Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

GEOMORFOLOGI

Disusun Oleh :
Juan Mendolok Tikupasang (221104041)

LABORATORIUM GEOLOGI DINAMIK


JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND YOGYAKARTA
2022

i
HALAMAN PENGESAHAN

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Praktikum Geomorfologi


semester I pada Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, Institut
Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.

Penyusun:

Juan Mendolok Tikupasang


221104041

Disetujui Oleh:
Asisten Praktikum Geomorfologi

1. Gregorius Chandra Dewantoro (181.10.1040) (………)


2. Puspa Dewi Fatniyah N.N (191.10.7018) (………)
3. Theobaldus Alo Bela (181.10.1031) (………)

Mengetahui
Kepala Laboratorium Geologi Dinamik

Ir. Dwi Indah Purnamawati


NIK. 91.0659.413 E

ii
PRAKATA

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas yang berjudul

“Laporan Praktikum Geomorfologi” ini tepat pada waktunya Adapun tujuan dari

penulisan dari laporan ini adalah untuk memenuhi tugas pada mata kuliah

praktikum Geomorfologi . Selain itu, laporan ini juga bertujuan untuk menambah

wawasan tentang peta topografi pada pembacanya. Saya mengucapkan terima

kasih kepada Ibu Ir. Dwi Indah Purnawati selaku Kepala Laboratorium Geologi

Dinamik dan para asisten laboratorium yang telah memberikan tugas ini sehingga

dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya

tekuni ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak

dapat saya sebutkan semua, terimakasih atas bantuannya sehingga sehingga saya

dapat menyelesaikan tugas ini. Saya menyadari, laporan yang saya tulis ini masih

jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun kami

butuhkan demi kesempurnaan makalah ini.

Yogyakarta, 07 Oktober 2022

Penulis

iii
BAB 2 PETA TOPOGRAFI

2.1 Dasar Teori


Peta Topografi merupakan salah satu jenis peta yang ditandai dengan
skala besar dan detail, biasanya menggunakan garis kontur dalam pemetaan
modern. Sebuah peta topografi biasanya terdiri dari dua atau lebih peta yang
tergabung untuk membentuk keseluruhan peta. Sebuah garis kontur
merupakan kombinasi dari dua segmen garis yang berhubungan namun tidak
berpotongan, ini merupakan titik elevasi pada peta topografi. Karakteristik
unik yang membedakan peta topografi dari jenis peta lainnya adalah peta ini
menunjukkan kontur topografi atau bentuk tanah di samping fitur lainnya
seperti jalan, sungai, danau, dan lain-lain. Karena peta topografi
menunjukkan kontur bentuk tanah, maka peta jenis ini merupakan jenis peta
yang paling cocok untuk kegiatan outdoor dari peta kebanyakan.
Pada peta kontur dilengkapi dengan garis kontur yang juga diberi label
ketinggian garis serta interval kontur. Peta kontur adalah suatu peta yang di
dalamnya terdapat (garis-garis kontur) yang menghubungkan tempat-tempat
yang mempunyai ketinggian yang sama. Garis kontur adalah garis khayal
dilapangan yang dibuat dengan cara menghubungkan titik-titik yang
mempunyai ketinggian yang sama atau garis kontur adalah garis menerus di
atas peta yang megambarkan titik-titik di atas peta dengan ketinggian yang
sama. Garis kontur ini merupkan ciri khas yang membedakan peta topografi
dengan peta lainnya dan digunakan untuk penggambarkan relief bumi atau
tinggi rendahnya permukaan bumi pada peta. Garis kontur dapat juga disebut
garis tranches, garis tinggi dan garis tinggi horizontal. Dalam hal ini dapat
dimisalkan bahwa garis tinggi horizontal adalah +30 m dari muka air laut,
artinya garis kontur ini dihubungkan oleh titik-titik yang mempunyai
ketinggian yang sama + 30 m terhadap tinggi dari muka air laut. Garis kontur
digambarkan di atas peta untuk menggambarkan tinggi rendahnya permukaan
tanah dari muka air laut. Dari garis kontur ini selanjutnya dapat
2

diaplikasikan untuk mendapatkan informasi mengenai slope (kemiringan


tanah rata-rata),

2
irisan profil memanjang atau melintang permukaan tanah, dalam bidang
Teknik Sipil (dalam pembangunan jalan) dapat digiaplikasikan untuk
menghitung galian serta timbunan (cut and fill) permukaan tanah asli
terhadap ketinggian vertikal garis jalan yang dibangun. Garis kontur dapat
dibentuk dengan membuat proyeksi tegak garis-garis perpotongan bidang
mendatar dengan permukaan bumi kebidang mendatar peta. Garis-garis
kontur merupakan cara yang dilakukan untuk menggambarkan bentuk
permukaan bumi pada peta, karena memberikan ketelitian yang lebih baik.
Cara lain untuk menggambarkan bentuk permukaan bumi yaitu dengan cara
hachures dan shadding. Bidang pembanding ini digunakan pada umumnya
adalah tinggi permukaan air laut, dan ini diambil dan disepakati sebagai titik
ketinggian nol. Indeks kontur adalah garis kontur yang digambarkan lebih
besar/tebal didalam peta, yang merupakan kelipatan lima atau kelipatan
sepuluh dari interval kontur, agar bila gambar peta diperkecil, maka dengan
mudah dapat dibaca mengenai ketinggian garis-garis kontur tersebut.
Adapun karakteristik garis kontur dapat dijelaskan sebagai berikut :

2.1.1 Sifat-sifat garis kontur

Garis kontur pada dasarnya merupakan wujud dari perpotongan


antara suatu bidang atau suatu benda dengan suatu bidang datar, yang dilihat
dari atas. Garis kontur mempunyai sifat sebagi berikut :

a) Garis kontur tidak pernah saling berpotongan, kecuali dalam keadaan


ekstrim seperti tebing yang menggantung.
b) Garis kontur akan lebih renggang kalau topografi landai dan lebih rapat
topografinya kalau curam.
c) Garis kontur tidak akan bertemu atau menyambung dengan garis kontur
yang bernilai lain.
d) Pada lembah garis kontur akan meruncing kearah hulu.

2
2.1.2 Penentuan besarnya kontur-kontur
Besarnya interval kontur ditentukan oleh :

a) Skala peta makin besar, maka interval konturnya makin kecil.

b) Variasi relief makin besar, maka makin kecil intervalnya.

c) Tujuan khusus.

Perlu dipahami, bahwa semakin kecil interval konturnya, maka


makin banyak detail yang dapat diperlihatkan. Tetapi dalam pemilihan
besarnya interval kontur, harus tetap disesuaikan dengan kebutuhan seberapa
detail yang dibutuhkan untuk diperlihatkan. Kalau tidak ada hal-hal yang
khusus yang dibutuhkan atau ada hal-hal yang luar biasa, interval kontur
biasanya diambil sebesar 1/2000 dari skala peta. Misalnya peta yang
berskala 1 : 10.000 akan mempunyai interval kontur sebesar 5 m.

2.1.3 Aturan dan cara-cara pembuatan garis kontur


Dalam membuat garis kontur ada beberapa aturan yang diikuti antara
lain :
a) Garis kontur selalu dibuat tertutup atau berakhir pada tepi peta.
b) Kontur tertutup yang menunjukkan depresi harus dibedakan dengan
kontur tertutup yang menunjukkan bukit, yaitu dengan cara
menambahkan garis-garis gigi yang mengarah kearah depresi.
Cara pembuatan garis kontur secara manual adalah sebagai berikut;
1) Cantumkan titik-titik dengan harga ketinggiannya.
2) Hubungkan titik-titik yang mempunyai tinggi yang sama, dan
dibedakan dengan titiktitik yang lebih rendah disekitarnya,
kemudian buatlah interpolasi sesuai dengan interval konturnya.
3) Hubungkan titik-titik yang diperoleh dari hasil interpolasi,
sehingga menjadi garis yang mempunyai nilai yang sama.
4) Kalau gari-garis kontur yang telah diperoleh memotong lembah,
walaupun tidak ada suatu harga ketinggian pada hulu lembah

3
tersebut, garis kontur tersebut kita buat meruncing kehulu. juga
spasi kontur disesuaikan dengan bentuk-bentuk lereng.

2.1.4 Interval Kontur


Pembuatan garis kontur antara kontur yang satu dengan kontur yang
lain didasarkan pada besarnya perbedaan tinggi diantara kedua buah kontur
yang berdekatan dan perbedaan tinggi tersebut disebut dengan,’’Interval
Kontur” (Contour interval). Untuk menentukan besarnya interval kontur
tersebut ada ketentuan umum yang dapat digunakan yaitu :
1) Interval kontur merupakan jarak tegak antara dua garis-garis
kontur yang berdekatan. Jadi interval kontur juga merupakan
jarak antara dua bidang datar yang berdekatan. Pada suatu peta
topografi, interval kontur dibuat sama, berbanding terbalik
dengan skala peta. Semakin besar skala peta, maka akan
semakin banyak informasi yang dapat disajikan, dan interval
kontur semakin kecil seperti gambar 2.1

Gambar 2.1 Gambar sebagian Peta Topografi dan Garis Kontur


(Sumber : Khoirunnas anfa’uhum, 2012)

4
Berikut disajikan tabel interval dan indek kontur yang digunakan
dalam pembuatan peta topgrafi dengan penomoran tabel 2.1.

Tabel 2.1 Interval Kontur dan Indeks Kontur Berdasarkan Skala Peta
(Sumber : Bakosurtanal, 2005)

Skala Peta Interval Kontur Indeks Kontur


(Meter) (Meter)

1 : 10.000 5 25

1 : 25.000 12,5 50

1 : 50.000 25 100

1 : 100.000 50 200

1: 250.000 100 500

Berdasarkan Tabel 2.1 maka untuk skala peta 1 : 10.000 Interval 5


meter, dan Indeks Kontur sebesar 25 meter. Interval kontur merupakan
jarak horisontal antara 2 (dua) garis Kontur yang mempunyai tinggi berbeda
yang ditentukan berdasarkan skalanya. Besarnya interval kontur sesuai
dengan skala peta dan keadaan di muka bumi. Interval kontur selalu
dinyatakan secara jelas di bagian bawah tengah di atas skala grafis.

Dengan demikian kontur yang dibuat antara kontur yang satu dengan
yang lain yang berdekatan selisihnya 2,5 m. Interval Kontur = 1/2000 x
skala peta Penarikan kontur dilakukan dengan cara memperkirakan
(interpolasi) antara besarnya nilai titik-titik ketinggian yang ada denga
besarnya nilai kontur, artinya antara dua titik ketinggian dapat dilewati
beberapa kontur, tetapi dapat juga tidak ada kontur yang melewati dua titik
ketinggian atau atau lebih. jadi semakin besar perbedaan angka ketinggian

5
antara dua buah titik tersebut,maka semakin banyak dan rapat kontur yang
memalaui titik tersebut,yang berarti daerah tersebut lerengnya terjal,
sebaliknya semakin kecil perbedaan angka ketinggian antara dua buah tiitk
tersebut, maka semakin sedikit dan jarang kontur yang ada, berarti daerah
tersebut lerengnya landai atau datar.

Dengan demikian dari garis kontur digital tersebut, kita dapat


membaca bentuk medan (relief) dari daerah yang digambarkan dari garis
kontur tersebut, apakah mempunyai lerengyang terjal, (berbukit,
bergunung), bergelombang, landai atau datar. Informasi relief secara
absolut diperlihatkan dengan cara menuliskan nilai kontur yang merupakan
ketinggian garis tersebut di atas bidang permukaan laut rata-rata.

Garis kontur mempunyai arti yang penting bagi perencanaan rekayasa,


karena dari garis kontur dapat direncanakan, antara lain : penentuan trase
jalan, saluran irigasi, saluran drainase dalam bentuk irisan, tampang pada
arah yang dikehendaki, gambar isometrik dari galian/timbunan, besar
volume galian/timbunan, penentuan batas genangan pada waduk, dan arah
drainase. Pengumpulan data titik koordinat (x,y) dan ketinggian (z) melalui
google earth pro dapat diwujudkan dengan cara Penginderaan Jauh (PJ),
yaitu untuk mendapatkan informasi tentang obyek, wilayah atau gejala
dengan cara menganalisis data yang diperoleh dari suatu alat tanpa
berhubungan langsung dengan obyek, wilayah atau gejala yang sedang
dikaji. (Lilesand et.all, 2007). DTM adalah suatu basis data dengan
koordinat (x,y) dan z yang digunakan untuk mempersentasikan permukaan
tanah secara digital (Kenneth Field (2002), dan yang disebut dengan
akurasi adalah nilai ketinggian titik (z) yang diberikan oleh DEM. DEM
merupakan suatu sistem, model, metode, dan alat dalam mengumpulkan,
mengolah, dan penyajian informasi medan. Susunan nilai-nilai digital yang
mewakili distribusi spasial dari karakteristik medan, distribusi spasial di
wakili oleh nilai-nilai pada sistem koordinat horisontal (X, Y) dan
karakteristik medan diwakili oleh ketinggian medan dalam sistem koordinat

6
(Z) (Frederic J. Doyle, 1991). Dengan begitu data yang dihasilkan google
earth pro berupa data DTM (digital Terrain Modal) atau Data DEM (digital

evelation modal).

Gambar 2.3 Sketsa DSM dan DTM

(Sumber : Winaya, 2019)

Sistem informasi yang berbasis spasial merupakan suatu system


berbasis komputer yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan,
mengatur, mentransformasi, memanupulasi dan menganalisis data-data
geografis Data geografis yang dimaksud disini adalah data spasial yang
mempunyai ciri cirinya;

a) Memiliki geometric properties seperti koordinat dan lokasi.

b) Terkait dengan aspek ruang seperti persil, kota,kawasan pembangunan

c) Behubungan dengan semua fenomena yang terdapat dibumi, misalnya


data, kejadian gejala dan objek.

d) Dipakai untuk maksud maksud tertentu, misalnya analisis pemantauan


ataupun pengolahan.

Kebanyakan SIG menggunakan system konsep “lapis” (layer). Setiap lapisan


mewakili satu fitur geografi dalam era yang sama dsn selanjutnya semua

7
lapisan bisa saling ditumpuk unutk mendapatkan informasi yang lengkap.
Setiap lapisan dapat dibayangkan seperti plastic transparan yang
mengandung hanya gambar tertentu. Pemakai bisa memilih transparan
transparan yang dikehendaki dan kemudian saling ditumpangkan sehingga
akan diperoleh gambar yang merupakan gabungan dari sejumlah transparan.

2.2 Maksud dan Tujuan


Maksud dan tujuan dari penulisan laporan peta topografi ini dapat
diuraikan pada poin-poin dibawah berikut ini.
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan peta topografi.
2. Mengetahui langkah-langkah pembuatan peta topografi.
3. Mengetahui parameter dalam pembuatan peta topografi.
4. Menentukan bersarnya kontur-kontur dalam pembuatan peta
topografi.
5. Mengetahui aturan dan cara-cara pembuatan garis kontur.

2.3 Langkah Pembuatan Penampang Topografi

Untuk memudahkan pembuatan penampang atau profil digunakan


kertas grafik atau kertas millimeter, yaitu untuk menentukan letak titik
potong antara garis kontur dengan angka-angka ketinggian didalam
penampang. Caranya sebagai berikut :
1. Pada kertas milimeter ditarik garis dasar (‘base line’) sesuai garis penampang
dipeta topografi.
2. Tarik garis samping/garis batas (‘end line’) tegak lurus garis dasar pada
ujung kiri dan kanan garis dasar. Diujung atas atau bawah cantumkan
huruf sesuai garis penampang (missal : P dan Q atau X dan Y)
3. Tentukan besarnya angka-angka ketinggian yang akan dicantumkan.
Biasanya dihitung dari titik tertinggi yang dilewati garis penampang.
Misalnya : kontur tertinggi 900 m, dengan skala tegak = skala mendatar,
interval kontur (IK) = 50 m, maka angka ketinggian yang dicantumkan

8
sebaiknya : 600, 650, 700, 750, 800, 850, 900, 950 dengan skala 1 cm =
100 m (=skala peta)
4. Tempatkan kertas milimeter berhimpit garis penampang dipeta topografi,
tentukan titik perpotongan seperti no. 4, kemudian tentukan titik
perpotongan antara harga kontur (dipeta) dengan angka ketinggian
(dipenampang) yang sama.
5. Setelah semua garis-garis kontur yang dilewati garis penampang telah
ditentukan titik perpotongannya seperti no. 4, hubungkan titik-titik
tersebut, maka garis penampang atau profil penampang selesai dibuat.
6. Pada garis penampang dicantumkan nama-nama geografi, seperti
gunung, bukit, sungai, desa, dll.
7. Diatas atau dibawah penampang cantumkan judul/nama penampang,
skala yang digunakan, keterangan lainnya.

Gambar 2.4 Garis Kontur


( Sumber : Praktikum Trisakti, 2021)

Ket :

9
a, b = Proyeksi Garis Kontur
P – Q = Garis Penampang

Gambar 2.5 Penampang Topografi dan Batas-Batasnya


(Sumber : Praktikum Trisakti , 2021)

Ket :
1. Garis Penampang (‘Topographic Line’ / ‘Profile Line’)
2. Garis Dasar (‘Base Line’)
3. Garis Samping / garis batas (‘End Line’)

10

Anda mungkin juga menyukai