah pada lapisan subserosa terbendung dan sering dikelilingi oleh netrofil yang bermigrasi. Bendungan ini merupakan lapisan serosa yang tadinya mengkilap dan berwarna kemerahan. Dengan berkembangnya penyakit, eksudat neutrofil itu menjadi semakin jelas, dan lapisan serosa dilapisi oleh suatu bahan fibropurulen. Fokus nekrosis supuratif terbentuk di dalam dinding apendiks, dan

pada stadium ini disebut sebagai apendisitis supuratif akut. Akhirnya edema yang terjadi karena proses peradangan mempengaruhi suplai darah ke apendiks dan terjadilah nekrosis gangnerosa dengan daerah tukak berdarah yang luas berwarna kehijauan serta fokus nekrosis yangberwarna hijau kehitaman meluas disepanjang dinding serosa. Stadium apendisitis gangrenosa akut ini, dapat segera menimbulkan ruptur apendiks. Pada saat operasi, sering ditemukan fakelit di dalam lumen apendiks yang meradang, tetapi hal ini tidak selalu terjadi. KEADAAN KLINIS. Pada apendisitis akut yang klasik, perjalanan penyakitnya berkembang dalam satu atau dua hari, dimulai dari perasaan tidak enak pada daerah sekitar umbilikus, disertai dengan anoreksia, nausea, dan vomitus. Pada waktu terjadi peregangan apendiks, rasa tidak enak itu mulai berpindah ke perut kuadran kanan bawah dan keluhannya berubah menjadi rasa nyeri yang dalam danmenetap, disertai dengan penegangan dinding perut pada saat dilakukan palpasi. Akhirnya, bila proses radang itu berlanjut, bakteri yang ada di dalam usus dapat terjadi perforasi yang nyata. Keterlibatan peritoneum paritealis menyebabkan nyeri hebat dan rebound tenderness (nyri yang timbul pada saat tekanan di dalam rongga perut dihilangkan). Pada stadium ini terdapat demam dan leukositosis. Bila operasi penggakatan apendiks ditunda pada keadaan ini, dapat timbul komplikasi sebagai berikut: 1. Peritonitis umum 2. Terbentuknya abses di sekitar apendiks (periappendiceal abscess formation) 3. Peradangan vena porta (pylephlebitis), dengan trombosis vena porta 4. Terbentuknya abses hati 5. Septikemia Angka kematian dari apendisitis adalah jumlah kematian yang terjadi karena keterlambatan penangan kasus. Angka kematian operatif sebelum terjadi perforasi adalah 0 0,3 %, tetapi minimal 1 % setelah terjadinya perforasi, yang pada orang yang lanjut usia jumlahnya meningkat sampai 15%.

REFERENSI Junquera dan Carneiro. 1995. Histologi Dasar Edisi 3. Terjemahan Adji Dharma. Basic Histology. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Robinson dan Kumar. 1995. Buku Ajar Patologi II Edisi 4. Terjemahan Staf Pengajar Laboraturium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Basic Pathology 4. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Sloane, Ethel. 2004. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula. Terjemahan James Veldman. Anatomy and Phisiology: An Easy Learner. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Tortora dan Grabowski. 2003. Principles of Anatomy & Physiology Tenth Edition. USA: Wiley.