Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Pendidikan Alamat No RM Tanggal masuk RS : Ny. S : 49 tahun : Perempuan : Islam : Ibu Rumah Tangga : D3 : Cipinang, Jakarta Timur : 12783 : Kamis, 27 Januari 2011

ANAMNESIS (AUTOANAMNESA) Keluhan Utama :

sakit di telinga kiri sejak 4 hari sebelum masuk Rumah Sakit Keluhan Tambahan :

Gatal, rasa mendengung, rasa penuh, tersumbat,pendengaran agak berkurang. Riwayat Penyakit Sekarang: Sejak 4 hari sebelum masuk Rumah Sakit pasien mengeluh sakit pada telinga kirinya. sakit dirasakan terus-menerus. Pasien juga mengeluhkan adanya rasa gatal sehingga pasien mengorek-ngorek telinganya, selain itu pasien mengeluhkan adanya rasa mendengung, dimana

bila pasien bicara merasa seperti suara tersebut bergema di dalam telinganya yang sakit. Pasien juga mengeluhkan adanya rasa penuh dan tersumbat pada telinganya. Pasien juga mengeluh pendengarannya agak berkurang. Pasien tidak mengeluhkan adanya cairan yang keluar dari telinga. Pasien tidak mengeluhkan adanya kelainan pada telinga kanannya Sejak 2 minggu sebelum masuk Rumah Sakit pasien menderita batuk, pilek disertai demam. Sudah berobat ke klinik satu minggu yang lalu dan diberi antibiotik, serta obat untuk batuk, pilek serta penurun panas, sejak 2 hari yang lalu keluhan sudah tidak ada.

Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien pernah mengalami sakit pada telinga kiri seperti ini sebelumnya lebih dari satu tahun yang lalu, namun sembuh dengan sendirinya. Pasien tidak pernah merasa sakit pada telinga kanannya Pasien tidak pernah ada riwayat keluar cairan baik dari telinga kanan maupun kiri Pasien tidak memiliki riwayat alergi Pasien tidak sering mengalami bersin-bersin berulang, batuk pilek maupun hidung tersumbat. Pasien tidak memiliki riwayat asma maupun pada keluarganya Pasien tidak memiliki alergi obat Pasien tidak memiliki riwayat sakit jantung, paru, Diabetes Melitus. Pasien memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran Tanda tanda vital TD Nadi Suhu Frek. Napas : baik : Compos Mentis :

: 150 / 90 mmHg : 82 per menit : afebris : 20 per menit

Status Generalis Kepala Mata Leher Dada Paru : tidak ada deformitas : konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/: simetris kanan-kiri, tidak ada pembesaran KGB, tidak ada massa : :I P P A Jantung: I P P : simetris statis dan dinamis : vocal fremitus sama kanan dan kiri : sonor di seluruh lapang paru : vesikuler +/+ normal, wheezing -/-, rhonki -/: ictus cordis tidak terlihat : ictus cordis tidak terangkat : batas jantung normal

A Abdomen

: bunyi jantung normal, murmur (-), gallop (-) :I P P A : datar : supel, nyeri tekan (-), sikatrik(-), : tympani di seluruh regio abdomen : bising usus normal

Ekstremitas Status Lokalis : Telinga Bagian Inspeksi y Auricular

: CRT < 2 detik

Auricularis dextra

Auricularis Sinistra

Edema (-), hiperemis (-), massa (-)

Edema (-), hiperemis (-), massa (-)

Pre auricular

Edema (-), hiperemis (-), massa (-), fistel (-), abses (-)

Edema (-), hiperemis (-), massa (-), fistel (-), abses (-)

Retro auricular

Edema (-), hiperemis (-), massa (-), fistel (-), abses (-), sikatrik (-)

Edema (-), hiperemis (-), massa (-), fistel (-), abses (-), sikatrik (-)

Palpasi

Nyeri pergerakan auricula (-), nyeri tekan tragus (-)

Nyeri pergerakan auricular (-) Nyeri tekan tragus (-)

Meatus acusticus ext

Lapang, Hiperemis (-), udema (-), massa (-), serumen (-)

Lapang, hiperemis (+), udema (-), massa (-), serumen (+)

Membran Tymphani

Perforasi sentral, sekret (-),

Perforasi sentral, sekret

hiperemis (-), suram/reflek cahaya (-)

purulen (+), reflek cahaya ()/suram, hiperemis (+)

Hidung

Bagian Inspeksi

Nasalis dextra Hiperemis (-), udema (-), massa (-), deformitas (-)

Nasalis sinistra Hiperemis (-), udema (-), massa (-), deformitas (-)

Rhinoskopi Anterior y Vestibulum Lapang Lapang

y y

Septum Mukosa

Deviasi (-)

Deviasi (-)

Hiperemis (-), sekret (-), massa (-), udema (-)

Hiperemis (-), sekret (-), massa (-), udema (-)

Konka inferior

Eutrofi, udema (-), hiperemis (-)

Udema minimal, hiperemis (), Eutrofi, udema (-), hiperemis (-)

Konka media

Eutrofi, udema (-), hiperemis (-)

Meatus medius

Terbuka, sekret (-)

Terbuka, sekret (-)

Tenggorok Bagian Keterangan

Arcus faring Tonsil Uvula Faring

Simetris kanan dan kiri T1 T1 Di tengah Hiperemis (-), post nasal drip (-)

KGB Tidak didapatkan pembesaran KGB disetiap region di leher dan retro aurikuler Tes Penala Pemeriksaan Tes Rhinne Tes Weber Tes swabach Sama dengan pemeriksa Auricularis dextra Positif Auricularis sinistra Positif Lateralisasi ke kiri Memanjang

Pemeriksaan penunjang : Diagnosa: Otitis eksterna difus dengan otitis media stadium perforasi pada telinga kiri Otitis media supuratif kronik tipe aman telinga pada telinga kanan Penatalaksanaan: Oral Antibiotika : amoksisilin clavulanat 3 x 500 mg/ hari 5 hari Anti histamin: loratadine 1 x 10 mg/hari Topical Obat cuci telinga : H2O2 3 % teteskan di telinga kiri sampai penuh, kemudian tunggu 3 menit sampai berbusa kemudian keluarkan

Anti infeksi : ofloksasin tetes telinga 2 x 6 tetes telinga kiri 15 menit agar obat meresap Saran kepada pasien: Telinga jangan kemasukan air dulu untuk sementara waktu Prognosis Ad vitam Ad functionam Ad sanactionam : bonam :dubia ad bonam :dubia ad bonam

miringkan kepala ke kanan sampai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. DEFINISI Otitis Media Akut adalah infeksi telinga tengah oleh bakteri atau virus. Otitis media akut bisa terjadi pada semua usia, tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak terutama usia 3 bulan- 3 tahun.3 2. ETIOLOGI2 Penyebab otitis media akut (OMA) dapat merupakan virus maupun bakteri. Pada 25% pasien, tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Virus ditemukan pada 25% kasus kadang menginfeksi telinga tengah bersama bakteri. Bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae, diikuti oleh Haemophilus influenzae dan Moraxella cattarhalis. Yang perlu diingat pada OMA, walaupun sebagian besar kasus disebabkan oleh bakteri, hanya sedikit kasus yang membutuhkan antibiotik. Hal ini dimungkinkan karena tanpa antibiotik pun saluran Eustachius akan terbuka kembali sehingga bakteri akan tersingkir bersama aliran lendir. Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa karena beberapa hal. o Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan. o Saluran Eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah. o Adenoid (adenoid: salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran Eustachius. Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi di mana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. 3. PATOFISIOLOGI2

Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan telinga tengah. Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. Sebagaimana halnya dengan kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak. Di Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami setidaknya satu episode otitis media sebelum usia tiga tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di Inggris, setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun. Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun. 4. MANIFESTASI KLINIK Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. 2 Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akobat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium :1

o STADIUM OKLUSI TUBA EUSTACHIUS Tanda adanya oklusi tuba eustachius ialah danya gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan negatif didalam telinga tengah, karena adanya absorpsi udara. Kadang kadang membran timpani tampak normal ( tidak ada kelainan ) atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi. o STADIUM HIPEREMIS ( STADIUM PRE SUPURASI ) Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edem. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat. o STADIUM SUPURASI Edem yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan membran timpani menonjol ( bulging ) ke arah liang telinga luar. Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemia akibat tekanan pada kapiler kapiler serta timbul tromboflebitis pada vena vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membran timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuninagan dan di tempat ini akan terjadi ruptur. Bila tidak dilakukan insisi membran timpani ( miringotomi ) pada stadium ini maka kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan nanah akan keluar ke liang telinga luar.

Dengan melakukan miringotomi, luka insisi akan menutup kembali, sedangkan apabila sudah terjadi ruptur maka lubang tempat ruptur ( perforasi ) tidak mudah menutup kembali. o STADIUM PERFORASI Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotik atau virulensi kuman yang tinggi maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang menjadi tenang, suhu badan turun dan anak dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini disebut dengan otitis media akut stadium perforasi. o STADIUM RESOLUSI Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani perlahan lahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahn tubuh baik atau virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupan tanpa pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul. OMA dapat menimbulkan gejala sisa ( sequele ) berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa terjadinya perforasi.

Pada anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. Pada orang dewasa, didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar. Pada bayi dan anak kecil gejala khas otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39,5 derajat celsius), gelisah, sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat tidur, diare, kejang, dan kadangkadang memegang telinga yang sakit. Setelah terjadi ruptur membran tinmpani, suhu tubuh akan turun dan anak tertidur.2

5. GEJALA Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien, pada usia anak anak umumnya keluhan berupa rasa nyeri di telinga dan demam. Biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya. Pada remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan pendengaran dan telinga terasa penuh. Pada bayi gejala Otitis Media akut adalah panas yang tinggi, anak gelisah dan sukar tidur, diare, kejang-kejang dan sering memegang telinga yang sakit.2 Bila terjadi ruptur membran timpani, maka sekret mangalir ke liang telinga, suhu tubuh turun dan anak tertidur tenang. 6. DIAGNOSA2 Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut. 1. Penyakitnya muncul mendadak (akut) 2. Ditemukannya tanda efusi (efusi: pengumpulan cairan di suatu rongga tubuh) di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut: a. menggembungnya gendang telinga b. terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga c. adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga d. cairan yang keluar dari telinga

3. Adanya tanda/gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut: a. kemerahan pada gendang telinga b. nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal Anak dengan OMA dapat mengalami nyeri telinga atau riwayat menarik-narik daun telinga pada bayi, keluarnya cairan dari telinga, berkurangnya pendengaran, demam, sulit makan, mual dan muntah, serta rewel. Namun gejala-gejala ini (kecuali keluarnya cairan dari telinga) tidak spesifik untuk OMA sehingga diagnosis OMA tidak dapat didasarkan pada riwayat semata. Efusi telinga tengah diperiksa dengan otoskop (alat untuk memeriksa liang dan gendang telinga dengan jelas). Dengan otoskop dapat dilihat adanya gendang telinga yang menggembung, perubahan warna gendang telinga menjadi kemerahan atau agak kuning dan suram, serta cairan di liang telinga. Jika konfirmasi diperlukan, umumnya dilakukan dengan otoskopi pneumatik

(pemeriksaan telinga dengan otoskop untuk melihat gendang telinga yang dilengkapi dengan pompa udara kecil untuk menilai respon gendang telinga terhadap perubahan tekanan udara). Gerakan gendang telinga yang berkurang atau tidak ada sama sekali dapat dilihat dengan pemeriksaan ini. Pemeriksaan ini meningkatkan sensitivitas diagnosis OMA. Namun umumnya diagnosis OMA dapat ditegakkan dengan otoskop biasa. Efusi telinga tengah juga dapat dibuktikan dengan timpanosentesis (penusukan terhadap gendang telinga). Namun

timpanosentesis tidak dilakukan pada sembarang anak. Indikasi perlunya timpanosentesis antara lain adalah OMA pada bayi di bawah usia enam minggu dengan riwayat perawatan intensif di rumah sakit, anak dengan gangguan kekebalan tubuh, anak yang tidak memberi respon pada beberapa pemberian antibiotik, atau dengan gejala sangat berat dan komplikasi. OMA harus dibedakan dari otitis media dengan efusi yang dapat menyerupai OMA. Untuk membedakannya dapat diperhatikan hal-hal berikut.

Gejala dan tanda

OMA

Otitis media dengan efusi

Nyeri telinga, demam, rewel

Efusi telinga tengah

Gendang telinga suram

+/-

Gendang menggembung

+/-

Gerakan gendang berkurang

Berkurangnya pendengaran

7. PEMERIKSAAN PENUNJANG A. Darah perifer lengkap: leukositosis (peningkatan sel PMN). B. Audiometri: tuli konduktif C. CT dan MRI bila dicurigai terjadi komplikasi yang serius (meningitis atau otak) abses

8. PENATALAKSANAAN1,2 Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik.

Stadium Oklusi Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,25 % untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologis untuk anak diatas 12 tahun dan dewasa. Sumber infeksi lokal harus diobati. Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman. Stadium Presupurasi Diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgesik. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Jika terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Stadium Supurasi Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi rupture. Stadium Perforasi Terlihat sekret banyak keluar, kadang secara berdenyut. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari. Stadium Resolusi Membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan perforasi menutup. Bila tidak, antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila tetap, mungkin telah terjadi mastoiditis.

Bila OMA berlanjut dengan keluarnya sekret dari telinga tengah lebih dari 3 minggu, maka keadaan ini disebut media supuratif subakut. Bila perforasi menetap dan secret tetap keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua bulan, maka keadaan ini disebut Otitis Media Supuratifa Kronis ( OMSK ).1 9. PENCEGAHAN2 Beberapa hal yang tampaknya dapat mengurangi risiko OMA adalah: 1. pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak (vaksin), 2. pemberian ASI minimal selama 6 bulan, 3. penghindaran pemberian susu di botol saat anak berbaring, 4. dan penghindaran pajanan terhadap asap rokok. Berenang kemungkinan besar tidak meningkatkan risiko OMA. 10. KOMPLIKASI1,2 Sebelum adanya antibiotik, otitis media akut (OMA) dapat menimbulkan komplikasi, mulai dari abses subperiosteal sampai abses otak dan meningitis. Otitis media yang tidak diobati dapat menyebar ke jaringan sekitar telinga tengah, termasuk otak. Namun komplikasi ini umumnya jarang terjadi. Salah satunya adalah mastoiditis pada 1 dari 1000 anak dengan OMA yangtidak diobati. Otitis media yang tidak diatasi juga dapat menyebabkan kehilangan pendengaran permanen.3 Cairan di telinga tengah dan otitis media kronik dapat mengurangi pendengaran anak serta menyebabkan masalah dalam kemampuan bicara dan bahasa. Otitis media dengan efusi didiagnosis jika cairan bertahan dalam telinga tengah selama 3 bulan atau lebih.

Definisi OMSK atau disebut juga Otitis Media Perforata (OMP) adalah stadium dari penyakit telinga tengah dimana terjadi peradangan (infeksi) kronis dari telinga tengah dan mastoid dan membran tympani tidak intak (perforasi) dan ditemukan sekret (otorrhoe), purulen yang terus menerus atau hilang timbul dan berlangsung lebih dari 2 bulan, dimana khusus untuk tipe maligna lebih sering mengenai pars flaksida dan khasnya dengan terbentuknya kantong retraksi yang mana bertumpuknya keratin sampai menghasilkan kolesteatoma.1,12

Etiologi Infeksi kronis telinga tengah cenderung disertai sekret purulen. Proses infeksi ini sering disebabkan oleh infeksi campuran mikroorganisme aerobik dan anaerobik yang multiresisten terhadap standar yang ada saat ini dan berasal dari meatus acusticus externus, kadang berasal dari nasofaring melalui tuba Eustachius saat infeksi saluran nafas atas. Hasil penelitian di bagian THT FKUI/RSCM ditemukan kuman OMSK dengan kolesteatoma dari operasi radikal mastoidektomi. Di RSCM dari Januari sampai April 1996 didapat kuman aerob yang paling sering ditemukan Proteus mirabilis (58,5%), sedangkan Pseudomonas (31,5%). Sedangkan OMSK tanpa kolesteatoma kuman aerob yang tersering adalah Pseudomonas aeruginosa (22,46%), Staphylococcus (16,33%). Namun secara umum, kuman penyebab yang sering dijumpai pada OMSK di Indonesia ialah Pseudomonas aeruginosa sekitar 50%, Proteus sp (Proteus mirabilis) 20% dan Staphylococcus aureus 25%. Mikroorganisme lain yang juga dapat menyebabkan OMSK adalah Escherichia coli, Aspergillus, Streptococcus haemolyticus, Pneumococcus, Streptococcus pyogenes, Klebsiella

sp, Bacteroides fragilis, Haemophilus influenzae, Micrococcus catarrhalis, Clostridium perfringens serta beberapa jenis virus. Diantara mikroorganisme tersebut, Pseudomonas aeruginosa yang paling dicurigai menyebabkan destruksi progresif dari telinga tengah dan mastoid.1,12

Faktor Risiko Terjadinya OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak, jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Fungsi tuba Eustachius yang

abnormal merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan sumbing dan Downs syndrom. Berikut ini adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya OMSK: y Sosial ekonomi y Genetik y Riwayat otitis media sebelumnya y Infeksi saluran nafas atas y Penyakit autoimun y Gangguan fungsi tuba Eustachius. y Anomali craniofacial, sumbing, atresia choanal, microchepali, cri-du-chat syndrome 1, 12, 13 Klasifikasi OMSK dibagi menjadi 2 tipe, yaitu benigna dan maligna. 1. Tipe tubotimpani = tipe jinak = tipe aman = tipe rhinogen. Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius, infeksi saluran nafas atas, pertahanan mukosa terhadap infeksi yang gagal pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah, disamping itu campuran bakteri aerob dan anaerob, luas dan derajat perubahan mukosa, serta migrasi sekunder dari epitel skuamous. Sekret mukoid kronis berhubungan dengan hiperplasia goblet sel, metaplasia dari mukosa telinga tengah pada tipe respirasi dan mukosiliar yang jelek. Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi atas: 1.1. Penyakit aktif Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului oleh perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius, atau setelah berenang dimana kuman masuk melalui liang telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen. Ukuran perforasi bervariasi dari sebesar jarum sampai perforasi subtotal pada pars tensa. Jarang ditemukan polip yang besar pada liang telinga luas. Perluasan infeksi ke sel-sel mastoid mengakibatkan penyebaran yang luas dan penyakit mukosa yang menetap harus dicurigai bila tindakan konservatif gagal untuk mengontrol infeksi, atau jika granulasi pada mesotimpanum dengan atau

tanpa migrasi sekunder dari kulit, dimana kadang-kadang adanya sekret yang berpulsasi diatas kuadran posterosuperior. 1.2. Penyakit tidak aktif Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan. Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo, tinitus,atau suatu rasa penuh dalam telinga. Faktor predisposisi pada penyakit tubotimpani : 1. Infeksi saluran nafas yang berulang, alergi hidung, rhinosinusitis kronis. 2. Pembesaran adenoid pada anak, tonsilitis kronis. 3. Mandi dan berenang dikolam renang, mengkorek telinga dengan alat yang terkontaminasi. 4. Malnutrisi dan hipogammaglobulinemia. 5. Otitis media supuratif akut yang berulang. Pada tipe aman/ mukosa/ benign tidak ditemukan adanya kolesteatoma, hanya terbatas pada mukosa saja, dan biasanya tidak mengenai tulang. Letak perforasi terutama pada bagian sentral , umumnya jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya.1,12

Tipe atikoantral = tipe ganas = tipe tidak aman = tipe tulang Pada OMSK tipe maligna/ atikoantral/ ganas/ tidak aman/ tipe tulang ini ditemukan adanya kolesteatoma dan berbahaya. Perforasi pada OMSK tipe bahaya letaknya di marginal atau atik, kadang kadang dengan perforasi subtotal dengan kolesteatoma. Penyakit atikoantral lebih sering mengenai pars flaksida dan khasnya dengan terbentuknya kantong retraksi yang mana bertumpuknya keratin sampai menghasilkan kolesteatoma. Kolesteatoma adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). Kolesteatoma dapat dibagi atas 2 tipe yaitu : a. Kolesteatoma kongenital Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatoma kongenital, menurut Derlaki dan Clemis (1965) adalah : 1. Berkembang dibelakang dari membran tympani yang masih utuh. 2. Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya. 3. Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau dari epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous selama perkembangan.

Kongenital kolesteatoma lebih sering ditemukan pada telinga tengah atau tulang temporal, umumnya pada apeks petrosa. Dapat menyebabkan parese fasialis, tuli saraf berat unilateral, dan gangguan keseimbangan.1,12

Gambar Kolesteatoma kongenital 14 b. Kolesteatoma didapat 1. Primary acquired cholesteatoma. Kolesteatoma yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membran timpani. Kolesteatoma timbul akibat terjadinya proses invaginasi dari membran timpani terutama terjadi pada daerah atik atau pars flaksida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan fungsi tuba.1,12

Gambar Kolesteatoma pada atik15 2. Secondary acquired cholesteatoma. Berkembang dari suatu kantong retraksi yang disebabkan peradangan kronis biasanya bagian posterosuperior dari pars tensa. Khasnya perforasi marginal pada bagian posterosuperior. Terbentuknya dari epitel kanal aurikula eksterna yangmasuk ke kavum tympani melalui perforasi membran tympani atau kantong retraksi membran tympani pars tensa.1

Berdasarkan letak perforasi, terdapat 3 tipe perforasi membran tympani, yaitu:

1. Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa, bisa antero-inferior, postero-inferior dan postero-superior. Seluruh tepi perforasi masih mengandung sisa membran tympani. Perforasi ini biasa terjadi pada OMSK tipe benigna. 2. Perforasi marginal Terdapat pada pinggir membran tympani dengan adanya erosi dari anulus fibrosus. Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatoma. Dapat ditemukan pada pasien dengan OMSK tipe maligna. 3. Perforasi atik Terjadi pada pars flaksida, berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma.Dapat ditemukan pada pasien dengan OMSK tipe maligna.12

Gambar Perforasi atik dengan kolesteatoma.16

BAB III PEMBAHASAN Pasien seorang wanita berusia 49 tahun dari anamnesa didapatkan keluhan utama sakit pada telinga kiri sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, dengan keluhan lain yaitu gatal, rasa tersumbat, rasa penuh, suara bergema di telinga, dan pendengaran agak berkurang.pasien tidak mengeluhkan keluarnya cairan,serta adanya riwayat batuk dan pilek. Dari anamnesa maka penyakit yang terpikirkan sesuai dengan gejala-gejala diatas antara lain otitis eksterna, otitis media akut, otomikosis, serumen prop, miringitis bulosa. Untuk memperkecil diagnosa yang ada maka dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dimana pada pemeriksaan otoskop telinga kiri didapatkan liang telinga udema, hiperemis, dengan membran timpani perforasi sentral, dan terdapat sekret purulen, dan tidak terdapat bula pada membran timpani ataupun tanda-tanda jamur. Dari hasil pemeriksaan fisik sesuai dengan diagnosa otitis eksterna dan otitis media akut stadium perforasi. Dari pemeriksaan telinga kanan ternyata didapatkan perforasi sentral juga tanpa tanda-tanda radang, yang kemungkinan merupakan OMSK tipe aman, sehingga tidak tampak adanya sekret yang keluar. Pada tes penala didapatkan hasil tuli konduktif ringan telinga kanan berarti sesuai dengan diagnosa diatas. Untuk penatalaksanaan telinga kiri karena terdapat skeret purulen maka pasien diresepkan obat cuci telinga yang dipakai 2 kali sehari untuk membersihkan sekret yang ada serta membunuh bakteri anaerob yang ada. Kemudian diberikan juga obat topikal ofloksasin tetes telinga, untuk infeksi telinga luar karena lebih efektif dengan topical. Diberikan obat oral juga antibiotik yang adekuat untuk membunuh bakteri baik gram positif maupun negative dan menghentikan infeksi yang ada, dan obat-obat simptomatik seperti anti histamine untuk gatalnya dan NSAID untuk rasa sakitnya. Untuk telinga kanan pasien tidak perlu dilakukan pengobatan apapun karena tidak menimbulkan keluhan. Prognosis untuk pasien ini untuk telinga kanan ad vitam bonam, ad functionam dubia ad bonam karena ada kemungkinan fungsi fisiologisnya terganggu karena membran timpani yang merupakan salah satu organ untuk menghantarkan gelombang suara mengalami kelainan. Ad sanactionam dubia ad bonam karena kemungkinan berulangnya penyakit ini sangat besar

terutama bila kebiasaan mengorek-ngorek telinga pasien belum hilang, dan batuk pilek yang tidak ditangani secara adekuat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi Arsyad Efiati. H. Dr. Sp. THT, Iskandar Nurbaiti. H. Dr. Prof. Sp. THT dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke tujuh. FKUI. Jakarta. 2010. 2. Anonim. Otitis Media Akut. Diunduh dari

http://medlinux.blogspot.com/2009/02/otitis-media-akut.html. Pada tanggal 26 02 2010. 3. Anonim. Otitis Media Akut. Diunduh

http://medicastore.com/penyakit/52/Otitis_Media_Akut.html. Pada tanggal 26 02 2010. 4. Anonim. Media ( Ear Infection ). Diunduh

http://www.nidcd.nih.gov/health/hearing/otitism.asp. Pada tanggal 26 - 02 2010. 5. Ear anatomy. Diunduh

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/1092.htm. Pada tanggal 26 februari 2010 6. Acuin J., Chronic Suppurative Otitis Media: Burden of Illness and Management Options, 2004. Diunduh dari Diakses

http://www.who.int/pbd/deafness/activities/hearing_care/otitis_media.pdf. tanggal 29 September 2009.